>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, Manufacturing Hope

Nasib 5-3-2 untuk Mengoreksi “Zaman Saya”

Senin, 17 Februari 2014
Manufacturing Hope 116

Mereka belum tahu harus berbuat apa. Ke-180 pengusaha kecil yang bergerak di bidang pembuatan pupuk organik ini lagi gundah. Awalnya dari surat seorang dirjen yang dilayangkan ke PT Petrokimia Gresik, yang selama ini mengelola subsidi pupuk organik untuk petani.

Dalam surat itu disebutkan Komisi IV DPR memutuskan untuk menghapus subsidi pupuk organik. Itu berarti PT Petrokimia Gresik yang selama ini menjadi pembeli tunggal pupuk organik hasil dari pabrik-pabrik kecil itu akan menghentikan pembeliannya. Sama saja dengan menyuruh pabrik-pabrik tersebut menghentikan kegiatannya. Ada 180 pabrik yang harus tutup. Dan, minggu lalu sudah benar-benar tutup.

Selama ini PT Petrokimia Gresik membeli pupuk organik dari mereka dengan harga Rp 1.200 per kilogram. Pupuk itu diolah kembali dengan teknologi modern dan dibuat standar. Misalnya, ditambah mixtro (produk petrokimia) agar bisa sekalian menjadi booster untuk padi.

Juga harus dipanaskan dengan suhu 350 derajat Celsius untuk mematikan gulma, bakteri, dan jamur yang merugikan tanaman padi. Setelah itu pupuk tersebut dijual ke petani dengan harga Rp 500 per kg. Dengan demikian, pemerintah memberikan subsidi Rp 700 per kg.

Petrokimia Gresik selama ini juga melakukan kampanye besar-besaran dengan menyosialisasikan rumus “5-3-2”. Sukses. Para petani sudah hafal dengan kode itu. Tanpa melakukan itu berarti cara mereka bertani dianggap tidak benar. Sosialisasi ini sangat berhasil.

Suatu saat saya diundang temu wicara di tengah sawah di Sumedang. Tidak hanya yang laki-laki, ibu-ibu pun bisa menjelaskan apa itu rumus “5-3-2”. Demikian juga saat saya menghadiri acara yang sama di Sragen. Di Klaten. Di Bantul. Di Cianjur. Rumus “5-3-2” sudah hafal di luar kepala: 500 kg organik (Petroganik), 300 kg NPK (Ponska), dan 200 kg urea untuk setiap hektarenya.

Itulah pemupukan padi yang benar. Dulu petani mengira tanaman itu kian terlihat hijau kian baik. Bahkan, kalau perlu, hijaunya sampai kebiru-biruan. Akibatnya, banyak petani yang berlomba memperbanyak urea. Padahal, itu hanya “tipuan”. Dan mahal.

Memang, dengan memperbanyak urea warna tanaman jauh lebih hijau. Tapi, ini tidak ada hubungannya dengan upaya memperbanyak buliran padi.

Di awal “zaman saya dulu” (maksudnya di zaman Pak Harto, hehe…) memang pupuk kimia seperti urea, digalakkan segalak-galaknya. Waktu itu memang zaman kekurangan pangan. Produksi beras harus digenjot: sebanyak mungkin dan secepat kilat. Pupuk kimia adalah jalan pintas mengatasi persoalan. Indonesia swasembada beras.

Namun, kemudian disadari bahwa penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus itu telah merusak tanah. Kesuburan tanah berkurang drastis. “Masih enak zaman saya” telah membuat “tidak enak di zaman Facebook dan Twitter”.

Mau tidak mau tanah yang mati akibat pupuk kimia itu harus dihidupkan kembali. Harus disuburkan. Caranya: memberikan pupuk organik di sawah-sawah itu.

Sudah lima tahun di zaman Pak SBY ini program menyuburkan kembali sawah dilakukan. Tiap tahun pupuk organik disubsidi. Agar terjangkau. Agar petani mau menebarkan pupuk organik. Agar tanah subur kembali.

Para petani juga mulai sadar akan pentingnya pupuk organik. Sangat bangga melihat petani mulai fanatik dengan pupuk organik. Rumus “5-3-2” sudah di luar kepala.

Haruskah kini petani kembali ke “zaman saya dulu”? Mengapa di saat seperti itu subsidi pupuk organik justru dihentikan? Haruskah petani lagi yang dikecewakan? Mengapa kelangsungan program Pak SBY ini harus terputus?

Ketika berkumpul dengan 180 produsen pupuk organik itu, Kamis minggu lalu di Gramedia Expo, Surabaya, masih belum ditemukan solusi. Mereka hanya bisa kecewa, mengeluh, dan marah.

Hadi Mustofa, anak muda Tulungagung yang juga produsen pupuk organik, akhirnya angkat bicara: kalau memang subsidi pupuk organik tetap dihapus, bagaimana kalau harga pupuk nonorganik dinaikkan? Dengan demikian, subsidi untuk nonorganik berkurang. Ini bisa dialihkan menjadi subsidi pupuk organik. Sekalian mengurangi pemakaian pupuk kimia.

Ini berbeda dengan tanaman tebu. Seluruh kepala petani tebu juga berkumpul di tempat yang sama Kamis lalu. Membicarakan upaya peningkatan produksi tebu. Ini sesuai dengan prinsip “gula itu dibuat di kebun, bukan di pabrik gula”. Artinya, untuk meningkatkan produksi gula mau-tidak-mau tebunya harus baik.

Mereka juga sepakat penggunaan pupuk organik di tanaman tebu sangat vital. Tebu yang dipupuk organik jauh lebih subur dibanding yang tidak.

Hanya, untuk tanaman tebu pabrik gula punya sumber pupuk organik yang murah. Pabrik gula menghasilkan limbah organik yang sangat besar. Blotong. Cukup untuk mengorganiki tanaman tebu di wilayahnya.

Untuk sawah sumbernya tidak tersedia di semua lokasi. Kecuali, kelak, setiap petani punya ternak sapi sendiri.

Tapi, di saat jumlah sapi terus merosot belakangan ini, subsidi pupuk organik harus kita perjuangkan. Apalagi, sebetulnya, nilai subsidi untuk pupuk organik bagi petani ini tidak besar-besar amat. “Hanya” Rp 800 miliar per tahun. Tidak ada artinya dibanding, misalnya, yang “satu itu”: k-o-r-u-p-s-i. (*)

Dahlan Iskan
Menteri  BUMN

Iklan

Diskusi

79 thoughts on “Nasib 5-3-2 untuk Mengoreksi “Zaman Saya”

  1. pertamax [lanjut baca]

    Posted by tyo | 17 Februari 2014, 5:29 am
    • “Masih enak zaman saya” telah membuat “tidak enak di zaman Facebook dan Twitter”.

      Posted by tyo | 17 Februari 2014, 5:34 am
      • lagi ga ada solusi ya?? cucian dech lo..

        Posted by Bru Wet | 17 Februari 2014, 7:07 am
        • Ahahaa.. bisa aja Bru Wet, tapi kampanyenya Pak Dis KEREN kan..

          Muanteb nih cara Pak Dis, beliau minta dukungan rakyat untuk ‘nyerang wakil rakyat’.
          Kalau gak hati-hati, manuver ini nanti bisa2 dimanfaatkan “orang sono” (seperti Bru Wet dan sebangsanya mungkin??) untuk black campaign bahwa Pak Dis tidak merakyat karena berani “menyerang wakilnya rakyat” (hehe, walau saya merasa gak terwakili.. atau mungkin karena saya dianggap bukan rakyat Indonesia kali ya.. jiahh koq jadi curcol)
          Memang kerjaan saya paling enak.. cuma PENGAMAT. dan kadang jadi provokator, ahahaha..
          Ayo rapatkan barisan, backup Pak Dis.
          Kasian masa mau disuapin solusi terus sama Pak Dis.. kita berjuang BARENG dong ah.. (enggak ngajak Bru Wet koq, beneran, sumpah)

          Posted by tedi KP | 17 Februari 2014, 9:28 am
          • Mau ngajak bru wet????
            Wani piro???

            Posted by kang san | 18 Februari 2014, 11:00 am
          • jelas sekali kalau dahlan memang tidak konsisten.. di tulisannya di atas mempertanyakan keberpihakan DPR dalam membela petani, tapi di berita yang lain justru memuji DPR.. kok jadi mencla mencle?? di MH berikutnya bisa ditebak tulisan Dahlan membela DPR ini..

            Dahlan Iskan Apresiasi Kebijakan DPR Soal Pupuk Organik

            “Saya memberi apresiasi yang tinggi kepada DPR yang telah memutuskan subsidi pupuk organik untuk tahun ini (2014),” kata Dahlan melalui layanan pesan singkat (SMS) kepada Antara, di Jakarta, Selasa (18/4).

            ini bukan sindiran.. tapi jelas sekali Dahlan sangat senang karena DPR telah memutuskan subsidi pupuk untuk petani..

            http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/02/18/n16aqx-dahlan-iskan-apresiasi-kebijakan-dpr-soal-pupuk-organik

            Posted by Kus Shoot | 18 Februari 2014, 6:01 pm
          • @Kus Shoot..kalau baca berita ya dipahami bro..baca secara utuh baru komen..

            Posted by dwi | 22 Februari 2014, 7:59 am
        • Solusinya sudah jelas disitu, lanjutkan subsidi! Dan perlu diusut, bisa jadi karena petrokimia tidak mau lagi bagi-bagi duit 800 m itu dengan orang komisi iv.

          Posted by DI the manager of the nation | 17 Februari 2014, 9:30 am
        • karena abah dis tdk mau : asal ngomong, asal solusi, asal sok pintar, asal sok populer, asal sok tahu, yang akibatnya menyesatkan, bisa kesasar.
          katanya dalam suatu tulisan beberapa waktu lalu “saya tidak bisa mengatakan apa yang saya tidak tahu dan pahami”.
          Abah Dis, smart, Bro !

          Posted by pemerhati | 18 Februari 2014, 3:13 pm
    • zaman kita memang berbeda 😀

      http://mariodevan.com/

      Posted by mariodevan | 18 Februari 2014, 9:10 am
    • judul: SATRIO PININGIT PRESIDEN KE-7 ADALAH JOKO LELONO.
      Dicopy dari komentar CAKRA NINGRAT http://satriopiningitmuncul.wordpress.com/satrio-piningit/comment-page-1/#comment-1018
      Bila rakyat sudah serba salah dan dipersalahkan maka saat-saat seperti itulah waktu yang tepat JOKO LELONO tampil membela rakyat. JOKO LELONO akan membiarkan pemilu 2014 berlangsung aman dan tertib agar kita semua terperangkap dalam satu suasana yang serba salah. Sebagaimana prinsip-prinsip hukum “GOD COMPILATION OF LAWS”, bilamana manusia telah menginjak-injak hukum manusia, maka hukum alam akan menegur manusia dengan bencana alam, bila bencana alam tidak juga difahami maka selanjutnya keputusan hukum dikembalikan kepada Tuhan. Bila Tuhan mengambil alih hukum maka ketetapan hukum Tuhan akan turun. Ketetapan hukum itu disebut dengan wahyu.

      Posted by murid baru | 18 Februari 2014, 9:40 pm
    • luar biasa bpk.dahlan is.bpk pantas jd presiden 2014 sy mendukung sepenuhnya.semoga indonesia akan jaya & makmur dibawah kepeminpinan bpk.insya ALLAH bisa.

      Posted by suyanto | 19 Februari 2014, 12:56 pm
    • Pengakuan tulus dari IBU YENI,NURLINA TKI Yang kerja di disingapore.
      Saya mau mengucapkan terima ksih yg tidak terhingga, serta penghargaan & rasa kagum yg setinggi-tingginya kepada MBAH RORO, saya sudah kerja sebagai TKI selama 9 tahun disingapore,dengan gaji lebih kurang 2.5jt/bln,tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,apalagi setiap bulan harus mengirim orang tua di majalengka, sudah lama saya mengetahui roomnya om ini, juga sudah lama mendengar nama besar MBAH,tapi saya termasuk orang yangg tidak terlalu percaya dengan hal ghoib, jadi saya pikir ini pasti kerjaan orang iseng yang mau menipu.
      tetapi kemarin waktu pengeluaran , saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsang,angka yg diberi MBAH RORO ternyata tembus, awalnya saya coba2 menelpon, saya bilang saya TKI Yang kerja di singapore mau pulang tidak ada ongkos, terus beliau bantu kasih angka . mulanya saya tdk percaya,mana mungkin angka ini keluar, tapi dengan penuh pengharapan saya pasangin kali 100 lembar, sisa gaji bulan april, ternyata berhasil….!!!
      dapat BLT 200jt, sekali lagi terima kasih banyak MBAH RORO, saya sudah kapok kerja jadi TKI, rencana senin depan mau pulang aja ke PALEMBANG.buat MBAH,saya tidak akan lupa bantuan dan budi baik MBAH.
      yang ingin merubah
      nasib seperti saya silahkan hub MBAH RORO di no. 0853,9453,7578 ATAU

      WEBSITe _RORO{ :> http://wwwprediksimbahjenggo.webs.com }

      Demikian kisah nyata dari saya tanpa rekayasa.
      IBU yuly tki.
      MAKASIH OM ROOMNYA

      Posted by Angka Toto | 7 Maret 2014, 10:19 am
  2. Apalagi, sebetulnya,
    nilai subsidi untuk pupuk organik
    bagi petani ini tidak besar-besar
    amat. “Hanya” Rp 800 miliar per
    tahun. Tidak ada artinya dibanding,
    misalnya, yang “satu itu”: k-o-r-u-p-
    s-i.

    Posted by aburachman | 17 Februari 2014, 5:44 am
  3. Semoga Allah memberikan kedudukan yang strategis kepada Abah di tahun 2014…agar nasib petani LEBIH DIPERHATIKAN dan gerak pembangunan BENAR_BENAR PRO RAKYAT…menuju kepada kemandirian bangsa yang ujungnya MENGANGKAT HARGA DIRI INDONESIA…

    Salam ACI…kerja…kerja…kerja GBU all.

    Posted by wning | 17 Februari 2014, 6:13 am
  4. enakan di korupsi kali dari pada buat subsidi petani. bener2 kebalik ini . katanya berjuang untuk rakyat mana buktinya?

    Posted by cah wonogiri | 17 Februari 2014, 6:21 am
  5. selalu ada cara bagi yang mau menyelesaikan masalah

    Posted by U Tuh | 17 Februari 2014, 6:24 am
  6. Lebih baik di K.O.R.U.P.S.I. dari pada di subsidi le petani gurem..
    Lebih baik subsidi untuk mobil M.E.W.AH. Hasil KORUPSI,Dari pada subsidi Petani gurem..
    Ngapain mikirin Petani,,toh mereka perlu hanya 5 tahun sekali …

    Posted by Putu EW | 17 Februari 2014, 6:57 am
    • betul mas putu….. bagi wakil rakyat…enak nya dikorupsi daripada diberikan ke petani kecil….klo berani subsidi bbm….pasti wakil rakyat akan menghasut…..rakyatnya agar demo besar besaran…aneh bin ajaib negeri tercinta ini

      Posted by suhardi | 18 Februari 2014, 12:09 pm
  7. Semoga bapak-ibu pembuat membuat keputusan tentang subsidi pupuk ini terbuka hatinya, sehingga keputusan yg diambil benar2 berpihak ke kepentingan rakyat….belum terlambat kok, masih bisa direvisi…demi rakyat!

    Posted by SA R K I M | 17 Februari 2014, 7:08 am
  8. Ternyata pak Dahlan juga tahu trend cuplikan kalimat tentang pak Harto (Alm.) yang lagi naik daun dicetak di baju-baju kaos.

    Posted by Heiruddin | 17 Februari 2014, 7:09 am
  9. JADI INGAT,,, PIYE LEE KABARE ,,,ISIK PENAK JAMANKU TOO

    Posted by nurali | 17 Februari 2014, 7:24 am
  10. begitulah kalau negara mau bangkrut, subsidi untuk rakyat dihapus uangnya untuk subsidi KORUPSI….

    Posted by waluyo | 17 Februari 2014, 7:26 am
  11. Apa DPR dibubarkan saja yaa….
    Dari pada mbayarin orang yang nggak pernah memikirkan nasib negeri ini ???

    Posted by kang chip's | 17 Februari 2014, 7:31 am
  12. Nah, lagi-lagi petani yang dikorbankan atas nama apa lagi ini . Ini akibat kebanyakan anggota DPR orang-orang karbitan asal punya uang, asal terkenal dan bkan negarawan kemitmennya terhadap perbaikan nasin rakyat tidak ada, buktinya tidak kritis akibatnya keputusan yang diambil tidak cerdas sama sekali, alias pamer kebodohan keputusan untuk pengusaha pupuk organik yang masih kecil-kecil = 180 pengusaha untuk tidak memperoleh subsidi. Seharusnya yang sudah ada ini ditambah lagi sesuai dengan kebutuhan pupuk bagi petani supaya menghasilkan produksi padi dengan kwalitas yang baik sebagai pemenuhan kebutuhan akan beras nasional.

    Alasan menghentikan subsidi ini apa ya?, seharusnya dipublikasikan supaya rakyat dapat membaca dan bisa memberikan masukan bahwa keputusan yang tidak cerdas itu harus dicabut. Bung Dahlan, usul saya pertama, para produsen pupuk organik ini harus difasilitasi untuk ketemu pengambil keputusan yang menghentikan subsidi baik di DPR RI maupun Excutive apa ada kaitannya dengan Kementerian Pertanian. Kedua berita ini harus di expose besar-besaran agar membentuk publik opini dan mendesak pihak terkait untuk segera mencabut kebijakan “Penghentian SUBSIDI INI” dan ketiga minta pak SBY selaku Presiden RI. jangan tinggal diam dengan situasi ini hitung-hitung sebagai tinggalan yang baiklah. Akibat dari penghentian subsidi ini yang sudah pasti ada pengangguran bertambah dan daya kreasi putra-putra bangsa untuk menciptakan pupuk organik menjadi padam, lalu bagaimana ini ?? Bangsa Indonesia ini mau dibawa kemana si sebetulnya oleh para penyelenggara negara?? cara berfikir mereka sulit dipahami oleh masyarakat yang sedang memberdayakan dirinya untuk tidak tergantung pada segala yang import.

    Bung Dahlan yang baik, program pemberdayaan peternak sapi adalah program yang mendesak sebagai pemenuhan beberapa kebutuhan yakni pupuk dari kotorannya; daging dari dagingnya, dan peternak sapi tidak nyambi menjadi petani padi, ini dua hal yang berbeda konsentrasinya. Seorang peternak itu sedikitnya harus mempunyai sapi minimal 12 ekor, sehingga ia sepenuh waktu mengurus sapi tidak nyambi kerja lain sebab kalau nyambi kerja lain sapinya akan kurang perhatian. Mengapa minimal harus 12 sapi seorang peternak, hasilnya dapat untuk menghidupi diri dan keluarganya termasuk dapat menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi, jika program wajib sekolah 9 tahun itu betul-betul berjalan. Jelas dengan demikian memberikan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan seperti amanat UUD 1945. Bisa cukup sandang, cukup pangan, papan, sekolah, kesehatan ya seperti teori Abraham Maslow itu lah.

    Peternak harus dididik terlebih dahulu bagaimana mengurus sapi yang baik dan mengatasi jika ada masalah, dan terus harus ada pendampingan karena Indonesia belum mempunyai pengalaman bagaimana beternak yang baik dan dapat menghidupi warganya, tentu dapat kerjasama dengan Fakultas pertanian yang ada di berbagai Universitas di Indonesia, sekaligus menghidupkan mereka juga menjadi bermakna yang hingga hari ini fakultas-fakultas pertanian itu hampir kehilangan identitas sebagai fakultas pertanian, karena pengabdian kepada masyarakatnya tidak terasa dan tidak bergaung sama sekali, sumbang sih pikiran-pikiran ke penyelenggara negara tidak terdengar atau tidak di gubris ya sama penyelenggara negara itu? Sudah tiba saatnya kerjasama dengan semua pihak untuk menciptakan kembali Indonesia yang bermartabat dengan menghargai daya kreatifitas para putra-putri bangsa-lah salah satunya menciptakan pupuk organik.

    Melakukan perubahan sosial yang lebih baik (transformasi sosial) memang tidak mudah di Indonesia karena pemberangusan ide-ide kreatif rakyat telah lama dilakukan oleh penguasa. Sekarang memang tugas yang berat dan celakanya lagi penyelenggara negara yang mau turun ke masyarakat dan mendengar keluhan tidak banyak. Masih untung ada Bung Dahlan yang selalu tekun datang ke petani, peternak (sapi masih sedikit). Yang lain hanya di belakang meja akibatnya membuat kebijakan atas dasar ….. tak jelas. Anggota DPR RI saja kalau reses ya tidak hadir temui rakyat di dapil nya kalaupun ada hanya sangat sedikit orang, ini cerita rakyat saat kami ketemu dan ngobrol sampai pada anggota DPR RI kalau reses kesini apa tidak jawabnya “tidak tuh” waktu kampanye memang datang.

    Ke depan ini para Menteri harus yang profesional lah jangan dipaksakan dari partai yang bukan kapasitasnya menjadi Menteri akibatnya salah urus melulu, ya korbannya siapa lagi kalau bukan rakyat. Masak rakyat jadi korban kebijakan si …seperti lelucon kan nasib rakyat kok di buat coba-coba.

    Nah, ini dulu Bung Dahlan masukan dari saya sekitar yang saya tahu. Soal-soal pertanian rada tahu karena saya berasal dari daerah pertanian di Madiun, rakyat menangis sejak import beras besar-besar, impor gula besar-besaran, Madiun kan daerah pertanian padi dan tebu, wauw.. banyak mahasiswa dropout dari kuliahnya gara-gara petani bangkrut. O.. iya Bung kaum nelayan juga parah lho bung nasibnya, mereka dililit hutang dan banyak nelayan tidak punya rumah hanya tidur di perahu, beberapa tahun lalu saya melakukan observasi belum penelitian.

    Selamat berjuang.

    Posted by Ari Sunarijati | 17 Februari 2014, 7:46 am
    • mantab,bung ari!!!lets vote DI for RI 1………

      Posted by muh mundir | 17 Februari 2014, 8:03 am
    • Hebat “masukan”nya. Intinya, profesi petani bukan profesi kelas bawah (umumnya masyarakat kita berpendapat begitu), Petani adalah profesi mulia, karena menyediakan bahan dasar pokok dan bergizi (kl produknya berkualitas tinggi) yang diperlukan untuk generasi hebat Indonesia di masa yad. Jadi, kalau jadi petani termasuk peternak dan nelayan, jangan sebagai pekerjaan sampingan. Anak-anak para petani ini termotivasi untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya untuk kemudian kembali ke kampung halaman, meningkatkan teknologi pertanian yang ada.

      Posted by Weni | 17 Februari 2014, 3:02 pm
    • Bagusnya abah dis jadi PRESIDEN merangkap ketua DPR / MPR sekaligus jadi panglima tertinggi militer. Pasti deh, beresssssss, semuaaaaaaaa !

      Posted by pemerhati | 18 Februari 2014, 3:29 pm
  13. Yang perlu diketahui oleh kita semua adalah kenapa DPR mencabut subsidi untuk pupuk organik? apakah ada alasan yang bisa diterima nalar kita? dalam tulisan Manufacturing Hope 116 ini Pak Dahlan tidak menjelaskannya secara gamblang, sehingga ‘seakan-akan’ DPR dipersalahkan karenanya.

    Posted by Zikrul Zaki | 17 Februari 2014, 7:50 am
    • ya jelas dpr akan dipersalahkan mas….kenapa subsidi bagi petani dicabut….dan kenapa subsidi bagi orang kaya gak dicabut (subsidi bbm bagi orang yg punya mobil lebih dari 1…..harganya milyaran lagi)….

      Posted by suhardi | 18 Februari 2014, 12:13 pm
  14. Pasti ada solusi dr Pak Dis.
    Tetap Semangat!

    Posted by msodikvip | 17 Februari 2014, 8:00 am
  15. ngenes….

    Posted by muh mundir | 17 Februari 2014, 8:00 am
  16. paman saya jg pengusaha pupuk organik, skarang memang macet dan merugi ratusan juta. dan memang petani dalam hal ini ikut kena dampaknya. Tapi, ada hal lain yg sya cermati. sebenarnya sistem di bawah juga tidak luput dr hal yg berbau KORUPSI. Harga 1.200 dr industri pupuk itu telah dimarkup. SHS dan Petro trlibat dlm hal ini. tp stelah d’pikir2, harga 1.200 – 700(subsidi) = 500 (harga jual), terasa agak aneh. lha biaya pengolahan kembali oleh petrokimia dr mna?? truz kenapa SHS mmberikan sak yg sudah tertulis logo SHS, apakah benar harus d’olah kembali?? bukankah barang yang telah di beri logo biasanya langsung di jual??
    tapi sya sngat stuju dg Pak DI, pupuk organik harus d’hidupkan kembali dan harus ada perbaikan jg d’bawah..

    Posted by ago okia | 17 Februari 2014, 8:08 am
    • mas ago okia terimakasih sudah share

      saya tambahkan biar rame

      Mencabut Subsidi pupuk organik memang pro dan kontra,

      180 pemasok pupuk organik bisa jadi kehilangan tempat untuk menjual akhir produksny, apalagi kalau 180 itu adalah mitra binaan pabrik pupuk sendiri,
      bisa jadi juga ada kongkalikong antara pengrajin pupuk organik sama pabrik pupuk …..

      tapi kita juga harus jeli dan menghitung berapa ribu pengrajin pupuk organik yang produknya tidak dapat dibeli oleh pabrik pupuk itu sendiri, dengan berbagai lain hal,
      sehingga ada cemburu buta tingkat tinggi dan berjamaah antara yang bisa dibeli langsung sama pabrik pupuk sama yang tidak,
      ini akan menjadi fair semua pabrik pupuk organik bertarusng langsung tanpa ring bebas di lapangan,

      kecuali metodenya dibalik ….
      semua subsidi pupuk non organik dihilangkan (18 trilyun) dan dijadikan subsidi langsung ke pengrajin pupuk organik dengan hitungan total penjualan,
      nah ini harus dibuatkan rule dulu, siapa produsen organik yang mendapat, subsidi penjualan …,
      jika masih ribed !!!!!!!!,
      yasudah …
      beli pgabah petani lebih mahal dari harga beras … atau sama,
      jadi subsidi kepada petani jatuh ketika membeli gabah petani, 18 trilyun dikonversi unntuk pembelian gabah yang agak mahal,
      siap siap bulog perang dengan pere pengepul …..

      Posted by swbkawalishayun | 17 Februari 2014, 9:39 am
  17. @desakDPRsupaya mau ikut acara tukar nasib di tv! giliran jadi petani! sadar gak mereka ya?

    Posted by @yama | 17 Februari 2014, 8:12 am
  18. subsidi Pupuk organik yang hanya sekira 800 milyar / Tahun, sangat jauh jika dibanding subsidi BBM yang mencapai lebihdari 200 Trilyun per tahun.

    Kenapa wakil rakyat tidak coba mengalihkan subsidi energi 10 persen saja untuk bidang pangan dan pertanian ?. Apakah tidak terlalu pentingkah sektor pertanian kita jika dibandingkan dengan sektor energi ?.

    Posted by Manihot Ultissima | 17 Februari 2014, 8:43 am
    • itulah bung manihot….menyedihkan sekali cara berpikir dpr kita….kenapa subsidi bbm tidak dikurangi sampe separohnya….untuk dilaihkan ke yang lain…misal subsidi pupuk….dlll……mending bubarkan aja…dpr…dari pada banyak subsidi yg dikorupsi…..

      Posted by suhardi | 18 Februari 2014, 12:16 pm
  19. MENYEDIHKAN…!! Beginilah jadinya bila sistem politik kita dicampuri oleh pengusaha. Politik kita harus bersih dari dukungan pengusaha, sehingga anggota Dewan Yang Terhormat (a. k. a. DPR) bisa membuat perdebatan atau kebijakan anggaran yang pro-“POOR,” bahwa politik kita memang kotor oleh lobby-lobby para pengusaha tampak saat anggota DPR “memaki-maki” kebijakan Bapak SBY yang menaikan harga BBM. padahal BBM tidak ada gunanya disubsidi, mereka yang mendapat nikmat dari subsidi BBM adalah yang mampu dan Grup Astra dkk. secara tidak langsung (melalui volume penjualan kendaraan). Dengan sistem politik yang bebas dari dukungan “Pengusaha” para anggota Dewan pasti akan berpikir tentang kebijakan yang waras seperti hentikan subsidi BBM, perbanyak subsidi untuk Pertanian, Kesehatan, dan Pendidikan. Dukungan untuk infrastruktur dan pembangunan untuk yang merata di kawasan timur, barat, dan utara Indonesia. karena, kebijakan yang waras akan mendapat banyak dukungan dari yang mendapat manfaat (si miskin). karena Pendidikan, Pertanian, Kesehatan melibatkan lebih banyak tenaga kerja dan lebih menyentuh banyak kaum miskin, daripada beberapa koorporasi yang bersekongkol dengan para pemimpin bangsa. Sayangnya kita senang mebiarkan para pengusaha merasuki jiwa-jiwa anggota DPR dan Eksekutif melalui sponsor/dukungan finansial pada kampanye mereka. Mari bebaskan Sistem Politik Indonesia dari aksi koorporasi.Ingat sebuah negara adalah PERUSAHAAN PUBLIK yang mendapat penghasilan dari rakyat, untuk “keuntungan” rakyatnya secara merata, bukan rakyat yang punya perusahaan besar saja, tetapi rakyatnya secara keseluruhan.

    Posted by Subita Arsana | 17 Februari 2014, 8:47 am
  20. Ini gara-gara swasembada beras, importir rugi dan sudah mau dekat pileg anggota dewan butuh dana segar..terjadilah keputusan haram ini…mari gedor Senayan, ada yang tau angota legislatifnya ga?..kalo anggota dewan punya berani dan tidak bersalah ayo panggil dahlan! klarifikasi!

    Posted by munduf | 17 Februari 2014, 8:54 am
    • Persis seperti dugaan sy juga tuh… Tahun ini kita bisa tidak import beras karena sukses swasembada, tiba2 muncul beras import siluman… Manuver para mafia importir ternyata sudah masuk ke DPR (atau mafianya itu anggota DPR kali ya….) supaya tahun depan dan seterusnya beras, buah2an, hp/gadget, kendaraan/transportasi umum, dll sampai jarum pentulpun Indonesia harus import… Demi keuntungan yang sebesar-besarnya mafia importir (yg notabenenya adalah penjajah bangsa saat ini…)
      Mari dukung Abah demi Kemerdekaan Bangsa Indonesia dalam segi Ekonomi dan lain2nya…. Baik dlm perjalanannya menuju RI-1 ataupun sekarang sebagai menteri BUMN yang diserang dari berbagai arah oleh Para PENGKHIANT BANGSA (Mencari keuntungan PRIBADI dan menjadi ANTEK PENJAJAH EKONOMI RI)….
      ALLAH AKBAR…

      Posted by Dedi TN | 17 Februari 2014, 11:31 am
  21. per 2 Ha sawah bisa untuk memelihara sapi 2 ekor, jd selain hasilkan padi, jerami bs digunakan sebagai pakan sapi tadi, kotoran 2 ekor sapi tadi mampu cukupi pupuk organik untuk lahan 1 hektar. jadi tidak ada yang terbuang dari proses sistem pertanian terintegrasi. selain itu, sebelum diolah jd pupuk, kotoran sapi bisa digunakan untuk biogas sehingga kelangkaan LPG tidak akan berpengaruh. Daerah saya ada sekitar 32 Ha, yang artinya dapat menghidupi 64 ekor sapi. di daerah saya juga terdapat PTPN IX Kebun merbuh kira – kira apakah dapat menjadi mitra petani dengan memberikan dana PKBLnya? kalo bisa mungkin akan sangat berguna bagi masyarakat, itu belum potensi di desa sekitarnya yang tidak kalah bagusnya. sebagai catatan, semangat petani di daerah saya itu sangat bagus, dan memiliki mental yang baik, bekerja keras dan jujur. dalam berbagai hal jg seperti itu, sebagai contoh saat pemilu yang daerah lain warga malas mencoblos, partisipasi pemilih bisa sampai diatas 80 % dan saat pemilihan kades yang menang yang tidak pakai money politik, yang memakai money politik justru kalah. hal tersebut, menandakan kesadaran masyarakat untuk lebih baik sudah tinggi. tinggal diberi sentuhan program yang bagus seperti PKBL pasti jadi, insyaAllah.

    Posted by lingga bayu | 17 Februari 2014, 8:57 am
  22. sawahnya sudah dipupuki sama gunung kelud. uang subsidinya buat bencana aja..kalii?

    Posted by kurni-own | 17 Februari 2014, 9:07 am
  23. Wahhh, kelihatannya mulai gegeran lagi nii sama DPR, Sangat Menohok. tonjeg point…!!!

    Posted by Didin | 17 Februari 2014, 9:11 am
  24. Pak DI
    hapus dulu program ini http://pupuk-indonesia.com/en/marketing/program-info/gp3k-2
    supaya petani bisa mandiri, tidak tergantung hutang yang didesain BUMN dan bisa menggunakan pupuk kombinasi

    Posted by m. sugiyanto | 17 Februari 2014, 9:11 am
  25. testimoni dari
    professor sugiharto wahyu yang sedang mengembangkan padi mikroba di NTB

    Mestinya Subsidi Pupuk Non Organik Dicabut

    Komisi IV DPR RI membuat keputusan yang sangat mengejutkan, yakni mencabut Subsidi Pupuk Organik. Ini benar-benar keputusan dari orang-orang yang terhormat
    tetapi sebenarnya tidak terhormat. Mereka mengaku wakil rakyat, tetapi sama sekali tidak berpikir untuk membela kepentingan rakyat kecil kalangan petani yang terus hidup
    termarjinalkan dengan kemiskinannya.
    Bayangkan, pupuk organic yang sekarang mulai memasyarakat di kalangan petani dalam usaha memulihkan kondisi kesuburan tanah yang telah lebih 30 tahun diracuni dengan pupuk
    non organic yang menggunakan bahan-bahan kimia, sekarang subsidinya dicabut. Sementara subsidi pupuk non organic yang telah merusak kesuburan tanah pertanian dipertahankan.
    Apakah anggota DPR yang berjumlah 560 orang didukung dengan ribuan staf ahli dan asisten pribadi itu tidak faham tentang pertanian dan pupuk organic serta pupuk non organic?
    Kayaknya sangat mustahil. Yang paling pasti, dalam otak mereka adalah agar produksi bahan pangan dari pertanian tetap tidak mencukupi untuk konsumsi dalam negeri. Sehingga
    semuanya harus diimpor dari berbagai Negara lain, karena dari impor impor impor itu, jelas fee fee fee yang mereka terima.
    Penulis berani menegaskan seperti itu, semuanya berdasarkan fakta. Salah satu contohnya, ya kasus impor daging yang melibatkan mantan Presiden PKS (Partai Keadilan Sejahtera
    ) Luthfi Hasan Ishaaq yang saat ditangkap oleh KPK juga anggota Komisi I DPR RI. Atas perjuangannya mengusahakan rekomendasi dari Menteri Pertanian Suswono yang juga
    pimpinan PKS agar PT. Indoguna Utama dikasih jatah impor daging hingga 8.000 ton atau 8 juta kg, Luthfi yang divonis 16 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor itu,
    mendapatkan fee Rp 5.000,- (lima ribu perak)/Kg.
    Hanya Rp 5.000,-. Tetapi jika dikalikan dengan 8 juta kg, hasilnya lumayan juga, Rp 40 milyar (Empat puluh milyar rupiah). Cukuplah untuk nambai tekad PKS untuk jadi partai r
    dalam Pemilu legislative 9 April nanti.
    Benar-benar menggiurkan… Duit seperti itulah yang dikejar mantan teman-teman Luthfi Hasan Ishaaq yang sekarang bercokol di DPR RI. Apalagi sekarang mereka sedang ‘’berbaik
    hati’’ pada rakyat agar dipilih sebagai anggota DPR lagi. Mereka akan mengorbankan duit berapa pun agar terpilih lagi. Sebagai gantinya, ya dari fee fee fee itulah
    yang mereka kejar dengan mencabut subsidi untuk pupuk organic. Sehingga, para petani tetap menggunakan pupuk non organic agar produksinya tetap tidak mencukupi kebutuhan
    konsumsi nasional. Dengan demikian, jalan keluarnya ya impor impor impor terus.
    Mereka tahu, jika para petani itu menggunakan pupuk organic, maka produksi padi akan berlimpah, yang berarti ada harapan kita swasembada beras. Ini berarti,
    tidak akan ada impor impor impor beras dan kebutuhan konsumsi lainnya, yang berarti tidak akan ada fee fee fee lagi. Untuk itu, petani tidak boleh menikmati harga murah
    pupuk organic yang disubsidi selama ini.Pupuk Organik Mikroba Lebih Murah
    Dari pengalaman penulis yang akhir-akhir ini terlibat langsung sebagai pembinaan petani dalam penanaman padi organic pola mikroba di NTB (Nusa Tenggara Barat),
    sebenarnya penggunaan pupuk mikroba sangat murah dan tanpa subsidi sama sekali. Dalam 1ha sawah untuk penanaman padi organic, hanya memerlukan biaya sekitar Rp 800.000,- (
    Delapan ratus ribu rupiah), sementara untuk padi non organic yang menggunakan pupuk urea, bisa mencapai 600 kg a Rp 2.000,-/kg atau Rp 1,2 juta, belum lagi ditambah dengan
    pupuk TSP, NPK, pestisida, herbisida dan sebagainya, yang total bianya mencapai sekitar Rp 2 juta.
    Itu hanya untuk pupuk, dan untuk non organic udah disubsidi. Sementara pupuk mikroba yang kami pakai, sama sekali tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah.
    Itulah sebabnya, kami selalu menggunakan motto : Kami Bangga menjadi Petani Tanpa Subsidi Negara
    Dengan pupuk mikroba yang sangat murah itu, hasil produksinya bisa dua kali lipat hingga 3 atau 4 kali lipat dari produksi padi non organic. Belum lagi harga jual berasnya,
    di sejumlah mall, minimal Rp 26.000,-/kg dan ada yang mencapai Rp 40.000,-/kg. Beras non organic, hanya Rp 8.000,-/kg. Produksi beras non organic yang menggunakan pupuk
    bersubsidi, seperti urea, TSP, NPK, pestisida dan herbisida, hasilnya hanya 4-5 ton/ha. Padi organic pola mikroba minimal 8 ton, tanam ke dua bisa 12 ton,
    tanam ke 3 bisa 14 ton/ha dan seterusnya.
    Dengan hasil produksi padi organic pola mikroba seperti itu, sebenarnya subsidi tidak diperlukan lagi. Bahkan, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Indonesia akan surplus
    produksi padi organic. Permintaan ekspor padi organic dari berbagai Negara ke Indonesia sangat besar. Dari data yang ada, permintaan itu mencapai 350.000 ton/tahun,
    sementara produksi padi organic Indonesia yang bisa diekspor hanya sekitar 120.000 ton/tahun. Sekitar 200% permintaan ekspor padi organic ke berbagai Negara yang belum
    bisa dipenuhi oleh Indonesia.
    Bukan hanya kebutuhan pupuk yang sangat irit dalam penanaman padi organic pola mikroba ini, juga dalam hal kebutuhan bibit. Kalau bibit padi non organic,
    biasanya bisa mencapai dari 100 kg hingga 120 kg/ha. Sementara untuk bibit organic, hanya perlu bibit 6-7 kg/ha dan tidak perlu bibit unggul atau varietas tinggi.
    Yang penting, bibitnya berisi penuh dan berkualitas.
    Dalam masalah kebutuhan air, padi organic pola mikroba ini hanya sekitar 20% sampai 30% dari kebutuhan air padi non organic.
    Sementara untuk kebutuhan produksi dan operasional lainnya, relative tidak jauh berbeda, seperti biaya bajak, biaya penyiangan, biaya penanaman (Organik lebih murah,
    karena bibitnya hanya 6-7 kg/ha).
    Penanaman padi organic pola mikroba ini, bukan hanya produksinya yang tinggi, tetapi kualitasnya sangat baik dan sehat karena tanpa kimia atau residu yang
    ditinggalkan oleh pupuk non organic berkimia, juga tanah makin subur dan tidak merusak lingkungan.
    Dengan demikian, sebaiknya subsidi pupuk non organic itu yang dicabut, sehingga petani beralih ke penanaman padi organic yang bisa menyehatkan tanah,
    produknya juga beras yang bebas dari residu yang ditinggalkan oleh pupuk non organic berkimia. Kesehatan lingkungan lebih terjamin dan masyarakat Indonesia
    yang mengkonsumsi padi organic bisa lebih sehat dan gagah, tidak mudah terserang berbagai penyakit.
    Semoga semuanya sukses, Demi Indonesia yang lebih baik dan lebih bermartabat
    Jakarta, Senin 17 Februari 2014
    https://www.facebook.com/groups/DemiIndonesiaJaya/457395694388222/?notif_t=group_activity

    Posted by swbkawalishayun | 17 Februari 2014, 11:26 am
  26. Mantap DI,semoga berjuang trus agar pupuh organik/pabrik2 kecil tetap hidup,sdh tdk jamannya lagi petani dibodohi para penguasa dan jadi pekerjaan tani sebagai lapangan kerja yg menjanjikan.jadi petani hrs diberi subsidi dan maju.

    Posted by toga | 17 Februari 2014, 11:38 am
  27. Oke,terimakasih.

    Posted by Ellan Barlian | 17 Februari 2014, 1:05 pm
  28. tidak ada komentar lain lagi kecuali supaya dahlan iskan menjadi RI-1, supaya nasib petani menjadi lebih diperhatikan…

    Posted by Mohammad supriyadi | 17 Februari 2014, 2:50 pm
  29. korupSI SAPI..

    Posted by ihsan | 17 Februari 2014, 3:08 pm
  30. hidup petaniii

    Posted by masbrowww | 17 Februari 2014, 6:28 pm
  31. Berbicara subsidi memang dilematis, apabila dilakukan secara terus menerus maka potensi lokal yang ada di tingkat petani menjadi tidak mempunyai posisi tawar. Sehingga petani lebih baik memberi petroganik bersubsidi yang harganya murah daripada mengolah kotoran ternak ya sendiri.

    Posted by SANTOSO MT | 17 Februari 2014, 7:59 pm
  32. Dewan Yth,
    aku tantang dialog di tengah sawah (bukan di gedungmu yg mewah)
    apa alasanmu cabut subsidi ?
    tolong katakan pada kami,……..

    hidup petani Indonesia!!

    Posted by Dwi P | 17 Februari 2014, 8:41 pm
  33. Akhirnya…..mudah2an benar terealisasi.

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –- Pemerintah bersama DPR sepakat tetap mengalokasikan subsidi pupuk organik. Kesepakatan itu dicapai dalam Rapat Kerja antara Komisi IV DPR dengan Menteri Pertanian RI, Senin (17/2) di gedung parlemen, Jakarta.

    Kesepakatan tersebut tercapai setelah Menteri Pertanian RI Suswono menyampaikan sejumlah implikasi teknis jika subsidi pupuk organik direalokasi untuk menambah kuantum atau jumlah pupuk nonorganik, yang tahun 2014 ini produksinya turun dari 9,5 juta ton menjadi 7,8 juta ton karena adanya kenaikan harga penetapan pemerintah (HPP).

    Mentan mengungkapkan, implikasi pertama yang ditimbulkan realokasi tersebu adalah terjadinya perubahan kuantum pupuk sebagaimana alolakasi volume penyediaan per jenis pupuk yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 122/Permentan/SR.130/11/2013 . Sehingga perubahan kuantum pupuk bersubsidi memerlukan perubahan Permentan, yang selanjut diikuti revisi Peraturan Gubernur (Pergub) dan Peraturan Bupati/Walikota.

    “Semua revisi peraturan itu akan memerlukan waktu dan berdampak pada pelaksanaan penyediaan dan penyaluran pupuk bersubsidi tahun 2014,” kata Mentan Suswono dalam siaran persnya.

    Kedua, penghapusan subsidi pupuk organik membawa dampak terhadap upaya pemupukan berimbang oleh petani, serta tidak sejalan dengan upaya pemerintah mendorong penggunaan pupuk majemuk (NPK) dan organik.

    Mentan mengemukakan, perlu juga dipertimbangkan penggunaan pupuk organik dalam kurun 2008-2013 trennya terus meningkat. Tahun 2008 hanya 68.400 ton, tahun 2013 penggunaan pupuk organik menjadi 760.363 ton.

    Ketiga, jumlah pupuk organik yang dihasilkan petani masih jauh dari kebutuhan nasional. Unit Pengolahan pupuk Organik (UPPO) yang dibangun dalam kurun 2009-2013 sebanyak 1.934 unit dengan jumlah sapi sebanyak 58.645 ekor. Dari jumlah itu pupuk organik yang dihasilkan baru 80 ribu ton.

    Menurut Mentan, angka ini jauh dari tingkat serapan pupuk organik bersubsidi oleh petani yang tahun lalu mencapai 760 ribu ton. “Apalagi jika dibanding dengan kebutuhan pupuk secara total sebesar 9,8 juta sampai dengan 13,4 juta ton per tahun,” tandas Mentan.

    Dalam rapat kerja yang dipimpin Ketua Komisi IV Mochammad Romahurmuziy tersebut dewan dapat menerima alasan-alasan teknis yang disampaikan Pemerintah, sehingga sepakat untuk tetap memberikan subsidi untuk pupuk organik. Sementara mengenai kekurangan kuantum pupuk nonorganik yang berkurang dari 9,5 juta ton menjadi 7,8 juta ton akan dipenuhi dengan mekanisme kurang bayar. Itu pun dengan catatan apabila tidak ada APBN Perubahan. Jika ada APBNP maka akan dilakukan revisi terhadap besaran subsidi pupuk nonorganik tersebut.

    http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/14/02/17/n15btc-subsidi-pupuk-organik-urung-dicabut

    Ya sudah….sekarang kalau ganti topik lain gak apa apa kan?…………

    Posted by pakde | 18 Februari 2014, 5:24 am
    • Ga apa-apa ..

      Posted by Apa Saja | 18 Februari 2014, 7:50 am
      • Saya bersyukur ada MH yang selalu bisa memompa semangat optimis untuk belajar dan maju untuk meraih masa depan lebih baik, tetapi saya mau out of topic dari MH ini dengan niatan berbagi ilmu dan pengalaman yang mungkin berguna untuk anda semua apalagi yang punya anak dan mungkin sudah banyak dari anda merasakan ini, begini awalnya…banyak dari kita apalagi para pelajar dan mahasiswa tanpa disadari telah dibodohi dan tercuci otak kita oleh media khususnya elektronik (televisi), ini sebenarnya pengalaman dan pemahaman saya sendiri yang kemudian saya praktekkan dan Alhamdulillah terasa manfaatnya yaitu bisa puasa tidak melihat televisi selama “hampir satu tahun ini”,…..dulu saya maniak sekali dengan televisi mulai sejak bangun tidur,mau berangkat dan pulang kerja, saat santai dan mau tidur selalu nonton tv, lalu tiba2 ada perasaan aneh, lama2 ada semacam “kebiasaan dan pemahaman/pemikiran” yang saya rasa menyimpang dari norma2 budaya dan agama juga sebagai bangsa yang berkeinginan untuk maju,nah loh!…yang saya maksud “kebiasaan” menyimpang yang saya alami adalah kalau tidak ke mall,dept. store,food court,fast food dll.tiap minggu terasa gimana gitu…walau kadang Cuma lihat2 saja, lalu “pemikiran” menyimpangnya adalah menganggap wajar orang2 (terutama perempuan) berpakaian seksi,mini dan ketat dijalanan, selalu dunia barat adalah yang terbaik dan kita terbelakang dan parahnya budaya mereka juga saya anggap wajar ,dan dunia hiburan adalah segalanya Karena dia bisa memberi kesenangan dan pendapatan juga ketenaran.

        Yang menyadarkan saya adalah saat saya melihat ke sekeliling saya ternyata betapa banyak saudara2 saya sendiri hidup dalam kekurangan, juga ada anaknya yang hamil sebelum nikah sampai stress dan malu ortunya, dan anak kecil2 juga sudah biasa menyanyi dengan lirik lagu2 orang dewasa belum lagi kekerasan seksual pada mereka dan lebih parah lagi ini saya saksikan sendiri free sex di kalangan pelajar dan mahasiswa jadi hal biasa bagi mereka…hancur sudah bangsa ini!

        Cerita ini bagi anak2 muda (pelajar & mahasiswa) mungkin dianggap aneh,kolot,feodal,kuno,kuper,gak jaman dll. Mengapa mereka mengatakan demikian?….menurut saya karena otak mereka telah dicuci dan dimasuki ideology/pemahaman yang katanya baru dan up to date tanpa mereka sadari. Untuk membuktikan hal ini saya melakukan beberapa pengamatan dan percobaan pada media televisi ini, pertama saya amati jam2 tayang utama (prime time) kebanyakan adalah tayangan hiburan (termasuk sinetron) lalu perbandingan iklan dan tayangannya hampir sama bahkan kadang lebih banyak iklannya dan umumnya busana mereka ya gitu itu khususnya para perempuannya (baik penyanyi,artis maupun seragam sekolah pelajarnya), artinya apa….dengan tayangan berturut turut setiap hari secara kontinyu selama ber bulan2 dan ber tahun2 otomatis kita semua (apalagi anak2 muda) akan menganggap hal itu semua adalah biasa, dan dunia hiburan itu memang segalanya, busana seperti itu juga biasa bahkan modis dan trendy,budaya barat juga dianggap semuanya bagus dan biasa termasuk free sexnya, dan….karena iklan kita ada keinginan/rasa wajib mencoba atau mengkonsumsi semua produk yang di iklankan itu kalau tidak kita merasa ketinggalan dan keppo katanya. Lalu saya melakukan sedikit percobaan….saat acara hiburan terutama nyanyi saya mute suaranya (dimatikan suaranya) apa kira2 yang saya dan anda lihat?!…..hanya orang2 sedang berjoget dan berketawa ria yang kita tonton, sedangkan kalau kita tutup mata (mute nya di off kan tentunya) maka akan terasa pas dan senang mengapa demikian?…karena mata adalah salah satu indera jendela informasi utama/dunia menurut saya selain indera2 lainnya, lagu itu konsumsi indera pendengaran bukan mata jadi saat kita melihat hiburan di tv sungguh sayang informasi yang salah masuk ke indera kita, selain pencucian otak juga terjadi penumpulan otak karena akhirnya kita gampang jenuh dan bosan pada tayangan pendidikan (sains dan iptek) lebih enak nonton hiburan (sinetron,lagu/music,dan komedi), belum lagi film2 barat dan film documenternya yang kebanyakan mengenai teknologi dan kemajuan orang2 barat, seandainya ada film2 sains dan teknologi atau documenter dari bangsa sendiri seperti Batantekno, kemajuan pt.KAI,pelindo,PTPN,DI,Pindad,PAL dan BUMN2 yang lain dan juga inovasi2 anak bangsa lainnya mungkin akan berimbang efeknya minimal kita bisa bangga kita juga bisa! Itulah akhirnya saya mencoba puasa untuk tidak lihat TV, adakah efeknya bagi saya?….dan hasilnya adalah…

        Selama saya puasa tidak nonton TV semua update berita saya peroleh dari internet (JPNN,detik,viva dll), hiburan paling utama dari dari youtube juga blog penyedia download lagu dan music lainnya. Untuk youtube yang paling banyak saya lihat dan download adalah iptek (pbs nova,how it’s made, mega structure dll.) dan documenter (national geographic,bbc,discovery dll.) juga yang lucu2. Efek dari puasa tv dan beralih ke media internet sungguh luar biasa, banyak hal2 baru saya peroleh dan membuka wawasan lebih luas, tetapi hati2 internet juga bisa lebih buruk dari televisi kalau kita tidak pandai2 memilah informasinya. Ilmu baru yang saya peroleh diantaranya adalah belajar bisnis forex (valas) dan ini yang menyebabkan saya ber bulan2 tidak muncul di blog ini karena semua computer saya online kan 24 jam selama 5 hari dlm seminggu sedangkan sabtu minggu dipake untuk back test forex karena saya selalu pake expert advisor alias robot forex kalau manual masih payah mengendalikan emosi, sungguh ilmu bisnis yang RUARRR biasa menurut saya karena, tanpa buka stand/lapak, tanpa meninggalkan pekerjaan utama, non stop 24 jam x 5 hr, bisa big/little profit & loss, gak pake emosi,dll. Sungguh pengalaman yang menarik juga menegangkan pada awalnya..…(saya tidak mengajak hanya cerita saja). Dan sifat konsumtif saya berganti menjadi suka sedekah karena dengan melihat saudara2 kita yang kurang mampu di sekeliling kita…saya jadi sadar uang,makanan,pakaian sekecil dan sesederhana apapun sangat berharga bagi mereka, kadang kita kalau sudah masuk dept.store/mall sekali belanja bisa puluhan dan ratusan ribu bahkan jutaan pada moment2 tertentu padahal kalau kita sadar masih ada saudara2 kita yang dapat puluhan ribu/minggu atau ratusan ribu/bulan sedangkan kita hanya dalam hitungan jam/menit habis segitu di dept.store/mall dan yang kita beli umumnya “karena keinginan bukan kebutuhan”. Waktu terus berjalan manfaatkanlah dengan baik, benar dan tepat termasuk saat nonton televisi.

        Terbukti lagi kan ayat2 Al-Qur’an “Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam kerugian!”….kerugian yang tidak disadari dan terasa karena tiba2 kita sudah tua dan berkata “apa upaya dan karyaku selama ini?…. Dari TK,SD,SMP,SMA,kuliah,menikah sampai menua, apakah aku jadi konglomerat atau melarat?…. harkat dan martabat turun atau meningkat?… masa mudaku telah lewat…..kini aku sedang meniti mendekati akherat…..selama ini apa saja yang telah ku perbuat?….tapi bukankah tidak ada kata terlambat sebelum nyawa terangkat.

        Itulah pengalaman dan sedikit ilmu yang bisa saya bagi untuk anda semua (kalau berguna) sebelum terlambat menyadarinya dan terlalu jauh terlena dan terhipnotis oleh media televisi seperti itu (khususnya pada generasi muda bangsa ini) bukan televisinya yang tidak berguna tetapi kontennya yang kita harus selektif dan iklan adalah sumber utama pendapatan mereka jadi ya gimana lagi. Percuma ada MH kalau kondisi kita banyak seperti yang saya ceritakan di atas karena akan malas membaca apalagi mengikuti hal2 seperti MH ini, kecuali anda2 pembaca dan penghuni blog seperti ini adalah pengecualian atau sedikit mulai sadar (he he he :-)) ,SALAM.

        Untuk mas Aldizy “itu adalah penemuan anda yang bagus” email saya yang terakhir hanya analisa dan saran saya saja dan saya tidak akan mempublikasikannya bila benar begitu, bahkan bila di ijinkan akan saya sampaikan ke pak Dahlan suatu saat nanti kalau bertemu :-),mudah2an tidak kadaluarsa.

        Posted by pakde | 19 Februari 2014, 12:07 pm
        • Iya Pakde, kalau ketemu beliau monggo disampaikan. Ilmu dan wawasan gak akan pernah kadaluarsa, bisa ditransformasi ke mana-mana, termasuk usulan Pakde itu. Trims

          Posted by Aldizy | 20 Februari 2014, 10:41 pm
          • Oke mas klo gitu, bukan ilmu dan wawasan yang saya maksud kadaluwarsa mas tapi keburu teknologi RFID itu sdh terlanjur banyak di aplikasikan karena untuk memutus/mengganti perangkat yang sdh terlanjur disetujui pemerintah itu sulit, lama dan berbelit prosesnya jadi kadaluwarsa di pengajuwannya, padahal teknologi yang anda ajukan itu jauh lebih murah,mudah dan efisien dari pada sistim RFID itu.Oo…anda ini sedang kuliah di jerman…kok robotika mas?…tapi memang pas sekali untuk bidang anda terutama software dan aplikasinya nanti.

            Posted by pakde | 21 Februari 2014, 6:32 am
        • Pakde, ini juga kegusaran hati saya sejak lama. Yang saya khawatirkan adalah pengaruh TV terhadap ketiga anak saya. Saya belum bisa menangkis pengaruhnya dan ketika bicara dengan istri, sepertinya kami akan berlangganan TV kabel. Nah menurut Pakde, apakah alternatif ini layak untuk diambil?

          Posted by Aldizy | 20 Februari 2014, 11:08 pm
    • biar keliatan sedikit belain petani…..wkwkwkwkwkwk

      Posted by suhardi | 18 Februari 2014, 12:21 pm
  34. ah, saya sudah jenuh dengan kelakuan DPR… Pro rakyat baru sekedar wacan… ah, Abah… semoga jadi Presiden. semoga dahjlanis bener2 mendukung dan mensosialisasikan kepada masyarakat… ABAH DI berjuang buat rakyat bukan tukang bagi2 nasi bungkus

    Posted by Cecep Fuad Mukhlis | 18 Februari 2014, 10:20 am
  35. yes….subsidi pupuk sudah di kembalikan lagi…hebat…Dahlan efect……… (baca di Antara, 50 menit lalu)

    Posted by haeny | 18 Februari 2014, 11:52 am
  36. Saya seorang tenaga teknis lapangan peternakan, subsidi pupuk organik ibarat simalakama diperlukan pula roadmap sampai tahun keberapa harus diakhiri, dicarikan solusi bagaimana petani tidak beranggapan lebih baik membeli petroganik daripada membuat / mengolah sendiri kotoran dan bahan organik yang ada disekitarnya ayo pak DIS berpikir lebih ketas lagi. APPO yang ada di pedesaan itu berapa persen yang berproduki ? Mengingat banyak yang mangkrak. Hasil pengamatan kami dilapangan biaya produksi mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organi berkisan Rp 800 s/8 Rp 1000,- trimks

    Posted by SANTOSO MT | 19 Februari 2014, 4:10 am
  37. petani petani di desa dimana saya tinggal pun mengerti betul formula itu 🙂

    Posted by jarwadi | 19 Februari 2014, 7:49 am
  38. #kus shoot
    Dari link yg anda berikan: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/02/18/n16aqx-dahlan-iskan-apresiasi-kebijakan-dpr-soal-pupuk-organik . sungguh sya pngin ktawa smpe cepirit, kecirit2. Bgmn tidak, link berita yg anda ajukan utk bukti memfitnah pak DIS mencla-mencle, justru adalah berita yg menunjukan kesuksesan pak Dahlan menyerang DPR, hingga DPR mengubah keputusanya. Jelas aja pak dahlan meng apresiasi tinggi DPR yg telah memutuskan untuk mengembalikan subsidi pupuk organik. Siapa yg mencla-mencle coba?
    Anda aja yg gak bsa memahami sebuah tulisan secara utuh.
    Tolong di upgrade otak anda.

    Posted by kang san | 20 Februari 2014, 1:07 pm
  39. Dahlan Iskan for Presiden

    Posted by Doel | 22 Februari 2014, 9:18 am
  40. Pak Dahlan,

    curhat dikit ya. Saya baru mau pasang listrik 10,600 VA. Dari 2 bulan lalu tiap ke cabang PLN banyak sekali oknum yang menawarkan pasang listrik langsung jadi, tanpa syarat apapun. 3 juta sekali pasang. Karena saya mendukung Indonesia bersih, saya apply online. Akhirnya bayar resmi 8.2 juta. Saya bingung karena dipingpong sana sini. Petugas survey lapangan tidak mau pasang, tanpa alasan yang jelas. Saya diberikan nomer telephone salah satu orang di cabang PLN dan harus menghubungi dia kalau mau pasang. Lagi-lagi, karena mendukung Indonesia bersih, saya tidak hubungi. Saya tetap hubungi 123. Nah saat setelah lewat deadline pemasangan, saya kaget sekali, karena menurut 123, saya meminta ke petugas untuk dilakukan hold pemasangan. Setelah menghubungi 123 berkali-kali, mulailah dicari-cari apa kekurangannya. Akhirnya dibilang kalau harus urus SLO. Lebih pusing lagi saat urus SLO. Ini tidak jelas teknisnya, prasayaratnya…. dan BIAYA-nya. Banyak oknum yang bermain di sini. Kalau bisa sih pak, untuk mendukung Indonesia Bersih, semua prosedur harus jelas, termasuk ke SLO-nya. Kalau seperti ini, masih banyak celah di lapangan untuk orang korupsi. Yang saya masih ga nyambung juga, sepertinya kok kayak diatur ya, disuruh menghubungi petugas cabang tanpa penjelasan itu seperti menyerahkan diri untuk dirampok. Semuanya serba tidak jelas.

    Terima kasih atas perhatiannya. Semoga Bapak berkenan membaca curhatan saya ini. Tolong dibalas di sini pak, sehingga orang lain yang mengalami hal yang sama juga mendapat pencerahan.

    Posted by Dahlan Iskan | 27 Februari 2014, 9:49 am
    • memang benar pak. pengalaman saya juga demikian.
      pasang baru sedikit ruwet……
      intinya, gerakan yg di galakkan pln masih setengah hati, kalau tidak mau di bilang OMONG KOSONG. buktinya keputusan pln sebagai pemilik strom, dan kosuil sebagai penerbit SLO masih menggunakan persetujuan instalatir.
      Yg mengijinkan listrik kita menyala atau tidak itu bukan pln, tp instalatir.

      Posted by reply | 29 Maret 2014, 5:37 am
  41. Pak tolong di belawan srring terjadi mati listrik pada pukul 12malam, tolong pak kami yang tdk punya dan anak kami utk besoknya pergi sekolah yg tidak berkonsentrasi utk belajar akibat kurangnya istrht. 3jam pak utk listrik kami dipadamkan. Tolong tindakannya pak….

    Posted by lukmanul hakim | 26 Maret 2014, 1:18 am
  42. Kayaknya memang harus dibenahi sistem rekrruitmennya, saya miris melihat maney politik di kampung saya yaa pada pemilu tanggal 09 besok ini. Saya tak akan lagi menganggap sebagai lembaga terhormat. Saya harap ada fraksi yang mewakili atau menjadi agen lembaga anti rasuah di DPR DPR depeer

    Posted by santosomt | 7 April 2014, 4:41 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: