>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, New Hope

Problem Banyak Anak dan Manusia Tidak Beragama

25 Mei 2015

Inilah  dua hasil penelitian yang akan membuat para pimpinan agama (Islam dan Kristen), mestinya, tidak punya waktu lagi untuk bicara yang remeh-temeh. Persaingan untuk berebut pengaruh di antara golongan-golongan dalam satu agama pun bisa tidak relevan lagi. Apalagi persaingan antaragama. Hasil penelitian itu benar-benar akan membuat para pimpinan agama masing-masing, mestinya, terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah masing-masing yang sangat besar ini.

Bulan lalu Pew Research Center yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat, mengumumkan hasil penelitiannya. Pertama, jumlah umat Islam menjadi imbang dengan umat Kristen pada 2050 (31,4 persen Kristen, 29,7 persen Islam). Jumlah penganut Islam akan melebihi umat Kristen pada 2070. Kedua, perkembangan itu bukan karena banyak umat Kristen yang masuk Islam, melainkan lebih karena keluarga Kristen memiliki lebih sedikit anak (2,3) dibanding keluarga Islam (3,5). Juga karena akan banyak umat Kristen, di Eropa khususnya dan di Barat umumnya, yang tidak mau lagi terikat dengan agama.

Sambil melakukan perjalanan dengan naik bus ke kota-kota Nashville, Memphis, New Orleans, Houston, dan Austin pada hari-hari tidak ada mata pelajaran di akhir pekan, saya merenungkannya dalam-dalam. Saya tertegun.

Saya membayangkan betapa seharusnya tiap-tiap pimpinan agama kini bekerja keras untuk merespons hasil penelitian itu. Seharusnya sudah tidak ada waktu lagi untuk berebut pengaruh.

Ambil contoh di internal Islam. Menjadi mayoritas lebih karena jumlah anak yang lebih banyak bukankah akan menimbulkan persoalan tersendiri? Yakni, bagaimana dengan jumlah anak yang lebih banyak itu bisa meningkatkan kesejahteraan mereka.

Menyiapkan diri untuk menjadi agama terbesar bukanlah pekerjaan mudah. Terutama kalau Islam akan menempatkan dirinya menjadi seperti yang diinginkan agama itu: menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Pertanyaan mendasar akan datang dari dunia Barat: Dengan Islam menjadi mayoritas, akankah dunia lebih aman dan damai? Akankah dunia lebih sejahtera? Lebih makmur? Akankah umat manusia lebih bahagia? Apakah tidak justru sebaliknya? Lebih kacau? Lebih saling serang? Lebih saling mengafirkan? Lalu, lupa pada misi utama untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam?

Dunia Barat –dengan keunggulan teknologi, ekonomi, dan ilmu pengetahuan– tentu harap-harap cemas menghadapinya. Terutama pada 2070 nanti, ketika penduduk dunia menjadi 9,3 miliar dari 6,9 miliar saat ini.

Di era teknologi, ekonomi, dan ilmu pengetahuan, jumlah bukanlah inti kekuatan. Justru sering terjadi, dan banyak terbukti, besarnya jumlah sekadar angka tidak bertulang.

Pertambahan umat Islam yang besar itu, terang Pew, terjadi di India dan negara-negara muslim di Afrika. Keluarga mereka memiliki anak yang lebih banyak. Pada 2050 nanti, Indonesia tidak bisa lagi menyebut dirinya sebagai negara muslim terbesar. Kalah dari India.

Sayang, banyak-banyakan anak itu, dalam ilmu pengetahuan (termasuk ilmu ekonomi), akan terkait langsung dengan tingkat kesejahteraan dan kemakmuran. Bisa-bisa tingginya angka kelahiran itu akan berdampak meningkatnya kemiskinan.

Tiongkok, misalnya, sengaja dengan keras mengendalikan angka kelahiran agar bisa meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Seandainya tidak ada pengendalian itu, jumlah penduduk Tiongkok kini mencapai 1,7 miliar. Alias 400 juta lebih banyak daripada kenyataan sekarang yang 1,3 miliar. Angka kelahiran yang bisa dicegah itu saja dua kali jumlah penduduk Indonesia. Atau 25 kali penduduk Malaysia. Untuk menyediakan sarana kesehatan, pendidikan, dan perumahan bagi 400 juta orang itu saja bukan main memakan kemampuan negara.

Negara-negara Barat tentu akan memperhatikan penuh pengaruh ledakan penduduk tersebut. Barat pasti khawatir kalau negara-negara berpenduduk besar itu sulit keluar dari kemiskinan. Itu, bagi Barat, akan dianggap sebagai sumber kekacauan, imigrasi, dan bahkan sampai terorisme. Maka, pekerjaan untuk meningkatkan kemakmuran di negara-negara muslim seharusnya menjadi agenda terbesar para pimpinan agama di segala lapisan.

Pihak Kristen mestinya juga memiliki agenda internal yang tidak kalah besar. Bukan dalam menghadapi agama lain, melainkan menghadapi kenyataan baru: meningkatnya jumlah orang Kristen di Barat yang tidak mau lagi beragama. Jumlah mereka terus meningkat.

Tentu para pimpinan Kristen akan memiliki kesibukan yang luar biasa untuk mencegah hal itu terjadi. Bayangkan, sampai 2050 nanti, papar Pew, 170 juta orang Kristen menjadi tidak beragama. Khususnya di Inggris, Prancis, Belanda, dan Selandia Baru.

Hasil penelitian itu sangat menantang bagi para pimpinan agama tersebut di segala lapisan. Mungkin perlu lebih banyak pendeta dan pastor dari Indonesia untuk menjadi misionaris di sana, mengikuti jejak Pendeta Stephen Tong dari Batu, yang sangat terkenal hebat di Barat.

Sulitnya, pengertian ”tidak beragama” itu tidak sama dengan ”tidak bertuhan”. Mereka tetap percaya akan adanya Tuhan, tapi tidak mau terikat dengan agama apa pun. Itu berbeda dengan pengertian ateis atau komunis pada masa lalu.

Untuk masa depan, agama tampaknya memang harus sinkron dengan ilmu pengetahuan. Tidak bisa lagi agama mengajarkan A, ilmu pengetahuan membuktikan B. Pada zaman dulu, doktrin agama terbukti sering bertabrakan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Soal bumi bulat, soal manusia pertama, soal penciptaan alam semesta, misalnya, adalah beberapa contoh.

Ilmu kedokteran, terutama ilmu kromosom, DNA, dan sel, kelihatannya menjadi penyumbang terbesar doktrin kuno dalam menafsirkan doktrin agama. Demikian juga ilmu fisika dan ilmu kimia.

Lihatlah hasil penelitian lain ini. Sejak dua tahun lalu, agamawan aliran lama tertegun oleh penemuan partikel subatom baru. Penemunya memberi nama sindiran untuk ”barang” itu sebagai ”partikel Tuhan”. Sebab, mereka yakin bahwa partikel itulah yang menjadi awal mula terbentuknya jagat raya.

Tentu masih memerlukan pengujian lebih lanjut terhadap temuan itu. Tapi, mereka yakin akan bisa melanjutkan penelitiannya dan membuktikan kebenaran ilmiahnya.

Maka, ilmuwan yang tergabung di pusat penelitian CERN menciptakan alat untuk menguji partikel Tuhan itu. Bulan lalu alat tersebut berhasil dibuat. Pada 5 April 2015, CERN mengadakan konferensi pers. Alat penguji itu mulai dicoba digerakkan. Bentuknya sebuah mesin, yang menurut CERN terbesar yang pernah dibuat manusia.

Fungsi mesin itu adalah menabrakkan partikel Tuhan dalam kecepatan tinggi. Menyamai kecepatan cahaya. Kini CERN sudah menghidupkan mesin tersebut. Lokasi uji coba itu adalah sebuah terowongan penelitian milik CERN sepanjang 17 mil di perbatasan Swiss dengan Prancis.

”Kami sedang menunggu uji coba mesin itu untuk mencapai kecepatan cahaya. Mungkin dalam dua bulan ke depan,” ujar Direktur Jenderal CERN Rolf-Dieter Heuer dalam konferensi pers bulan lalu.

Mereka ingin membuktikan bahwa teori big bang benar: Jagat raya ini tercipta oleh ledakan besar yang ditimbulkan oleh tabrakan partikel dalam kecepatan cahaya. Mereka lagi menguji penafsiran doktrin agama yang mengatakan bahwa jagat raya diciptakan oleh Tuhan begitu saja, tanpa proses fisika.

Mereka percaya bahwa tabrakan besar partikel tersebut terjadi 14 miliar tahun lalu dan saat itulah awal mula terbentuknya jagat raya. Penemuan itu nanti, kalau terbukti, tidak harus kita artikan menolak doktrin bahwa jagat raya diciptakan oleh Tuhan. Tapi, setidaknya itu akan menggugurkan cara menafsirkan doktrin agama yang dilakukan selama ini, yakni bahwa jagat raya diciptakan Tuhan begitu saja. Tidak lewat proses fisika.

Di tengah gelombang ilmu pengetahuan seperti itu, adakah yang masih menganggap penting memperdebatkan kapan jatuhnya hari Lebaran sampai berhari-hari? (*)

Diskusi

45 thoughts on “Problem Banyak Anak dan Manusia Tidak Beragama

  1. Lebih baik bang Dahlan lihat dialog2 Ahmad Deedat Rahimahullaah dan murid cerdas beliau Dr Zakir Naik yang mampu menjelaskan Islam ke depan, jgn silau dgn teknologi apalagi keadaan akhir zaman sudah dijelaskan dalam literatur yg shahih…..

    Posted by San | 25 Mei 2015, 6:11 pm
  2. Menyimak

    Posted by Borobudur Cinema | 25 Mei 2015, 6:57 pm
  3. saya melihat ini jadi seperti kompetisi saja, berlomba-lomba mencari pengikut demi entah kepentingan siapa. agama adalah ciptaan manusia. Tidak ada yg tahu Tuhan beragama apa juga kan? Karena agama yg murni adalah agama yg tidak mempengaruhi nilai hidup agama lain.. ini menurut pemahaman saya saja, pada dasarnya kita lahir tanpa agama dan kita juga akan mati tanpa agama, agama hanya bagaikan undang undang yg mengatur agar kita hidup tidak merugikan mahluk lainnya tidak lebih dari itu

    Posted by yoseapermana | 25 Mei 2015, 7:00 pm
  4. Agama kristen ada banyak. Kalau Katholik/Kristen Roma, tidak berniat ikut dalama persaingan perebutan umat. Karena yanag penting adalah kualitas, demikian kata Paus Fransiskus. Kristen lain, seperti Kristen Jawa juga relatif sama. Karena mereka tetap menghindari nuansa yang berlebihan dalam perebutan umat. Tapi Kristen yang belum lama masuk, semacam Saksi Yehova, katanya sangat agresif. Isunya, para penginjilnya digaji berdasar jumlah umat baru yang bisa ia rekrut. Tapi tiap agama, terutama yang agresif, tetap harus merenung, apa gunanya punya umat yang banyak jika “perebutannya” dilakukan secara tidak baik.

    Posted by ahlilele | 25 Mei 2015, 7:08 pm
  5. SEHARUS MENGANUT AGAMA ADALAH DARI HATI NURANI BUKAN KARENA MISI
    MISI AKAN MENIMBULKAN PERSAINGAN YANG TIDAK SEHAT, KALAU MISINYA SAJA SUDAH TIDAK SEHAT MAKA HASILNYA YA TIDAK SEHAT , SEKEDAR SIMBOLISASI AGAMA. ITULAH YANG TERJADI SAAT INI (SEKARANG).
    MAAF DULU TAHUN 1990 KEBAWAH ORANG BERHIJAB MEMPUNYAI NILAI LEBIH YG TINGGI BILA DILIHAT DARI SIKAP DAN TINGKAH LAKUNYA.
    SEKARANG……..ANDA BISA LIHAT SENDIRI. SEKEDAR GAYA HIDUP.
    SEBAIKNYA KEDUA AGAMA TERSEBUT MENGHILANGKAN MISI DAN LEBIH MENGEDEPANKAN KUALITAS DARI PADA KUANTITAS, TOH SEMUANYA MAKHLUK TUHAN. TIDAK ADA LAGI SALING BEREBUT PENGARUH DENGAN SEGALA MACAM INTRIKNYA. SADARR…..

    Posted by suratno26@ymail.com | 25 Mei 2015, 9:29 pm
  6. Jadi inget waktu di sekolah dulu,Yang percaya ama Om Darwin silahkan angkat tangan.:-)

    Posted by membrat | 25 Mei 2015, 10:16 pm
  7. Kalo saya sih mending cari bekal buat di akhirat.
    Kalo disuruh mikir yang berat-2 seperti: Bagaimana proses dunia ini tercipta? dll…wah bisa-2 lumer otak saya….hehe… Yang penting bagaimana dapat ridha Allah aja…………

    Posted by HWAHYU | 25 Mei 2015, 10:56 pm
  8. Arif sekali Abah, betul2 bisa membawa kedamaian bagi siapa saja. Mudah2an ke-Islaman Abah dapat terus menjadi rahmatan lil alamin.

    Posted by Heiruddin | 26 Mei 2015, 7:36 am
  9. Agak aneh kalo disampaikan partikel tuhan baru dibuat April 2015. Padahal Dan Brown udah menulis di novelnya beberapa tahun yang lalu. Udah difilmkan juga dengan judul yang sama. Angels and Demond. Apa mungkin baru dipublikasi ya…

    Posted by Rahmat | 26 Mei 2015, 8:03 am
  10. Yang perlu digaris bawahi adalah tulisan beliau di paragraf terakhir “……adakah yang masih menganggap penting memperdebatkan kapan jatuhnya hari Lebaran sampai berhari-hari?”

    Posted by Purwadi Eka | 26 Mei 2015, 8:09 am
  11. “Di tengah gelombang ilmu pengetahuan seperti itu, adakah yang masih menganggap penting memperdebatkan kapan jatuhnya hari Lebaran sampai berhari-hari?”

    kalimat ini yg keren… 🙂

    Posted by Winda S-v | 26 Mei 2015, 9:50 am
  12. selain kuantitas…. ternyata kualitas harus lebih dipentingkan…. nais imfoh Bah… apalagi kalimat terakhir….. kena banget

    Posted by damar@rangkas | 26 Mei 2015, 10:19 am
  13. Reblogged this on From Keyboard To The World ™ and commented:
    Terima kasih Pak Dahlan, sudah berbagi tulisan bermanfaat ini.. salam…

    Posted by Milta Muthia | 26 Mei 2015, 10:24 am
  14. Negara saat ini seharusnya membutuhkan orang seperti bapak. Salah pak Dahlan

    Posted by Santata | 26 Mei 2015, 10:37 am
  15. kata mayoritas dan minoritas pemeluk agama itu sdh waktunya dihilangkan,yg perlu dikedepankan seberapa besar/banyak perbuatan baik,toleransi antar manusia,alam,binatang,pendidikan kebajikan yg sdh diajarkan dan dilakukan oleh orang/agama tersebut.  

    Posted by Toga Torop | 26 Mei 2015, 10:43 am
  16. Abah punya pemikiran kelas dunia, kalau menurut saya mah …

    Posted by Apa Saja | 26 Mei 2015, 12:58 pm
  17. Agama dan ilmu Pengetahuan Pasti selaras, kalaupun saat ini terlihat bertolak belakang itu karena ilmu Pengetahuan belum dapat menjangkaunya.

    Posted by Jatmiko | 26 Mei 2015, 2:22 pm
    • Bukan begitu Mas, Agama dan Pengetahuan memang selaras. Tapi saat ini terlihat bertolak belakang, bukan karena ilmu pengetahuan yang tidak menjangkau, namun karena yang menafsirkan agama tidak mengerti ilmu pengetahuan, dan yang pinter ilmu pengetahuan gak ngerti agama.

      Posted by Integra eTraining | 30 Mei 2015, 2:05 am
      • yang saya tulis bukan tidak menjangkau tapi belum …. artinya mungkin ilmu pengetahuan saat ini belum dapat menjangkaunya tapi suatu saat dengan semakin majunya ilmu pengetahuan manusia, maka ilmu pengetahuan pasti akan selaras dengan agama. sebagai contoh dulu pada waktu peristiwa isra’ Nabi Muhammad orang pasti akan sulit menerima pernyataan bahwa beliau hanya membutuhkan waktu beberapa jam untuk pergi dari Masjid haram e masjidil aqsa tapi sekarang apakah itu tidak mungkin….. mari kita renungkan. jadi kesimpulanya semakin maju ilmu pengetahuan akan semakin membuktikan akan eksistensi KETUHANAN. salam

        Posted by Jatmiko | 31 Mei 2015, 3:32 pm
        • Kita sepakat Mas, bahwa ilmu pengetahuan memang selaras dengan agama. Akan tetapi pokok bahasan saya bukan tentang selaras tidaknya ilmu pengetahuan dan agama. Obyek bahasannya tidak terletak pada ilmu pengetahuan dan agama.

          Namun pada manusia yang mempelajari ilmu pengetahuan, dan manusia yang mempelajari agama. Sebab saat ini, ilmu pengetahuan dan agama nampak bertolak belakang, karena yang belajar agama gak ngerti ilmu pengetahuan, sedangkan yang belajar ilmu pengetahuan gak ngerti agama.

          Contohnya begini :
          Ada tokoh agama yang “protes keras” terhadap hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa genetika manusia sangat mirip dengan genetika babi. Tokoh tersebut “protes keras” dan tidak terima karena manusia disamakan dengan babi.

          Padahal seandainya tokoh agama tersebut mau belajar ilmu pengetahuan (khususnya tentang genetika), maka dia akan sadar bahwa hasil penelitian tersebut justru merupakan salah satu alasan penguat tentang haramnya babi untuk dimakan.

          Dengan kata lain, hasil penelitian tersebut, sebenarnya justru mendukung agama yang dia anut. Akan tetapi, karena “ketidak-mengertian” tokoh tersebut akan ilmu genetika, menyebabkan yang bersangkutan bereaksi keras terhadap hasil penelitian (ilmu pengetahuan) yang ada.

          Begitu maksud saya Mas..

          Posted by Integra eTraining | 31 Mei 2015, 10:19 pm
          • ok kalau begitu,…terkada juga “ketidak-mengertian” itu juga bercampur dengan “gensi tokoh”

            Posted by Jatmiko | 1 Juni 2015, 8:19 am
          • gimana dg langit yang tujuh lapis..??? gunung ditancapkan bagai pasak agar tak bergoyang…agama tetaplah ikmu primitif tanpa fakta

            Posted by soer | 4 Juni 2015, 1:59 pm
  18. Materi tulisan DI makin jauh dari harapan…sama hal nya dengan pemerintahan Jokowi saat ini : Pertumbuhan hanya 4,7 % kita jadi lesu, pertumbuhan ekomomi lambat, pengangguran makin bertambah begal bertambah,harga komoditi rendah daya beli rendah sementara harga sembako semakin bertambah masyarakat kecil semakin susah, apa mungkin ini terjadi dikarenakan visi dan leadership Jokowi yang rendah sebagaimana banyak dikatakan pengamat pada masa kampanye…karena semua persoalan itu tidak mungkin diselesaikan dengan blusukan….bagaimanapun Jokowi pilihan DI, masih ada waktu untuk Jokowi membuktikan bahwa pilihan DI tidak keliru, sebagaimana kelirunya pemilihan topik manufacturing hope edisi kali ini…

    Posted by mukhtar yusuf | 26 Mei 2015, 2:35 pm
  19. Tks

    Dikirim dari Yahoo Mail pada Android

    Posted by budi haryadi budi | 26 Mei 2015, 6:37 pm
  20. lagi dan lagi, tulisan yang sangat saya nanti2 kehadirannya (tulisan berisi kualitas tinggi), sangat hidup dan sangat menarik bagi saya tulisan ini,sampai2 rasanya tak mau tidur saya memikirkan makna dan maksud tulisan dan pemikiran Pak Dahlan, MENAKJUBKAN. dan mudah2an para pemuka agama sudah waktunya berpikir yang benar soal agama ini. TERIMAKASIH Pak Dahlan Iskan.

    Posted by wawan iswandi S | 26 Mei 2015, 11:42 pm
  21. saya lebih tertarik sekaligus prihatin dengan makna kalimat terakhir

    Posted by etnikcantik | 27 Mei 2015, 9:20 am
  22. Masing2 punya tugas sendiri-sendiri, baik para ulama dan pemuka agama lain, termasuk juga syaithan, jadi hanya tujuan akhir yang membedakannya…apakah cukup hanya untuk dunia saja yang mungkin gak akan lama lagi berakhir bisa jadi duluan kita yg berakhir (mati), atau ada tujuan yang lebih panjang yaitu akhirat, jadi semua terpulang sama kita yang pasti “Bagiku agamaku dan bagimu agamamu” dalam penciptaan sesuatu mungkin saja Allah membuat proses untuk pembelajaran kepada kita yang mau berfikir seperti halnya punya anak yang berawal dari sperma yang mebuahi ovarium dan perlu masa 9 bulan lebih untuk bisa sempurna dan lahir (karena semua manusia memerlukan sebab akibat), tapi bisa juga tanpa adanya laki2 seperti penciptaan Nabi Isa AS, begitu juga waktu menciptakan Nabi Adam…jadi tiada yang bertentangan hanya keimanan yang menguatkan kita.

    Posted by Faisal Mu | 27 Mei 2015, 10:09 am
  23. Reblogged this on luqmanhae and commented:
    wajib dibaca!

    Posted by luqmanhae | 27 Mei 2015, 2:11 pm
  24. Islam agama modern pak..kalo pak dahlan main2 ke memphis coba ngobrol sama dr yasir qadhi

    Posted by sbr | 27 Mei 2015, 2:25 pm
  25. Lha Sang pencipta partikel dan cahaya siapa? Bumi dan langit dicptakan dalam enam masa. Ada di Quran Surah Luqman. Kata siapa Kun faya kun berarti langsung jadi cling-cling-cling jadi. Satu masa berapa tahun? Wallahu a’lam.

    Posted by jhon | 27 Mei 2015, 4:03 pm
  26. Ulasan menarik dari pak DI. Sangat terbuka dengan pengetahuan, semoga demikian juga dengan pembacanya.
    Setelah keluar dari pemerintahan formal, tulisannya semakin kesono-sono aja

    Posted by Johan R | 27 Mei 2015, 8:15 pm
  27. Dlm etika berkomentr, jadilah dirimu sendiri. Benarlah scr objektif, mnjd pembaca. Bukan kompor, tpi makhluk Ilahi.

    Posted by magungh | 29 Mei 2015, 6:10 am
  28. heum. . .selesai baca ini kemudian menghela nafas. Selayaknya agama dan ilmu pengetahuan berdampingan memang.

    Posted by kang Rahmat | 29 Mei 2015, 5:31 pm
  29. Mas/Mbak Admin,
    Mohon komentar saya disampaikan kepada Pak Dahlan Iskan:
    Mumpung beliau berada di US, mohon beliau berkenan untuk merangkul kembali ‘anaknya’:Danet Suryatama. Saya ‘melihat’ keduanya sebenarnya ditakdirkan untuk bersatu dan mengangkat kembali teknologi dan produk teknologi Indonesia menjadi maju di Asia. Saat keduanya ‘dipertemukan’, dunia riset dan teknologi bergairah kembali. Namun ketika keduanya ‘terpisahkan’, dunia riset dan teknologi menjadi datar dan tidak memiliki arah.

    Keduanya adalah aktor penting, sama penting dan utamanya dalam proyek mobil listrik. Namun, Pak Dahlan Iskan adalah bapak dan Danet Suryatama adalah anak. Kewajiban bapak adalah ngemong dan ngayomi kalau anaknya ngambek dan mutung. Mohon Pak Dahlan Iskan menjenguk atau merayu kembali anaknya yang ngambek dan mutung, supaya mau bersatu kembali. Indonesia membutuhkan sentuhan duet Dahlan dan Danet agar pengembangan riset dan teknologi mobil listrik bisa menjadi industri.

    Kedua sosok ini ibarat pelatih bertangan dingin dan pesepakbola berbakat yang sedang berjarak karena satu atau dua hal. Saatnya keduanya mengalahkan diri masing-masing, agar tim Indonesia menjadi jawara di Asia untk proyek mobil listrik. Ingatlah, betapa antusiasnya Pak SBY dan tokoh2 lainnya untuk memesan Tucuqxi (nama ini sebaiknya diganti). Pesanan mengalir ketika mereka belum melihat rupa fisiknya langsung, artinya ada trust atau kepercayaan kepada duet Dahlan Iskan dan Danet. Keduanya ibarat magnet. Ketika diberitakan masalah antara duet Dahlan dan Danet, antusiasme surut walau produk purwarupa lain dimunculkan oleh Pak Dahlan dan anak-anak asuhannya yang lain.

    Ayo, Pak Dahlan, mari kita renungkan. Sekarang Pak Dahlan diberi kesempatan untuk berada di US, begitu pula Danet ada di negeri yang sama walau terpisah kota. Keduanya dapat merintis proyek mobil listrik di US, ya mengapa tidak? Duet Dahlan dan Danet dapat mengangkat nama baik bangsa dan dunia berpenduduk muslim kalau mampu menaklukkan dunia industri mobil listrik di US. Pasti bisa! Pasti!

    Mohon renungkan Pak. Mohon dipertimbangkan. Sekarang adalah waktunya Indonesia.

    Posted by Saran | 31 Mei 2015, 10:35 am
  30. Menunggu komentar di NH21: Sabar Untuk Sulitnya Menerima Kekalahan

    Posted by Apa Saja | 1 Juni 2015, 7:36 am
  31. usul saran abah kembli lg aja mondok, drpd kuliah di as yg lama2 malah mikirin agama hrs selaras dg iptek pdhl iptek harus selaras dg agama. KRN AGAMA DTG DR ALLAH SEMENTARA IPTEK BUATAN MANUSIA YG PASTI BELUM TENTU KEBENARANYA. TERKADANG ORG MEMIKIRKAN IPTEK SIANG DAN MALAM LUPA BERIBADAH ITU “KEJAHILAN” DAN MENDORONG MANUSIA KPD ATHEISME

    Posted by ridho | 1 Juni 2015, 9:35 am
  32. agama adalah kebenaran dg dasar iman dan keyakinan..ilmu adalah kebenaran dg fakta…bukan ilmu primitif yg di dasari kebohongan.

    Posted by soer | 4 Juni 2015, 2:03 pm
  33. Ada dua hal yang perlu dikoreksi pada tulisan kali ini, Pak Dahlan:
    1. Pengertian ateis sangat berbeda dengan pengertian komunis.
    2. Bukan penemunya yang memberi nama/istilah ‘partikel tuhan’.

    Mohon koreksinya.

    Posted by brianadakoentjoro | 9 Juni 2015, 10:02 am
  34. Pertanyaanya…anda percaya Tuhan atau ilmu pengetahuan?

    Posted by mastop | 18 Juni 2015, 7:31 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: