>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, New Hope

Medan Cahaya di Lokasi Medan Perang

Senin, 01 Februari 2016
New Hope 54
Saya tidak pernah berhenti mengagumi Masjid Nabi di Madinah ini: perencanaannya, desainnya, arsitekturnya, penggunaan warna dan kombinasinya, kualitas materialnya, finishing-nya, dalamnya, luarnya, dan skala ukurannya. Gigantik.

Termasuk toiletnya: dua susun di bawah tanah. Masing-masing lantai toilet terhubung dengan tempat parkir bawah tanah. Seluas sahara.

Berkali-kali saya melihat video bagaimana masjid ini dibangun. Di acara megastruktur. Di Discovery Channel.

Tapi, saat saya ke Masjid Nabi lagi tiga hari lalu, pikiran saya melayang jauh ke Spanyol. Ke Kota Cordoba. Tepatnya ke Masjid Cordoba. Yang kini jadi gereja. Atau tepatnya dulu gereja (600), lalu dipakai bersama paro-paro masjid dan gereja (600–900), kemudian jadi masjid besar (900–1200), dan terakhir jadi gereja (1200–sekarang).

Sejak kecil saya tahu: Masjid Cordoba luar biasa indahnya. Dari buku pelajaran di madrasah. Terindah di dunia. Waktu itu. Simbol kejayaan pemerintahan Islam di Eropa.

Keinginan ke Cordoba akhirnya terkabul. Tahun lalu. Bersama seluruh keluarga.

Betul. Masjid Cordoba indah. Indah sekali. Ditambah dengan kekayaan seni interior gereja Katolik yang ditambahkan di dalam masjid itu.

Tapi, Masjid Cordoba kenyataannya berbeda. Tidak seindah yang saya bayangkan waktu kecil. Mungkin bayangan seumur pelajar berbeda. Bayangan anak-anak.

Tapi tidak. Bukan itu penyebabnya. Ini saya sadari tiga hari lalu. Saat saya memperhatikan Masjid Nabawi lebih lama. Tepatnya menikmatinya lebih lama.

Masjid Nabi (Nabawi) jauh lebih indah daripada Masjid Cordoba. Jauh sekali. Berlipat ganda indahnya.

Semula saya ragukan kesimpulan itu. Hari kedua saya nikmati lagi Masjid Nabawi. Lebih lama. Dalamnya. Luarnya. Mengelilingi dalamnya sama melelahkannya dengan meninjau luarnya.

Saking besarnya. Imajinasi saya loncat-loncat: Madinah. Cordoba. Madinah. Cordoba. Yes! Madinah jauh lebih indah!

Tiba-tiba muncul kesimpulan lain. Mengejutkan imaji saya. Berada di Madinah ini rasanya kok seperti berada di Cordoba. Ya. Ternyata ada kemiripan. Beberapa bagian arsitekturnya mirip. Sangat mirip.

Lantas muncul pertanyaan. Untuk diri saya sendiri. Mungkinkah desain Masjid Nabawi yang baru ini sengaja dimiripkan dengan Cordoba? Untuk mengenang kejayaan Islam di Eropa itu? Sekaligus untuk mengalahkannya? Secara telak pula? Agar tidak ada penyesalan yang terlalu dalam atas hilangnya kebanggaan masa lalu itu?

Mungkin begitu. Mungkin tidak.

Selera arsitektur Madinah modern memang beda dengan Makkah modern. Sama hebatnya, tapi beda wujudnya. Secara keseluruhan. Madinah modern adalah kota yang ditata dengan elegan. Kalau di Amerika ada tipikal New York dan Washington, Madinah modern adalah Washingtonnya.

Madinah di waktu malam lebih-lebih lagi. Anggaplah Anda naik mobil dari Jeddah atau Makkah menuju Madinah. Begitu tiba di Bir Ali (sepuluh menit sebelum masuk pusat Kota Madinah), siap-siaplah terpesona.

Begitu Anda melintas di jalan Tariq Hijr, ada pemandangan magis yang menakjubkan. Keindahan Masjid Nabawi. Lengkap dengan cahaya mirip siangnya.

Cahaya dengan tata warna yang elegan. Ditambah menara-menaranya. Ditambah bangunan sekitarnya. Ditambah lagi yang terbaru ini: latar belakangnya yang misterius.

Dulu tidak ada background itu. Hanya gelap. Kini ada yang baru: cahaya magis yang memantul ke hutan rimba. Apakah ada hutan baru di belakang masjid?

Oh… Bukan. Bukan hutan. Itu seperti layar raksasa. Adakah dipasang layar raksasa sepanjang berkilo-kilometer di belakang masjid? Oh…. Bukan. Bukan layar.

Sekarang saya ingat. Di belakang masjid itu kan ada gunung. Terkenal dalam sejarah: Jabal Uhud. Sebuah bukit batu yang cukup tinggi yang memanjang di belakang Masjid Nabawi.

Di kejauhan. Ternyata di sekeliling Gunung Uhud itu sekarang dipasangi lampu sorot dengan kekuatan besar. Tiap 50 meter. Sepanjang gunung. Berkilo-kilometer.

Sorotnya mencapai gunung batu setinggi 1.000 meter itu. Yang saya kira hutan rimba tadi. Pencahayaan itu menimbulkan imajinasi yang berbeda-beda.

Maka dari arah Tariq Hijr ini Masjid Nabawi selalu berganti background: siang gunung batu, malam gunung cahaya.

Atau datanglah ke mal terbesar kedua di Madinah: Mal An Nur. Pesona Jabal Uhud di waktu malam ini juga bisa dinikmati dari mal modern itu. Maka kawasan gunung yang dulu dikenal sebagai medan perang itu (Perang Uhud) kini menjadi medan cahaya.

Masih ada ikon baru lain di Madinah: bandara baru dan stasiun kereta api yang baru. Bandaranya bagus sekali. Dengan sentuhan khas Arab. Pilar-pilarnya yang tinggi itu dibentuk dengan inspirasi pohon kurma. Modern menakjubkan.

Demikian juga stasiun kereta apinya. Indah di waktu siang. Lebih indah lagi di waktu malam. Saya tergoda ingin masuk ke dalamnya. Tapi belum bisa. Masih tutup. Mungkin baru akan beroperasi satu tahun lagi.

Itulah stasiun kereta supercepat Makkah-Madinah (450 km). Yang sedang dibangun oleh gabungan kekuatan Spanyol, Inggris, dan Tiongkok.

Tidak jauh dari situ ada juga proyek raksasa. Sedang dikerjakan. Seru-serunya. Lho saya ingat. Lokasi ini kan terminal bus untuk jamaah haji. Yang luas itu. Dulu. Dulu sekali. Ternyata lokasi itu kini untuk proyek hotel-hotel bintang lima yang mewah.

Itu akan istimewa. Dari lantai atas hotel itu nanti akan bisa melihat keindahan Masjid Nabawi. Lengkap dengan background gunung cahaya Uhud. Di waktu malam. (*)

Diskusi

9 thoughts on “Medan Cahaya di Lokasi Medan Perang

  1. Sesuai sekali apa yang saya lihat tanggal 12 Januari 2016

    Posted by Mulawarmansyah Soekma Abdulrahim | 1 Februari 2016, 12:09 pm
  2. Semoga bisa kesana…… Aamiiiin……….

    Posted by keong emas | 1 Februari 2016, 2:32 pm
  3. Subhanallah! Pak DI selalu berkeliling dunia. Kita pun ikut menikmati.

    Posted by bitrik sulaiman | 1 Februari 2016, 5:01 pm
  4. Saya baru 2 kali ke Madinah partama th. 92 dan kedua thn 2005. Wktu itu saja kemajuan sdh nampak pesat. Modernisasi. Mf perasaan saya, modern nampak pada phisiknya. tetapi “spirit ” ato “roh” Mdinah sbg kota yg suci kok jadi berkurang. Hotel2, toko2 dlll semua berbau komersial. Keindahan (dlm perasaan) sbg kota suci sdh tipis.
    What money can buy ada disana di Arab Saudi.

    Posted by Mas Bei Rubowo | 1 Februari 2016, 5:15 pm
  5. sayang ttidak di sertai foto………..

    Posted by muhamad | 1 Februari 2016, 10:16 pm
  6. Nunggu abah mengomentari KA cepat Jakarta-Bandung. Konsorsium BUMN ide pak Dahlan dulu diarahkan untuk menjadi perintis seperti tol Sumatera. kok jadi begini, untuk proyek mercusuar yg kemungkinan besar akan rugi.

    Posted by bowo | 2 Februari 2016, 10:25 pm
  7. Serial Megastructure Discovery Channel (Extreme Engineering?) atau National Geographic, Pak? saya cari di keduanya kok belum nemu.. *pengen nonton

    Posted by Arief Rakhman | 5 Februari 2016, 6:24 pm
  8. Abah MENYINDIR KUALITAS BANGUNAN YANG DIBIAYAI APBN, APBDDD

    Posted by DJOKO SAWOLO | 6 Februari 2016, 12:58 pm
  9. Masya Allah… tks pak dahlan..

    Posted by rahman arif | 27 Februari 2016, 6:00 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: