>>
Anda sedang membaca ...
Buku Curhat Menantu Konglomerat, Catatan Dahlan Iskan

Merasa Tertekan di Atas Panggung Mertua

Buku Curhat Menantu Konglomerat (2);
Merasa Tertekan di Atas Panggung Mertua

1 Oktober 2015

Bagaimana Tahir bisa menjadi menantu konglomerat sebesar Dr Mochtar Riyadi pada awalnya dinilai ibarat perkawinan Cinderella. Tahir yang jadi Cinderellanya. Dalam perjodohan itu Tahir memposisikan dirinya sebagai orang biasa yang bernasib seperti Cinderella.

Tahir selalu ingat betapa miskin keluarganya saat dia dilahirkan di rumah sakit Undaan Surabaya. Sampai bapaknya tidak punya uang untuk menebus sang bayi. Cari utangan pun tidak berhasil. Sampai, secara tidak disangka, seorang keluarga datang dari Jember dan ketika diceritakan soal penebusan bayi itu bersedia memberi pinjaman.

Sang ayah waktu itu bekerja membuat becak dan menyewakan becaknya. Sang ibu sebenarnya anak orang kaya dari Solo, namun harga diri tidak memungkinkan sang ayah meminjam uang kepada mertua. Begitulah adat di keluarga Tionghoa. Waktu itu keluarga ini tinggal di satu rumah kuno yang kusam peninggalan Belanda di Jalan Bunguran No 19 Surabaya.

Ketika Belanda terusir dari Indonesia di tahun 1946-an memang banyak bangunan yang ditinggalkan. Penduduk berebut menempatinya. Yang bagus-bagus sudah lebih dulu diisi orang. Tinggal bangunan tua di Bunguran yang memiliki banyak kamar itu yang tidak diminati. Bangunan ini cukup untuk ditempati tiga keluarga. Yang satu adalah ayah Tahir yang saat itu bekerja sebagai karyawan sebuah koran berbahasa Mandarin di Surabaya. Satunya lagi keluarga Tan Bun Tjoe, wartawan di koran tersebut yang kelak menjadi pemimpin redaksinya. Di tahun 1980-an, salah satu anak Tan Bun Tjoe, Ir Agus Mulyanto, lulusan fakultas tehnik elektro ITS, mendirikan SCTV.

Setelah Tahir menjadi konglomerat, rumah di Jalan Bunguran No 19 itu dibeli untuk dilestarikan sebagai rumah kelahiran Tahir. Bangunannya dibiarkan apa adanya seperti itu. Tetap seperti tidak terawat. Tahir mengijinkan beberapa tukang becak menempati rumah tersebut sebagai kenangan bahwa di rumah itulah bapaknya dulu berusaha membuat becak dan menyewakannya.

Dari karyawan koran dan menjadi juragan becak ayah Tahir kemudian membuka toko sederhana. Ibunya tidak mau hanya menunggu pembeli. Wanita ini memilih “menjemput” pembeli dengan jalan jualan keliling dari rumah ke rumah. Anak-anaknyalah yang menjaga toko.

Sang ibu digambarkan lebih dominan dalam memperjuangkan kehidupan ekonomi keluarga ini. Juga lebih keras dalam mendidik Tahir. Setiap membuat kesalahan Tahir pasti dipukuli. Sampai-sampai suatu hari Tahir memilih sikap ini: Mah, saya akan diam saja, pukulilah saya sampai saya gila.

Tahir merasa ibunyalah yang melatihnya dagang. Dengan cara menyuruhnya kulakan barang yang akan dijual di tokonya. Kulakannya ke Jakarta. Ke Pasar Baru dan ke Mangga Dua. Naik kereta api dan tidur di losmen murahan di Jakarta. Setelah usaha itu berkembang Tahir bahkan disuruh kulakan ke Singapura. Ketika masih SMA pun Tahir sudah biasa pulang-pergi ke Singapura sebagai inang-inang.

Di samping keras dalam bersikap sang ibu juga keras dalam bidang pendidikan. Tahir harus sekolah. Dan dipilihkan sekolah yang baik. Salah satu sekolah swasta terbaik saat itu: Petra. Bahkan kemudian Tahir dipaksa sekolah di Singapura, di Nanyang University. Agar kelak bisa mengangkat derajat keluarga. Agar, menurut istilah ibunya, kalau bekerja nanti pakai dasi.

Menyadari ekonomi keluarga yang masih dalam perjuangan, Tahir tidak pernah ikut pesta atau hura-hura. Dia hanya belajar dan belajar. Permainan yang dia lakukan hanyalah ping-pong. Sejak SMA Tahir merasa menjadi anak yang minder. Tidak berani mendekati teman wanita. Demikian juga saat sudah kuliah di Singapura. Hanya belajar dan belajar.

Tapi sikapnya yang seperti itu yang rupanya menarik perhatian orang. Suatu saat Tahir dipanggil menghadap Mu’min Gunawan, pemilik bank Panin ke Jakarta. Untuk diperkenalkan dengan seorang konglomerat yang lagi mencari menantu: Dr. Mochtar Riyadi. Konglomerat ini punya anak wanita bernama Rosy yang juga sekolah di Singapura. Tahir yang dinilai tidak pernah foya-foya dinilai pilihan yang tepat.

Tahir pun mampir ke Surabaya. Konsultasi dengan orang tuanya. Ayah-ibunya langsung memberikan dukungan. Siapa tidak mau diambil menantu konglomerat pemilik bank. Tahir pun lantas kembali ke Jakarta dan menyatakan bersedia. Setelah itu barulah dipertemukan dengan Rosy. Tidak ada cinta, tapi Tahir mengaku sangat terkesan dengan Rosy. Cantik dan sederhana. Tidak mencerminkan anak seorang konglomerat.

Begitu lulus dari Nanyang University, pesta perkawinan dilakukan. Sesuai dengan adat Tionghoa pesta dilakukan oleh keluarga pengantin laki-laki. Berarti di Surabaya. Saat itulah Surabaya heboh. Perkawinan Cinderella.

Seminggu setelah perkawinan itu barulah Tahir dipanggil menghadap sang mertua. Di sinilah Tahir didoktrin bagaimana memasuki keluarga Dr Mochtar Riyadi sebagai menantu. Saya baru tahu dari buku ini bagaimana seorang menantu dalam keluarga Tionghoa harus diperlakukan. Saya pun lantas menghubungi beberapa teman Tionghoa untuk membandingkannya. Tidak semuanya seperti itu. Ada yang seperti itu, ada pula yang tidak.

Meski Tahir merasa tertekan, tersisih dan terabaikan namun dari buku ini saya memperoleh kesan bahwa banyak juga jasa Mochtar Riyadi pada Tahir. Dalam istilah yang diakui Tahir, sang mertua memang tidak pernah memberi modal tapi telah memberi panggung, stempel dan kop surat. Maksudnya, dengan menjadi menantu Mochtar Riyadi dia mengalami kemudahan menemui siapa saja.

Bahkan sebenarnya lebih dari itu. Saat Tahir mengalami kebangkrutan yang pertama, Mochtar Riyadi memberikan pinjaman. Memang harus dikembalikan, tapi pinjaman itu tetaplah besar maknanya. Bahkan ketika Tahir mengalami kebangkrutan yang kedua, yang lebih parah, sang mertua juga memberikan pinjaman. Memang jumlahnya tidak bisa melunasi seluruh hutangnya pada pihak Singapura, tapi tetaplah tidak ternilai maknanya.

Apalagi saat kebangkrutan yang kedua itu Mochtar juga memintanya untuk menjadi top eksekuitp perusahaan garmen milik sang mertua. Lantaran ditugasi mengurus garmen inilah Tahir memperoleh momentum luar biasa untuk kebangkitan berikutnya. Hingga menjadi konglomerat sampai sekarang. Yakni ketika Tahir bertemu dirjen perdagangan luar negeri yang memberinya kuota ekspor garmen ke Amerika dalam jumlah yang luar biasa.

Tahir mengakui itu. Menceritakan itu. Dan menganggapnya itulah bagian dari panggung yang diberikan oleh sang mertua.

oleh: Dahlan Iskan

Diskusi

One thought on “Merasa Tertekan di Atas Panggung Mertua

  1. Sangat inspiratif, thank Pak Dis atas
    sharingnya…!

    Posted by wahid | 5 Oktober 2015, 12:50 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: