>>
Anda sedang membaca ...
Gardu Akal Sehat Dahlan Iskan

Pakai dan Tidak

Gardu 3
11 Juni 2015

Berhari-hari sejak ditetapkan sebagai tersangka 5 Juni lalu saya, keluarga dan teman-teman berdebat soal pengacara.

Mau pakai pengacara atau tidak.

Saya pribadi berkeras untuk tidak perlu pengacara. Tapi keluarga dan teman-teman berkeras harus pakai pengacara.

Saya sendiri optimis bahwa kebenaran akan muncul dengan sendirinya. Tidak usah dibela-bela. Bahkan saya berencana akan bersikap sangat low profil. Saat diperiksa jaksa nanti saya akan langsung saja mengatakan terserah jaksa. Kalau memang jaksa merasa menemukan bukti yang kuat, silakan.

Di pengadilan pun, saya berencana tidak akan melakukan eksepsi atau pledoi. Silakan saja jaksa menunjukkan barang bukti. Silakan hakim mendengarkan saksi-saksi. Berdasarkan barang bukti dan kesaksian itu silakan hakim menilai. Lalu memutuskan. Kalau hakim memang menilai saya salah dan harus masuk penjara akan saya jalani dengan ikhlas.

Saya sudah mengalami penderitaan menjadi anak yang amat miskin. Saya juga sudah pernah berada dalam situasi yang begitu dekat dengan kematian. Hidup ini harus diterima apa adanya. Harus “nrimo ing pandhum”.

Keluarga saya sudah bisa menerima prinsip itu.

Tapi teman-teman terus berargumentasi. Senjata terakhir yang mereka gunakan adalah “kebenaran yang tidak diperjuangkan akan kalah dengan kebatilan yang diperjuangkan”. Lalu dikutiplah ayat-ayatnya dan ajaran-ajaran yang terkait dengan itu.

Saya menyerah.

Saya juga harus memegang filsafat hidup saya ini: “Rendah hati itu bisa menjadi kesombongan kalau niatnya sengaja merendah-rendahkan”. “Tidak mau mendengarkan saran-saran banyak orang adalah kesombongan dalam bentuk yang lebih parah”.

Saya tidak berniat seperti itu. Saya pun setuju menunjuk pengacara.

Tapi, siapa?

Begitu banyak pengacara yang bersedia membantu. Tinggal pilih: yang dar-der-dor, yang taktis, yang lemah-gemulai atau yang bagaimana?

Saya serahkan sepenuhnya pada teman-teman.

Ketika mengarah ke satu nama, ternyata tidak gampang menghubungi beliau. Sampai tanggal 10 Juni beliau masih di luar kota. Padahal panggilan pemeriksaan harus saya penuhi tanggal 11 Juni 2015.

Baru 10 Juni hampir tengah malam teman-teman berhasil bertemu beliau.

Masih banyak yang harus dibicarakan dengan beliau pada hari pemanggilan itu.

Beliau yang saya maksud adalah Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

http://www.gardudahlan.com

Diskusi

6 thoughts on “Pakai dan Tidak

  1. saran saya ndak usah pakai pengacara yg membela karena dibayar pak, sebab bapak tdk salah dan pengacara saat ini ” membela yg salah jadi benar atau yg benar jd salah”,pengacaranya serahkan sama Tuhan yg maha kuasa saja.

    Posted by toga | 15 Juni 2015, 2:15 pm
  2. saya setuju dengan saran teman2 bapak utk menggunakan pengacara, yg kebetulan dipilihnya Prof.Yusril, apapun itu, beliau memang berpengalaman dalam birokrasi pemerintahan, setidaknya bisa menghadapi jurus2 pihak2 yg bisa merugikan bapak DI, salam sehat ya pak, semoga Bapak sekeluarga selalu dalam lindunganNya, aamiin

    Posted by bangunbi | 16 Juni 2015, 12:40 pm
  3. Saran saya bpk pakai pengacara agar bpk tak terkesan jumawa dimata anak manusia….

    Posted by Martin | 16 Juni 2015, 10:27 pm
  4. Sabar Pak…

    Posted by Hari Waluyo | 20 Juni 2015, 12:01 pm
  5. Semoga Pak DI selalu sehat selalu…

    Posted by masbroproperty | 21 Juni 2015, 10:26 am
  6. R.I.P Mobil Listrik… Mereka berhasil menghacurkanmu..tampa sisa.. tampa harapan…

    Posted by herysabar | 22 Juni 2015, 12:42 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: