>>
Anda sedang membaca ...
Manufacturing Hope

Sayang Ibu demi Gerakan Satu Juta Sambungan

Senin, 31 Maret 2014
Manufacturing Hope 121

Inilah kampanye yang bukan untuk pemilu. Inilah kampanye untuk menyiapkan Indonesia masa depan: gerakan sayang ibu. Targetnya memenangkan hati ibu-ibu untuk mau menerima aliran gas alam ke dapur-dapur di rumah mereka. Melalui pipa. Bukan melalui tabung.

Juru kampanye yang satu ini bukan tokoh-tokoh nasional, melainkan ibu-ibu dari sebuah RT di Jakarta Timur. Yakni RT 09 RW 12 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit.

Hari itu, Rabu lalu, di RT tersebut dideklarasikan dua gerakan. Yang pertama “gerakan sayang ibu” tadi. Yang kedua “gerakan satu juta sambungan”. Yang mendeklarasikan adalah Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara/PGN (Persero) Tbk Hendi Prio Santoso.

Dalam waktu dua tahun ini, kata Hendi, PGN akan menyambungkan satu juta sambungan baru langsung ke dapur-dapur rumah penduduk. Ini tentu sebuah ambisi yang besar dari PGN. Tapi bukan tidak realistis. Apalagi, program ini memang sangat strategis. Yang terabaikan oleh PGN sepanjang sejarah hidupnya sejak zaman Belanda.

Selama ini PGN memang menjadi perusahaan besar dengan laba yang besar, namun perannya di masyarakat belum dirasakan langsung secara luas. PGN masih dikenal sebagai BUMN yang terlalu asyik sebagai pedagang gas. Belum sebagai pelayan masyarakat secara masif. Bayangkan, dalam umurnya yang sudah begitu tua, PGN baru memiliki sekitar 100.000 sambungan. Bandingkan dengan PLN yang sudah memiliki lebih dari 50 juta sambungan.

Kini PGN punya tekad yang bukan main-main. Tekad pengabdian yang sangat besar. Tiba-tiba dalam dua tahun ke depan PGN akan langsung melakukan satu juta sambungan. Saya yakin Hendi mampu mewujudkannya.

Saya memang memiliki permintaan khusus kepada direksi PGN. Yakni agar pemakaian gas alam produksi Indonesia bisa dialirkan ke sebanyak mungkin masyarakat. Seperti di banyak negara maju. Sebenarnya memang agak aneh kalau rumah-rumah mewah pun masih menggunakan gas elpiji. Dengan segala keruwetan distribusinya.

Program memasyarakatkan elpiji sendiri saya akui sangat sukses. Berhasil membuat penduduk yang dulunya menggunakan minyak tanah, yang sangat mahal itu, beralih ke elpiji. Masyarakat bisa berhemat, negara juga diuntungkan. Subsidi minyak tanah berkurang. Tapi, keberhasilan program elpiji itu tidak boleh meninabobokan kita. Harus ada gerakan berikutnya: beralih ke gas alam.

Gas alam adalah produk dalam negeri. Seharusnya lebih banyak digunakan untuk bangsa sendiri. Aneh kalau kita ekspor gas alam, tapi impor elpiji dan BBM. Ke depan gas alam haruslah sebanyak mungkin diprogramkan untuk menggantikan BBM dan elpiji.

Kita mestinya menangis meraung-raung memikirkan besarnya impor BBM. Kini dan lebih-lebih masa depan. Produksi minyak mentah kita turun terus. Cadangan minyak mentah kita memang tidak besar lagi. Berarti impor BBM kita akan terus membengkak.

Sementara itu, produksi gas kita terus meningkat. Cadangan gas kita juga masih besar. Jelaslah akal sehat harus mengatakan: mari kita beralih ke bahan bakar yang berbasis gas alam. Ibu-ibu Duren Sawit sudah merasakan sendiri “alangkah serbalebihnya” gas alam dibanding elpiji.

“Harganya lebih murah. Kami bisa lebih hemat 30 persen,” ujar Bu Santina, bu RT di Malaka Jaya, hari itu. “Kami juga tidak pernah khawatir kehabisan gas,” tambahnya.

Berdasar pengalaman itulah, PGN akan melancarkan kampanye khusus. Temanya pun akan lebih fokus ke ibu-ibu. PGN sudah menemukan kata kuncinya: “kampanye sayang ibu”. Dengan tema itu, ibu-ibu akan bergegas merayu suami mereka untuk minta beralih ke gas alam. Rasanya, dengan rayuan ibu-ibu itu, kalau suami mereka benar-benar menyayangi sang istri, peralihan tersebut akan lancar.

Memang tidak mudah menyukseskan gerakan satu juta sambungan ini. Membangun jaringan gas alam lebih sulit daripada membangun jaringan listrik. Pipa gas itu harus ditanam di dalam tanah. Izin menanam pipa gas tidak sederhana. Tapi, sekali infrastruktur gas alam ini terbangun, banyaklah masalah yang bisa diatasi. Termasuk masalah padatnya lalu lintas distribusi gas elpiji.

Gema kampanye ini segera meluas. Ibu-ibu wilayah Halim sudah menghendaki penyambungan gas alam. Ada 6.000 rumah yang merasa siap disambungkan. Silakan PGN melayani mereka. Kalau perlu mencarikan pinjaman bank untuk biaya penyambungan pertama.

Setiap rumah memang perlu mengeluarkan uang untuk membangun pipa sekitar Rp 5 juta. Tapi, nilai itu akan lunas dalam tiga tahun dari selisih harga elpiji dan biaya langganan bulanan gas alam. Pasti banyak bank yang mau menyalurkan dananya ke sektor ini.

Saya akan memberikan dukungan maksimal kepada program strategis PGN ini. Termasuk menerobos berbagai hambatannya. Misalnya di Semarang dan beberapa kota sekitarnya. PGN akan membangun jaringan pipa distribusi gas alam ke rumah-rumah penduduk. Tapi, izinnya ada di tangan PT Rekayasa Industri (Rekind). Waktu tender dulu PGN kalah. Rekind nomor 1, PGN nomor 2.

Tapi, Rekind tidak kunjung membangun jaringan itu. Padahal, sudah lima tahun izin ada di kantongnya. Maka, Rekind akan saya minta mundur. Kebetulan perusahaan itu adalah anak perusahaan BUMN. Saya sudah hubungi direksi holding-nya. Sudah disanggupi. Rekind saya minta fokus pada bisnis utamanya: engineering.

Rekind harus menjadi perusahaan engineering kebanggaan bangsa. Sejak krisis ekonomi tahun 1998, tinggal Rekind-lah perusahaan engineering kelas dunia yang masih dimiliki bangsa ini. Dua perusahaan lainnya sudah jatuh ke tangan asing. Untuk tender-tender internasional EPC dan engineering, praktis Indonesia hanya diwakili Rekind. Karena itu tidak boleh lengah. Proyek-proyeknya harus selesai tepat waktu.

BUMN sendiri sering melakukan tender internasional. Seperti Pertamina untuk proyek-proyek besarnya. Juga PLN, Pelindo, Angkasa Pura, dan yang lainnya. Kalau reputasi Rekind di kelas internasional merosot, proyek-proyek itu akan jatuh ke perusahaan luar negeri.

Maka, saya minta Rekind mundur dari bisnis distribusi gas alam. Dengan demikian, jaringan distribusi gas alam di Semarang itu otomatis akan digantikan PGN, yang sudah lebih siap membangunnya. Rekind kalau perlu mengakuisisi perusahaan sejenis di Eropa. Sebagai “kuda sembrani” untuk memenangi tender-tender internasional di Indonesia.

Gas alam adalah masa depan energi kendaraan dan rumah tangga kita. Langkah mewujudkannya memerlukan kerja cepat. Das des… Set set wuet! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Iklan

Diskusi

46 thoughts on “Sayang Ibu demi Gerakan Satu Juta Sambungan

  1. Mudah2n segera terwujud

    Posted by zero | 31 Maret 2014, 8:03 am
    • ga mungkin ahh.. yang ada juga lagi mengkhayal.. mau bukti?
      lihat saja pasang gas alam butuh modal 5 juta, yang katanya akan balik dalam waktu 3 tahun dari selisih harga elpiji dan gas alam.
      pertanyaan: coba hitung biaya langganan gas alamnya per bulan?
      jawab:
      – 3 tahun habis 5 juta, berarti perbulan membayar Rp 5juta dibagi 36 bulan = Rp.140.000 per bulan

      kalau misalkan harga elpiji saja sekarang Rp. 100.000 per tabung, berarti langganan gas alam = Rp.100rb dikurangi Rp 140rb = – Rp. 40.000 (MINUS EMPAT PULUH RIBU)

      Jadi, apa kalo langganan gas alam kita bakal dibayar PGN 40 ribu?? padahal kata ibu2 di atas kl pake gas alam bisa hemat 30 % dari elpiji (kira2 harga langganan gas alam Rp. 70 rb). teori mulu ah..

      Posted by tungitung-tuingtuing | 3 April 2014, 8:29 am
      • Di perumahan Pongangan Indah dan Gresik Kota Baru, Gresik sudah 15 tahun dipasang jaringan gas. Terbukti bikin iri saja, karena lebih irit dan lebih murah, serta gak pernah kehabisan gas. Sayang proyek belum dilanjutkan lagi.

        Posted by mito | 3 April 2014, 10:19 am
      • Itung-itungan itu gak penting buat saya. Terbukti sampai sekarang PGN tetap eksis bahkan punya keuntungan dari operasional selama ini berdasarkan perhitungan dan strategic planning yg sdh diterapkan.

        Posted by HWAHYU | 3 April 2014, 7:52 pm
    • Emang harga gas nggak naik.. kan pasti naik tiap tahunnya.. terus ongkos kirim gimana

      Posted by adi | 4 April 2014, 1:44 pm
    • Bapak Dahlan,antum memang luar biasa,antum manusia special yang dimiliki indonesia. Antum genius. Indonesia patut berbangga pada antum. Saya setuju dengan pemikiran,terobosan anda. Saya siap mendukung anda. Maju terus ,kerja kerja KERJA !!!!

      Posted by LALU DEDY | 6 April 2014, 10:34 am
  2. memang banyak sekali ide pak DI ini, mudah2an dia dpt menduduki jabatan yang lebih tinggi untuk memajukan negeri ini.

    Posted by heribekasi | 31 Maret 2014, 8:07 am
  3. Klo ada yg lebih baik mengapa tidak dijalankan. Kami dukung ide dan kerja pak DI. Maju terus pak….

    Posted by Santata Risya A | 31 Maret 2014, 8:14 am
  4. Das des set set wuet….
    Iklannya di youtube mantap!!!

    Posted by yudi | 31 Maret 2014, 8:16 am
  5. Kalau memang PGN bisa melakukannya saya setuju. Saya iri sekali dengan masyarakat daerah Lontar dan sekitarnya di Surabaya karena mereka sudah memiliki jaringan gas langsung ke rumah.
    Sedangkan rumah saya yang di Trosobo Sidoarjo malah belum bisa menikmati, padahal jalur gas melewati jalan raya tang berada hanya sekitar 200meter dari kompleks kami, bahkan ada perumahan di pinggir jalan yang bisa dikatakan hanya sejengkal dari pipa utama gas tersebut juga belum terlayani

    http://motorrio.com/2014/03/30/mh370-penuh-kebohongan-malaysia/

    Posted by Rio | 31 Maret 2014, 9:01 am
  6. Mantap lanjutkan

    Kerja…kerja…kerja

    Posted by mariodevan | 31 Maret 2014, 9:26 am
  7. Lanjutkan Pak Dahlan, Insyaallah kami akan mendukung setiap ide dan pergerakan untuk kemakmuran bangsa ini, maju dan lanjutkan, dibawah kepemimpinan Bapak kami yakin Indonesia akan tambah maju dan sejahtera. Dahlan iskan Yes Demokrat yes. !!

    Posted by Manihot Ultissima | 31 Maret 2014, 9:34 am
  8. Saya kemarin sempat kirim email ke customer service-nya PGN utk menanyakan cara penyambungan pipa gas ke rumah, dan alhamdulillah langsung dijawab 10 menit kemudian.
    Jadi tertarik utk melakukan sambungan langsung karena memang banyak keunggulannya dibanding LPG.

    Salah satunya lebih murah!!! Padahal LPG disubsidi pemerintah lho, tapi gas alam tetap lebih murah karena asli produk dalam negeri. Sekalian kita bisa mengurangi beban subsidi BBM pemerintah nantinya. Ayo kita pakai gas alam!!!

    Posted by HWAHYU | 31 Maret 2014, 9:52 am
    • Emailnya ….. apa, Boss.? Supaya saya juga bisa email ke CS tanya2 sekitar gas. Tengkyu

      Posted by pemerhati | 31 Maret 2014, 6:29 pm
      • Ini Pak alamat email nya: contact.center@pgn.co.id

        Dan ini email balasan dari CC:

        Terima kasih atas email yang telah Bapak kirimkan ke contact.center@pgn.co.id.

        Terima kasih atas kesediaan Bapak untuk menggunakan gas alam PGN.

        Perlu diketahui bahwa PGN merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi dan transmisi gas alam. Dimana dalam penyalurannya PGN menggunakan pipa-pipa instalasi yang telah dipasangkan ditempat tinggal/tempat usaha customer kami. Saat ini kami memiliki 3 distribusi wilayah dan terbagi kembali ke dalam beberapa area penjualan, Diantaranya SBU Distribusi Wilayah I Jawa Bagian Barat memiliki 8 area penjualan (Area Penjualan Jakarta, Area Penjualan Tangerang, Area Penjualan Cilegon, Area Penjualan Bekasi, Area Penjualan Karawang, Area Penjualan Bogor, Area Penjualan Cirebon, dan Area Penjualan Palembang), SBU Distribusi Wilayah II Jawa Bagian Timur memiliki 3 area penjualan (Area Penjualan Surabaya, Area Penjualan Sidoarjo-Mojokerto, Area Penjualan Pasuruan-Probolinggo), dan SBU Distribusi Wilayah III Sumatera Bagian Utara memiliki 3 area penjualan (Area Penjualan Medan, Area Penjualan Pekanbaru, dan Area Penjualan Batam) . Pelanggan kami terbagi menjadi 3 jenis pelanggan diantaranya RT (residencial),PK(Pelanggan Kecil), dan Industri.

        Berikut ini kami sampaikan prosedur pengajuan berlangganan gas PGN :

        1.Calon pelanggan dapat mengajukan permohonan berlangganan ke kantor penjualan PGN,sesuai dari lokasi calon pelanggan akan menggunakan gas alam PGN. dalam hal ini untuk wilayah Jakarta ,pengajuan berlangganan gas alam PGN dapat diajukan di kantor penjualan PGN Area Jakarta.

        2.Calon pelanggan terlebih dahulu mengisi formulir permohonan berlangganan yang terdapat di kantor penjualan PGN,sesuai dari lokasi calon pelanggan akan menggunakan gas alam PGN.

        3.Untuk calon pelanggan RT dilengkapi dengan KTP/Identitas diri, Kartu Keluarga, Denah lokasi tempat tinggal,dan bukti pembayaran rekening listrik terakhir. Khusus pelanggan industri dan komersil melampirkan daftar peralatan yang menggunakan gas serta pemakaian minimum-maximum perbulan.

        4.Apabila dokumen dan formulir permohonan berlanggan telah diterima oleh pegawai PGN, maka terlebih dahulu akan dilakukan survey dan pengumpulan data dari lokasi calon pelanggan.

        Informasi perihal jalur pipa gas dan pengajuan pemasangan instalasi gas PGN Wilayah Jakarta, Bapak.Wahyu dapat menghubungi bagian penjualan RT yang terdapat di kantor penjualan PGN Area Jakarta.

        Alamat : JL.Anyer No 11 Menteng Jakarta Pusat

        Phone : 021 392 4910, 021 392 4909

        Demikian informasi yang dapat kami sampaikan, Atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

        Salam,

        PGN Contact Center

        500 645

        Posted by HWAHYU | 31 Maret 2014, 8:25 pm
  9. Setuju aplaus untuk PGN…satu juta sambungan..!wow target sangat besar tpi bisa, strateginya adalah tetapkan sasaran pemasangan yaitu kawasan pemukiman…seperti…Perumahan, Real estate, apartemen…jdi pasti bsa dikerjakan..tahap II baru kawasan lebih kecil per RT atau RW…

    Posted by Sam | 31 Maret 2014, 10:21 am
  10. Se7. Yg wilayah Jogja bgmn?

    Posted by Fortuna | 31 Maret 2014, 10:56 am
  11. Idea yang cerdas,memang PGN harus begitu,saya yakin PGN mampu memenuhi targetnya .Mumpung baru mulai alangkah baiknya kalau dibuat sistim prabayar sepertii PLN ,supaya PGN tidak dibebani tambah karyawan untuk juru tagih pelanggan yang nunggak. Terima kasih Pak /Bro DIS

    Posted by menik | 31 Maret 2014, 12:21 pm
  12. Maju trs PGN…

    Posted by meilymeitisapantow | 31 Maret 2014, 3:26 pm
  13. kalau pln saja sukses melakukan gerakan sejuta sambungan , pgn juga harus BISA.
    inilah INDONESIA HEBAT dalam langkah nyata , bukan sekedar iklan.

    Posted by yudha | 31 Maret 2014, 5:20 pm
  14. Semoga cepat merata pembangunan jaringan pipa gasnya hingga kota2 kecil.
    Semangat…

    Posted by msodik | 31 Maret 2014, 7:03 pm
  15. Manfap, sambil mendukung ide Abah Dis, dan memasyarakatkan pipanisasi gas, berarti ada ladang wirausaha baru nih. Jadi marketer atau pemasar freelance pemasangan gas kerumah-rumah. Asal yang resmi, jangan jadi calo. Obyek apa saja yang bisa dijadikan lahan wirausaha ?

    1. menjadi mitra PGN untuk freelance sosialisasi pemasangan gas ke rumah2 penduduk
    2. menjadi mitra PGN untuk pendaftaran dan pemasangan pipa gas
    3. mediator atau mitra dengan PGN dan bank untuk penyediaan dana angsuran pasang pipa sambungan
    4. collector tagihan angsuran pasang baru
    5. collector tagihan bulanan gas
    6. rekanan pemasangan pipa gas ke rumah2 penduduk
    7. rekanan pengadaan barang2 untuk material pipanisasi
    8. penyebaran brosur2 pipa gas
    9. pencetakan barang2 cetakan terkait pasang baru sambungan pipa gas.
    10. apalagi yaaa………….??? (kita silaturahim saja ke PGN setempat, bahwa kita relawan Abah DIS, dan ingin mensukseskan ide/ pemikiran Abah untuk Indonesia yang lebih baik. KIta tanya : “Job apa saja yang bisa kita jadikan program kemitraan ?”). Agar bisa menjadi pemerataan lapangan dan kesempatan kerja baru.

    Posted by pemerhati | 31 Maret 2014, 7:04 pm
  16. Pak, tolong sinergi dgn pemprov DKI, supaya terwujud underground infrastructure. Saluran air dll seperti listrik dan gas harus terintregrasi di bawah tanah. Sekali aja bongkar2 tanah selanjutnya tinggal lewat lobang.

    Posted by uyung | 1 April 2014, 6:57 am
  17. Saya ingin mengusulkan Pada BUMN untuk membangun jaringan riol dalam kota yg dibangun dg kerja sama antara Telkom, PDAM, PLN, gas dan lain2 yg menggunakan jaringan bawah tanah. Bila berhasil dapat menghentikan penggalian jalan yg berulang2kali yg banyak makan biaya dan sangat mengganggu transfortasi dan merusak jalan karena perbaikannya tidak layak. Ini juga sangat berguna mengatasi banjir. sepengetahuan saya Jakarta belum punya Riol. yang sudah ada Bandung (?). mohon komentar.

    Posted by andimustafa | 1 April 2014, 8:49 am
  18. Sebagai silent reader di forum ini saya tergerak untuk mengomentari MH kali ini.. Apakah infrastruktur sudah memadai untuk mengalirkan Gas Alam? Kebocoran pipa-pipa PAM acap kali saya temukan, saya merinding memikirkan kebocoran pada pipa PAM juga terjadi pada pipa gas alam.. Terlebih saya melihat ada beberapa orang yang sempat menawarkan “usaha baru” kemitraan pemasangan pipa gas.. Ide yang sangat mengerikan!!!!

    Posted by William Kiong | 1 April 2014, 8:54 am
  19. numpang tanya..
    buku the next one apa ada yang versi gratis?
    kalau ada mohon di share linknya.
    suwun

    Posted by yudha | 1 April 2014, 10:23 am
  20. Memang pengambil keputusan negeri ini harus cepat tanggap terhadap perkembangan keadaan yang kemungkinan besar akan membawa Indonesia ke keadaan yang semakin buruk seperti keputusan export bahan-bahan mentah gas dan sumber-2 alam lainnya , namun di satu sisi juga import elpiji, minyak. alasan yang sangat pragmatis yaitu untuk jangka pendek hasil sumber alam lebih menguntungkan jika di jual mentah. Jangka panjangnya Indonesia akan kehabisan cadangan. Sedangkan India, Cina yang berpenduduk satu milyar lebih saja mempunyai simpanan bahan bakar untuk 30 tahun ke depan bahkan lebih dan semua itu import dari negara-2 lain. Sedang kekayaan alamnya sendiri belum di explor, di awet-2. Keputusan mereka akan ketahanan bahan bakar ini sangat membuat aman negeri tersebut, sangat hati-2.

    Selain itu juga pemerintah harus juga jeli mengidentifikasi daerah-2, pulau-2,mana saja yang mempunyai kandungan sumber-2 gas, minyak, batu bara, emas, intan sehingga bisa merencanakan mesti diapakan agar kekayaan ini nantinya jika sudah di explor menjadi kemakmuran rakyat. Lebih dari setengahnya penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan.

    Jangan lagi kita selalu bersengketa dengan negara lain karena pulau kecil kita di klaim oleh negara tetangga yang pulai tersebut ternyata sumber kekayaan alam seperti Pulau Natuna yang di klaim Cina dianggap berada di wilayahnya.

    Mengenai PGN memang selama ini belum maksimal kerjanya karena terbukti masih sedikit sambungan yang telah dilakukan barangkali karena biaya Rp. 5 juta/sambungan. Jalan keluarnya memang perlu pinjaman lunak dengan bunga sangat rendah supaya tidak menyusahkan rakyat kecil.

    Kalau tergantung Elpiji yang inport ini ya memang repot. Pernah suatu hari 1 hari sebelum lebaran telat pasokan elpiji ke kampung daerah disitu saya tinggal CIBINONG mau ngrebus ketupat wah.. sempat terganggu masak lebaran tanpa ketupat, akhirnya sore hari Elpiji datang juga.

    Judul kampanye SAYANG IBU boleh juga tetapi itu sebenarnya pengukuhan peran gender yang menurut konstruksi masyarakat urusan dapur (domestik) itu melulu urusan perempuan. Perempuan di identikkan dengan urusan dapur, makanan, urusan domestik lainnya. Padahal kita sedang promosi para perempuan yang berkualitas ikut ambil peran aktif menjadi penyelenggara negara.

    Nah semoga sambungan PGN menjadi kenyataan dan dengan pengerjaan sambungannya yang berkualitas standar sehingga tidak membahayakan manusia.

    Posted by Ari Sunarijati | 1 April 2014, 9:14 pm
    • setahu saya india memang punya deposit batubara yg cukup byk
      masalahnya batubara tsb terletak di hutan2 yg dilindungi dan infrastruktur di byk lokasi tdk memadai
      demi kebaikan bersama, mereka import batubara utk mendukung pertumbuhan ekonominya

      Posted by m a indita hernawati | 2 April 2014, 11:53 am
  21. Adakah yang dapat menyelamatkan keluarga saya dari ancaman di habisi karena hutang yang hanya Rp.7,5 juta saja yang jatuh temponya kamis esok.
    Saya sudah menghubungi dan meminta bantuan teman-teman saya tapi tidak ada yang percaya dan saya di anggap menipu, mereka hanya memberi solusi lapor polisi. Itu tidak memberi kami ketenangan.

    Mohon maaf, saya tak tahu lagi harus berbuat apa lagi.
    Saya sudah berusaha mati-matian tapi gak ada yang mau membantu.
    Saya menyadari tulisan ini tidak pantas berada di sini.

    Mohon selamatkan keluarga saya apapun syaratnya.

    Mohon bantu keluarga saya.
    Data diri dan Bukti ancaman ke saya akan saya berikan.

    andrimardisal@gmail.com

    Posted by andri mardisal | 3 April 2014, 12:10 am
  22. Pak. Kenapa texmaco yang membuat truk Perkasa tidak dijadikan BUMN. Padahal truknya masih dijadikan alat pembawa roket RHan.

    Posted by donny | 3 April 2014, 12:46 am
  23. Dahulu Pak Dahlan Iskan pernah melakukan aksi lempar kursi di pintu tol dalam kota Jakarta, yang sempat membuat berita heboh selama beberapa hari. Sepertinya aksi itu tidak cukup, atau malah percuma. Setelah beberapa lama, aksi yang dilakukan Pak Dahlan mulai dilupakan oleh PT Jasa Marga. Sekarang-kalau Pak Dahlan perhatikan, setiap pagi dan sore pintu tol dalam kota kembali seperti dulu lagi, antrian yang panjang.
    Beberapa waktu yang lalu memang sempat ada usaha mengurangi antrian dengan memasang beberapa petugas yang menerima pembayaran tol seperti pedagang asongan. Usaha ini cukup manjur dan saya acungi jempol karena terbukti efektif mengurangi antrian. Namun sekarang ‘petugas asongan’ itu kembali hilang (mungkin ini untuk penghematan?).
    Dan akhirnya yang terjadi kembali antrian yang panjang di jalan raya. Seperti yang saya alami, setiap pukul 8 malam pintu tol dalam kota depan RS Medistra. Antrian yang berasal dari pintu tol menyebabkan kemacetan di jalan Gatot Subroto yang mengular hingga di dalam komplek Patra Kuningan! Mungkin perlu ada tindakan yang lebih kontinyu, bukan sekedar sambil lalu dari Bapak.

    Posted by Zaenal Arif | 3 April 2014, 6:31 pm
  24. kl biaya pemasangan sebesar 5 juta, kemungkinan rakyat kecil akan kesusahan dalam memasang jaringan supaya berlangganan, memang pemasangan jaringan memerlukan biaya. pertanyaanya apakah tidak dapat memakai skema lain sehingga biaya pemasangan lebih terjangkau, misalnya dengan subsidi bagi yg tidak mampu. atau kl PGN berani, dan mungkin perlu dihitung, jika serius ingin mengejar visi “meng-gas alamkan Indonesia”, untuk memasangan jaringan tersebut dengan biaya PGN sebagai investasi. krn dengan begitu masyarakat luas akan merasakan manfaat gas alam Indonesia. biaya hidup dapat ditekan yang harapanya kedepan dpt mengurangi kemiskinan. perlu diingat, kegiatan pengurangan kemiskinan menggunakan dua cara, pertama dengan menambah pendapatan masyarakat tidak mampu bisa dengan penciptaan lapangan kerja/usaha baru bagi yang pengangguran, atau mengurangi pengeluaran masyarakat kurang mampu salah satunya dengan penggunaan gas alam untuk keprluan memasak sehari-hari, syukur-syukur nantinya dapat merangsang mereka untuk memanfaatkanya untuk berwirausaha.

    Posted by lingga bayu | 4 April 2014, 8:17 am
  25. Kenapa baru sekarang pak PGN punya ide buat sambungan gini..
    Sambungan gas ini kan mestinya bisa dicicil pembangunannya dari tahun pertama sby menjabat, sayangnya mungkin saat itu menteri bumn-nya sibuk ngurusin hal2 lain kali pak ya? Hehe
    Pal dahlan kalo perlu bumn tu di privatisasi semua deh, jadiin milik swasta supaya lebih bisa bersaing ga terbentur aturan. Swasta dalam arti rakyat indonesia, ya sahamnya dilepas tapi cuman boleh dibeli rakyat dan ada maksimal jumlah saham, supaya ga ada rakyat boneka nanti.
    Saya kasihan lihat garuda tu mau nambah pesawat aja susah bener.
    Terus bumn lain masi banyak yg rugi, merpati ga beroperasi.
    Susah bumn kalo masi banyak jalan buntu karena aturan..

    http://Www.semadiputra.com

    Posted by Gde Semadi Putra | 5 April 2014, 6:55 am
  26. Kalau progres ini maju dan akan terealisasi, adakah ini menjadi peluang kerja pemuda pemudi lulusan teknik bioproses atau teknik pertanian pak? Sungguh kami ingin “nyemplung” dan bergelut dengan sesuatu-benar-benar sesuai ilmu yang kami dapatkan. Hanya saja karena masalah sudut pandang masyarakat yang membuat citra kami agak meredup

    Posted by Zenith Tacia Ibanez | 6 April 2014, 11:15 pm
  27. Lihat ke daerah toili tangkiang dan sekitarnya..tak jauh dari donggi senoro aset LNG indonesia..masyarakatnya masih antri minyak tanah..ironis..apa kerja pemerintah??mungkin keasyikan rapat.

    Posted by Purnomo | 12 April 2014, 9:55 am
  28. Pak tolong ditindak lanjuti bank bri cabang panyabungan kabupaten mandailing natal sumut.sering terjadi pungutan liar ketika mengambil uang secara tunai. Terima kasih Pak.

    Posted by fandi | 16 Mei 2014, 5:19 pm
  29. pa DI yang terhormat. baru kali ini ku kuirim komentar, soalnya sy stenga mati mengairi sawah dengan mesin tempel bensin yang habis 17 liter setiap hari semalam hanya mengairi sawah 20 are. padahal tetangga kabupaten kami sudah mengkonversi gas pada mesin tempel mereka biaya hemat setengahnya. tolong bantu konvrsi gas mesin tempel petani Kab. maros di daerah tadah hujan. trima kasi sebelumnya

    Posted by andi | 26 Agustus 2014, 10:58 am
  30. Saya menyambut dengan senang hati dan berharap banyak dengan adanya PGN /bahan bakar gas (LNG, ELPIJI, BBG, dsb) . Yang saya tanyakan kebetulan saya tinggal di kota bogor tepatnya di perumahan bogor raya Like side, sampai dengan sekarang belum ada jalur gas alam Sedangakan jalur yang sudah ada terdekat di Baranangsiang, apakah akan dapat diteruskan pemasangan ke perumahan kami ? Bagaimana kriteria agar dapat dipasang, sedangkan di perumahan mengharapkan pemasangan gas alam tsb.
    Kemudian pertanyaan kedua, kapan ada SPBG di Bogor..? katanya akan ada di daerah pasar anyar….? Dekat kantor PGN Bogor kali….! Dan yang ketiga, dimana dapat saya peroleh alat converter untuk kendaraan berbahan bakar gas (BBG)….? Mohon informasinya.

    Terima kasih, Basukisuko.

    Posted by Basukisuko | 29 Maret 2015, 7:21 am
  31. Di tempat saya perum grand simphony desa srembi kecamatan kebomas belum ada jalur pipa gas bumi sedang kan saya ke pengen menggunakan fasilitas tersebut,jika kalau saya mau pasang fasilitas gas alam bisa kah & untuk biaya pemasangan nya berapa…

    Posted by ronny | 25 Oktober 2015, 12:30 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: