>>
Anda sedang membaca ...
Gardu Akal Sehat Dahlan Iskan

Soal Corong

Gardu 1
8 Juni 2015

Mungkin ada yang mengira saya akan minta Jawa Pos Group untuk menjadi corong saya dalam menghadapi perkara gardu induk PLN di mana saya sudah ditetapkan menjadi tersangka.

Mohon doa restu, agar saya tidak begitu.

Pertama, saya sudah lama bukan lagi pimpinan Jawa Pos Group. Sejak saya sakit delapan tahun lalu. Memang saya memiliki saham di situ, tapi dalam perusahaan modern pemegang saham dan manajemen harus terpisah.

Kedua, Jawa Pos Group biarlah menjadi corong bagi siapa saja. Jangan menjadi corong saya. Kami belajar dari pengalaman masa lalu yang ternyata hal seperti itu kurang baik. Mungkin tidak akan berjalan ideal, tapi kami menyadari bahwa kini masyarakat sudah sangat cerdas dan sangat kritis.

Masyarakat selalu menilai media itu seperti apa.

Ketiga, toh sudah ada internet. Opini-opini pribadi, kepentingan-kepentingan pribadi, aspirasi pribadi bisa disalurkan melalui media on-line. Tanpa harus mengganggu media publik yang seharusnya menjadi milik publik.

Sudah banyak tokoh yang memilih dan melakukan cara ini. Terutama bagi para tokoh yang merasa aspirasinya tidak tertampung di media publik.

***

Saya akan menjadi beban bagi Jawa Pos Group kalau saya tidak berubah. Maka untuk “corong pribadi” itu saya meluncurkan ini: gardudahlan.com.

Saya akan selalu menyalurkan keterangan saya melalui gardudahlan itu. Saya tidak akan memberikan wawancara pers. Termasuk tidak akan memberikan wawancara kepada Jawa Pos Group. Saya tidak ingin banyak pihak salah paham karena keterangan saya yang kurang pas. Tapi saya tidak akan melarang media untuk mengutip keterangan saya di gardudahlan itu.

Saya tidak punya juru bicara. Kelihatannya gardudahlan yang akan jadi juru bicara saya.

***

Khusus untuk status tersangka saya ini, saya belum menunjuk pengacara. Saya memang banyak dibantu Bapak Peter Talaway SH, termasuk saat saya masih berada di Amerika Serikat selama tiga bulan lalu. Pengacara Surabaya itu sudah lama membantu saya di beberapa persoalan. Saya berterima kasih kepada beliau.

***

Saya tidak akan menggunakan gardudahlan untuk menyerang, memaki, memfitnah dan memojokkan siapa pun. Saya hanya akan menggunakannya untuk menjelaskan duduk persoalan. Tentu subyektif, hanya dari sudut saya.

Mungkin, juga tidak tiap hari saya meluncurkan penjelasan. Tapi saya usahakan agak sering. Dengan cara memotong-motong penjelasan. Rumitnya persoalan biasanya hanya bisa dijelaskan melalui cerita yang panjang. Tapi saya usahakan pendek-pendek. Hanya mungkin perlu beberapa edisi.

***

Saya sebenarnya lebih senang kalau gardudahlan itu bersifat interaktif. Tapi dari pengalaman saya di twitter, banyak sekali serangan yang tidak mungkin bisa saya klarifikasi.

Mengapa? Karena serangan itu dilakukan oleh mesin.

Dalam hal itu saya bukan menghadapi manusia. Saya mencoba beberapa kali memberikan penjelasan, tapi sia-sia. Baru belakangan saya tahu, dan saya tertawa-tawa, bahwa ternyata saya itu memberikan penjelasan kepada mesin. Sia-sia.

Di dunia twitter itu ternyata kita bisa menyerang seseorang dengan cara meminta mesin untuk melakukannya. Tinggal order saja: serangan itu mau dilakukan berapa kali sehari dan untuk berapa hari atau berapa bulan. Topiknya sama. Kalimatnya sama. Isinya sama.

***

Jangan berharap saya gegap-gempita di gardudahlan ini.

Biasa saja.

http://www.gardudahlan.com

Diskusi

3 thoughts on “Soal Corong

  1. Jika orang orang yg berprestasi bekerja dan kontribusinya jelas bagi bangsa ini, sehingga harus melabrak aturan yg menghambat seharusnya peraturannya yg dievaluasi karena tujuan peraturan seharusnya melayani masyarakat, jika peraturan menghambat berarti peraturan bermaslah.
    Prestasi dan kontribusi trobosan trobosan yg dilakukan seharusnya menjadi corong untuk menyatakan kebenaran dan seharusnya orang orang yg menikmati prestasi kerja dari Pak Dahlan juga menjadi corong kebenaran.
    moral dan etika seharusnya menjadi corong kebenaran bukan peraturan yg menghambat.
    masih banyak tunggakan pekerjaan kejakasaan yg seharusnya dikerjakan karena mereka benar benar korupsi bukannya mencari kasus yg secara moral membangung masyarakat dan negara.
    Lee Kuan Yew pernah memusnahkan surat wasiat dan membatalkan surat wasiat dari anak yg menerima wasiat tapi mengusir orang tuanya ke pingging jalan dari rumah. secara hukum dia melanggar tapi secara moral dia benar. seharusnya tindakan tindakan seperti ini yg dibutuhkan, karena esensi dari aturan adalah mensejahterakan rakyat.

    Posted by Katon | 15 Juni 2015, 10:43 am
  2. Saya setuju dengan apa yang dibilang oleh Pak Katon. Untuk Pak Dahlan, saya hanya bisa berdoa untuk Bapak agar diberikan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini. Saya percaya bahwa Niat baik memang tidak selamanya berbuah baik, namun bukan berarti kita harus berhenti berbuat baik. Saya yakin suatu saat nanti KEBENARAN akan muncul. Semoga Bapak selalu diberi kesehatan dan perlindungan olehNYA.
    Saya salah satu dari sekian juta orang yang SANGAT percaya bahwa Bapak tidak korupsi. Made.

    Posted by Made Wijaya | 15 Juni 2015, 11:43 am
  3. mantap DI semoga sehat selalu, benar, baik itu tetap akan baik dan benar,Tuhan tidak Tutup mata,telinga utk melihat dan mendengar dan membela kebenaran dan kebaikan.

    Posted by toga | 15 Juni 2015, 11:52 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: