>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, Manufacturing Hope

Setelah Persoalan Makanan yang Mahal Dipecahkan

Senin, 03 Desember 2012
Manufacturing Hope 54

Dicari : 100.000 ekor anak sapi
Waktu : Tahun 2013
Pembeli : BUMN
Tujuan : Dipelihara sebagai sapi potong untuk membantu mengatasi kekurangan daging lokal

Itu bukan iklan biasa. Itu iklan yang sangat mendesak. Mencari 20.000 ekor anak sapi saja ternyata bukan main sulitnya. Apalagi 100.000 atau bahkan 200.000.

Maka, setelah teman-teman BUMN menekuni persapian selama enam bulan, rupanya diperlukan sebuah pertolongan. Teman-teman BUMN yang keahliannya berkebun sawit, tidak menemukan akal untuk mengatasi kekurangan bibit sapi.

Jelaslah bahwa mahalnya makanan ternak, yang dulu dianggap sebagai persoalan besar, ternyata bukan satu-satunya persoalan di bidang peternakan sapi. Soal itu sudah ditemukan jalan keluarnya: daun dan pelepah sawit ternyata bisa untuk bahan pokok makanan sapi yang murah. Daun dan pelepah sawit dihancurkan untuk dibentuk mirip rumput.

Tidak ada masalah teknis di sini. Tinggal diperlukan beberapa tambahan untuk kelengkapan nutrisinya.
BUMN memiliki sekitar 800.000 ha kebun kelapa sawit. Bermiliar pohon sawit menghasilkan daun dan pelepah yang luar biasa banyak. Begitu banyak daun sawit yang selama ini dibuang begitu saja di kebun.

Berdasar logika itulah, saya memutuskan untuk menugasi perusahaan perkebunan sawit milik BUMN untuk memelihara sapi. Ini agar bisa membantu kecukupan daging di dalam negeri. Selama ini kita masih harus impor daging dalam jumlah yang sangat besar.

Tahun lalu kita impor daging setara dengan kira-kira 300.000 ekor sapi. Tahun ini kita masih harus impor daging kurang lebih sebesar itu lagi. Pada awalnya kami membuat target yang agak ambisius: memelihara 100.000 ekor sapi di seluruh perkebunan kelapa sawit BUMN.

Jumlah itu, meski terlihat ambisius, masih terlalu kecil untuk bisa menutupi kekurangan daging dalam negeri. Karena itu, kalau saja target 100.000 ekor berhasil, jumlahnya akan terus ditingkatkan.

Ternyata tidak mudah mendapatkan bibit sampai 100.000 ekor. Semula ada asumsi bahwa kita kekurangan daging karena peternak kurang bersemangat memelihara sapi. Penyebabnya: makanan ternak terlalu mahal sehingga hasil penjualan sapi habis untuk membeli makanan ternak.

Kini BUMN memiliki sumber makanan ternak yang sangat murah dan melimpah. Ternyata itu belum juga menjadi solusi yang jitu.

Sulitnya mencari anakan sapi yang bisa digemukkan di ladang-ladang sawit telah terbukti menggagalkan target tersebut. Daerah yang biasa menjadi sumber anak sapi yang besar (Lampung, Jateng, Jatim/Madura, Sulsel, Bali) menjadi sasaran pencarian. Tapi, jumlah yang bisa dibeli sangat terbatas. Sampai akhir tahun ini diperkirakan hanya akan ada 20.000 ekor.

Mungkin dari NTB/NTT bisa diperoleh tambahan anak sapi. Tapi, ongkos angkut ke Sumatera sangat mahal. Jumlahnya pun tidak akan bisa mencapai 100.000 ekor, apalagi 300.000. Betul-betul perlu bantuan ide yang realistis dari siapa pun untuk memecahkan persoalan ini.

Sumber makanan ternak yang murah dan melimpah ada di Sumatera (barat). Sedangkan sumber bibit sapi ada di NTB/NTT (timur). Jarak barat-timurnya begitu jauh.
Memang ada ide yang kelihatannya masuk akal: makanan ternaknya yang dikirim ke timur.

Di kebun-kebun sawit di Sumatera bisa dibangun pabrik makanan ternak yang bahan bakunya dari daun sawit dan bungkil kelapa. Lalu bahan itu diangkut ke timur. Mengangkut makanan ternak lebih mudah dan lebih murah daripada mengangkut sapi hidup.

Tapi, ide yang kelihatannya hebat ini tidak bisa dilaksanakan. Daun sawit yang selama ini dibuang itu pada dasarnya menjadi pupuk bagi sawit itu sendiri. Kalau daunnya diangkut keluar dari kebun, hilanglah salah satu sumber pupuk alami kebun tersebut.

Ini berbeda kalau daun sawit tersebut dimakan sapi di lokasi yang sama. Sapi akan mengeluarkan kotoran. Kotoran sapi itulah yang dijadikan pupuk untuk menggantikan daun sawit yang hilang. Meski kehilangan daunnya, kebun sawit mendapat ganti dari kotoran sapi.

Bagaimana memecahkan ini? BUMN tetap ingin berbuat untuk ikut memecahkan persoalan kekurangan daging ini. Tapi, diperlukan ide-ide yang realistis dan bisa dilaksanakan dengan segera.

Salah satu ide baru yang ditemukan adalah ini: harus ada program khusus membuat anak sapi sebanyak-banyaknya di Sumatera. Dengan demikian, pengangkutan anak sapi ke kebun-kebun sawit tidak terlalu jauh.

Tapi, harus ada pendataan ini: ada berapakah sapi betina yang siap bunting di seluruh Sumatera? Misalnya, ada 300.000 sapi betina usia bunting di seluruh Sumatera, BUMN bisa membantu para pemilik sapi untuk melaksanakan kawin masal melalui “kawin suntik” (inseminasi buatan).

Kementerian Pertanian sudah memiliki lembaga yang memproduksi sperma sapi dari benih unggul. Lembaga itu memiliki reputasi sangat baik. Bahkan, sudah dipercaya Jepang, Malaysia, dan beberapa negara tetangga. Mereka sering membeli sperma sapi buatan Malang itu karena harganya yang sangat murah dan mutunya yang baik.

Tingkat keberhasilan sperma sapi buatan negara maju memang lebih tinggi (96 persen). Tapi, karena harganya yang 30 kali lipat lebih mahal daripada sperma bikinan Malang, jatuhnya masih sangat mahal. Padahal, sperma bikinan Malang, meski tingkat keberhasilannya kalah, tidak beda jauh: 81 persen.

Dokter hewan Herliantin, ahli inseminasi buatan lulusan Universitas Airlangga Surabaya yang bekerja di lembaga tersebut, setuju dengan ide itu. Syaratnya, jumlah sapi betina di seluruh Sumatera mencukupi. Herliantin siap memasok sperma unggul sampai 500.000 paket.

Maka, teman-teman BUMN punya pekerjaan baru: mengumpulkan data sapi betina di seluruh Sumatera. Lalu melakukan koordinasi dengan dinas-dinas peternakan kabupaten: apakah para pemilik sapi betina bersedia diajak mengikuti program kawin suntik ini.

Menurut drh Herliantin, kini tidak ada lagi persoalan teknis maupun nonteknis. Dulu memang pernah ada persoalan nonteknis di Madura: sapi hasil kawin suntik dianggap haram. Tapi, setelah dilakukan berbagai penjelasan, akhirnya para ulama di Madura tidak mempersoalkannya lagi.

Dengan sudah ditemukannya sumber makanan sapi yang melimpah dan murah, persoalan ketersediaan anak sapi menjadi persoalan utama yang harus dipecahkan. Peternak memang lebih memilih usaha penggemukan daripada usaha memproduksi anak sapi.

Menggemukkan sapi cukup dalam waktu enam bulan. Cukup membeli anak sapi yang sudah berumur dua tahun. Enam bulan kemudian sudah bisa dijual.

Bandingkan kalau peternak harus fokus ke usaha memproduksi anak sapi. Mereka harus membeli induk dulu. Lalu dikawinkan. Kalaupun berhasil, 10 bulan kemudian baru beranak. Lalu harus memelihara anak itu dua tahun.

Total diperlukan proses pemeliharaan selama tiga tahun untuk bisa menjual anak tersebut. Selama tiga tahun itu biaya yang dikeluarkan sangat besar seiring dengan mahalnya makanan ternak.

Saya yakin, kalau persoalan ini dibuka di sini, akan banyak ahli dan praktisi yang bisa ikut memecahkannya. Prinsipnya, BUMN bersedia ikut membantu mengatasi kekurangan daging tersebut. Prinsip yang lain: BUMN memiliki sumber makanan ternak yang murah dan melimpah. Hanya lokasinya di Sumatera.

Tim BUMN pun akan dengan senang menerima ide-ide itu melalui email: ideaanaksapi@gmail.com. Siapa tahu, dan saya berharap, ada pemikiran yang bisa cepat diwujudkan. (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

About these ads

Diskusi

261 pemikiran pada “Setelah Persoalan Makanan yang Mahal Dipecahkan

  1. Hadir…senin pagi yg ceria…

    Posted by yuni | 3 Desember 2012, 4:51 am
    • Mbonceng pertamax mbak yuni, sembari medoakan Abah DIS selalu diberi perlindungan dari semua cobaan yang menerpa. Mari semangat. Kerja…kerja…kerja.

      Posted by ayah chilla | 3 Desember 2012, 5:08 am
      • saya komen pertamax di komen ketiga…bapak saya punya tiga indukan sapi sikampung. semoga bisa ikutan kawin massal..

        Posted by mbah surip | 3 Desember 2012, 5:16 am
        • Nunut juga yg bawa pertamax.

          Posted by JOWI | 3 Desember 2012, 6:03 am
          • Mungkin bisa digalakkan lg program transmigrasi namun kali ini yg menjamin kebutuhan dan tempat tinggal transmigran adalah perkebunan kelapa sawit. Yg bapak2 bekerja diperkebunan sedangkan ibu2 dan anak2nya merawat sapi. Asalkan akses transportasi lancar,tempat tinggal layak,pendidikan merata,jaminan kesehatan tersedia maka saya yakin program transmigrasi dapat sukses(tidak seperti sebelumnya yg menyedot APBN). Daripada bekerja di ibukota sebagai pemulung/pengemis/buruh pasar/PKL yg diteror satpol PP, dll, jika ditawarkan pasti mereka mau

            Posted by agusteub | 3 Desember 2012, 6:21 am
          • Ngojek ah …

            Posted by apasaja | 3 Desember 2012, 8:03 am
          • melok nunut… :)

            Posted by 2nrae | 3 Desember 2012, 8:05 am
          • Saya setuju ide transmigrasi untuk ngurus sapi. Tinggal ditambah aja semua program untuk mendekatkan kaum pendatang dan warga asli. Jangan sampai seperti di Aceh dulu, datang, maju dikit, teror, pada pulang kampung lagi.

            Posted by apasaja | 3 Desember 2012, 8:23 am
          • Wah di DPR banyak tuh sapi, kan politik yg dipake politik DAGANG SAPI YEEEEEEEEE….bener tuh Bung Dis datang ke DPR mau liat2 sapi kan?? TUH KOARRRRR2 ORG PAN, tu kan Partai Anak Nakal yaaaaaaaaaa… oiiiiiii sapa yg mau nyoblos kamu nanti pemilu 2014. LAPORIN AJA BUNG DIS……….BAKALAN KEMPESS.PESSSSSSSS PARTAI PAN 2014…….SAYA SIAP NGEMPESI PAN 2014…………SIAP GAN.SIAP………………SIPPPPPPPPPPP

            Posted by Bung Kar | 3 Desember 2012, 6:36 pm
        • Bakal ada hajatan besar: kawin (suntik) masal. “pengantin betina” most wanted

          Posted by Fia | 3 Desember 2012, 6:22 am
          • menarik juga ide untuk menggalakkan transmigrasi.. saya jadi teringat masa kecil saya, orang tua saya berpikir keras untuk memutuskan apakah harus Hijrah mengikuti program transmigrasi untuk kelangsungan RT

            Posted by isworo | 3 Desember 2012, 11:06 am
    • Ada kesempatan lagi untuk anak bangsa berkarya setelah peluncuran mobil listrik, sebenarnya pak DIS sudah banyak memberi peluang besar untuk anak bangsa untuk menonjolkan kemampuan terbaiknya tinggal bagaimana memanfaatkan kesempatan ini, jarang ini terjadi jaman dulu. orang yang pintar2 lebih senang di luar negeri, sekarang bukan jamannya lagi. Ayo tunjukkan kemampuanmu….pasti bisa…..majuterus Pak DIS.

      Posted by agus s | 3 Desember 2012, 7:12 am
      • Enggak juga gan..aku yg bodoh jg keluar negri..waloupun jd Tki..bahkan dah hampir 10 th dinegri kimchi..tetap semangat menatap masa depan berkat hope yh ditularkan pak dahlan iskan…사랑해요인더네시아

        Posted by romi s.uk | 3 Desember 2012, 8:40 am
    • ngikut yuni lagi ah …. abseen …

      Posted by ajipungkasan | 3 Desember 2012, 8:06 am
    • Assalamualaikum pak.
      Di Sumatera Utara PPKS Bukit Sentang sudah melakukan ransum dari pelepah kelapa sawit untuk sapi-sapinya, hasil sudah bagus, cuma sedikit ditingkatkan kualitas coppernya (mungkin mata jadi dua tingkat) agar hasilnya lebih halus, untuk imbuhan premixs dan lainnya bisa menyesuaikan.
      Untuk bibit selama ini BX (Brahman Cross) dari Australia adalah Final Stock sejenis Broiler (ayam sayur potong) dimana mereka 99% sudah dikastrasi dengan Burdizzo tang, jadi fertilitasnya hanya untuk sekali penggemukan. toh kalau ada yang beranak kasusnya individual dari sekian ribu ekor. Jadi import sapi bakalan yang selama ini dilakukan adalah SALAH BESAR seharusnya mereka mengimpor PARENT STOCK, dan sejauh saya tahu hanya 3 perusahaan yang punya ijin import (oligopoli).
      Khusus di Sumatera Utara sistem budidayanya sangat tradisional, estimasi dari 500.000an ekor hanya 20% yang benar-benar tinggal dikandang sepanjang hari, 70% dilepas siang hari dan sisanya diliarkan di areal sawit.
      Kalau memang mencari profit jangka pendek breeding center bukan solusi namun jika jika prinsipnya bukan semata profit oriented jangka pendek breeding center perlu dicoba.
      Memang status indukan yang akan dijadikan PARENT STOCK sangat bervariasi, baik jenis, umur, status kesehatan, genetik, status reproduksinya…namun jika tidak dilakukan mulai sekarang selamanya dunia peternakan tidak akan berubah. dengan bebasnya transportasi, kasus penyelundupan daging terjadi. Masuklah penyakit PMK/FMD maka FINISH lah kita…dan 250 juta mulut manusia indonesia kedepannya makan barang import.

      Posted by drh. rachmad wahyudi | 3 Desember 2012, 10:28 pm
      • Maaf banyak istilah yang kurang dimengerti Pak, barangkali bisa dijelaskan: copper, mata jadi dua tingkat, imbuhan premixs, hubungan Brahman Cross dengan ayam sayur potong, kastrasi, Burdizzo tang, penyakit PMK/FMD. Mohon pencerahan jika berkenan. Terima kasih

        Posted by apasaja | 5 Desember 2012, 7:46 am
        • Copper adalah alat pencacah HMT (hijauan makanan ternak) bisa untuk Rumput Gajah/ King grass dan sebagainya khusus untuk Pencacah Pelepah sawit yang super keras desain dan material copper harus sangat bagus.
          Brahman Cross adalah jenis sapi yang selama ini diimport dari australia..datang ke indonesia dan digemukkan di feedlot via MLA (meet & livestock australia) di indonesia ada PT.lembu andalas, sari andini, juang jaya, gglc dll) itu adalah bakalan impor yang tujuannya digemukkan sevara intensif maksimal 100 hari kemudian dipotong untuk memperoleh dagingnya, jadi jenis sapi ini adalah FINAL STOCK (generasi terakhir) karena itu sudah di mandulkan walau ada beberapa yang masih bisa bereproduksi, dan umummya mereka menggunakan hormon untuk menekan tingkat reproduksi sehingga pertambahan berat badannya rata-rat 1.6-2.3 per Kg/Hari.
          Broiler atau ayam sayur/ayam potong yang selama ini kita makan juga merupakan FINAL STOCK, produk terakhir kalaupun mau dikembang biakkan produktivitasnya tidak makasimal, karena tujuannya untuk dibesarkan untuk memperoleh dagingnya. Induk dari Final stock namanya Parent stock, dan kakek-neneknya namanya Great Parent stock (biasa dalam dunia perunggasan, untuk ras/galur murni).
          Burdizzo tang adalah alat untuk kastrasi hewan muda yang paling murah dan mudah, testes/atau buah zakar salurannya di jepit sedemikian rupa dengan tang tersebut sehingga salurannya tidak berfungsi dan mengakibatkan kemandulan.
          PMK/FMD adalah penyakit mulut dan kuku/foot and mouth disease sangat menular yang disebabkan oleh virus, Indonesia masih bebas dari penyakit ini, namun banyaknya penyelundupan daging beku dari luar negeri, atau import yang re-packing daging dari negara yang tidak bebas maka sebenarnya tinggal menunggu waktu kapan ledakan penyakit itu datang ( singapura dan malaysia sudah tertular) dan jika sudah masuk mungkin puluhan tahun kita bisa membebaskannya kembali.
          Imbuhan premixs adalah mineral atau komponen makanan lain yang memaksimalakan kandunga dari ransum makan sapi, tidak mungkin hanya makan pelepah sawit saja, harus dicampur beberapa komponen seperti bungkil, onggok, dedak, tetes dll

          Posted by drh. rachmad wahyudi | 5 Desember 2012, 9:46 am
          • Terima kasih Pak atas informasi dan ilmunya. Kini jadi bisa mencerna secara utuh komentar sebelumnya. Sekali lagi terima kasih dan sukses selalu

            Posted by apasaja | 5 Desember 2012, 11:05 am
  2. Makin terurus persolan bangsa ini dengan kiprahnya Abah DI

    Posted by narto | 3 Desember 2012, 4:54 am
    • Setuju mas Narto.
      Berbagai ‘serangan’ yang mengarah ke Abah, yang sempat membuat deg-degan saya, ternyata belum mampu menggoyang ke’istiqomah’an beliau dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Semoga beliau senantiasa dalam lindungan-Nya.
      Sekedar usul, bagaimana kalau untuk merangsang minat peternak agar bersemangat ikut menyediakan anak sapi, peternak diberi insentif, kemudahan kredit untuk membeli induk dan perawatan. Mungkin dengan seperti sistem YARNEN di pangan, dimana peternak membayar kredit -an setelah Anak Sapi Lahir.
      Salam Dismania, Bravo Pak. Dis.

      Posted by wanto kdr | 3 Desember 2012, 6:01 am
      • Dulu ada kok pak kalau nggak salah saya, nama nya BANPRES IFAD jaman nya pak harto,,kalau gak salah setiap satu ekor bibit betina mulangin 2 ekor ke pemerintah yang induknya jadi milik petani,, kalau jantan cukup mulangin satu ekor.Bibit tersebut disebar lagi ke masyarakat,,sepertinya program ini di propinsi Bengkulu masih ada..

        Posted by PUTU EW | 3 Desember 2012, 8:23 pm
  3. Alhamdulillah…
    Semangat pagi, Senin yang indah, KERJA! KERJA! KERJA!”
    Ayo, maju terus bangsaku, Indonesiaku!
    Untuk Yu Shi Gan alias Bung DI semoga Allah SWT. senantiasa memudahkan langkah- langkahmu.
    Amin

    Jujur aja, deg degan aq menanti hop 54 ini dengan perasaan kawatir klo-klo hop ini terlambat hadir ato bahkan tak muncul. Bagaimana tdk? Akhir-akhir ini Bung DI dikeroyok dari sgala penjuru: depan belakang, kanan kiri, atas bawah, dan entah arah mana lagi dengan aneka rupa komentar. Dari komentar: tuntut balik DI, DI kena batunya, DI kian terjepit sampai skak mat senayan untuk DI.
    Rupanya orang2 yang sakit dan iri hati sudah menata barisan tuk menggempur DI. Itu bisa dibuktikan dengan komentar Wakil Ketua Komisi XI Zulkifliemansyah yang dipuji DI justru mementahkan pujian DI –mengapa tidak dulu dulu komentar seperti itu?
    Sungguh aq kawatir konsentrasi kerja kerja kerja Bung DI terganggu. Namun apa dinyana, ternyata hujatan tidak untuk dipikiri, namun untuk dilalui. DI tetap melakukan aktifitas2 seperti biasa tanpa merasa terganggu. Seolah olah: biar tikus mencericit kafilah tetap bekerja…
    Salut buat Bung DI.
    Ayo DahlanIS, rapatkan barisan!!
    Merdeka!!!

    Posted by aditam@putra | 3 Desember 2012, 4:57 am
  4. maju terus, bah! benahi bangsa ini.

    Posted by muhammad ridhoi | 3 Desember 2012, 5:00 am
  5. Bahas sapi lagi nih, abah DIs? Semoga tidak berkaitan dengan undangan RDP nanti siang dengan komisi VII Dhewan Per****** Rakyat, hahahahaha…….

    Posted by FAOZAN | 3 Desember 2012, 5:00 am
    • Nggak bakalan deeehhhh, pak Dis mikirin RDP Komisi VII atau BK. Wong niatnya kerja kok. dpr mana ada kerja. palingan njawab pertanyaan dpr yang konyol konyol dan bodoh. emang rakyat percaya apa dengan omongan doang dalam hidup. sekalian aja ke pengadilan sekalian. biar kelihatan sandiwara dan pencak silat politikus tikus dpr berkelit dari korupsi.
      makanya Pak DIS njawab “Nggak apa apa” biar sekalian sama sama telanjang bulat. nah hakim bingung tuh jatuhin hukuman.

      Posted by akik | 4 Desember 2012, 8:00 am
  6. Persoalan sudah dipetakan. Mari duduk bersama mencari solusinya.

    Posted by ayah chilla | 3 Desember 2012, 5:04 am
  7. sapi lagi mahal. siap

    Posted by effendy | 3 Desember 2012, 5:07 am
  8. semua yang terjadi, mari kita reSAPI. . . .

    Posted by ismetsantoso | 3 Desember 2012, 5:16 am
  9. pagi INDONESIA
    tolong jangan ganggu abah dengan urusan / opini remeh temeh, persoalan pangan rakyat lebih utama agarr semua bs befikir logis . disini di butuhkan rakyat yg berotak encer dan yg bernurani suci, semua demi Indonesia.
    pagi semuany

    Posted by mas ayu happy ending | 3 Desember 2012, 5:17 am
  10. temen2 dahlanis yg punya info u p.dahlan , mhn beliau di bantu untuk memecahkan masalah per anak sapian ini, biar tujuam swasembada sapi akan terwujud di bawah pimpinan beliau. ayo kita dukung terus segala prakarsa beliau yg sy yakin 1000% adalah murni-tulus-iklhas u kemajuan bangsa. jika ada goyangan2 dari kanan kiri seperti yg terjadi saat ini anggap aja batu ujian dan bahan instrospeksi bagi kita semua dan pembelajaran u ke depan. bravo p.dahlan maju terus u indonesia tercinta

    Posted by sulistiono | 3 Desember 2012, 5:20 am
    • Bos Di,gimana kalo anak sapinya kita impor saja dari australi,itung itung untuk yg terakhir kalinya kita impor tapi untuk selamanya……selamat tinggal partai yang mroyekin daging sapi ( partai kegemukan sapi)

      Posted by tabri waluyo | 3 Desember 2012, 8:14 am
  11. Abah ini orangnya semangat, namun masih “perlu” banyak asisten di belakangnya terutama dalam pertanian / peternakan yang tidak digeluti beliau secara langsung

    Keahlian beliau adalah melihat peluang, manajemen dan beliau orangnya rajin, tekun dan ikhlas, serta low profile.
    Sangat semangat kalau lihat peluang, kalau ternyata tidak jalan ya TERBUKA minta ide orang lain. kalau salah ya spontan minta maaf… ( sifat orang jatim…)

    Iini menunjukkan sifat yang low profile, juga selalu mencantumkan ide orang lain ( bukan mengaku-aku seolah olah dialah yang pinter… sebenarnya itulah yang namanya pencitraan , penginnya orang lain memuja dia). Jadi apa yang telah dilakukan Abah jelas berlawanan dengan hukum pencitraan…

    Bagaimanapun juga Indonesia sangat membutuhkan pemimpim-pemimpin semacam bbeliau. Siapapu yang punya ide silahkan memberi, kalau cocok akan dinasionalisasikan…bukankah itu akan jadi proyek ladang dunia akhirat ?

    Salam Dahlanis. Gbu all

    Posted by W. Ning | 3 Desember 2012, 5:22 am
    • Setuju abis Mbak … Pak DI orang manajemen dan inspirator sejati. Tinggal orang teknis yang bergerak.

      Posted by apasaja | 3 Desember 2012, 8:28 am
    • Se7 mba W. Ning…
      Kalo niat emang Lurus… mau dibelokin/coba dibengkokin juga ga akan bisa…

      Saya jadi tertarik nih masalah persapian..
      Sekarang sudah ada 3 ekor sapi induk… mau coba di anakin… (lokasi di Mataram NTB).
      Mdh2an sapinya doyan kawin jadi brojol terus…. (pejantannya pake bupati garut, mantaf kali… qiqiqi)…

      Posted by PUTU | 3 Desember 2012, 12:03 pm
    • Spontanitas untk minta maaf….sifat orang Jatim???? untuk yg satu ini sy ndak setuju ning…lha SBY termasuk orang jatim ndak to?? ato wes ga dianggap wong jatim gitu..

      Posted by salia nugroho | 9 Desember 2012, 10:59 am
  12. Wah anakan sapi susah dicari. semoga ada solusi….

    Posted by sopyan thamrin | 3 Desember 2012, 5:22 am
  13. ternyata hiruk pikuk senayan versus DI tidak membuat abah kehilangan fokus tuk mengurusi BUMN………..terus maju abah tuk kejayaan indonesia……

    Posted by Dahlan alex | 3 Desember 2012, 5:23 am
  14. bagaimana kalo sapi d jawa juga di “kawinkan masal” dengan pakan limbah tebu

    Posted by mas ayu happy ending | 3 Desember 2012, 5:25 am
  15. Pertamax setelah pertamax…pertamax…dan pertamax…., yuks kt ksh ide tentang cari anak sapi dan pembuatan anak sapi….segera kirim ke almt ideanakasapi@gmail.com

    Posted by ndokaja | 3 Desember 2012, 5:31 am
  16. TAK SEPERTI YANG TERLIHAT

    Kita seringkali menilai atau mengambil kesimpulan dari apa yang kita lihat. Seolah yakin dengan apa yang kita lihat, kita langsung membuat kesimpulan, bahkan tak jarang kita langsung MENGHAKIMI…
    Pandangan mata kita bisa kadang “ menyesatkan” dan seringkali kita menyesali tindakan dan kesimpulan yang sekilas itu…

    Bijaknya sesudah WHAT, diikuti dengan WHY ? dan kemudian kita bantu solusinya dengan HOW…
    Jadi kalau kita sudah melihat sesuatu masalah / kejadian…jangan langsung mengambil kesimpulan, apalagi mengatakan SALAH …. Kita bijaknya berfikir atau mencari tahu dulu, WHY, mengapa kejadian itu bisa terjadi…? kalau sudah tahu duduk permasalahannya, kita bisa ambil bagian untuk MENCARI / MENJADI SOLUSI atau setidak-tidaknya meringankan keadaan …

    Berikut ini cuplikan kisah dari blog yang sudah saya sesuaikan, semoga menjadi perenungan….

    MAKAN DIJALAN SAAT PUASA

    Hari ke tiga di bulan ramadhan saya berkesempatan menumpang becak menuju rumah ibu. Sore itu, tak biasanya udara begitu segar, angin lembut menerpa wajah dan rambutku.
    Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari belakang, “Abang becak …?”

    Ya, kudapati ia tengah lahapnya menyuap potongan terakhir pisang goreng di tangannya. Sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. “Heeh, puasa-puasa begini seenaknya saja dia makan,” gumamku.

    Rasa penasaranku semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan … untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat kebanyakan orang tengah berpuasa.
    “mmm …, Abang muslim bukan?” tanyaku ragu-ragu.

    ”Ya dik, saya muslim …” jawabnya terengah sambil terus mengayuh.

    “Tapi kenapa abang tidak puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan. Sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang yang berpuasa …” deras aliran kata keluar dari mulutku layaknya orang berceramah.

    Tukang becak yang kutaksir berusia di atas empat puluh tahun itu menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah garangku yang sejak tadi menghadap ke arahnya….

    “Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini.” Tanpa memberikan kesempatan ku untuk memotongnya,

    “Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi dengan puasa,” jelas bapak tukang becak itu.

    “Maksud bapak?” mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya.

    “Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti adik berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib, sedangkan kami kadang harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya …”

    “Jadi …” belum sempat kuteruskan kalimatku,

    “Orang-orang berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa peduli bulan ramadhan atau bukan …”

    “Abang sejak siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang berpuasa, tapi…” kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya saya di tempat tujuan.

    Sungguh. Saya jadi menyesal telah menceramahinya tadi. Tidak semestinya saya bersikap demikian kepadanya. Seharusnya saya bisa melihat lebih ke dalam, betapa ia pun harus menanggung malu untuk makan di saat orang-orang berpuasa demi mengganjal perut laparnya. Karena jika perutnya tak terganjal mungkin roda becak ini pun tak kan berputar …

    Ah, kini seharusnya saya yang harus merasa malu dengan puasa saya sendiri? Bukankah salah satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi kenapa orang-orang yang dekat dengan saya nampaknya luput dari perhatian dan kepedulian saya?

    “Wah, nggak ada kembaliannya dik…”

    “Hmm, simpan saja buat sahur bapak besok ya …”

    —————————————————————————————————————————————————-
    Salam Dahlanis. Gbu all

    Untuk yang ingin kontak personal ke kontakwning@yahoo.co.id

    Posted by W. Ning | 3 Desember 2012, 5:32 am
  17. Abah sedang menjala ide-ide pengembangan anakan sapi di Sumatera. Pasti Abah sering membaca blog ini. Semoga memperoleh ide-ide cemerlang Abah.

    Posted by Djoko Sawolo | 3 Desember 2012, 5:33 am
  18. nunggu 1 minggu z kayak 1tahun lamanya…kerja kerja kerja pak bos jangan kayak dpr omong doang…salam untuk smua pcinta dahlan iskan…terus semangat

    Posted by edy | 3 Desember 2012, 5:38 am
    • Betul, minggu kemarin terasa lama. Mungkin karena komen kemarin juga hanya 200-an, direfresh tiap hari ngga nambah banyak. Semoga minggu ini waktu cepat berlalu dan segera menemui MH MH berikutnya sambil diskusi soal sapi, dan mungkin (tapi lupakanlah), soal DPR

      Posted by apasaja | 3 Desember 2012, 8:32 am
  19. Bagus mbak Ning pencerahannya … memotivasi pembaca untuk memiliki kepedulian terhadap sesama. Semoga selalu dalam lindunganNYA. Amin.

    Posted by Djoko Sawolo | 3 Desember 2012, 5:39 am
  20. Kebutuhan daging Indonesia terus meningkat. Di daerah saya tahun ini saja, kebutuhan hewan qurban jg meningkat drastis. Ibu-ibu pengajian kesadaran ber-qurbanya meningkat, dan patungan 7 orang untuk 1 ekor sapi tidak lagi berat seiring meningkatnya kemampuan ekonomi mereka. Tidak heran jika satu kelompok pengajian 100 orang hampir separuhnya berqurban dan terkumpul 7-8 hewan qurban. Ini contoh nyata sekaligus kabar gembira bagaimana kemampuan ekonomi dan daya beli masyarakat meningkat. Juga sekaligus tantangan untuk memenuhi kebutuhan itu.

    Posted by abdullah | 3 Desember 2012, 5:50 am
  21. assalamualaikum….
    semangat pagi dahlanis. siapkan fisik dan mental kita utk selalu KERJA…KERJA…KERJA..smoga kesuksesan bisa kita raih.aamiin.

    Posted by anriefarel | 3 Desember 2012, 5:51 am
  22. Absen dulu..

    Posted by Royyan | 3 Desember 2012, 5:58 am
  23. Abah .. Saya dengar banyak juga perkebunan sawit di Sulawesi milik pengusaha swasta nasional. Salah satunya adalah PT Sampoerna Agro. Salah dua atau tiganya harus ‘browsing’ dulu di google.
    Bagaimana jika Abah mengajak mereka menyediakan (menyisihkan) beberapa hektar lahannya untuk percontohan sebagaimana telah dilakukan di perkebunan sawit BUMN di Sumatera. Jika mereka masih memiliki nasionalisme, pasti mereka berkenan menerima tawaran Abah.
    Saya rasa mereka memiliki dana untuk membeli anakan sapi impor itu.

    Posted by Djoko Sawolo | 3 Desember 2012, 6:03 am
  24. absen dolo, komennya entar dulu…

    Posted by @yama | 3 Desember 2012, 6:09 am
  25. memang seharusnya ada yg ngurusi penyediaan anakan sapi. Jika sudah sukses, BUMN pun harus didorong ke arah ini. Tapi sementara memang gap antara kemampuan dan kebutuhan harus dikejar dulu.

    Posted by andar | 3 Desember 2012, 6:09 am
  26. Alhamdulillah.. Bagi kita yang haus dengan ide-ide segar, solusi, aplikasi, progress, profesionalisme dan semangat kerja kerja kerja, maka sajian MH dari Pak Dis menjadi santapan lezat yang bisa menghilangkan dahaga dan menambah gizi otak dan hati kita. Biar lah masih banyak orang yang ribut dan kasak-kusuk soal politik atau mempolitisasi hal-hal yang sederhana. Tapi bagi para penggemar Hope, politik, provokasi dan polemik yang kontraproduktif hanya lah sampah. Sekarang mari kita belajar lebih banyak tentang SAPI. Mari kobarkan semangat untuk Swasembada Pangan, untuk Indonesia yang lebih baik. Hiasi diri dengan semangat, pikiran, perkataan dan tindakan positif. Mulai dari diri masing-masing. Mulai sekarang juga. Semoga Allah SWT melindungi dan memberikan kesehatan untuk Pak Dis dan para DahlanIs yang pro kerja kerja kerja. Semanat Pagi & Happy Monday.. Salam DahlanIs. :)

    Posted by akadarisman | 3 Desember 2012, 6:14 am
    • Hehe, bahasanya boleh, tapi muatannya masih menyindir Cekricek ya. Sudah Mas, lupakan saja … Kalo di Sleman, program sasa jalan ga ya, Sapi Salak hehehe. Keselek duri semua tar sapinya ya … Salam dan semangat pagi

      Posted by apasaja | 3 Desember 2012, 8:35 am
      • Halah.. Komen saya tidak buat cekricek tapi buat siapapun yang komentar mengenai Pak Dis hanya separo-paro pada saat hiruk-pikuk soal politik. Padahal kita hadir di MH ini, sejak MH 1, adalah untuk menikmati energi positif melalui sharing ide, cerita, solusi dan banyak terobosan yang dilakukan Pak Dis untuk Indonesia. Jadi kalau ada yang menilai komen saya ada hubungan dengan cekricek, mohon maaf anda salah. Saya menyindir siapa pun yang sibuk berpikiran negatif atau mempolitisasi masalah yang harusnya dicari solusi. Lagipula siapa yang di Sleman..?? Wkwkwkwkwkwkwk.. :)

        Posted by akadarisman | 3 Desember 2012, 8:52 am
  27. Lha ini yang mikir malah menteri BUMN. Menteri Pertanian dari PKS tidak kelihatan actionya

    Posted by Mas Idub Ok | 3 Desember 2012, 6:16 am
    • Mentan masih lagi cari inspirasi mas, supaya idenya lebih dasyat drpd p.DI. malu dong mas kalo ide p.DI lebih manjur drpd Mentan. he he

      Posted by sulistiono | 3 Desember 2012, 7:20 am
      • Orang partai bekerja untuk partainya, orang bebas bekerja dengan pemikiran bebas (ide apa saja bebas). Kesimpulannya: Negara kalau diurus orang-orang partai, ya mlempem………….! kayak gini

        Posted by eugeibran | 3 Desember 2012, 8:36 am
      • Mentannya lagi pusing cari alasan biar ga ketangkep KPK, soale sudah dilaporkan oleh DIPO Alam.
        Kalo Saya jadi mentan, saya akan Suwun ke Pak Dahlan dan Bilang.
        “Pak Dahlan APa yg bisa Saya bantu”… Lebih Gentle dan Bermartabat…

        Dgn Team Work Semua Lini Kementrian, saya rasa hasilnya akan lebih baik dan lebih cepat.
        Cuma sekarang pada Gengsian…
        #Ga liat Jokowi, Hari ke-3 sudah suwun ke kantor BUMN masalah MRT/Monorel…

        Btw yg punya artikel2 tentang Pakan, Anakan dan Penggemukan yg bagus bole di share linknya dung…

        Posted by PUTU | 3 Desember 2012, 12:19 pm
    • Doakan saja bisa sinergis Mas. Beliau juga punya program pasti, semoga berhasil juga. Yang penting swasembada pangan kita kalo dikeroyok rame-rame semoga berhasil memuaskan

      Posted by apasaja | 3 Desember 2012, 8:37 am
      • Setuju!!!
        Masyarakat tidak tahu dan tidak akan mau tahu itu program kementerian mana.masyarakat tahunya itu program pemerintah titik.tinggal kementeriannya yang harus bahu membahu,bersinergi,bekerja sama mewujudkan program-progam yang dapat membuat rakyat sejahtera.kesuksesan program menjadi sukses bersama.gagalnya dipikul bersama-sama.bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

        Posted by paidi | 4 Desember 2012, 5:36 am
  28. semangat pagi!!!
    salam sapi buat semua…mgkn sy tdk trlalu mgerti permasalahan persapian.olh krn itu, alangkah baiknya pak dis mengumpulkan ahli2 pertanian dan peternakan seantero negeri.sy yakin, dg senang hati mereka akan memperjuangkannya karena brkaitan dg masa dpan bidang mereka.
    sdkt msukan untuk program pembibitan, sy brmimpi setiap pulau besar di indonesia memiliki pusat pembibitan sapi, lbh baik lg jika tiap propinsi memilikinya. kemudian perlu didata pelaku bisnis sapi yg berpengalaman di daerahnya msg2 dan dberi trigger dan ddgar keluhan dan hambatan yg mereka dapati selama ini. saya yakin,dgn terkumpulnya problem2 yg ada dan dbhs oleh para ahlinya ada solusi yg bs dwujudkan.
    salam sapi.kerja kerja kerja!!!

    Posted by m0ojojojo | 3 Desember 2012, 6:18 am
  29. Smoga kelangkaan daging/anakan sapi sgera dpt dicarikan solusinya. 2minggu ini emoh makan bakso gara2 daging sapi mahal bnyk penjual tutup kalopun ada penjual bakso hatiq tdk/kurang sreg.
    Ayo2 para pedhet sgera nungul ke dunia agar para jagal(rmh potg hewan) sgera rame lagi. Para pedagang bakso/rendang/empal/dendeng/abon de el el bs anteng. Ketahanan pangan (daging) bs aman, gizi/nutrisi rakyat indonesia terpenuhi. Hidup sapi bunting

    Posted by Fia | 3 Desember 2012, 6:19 am
    • Jangan sering-sering makan bakso di luar lho (bukan berhenti makan bakso) … Ingat kesehatan. Kuahnya ada vetsin (MSG), saosnya (apkh ada mereknya???), baksonya (apkh ada pengawetnya). Yang saya dukung adalah bikin bakso sendiri. Dijamin pasti sehat.

      Posted by Djoko Sawolo | 3 Desember 2012, 8:51 am
      • jgn biarkan orang-orang tdk jujur yg menguasai politik dan pasar… orang-orang jujur jgn maunya cuma jadi pegawai… urusan makanan ini dunia-akhirat, lho… bukan sekedar masalah pengawet, lihat tuh reportase investigasi, wartawan sukses membongkar praktek oplos daging sapi dgn daging celeng, tikus, ayam tiren, dsb… jadi mikir, polisi dan reserse pd ngapaiiiiiiiiiiiiiiin, yaaaaaaaaaaa???

        Posted by Novrian Eka Sandhi | 3 Desember 2012, 5:18 pm
  30. Sapi remaja dari NTB/NTT disuruh transmigrasi dan stelah siap bunting diinseminasi, hehehe

    Posted by Yanto Lurah Sastro | 3 Desember 2012, 6:22 am
  31. Mohon bantuan ide anak sapi, bit.ly/RuDrlO | Please RT

    Posted by Adit(pun) Bisa | 3 Desember 2012, 6:30 am
  32. ​​​​​​‎​‎​‎​‎​‎​‎​Šïº°˚˚°º»(y)…semoga kita bisa swasembada daging

    Posted by caderabdul | 3 Desember 2012, 6:31 am
  33. iklan yang menggetarkan peternak!
    CMIIW:
    - di NTB tahun 2009 di gelontorkan program sejuta sapi, dan salah satu ‘pengaman’ program tsb, dgn tidak memperbolehkan penjualan indukan sapi ke luar NTB. Sekarang sudah berlalu 3th. Bagaimana realisasi proyek tsb, saya tak tahu (sudah tidak di Lombok si). Kalo proyekan sudah berjalan baik, inseminasi buatan jelas sangat ready diterapkan dilombok/ntb.

    - ditahun yg sama (2009) ada perusahaan swasta memperkenalkan Bahan bakar pengganti minyak tanah (Be-40), bio etanol yg terbuat dari sorgum! Bahkan berencana pula u/ menanam di lahan 10rb Ha (cm wkt itu tak jadi karena apa, sy tidak tahu.. Mungkin kasusnya sama dgn program jatropha/pohon jarak,yg cuma hangat2 bubur ayam.. be-40 akirnya dijual 1 paket dgn omprongan tembakau di lotim). Yg ingin saya katakan, jika ada pengusaha niat nandur sorgum segitu banyaknya… Maka, jika BUMN yg berniat Insha Allah, bisa banget!
    - ntb kususnya lotim penghasil jagung, bonggolnya selain bisa dijadikan BE-40,u/ pakan ternak juga cukup cakep, jd sy rasa tinggal mengenjot apa yg ada u/ tambahan pakan.

    fakta2 diatas, saya kira bisa diramu untuk menjadi salah satu solusi.

    Posted by ssmamaze | 3 Desember 2012, 6:32 am
  34. dpr penghambat kesejahteraan rakyat

    Posted by jatmiko | 3 Desember 2012, 6:38 am
  35. Baca mh kali ini agak kaget, begitu cepat respon atas kritikan thd program sapi sawit. Sampai mengakui kalau memang msh bnyk kekurangan dan menerima segala masukan melalui e-mail. Ok, pak Dis, saran dan kritik segera sy kirim.

    Posted by G.Hariyanto | 3 Desember 2012, 6:45 am
  36. kebiasaan baru yg agaknya akan jadi tradisi :

    Setiap kali MH terbit diiringi dengan artikel pendukung yg detil dan menjadi pelengkap artikel utamanya (MH).

    Penyajian cara baru yang terasa sekali efek & manfaatnya buat pembaca, karena materinya disiapkan dengan sungguh2, sigap dan efektif agar artikel pendukung ini bisa hadir bersama dengan artikel induknya.

    Seluruh proses, dari pengumpulan sampai penyajian tidak mungkin selesai dalam satu hari dan tidak boleh lebih dari enam hari (siklus mingguan MH) dengan harus menghadapi tantangan bentangan jarak antara penyusun artikel dengan sumber berita, belum lagi pilah-pilih data kepustakaan dan referensi. Sebuah pola kelola kerja yg luarbiasa.

    Pekerjaan serius yg berbuah manfaat bagi pembacanya, yang dikerjakan sungguh2 dan dijaga kebenaran sumber berita juga kelengkapannya.

    Sebuah sajian yang sangat diharapkan untuk selalu hadir seterusnya. Membuktikan bahwa pembenahan dan peningkatan kinerja BUMN bukan kerja ad-hoc, bukan kerja superman yg single fighter apalagi kalau hanya sekedar pencitraan semata.

    Pembenahan dan peningkatan kinerja BUMN jelas dilakukan dengan rencana dan sungguh2, kerjasama, dan bertanggung jawab.

    Tentu ada kekurangan, tapi bukan menjadikannya sebuah kerja mubazir.

    Tidak perlu kita mencak2 apalagi kebakaran jenggot, karena setiap kekurangan yg mereka temukan adalah keberuntungan kita, sebab mereka membantu kita mencari salahnya agar kita temukan solusinya.

    Sedangkan upaya hujatan keji dan pembusukan tanpa bukti yg ber-tubi, kalau tidak kita layani malah semakin menambah besar api amarah dan dengki yg jelas merusak diri mereka sendiri, sementara kesabaran selalu berbuah kemuliaan.

    Jadi, bersyukurlah karena bertambah lengkap MH, bertambah sempurna kualitasnya, sehingga insyaAllah bertambah kuat semangat dan keyakinan kita.

    Terima kasih DI,

    Terima kasih the dream team BUMN dengan seluruh pasukannya.

    Terima kasih mas RI dan semua teman kerjanya

    * untuk teman2 yg belum bergabung dengan GERAKAN RAKYAT DAN FACEBOOKER MENDUKUNG DAHLAN ISKAN MENJADI PRESIDEN RI

    Posted by daya setiawan | 3 Desember 2012, 6:46 am
  37. absen dulu ah

    Posted by jalmi alit | 3 Desember 2012, 6:50 am
  38. Breeding atau pembibitan sapi memang lebih mahal dan keuntungannya lebih lama dibanding penggemukan. Sebaiknya BUMN mengambil pangsa pembibitan ini. Nanti anak anak sapinya dijual ke masyarakat dengan harga murah untuk digemukkan. Dengan demikian disamping membantu penyediaan daging secara nasional, juga membantu meningkatkan ekonomi rakyat. Tetapi bisa juga sekaligus melakukan breeding dan penggemukan mengingat murahnya pakan disana.

    Posted by Sigit | 3 Desember 2012, 6:53 am
    • betul… bukankah pak Dahlan sendiri bilang, BUMN akan mengambil proyek-proyek penting tapi blm berani diambil oleh swasta krn dianggap blm menguntungkan atau masa return-nya terlalu panjang… termasuk urusan breeding sapi ini mestinya…

      Posted by Novrian Eka Sandhi | 3 Desember 2012, 5:23 pm
    • Ide yang mantap..saya sependapat mas sigit…bisnis pembibitan sapi memang perlu modal besar, masa pengembalian investasinya lama dan resiko tinggi. BUMN yang paling cocok masuk kedalam bisnis ini. Apalagi bila didukung suntikan modal dari negara agar skala usahanya menjadi raksasa…dengan demikian operasionalnya menjadi efisien.

      Posted by dan | 3 Desember 2012, 5:31 pm
  39. segera sensus sapi pak.

    Posted by didiksuprayitno | 3 Desember 2012, 6:56 am
    • tahun 2011, pemerintah melalui kementerian pertanian dibantu oleh BPS sudah mengadakan PSPK, pendataan sapi potong, sapi perah dan kerbau. Monggo, dimanfaatkan datanya, jangan sampai program tanpa dasar data yang jela. Populasi sapi / kerbau bahkan bisa anda dapatkan sampai level desa/kelurahan. Ya, benar…berapa jumlah sapi/kerbau di masing-masing kelurahan bisa anda lihat.

      Posted by kamal | 3 Desember 2012, 9:06 am
      • bukannya sampai ke nama pemeliharanya juga? kan datanya by name by address. bisa ditelusuri kan.
        tp tidak diketahui apakah ada updatingnya dari kementrian pertanian.

        Posted by aab | 3 Desember 2012, 10:03 am
  40. 1.Di Sumatra para transmigran umum nya berasal dari jawa
    2.Mereka tidak asing lg dengan nama nya angon wedus,ngarit suket,ngguyang sapi dll.

    Selama ini para transmigran cuma berambisi bersawit tapi kalo pemerintah merubah
    pemikiran mereka dengan berternak sapi/kambing mereka mungkin lebih terpacu karena
    mereka sudah terbiasa dengan itu waktu di jawa.Mungkin yang menjadi masalah motivasi DANA
    dan PENERANGAN lebih dalam tentang cara beternak yg baik.
    Dulu “KELOMPENCAPIR” sekarang ‘KELOMPENCAPIRPEL” KELOMpokPENdengarPEMbacaPemIRsa dan PELAKSANA”

    Salam Disfans & Dismania

    Posted by kawulo alit PJKA (pulang jum'at kembali ahad) | 3 Desember 2012, 7:09 am
    • aslinya lho, pak… utk urusan pertanian dan peternakan, (di luar urusan korupsi sekeluarga dan pemusatan kekuasaan di 1 pihak) pemerintahan orde barulah jagonya… sampai ada acara asah terampil antar kelompencapir dan berbagai programnya termasuk acara di TVRI… dibandingkan dgn sekarang, semua aspek kehidupan bangsa serba cul-culan alias liberal… semuanya bertumpu pd urusan politik melulu…

      Posted by Novrian Eka Sandhi | 3 Desember 2012, 5:29 pm
  41. butuh dagìng? ada tuh (d)hewan gemuk-gemuk di gedung depeer. cuma bisa disembelih tapi ga bisa dimakan, karena bakal bikin keracunan.

    Posted by adhi | 3 Desember 2012, 7:17 am
  42. pak Dis sangat legowo krn ngaku program sapi kurang berhasil, tapi beliau juga membuka diri utk solusi-nya. tipikal pejabat tak cari nama. salut bwt pak Dis. kabarnya senin ini (3/12/12) pk Dis mo nemuin wakil “rakyat” (katanya). daripada nemuin mereka mending sampeyan jalan2 ke australia ato india sana pak Dis….nyari bibit sapi bwt pembiakan di sumatera. maju terus pak Dis……..maju terus Indonesia-ku

    Posted by done | 3 Desember 2012, 7:42 am
  43. duuuuh siap siap tuh sapi betina kedatangan tangan para dokter untuk melakukan inseminasi, hahahaha,
    mungkin kata sapi kok rasanya nggak greget ya? atau para ahli inseminasi ini terbiasa untuk membirahikan si sapi betina?

    di goyaaaang pak dokterrrr

    Posted by saeful | 3 Desember 2012, 7:46 am
  44. pak dahlan memang tak pernah kehabisan ide, ga ada masalah tidak bisa dipecahkan oleh beliau. ditengah pejabat lain sibuk merusuh dirinya, tidak bergeming da tetap kerja3x. salut dan hormat buat pak DI, Tuhan Memberkatimu Selalu, amin.

    Posted by arwan gt | 3 Desember 2012, 7:48 am
  45. Pak Dis kita kan juga sudah punya Tapos, tinggal mensinergikan saja dan bentuk BUMN anak perusahaan atau menunjuk perusahaan swasta yang khusus pengadaan anak-anak sapi untuk mengisi kekurangan saja, sedang untuk peternak kecilnya dikoordinir oleh HKTI.

    Posted by KOKO | 3 Desember 2012, 7:52 am
  46. luar biasa..dl swkt kecil bs makan daging sapi pas hari raya kurban/pas ada org hajatan aja he he he..lha skrg kt smp impor sapi utk memenuhi kbutuhan daging yg smakin naik trs menandakan smakin bnyk kelas menengah & majunya perekonomian kt.Ttp semangat & istiqomah P.Dahlan..do’a kami sll utk kemajuan bangsa ini,amin.Semangat pagi..Demi Indonesia !!

    Posted by koreksi diri | 3 Desember 2012, 8:02 am
  47. saya punya indukan kerbau di kampung
    apakah bisa ikut program ini ya?
    toh makanan sapi dan makanan kerbau ga beda jauh

    Posted by MoTor iNduksi | 3 Desember 2012, 8:04 am
  48. Ternyata jalan nya masih panjang dan berliku
    dulu saat program ini di canangkan di jambi
    kelihatannya sudah tidak akan ada masalah lagi
    ternyata mncul masalah baru yg lumayan ruwet

    Posted by GenSeT | 3 Desember 2012, 8:14 am
    • GENSET itulah dunia nyata (bukan dunia maya)… pasti ada kendala. Kendala tsb bisa dialami ketika sudah kita kerjakan. Masalah baru yg lumayan ruwet (meminjam istilah anda) bisa diperkecil dengan cara mengerjakan bersama, spt yang dilakukan Abah sekarang ini dg cara membuka email dilanjutkan dengan tindakan (PDOC, Plan Do Check Action).
      Inilah sikap pemimpin satria. Membangun harapan, memulai tindakan dan menerima masukan untuk penyempurnaan tindakan.

      Posted by Djoko Sawolo | 3 Desember 2012, 9:01 am
  49. Ayo ayo para mahasiswa Fakultas Peternakan di seluruh Indonesia..Kapan lagi ada tantangan semenarik ini dari pemerintah untuk kalian ??

    Posted by Arif Haliman | 3 Desember 2012, 8:17 am
  50. 1. Kirain Pak DI mau curhat yang di akhir biasanya ada solusinya. Ternyata beliau masih perlu ide tambahan. Ayo ayo yang punya ide bikin anak sapi massal atau mau mendaftarkan diri sebagai penyedia sapi anakan? Saatnya bantu BUMN yang jika berhasil kan kita bisa swasembada daging.
    2. Kalo saya sendiri, apa yang bisa dibantu ya? Minim pengalaman di bidang persapian nih. Tapi jika harus urun rembuk di sini, ide mendata jumlah sapi yang siap dibuntingin di Sumatera sejauh ini masih paling baik. Jika sudah ada datanya, dimulailah inseminasi massal, dan 3 tahun ke depan program sasa baru dimulai secara massal. Gapapa deh, yang penting kan terencana dengan baik.
    3. Untuk jangka pendek, sambil jalan aja mungkin perlu didata jumlah sapi anak yang ada, yang berusia sekian bulan, sekian tahun, dan sekian tahun. Jadi sambil menunggu sapi anakan yang baru akan dimulai inseminansinya, kita sudah bisa memetakan akan berapa dan akan berapa sapi yang bisa disasakan dalam tahun ini, tahun depan, tahun depannya, dan tahun depannya lagi.
    4. Untuk di Jawa, adopsi juga pake saso – sapi sorgum kali ya. Menilik rencana budidaya sorgum di sekian tempat, kiranya perlu dikaji lahan buat sapinya di tempat terdekat tersebut. Lalu nanti dianalisis juga produktivitas sasa dan saso. Yang mana yang sapinya lebih cepat gemuk.
    5. Ada pertanyaan, itu sapi dalam program sasa, sapinya diumbar di lahan perkebunan atau tetap dikandangin ya? Soalnya kalo dibiarkan begitu aja, pas program saso mungkin akan makan pohon sorgumnya. Seperti kambing yang makan pohon mangga di depan rumah saya yang jadinya ga pernah hidup.
    6. Yang dapat diambil hikmahnya adalah, masalah baru muncul setelah kita jalan. Kalo kita ga jalan, ato jalan di tempat, ga akan melihat masalah-masalah baru itu. Memang hidup jadi tidak ada masalah baru, tapi masalah lama ya tetep, ga bisa makan daging sapi karena langka. Rendang oh rendang.
    7. Akhir tulisan, do’a saya semoga berhasil semua usaha ini. Jika anakan sapi baru diinseminasi dan 3 tahun kemudian sasa baru mulai, 6 bulan kemudian baru dijual sapi siap potongnya, 3.5 tahun ini semaian benih ide dari Pak DI ini semoga di akhirnya dapat beliau lihat hasilnya. Dalam kapasitasnya sebagai menteri, presiden, guru bangsa, atau siapapun, kita ingin melihat beliau menikmati ide, usaha dan jerih payahnya. Jika tidakpun, beliau pasti ikhlas, karena kakek tua yang ikhlas akan tetap menanam kelapa untuk anak cucunya. Dan tentu saja, kita bangga juga pernah belajar bagaimana mengatasi masalah. Muncul masalah baru, kita atasi lagi sampai berhasil. Terima kasih Pak DI, dan salam sayang saya untuk semua Dahlanis dan kritikus.

    Posted by apasaja | 3 Desember 2012, 8:20 am
    • Mendukung APASAJA … Gagasan realistis

      Posted by Djoko Sawolo | 3 Desember 2012, 9:02 am
    • Seandainya 10% Keluarga di Indonesia memelihara sapi satu ekor. maka kira2 akan ada 25jt SAPI yg siap dijual.
      Ayo lsg mulai… Cari Info, lihat budget… dan ACTION….
      Sapi saya udah 3 ekor, gemuk2… tahun depan mdh sudah beranak lagi jadi 5 ekor…
      Siap Laksanakan Komendann…

      Posted by PUTU | 3 Desember 2012, 1:32 pm
  51. dibuka lowongan , betina2 (sapi) yg siap dihamili….baik yg sudah berpengalaman maupun yg tidak ada pengalaman….ayooo ayooo ayooo… serahkan betina2 (sapi) anda…heheheee…

    Posted by bandung bondowoso | 3 Desember 2012, 8:22 am
  52. Ayo yg punya ide & anakan sapi untuk ketahanan pangan nasional…

    Posted by fris | 3 Desember 2012, 8:54 am
  53. Pak DI, mungkin Bapak bisa gunakan data PSPK2011 alias Sensus Sapi dan Kerbau yang di laksanakan BPS dan Kementrian Pertanian, disitu kan ada data lengkap mengenai sapi-sapi di seluruh indonesia. jadi kalo mau cari sapi yang siap d hamili, dari data PSPK2011 juga bisa pak..

    Posted by cah klanyah | 3 Desember 2012, 8:57 am
    • CAH KLAYAH … apakah datanya masih akurat?? Mudah-mudahan masih akurat. Sebab mobilitas sapi begitu cepat (dijual, beli anakan, digemukkan, dipotong, dijual, beli anakan, digemukkan, dipotong)

      Posted by Djoko Sawolo | 3 Desember 2012, 9:05 am
      • itu pendataaan tahun 2011… jangankan itungan tahun, itungan hari aja dah berubah.. tapi setidaknya bisa digunakan sebagai dasar perencanaan, secara statistik bisa diperkirakan kondisi di tahun 2012.. kalo mau pendataan lagi tentu butuh biaya yang sangat besar, bisa juga data 2011 dimutakhirkan lagi dengan berpedoman sama data yang ada

        Posted by cah klanyah | 3 Desember 2012, 9:09 am
        • Perusahaan dunia sekarang sudah monitoring data harian, minimal mingguan. Seperti Apple, dll. Mudah-mudahan ke depannya weekly/daily based monitoring ini akan semakin kita budayakan untuk semua aspek yang mulai serba cepat ini. Bahkan untuk pertanian sekalipun. Tapi untuk saat ini, pakailah yang ada dulu. Data 2011 boleh lah. Tapi ke depannya, perencanaan harus sudah daily/weekly based. Jadi kita ga akan pernah ketinggalan lagi. Bayangkan kita merencanakan data pake tahun 2011 yang mungkin berubah banyak saat ini (mungkin juga untuk pertanian sih masih relevan), kita bisa jadi salah merencanakan kan? Yang harus difikirkan nanti adalah update data online, ga usah BPS-BPS-an, tapi posko-posko jaringan internet desa atau kecamatan, bisa dimanfaatkan. Atau jika sudah ada jaringan orangnya, bisa update lewat HP semua kan? Semua sudah punya HP kan? Seminggu sekali update lah, di desa anu jumlah sapi sekian, desa anu sekian, dikumpulin di kecamatan, ke kabupaten, lalu nasional. Kalo sistemnya sudah dibuat, jaringannya dibuat, ngga akan susah. Atau bisa disatukan dengan update hal lainnya, misal jumlah manusia, jumlah stok gabah, dll. Hehe, semoga ngga utopis

          Posted by apasaja | 3 Desember 2012, 10:59 am
          • Setuju APASAJA … wong quick count saja kita bisa, apalagi yang beginian … pasti bisa

            Posted by Djoko Sawolo | 3 Desember 2012, 11:28 am
          • bagusnya sich seperti itu… tapi bukanlah hal mudah (dan juga bukan hal yg gak mungkin).. perlu dukungan masyarakat juga.. sekarang aja susahnya minta ampun agar masyarakat melaporkan migrasi dirinya sendiri (kelahiran, kematian, pindah) apalagi ngelaporin sapi.. :)
            pengalaman di lapangan sich, bahkan untuk tingkat dusun aja kdang mereka gak punya data yang uptodate.. makanya sensus dan survei masih diperlukan untuk pendataan..
            ngomong2 soal sistem online, masih banyak lho daerah yang belum ada sinyal HaPe, jangankan HaPe ato internet listrik aja bleum ada (pengalaman di mentawai)..
            sebetulnya untuk bbrapa produk pertanian sudah ada laporan bulanannya.. yg juga di jalan kan oleh BPS dan Dinas Pertanian..

            Posted by cah klanyah | 3 Desember 2012, 12:50 pm
          • Dulu memang ada gagasan bgmn jika di telinga sapi dipasang chip, agar bisa diketahui mutasi (pergerakannya) lewat satelit. Namun ibu-ibu peternak protes, daripada chip dipasang di telinga sapi saya, lebih baik dipasang di badan suami saya. Supaya saya bisa tahu pergerakannya, ke mana saja keluyurannya.

            Posted by Djoko Sawolo | 3 Desember 2012, 1:28 pm
  54. kalau dicermati ada dua persoalan mendasar yang menghadang swasembada sapi ini, yang pertama di Sumatera yang notabene mempunyai sumber pangan melimpah, bibit sapinya tidak ada. Sedangkan di NTT-NTB yang sapinya banyak, tapi pakannya yang kurang. Disini perlu adanya inovasi, inovasi perbanyakan bibit dan inovasi penyediaan pakan. Menurut saya lebih mudah dalam inovasi penyediaan pakan, waktunya lebih singkat. Artinya yang diperlukan sekarang adalah tata kelola peternakan di NTT-NTB harus ditingkatkan sehingga sapi2 disana tidak sampe kurus kering dan bahkan mati ketika musim kemarau. Sepertinya dulu disana pernah ada perusahaan Australia yang membangun peternakan sapi. Sorgum untuk pakan ternak NTB-NTT mungkin salah satu solusi. Memang salah satu kendala peternakan di NTB-NTT saat ini adalah transportasi, ini harus dicari pemecahannya. Masalah pembibitan, sebetulnya kita punya “jagoan” jenis sapi yang sangat produktif dalam menghasilkan anak, yaitu sapi bali dimana sapi ini lebih mudah beranak dibanding sapi lain. Tetapi maslah lain siap menghadang juga, tingkat keseragaman kualitas bibit sapi, ini juga akan menentukan keberhasilan beternak sapi. Oleh sebab itu selanjutnya yang diperlukan BUMN adalah membuat perbaikan mutu anakan sapi, selain menggunakan IB (inseminasi Buatan) perlu juga diterapkan teknologi TE (transfer embrio). Kalau IB induk betina masih menyumbangkan genetisnya sehingga kualitas anak sapi masih tergantung oleh kualitas induk betina, sedangkan pada TE induk betina ( inang) tidak menyumbangkan genetisnya. Singkatnya Induk betina dan jantan dipilih yang bagus semua kemudian dikawinkan dan embrio yang terbentuk ditipkan ke induk betina lain sebagai inang jadi semacam bayi tabung, dan dalam satu periode masa berahi satu induk betina yang terpilih bisa menghasilkan puluhan embrio yang siap ditiipkan kepada induk lain.

    Posted by Najib | 3 Desember 2012, 9:05 am
  55. abah dis kedua kalinya buka EMAIL LOWONGAN PELUANG,yg pertama MOBIL LISTRIK & ini per SAPI an…hebat!seorg MENTERI ikut menshare idenya ke RAKYAT nya!!#blm pernah ada mentri lain lho!!
    Dan semoga akan LAHIRNYA PUTRA SAPI#dulu juga LAHIRNYA PUTRA PETIR!!?

    Posted by ilman sidayu | 3 Desember 2012, 9:14 am
  56. Sebenarnya, Pak Dahlan sdh memberikan solusi terbaik : Inseminasi Buatan…

    Saya usul, bgmn caranya setiap sapi betina bisa punya anak kembar, jd bisa melipatgandakan jml anak sapi…

    Posted by ricky gonzales | 3 Desember 2012, 9:19 am
  57. Abah DIS,

    Kebetulan SMK Pelita Bangsa tempat kami mengajar (atau depan rumah kami) terdapat pasar sapi sumberlawang, kabupaten sragen, apabila abah dis memberikan kepercayaan kepada kami untuk ikut dalam pengadaan anak sapi, maka kami dengan senang hati membantu agar program ini dapat berjalan dengan lancar.
    Pasar Hewan (Sapi) Sumberlawang Kabupaten sragen ada ratusan ekor yang dijual setiap hari pasaran paing (pasaran jawa)

    Posted by Kka Kusnanto | 3 Desember 2012, 9:25 am
  58. Peternak diarahkan untuk memelihara sapi yang produksi susu. Untuk yang produksi susu, biasanya lebih lebih baik manajemen reproduksinya daripada memelihara untuk sapi pedaging. Praktis setiap tahun 1 sapi minimal menghasilkan 1 sapi, bisa lebih kalau anaknya kembar. Anak sapi yang jantan, bisa dikembangkan untuk bakalan sapi pedaging, sedang induknya menghasilkan susu sehingga pendapatan peternak bisa dari 2 sumber (hasil susu dan penjualan anaknya). Mungkin ini bisa menarik bagi peternak…

    Posted by margareta | 3 Desember 2012, 9:27 am
  59. Bagaimana kalau dibuat bayi tabung sapi. Setelah dibuahi baru dititipkan ke induknya. Menghemat beberapa bulan.

    Posted by Widi | 3 Desember 2012, 9:29 am
    • Kalau di tanaman ada Kultur Jaringan,
      kalau Sapi mungkin nggak dari Satu selnya saja?????

      hik, maaf

      Posted by novi&balitaku | 4 Desember 2012, 1:37 pm
    • Menurut saya, bayi tabung sapi sangat realistis untuk dicoba. Induk dipilih yang sehat, sel jantan dan sel telur dicari yang unggul, dibuahi sepasang, terus ditanam di uterus induk dan terus dipantau prosesnya. Mudah-mudahan anak sapi kembar bisa jadi solusi kesulitan anakan sapi.

      Posted by Aldizy | 4 Desember 2012, 10:35 pm
  60. Ini baru berfikir yang terintegrasi tidak hanya maunya dengan cara yang mudah dan instant saja, semua pihak dapat dilibatkan dalam memecahkan suatu permasalahan bangsa. Inilah contoh satu program departemen namun departemen yang lain dapat mendukungnya dengan mencarikan solusi.

    Posted by Teguh Wibowo | 3 Desember 2012, 9:39 am
  61. semangaaattt……ini adalah sebuah pilot project untuk program menekan impor sapi

    Posted by Desi Anugrah | 3 Desember 2012, 9:42 am
  62. ikutan pak, ndaftar indukan sapi saya ada 6 ekor, maju terus integrasi sapi-sawit-tebu

    Posted by setya | 3 Desember 2012, 9:46 am
  63. Memang ini adalah persoalan tetapi bagi masyarakat NTT pernah dilakukan pada era tahun 70 an dimana semua keluarga harus menanan rumput gajah sebagai makanan utama sapi dan hasil waktu itu cukup membanggakan dan sampai saat ini masih terkenal sebagai gudang ternak walaupun sapi sudah tidak seperti waktu itu dan setiap halaman rumah warga tidak terlihat lagi rumput gajah seperti waktu itu. pada kesempatan yang baik ini melalui bapak DI semoga himbauan dan sering tentang sewa sembada sapi ini disebarluaskan sampai di NTT dan mendapat dukungan luas masyarakat NTT dan NTB.

    Posted by ays247 | 3 Desember 2012, 10:01 am
  64. MH kali ini menantang kita buat berpikir dan mecari solusi, luar biasanya orang yang tidak pernah bergaul dengan sapi-pun ikut-ikutan berpikir, menelaah dan berupaya mencarikan ide. sedikit hasil rangkuman dari beberapa komentar yang terlebih dulu masuk :

    1. Pembibitan sapi dengan cara inseminasi buatan terus dilakukan diseluruh Indonesia dengan melanjutkan hasil PSPK th 2011 dengan pembaharuan data tentunya.
    2. Tahap awal 1-2 tahun kedepan perlu segera dibentuk atau ditingkatkan ( PT Berdikari ? ) adanya sebuah BUMN yang khusus menangani pembibitan sapi dengan lokasi yang paling mungkin adalah NTB, NTT Jatim dan Jabar selatan, tentu dengan kompilasi SOSA ( sorgum-sapi ), selanjutnya anakan-anakan yang dihasilkan dikirim ke PT perkebunan di wilayah sumatera untuk dibesarkan.
    3. para peternak sapi yang bertebaran di wilayah Jawa harus diajak serta dalam program pengadaan anakan sapi ini untuk sesegera mungkin mendapatkan bibit anakan sapi sebanyak mungkin.
    4. pemerintah mendukung dengan regulasi tentang larangan jual beli anakan sapi ditingkat petani dengan adanya rangsangan subsidi atau pihak BUMN sendiri yang langsung menjemput petani dengan pola kemitraannya seperti pada program pangan ( beras ).
    5. seyogyannya anakan-anakan sapi yang dihasilkan pada umur 1-2 tahun dibeli oleh BUMN guna dibesarkan di perkebunan-perkebunannya.sehingga terjalin sinergitas antara petani, BUMN, Pemerintah dan dunia usaha sebagai konsumen akhir daging sapi.
    6. Penggemukan sapi dengan program Sasa diharapkan melibatkan para transmigran dengan sistem bagi hasil sehingga programnya jadi Triple Sasatrans.
    7. Keterlibatan swasta juga harus dirangsang untuk mendukung suksesnya program sasa ini kedepan dengan menjangkau semua perkebunan sawit yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

    Abah DIs emang bikin geleng-geleng kepala Deh…. Ruar Biasa . saatnya buat seluruh anak negeri berpikir, bertindak dan mengubah paradigmanya.. yooooooo!!!! kerja kerja kerja. Salam

    Posted by Sofyan Usamah | 3 Desember 2012, 10:05 am
  65. Ini tantangan untuk kita semua mari ramai ramai telurkan ide, buah pikiran, kemampuan untuk menjawab tantangan kakek2, jangan kita hanya pandai ngomong di TV2

    Posted by narto | 3 Desember 2012, 10:19 am
  66. Memang betul apa yang Pak DI tulis itu, saya ingin menyampaikan ide tentang tebar benih ikan di musim penghujan.
    Kita tahu bahwa penggemukkan sapi itu total bisa dijual selama 3 tahun dari melahirkan atau umur 2 tahun baru bisa dijual, bayangkan kalau ikan belida,lais,jelawat, gurame, baung, patin dll anakannya ditebar ke sungai sewaktu awal musim penghujan maka pada musim kemarau masyarakat bisa panen ikan artinya dalam 6 bulan saja kita bisa menghasilkan ikan non tambak atau ikan sungai, beda lho harga ikan tambak dan ikan sungai.
    Kalau lah Pak DI tebar katakan 1 juta anakan saja yang harganya katakan Rp. 2.500, saja (udah dimahal in) artinya Pak DI keluar duit Rp. 2,5 Milyar, dan masyarakat akan mendapatkan penghasilan katakan 1 Kg Ikan Lais basah aja Rp. 15. 000, maka telah terjadi kenaikan menjadi 6 kali lipat, apalagi kalau dijadikan ikan asap (salai) yang harga per Kg. Rp. 150.000 dipasaran, ya katakan Rp. 100.000 artinya naik lagi 6 kali lipat dan dari anakan 12 kali lipat (gampangnya aja).
    Itu baru ikan lais, sama juga dengan ikan lain.
    Kalau 1 juta anakan itu ditebar di Sumsel yang punya 9 Sungai besar maka tiap sungai dapat jatah katakan 100.000 ekor anakan, tingkat hidupnya katakan 40% saja artinya tiap sungai bisa memproduksi 40.000 ekor betapa banyaknya ini bisa merepotkan untuk pasca panen, siapa yang makannya, bisa diawetkan ngak dll.
    Disamping itu jelas masyarakat pesisir mendapat pekerjaan jadi nelayan dadakan, artinya mereka ada pekerjaan dan dapat penghasilan, perut mereka terisi, kriminalitas turun dong, orang miskin turun dong, tingkat kesejahteraan agak peningkatan dong.
    Kalau ini dikerjakan berbarengan dengan pembungtingan hingga penggemukkan sapi selama 3 tahun maka paling tidak 3 kali menerbar benih dan untungnya anak sapi siap potong, sumber benihnya dimana?
    Di Palembang (Mariana) ada, Pekan Baru ada, Jambi Ada, saya kira keinginan Pak DI aja, mau melaksanakan ini, tentu harus koordinasi dengan Pusat Pembibitan Ikan Air Tawar khususnya ikan sungai.
    Ikan lebak atau rawa itu beda, contohnya gabus, toman, bekutak (belda rawa), sepat, betik dll dengan beragam turunannya maksud saya gabus itu beragam ada haruan, bujuk dll.
    Disimsel itu rawa masih belum termanfaatkan maksimal ini bisa dijadikan lebung atau tambak alami, ini terdapat di OKI, Banyu Asin, Muba, OKU Timur, pastinya dipantai timur Sumatera lah.
    Kalau program Community Social Responsibility (CSR) BUMN di arahkan kesini masyarakat langsung dapat menikmatinya, ingat slogan zaman orde baru, masyarakat haruslah di kasih pancing jangan kasih ikannya, atau program mina padi dipersawahan dan masih banyak lagi program yang baik dulu itu untuk disempurnakan, semoga jadi bahan perhatian Pak DI, maju terus dan wujudkan Kesejahteraan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia… salam

    Posted by Naga Beringsang | 3 Desember 2012, 10:28 am
    • Analisis yang bagus…
      Kalau tingkat hidup ikan 40%, tentu dari jumlah ini akan ada yang berkembang biak juga, katakan tingkat hidupnya juga 40%, maka untuk masa panen berikutnya akan ada cadangan ikan sebanyak 16.000.
      Tambahan ide, jangan hanya disebar di sungai, di danaupun juga bisa, seperti di danau Ranau.
      Salam

      Posted by Aldizy | 3 Desember 2012, 5:55 pm
      • Betul sekali, guna memperbanyak tempat pembiakan danau Ranau tentu potensial dilirik tapi harus disesuaikan dengan jenis ikan yang bisa hidup disitu. trims Aldizy…
        Itu yang saya contohkan baru di Sumsel, belum Lampung, Bengkulu, Jambi, Riau, Bangka Belitung yang ada tempat pembiakan seperti sungai, danau, lebak, rawa, kolam, tambak dll.
        Nah perlu pergub atau perda bahwa pengambilan ikan ditempat pembiakan alami itu harus menggunakan pancing, jaring , dll yang secara tradisional. Jangan menggunakan Tuba, Setrum dll yang memungkinkan anakan bisa mati.
        Seperti sekarang ini, kelangkaan ikan dan pagan turunannya menjadi hilang, contohnya dari Ikan Gabus bisa menjadi Ikan Asin, pempek yang berbagai jenis, Lakso, Burgo, abon, bekasam dll banyak lagi penganan yang bisa dijadikan stok bila terjadi krisis ikan, artinya masyarakat tidak kelaparan atau kekurangan lauknya, mereka punya cadangan, kenapa orang dulu bisa berbuat itu kini tidak…..

        Posted by Naga Beringsang | 4 Desember 2012, 8:42 am
  67. Ltbang pertanian sudah menerbitkan hasil penelitian ttg pembibitan sapi seperti link dibawah. Karena nilai keuntungan pembibitan ini jauh lebih kecil dibandingkan dg usaha penggemukan, mengakibatkan banyak pihak swasta atau masyarakat yg kurang berminat untuk pembibitan, jadi baiknya emang BUMN yg cocok mengelola pembibitan.
    Sebenarnya ditiap propinsi ada Unit pelaksana Teknis Pembibitan ternak dari Deptan, tapi sepertinya kurang berjalan dg baik…mungkin perlu dimanufacturing Hope hehehehe.

    http://124.81.86.182/publikasi/p3214025.pdf

    Posted by JOWI | 3 Desember 2012, 10:32 am
    • Penelitian mengenai pembibitan sudah dari thn 1999, tapi kok sampai skg blom ada hasilnya juga yak. Malah banyak kisruh dg pengusaha feedlot yg lebih seneng import, import, import.
      Sebenarnya banyak program dari DepTan yg bagus2 kalau bener2 dilaksanakan. Pak SBY perlu cari MenTan yg dari entrepreneur yg punya nasionalisme tinggi yg mungkin berasal dari anak petani miskin biar bisa memperbaiki pamor DepTan.

      Posted by JOWI | 3 Desember 2012, 10:43 am
    • Selasa, 24 Juni 2008 | 16:56 WIB
      Pemerintah Kembangkan Industri Pembibitan Sapi
      Besar Kecil Normal
      TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah akan mengembangkan industri pembibitan sapi potong 1000 ekor untuk memenuhi kebutuhan sapi sejuta ekor dalam kurun 5 tahun.

      “Dalam dua minggu ke depan tim yang telah dibentuk akan mematangkan konsep untuk diimplementasikan,” kata Menteri Pertanian Anton Apriantono usai rapat tentang “Peningkatan Ketahanan Pangan dan Produksi Ternak” di kantor Wakil Presiden, Selasa (24/6).

      Rapat yang dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla itu turut diikuti para petinggi perbankan nasional, seperti Agus Martowardoyo dari Bank Mandiri.

      Pengembangan pembibitan sapi, Anton menjelaskan, dibutuhkan untuk mengejar laju pertambahan permintaan daging sapi. Kebutuhan sapi yang dipenuhi dari sapi lokal mencapai 1,5 juta ekor per tahun. Selama ini, Indonesia masih mengimpor 500 ribu ekor sapi bakalan dan daging sapi beku yang setara dengan 100 ribu ekor sapi. “Impor sapi bakalan tidak menambah populasi sapi dalam negeri,” katanya.

      Bibit yang akan digunakan rencananya gabungan antara induk sapi lokal dan impor. Pemerintah akan membeli induk sapi dari Australia dan New Zealand. “Kami sedang menjajaki dari negara lain tapi terkendala penyakit,” katanya
      —————————————————–
      Sepertinya Pak Kalla belum action dah habis masa jabatannya…atau udah dirintis?

      Posted by JOWI | 4 Desember 2012, 10:35 am
  68. mantabs .. lanjuutkan bung DI. doaku menyertaimua

    Posted by rakhmat | 3 Desember 2012, 10:50 am
  69. di Sumatera BUMN mempunyai 800.000 Ha, belum lagi swasta….
    belum lagi Kalimantan yg saat ini sedang gencar2nya menciptakan jutaan Ha lahan dan tanaman sawit baru

    Posted by Gen Dwi Prayitno | 3 Desember 2012, 10:51 am
  70. Kenapa kalo saat Idul Adha banyak hewan ternak siap potong ? mungkin dibalik Idul Adha ada hikmah yang bisa memberi solusi untuk kekurangan daging…..

    Posted by Karto Inangun | 3 Desember 2012, 11:10 am
  71. Terimakasih pak DIS … pencerahan yang luar biasa … kenapa selama ini tidak ada yang mau berbagi informasi secara nyata seperti pak DIS?? …. bravo pak DIS

    Posted by tegoeh | 3 Desember 2012, 11:59 am
  72. asli kocak banget liat sibloon ngamuk-ngamuk karena ga jadi dapat panggung di tipi. Padahal udah dandan maksimal siap-siap nongol di tipi oon. Ga jadi deh kampanye gubernur sumut gratis.

    Posted by singbloon | 3 Desember 2012, 12:44 pm
    • Dia memang suka kekanak-kanakan dan kolokan begitu ..

      Posted by Djoko Sawolo | 3 Desember 2012, 1:23 pm
    • Mana link nya bro… pengen baca juga…
      itu mah udah ketauan belangnya…
      sengaja bikin rusuh biar namanya dikenal… (entah itu negatif)…
      Sama rakyat aja diketawain karena ga tau batas wilayah sumut…

      Orang2 spt ini kok bisa ya dipilih jadi anggota perwakilan rakyat…
      mereka 5th menjabat sudah menyampaikan aspirasi rakyat yg mana, dan follow up actionnya juga ga jelas…

      Posted by PUTU | 3 Desember 2012, 2:09 pm
    • hari ini, Senin 3 Desember 2012, pak Dahlan memenuhi undangan komisi VII DPR-RI utk kasus temuan inefisiensi PLN 37,6T. blm lagi dimulai, baru 5 menit hadir, pak Dahlan, dgn gaya santai sambil senyum-senyum, pamit meninggalkan gedung DPR-RI utk menghadiri sidang kabinet terbatas yg dipimpin langsung Presiden SBY membahas masalah lapangan kerja (kalo gak salah). Effendi Simbolon sempat mencegat pak Dahlan utk mencegahnya meninggalkan DPR

      pikirku, pak Dahlan ini kok ya lucu, kalo pejabat lain kan karuan tdk datang saja krn memang ada alasan, dipanggil presiden selaku atasannya menteri. lha ini, kok muncul sebentar trus cabut. kesannya ngece banget, hahahahahaaa :D

      Posted by Novrian Eka Sandhi | 3 Desember 2012, 5:51 pm
  73. 1. Kelangkaan sapi / daging sapi / anakan sapi pada hari-hari ini terkait dan terimbas hari raya qurban yang baru lalu. Pada umumnya petani/peternak sapi memilih saat mulainya penggemukan sapi dengan menghitung kapan hari raya qurban ini. Pada saat panen raya sapi ini, mereka all-out menjual semua sapi yang ada, pumpung harganya bagus. Mungkin perlu dipertimbangkan stok penyangga ketersediaan daging sapi, sebagaimana stok penyangga ketersediaan beras
    2. Kalau BUMN ingin mewujudkan swa-sembada daging/sapi, ia haruslah lebih TOTAL dalam menerjuni proyek persapian ini
    a. Bukan hanya nggarap penggemukan sapi, tetapi juga harus menekuni “industri hulu”-nya, ialah swa-sembada bibit/anakan sapi. Justru pada industri hulu ini yang lebih memerlukan uluran tangan dingin BUMN
    b. Proyek penggemukan sapi tanpa tersedianya anakan sapi dalam jumlah yang cukup, tidak akan mengarah ke swa-sembada daging/sapi, tetapi hanya impian semusim. Kalaulah bukan impian semusim, itu hanya mengubah pola, dari import daging/sapi menjadi import anakan sapi. Artinya, TETAP saja import sapi. Lebih parah lagi kalau itu hanya diversifikasi bisnis BUMN
    c. Kelebihan produksi anakan sapi bisa didistribusikan kepada masyarakat peternak (mestinya mereka beli juga)
    3. Jangka pendeknya,
    a. seperti yang sudah direncanakan itu : mengumpulkan anakan sapi “seadanya”, sak dapatnya, untuk digemukkan
    b. Import anakan sapi dari LN atau dari wilayah domestic lain (misal dari wilayah timur Indonesia di-import ke Sumatera)
    4. Jangka menengahnya, inseminasi buatan secara massal, secara nasional, mestinya juga dengan “bumbu-bumbu” insentif untuk para pemilik indukan sapi
    5. Jangka panjangnya (saya usulkan), buat dua sentra persapian nasional, untuk wilayah Indonesia Barat di Sumatera, untuk wilayah Indonesia Timur di padang savana NTT
    6. Untuk wilayah Sumatera :
    a. Proyek sa-sa, DIALIHKAN dari proyek penggemukan ke proyek anakan sapi, penggemukannya diserahkan kepada masyarakat.Tidak ada invest proyek sa-sa yang terbuang, termasuk tersedianya pakan yang melimpah
    b. Bisa juga dibuatkan anak (cucu) perusahaan yang special ngurusi proyek anakan sapi itu. (mana pilihan yang paling baik antara a dan b, pihak manajemen lebih paham).
    c. Proyek pembibitan ini HARUS dilaksanakan dan penggemukannya bisa masih tetap dilaksanakan, bisa juga diserahkan masyarakat.
    d. Bibit indukannya IMPORT, lahannya (mungkin) BUMN sudah punya, modalnya sudah pasti punya (di BRI dll), SDM-nya bisa kerja sama dengan Deptan atau perguruan tinggi/pihak swasta
    e. Jangan lupa riset pendukungnya. Mungkin bisa dilakukan rekayasa genetic sehingga bisa didapatkan sapi yang luar biasa unggul, semisal padi, dengan rekayasa genetic bisa memperpendek umur panen dan menambah produksi/Ha (dari genjah menjadi PB/IR). Jadi bila bisa memperpendek umur panen sapi, misalnya : 1 tahun bisa beranak 3X, penggemukan cukup 3 bulan, dari sekali beranak 1 ekor, menjadi sekali beranak 4@5 ekor, kenapa tidak? Mengubah ciptaan Allah memang tidak mungkin, illa bi-sulthon. Kalau semuanya untuk kemaslahatan umat, berarti tidak menyalahi perintah laa tufsiduu fil ardli
    f. Yang nomor d ini memang mahal dan hasilnya tidak bisa segera dirasakan /tidak bisa segera dijadian uang. Tapi di sinilah kelemahan masyarakat dan birokrat kita yang latent. Minim perhatian pada riset. Selama riset ini tidak mendapat perhatian, selama itu pula kita akan tetap menjadi konsumen
    7. Untuk wilayah NTT :
    a. Produksi secara tradisional (dilepas di savanna) sudah bagus. Pakan melimpah dari padang savanna
    b. Yang perlu diantisipasi kalau musim kering berkepanjangan, perlu suplemen pakan. Mungkin sorgum bisa jadi jawabannya
    c. Kemudian, pengelolaannya bisa lebih ditingkatkan efisiensinya, sebagaimana pengelolaan di wilayah barat, bahkann bisa di-sinergikan
    8. Kalau ada kurang lebihnya, mohon yang lebih mengerti bisa mengoreksi dan menambahinya
    9. Meski masih jauh saatnya, kita bisa membayangkan, ada HOPE, suatu ketika kita akan dapat, akan bisa, meng-eksport sapi

    NB:
    Untuk Mr. “Pak De”, apa kabar? Lama sekali ga kedengaran berita orangnya dan berita proyeknya.
    Apakah proyek njenengan berkaitan dengan posting komen saya yang kapan lalu di delet dari blog ini?
    Kalau ya, saya ingin japrian dengan njenengan, mungkin pertanyaan bodoh saya akan menjadi inspirasi untuk memecahkan kebuntuan njenengan dalam menyelesaikan proyek (barangkali buntu …., kalau lancar, ya syukur alhamdulillahi)
    Tolong alamat japri njenengan ke nmr ini : 0858 1552 8573
    Suwun

    Posted by pakpuh | 3 Desember 2012, 1:48 pm
    • bagus sekali komen anda…
      Yg baru saya sadari setelah baca MH dari no.1 sampe skr…

      1. Byk masalah besar yg dianggap kecil oleh para pejabat…
      spt GULA, GARAM, GANDUM, KEDELAI, KAMBING dan sekarang SAPI…
      Kita sudah merdeka 68th… dalam kurun waktu tersebut masalah ini hampir2 tidak pernah dikupas tuntas baik itu di televisi atau koran… (atau saya mkn yg ga nonton TVRI)…

      2. ARAH GBHN dan Pelita yg bubar di era reformasi menghancurkan system yg sudah ada… dan sistem yg baru tidak konsisten, berubah2 tidak jelas dan akhirnya hilang dgn berakhirnya jabatan.

      3. Kita Punya Universitas hebat, tapi kurang didukung dgn Program2 kerjasama dgn pemerintah…
      Byk Sarjana Tani/Ternak malah Kerja Kantoran atau buka conter HP… karena tidak adanya perubahan MINDSET dari Pemerintah…
      # Saya dgn baca Resume pak DI justru semakin pengen jadi Peternak… (sekarang msh anak PAB….
      maksudnya PABRIK).

      Mudah2an Rekans2 tidak hanya sekedar berwacana. Paling tidak melakukan Action dilingkungan sekitar…
      Kali2 aja ada informasi yg bisa kita bantu…

      Para PETANI DAN PETERNAK Kita mkn msh BUTA dgn Teknologi…
      DI JEPANG, yg namanya PETANI itu Bukan main Kayanya…. (mereka sangat bangga dgn itu).
      Saatnya INDONESIA Jadi INVENTOR dalam URUSAN PANGAN DAN HEWAN…
      Saatnya Membuat BRAND MENGALAHKAN BANGKOK… (ayam bangkok, jambu bangkok, durian bangkok, dll).

      Posted by PUTU | 3 Desember 2012, 2:23 pm
      • jaman orde baru punya Pembangunan Lima Tahun – PELITA, Pembangunan Jangka Panjang Tahap 1-2, GBHN, dan arahan-arahan kenegaraan dan kebangsaan lainnya… saya ingat ada yg namanya azaz-azaz dlm pembangunan di antaranya: azaz manfaat, azaz adil dan merata, dsb… sejak reformasi, krn super duper alergi bin paranoid dgn segala hal yg berbau orde baru, kita campakkan semua-muanya habis… akibatnya, saat ini bangsa dan negara RI malah tdk punya arahan akan hendak kemana perjalanan ini diarahkan… tapi lucunya mental korupsi, kolusi, dan nepotisme tdk ikut dimasukkan ke tong sampah malah justru dilestarikan dan disebarluaskan… diperparah lagi, parpol dan politisi berpikirnya hanya 5 tahunan, menyelamatkan diri sendiri…

        Posted by Novrian Eka Sandhi | 3 Desember 2012, 5:59 pm
    • untuk pakdhe saya juga minta di info, yaa sekedar sms saja gak apa apa 085210470003

      untuk pak puh sebaiknya langusng dikirm email ke tim bumn agar bisa dipertimbangkan

      Posted by saeful | 3 Desember 2012, 3:18 pm
    • bagus sekali idenya… sudah dikirim ke emailnya team bumn? segera dikirim pak..

      Posted by dan | 3 Desember 2012, 5:38 pm
  74. Wah, boleh juga tuh pak DIS. Dengan cara ini kita bisa saling mendiskusikan permasalahan yang menimpa kita semua. Tanpa ada yang saling menyalahkan.

    Posted by Mochamad Yusuf | 3 Desember 2012, 3:41 pm
  75. @ Bgmn klo SASA (SapiSawit) dtingktkn mnjadi SASASI (SapiSawitTransmigrasi). Tp yaitu td, klo dah maju jgn dimusuhi ato diusir2. @ Btw, tolong sesama DahlanIS jgn saling mengolok sprti d MH yg dulu2. *salam hangat buat para DahlanIS

    Posted by aditam@putra | 3 Desember 2012, 3:44 pm
  76. Pak Dis sudah membuka peluang selebar-lebarnya buat anak2 negeri untuk berkarya,,, ayo… anak-anak negeri , yg cerdas2yg kritis, yg banyak ide, yg suka mikir, yg suka ngulik, yg suka tntangan, ,,, yg pada pinter2 diluar negeri sana..pada pulang kampung,, waktunya kalian memberi sumbangsih pada ibu pertiwi…

    Posted by edward wasrika | 3 Desember 2012, 4:33 pm
  77. Siapa yang nyangka jika sebenarnya masalah yang dihadapi bangsa ini begitu banyak dan menjlimet ( orang sunda bilang ” satambruan ” saking banyaknya ). masalah pangan ( beras, kedelai, gandum, jagung dsb) masalah protein hewani ( sapi, kambing, kelinci dsb ) trus masalah papan ( rumah murah, rumah susun dsb ) masalah energi ( listrik, minyak bumi, gas batu bara ) masalah angkutan ( mobil,motor,kereta api, angkutan udara, angkutan laut dst ) berjibun amat yaa. ? dan Alhamdulillah semenjak adanya Manufacturing Hope, semua terbuka jelas tentu berikut jurus jurus jitu Abah DIs buat menanganinya. Sayangnya kok jadi kelihatan single fighter ya? pada kemana kementrian lain ?.

    Buat seluruh anak negeri terutama para Dahlanis, Dismania diamanapun berada, mari bergandeng tangan saling bahu membahu berkontribusi demi perbaikan negeri ini tercinta kedepan, minimal dilingkungan kita masing-masing dengan keahlian masing2, Insyaalloh jika kita mau semua bisa kita tangani bersama. mari kerja sama-sama dan berdaya bareng bareng.

    Posted by Sofyan Usamah | 3 Desember 2012, 6:31 pm
  78. Tulisan MH kali ini seperti membakar ulang ide bisnis kedepan..
    Bisnis penggemukan sapi memang menggiurkan, dulu saya pernah bercita-cita kalo skill otak dah menurun dan ada kecukupan biaya, pengen jd peternak sapi.. Cz “sekilas” kayaknya gampang jd peternak, ga butuh algoritma yg rumit dan mbulet.
    Kiranya ada saudara2 yang ngasi tips menjadi peternak sapi pemula?
    Matur suwun.

    Posted by tonoraziz | 3 Desember 2012, 6:38 pm
  79. semangat terus u/ benahi bangsa ini

    Posted by teguh | 3 Desember 2012, 7:02 pm
  80. Pakan tersedia di sumatera, sapinya ada di nusa tenggara, Masalah pertama adalah transportasi yang mahal, baik untuk ngangkut pakan dari sumatera ke nusa tenggara ataupun ngangkut anak sapi ke arah sebaliknya. Kedua ada pengurangan nutrisi penyubur tanah, defisit di Sumatera dan tertimbun di Nusa tenggara.

    Eit…. tunggu dulu, mungkin perlu masa transisi, untuk beberapa tahun kedepan, maksimal 3 tahun lah, angkut pakan ke nusa tenggara, sementara kapal yang sama baliknya ngangkut sapi indukan ke sumatera. Jadi ongkos transportnya lebih murah, karena bolak balik nya terisi barang.

    Masalah nutrisi tanah, yang perlu diperhatikan adalah defisit phospat dan mineral. ini bisa diambil dari kencing sapi nusa tenggara, dikirim balik ke sumatera. sedangkan C, H, O kan diambil dari air dan udara, jadi ga ada masalah. Lagi pula, sumatera pasti masih bisa diandalkan daya dukung tanahnya, asal tidak dikuras berlama lama sampai puluhan tahun dibawa ke Nusa tenggara. Setelah tiga tahun, diharapkan indukan di Sumatera sudah cukup banyak, sedangkan pakan di Nusa tenggara tercukupi oleh sorgum…..

    hehehehe hebat kan idea saya….. hayo siapa butuh staf ahli…….. ahli ngapusi……

    Posted by agung b santoso | 3 Desember 2012, 8:09 pm
  81. Klo MH yang lagi tampil di stasiun group j***pos, lg menulas Swasembada daging dengan budidaya kelinci.. hmmm menarik juga

    Posted by tonoraziz | 3 Desember 2012, 8:16 pm
  82. sekedar saran…klo ada BUMN Perkebunan, pertanian, gula, teh dll, maka mungking perlu pula dibuat BUMN bidang bidang budidaya peternakan : sapi, ikan, kelinci dll…(klo seandanya sudah ada tinggal ditingkatkan aktifitasnya hingga full speed)
    sehingga masalah-masalah kebutuhan primer bangsa ini bisa betul-betul tercukupi tanpa harus impor terus…

    Posted by yeribaru | 3 Desember 2012, 8:43 pm
  83. Pak Dahlan Iskan yang terhormat.
    Kalau tiap tahun perlu sapi potong 300 ribu ekor per tahun, maka diperlukan induk yang produktif minimal 300 ribu ekor per tahun. Padahal kita juga memerlukan sapi perah untuk susu juga.
    Problem kita adalah bagaimana mendapat induk produktif minimal 300 ribu ekor. sementara sumber sapi potong kita selama ini cuma dari Australia.
    Saya usulkan agar pemerintah Indonesia memperbolehkan impor sapi untuk induk, dari negara diluar australia, yaitu : dari Myanmar (cukup dekat dari Sumatera) dan dari India (dimana menurut ajaran agama Hindu disana, haram memakan daging lembu, serta cukup dekat dari Sumatera)
    Saya yakin pak Dahlan bisa melobi menteri Pertanian dan menteri Perdagangan kita untuk mengeluarkan ijin impor sapi induk. dan duta besar Indonesia di Myanmar dan india juga sudah bisa mulai bekerja. Kapal roro ASDP yang ada di Aceh bisa dipakai untuk membawa sapi induk dari Myanmar untuk diperlihara di perkebunan sawit PTPN I di Aceh danPTPN 2,3,4 di Sumatera Utara.

    Posted by Raya Timbul Manurung | 3 Desember 2012, 10:31 pm
    • kayaknya india dan myanmar belum bebas Penyakit Kuku dan Mulut pak jd ga bisa impor dari sana

      Posted by Najib | 6 Desember 2012, 9:57 am
      • malaysia sudah mengimpor sapi induk dari myanmar dan india. Semua sapi indukan tadi dimasukan kekarantina dulu, sesudah dinyatkan bebas penyakit kuku dan mulut, baru dimasukan ke peternakan. ternyata tidak semua sapi dari myanmar dan india kena penyakit kuku dan mulut. Bisa juga indonesia membuat karantina sapi di negara india dan myanmar, untuk menseleksi agar sapi yang masuk ke indonesia benar benar bebas penyakit kuku dan mulut

        Posted by raya timbul manurung | 9 Desember 2012, 9:06 pm
  84. Boleh juga ide bapak Bupati Purwakarta yaitu memberikan anak muda di berikan domba atau sapi dan di berikan oleh pemerintah, karena anak muda desa sekarang di belikan motor oleh orang tuanya dan dari hasil jual sapi atau sawah ujung-ujungnya anak muda kita jadi banyak nongkrong ga jelas, balap liar atau gank motor kalau di beri domba atau sapi pasti banyak hasilnya, mrk jadi berpikir bisa membantu orangtuanya untuk sekolah atau masa depan mereka. Jadi inget pak DIS msh madrosah dulu juga jadi gembala kambing tetangganya.

    Posted by Royyan | 3 Desember 2012, 11:09 pm
  85. Assalamu’alaikum…

    Salam kenal Pak Dahlan dari saya.

    Nama saya Achmad Anas. Saat ini saya kerja di Gas Negara Surabaya. Saya juga membaca beberapa buku Bapak.

    Saya punya usul Pak. Saya tidak tahu usul ini dapat membantu atau tidak.

    Begini Pak, usul ini terilhami karena keinginan saya untuk bisa Kurban Sapi. Tapi saya ga bisa istiqomah setiap tahun. Kadang sapi…kadang kambing disesuaikan budget. Ini karena harga sapi yang mahal, coba nabung tapi kalah oleh kebutuhan sehari-hari hehehe…

    Pernah terpikir pelihara sapi sejak anakan, 1 pasang gitu. Trus dititipin ke peternak. Sistem gaji atau bagi hasil bila nanti ada anaknya. Tapi susah cari peternaknya krn tidak tahu mana yang dapat dipercaya.

    Usul saya Pak :

    1. Saya siap membeli anakan sapi dari peternak. Dan siap membiayai biaya pemeliharaannya selama 3 tahun hingga

    sapi tersebut siap dikurbankan atau dipotong.

    Anakan sapi dibeli cash. Biaya pemeliharaan bisa dicicil selama 3 tahun. Jadi meringankan buat saya.

    Peternak dapat diuntungkan karena segera dapat duit hasil jual anakan, tetapi tetap punya indukan yang siap diinseminasi kembali. Pemeliharaan dikelola perusahaan (dititipkan). Perusahaan ini Bapak yang bentuk melalui BUMN tadi. Jadi BUMN selain mengelola sapi dengan modal sendiri, juga sebagai jasa pengelola sapi titipan masyarakat tadi.

    2. Program tersebut ditawarkan ke khalayak masyarakat umum. Awalnya susah/sedikit Pak, tetapi apabila sdh kelihatan hasilnya, akan jadi model investasi yang menggiurkan.

    3. Saya yakin klo program ini berhasil, orang seperti saya tidak saja invest untuk berkurban saja, tetapi invest untuk pendapatan tambahan. Saya setiap tahun dapat berkurban. Tapi juga punya investasi tambahan. Jadi orang seperti saya bisa jadi tidak hanya punya sepasang sapi, tapi beberapa ekor sapi.

    4. Program ini memecahkan problem Bapak, dimana petani lebih tertarik usaha sapi potong daripada sapi indukan. Dengan ada yang membeli anakannya, kita coba rubah mainset peternak untuk mencoba usaha sapi indukan/anakan. Karena dalam waktu tidak terlalu lama dapat duit dari jual anakan tadi. Dan tidak ada biaya pemeliharaan, hanya memelihara indukanya saja. Sedang indukanya bisa diinseminasi kembali. Untuk dapat anakan lagi dan dijual untuk dapat duit kembali.

    5. Kelemahan program ini, adalah adanya biaya transport anakan ke lokasi perusahaan peternakan bentukan BUMN tadi. Tetapi bisa diakali dengan membuat sistem cluster dengan wilayah 1 kecamatan. Masing=masing kecamatan bisa jadi beda spesies sapinya. Jadi peternak sekecamatan yang tertarik program ini, nantinya anakannya dijadikan satu untuk diangkut bareng-bareng ke lokasi perusahaan peternakan tadi. Biayanya dapat urunan masing-masing pemilik anakan tadi. Tetapi sistem penglelolaan, pengangkutan dan pemeliharaan oleh perusahaan yg menangani, dengan sistem komisi atau bagi hasil.

    Program ini memang lambat Pak, tapi suistainable. Saya yakin dalam waktu diatas 5 tahun ke depan, Indonesia bukan saja swasembada daging, tetapi juga menjadi pengekspor sapi.

    Demikian Pak, mohon maaf sebelumnya.

    Semoga Bapak selalu diberi kekuatan iman dan kesabaran dalam menjalankan tugas-tugas Bapak.

    Semoga diberi panjang umur dan sehat selalu supaya dapat berdarma bakti bagi negara yang kita cintai ini untuk lebih lama lagi. Karena bangsa ini membutuhkan pemimpin-pemimpin seperti Bapak.

    Amin.

    Posted by achmad anas | 3 Desember 2012, 11:37 pm
    • tidak hanya sapi daging, tetapi lini peternakan menyangkut susu, ayam, telur dan seluruh uborampenya ada mafianya dan ujung-ujungnya adalah sisi kebijakan yang tidak tegas dan mau untung segera. terlebih bila sudah menjadi komoditas yang menyangkut urusan setoran dan upeti.

      Persoalan utama terkait daging sapi memang benar adalah terkait dengan bibit. saya merasakan sendiri bagaimana untuk bisa punya 1 pedet dibutuhkan minimal 9 bulan betina bunting dan kemudian siap jadi bakalan kurang lebih satu tahun. memperpendek usia kebuntingan jelas hal yang tidak mungkin, selain itu memperpendek usia untuk menjadi bakalan juga tidak mungkin. efisiensi pemeliharaan tertinggi pada sapi untuk siap digemukkan paling tidak sapi diumur 1-1.5 tahun. hal yang mungkin dilakukan untuk memperbanyak jumlah pedet adalah dengan membuntingi sapi betina sebanyak banyaknya untuk bisa menghasilkan pedet. membuntingi juga bukan perkara mudah. tetapi dengan teknologi hal ini memungkinkan. selain Inseminasi buatan, ada yang mungkin terlupa Embryo Transfer. Negara kita punya Balai Embryo Transfer di cipelang dan monggo jika mau ditelusuri, balai ini merupakan satu2nya di asia tenggara. Bahkan jepang saja tidak punya balai seperti ini. sekarang tinggal kebijakan saja dimana banyak betina disimpan untuk dijadikan indukan. miris rasanya ketika melongok ke rumah potong hewan, yang banyak dipotong mesti sapi betina. Makanya dulu waktu jaman belanda sebenarnya sudah dipikirkan adanya peraturan untuk tidak memotong sapi betina B3 (Betina, bunting dan bertanduk). dan sepertinya di Departemen Pertanian RI juga ada program penyelamatan betina bunting. ada subsidi juga koq untuk petani yang mau memelihara.

      Sehingga langkah awal menurut saya adalah bagaimana menyelamatkan para betina2 yang masih produktif, kemudian membuntingi dan selama pemeliharaan disubsidi untuk pakannya, begitu babaran pedetnya jika jantan masuk penggemukan, betina masuk seleksi untuk calon indukan. karena bagaimanapun hanya sapi betina yang bisa bunting…

      Posted by masgit | 4 Desember 2012, 1:32 am
  86. Reblogged this on illosum and commented:
    reblog juga yaaa

    Posted by illosum | 4 Desember 2012, 8:18 am
  87. Mungkin yg terpenting bagi konsumen adalah persoalan harga daging. Ditempat sy, banyuwangi (basisnya sapi) harga daging/kg 80rb. Naik 30% di bulan sama dr tahun kemarin. Sementara harga sapi naik sekitar 20% dari th sebelumnya yg turun sampai 50%. Pertanyaannya, kenapa hrg daging bs naik drastis padahal hrg sapi cenderung stabil, bahkan turun? Bukankah ketika harga daging naik, yg bersukacita adalah peternak? Tapi kenapa peternak didaerah sy msh ada yg merugi.

    Kesimpulan sy, ternyata ada kekurangan sistem niaga sapi dan kurang efisiennya teknis budidaya. Selama ini sapi dijual dgn harga perekor hidup, bukan berdasarkan berat badannya. Sistem itu menimbulkan spekulasi yg bs merugikan peternak & pedagang. Peternak bs rugi ketika harga jual lbh rendah dr biaya perawatan. Sedangkan pedagang jg bs rugi karena tdk ada jaminan kualitas sapi. Sapi yg dirawat seadanya menyebabkan karkasnya (jumlah daging) rendah, yg berakibat harga dagingnya menjadi mahal untuk mengejar keuntungan.

    Dari permasalahan itu solusinya tetap pd usaha peningkatan kualitas dan efisiensi budidaya sapi. Dgn sapi berkualitas, peternak akan mempunyai daya tawar tinggi. Pedagang pun mendapat jaminan kualitas daging yg membuat harganya stabil. Dampak akhirnya akan dirasakan konsumen. Mungkin pecinta bakso tdk akan puasa sampe 2 minggu…

    Posted by G.Hariyanto | 4 Desember 2012, 8:56 am
  88. Politik nggak penting.

    Cuekin aja Pak

    Bentar lagi dHewan itu pasti ngelosot nangis di tanah meraung raung
    menjambak rambut sendiri, teriak, sambil menceracau nggak karuan
    ………………………persis balitaku pas balonnya lepas.

    Selain Yang Mulia, usul sebutan Dewan Yang Terhormat juga dihapus,
    kecuali mereka berbuat yang lebih bermanfaat untuk Indonesia atau nol korupsinya.

    Lama-lama rakyat juga akan sadar, Parlemen produk reformasi ini terlalu genit dan arogan.

    “Ya nggak pa pa silahkan ” i like dis
    persis kayak
    “ngak papa Gitu aja kok repot” i like Gus Dur

    Sejarah negeri ini mencatatnya.

    Semoga Allah melindungi Orang orang yg punya niatan baik untuk negeri ini.

    Posted by novi&balitaku | 4 Desember 2012, 1:32 pm
  89. ide swasembada daging sudah sejak lama dicetuskan pemerintah. Sampai saat ini blm terlaksana. Pemenuhan 300rb sapi/th tdk bs dgn usaha ala kadarnya dan dlm tempo 2th masa kampanye. Langkah awal yg hrs ditempuh pemerintah adalah serius dlm mengkawal swasembada daging. Wujud kesungguhan itu dgn membuat roadmap yg disusun dan dilaksanakan bersama seluruh stakeholder peternakan. Program ini tdk bs dilaksanakan sendiri2 oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat karena dlm prakteknya akan saling bersinggungan. Perlu kerjasama pembagian tugas yg terintegrasi untk mewujudkide swasembada daging sudah sejak lama dicetuskan pemerintah. Sampai saat ini blm terlaksana. Pemenuhan 300rb sapi/th tdk bs dgn usaha ala kadarnya dan dlm tempo 2th masa kampanye. Langkah awal yg hrs ditempuh pemerintah adalah serius dlm mengkawal swasembada daging. Wujud kesungguhan itu dgn membuat roadmap yg disusun dan dilaksanakan bersama seluruh stakeholder peternakan. Program ini tdk bs dilaksanakan sendiri2 oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat karena dlm prakteknya akan saling bersinggungan. Perlu kerjasama pembagian tugas yg terintegrasi untk mewujudkide swasembada daging sudah sejak lama dicetuskan pemerintah. Sampai saat ini blm terlaksana. Pemenuhan 300rb sapi/th tdk bs dgn usaha ala kadarnya dan dlm tempo 2th masa kampanye. Langkah awal yg hrs ditempuh pemerintah adalah serius dlm mengkawal swasembada daging. Wujud kesungguhan itu dgn membuat roadmap yg disusun dan dilaksanakan bersama seluruh stakeholder peternakan. Program ini tdk bs dilaksanakan sendiri2 oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat karena dlm prakteknya akan saling bersinggungan. Perlu kerjasama pembagian tugas yg terintegrasi untk mewujudkide swasembada daging sudah sejak lama dicetuskan pemerintah. Sampai saat ini blm terlaksana. Pemenuhan 300rb sapi/th tdk bs dgn usaha ala kadarnya dan dlm tempo 2th masa kampanye. Langkah awal yg hrs ditempuh pemerintah adalah serius dlm mengkawal swasembada daging. Wujud kesungguhan itu dgn membuat roadmap yg disusun dan dilaksanakan bersama seluruh stakeholder peternakan. Program ini tdk bs dilaksanakan sendiri2 oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat karena dlm prakteknya akan saling bersinggungan. Perlu kerjasama pembagian tugas yg terintegrasi untk mewujudkannya.

    Contoh yg baik pd program swasembada beras. Pemenuhan kebutuhan beras tercapai berkat kerja sama bumn dam petani. Kalau dipertanian berhasil kenapa tdk diterapkan pd peternakan? Padahal kita tdk akan memulainya dari nol. Indonesia sdh mempunyai sdm dan sda yg unggul. Tinggal kemauan dan kemampuan manajerial pemimpinnya. Diperlukan pemimpin yg tdk mementingkan diri dan institusinya sendiri, tet

    Posted by G. Hariyanto | 4 Desember 2012, 2:56 pm
  90. ide swasembada daging sudah sejak lama dicetuskan pemerintah. Sampai saat ini blm terlaksana. Pemenuhan 300rb sapi/th tdk bs dgn usaha ala kadarnya dan dlm tempo 2th masa kampanye. Langkah awal yg hrs ditempuh pemerintah adalah serius dlm mengkawal swasembada daging. Wujud kesungguhan itu dgn membuat roadmap yg disusun dan dilaksanakan bersama seluruh stakeholder peternakan. Program ini tdk bs dilaksanakan sendiri2 oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat karena dlm prakteknya akan saling bersinggungan. Perlu kerjasama pembagian tugas yg terintegrasi untk mewujudkannya.

    Contoh yg baik pd program swasembada beras. Pemenuhan kebutuhan beras tercapai berkat kerja sama bumn dam petani. Kalau dipertanian berhasil kenapa tdk diterapkan pd peternakan? Padahal kita tdk akan memulainya dari nol. Indonesia sdh mempunyai sdm dan sda yg unggul. Tinggal kemauan dan kemampuan manajerial pemimpinnya. Diperlukan pemimpin yg tdk mementingkan diri dan institusinya sendiri, tetapi jg menghargai kerjakeras dan prestasi orang lain.

    Mulai sekarang stop mengambil anak sapi sbg hak peternak, karena itu bukan solusi. Lebih penting memberi mereka anak sapi untk digemukkan dgn sistem bagi hasil. Tdk perlu malu meski hrs impor anakan. Bila perlu berikan subsidi pakan, atau bahkan gratiskan. Dampingi peternak dgn memberdayakan sarjana peternakan. Biarkanlah peternak yg memenuhi kebutuhan daging. Ternak Bumn cukuplah menjadi penyeimbang harga jika pasokan kurang. Semuanya demi peternak dan rakyat indonesia. Bkn untk peroraogan dan institusi.

    Posted by G. Hariyanto | 4 Desember 2012, 2:59 pm
  91. Ternyata kalo manusia disuruh Ber KB, maka sapi di paksa harus punya anak sebanyak banyaknya, Jumlah manusia di Indonesia kurang lebih 250 Juta orang , berbanding terbalik dengan jumlah sapi yang di butuhkan 300.000 ekor saja susah.
    Memang sih manusia tidak harus mati dipotong setiap hari, sedangkan Sapi harus mati di ujung pisau potong setiap hari. Pernahkah dihitung perbandingan jumlah sapi yang lahir dengan yang dipotong atau mati.

    Program cepat Swa sembada SAPI akan segera terlaksana jika :

    1. Dana Besar BUMN untuk biaya awal pemeliharaan dan pengadaan Bibit Unggul (solusi Impor bila sulit mendapatkan dari dalam negeri) .
    2. Perlunya melibatkan sangat banyak tenaga peternak plasma baik yang berasal dari peternak lokal / peternak pendatang terdidik / peternak transmigran. Asumsi 1 peternak = 1 indukan maka untuk mendapatkan 100.000 ekor dibutuhkan 100.000 peternak (luar biasa jumlah penyerapan tenaga kerja).
    3. Dukungan Teknis peternakan, arahan dan bimbingan oleh tenaga ahli peternakan secara berkelanjutan.
    4. Perlunya insentif / bonus, Harga jual Sapi yang menguntungkan dan jaminan kesejahteraan lainnya bagi para peternak yang berhasil merawat bibit dengan baik.

    Mudah mudahan program ini banyak mengangkat kesejahteraan Masyarakat peternak lokal dan menambah minat generasi muda untuk bekerja di peternakan, kembali ke desa dan tidak mencari kerja di Kota.

    Posted by ganesa | 4 Desember 2012, 3:13 pm
  92. Semangat pagi,..ada baiknya pak DI minta saran dan masukan ke Gubernur NTB,.krn jauh sebelum pak DI jdi menteri BUMN di NTB oleh Gubernurnya NTB dicanangkan Program Bumi Sejuta Sapi (BSS),.sepengetahuan kami program tersbt dianggap sukses malahan setiap tahun anggarannya ditambah..semoga sukses,utk pak DI semoga sehat selalu Aminnnn

    Posted by Arya Sutha | 5 Desember 2012, 7:21 am
  93. Siapa yang akan meresume ide-ide di blog ini dan mengirimkannya ke ideaanaksapi@gmail.com, atau siapa yang akan kirim email ke ideaanaksapi@gmail.com untuk memantau blog ini? Kalau sudah dipantau ya lebih bagus lagi. Yang lagi nulis idenya, titip saran ini ya? Makasih.

    Posted by apasaja | 5 Desember 2012, 7:55 am
  94. bukan hanya BUMN yang kekurangan sapi bakalan, perusahaan sekelas PT Tanjung Mandiri yg berpengalaman mengelolan puluhan ribu sapi saja kekurangan. Harus ada sinergi yang baik antara pemerintah dan swasta.
    http://www.tempo.co/read/news/2012/11/25/083443894/Produsen-Sapi-Terbesar-Tangerang-Terancam-Tutup

    Posted by najib | 5 Desember 2012, 9:28 am
  95. sedikit informasi tentang transfer embio yang lain silakan di googling http://sains.kompas.com/read/2012/08/22/19372668/Transfer.Embrio.Bantu.Perbanyak.Keturunan.Sapi

    Posted by najib | 5 Desember 2012, 9:40 am
  96. di Padang mangateh, daerah 50 Kota sumatera barat, dah ada persapian…., dan tinggal menggalakkan (bukan ngetawain ) ke peternak perorangan dengan pembinaan pengelola Padang mangateh..

    Posted by palem | 5 Desember 2012, 11:02 am
  97. jadi tertarik pelihara sapi nih :D

    pelihara bebek, pakannya makin hari makin mahal, bekatul saja naik jadi Rp 3600/kg , kini semua yg bisa dimanfaatkan jd pakan saya manfaatkan, sampe ares (tengah batang) pisang juga pakai.

    Posted by akal sehat | 5 Desember 2012, 1:07 pm
  98. ______________________________

    Kenapa harus terpaku pada “daging sapi” ?

    Ada alternatip lain yang jauh lebih feasible dari sisi economy dan practicality, yaitu daging kambing.

    Memelihara kambing (juga domba, biri-biri) jauh lebih mudah ketimbang memelihara sapi, bolah dibilang “tinggal dilepasin” kambing itu sudah cari makan sendiri. Bahkan karena lahapnya (voracious), kambing itu bisa menjadi penyebab gundulnya ladang/tanah dimana mereka berada [jadi tetap harus ada kontrol populasi, misalnya dengan regular culling]. Untuk areal kelapa sawit, kambing yang nggak rewel soal makanan ini sangat cocok sebagai weed control [mengurangi biaya pemeliharaan lahan].

    Daging kambing lebih sehat ketimbang daging sapi, dan harganya juga lebih baik (di US lebih mahal goat/lamb ketimbang beef). Kambing juga menghasilkan susu yang lebih mudah dicerna, enak dibuat keju, bulunya juga bisa dipanen sebagai fiber (untuk pakaian). Kotorannya bisa jadi pupuk yang langsung tersebar di grazing area. Soal penangkaran, otomatis … nggak perlu mendatangkan sekian ratus ribu anak kambing, mulai dengan sekawanan betina dan beberapa pejantan, dalam waktu singkat mereka akan beranak-pinak (dan juga kambing sering punya anak kembar).

    Dan beternak kambing ini juga memberi peluang kerja bagi anak desa sekitar … angon wedhus! [Bahasa jawanya dulu "dIgadhuhkan", bagi hasil, bagi anak kambing].

    Tambahan dalam email berikutnya:

    Ternak sapi –juga kambing, ayam, bebek.dll– memang menguntungkan, tetapi dari sudut energy/water consumption (energy footprint, enviromental impact) sapi paling besar. Juga dalam scaling-down, kambing bahkan ayam/bebek bisa dilakukan dalam skala rumahtangga –> self-sufficiency dalam kebutuhan daging/protein [ketahanan pangan nasional didistribusikan secara lebih luas, dan artinya lebih sustainable]

    Ketergantungan akan pangan juga besar untuk sapi, sebagian besar (soy based cattle food) masih diimport — kita ini mendatangkan 70% kedele dari luar lho! Sedangkan kambing itu dilepas di pasar makan apa saja (kulit nangka dan limbah sayur-mayur, etc), saya lihat dari pengalaman waktu kecil di Malang, dan sekarang didukung pengalaman yang saya studi di negara-negara berkembang. Kotoran sapi jauh lebih sulit dikelola, dimana tanpa regulasi yang ketat seperti negeri maju, hanya akan mencemari lingkungan.

    Contoh yang sudah berlangsung lama di Desa Tarumajaya, Kecamatan Ke rtasari, Kabupaten Bandung, yang sebagian besar penduduknya merupakan petani sayur dan peternak sapi perah. Hanya 700 meter dari Situ Cisanti, mata air sungai Citarum, jadi tempat pembuangan limbah kotoran sapi. “Semua peternak sapi perah di desa ini membuang kotoran sapinya langsung ke sungai,” ujar Agus Darajat, tokoh masyarakat yang juga Ketua Kertasari Bersatu. Ini terjadi karena mereka tidak tahu musti dibuang kemana atau diapain kotoran sapi tersebut? Di Lembang saya lihat problem serupa terjadi, limbah kotoran sapi mulai mencemari sumber air disekitarnya.

    Kotoran kambing, lain ceritanya, secara alamiah dia berceceran kemana-mana dalam bentuk yang lebih padat. Bahkan kalau rajin ngumpulin bisa dijual sebagai pupuk (coba beli di Cihideung). Singkatnya ternak kambing lebih scalable (especially downward) dan lebih sustainable. Soal pasaran .. berapa banyak yang lebih milih sate sapi ketimbang sate kambing, gule sapi ketimbang gule kambing?

    Cultural Notes:
    Kalau dilihat dari sisi kultur, sebetulnya aslinya bangsa kita itu (Jawa & Sumatra) bukan pemakan daging sapi, tetapi daging kerbau [Ini bisa ditelusuri dari literatur lama, serat jawa, sampai dengan era balaipustaka. Contoh yang klasik, "Max Havelaar" nya Multatuli]. Seingat saya sapi sekarang ini dalah keturunan sapi purba Bos primigenius yang berhasil didomestikkan. Ada dua jenis, Bos taurus, yangberasal dari Eropa dan Bos indicus, yang berasal dari India (yang ada punuk-nya). Sedangkan yang asli Jawa (dan juga asia Tenggara), banteng atau Bos javanicus hampir tidak pernah bisa diternakkan. Kerbau (Bubalus bubalis) sudah jauh lebih lama menjadi domestik di Asia, tetapi juga tersebar didaerah tropis.

    Moko/

    PS: Bagi yang berminat usaha kambing atau dunia perkambingan, kita bisa ngobrol panjang di acara film jumatan di Comlabs-ITB. Saya punya banyak resource/material, koleksi praksis dari segala penjuru dunia.

    Posted by bsuhardiman | 5 Desember 2012, 1:07 pm
    • pak bsuhardiman terima kasih atas paparannya dan masuk akal

      tapi apa yang terjadi dengan kondisi sekarang adalah

      apakah bapak bisa merubah mindset masyarakat untuk pindah dari konsumsi sapi ke kambing
      seperti orang indonesia sekarang sudah begitu doyannya makan roti dari pada bakwan misalnya?

      apakah para produsen produk turunan beef bisa dengan mudah pindah ke produk turunan beef secara masiv?

      saya rasa kenapa pak dahlan mersepon tentang kelangkaan sapi, jika bapak pernah baca tulisan

      http://dahlaniskan.wordpress.com/2011/07/18/mulai-daging-babi-sampai-mikro-lng/

      mungkin akan ada gambaran, inilah yang ditakutkan pak dahlan, perekonomian cina gaduh dan stuck gara gara daging babi

      begitu pula dengan daging sapi di indonesia

      para oposan pemerintah akan sangat mudah mengekploitasi berita bahwa negara ini Guagal totalllll, gara gara gak ada sapi,

      sama seperti bupati garut dimana seluruh warga garut malu merjamaah gara gara segumpal daging hehehehe
      (intermezoo karena lagi ngetrend)

      Posted by saeful | 5 Desember 2012, 1:52 pm
    • Mau Kambing, Sapi, Kelinci dll… Smua Hayo aja Jalanin…
      Semua dah dikupas di MH sebelumnya…

      Yg Perlu Dilakukan adalah Action…
      Dari dulu semua berwacana saja, sehingga tidak ada implementasinya dilapangan…

      kalo kata AA GYM, salah satu tokoh idola saya juga (walau saya non-muslim).
      harus 3M :
      MULAI DARI YG KECIL
      MULAI DARI DIRI SENDIRI
      MULAI SEKARANG JUGA…

      Ciusss….

      Posted by PUTU | 5 Desember 2012, 4:16 pm
    • Dalam beberapa hal, daging sapi memang tak tergantikan. Namun alternatif penggantinya jg perlu diusahakan. Kita selama ini terpaku pd konsep ‘swasembada’ sbg usaha pemenuhan kebutuhan salah satu produk pangan saja, spt beras, daging sapi, kedele, dsb. Kenapa konsep ‘swasembada’ tdk diubah sbg pemenuhan produk pangan beserta alternatifnya/ subsitusinya, shg tdk terpaku pd satu produk pangan saja. Seperti yg kita ketahui tdk tercapainya swasembada itu, selain kelemahan manajemen jg karena faktor kodisi geografis yg tak mendukung. Bukankah manusia diciptakan sbg mahkluk omnivora. Kita jg punya pepatah ‘tak ada rotan kayu pun jadi’. Bukankah jika tdk ada beras, sapi, terigu dan kedele kita msh bs makan enak? ‘swasembada’ masih bersifat politis drpd ekonomis. Demi menjaga stabilitas nasional, cara susah dan mahal pun ditempuh. Sudah saatnya kita berakal sehat. Produk2 pangan dan energi sdh saatnya kita gunakan

      Posted by G.Hariyanto | 5 Desember 2012, 4:40 pm
  99. Dear all.
    Si Efendi Simbloon ini makin kurang ajar aja…
    Koar2 dimedia bahwa Pak DI lari dari tanggungjawab 37 triliun dan melecehkan anggota DPR.

    Enaknya diapain ya… Kalo bisa di media sosial di hajar habis aja… Malu saya punya anggota parlemen ga punya otak kaya gini…. bukannya memikirkan rakyat yg butuh listrik, malah nyalah2in orang…
    Tak sumpahin mlarat lahir batin… semoga harta yg didapat menguap bersama kesombongannya…

    http://finance.detik.com/read/2012/12/05/152204/2110149/1034/effendi-simbolon-bakal-surati-sby-karena-anggap-dahlan-lecehkan-dpr?f9911023

    Posted by PUTU | 5 Desember 2012, 4:03 pm
  100. Yang harus dibawa ke psikiater ya si simbolon.. saya malu punya wakil kok kayak preman .. gak pernah sekolah kok jadi anggota DPR.. ngaca dulu boss baru komen. …. mending rakyat senang ketimbang dpr korupsi gak pernah nyenangkan hati rakyat kecil….

    Posted by suhardi | 5 Desember 2012, 6:20 pm
  101. Reblogged this on Blog Saya.

    Posted by faridatulkhasanah | 5 Desember 2012, 6:35 pm
  102. Sugeng dalu..
    Semogo kita semua masih dalam lindunganNYA.. lama ngak OL eeeee… ternyat sudah panjang komen temen2 penggemar pak DI..;-) ada yang ngusul, ada yang ngasih ilmu tentang ternak2 dan ada juga yang panas gara – gara pak DI di kompor2i di media…he..he..he..
    Sebenarnya panas jg kalau liat media2 lagi diskusi soal negara ini, tapi ya gimana lagi.. ya ginilah masyarakat kita saat ini.. lagi di alam carut marut yang akhir2 ini banyak orang- orang baik yang mulai bermunculan.. Semoga kita masih bisa berfikir dingin, bahwa negara ini tidak hanya berisi orang – orang yang saling salah menyalahkan, tapi masih banyak juga di isi orang – orang yang bisa memberi ide2 segar seperti yang dilakukan oleh pak DI di HOPE2NYA.
    Dan dengan selesinya membaca tulisan pak DI dan be2rapa komen temen2, ingin jg rasanya memberi beberapa ide yang tiba2 muncul soal anak sapi.
    Kalau mebaca tulisan pak DI selau saja ada ide2 yang timbul secara tiba2..:-)
    Kalu anak sampi yang dari NTT dan makanan sapi yang dari sumatra di bawa ke pulau jawa gimana ya.. mungkin daerah2 di jawa yang masih tertirnggal bisa menjadi solusi buat program pengemukan sapi. selain bisa menyerap tenaga kerja di pulau jawa yang mungkin OD(alia Over Dosis) bisa juga membut daerah tertinggal di pulau jawa menjadi mendadak ramai karena ada tempat peternaka baru yang akan menyerap banyak tenaga kerja, dan selain itu juga bisa membuat potensi2 baru tumbuh misalkan warung2 makan dan toko2 yang di butuhkan oleh tenaga kerja yang mungkin datang dari luar kota. karena selama ini temen2 di pulau jawa banyak yang urban ke kota gara2 di desa atau di kota mereka lahir sulit mencari pekerjaan yang bisa menjamin kelangsungan hidup mereka. kalau pun ada palin bisa di buat bertahan hidup saja.. kalau buat rekreasi atupun belaja2 seperti orang2 di kota kayaknya belom bisa. siapa tau dengan adanya peternakan penggemukan sapi yang pemiliknya adalah BUMN mereka bisa lebih sejahtera.
    Demikian komentar dari kami yang masih belajar ini semoga komentar ini bisa menjadi penceraha buat kita semu.

    Posted by poeyahari | 5 Desember 2012, 7:05 pm
  103. http://nasional.inilah.com/read/detail/1934597/dpr-kantongi-keterlibatan-keluarga-dahlan-iskan

    “Kita hanya minta klarifikasi apakah benar tidaknya, walapun kita memang sudah punya data (keterlibatan Dahlan dan keluarga). Ada keterlibatan keluarga dan anak-anaknya,” kata Effendi, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (5/12/2012).

    Wow makin HOT dan SEKSI…..pantesan mengelak terus…..kebenaran harus diungkap !!!

    Posted by mbakku | 5 Desember 2012, 10:36 pm
    • Hari gini msh percaya sibloon ……..?
      Duh mbak/ mas sampeyan iki piye too……

      Posted by syafiihkamil | 6 Desember 2012, 5:59 am
      • Kita harus hormati proses hukum…. kalau pak Dahlan menuduh anggota DPR pemeras dan kita menghormati pak Dahlan disertai dengan bukti-bukti yang ada kemudian melaporkan ke BK DPR tetapi sekarang malah hasilnya anti klimaks dan gak jelas…..

        Seperti yang berkembang isu di twitland 2-3 bln lalu dari Iwan Piliang (bukan triomacan yah) bahwa keluarga dan anak Pak Dahlan Iskan terlibat pengadaan di PLN, nah seiring berjalannya waktu skrg mulai terbuka sedikit-sedikit dan saya lihat bahasa tubuh pak Dahlan ketika dipanggil di DPR sampai memasukkan botol aqua ke dalam baju saking paniknya. Kemaren pas akan dipanggil lagi tidak bisa ikut dengan alasan ada rapat dengan presiden dan saya melihat aura/bahasa tubuhnya tidak segarang dahulu kelihatan gugup trus tidak pd.

        Saya lebih tertarik kepada kebenaran bukan melihat orang jadi kalo memang orang itu salah ya salah jangan karena kita ngefans trus dianggap seperti malaikat….kita tunggu saja mas episode selanjutnya !! Saya tetap berpendapat bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa….

        Posted by mbakku | 6 Desember 2012, 6:42 am
    • kikiw, mbakku silahkan usut, biar rame dan siapa yang boong dan apakah benar efendi simblokon membela kepentingan bersama atau hanya ambisius pribadi,
      menanti pilgub sumut agar efendi simblok on kalah telak

      Posted by saeful | 6 Desember 2012, 7:25 am
  104. saya pernah membaca di majalah TRUBUS bahwa LIPI sedang melakukan penelitian untuk menghasilkan induk sapi yang bisa beranak kembar.

    Posted by lie zein | 6 Desember 2012, 12:15 am
  105. sapi diurusin ? itu udah ada yang ngurus, dan gak ada relevansinya dengan BUMN ! LISTRIK tuh mau naik ??? sudahlah ada ineffisiensi yang katanya lebih 37 triliun ?
    dasar SAPI !!! alias Selalu Amburadu PLN Ini… urus yang bener dong !

    Posted by dahlan | 6 Desember 2012, 5:08 am
  106. Paling senang membaca komentar-komentar yang berisi saran, masukan, ide, urun rembug dan diskusi untuk perbaikan di banyak aspek, khususnya yang terkait dengan bidang peternakan (sapi dll) dan semangat swasembada.. Tapi ketika baca komen-komen yang (kembali lagi) nyerempet soal-soal politik termasuk yang berhubungan dengan dpr, saya cuma bilang ” wowww, capeee dehhhh”. Ga nyambung ngomongin itu di blog penuh Hope ini…. Sudah terlalu sering lihat di TV dan baca koran tentang statemen-statemen politikus yang sok pintar, sok bersih dan sok benar. Mengatasnamakan hukum lah, hatinurani lah mereka berpolemik, berdebat dan beretorika dengan gaya yang meyakinkan dan bahasa-bahasa yang “intelek”. Dengan alasan apapun perilaku politik yang ditunjukkan para politisi negeri ini sangat tidak layak disandingkan dengan langkah-langkah perbaikan dan kemajuan yang sedang digaungkan melalui Manufacturing Hope. Bangsa ini butuh solusi, jangan lagi dibawa-bawa ke arah keruwetan masalah tanpa ujung yang pada akhirnya ternyata hanya lah kepentingan saja. Kecuali kalau orang itu pengkhianat yang tak ingin bangsanya keluar dari permasalahan yang membelit, ruwet.. Salam DahlanIs.. Semangat Pagi!! Kerja kerja kerja.. :)

    Posted by akadarisman | 6 Desember 2012, 7:45 am
  107. Mbakku yang jelek kalau pak DI masukin botol ke dalam bajunya coba deh lihat foto2 DI sebelum jadi mentri itu ada juga dihadapan prajuritnya PLN sambil rapat juga masukkan minuman botolnya ke bajunya

    Posted by narto | 6 Desember 2012, 8:07 am
  108. saya punya ide pak,

    kenapa sapi sapi yang ada di timur ga di kirim lewat laut saja
    dengan begitu bisa menghidupkan bisnis PT PELNI yang katanya hampir sekarat
    karena orang lebih milih naik pesawat.
    harga nya di subsidi sama pemerintah karena toh untuk keberhasilan program pemerintah

    Posted by motor servo | 6 Desember 2012, 9:17 am
    • idenya sudah di bahas pada awal awal MH, sampai pak dahlan pesan kapal 3 In 1 dimana kapal bisa muat kendaraan, manusia dan sapi tanpa merasa dirugakan antara satu sama yang lain, meskipun logistic cost masih tinggi tapi nanti lama lama terurai

      Posted by saeful | 6 Desember 2012, 10:34 am
  109. http://kickdahlan.wordpress.com/2012/12/06/produksi-gula-ptpn-xi-di-2012-melampaui-target/
    ini satu lagi bukti kepiawaian ” pencitraan ” Abah Dis.
    ayo Abah teruskan bikin pencitraan -pencitraan baru yang out of box, biar makin banyak kemajuan dan perbaikan buat bangsa ini.
    Buat yang anti pencitraan ala Dahlan, monggo sodorkan pada kita mana bukti bahwa pencitraan ala Dahlan merugikan negara dan bangsa?

    Posted by Manihot Ultissima | 6 Desember 2012, 1:19 pm
  110. Maaf, bapak2
    aye mau nanya, apeye bedanye SAPI ame LEMBU?
    Eh..maaf buat ngerjain PR anak aye.. maaf…

    Posted by Mpok Minah | 6 Desember 2012, 2:43 pm
    • Lembu itu nama lain dari Sapi Brahman (berasal dari India) … biasanya dicirikan punggung sapi ada “gunungnya” (jawa : punuk-nya) dan kulit di leher bergelantungan (jawa : nggelambir). Kata Lembu bisa untuk menyebut nama seseorang misalnya Lembu Sora (Cs-nya Raden Wijaya, Majapahit).
      Sedangkan kata sapi pemakaiannya bisa lebih luas dari kata lembu misalnya sapi bali (bukan sapi brahman), sapi australi, sapi Limousin, sapi anakan, sapi betina (kisah nabi Musa bersama kaum israil/Al Baqoroh).
      Jika ada kawan dari peternakan bisa ditambahkan penjelasannya.

      Posted by Djoko Sawolo | 7 Desember 2012, 10:25 am
    • Ngoko (jw) = SAPI
      Krama Madya (jw) = LEMBU
      Krama Inggil (jw) = LEMBU
      Arti Bahasa Indonesia = SAPI
      Dalam hal ini Bhs Indonesia mengadopsi Bhs Jawa

      Posted by aditam@putra | 7 Desember 2012, 11:34 pm
  111. segala macam diurusin ??? gak ada juntrungannye ! KERETA API tuh masih amburadul, kacau beliau ! btw jangan minggat lagi dong kalau dipanggil DPR, hadapi saja dengan GAGAH BERANI ! anda benar khan ?

    Posted by dahlan | 6 Desember 2012, 4:56 pm
    • qiqiqiqi, gak apa apalah asal njeplak biar rame, ngapain buang buang energi ngadepin orang gila, apa bedanya jika dirut PLN sekarang menjelaskan karena waktu itu pak nur yang membidangi masalah energi di PLN, naah kalo masalah korupsi seperti genset, PLN sudah teken MOU sama KPK jadi harusnya sebelum ES ngomong KPK sudah harus nangkap duluan pak dahlan, atau KPK sudah melarang dahlan karena sudah bermitra, toh KPK tidak melakukannya, jadi kalo ES maksa KPK suruh mengangkap dahlan hihihihi lucuuuuuu, kalo KPK menangkap DPR tak tahulah ….

      Posted by saeful | 6 Desember 2012, 5:20 pm
    • dahlan sedheng !

      Posted by psikiater | 6 Desember 2012, 5:41 pm
    • @ Bung DI itu ibarat pendekar yang baru turun gunung, pingin menakar ilmu kedigdayaannya ato
      kesaktiannya dengan membuat ontran-ontran di senayan.

      @ Sy setuju langkah Bung DI dg lebih mengutamakan karyawan PT. Kertas Leces drpd DPR. Mengapa?
      Karena 2.000 karyawan itu rakyat yang sesungguhnya, sedangkan dpr itu hanya wakil.
      Hayo, lebih penting mana yang asli ato wakil?

      Hehehe

      Posted by aditam@putra | 8 Desember 2012, 12:02 am
  112. Setelah berpikir keras, bisa sy petakan permasalahan sapi spt ini:
    agar budidaya sapi bisa berkelanjutan harus ada siklus berikut: sumber pakan> pakan> sapi> limbah sapi. Permasalahannya siklus tsb tdk selokasi. Sumber pakan dan pakannya di sumatra, sedangkan sapi dan limbahnya di ntt. Untuk memindahkan sumber pakan dan sapi jelas sulit. Sehingga cara terbaik adlh memindahkan pakan dan limbah sapi. Di sumatra kita dirikan pabrik pakan yg hasilnya dikirim ke ntt untk pakan sapi. Sementara di ntt kita dirikan pabrik pupuk organik yg hasilnya dikirim ke sumatra untk pupuk sawit. Jadi yg berpindah adl pakan dan limbah sapinya yg tentu lbh mudah dan murah. Biaya pengiriman akan tertutup dari ongkos produksi pakan dan pupuk organik yg sangat murah.

    Posted by G. Hariyanto | 6 Desember 2012, 9:22 pm
  113. Dengan memasukan jenis sapi betina menjadi hewan yang di lindungi akan menyelamatkan populasi sapi dari pemotongan sapi betina untuk diambil dagingnya dan akan bisa menaikan harga sapi betina (tentu yang produuktif).Mungkin ide saya bisa bisa jadi masukan,,trims

    Posted by ishezone | 6 Desember 2012, 10:24 pm
  114. Andi Malaranggeng digantung di KPK. Sebentar lagi Anas digantung di Monas. Sebentar lagi Demokrat akan memilih ketua umumnya. Aku yakin SBY akan meletakkan Mahfud MD sebagai ketua Partai Demokrat. Bukan Djoko Susilo. Saat SBY dipecat jadi menteri kemudian pulang ke Pacitan karena Bapaknya meninggal dunia, hanya Mahfud MD, yang saat itu masih menteri, menemani SBY. Banyak kesempatan mereka selalu berdua. Artinya, saat SBY sengsara yang menemani dan menjadi penyejuk hati itu Mahfud MD. Saya yakin SBY tahu kapan membalas kebaikan temannya itu. Karena itu, Mahfud bisa menjadi Presiden lewat Demokrat.
    Siapa wakilnya, ya Dahlan Iskan. Mahfud membidangi perpolitikan dan Dahlan membidangi perekonomian. Ini persis skenario saat SBY berpasangan dengan Budiono. Ternyata perekonomian RI maju pesat.

    Posted by Widi | 7 Desember 2012, 4:28 pm
  115. Program pengadaan anak sapi sapi ini harus dikaji ulang…. Latar belakang pemikiran saya adalah pada saat ini terjadi kelangkaan daging sapi..hal ini disebabkan kurangnya populasi induk sapi dalam negeri sehingga produksi anakan jsapi juga kurang…Kalau program pengadaan anak sapi oleh bumn sawit ini dilanjutkan, sama saja artinya dengan memindahkan sentra sapi Indonesia yang sebelumnya berada di jawa,bali,ntt dan ntb ke sumatera…tidak menambah jumlah sapi yang beredar di dalam negeri….Di sisi lain tidak ada program yang menutup berkurangnya anakan sapi di jawa, bali,ntt dan ntb yang dibawa ke sumatera tersebut…dampak dari berkurangnya stock anakan di sentra sapi tradisionil Indonesia tersebut adalah gejolak di masyarakat di wilayah-2 tersebut. WIlayah yang sangat luas, dan dihuni oleh mayoritas penduduk Indonesia…Ngeri saya membayangkannya..
    Idealnya pengadaan anakan sapi oleh bumn sawit ini tidak mengganggu keseimbangan pasar di sentra-2 produksi sapi tradisional Indonesia.. Persoalan utamanya kurangnya produksi sapi baru..solusinya adalah menambah induk sapi sebanyak kebutuhan impor saat ini..sekitar 300.000 ekor (semoga tidak salah ingat)…….Persoalan pengadaan induk sapi ini sulit karena negara-2 lain tidak mau menjual induk sapi, kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit dan harganya sangat-sangat mahal. Oleh sebab itu sebaiknya bumn sawit ini masuk kedalam bisnis pembibitan sapi, mengingat bumn ini memiliki kapasitas dan kemampuan untuk itu..

    Posted by cak-mat | 7 Desember 2012, 6:52 pm
  116. Persoalan ketahanan pangan nasional adalah domain kerja Menteri Pertanian…dalam krisis kelangkaan daging sapi ini kemana Menteri Pertanian?….ternyata setelah saya tengok….dianya masih tertidur nyenyak di buaian…
    Kalau sudah begini apa tidak sebaiknya Kementrian Pertanian digabungkan aja dengan Kementrian BUMN ya?? …

    Posted by cak-mat | 7 Desember 2012, 7:41 pm
  117. Betul cak mat, seharusnya bumn tdk saling sikut dgn peternak dlm pengadaan anakan sapi. Itu terjadi karena program besar swasembada sapi belum ada blue print nya, shg antar stakeholder bs saling sikut.

    Untuk impor indukan selain sulit, jg beresiko kurang adaptif thd lingkungan baru dan membawa bibit penyakit. Indukan yg bagus adalah hsl silangan sapi lokal. Tapi jumlahnya msh sedikit karena memang belum ada secala besar mem breeder nya. Disinilah seharusnya peran bumn, menjembatani antara akademisi (ilmuwan) dan praktisi (peternak), dgn cara memberikan wadah akademisi menerapkan ilmunya, yg outputnya dimanfaatkan oleh peternak.

    Dalam jangka panjang pemerintah harus punya bank indukan sapi yg diusahakan oleh bumn atau swasta. Dgn hasil penelitian dan pengalaman selama ini sudah cukup sbg modal mewujudkannya.

    Posted by G. Hariyanto | 7 Desember 2012, 8:46 pm
    • Langkah realistis yang bisa dilakukan saat ini adalah bumn sawit mengimpor induk sapi unggul meskipun sedikit…selanjutnya dengan teknik Inseminasi Buatan dibuat bunting khusus untuk melahirkan bibit betina unggul baru… demikian seterusnya … dengan demikian bumn sawit ini khusus memproduksi bibit betina unggul saja… hasil produksi bibit betina inilah yang selanjutnya di lempar ke pasar untuk dibeli oleh peternak yang selanjutnya dikawinkan untuk memproduksi anakan sapi sebagai calon sapi potong…. Dengan cara ini bumn berperan untuk menambah jumlah populasi sapi di dalamnegeri…

      Posted by cak-mat | 8 Desember 2012, 1:36 am
  118. Inilah yg saya khawatirkan, program swasembada lebih kental unsur politisnya drpd ekonomis apalagi bisnis. Coba kita telaah, setiap tahun kita kekurangan beras, terigu, kedele, sapi, garam dsb yg sebenarnya bisa kita penuhi sendiri. Mengapa persoalan besar ini tdk ada perencanaan besarnya (roadmap)? Jadi jangan tanya kenapa sapi, kedele dan beras tdk diurus mentan? Kenapa terigu dan gula tdk diurus menperindag? Kenapa garam tdk diurus menteri kelautan? Dll… Karena mereka jalan sendiri2. Kenapa juga menbumn ikut2an melihara sapi, menanam sorgum, kedele dan membuat mobil listrik? Kalo tujuannya ketahanan nasional kenapa menteri itu tdk duduk dan berdiri sama. Bukankan menjaga ketahanan nasional itu kewajiban bersama. Kenapa hanya satu menteri yg menonjol? Mungkin swasembada adalah komoditas kampanye yg paling menguntungkan.

    Posted by G. Hariyanto | 7 Desember 2012, 9:17 pm
    • “swasembada adalah komoditas kampanye yg paling menguntungkan”

      Mohon tanya Mas Hari:
      @ Apakah Presiden RI mulai Bung Karno sampe SBY ada yang menggunakan Swasembada sebagai komoditas kampanye Beliau beliau?

      @ Atau politikus siapa gitu?

      Posted by aditam@putra | 7 Desember 2012, 11:11 pm
    • Realita yang mas hari paparkan menunjukkan lemahnya kemampuan leadership presiden dalam mengkoordinasi semua menteri sebagai pembantu-bantunya, ditambah lagi untuk ketahanan pangan ini presiden tidak memiliki visi yang jelas Indonesia ini mau dibawa kemana … akibatnya masing-2 kementrian berjalan sendiri-2… Menteri A berjalan ke Utara, Menteri B berjalan ke Selatan, Menteri C berjalan berputar-2 di tempat, sedangkan presiden sibuk dengan pencitraan dan membuat lagu baru karena sudah diuber-2 sama produsernya untuk segera rekaman hahahaha

      Posted by cak-mat | 8 Desember 2012, 1:26 am
  119. @Mas aditam.
    luas lahan sawit bumn itu cuma 8% dan sapinya cuma 2500. kalo bumn memaksa ikut menangani masalah teknis (budidaya) kontribusinya sangat kecil. Bumn akan berperan besar kalo menangani infrastrukturnya (bibit, pakan, transportasi, modal, dsb), sedangkan teknisnya serahkan kpd masyarakat dan swasta. Disini terlihat bumn lebih memilih kebijakan populer drpd berkontribusi besar. Sikap ini jg terlihat pd program sorgum, kedele, garam, bahkan mobil listrik. Rule mode yg bagus adalah program swasembada beras dan gula, yg sebenarnya bs diterapkan pd program swasembada yg lain. Sehingga sy khawatir program sa-sa ini sebenarnya bukan program menbumn, tapi program calon presiden.

    Posted by G. Hariyanto | 8 Desember 2012, 7:48 am
  120. Saya kagum pada awal program sa sa dicanangkan. Bumn yg minim pengalaman (ingat pt. Berdikari lbh sukses bisnis asuransi drpd sapi) sanggup menarget 300rb sapi dlm 2 th. ‘Jurus’ apakah yg akan dipakai? Setelah jalan 6 bln baru kelihatan kalo kebijakan populer ini tak ada ‘jurus’nya. Maka strategi politik yg terbaik adalah ‘jurus ngeles’ (semoga bukan ciri orang jatim. Hehehe…) dgn cara menerima e mail sebanyak2nya. Tak lain dan tak bukan untuk mengembalikan permasalahan sapi spt semula. Semoga kekhawatiran saya salah.

    Posted by G. Hariyanto | 8 Desember 2012, 8:36 am
    • Bener mas Hari…dalam hal pengadaan bibit, meskipun jumlah sapi yang mampu dipelihara bumn sawit hanya 2500 ekor, tetapi kalau merupakan bisnis pembibitan khusus memproduksi bibit sapi betina, akan menambah jumlah populasi sapi potong di dalam negeri setiap tahun …….. Sesedikit apapun hasil produksinya, program ini merupakan langkah maju, meskipun hanya sebuah langkah kecil, tetapi arahnya benar dan lebih baik dibandingkan program sebelumnya….. Yang perlu disadari, tidak ada cara instan untuk mengatasi problem kelangkaan daging sapi… perlu waktu dan kesabaran.. Kalau soal program budidaya sapi ini punya Menbumn atau calon presiden, atau punya calon ketua rt sekalipun, tidak penting bagi saya … Yang penting, program tersebut harus segera dihentikan, karena ternyata tidak menyelesaikan persoalan kelangkaan daging sapi tetapi justru membuat persoalan baru berupa kelangkaan anakan sapi di sentra-2 sapi tradisional Indonesia yang berada di jawa, bali, ntt dan ntb.

      Posted by cak-mat | 8 Desember 2012, 10:35 am
  121. Ada tulisan menarik tentang pengganti tepung terigu dari singkong. Alangkah besar manfaatnya bila produksinya bisa secara besar2 an shg bisa mengurangi kebutuhan impor gandum dari LN.

    Oleh Sri Rejeki

    Singkong melimpah ruah di tanah Wonogiri. Namun, sejauh ini lebih sering dijual mentah sehingga nilai ekonomisnya sangat rendah. Saat harga cukup baik, harga singkong bisa mencapai Rp 1.500-Rp 3.000 per kilogram. Namun, saat panen, harganya jatuh hingga hanya Rp 600 per kilogram.

    Melihat ini, Jumadiarto (49), warga Desa Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tergerak untuk mencari cara meningkatkan nilai ekonomis singkong, tanaman andalan di Wonogiri saat musim kemarau.

    Kondisi sebagian besar lahan pertanian di Wonogiri hanya dapat ditanami padi sekali setahun, sisanya palawija, terutama singkong. Tidak jarang juga lahan dibiarkan menganggur karena air yang sangat sulit. Produksi singkong dari Kabupaten Wonogiri rata-rata 1,2 juta ton per tahun.

    Jumadiarto lantas teringat kearifan lokal nenek moyang tentang khasiat berbagai tanaman serta ragi untuk membuat tempe, tahu, atau tape. Ia lantas memanfaatkan empat jenis bunga ditambah daun dan biji tertentu, tepung singkong, tepung beras, tepung ketan, serta sebuah formula yang masih dirahasiakannya. Bahan-bahan ini lantas diolah menjadi ragi atau enzim yang digunakan untuk mengolah singkong.

    ”Para nenek moyang kita itu sebenarnya jago bikin ragi atau enzim. Ini kekayaan kearifan lokal kita yang selama ini belum dikembangkan,” kata Jumadi, Minggu (25/11).

    Formula enzim yang kemudian diberi nama WRD751WNG ini sekarang tengah dalam proses pengajuan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Nama enzim itu merupakan singkatan dari Wiridan Jumadiarto Wonogiri yang artinya ide putra asli Wonogiri tersebut tidak lain berasal dari Sang Ilahi.

    Enzim yang ia temukan pada 2009 itu kemudian digunakan untuk mengolah singkong menjadi tepung yang setara dengan tepung terigu. Artinya, dapat digunakan sebagai pengganti terigu 100 persen. Tepung ini dinamakan Wonocaf, singkatan dari Wonogiri Cassava Fermented atau singkong yang difermentasikan.

    Proses produksi

    Cara pembuatannya, singkong kupas yang telah dicuci bersih kemudian diparut dan diberi enzim Wonocaf. Setelah didiamkan selama 12 jam, parutan singkong diperas untuk dipisahkan dari airnya. Ampas yang dihasilkan dijemur hingga kering selama dua hari lantas digiling dan disaring sehingga menjadi tepung Wonocaf.

    Hasil uji laboratorium Kementerian Pertanian di Bogor, Jawa Barat, menyebutkan, tepung Wonocaf mengandung 78,9 persen karbohidrat, sementara singkong mengandung 34 persen karbohidrat.

    Tepung ini juga tidak mengandung gluten sehingga aman bagi penderita autisme atau alergi. Jumadi pernah mempresentasikan temuannya itu di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di Serpong pada Maret 2011.

    Tidak hanya itu, limbah hasil pengolahan Wonocaf juga dapat dimanfaatkan. Limbah cair hasil perasan parutan singkong, setelah ditambah ragi jenis tertentu, dapat diolah menjadi produk sampingan yang tidak kalah nilai ekonomisnya. Limbah cair ini bisa untuk biofuel, cairan pemadam kebakaran, pupuk, minuman kesehatan bagi hewan, dan air pendingin radiator. Limbah hasil pengolahan ini masih dalam taraf pengembangan oleh Jumadiarto.

    Pria lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ciputat ini kemudian bermitra dengan Riyanto, pemilik Perusahaan Otobus Sedya Mulya untuk memproduksi secara massal tepung Wonocaf di bawah bendera CV Eka Mulya. Karena pengeringan ampas perasan singkong masih dilakukan dengan sinar matahari, produksi masih terbatas sebanyak 3,5 kuintal per hari.

    Proses produksi menggunakan tiga mesin parut yang untuk sementara ditangani seorang pegawai. Keduanya tengah memesan oven agar pengeringan ampas singkong yang telah difermentasi bisa lebih cepat. Diharapkan, produksi tepung bisa mencapai 3 ton per hari.

    Selain di Wonogiri, saat ini tepung Wonocaf juga dipasarkan ke Kota Solo, Semarang, dan Jakarta. Selain ke tokotoko roti, dipasarkan pula kepada keluarga yang anggotanya menderita autisme. Hotel Sahid Jaya, Solo, juga secara rutin menggunakan Wonocaf untuk berbagai resep kue buatan mereka. Tepung Wonocaf dipasarkan Rp 5.600 per kilogram.

    Pemerintah Kabupaten Wonogiri mendorong CV Eka Mulya mengambil pasokan tepung tapioka basah atau kering dari petani. Jumadiarto berani membeli tepung tapioka basah dan kering dari petani dengan harga Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram. Di sinilah petani yang mengolah singkongnya menjadi tepung tapioka akan mendapat nilai tambah dibandingkan sekadar menjual singkong mentah.

    ”Kami membentuk inti-plasma. Kami sebagai inti dan plasmanya tersebar di 25 kecamatan se-Kabupaten Wonogiri. Nantinya petani-petani yang tergabung di plasma ini yang akan memasok kebutuhan tepung tapioka. Kami juga membentuk Koperasi Tepung Wonocaf Indonesia,” kata Jumadiarto yang sebelumnya aktif sebagai konsultan di berbagai lembaga nonpemerintah.

    Posted by lumpiarivai | 8 Desember 2012, 8:53 am
  122. Saya tambahkan mas lumpiarivai tentang keunggulan singkong dibanding sorgum:
    - Teknologi mengubah singkong menjadi terigu hanya dimiliki Indonesia, shg selain pemenuhan dlm negeri jg terbuka untk pangsa ekspor.
    - teknis budidaya singkong sangat dikuasai petani. Dgn kondisi lahan sama, produksi singkong lbh tinggi drpd sorgum.
    - jalur distribusi singkong beserta produk turunannya telah ada, shg jika ingin membudidayakan tdk susah memasarkannya.
    - all use. Semua bagian tanaman singkong dpt dimanfaatkan. Bahkan petani secara tradisional bs membuat bibit singkong yg baik sbg peluang usaha juga.

    Dgn segala kelebihan singkong, seharusnya menjadikannya sbg usaha yg realistis untk memenuhi kebutuhan terigu nasional. Namun bukan kebijakan populer kalau sekedar membudidayakan singkong, karena semua pun bisa. Dengan segala hormat thd hasil penelitian sorgum, diversifikasi pertanian ini juga perlu dikembangkan. Bukankah slogan ‘selalu ada yang baru’ telah terbukti membawa kesuksesan?

    Posted by G. Hariyanto | 8 Desember 2012, 10:17 am
  123. senang dengan gebrakan pak Is. seandainya bs mendapat didikan secara langsung Dan turut membantu negara ini menjadi lebih maju. usul pak,gmn klo didirikan satu wadah dlm BUMN bagi anak muda utk turut membantu BUMN dalam merealisasikan ide 2nya walupun posisinya bukan sbg PNS ?

    Posted by Ledesma | 8 Desember 2012, 6:32 pm
  124. Lha Kok, berita tentang singkong langsung keluar @ detik. Indonesia mengimpor singkong senilai 32 miliar dari cina, thailand & vietnam. Dan yg sy sesalkan kata pak Dis itu wajar karena jenis singkong yg tdk ada di Indonesia. Kalo begini bagaimanakah nasib ‘anak singkong’?

    Posted by G. Hariyanto | 9 Desember 2012, 9:51 pm
  125. Di http://www.kickdahlan.com sudah dimuat MH 55. “Di Jatitujuh, RNI Terbang Tinggi”. Menceritakan tentang keberhasilan RNI yang dipimpin oleh Ismed Hasan Putro.

    Posted by Djoko Sawolo | 10 Desember 2012, 5:25 am
  126. Reblogged this on oktrian.

    Posted by oktrian | 10 Desember 2012, 5:42 pm
  127. program anak sapi jangan diwilayh sumatra saja, tapi seluruh indonesia….

    Posted by Om Puns | 10 Januari 2013, 5:04 pm
  128. kenapa ada makanan mahal jika ada makanan yang murah tetapi sehat

    Posted by grosir baju bali murah | 6 Februari 2013, 12:09 pm
  129. kmbali

    Posted by zeeaaaa | 23 April 2013, 9:01 pm
  130. ini blognya pak dahlan iskan asli ?

    Posted by ime | 14 Mei 2013, 6:39 pm
  131. Pak Dahlan Iskan yang terhormat. Kami kelompok tani WEHEA MEHLING siap membantu usaha bapak untuk swasembada daging. Kami juga menjalankan program integrasi tanaman pangan ternak. Untuk membantu program Bapak Dahlan Iskan. Ingin bermitra dan memanfaatkan 200 ha lahan kami.
    Salam dari kami
    Kelompok tani WEHEA MEHLING
    Joko Ismail.
    Ketua Kelompok Tani

    Posted by Joko ismail | 26 Agustus 2013, 12:20 pm
  132. Mantap pak Dahlan Iskan, di daerah kami di Ujungbatu Kab. Rokan Hulu Riau, sebenarnya banyak sapi dibawah kebun sawit, hanya saja pemiliknya tidak memiliki mesin pencacah pelepah kelapa sawit, disamping banyak yang tidak tahu, juga yang tahu mau beli mesin dimaksud, mesinnya sangat mahal… Bagaimana kalau diadakan pelatihan kepada petani sawit, tentang sistem pemberian pakan dengan pelepah daun sawit, lalu kepada mereka diberikan pula kredit lunak untuk pengadaan mesin pencacah pelepah sawit… ini akan lebih mantap… tks

    Posted by H. Nursiwan Achmad | 12 September 2013, 11:46 am
  133. terima kasih infonya.

    Posted by rendra | 27 Februari 2014, 2:14 pm
  134. Semoga gak ada lagi yg kelaparan setelah masalah ini terpercahkan.

    Posted by Toko Bunga Jakarta | 8 April 2014, 1:30 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.181 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: