>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, Manufacturing Hope

Mekanisasi Sniper Pemburu Tikus

Senin, 27 Januari 2014
Manufacturing Hope 113

Asyik sekali temu wicara informal dengan ketua-ketua kelompok tani di Desa Sambitan, Tulungagung, Jawa Timur, tadi malam. Sekali lagi, para petani kita itu begitu banyak idenya. Misalnya dalam hal mekanisasi pertanian.

Selama ini yang sudah memasyarakat secara tuntas adalah mesin bajak. Tidak ada lagi petani yang membajak sawah dengan kerbau atau sapi. Tidak ada juga yang mencangkul 100 persen. Mesin bajak sudah sepenuhnya menggantikan yang tradisional.

Yang juga semakin dominan adalah penggunaan mesin perontok gabah. Bahkan, banyak petani sudah mampu membuatnya. Teknologi perontok ini memang sederhana.

Yang baru mulai dicoba adalah mesin untuk panen. Perkembangannya juga sangat pesat. Industri mesin panen dalam negeri juga mulai tumbuh. Kalau mesin bajak sudah didominasi produksi dalam negeri, mesin panen pun kelihatannya juga bisa mengikutinya.

Yang masih sulit adalah mesin penanam padi (planter). Padahal, mencari orang yang menjadi buruh tanam padi kian sulit. Kalaupun ada, sudah tua-tua. Wanita muda sudah jarang yang mau terjun ke sawah. Akibatnya, biaya tanam mahal sekali. Bahkan, jadwal tanam sering harus mundur: menunggu tenaga yang masih dipakai di tempat lain. Ancaman bagi peningkatan produksi beras juga ada di sektor ini.

Mesin penanam padi memang sudah ada. Impor. Tapi, tidak cocok dengan kebiasaan petani kita. Terutama kebiasaan melakukan pembibitan. Untuk bisa menanam padi dengan mesin, pembibitan tidak bisa lagi dilakukan di sawah.

Pembibitan harus dilakukan secara modern. Biasanya di teras rumah. Agar tidak kehujanan. Benih pun tidak ditabur di tanah sawah, tapi di tanah khusus yang ditaruh di atas nampan.

Tadi malam, dengan cara duduk lesehan di pendapa rumah Lurah Sambitan, kami mendiskusikan ini. Bagaimana agar petani kita mau berubah. Semua mengatakan akan sangat sulit.

Mengapa? Petani harus membawa semaian benih itu dari rumah ke sawah. Harus ada biaya dan alat transpor.

Tiba-tiba Pak Imam Muslim, ketua Kelompok Tani Gempolan angkat tangan. Dia mengutip ide yang pernah dia dengar: pembenihan itu bisa dilakukan di sawah. Caranya: hampar plastik di sawah, lalu digelar tanah khusus di atasnya. Dengan demikian, benih yang bisa ditaruh di atas mesin planter sudah tersedia di sawah.

Memang ada kendala: kalau hujan bagaimana? Tapi, kata Pak Imam, itu bisa dicarikan peneduh.

Menanam dengan mesin memang tidak bisa ditawar lagi. Petani harus benar-benar mau berubah. Kalau menanam padi sudah bisa dilakukan dengan mesin, mekanisasi pertanian padi sudah terlaksana: bajak, tanam, penggaruk rumput, pemanen, perontok semuanya menggunakan mesin.

Yang tidak kalah menarik adalah cara memberantas tikus. Petani Tulungagung merasa apa yang dilakukan di Godean, Jogja, masih kalah dengan cara terbaru Tulungagung. Di Godean yang sudah empat tahun gagal panen, memang sudah berhasil panen kembali bulan lalu. Tapi, cara yang sama dianggap tidak efektif di Tulungagung.

Di sini petani menemukan cara terbaru: mengerahkan sniper. Penembak jitu. Senjata itu sebenarnya senjata biasa. Yang biasa untuk menembak burung. Tapi, kini dianggap sangat efektif untuk menembak tikus. Senjata itu dilengkapi sinar laser. Malam-malam sinar itu sangat jitu untuk mengincar tikus.

Kini ada 15 penembak tikus jitu di Tulungagung. Komandan detasemen khusus tikus ini: Turmudi dari Desa Sanan. Untuk setiap tikus yang ditewaskan mereka mendapat upah Rp 1.500.

Ternyata, semua kelompok tani sepakat dengan cara baru ini. (*)

Dahlan Iskan
Menteri  BUMN

Iklan

Diskusi

77 thoughts on “Mekanisasi Sniper Pemburu Tikus

  1. Termasuk tikus berdasi.. Di sniper juga… …..Semangat pagi Indonesia…

    Posted by yuni | 27 Januari 2014, 6:13 am
    • Selamat pagi Indonesia…. Kerja, kerja, kerja…
      http://www.mediatamamag.com

      Posted by Majalah Pegawai Kantoran | 27 Januari 2014, 6:37 am
    • di acara debat konvensi, kayaknya emang pendapat pak menteri ini yang paling masuk akal. system yang dibenahi….

      Posted by haeny | 27 Januari 2014, 7:58 am
    • Ada juga cara lain yaitu dengan memanfaatkan burung hantu sebagai pembasmi tikus, 1 hektar sawah = 1 kandang burung hantu kalau tidak salah di daerah Jawa Barat sudah dilakukan. Burung Hantu pemburu tikus yang sangat rakus dan sangat handal di malam hari.

      Posted by toro | 27 Januari 2014, 8:31 am
    • ai.. aii.. Tante Yuni, setuju deh sama Tante… cakeeeeppp

      Posted by Tedi KP | 27 Januari 2014, 10:37 am
    • kalau itu nanti tugas abah DI kalau sudah jadi presiden mbakyu Yuni, tembaknya pakai hukuman mati saja biar cepat habis,cepet kapok, bikin yang lain takut dan menghemat APBM untuk biaya makan tahanan koruptor di penjara.

      Posted by cak kadir | 28 Januari 2014, 1:38 pm

    • di daerah sudah pasang kuda2 dengan mesin penanam padi modern

      Posted by zunan | 30 Januari 2014, 7:08 pm
      • Mekanisasi alat tan am padi bisa menjadi peluang usaha baru. Selama ini usaha persewaan alat2 pertanian mekanis berkembang pesat karena keterbatasan tenaga kerja bidang pertanian. Persewaan alat tan am padi lbh efektif jika disertai bisnis penjualan bibit padi siap tanam.

        Posted by G.Hariyanto | 31 Januari 2014, 11:25 pm
    • Pengakuan tulus dari IBU YENI,NURLINA TKI Yang kerja di disingapore.
      Saya mau mengucapkan terima ksih yg tidak terhingga, serta penghargaan & rasa kagum yg setinggi-tingginya kepada MBAH RORO, saya sudah kerja sebagai TKI selama 9 tahun disingapore,dengan gaji lebih kurang 2.5jt/bln,tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,apalagi setiap bulan harus mengirim orang tua di majalengka, sudah lama saya mengetahui roomnya om ini, juga sudah lama mendengar nama besar MBAH,tapi saya termasuk orang yangg tidak terlalu percaya dengan hal ghoib, jadi saya pikir ini pasti kerjaan orang iseng yang mau menipu.
      tetapi kemarin waktu pengeluaran , saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsang,angka yg diberi MBAH RORO ternyata tembus, awalnya saya coba2 menelpon, saya bilang saya TKI Yang kerja di singapore mau pulang tidak ada ongkos, terus beliau bantu kasih angka . mulanya saya tdk percaya,mana mungkin angka ini keluar, tapi dengan penuh pengharapan saya pasangin kali 100 lembar, sisa gaji bulan april, ternyata berhasil….!!!
      dapat BLT 200jt, sekali lagi terima kasih banyak MBAH RORO, saya sudah kapok kerja jadi TKI, rencana senin depan mau pulang aja ke PALEMBANG.buat MBAH,saya tidak akan lupa bantuan dan budi baik MBAH.
      yang ingin merubah
      nasib seperti saya silahkan hub MBAH RORO di no. 0853,9453,7578 ATAU

      WEBSITe _RORO{ :> http://wwwprediksimbahjenggo.webs.com }

      Demikian kisah nyata dari saya tanpa rekayasa.
      IBU yuly tki.
      MAKASIH OM ROOMNYA

      Posted by Angka Toto | 7 Maret 2014, 10:22 am
  2. semoga pertanian indonesia bisa menghasilkan komoditas ymencukupi kebutuhan indonesia
    sehiangga terwujud swa sembada pangan
    dn indonesia pun menjadi tuan rumah di negara sendiri dbidang pangan
    aamiin

    Posted by alfi syukri hasibuan | 27 Januari 2014, 6:29 am
  3. kalo tikus di senayan ga usah di sniper, di kasih obat pencuci perut ae biar diare dan ga jadi korupsi karena sakit perut

    Posted by cakwafiq | 27 Januari 2014, 6:43 am
  4. semoga bisa surplus gabah dan beras. dan rakyat miskin bisa bernafas, dengan jatah RASKIN nya.

    Posted by Datun | 27 Januari 2014, 7:19 am
  5. Selamaaat untk Para Petani Kita…Semakin Kreatif dan penuh inovasi…

    Posted by sekarpamungkas1 | 27 Januari 2014, 7:24 am
  6. Tidak banyak ngomong tapi dibuktikan dengan kerja, kerja & kerja. Menyentuh lapisan bawah rakyatnya serta Memberikan solusi disetiap masalah yang dihadapi petani menuju masyarakat petani Indonesia yang maju, modern & sejahtera guna swasembada pangan. Demi Indonesia yang maju, sejahtera dan bermartabat. Insya Alloh. Kita butuh “Sulaiman AS Baru” atau Yusuf AS “sang bendaharawan negara” di era Indonesia sekarang. 2014 lah saatnya dimulai.

    Posted by Nur Muhis | 27 Januari 2014, 7:25 am
  7. Bravo untuk bapak-2 petani kita yang mempunyai ide-2 cemerlang. Tapi di satu sisi timbul pertanyaan, kemana para insinyur pertanian kita, masak gak punya ide-2 yang sama cemerlangnya, atau masih malu untuk tampil??
    Semoga semua elemen bangsa bisa bersatu untuk membangun, amiin yra. Terima kasih Abah atas inisiatif yg cemerlang.

    Posted by HWAHYU | 27 Januari 2014, 7:34 am
    • @ mas Hwahyu…..mungkin Ir pertanian juga sudah kerja keras cuma belum memadai jumlahnya alangkah lebih produktif kalau kita tidak mengecilkan peran siapapun sekecil apapun termasuk peran Ir pertanian kita .dengan harapan kedepannya banyak bermunculan pemuda-pemuda kreatif harapan bangsa. salam kenal all

      Posted by Sujono | 27 Januari 2014, 11:56 am
  8. Inspiring in monday, kerja kerja dan kerja. Wah asik juga ya.
    1 tikus = Rp 1500
    klo sehari 100 tikus = 1500 x 100 = Rp 150.000
    Klo sebulan = Rp 150.000 x 30 = Rp 4.500.000
    Haha kalah gaji kantoran juga ya

    Posted by Ari | 27 Januari 2014, 7:43 am
  9. apapun dan dari manapun ide itu, asalkn baik dan bisa diaplikasikan… kenapa tidak ??? toh, tujuannya benar2 utk kemaslahatn masyarakat… sekecil apapun wujudnya, itulah namanya kerja…kerja…kerja.!

    Posted by bandung bondowoso | 27 Januari 2014, 7:43 am
  10. suitik tenan MHe. kurg lega.
    eniwe ada profesi baru, sniper tikus. mayan mjanjikn tuh hitung2an pghasilannya

    Posted by fia | 27 Januari 2014, 7:50 am
  11. artinya bisa mengurangi urbanisasi…….. inggal bagaimana pemerintah daerah mengembangkan ide lapangan kerja baru buat sniper sniper.(masak harus pak dahlan lagi?????)..kalau perlu hubungi mas hanung bramanyo buat filem = the rat sniper…….

    Posted by haeny | 27 Januari 2014, 7:51 am
  12. semangat pagi ……………….

    Posted by msyatno | 27 Januari 2014, 8:08 am
  13. Para snipper bisa direkrut Perbakin. Latihan tembak setiap hari pasti jadi jagoan . Apalagi motonya Rp1 500,- per peluru.

    Posted by lumpiarivai | 27 Januari 2014, 8:21 am
  14. saya lebih suka dengan type grobogan, karena teknisnya lebih bagus , saya juga jalankan di rumah yang sering menjadi jalur tikus, akhirnya mereka bingun dan jalan baru, celakanya jalan baru ujungnya sudah saya siapkan perangkap, hehehehe kena deh tuh barang.

    pak dahlan mulai over acting ya, nyerobot himpunan tani orang sama departemen orang, awas pak kena sniper

    Posted by shayunshayun | 27 Januari 2014, 9:05 am
    • ibu shayun (maaf kalao salah eja). ya salah sendiri yang punya “lahan”diem aja gak ada eksyen……. hehehehehehe lagian kalo kita bicara pertanian, kan harusnya yang ribet pak menteri tani? tapi kok…? trus ada berita bahwa beras dari vietnam masuk legal ada ijin menperindag, padahal bulog punya pasukan semut…..

      Posted by haeny | 27 Januari 2014, 3:24 pm
  15. Sy tertarik mengomentari menanam padi dengan mesin ini terpaksa harus dilakukan karena penanam padi yang sebelumnya adalah pekerjaan perempuan, sekarang sudah bergeser perempuan tidak mau menanam padi. Persoalannya sesungguhnya sejak Revolusi Hijau (perintah Bank Dunia) penanaman padi dengan bibit unggul 3 bln bisa panen, sejak itu perempuan sudah kehilangan mata pencaharian sebagai penyiang rumput, pemanen padi semua ini kemudian dilakukan oleh para laki-laki karena alat-alat pertanian ini dirancang untuk dilakukan oleh laki-laki. Mengapa karena bibit unggul itu ternyata padinya pendek-pendek dan dipanen dengan mesin dan mesin itu juga di design digunakan oleh laki-laki, jadi perempuan tidak bisa lagi memanen padi.

    Pilihan perempuaan pergi dari Desa urbanisasi menjadi buruh pabrik di kota atau pergi ber-migrasi mencari rejeki ke negeri orang dengan bekal seadanya yang sering berisiko. Tetap penting ada strategi menghidupkan ekonomi desa selain pertanian agar para perempuan tidak melakukan urbanisasi atau migrasi. Utamanya yang bermigrasi ongkos sosialnya sangat mahal antara lain, suami yang ditinggal kawin lagi, anaknya tidak ada lagi yang mendidik sekolahnya juga tidak serius akhirnya malah tidak jelas hari depannya.

    Selain itu perlu juga dipikirkan tentang pupuk bukan pupuk kimia yang merusak kesuburan tanah dan lebih baik pupuk kandang dan kompos sehingga hasil tanamannya juga lebih bagus untuk kesehatan manusia. Hal positip lainnya ada pergerakan ekonomi di pedesaan ada yang membuat kompos, pupuk kandang dan lain-lain tidak tergantung pabrik yang hanya bisa menyerap tenaga kerja sedikit orang dan pupuknya toh juga merusak kesuburan tanah. Petani tidak ikut menikmati keuntungan perusahaan pupuk, tetapi petani menerima tanahnya makin tidak subur. Belum lagi pembuangan limbah industri pabrik pupuk membuat pencemaran lingkungan, masyarakat telah dirugikan besar-besaran dengan rusaknya lingkungan ini tetapi pengusahanya menikmati keuntungan. Ini situasi yang sangat tidak adil harus di ubah dan harus ada yang berani mengubah demi petani khususnya dan demi Indonesia umumnya. Belum terlambat kalau mau banting stir demi rakyat di negeri ini.

    Posted by Ari Sunarijati | 27 Januari 2014, 9:35 am
  16. Terinspirasi dgn sensus 88, tanpa somasi lalu tembak mati. Jgn2 setiap anggota diberikan imbalan serupa, layaknya manembak satu tikus. Kasian..

    Posted by Andre | 27 Januari 2014, 11:26 am
  17. Reblogged this on Museum Pribadi and commented:
    Petani terkini jadi terinspirasi dgn densus88, tanpa somasi yg panjang, sekali bidik tembak mati. Jangan-jangan densus88 jg terinspirasi dgn petani desa sambutan tulugangung, setiap anggota menembak satu tikus (teroris) mati, akan memperoleh imbalan serupa petani tungangung (Rp 1.500-petani (1M-anggota densuss88)). Motivasi terselubung.

    Posted by Andre | 27 Januari 2014, 11:54 am
  18. MH tentang ketahanan pangan lagi. Samar2 saya mulai menangkap apa yg pertama dibenahi ketika beliau jadi Presiden:
    1- Pangan (padi, gula, daging): pangan beres rakyat tenang krn ini bahan ‘mainan’ politikus yg paling bisa menyulut emosi masyarakat
    2- Energi: jika rakyat tenang, program pengendalian energi (pengaturan subsidi dan cadangan ) akan lbh bisa dijalankan
    3- Infrastruktur: ini yg akan membuat ekonomi tumbuh dg cepat tanpa bnyk stimulus fiskal.

    Posted by setyo | 27 Januari 2014, 2:26 pm
  19. Mau nulis tentang potensi pertanian yang sangat bagus prospeknya mengatasi pengangguran dan meningkatkan perekonomian pedesaan dengan konsep baru/beda kok jadi “sungkan” karena tulisan saya biasanya selalu panjang2 bahkan bisa lebih pajang dari tulisan MH itu sendiri. Untuk mas Aldizy gimana jurus pamungkasnya?….kalo kurang sakti tandanya saya harus kembali ke padepokan dan semedi lagi,maaf.

    Posted by pakde | 28 Januari 2014, 10:12 am
    • Maaf Pakde, saya lagi bertapa juga sehingga gak punya akses internet selama beberapa hari. Maturnuwun pamungkasnya, walaupun belum sempat ujicoba, saya yakin 100% pukulan pamungkas itu bisa menguntungkan kita tapi tidak mematikan usaha orang lain. Tetap berbagi ya Pakde.

      Posted by Aldizy | 28 Januari 2014, 5:02 pm
    • wah pakde.. apa kabar.. saya mengikuti tulisan njenengan dari sejak awal2 mh… apa pakde punya blog tersendiri? banyak ide pakde yang saya kira bisa saya sebarkan ke kawan2 di desa. ohya.. bagaimana kabar project batreinya? (cmiiw)

      salam

      Posted by jannotama | 29 Januari 2014, 6:15 am
    • Alhamdulillah kalau yakin mas Aldizy & good luck, saya belum punya blog mas jannotama maklum orang gunung, Alhamdulillah kalo ada ide2 saya yang bermanfaat,untuk project baterainya pancen jan..mas jann ternyata memang tidak mudah dan murah membuat sesuatu yang baru kecuai sudah di produksi masal pasti jadinya mudah dan murah, Alhamdulillah saya sekarang sudah kontak2an dengan mas Ricky elson pandawa putra petir itu atas ijin pak Dahlan untuk dikaji dan dikembangkan lebih lanjut bila lulus, terus terang saat ini saya bingung mengaplikasikannya kwatir salah langkah takut akibatnya,wish me luck please. SALAM.

      Posted by pakde | 29 Januari 2014, 10:15 am
      • Nah betul kata saya Pakde, bukan cuma 1-2 orang yang memonitor, membaca, dan menangkap ide ini. Monggo Pakde, solusi jitu Mas Janno, buat blog untuk berbagi ilmu. Terutama untuk pemberdayaan dan peningkatan ekonomi pedesaan.
        Untuk proyek batere itu, Pakde sudah berkarya beberapa langkah lebih maju dari saya dan mungkin teman2 lain. Jangan takut salah langkah, namun tetap berhati-hati dan imbangi dengan doa. Menurut logika saya, temuan Pakde ini bisa jadi incaran para pembajak culas rakus mau enak tanpa kerja keras. So, be prepared…
        Hallo Mas Janno, salam kenal. Karya tulisan mas menarik (cuma sekilas baca dan sepertinya cerita silat). Hanya saja saya belum sempat baca karena masih ada tanggung jawab yang harus dirampungkan.
        Cheers…

        Posted by Aldizy | 29 Januari 2014, 4:57 pm
  20. ini sebetulnya dialog dan proyek yang terjadi antara petani tulung agung dan dahlan iskan

    Tulungagung (Antara Jatim) – Petrokimia Gresik (PKG) mengujicoba Program Integrasi Agribisnis Abadi di Tulungagung, Jawa Timur, untuk membantu petani meningkatkan produksi padi melalui program pemberdayaan petani benih.

    Proyek ini melibatkan petani, distributor dan produsen pupuk yang terpadu dengan program Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) yang sudah lebih dulu dijalankan di wilayah itu.

    “Program ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan usaha tani,” kata Dirut PKG, Hidayat Nyakman yang didampingi Menteri BUMN Dahlan Iskan pada acara “Uji Coba Program Integrasi Agribisnis Abadi” di Desa Bangun Jaya, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, Senin.

    Menurut Hidayat, dalam program ini petani penangkar benih didorong untuk membudidayakan benih padi unggul.

    PKG memberikan petani benih induk dan kawalan teknologi, kemudian distributor selain menyediakan pupuk dengan sistem pembayaran Yarnen (bayar setelah panen), juga membantu sarana produksi pertanian lainnya seperti pestisida serta membantu distribusi hasil pembenihan padi kepada kelompok tani yang tergabung dalam program GP3K.

    Selanjutnya, kata dia, dengan kawalan teknologi dan sarana produksi pertanian oleh distributor, petani GP3K memanfaatkan hasil kerja penangkar benih padi tersebut.

    Setelah panen, distributor membeli padi yang dihasilkan petani GP3K dengan harga di atas ketentuan harga dasar gabah.

    Di tangan distributor gabah yang didapat dari petani GP3K diolah menjadi beras di tempat penggilingan beras (Rice Milling Unit/RMU) untuk dijual ke Bulog dan pasar bebas.

    Adapun hasil samping pengolahan gabah itu berupa dedak dan menir, dijual untuk
    keperluan peternakan dan pasar bebas di sekitar wilayah tersebut.

    “Program ini bisa dibilang memanfaatkan potensi lokal untuk keperluan lokal dan sekaligus menggerakkan perekonomian daerah setempat,” kata Hidayat.

    Pada program pertanian terpadu di Tulungagung ini, PKG menunjuk CV Lestari Mulyo sebagai distriibutor yang mendampingi baik petani penangkar benih maupun petani GP3K.

    Lahan GP3K sendiri seluas 7.427 hektare per musim tanam dengan jumlah petani 12.471 orang yang tergabung dalam 135 kelompok tani.

    Setiap petani rata-rata kepemilikan lahannya mencapai 0,6 hektare.

    Dengan pola kerjasama terpadu ini, pendapatan petani tentunya bisa meningkat seiring dengan penigkatan produksi padi setelah menggunakan benih unggul.

    “Harga jualnya tentunya lebih mahal sebab mutu gabah yang dihasilkan lebih baik karena menggunakan benih padi unggul,” terang Hidayat.

    Program serupa sebetulnya sudah diujicobakan di daerah lain seperti di Bojonegoro dengan menggandeng distributor CV Indobaru Mandiri dan Tuban dengan CV Fimaco.

    Selain pemberdayaan penangkar benih dan peningkatan produksi padi petani, di kedua wilayah itu juga berhasil dikembangkan bisnis lain sebagai efek samping dari program itu seperti produksi pupuk organik, peternakan sapi, dan RMU.

    Usaha lain yang berpotensi dikembangkan antara lain ayam petelur dan persewaan alat-alat pertanian seperti pompa air, traktor, mesin panen, dan lainnya. Karena itu, PKG akan terus mengembangkan program tersebut ke daerah lain.

    Hingga saat ini, PKG telah membidik 13 distributor sebagai pengelola dan 8 diantaranya telah lengkap.

    “Harapan kami program ini bisa diterapkan di daerah-daerah lainnya,” kata Hidayat.

    Dalam kesempatan sama, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengungkapkan dirinya merasa sangat malu ketika melihat negara Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris harus mengimpor beras secara besar-besaran dari negara lain.

    “Karena itu, sejak saya dilantik jadi Menteri BUMN saya langsung bicara dengan Bulog untuk melakukan pengadaan beras agar tidak impor beras lagi. Tahun 2012 belum bisa dan baru tahun 2013 Bulog bisa melakukan pengadaan hingga 2,5 juta ton dan tidak lagi impor. Negara pengimpor yang begitu yakin kalau Indonesia bakal impor beras juga dibuat kecele,” kata Dahlan yang disambut tepuk tangan ratusan petani saat temu wicara dengannya.

    Untuk meningkatkan produksi beras petani, lanjut dia, tidak cukup hanya berpidato di TV, tetapi harus turun tangan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi petani di lapangan. Mereka menghadapi masalah pupuk, benih dan produksi beras yang rendah.

    “Kita perlu membantu petani bagaimana mereka bisa mendapatkan benih yang baik dan tidak memaksa dengan benih yang kurang baik hanya karena ingin menghemat meski tidak sebanding dengan produksinya. Benih yang baik akan meningkatkan produksi padi,” ujarnya.

    Melalui program GP3K yang ia lebih suka menyebut program “Yarnen” ini lantaran petani bisa mendapatkan pupuk dengan pembayaran sesudah panen, Dahlan berharap produksi petani akan meningkat dengan dukungan ketersedian benih yang baik dan pola pemupukan yang tepat.

    Bukan itu saja dalam program ini petani juga dibantu cara mengatasi hama yang saat ini menjadi tantangan para petani di beberapa daerah termasuk di Tulungagung.

    Di program GP3K ini, menurut Dahlan, PKG yang mengawal program tersebut juga menyiapkan Brigade Hama yang dibentuk setahun lalu, khusus membantu petani memberantas petani. Seperti yang sudah di lakukan di Godean, Yogyakarta untuk mengatasi hama tikus.

    “Dikembangkannya program Yarnen di Tulungagung ini untuk membantu petani meningkatkan produksi berasnya,” kata Dahlan. (*)

    Posted by shayun | 28 Januari 2014, 11:25 am
  21. Okesiip

    Posted by Ellan Barlian | 28 Januari 2014, 12:10 pm
  22. bravo 3-1 untuk kemenangan indonesia
    jaya jaya di luar angkasa..

    Posted by Bru Wet | 28 Januari 2014, 1:20 pm
  23. Mantap DI,sebenarnya ilmu pengetahuan itu tumbuh dan ada dimasyarakat,tapi sayang tdk ada pejabat yg menghargai dan mulai menggerakkannya kecuali DI,utk peralatan pertanian dll sebaiknya ide dari rakyat ,DI disampaikan ke kampus2 dan BPPT,LIPI, SMK mungkin saja mereka sdh punya tinggal masuk industri atau dikerjakan di sekolah2 SMK sebagai mata pelajaran dan disebarkan ke rakyat.Bravo DI

    Posted by toga | 28 Januari 2014, 4:31 pm
  24. Reblogged this on Magungh's Blog and commented:
    Fakultas pertanian? where are we….

    Posted by magungh | 28 Januari 2014, 8:37 pm
  25. ddddd

    Posted by subur | 28 Januari 2014, 9:33 pm
  26. semakin terbukti bahwa sebenarnya bangsa indonesia adalah bangsa yg cerdas, kreatif dan punya semangat pantang menyerah. masalah yg ada bisa mereka atasi sendiri asal ada yg mensupport dan mengayomi mereka. selama ini para pemimpin negeri ini sibuk dengan pencitraan, isteri,keluarga dan partai sendiri, sehingga ide-ide kreatif rakyat tidak ada yang menampung dan menguap begitu saja.. mudah-mudahan kedepan kita mendapatkan pemimpin yg benar-benar peduli dengan rakyat, yg mau mendengar dan memberikan solusi bagi rakyat indonesia… dan indonesia menjadi bangsa yg mandiri, maju dan bermartabat amiin ya robbal alamiin

    Posted by Miftahul Arifin | 29 Januari 2014, 10:55 am
  27. Hadirnya untuk menstimulasi lahirnya ide-ide segar, didengar, dihargai dan ditindaklanjuti. Membuat siapa pun jadi tidak sungkan untuk berani mengungkapkan pemikiran dan usulan untuk hal-hal yang baik. Terus dukung dan perbanyak pemimpin seperi Pak Dis. Semoga beliau dan para pemipin yang pro rakyat selalu sehat, senantiasa dalam lindungan dan bimbingan Allah SWT. Aamiin.

    Posted by akadarisman | 29 Januari 2014, 11:11 am
  28. Semoga lebih baik nasib petani kita. Makasih

    Posted by Novita | 29 Januari 2014, 7:34 pm
  29. Dengan iklim tropis seharusnya kita sangat bersyukur dengan kondisi iklim ini karena matahari bersinar sepanjang tahun walau saat musim hujan sekalipun,karena sinar matahari adalah kebutuhan utama proses fotosintesis pada semua tumbuhan selain unsur hara dan semacamnya untuk tumbuh berkembangnya.

    Karena ini adalah hal biasa bagi kita maka kitapun kebanyakan menganggapnya biasa-biasa saja/lumrah padahal bagi orang2 sub tropic ini adalah kejadian yang sangat luar biasa yang dianugerahkan alam pada kita dan merekapun sering ber tanya2, tetapi mengapa penduduknya miskin2,bodoh2 (dulu kali),malas2,katrok,lah loh,dll. Yang uwelek2 lah pokoknya. Tau sebabnya?…..menurut saya karena kita dimanjakan oleh alam coba saja di pikir, mandi saja kita bisa sehari ber kali2 sedangkan mereka bisa seminggu sekali (karena dinginnya suhu umumnya mereka pake air hangat/panas jadi mandi itu mahal bagi mereka),kita mau makan tinggal petik sayur yang selalu tumbuh sepajang tahun,mau ikan tinggal ngail/jaring,mau ayam atau hewan lain tinggal berburu,mau minum tinggal ambil karena banyak mata air,beratus mungkin beribu tahun hal ini terjadi turun temurun mana sempat mikir yang aneh2 jangankan budidaya nyimpan saja kadang tidak,beda dengan mereka yang di daerah sub tropic,mereka terbiasa harus berpikir dan bekerja keras untuk hidup otomatis otak/pikirannyapun berkembang terus,saat mereka sudah bercocok tanam kita masih nyari/ngeramban kata orang jawa akibatnya saat kita sudah bercocok tanam mereka sudah bercocok uang (teknologi),saat kita pake santet mereka sudah pake bedil/senapan,saat kita pake senapan mereka sdh pake meriam,saat kita pake meriam mereka sdh pake roket dst…dst..dst…dari keadaan itu jadilah kita orang yang malas dan selalu cari gampangnya bahkan sampai saat ini masih ada kebiasaan itu seperti pencari/pemburu burung,telor semut/kroto,jamur,ikan,katak,dll…dll..(sampai2 mereka hampir habis di habitatnya,dulu waktu saya ke puncak gunung welirang namanya burung kacer dan jalak uret keleleran dijalanan hutan mereka tdk memperdulikan kita dan suaranya riuh sekali,sekarang satu saja hampir tdk ada) kalau gak dapat ya gak makan atau ngutang,kalau bicara/ngobrol yang itu2 saja (selalu diulang2) saat mereka kumpul dan gak bosan alias katrok,dan saat ada hal baru/beda selalu bilang lah/loh kok bisa ya….iya ta…,tau2 kita sudah ketinggalan jauh sekali dalam banyak hal ditambah pengalaman dijajah selama sekian ratus tahun dan didoktrin kita bangsa rendah dan bodoh sedangkan mereka selalu yang unggul ini terbukti seperti dijawa ada kebiasaan dari orang2 tua dulu selalu bilang yang bagus2 itu milik mereka contoh,hewan/kambing yang bagus,sehat,gemuk itu adalah hewan/wedus londo sedangkan hewan/kambing yang kurus/ceking,pendek,ingusan/umbelen itu hewan/wedus jowo, buah/jambu yang bagus2,besar,manis itu buahe/jambune londo yang jelek2,kecil,kecut dan sepet itu buahe/jambu jowo dll…dll..banyak pokoknya, akhirnya tambah parahlah orang2 kita tetapi Alhamdulillah sejak akhir abad 19 lahirlah orang2 pemikir untuk bangkit dari keadaan itu atau era kebangkitan dan kesadaran bangsa yang terjajah….sampai saat ini,waah…jadi ngelantur nih ke mana2 sampai cerita sejarah segala,maaf…

    Alhamdulillah sekarang mulai muncul kesadaran untuk mengejar ketinggalan itu bahkan mulai mendahului sepertinya, merujuk kondisi alam seperti itu (tropis) seharusnya disitulah sebagai suatu kelebihan/karunia kita untuk bisa mengejar dan mendahului mereka ya..di pertanian,pertanian itu ternyata meliputi juga perkebunan,peternakan,perikanan dan budidaya2 kultural lainnya.
    Dulu saya pernah menulis mengenai korporasi untuk pertanian dan atau kebetulan setelah itu muncul program lahan sejuta hektar di BUMN yang heboh itu padahal bukan seperti itu kalau yang saya maksud dan juga saya pernah nulis tentang potensi merang/jerami/batang padi yang ternyata punya nilai ekonomi tinggi yang menurut saya belum pernah ada pabrik/pengolahannya hingga saat ini karena masih banyak jerami yang dibakar dipersawahan setelah panen. Dan saya coba tulis kembali hal itu untuk mengatasi pengangguran dan peningkatan perekonomian pedesaan mungkin ada yang lupa atau belum baca.

    Yang saya maksud korporasi pertanian itu bukan membuka lahan baru seperti di Kalimantan yang dilakukan BUMN (tetapi hal ini bagus juga apalagi digabung dengan konsep saya ini pasti lebih joss) tetapi memaksimalkan lahan2 pertanian yang sudah ada saat ini khususnya di jawa,kalau membuka lahan baru dengan peralatan modern dll. untuk korporasi (BUMN) dengan alasan untuk berswasembada beras ya silahkan saja. Coba bandingkan dengan konsep saya ini, sawah umumnya di petak2 (yang saya maksud bukan sawah teras siring) hal ini karena berbagai alasan bisa karena pembagian waris atau untuk di sewa2kan lebarnya rata2 5-6 meter panjang bervariasi minimal 20 meter kayaknya,menurut saya hal ini tidak efektif karena hasil lahan/sawahnya kurang maksimal karena adanya pematang sawah yang menjadi batas tiap petak yang menurut pengamatan saya lebarnya 30-40cm belum lagi pematang utama bisa 50-100cm lebarnya, tentunya bila 1 hektar sawah akan berpotensi kehilangan lahan tanam bisa lebih dari 20%! Belum lagi keseragaman tanamannya (padi) coba anda lihat di persawahan yang demikian pasti ada yang beda dari tiap petaknya,ada yang hijau tua,muda,bahkan ada yang kekuningan lalu ada yang tinggi,sedang dan pendek jadi aneh dan lucu hal ini menurut saya karena bisa jadi tiap petak nanti akan beda hasilnya.

    Coba dirubah hal ini dengan cara adakan/bentuk korporasi/perusahaan (syukur2 BUMN yang tdk terlalu mengutamakan keuntungan) yang menyewa sawah2 mereka seluruhnya (baik pemilik maupun penyewa/tergantung awalnya) misal 10 atau 100 hektar lahan/sawah yang ada dan bagihasilnya terserah bagaimana yang baik dan saling menguntungkan (bisa yang fix/tetap spt sewa lahan saja atau yang fluktuatif spt bagi hasil tapi bila gagal panen tdk dpt semua) yang pasti korporasi yang memodali dan membeli hasil panennya,lalu semua batas petak dihilangkan diganti dengan batang2 besi yang ditanamkan disawah sedalam 1meteran (untuk bisa dideteksi detector logam) atau dengan cara digital yaitu GPS “untuk menentukan koordinat ditiap persimpangan batas tiap petak” yang penting pematang dihilangkan dan bila sewa selesai mengembalikan pematangnya kembali seperti semula akan mudah. Dengan cara ini kerugian lahan yang 20% bisa dihindari dan efeknya adalah penanaman, pemupukan, pengobatan dan perawatan bisa serentak,benih juga seragam semua, lalu tiap hektar ditugaskan 1-2 orang insinyur/sarjana pertanian untuk membimbing pekerja 5-10 orang (bila susah mencari tenaga kerja ya cari beberapa saja tenaga terampil untuk mengopersikan alat2 pertanian modern yang disediakan korporasi) dan memantau pertumbuhan sampai panennya,upah mereka bisa dari kelebihan lahan yang 20% itu plus insentif dari korporasi plus bila panen melebihi dari target dll., jadi bila per hektar bisa menampung 2 orang sarjana dan 10 orang buruh tani (total 12 orang) tinggal dikalikan saja seluruhnya bila BUMN punya lahan 100.000 hektar artinya ada 200.000 sarjana dan 1.000.000 pekerja. Belum lagi jeraminya yang pernah saya amati 1 rumpun padi hanya menghasilkan gabah 10% dari berat jeraminya atau 1kg gabah = 10 kg jerami, jerami ini pernah saya riset bisa diolah menjadi kebutuhan industry makanan,kimia,farmasi dan kosmetik berarti akan memerlukan sarjana2 kimia dan turunannya termasuk farmasi dan juga sarjana2 IT dan sarjana2 teknik industry apalagi sarjana ekonomi untuk menjalankan industry ini, perhitungan saya dari turunan2 olahan jerami ini ditemukan harga jerami antara Rp.250,- sampai Rp.750,- per kilogramnya tergantung kwalitas dan kandungan airnya bila di rata2 harga jerami ini menjadi Rp.500,-/kg, jadi bila 1hektar sawah rata2 5 ton hasil gabahnya dengan harga anggap saja Rp.5000,-/kg maka hasilnya 25juta/hektar sedangkan pemasukan dari jerami yang dulu tidak ada sebesar Rp.500,- X 50 ton = Rp.25 juta/hektar padahal hasil gabah itu belum di potong biaya macam2. Dengan panen lebih dari sekali dalam 1 tahun maka pedesaan menjadi daerah padat karya dan usaha, disitu ada perusahaan persawahan (hasilnnya padi dan jerami) ada perusahaan kimia industry (mengolah jeraminya),bila perlu pabrik tepung beras sekalian di desa itu untuk dijadikan bahan siap olah (mie,bihun,beras instan dll. Untuk memasok kebutuhan industry makanan dll. Yang berdasar tepung beras) dengan catatan pabriknya dibangun dilahan marginal atau tdk produktif bila demikian bidang usaha ikutan di sekitar pabrik juga pasti bermunculan dan apa salahnya sekalian di bangun rumah susun dari pada perumahan yang memakan lahan pertanian yang luas.

    So.. inilah yang saya maksud dengan peluang lain selain swasembada beras saja dengan memanfaatkan kelebihan iklim daerah tropis yang bisa bercocok tanam sepanjang tahun, ini adalah gambaran kasarnya saja karena untuk detail sekali tdk mungkin dijelaskan disini,gak muat dan lumayan ada yang rumit penjelasan dan penerapannya juga pasti ada lompatan2 konsep selanjutnya di balik tiap usaha itu untuk beberapa langkah lebih kedepan lagi ,semoga bermanfaat, SALAM.

    Nah… panjang sekali tulisan ini kan,maaf…semoga paham dan tdk jemu membacanya.

    Posted by pakde | 30 Januari 2014, 4:10 am
    • Inspiratif

      Posted by Apa Saja | 30 Januari 2014, 2:05 pm
    • Bravo Pakde! Tidak harus buka lahan baru, lahan yang ada dioptimalkan dengan gagasan sederhana dan masuk akal. Ada tambahan 20% produksi utama pertanian dari pematang plus pemanfaatkan produk sisa yang petensial,pendapatan petani gak berkurang, malah ikut mensupport sarjana pertanian supaya gak lagi mengharapkan kerja di perusahaan “petani uang”. Mental, mental, dan mental, mau, mau, mau dan kerja, kerja, kerja.
      Pakde ngomong tulisannya panjang, tapi saya bacanya kok sebentar ya …
      Terimakasih Pakde, nanti saya mau kontak sepupu saya yang sarjana tapi gak segan-segan cangkul sendiri sawahnya.
      salam,

      Posted by Aldizy | 30 Januari 2014, 7:20 pm
  30. Konsep pertanian yg bagus belum tentu cocok dalam penerapannya. Pengolahan lahan milik petani secara kolektif akan berhadapan dgn masalah birokrasi yg pelik. Yg mungkin lbh susah dr pd membuka lahan baru di luar jawa. Bandingkan dgn usaha pembebasan lahan untk jalan tol yg cuma puluhan km, membutuhkan waktu bertahun2. Jikalau konsep diatas berhasil, penambahan 20% lahan di jawa msh kalah dgn alih fungsi lahan pertanian. Menurut saya, swasembada pertanian akan tercapai dgn ekstensifikasi pertanian dgn cara pembukaan lahan pertanian skala luas di luar jawa. Pemerintah dpt menggunakan lahan marginal/ tdk produktif spt lahan gambut atau pesisir pantai.

    Posted by G. Hariyanto | 31 Januari 2014, 10:30 am
    • Terimakasih Mas Hariyanto, sudah menambah wawasan saya. Memang betul seperti itu, namun konsep itu hanyalah upaya optimalisai produksi pada lahan yang sudah ada dan sangat berpeluang menambah produksi. Setiap upaya optimisasi layak diujicoba dan kalau menguntungkan itu jadi nilai tambah, tapi kalau kurang cocok bisa dipikirkan alternatif lain. Pembukaan lahan baru tetap harus dilakukan karena kebutuhan komoditas pertanian untuk konsumsi dalam negeri sangat besar.
      Nah masalah perubahan lahan ini yang harus jadi perhatian pemerintah lewat BUMN. Sulit mengatasinya.
      Salam,

      Posted by Aldizy | 31 Januari 2014, 4:40 pm
      • Optimalisasi lahan dpt dilakukan dgn usaha kreatif Tampa merubah karakteristik lahan pertanian kita. Sbg contoh pemakaian bibit unggul, pemupukan berimbang, & pengendalian hama terpadu untuk meningkatkan hasil ppertanian. Kemudian pemilihan komoditas pertanian yg lbh ekonomis, sistem pertanian organik, & pola tan am tumpangsari dapat memberikan nilai tambah Dari hasil pertanian.

        Menurut pengalaman saya, untuk meningkatkan kesejahteraan petani blm perlu program yg masih sulit diterapkan. Petani lbh mudah menerima program yg praktis & murah dlm pelaksanaannya, termasuk mekanisasi alat2 pertanian.

        Posted by G.Hariyanto | 31 Januari 2014, 11:00 pm
        • Justru dengan konsep merubah karateristik lahan selain menambah potensi lahan juga usaha kreatif itu bisa lebih dioptimalkan karena dipandu para sarjana penyuluh pertanian seperti anda.

          Sulit diterapkan karena belum di coba, bila telah dicoba silahkan ambil kesimpulan. Konsep itu sebenarnya mudah dan murah karena pemilik/penyewa lahan bisa ikut terlibat sebagai pekerja atau ekspansi ke kerja lain (beternak,berdagang,nelayan dll.) karena mereka tidak keluar modal, semua biaya bibit,pupuk,obat,pekerja bahkan pasarnya korporasi yang menanggung, pemilik/penyewa lahan hanya tau hasilnya saja (mau fix atau fluktuatif hasilnya).

          Posted by pakde | 1 Februari 2014, 6:35 am
    • “Konsep pertanian yg bagus belum tentu cocok dalam penerapannya”.

      Konsep adalah pola pemikiran baru terhadap sesuatu/keadaan dengan berbagai pertimbangan (observasi/pengamatan, penelitian, pengujian lalu penerapan skala kecil/prototype). Dikatakan belum cocok kalau sudah ada pembuktiannya atau minimal ada konsep tandingannya (yang lebih baik/bagus).

      “Pengolahan lahan milik petani secara kolektif akan berhadapan dgn masalah birokrasi yg pelik.”

      Birokrasi berlaku bila perlu perijinan dari pemerintah (daerah), kita tidak perlu ijin (kecuali ijin usaha) dari pemerintah tetapi ijin/kemauan dari masing2 individu sebagai pemilik/penyewa lahan pertanian untuk bergabung (untuk meningkatkan pendapatan/taraf hidupnya atau B to B), karena lahan mereka peruntukannya memang untuk pertanian (kecuali ada alih fungsi lahan). Korporasi hanya sebagai wadah saja.

      “Jikalau konsep diatas berhasil, penambahan 20% lahan di jawa msh kalah dgn alih fungsi lahan pertanian”.

      Karena pertanian selama ini di anggap kurang menjanjikan dalam keuntungan maka lahan pertanian/sawah banyak dijual, justru konsep ini untuk merubah pemikiran seperti itu, karena pertanian di daerah tropis adalah bisnis/usaha yang bisa menguntungkan dan berkelanjutan bila dikelola secara benar dan maksimal.

      “Menurut saya, swasembada pertanian akan tercapai dgn ekstensifikasi pertanian dgn cara pembukaan lahan
      pertanian skala luas di luar jawa”.

      Menurut saya konsep ini bukan semata untuk swasembada pertanian tetapi lebih utama untuk membantu mengatasi pengangguran dan peningkatan perekonomian pedesaan khususnya di pulau jawa dengan mengoptimalkan lahan pertanian yang ada, kenapa? Karena penduduknya yang lebih banyak (penganggurannya) dari luar jawa, kecuali mereka (penduduk jawa) mau “transmigrasi”.

      Posted by pakde | 1 Februari 2014, 6:32 am
      • koorporasi bidang pertanian hanya bisa dilakukan oleh pemerintah karena menyangkut ketahanan pangan. sementara bagi swasta yg murni bisnis akan berhitung seribu kali untk bisa mendapat untung. menyewa lahan di jawa itu sangat mahal, sementara kalau dipakai untuk menanam padi bisa jadi tidak menguntungkan karena harga gabah/beras telah dipatok oleh pemerintah.swasta akan cenderung membudidayakan komoditas pertanian yg harganya tidak bisa dikendalikan pemerintah.

        Posted by G.Hariyanto | 2 Februari 2014, 9:40 pm
        • PT.Dupont sebagai korporasi swasta (bahkan ini perusahaan asing) telah melakukan hal itu di beberapa desa di beberapa kabupaten di jawa timur para petani menyebut mereka dengan sebutan “PT” saja, mereka menyewa beberapa lahan/sawah petani untuk ditanami jagung saat ini dan tidak menutup kemungkinan nanti pada padi. dan petani senang sekali melakukan kerja sama itu karena mereka hanya menyediakan lahan saja. kalau hanya padi saja kurang maksimal, makanya saya sertakan potensi jerami yang belum dioptimalkan.

          Posted by pakde | 3 Februari 2014, 3:51 am
          • pt. Dupont adalah perusahaan benih jagung hibrida dgn merk pioneer. kemitraan yg mereka lakukan dalam hal memproduksi benih jagung yg kemudian dipasarkan kembali kpada petani. jadi bukan kemitraan dalam hal produksi jagung untuk konsumsi.

            Posted by G.Hariyanto | 3 Februari 2014, 10:12 pm
          • he he he…mas har.. mas har,,saya tahu pt. Dupont perusahaan benih malah rekan saya dulu pernah kerja sama dgn pt ini untuk memusnahkan bibit yang di reject puluhan mungkin ratusan ton karena ber kontener2, mereka juga melakukan eksport benih, bukan masalah untuk dikonsumsi atau tidak produknya tetapi sistim kemitraan ini sebenarnya bisa dilakukan oleh swasta dan petani dlm skala besar, kalau ada peraturan pemerintah (PP) yang melarang kerja sama swasta dgn petani dalam penanaman padi (tanaman konsumsi) sekala besar seharusnya pemerintah (BUMN) mengambil alih jangan dilihat/diam saja karena ini banyak peluangnya baik dari sisi bisnis maupun sosial (setau saya PP itu belum ada,cmiiw).

            BTW saya sering mengamati komentar anda lebih ke kontra terhadap siapapun (termasuk pak Dis) itu juga bagus tetapi solusi yang anda berikan kebanyakan juga cara yang sudah umum (bila ditelusuri/surfing) alias on the book/in the box (maaf ini menurut saya) maka hasilnyapun akan sudah umum juga/banyak yang pernah baca/tau, cobalah dgn cara yang buat orang penasaran karena belum/jarang tau/dengar/baca sehingga akan membuka wawasan/pemikiran baru pada mereka, tetapi ini menjadi diskusi yang menarik karena masing2 punya argumen sendiri2 terhadap suatu masalah yang sama dan tentunya menjadi bacaan yang menarik bagi yang membaca/mengikutinya apalagi bagi yang belum tau sama sekali, ini juga sebagai wujud dari yang pernah saya katakan di atas bila setuju (dgn konsep saya) untuk anda tetapi bila tdk tentu untuk saya (sebagai koreksi), SALAM.

            Posted by pakde | 4 Februari 2014, 4:07 am
  31. Sampe sigtunya si tikus ni…

    Posted by sampurno74 | 31 Januari 2014, 10:42 am
  32. Salam sukses untuk Admin dan para pembaca semua

    Posted by Cara Cepat Bayar Hutang | 1 Februari 2014, 8:21 am
  33. Gak begitu ngerti soal pertanian. Nunggu Pak Bos bahas bidang manufaktur aja deh..

    Posted by Tukang sapu Kya-kya | 2 Februari 2014, 2:11 am
  34. kalau mau fair dan punya etika seharusnya dahlan iskan mundur jadi menteri BUMN !
    ikut konvensi khan ?
    mosok ngelendot terus sih di BUMN… malu dong !

    Posted by sejatinyabonek | 2 Februari 2014, 2:34 pm
  35. saran bapak G.hariyanto dan pakde bagus mungkin dalam penerapannya akan sulit tapi kalau belum di coba siapa yang tau . Tapi saya mau tanya sebelumnya,

    pakde kalo pasang batang besi di kedalaman tanah sampai 1 meter apa tidak merusak kesuburan tanah? Bukannya besi lama lama bisa berkarat pak? Tapi saya setuju dengan rencana bapak mengajak mahasiswa pertanian ikut ambil andil , karena saya juga mahasiswa pertanian .

    Pak G.hariyanto maaf pak mau tanya , kalo kita ekstensifikasi terus menerus juga mempunyai dampak buruk bukan? Seperti kita membuka hutan di kalimantan yg hutan itu adalah sumber oksigen kita? Lalu, bagaimana populasi tanaman dan hewan yg ada disana? Apa kita bukannya merusak habitat mereka? Itu sebabnya banyak hewan yg menyerang warga karena hutannya dirusak.

    Menurut saya pemikiran pakde dan pak g.hariyanto sama sama bagus, untuk meningkatkan teknologi pertanian kita dengan penyuluhan kepada petani tentang alat-alat pertanian, ekstensifikasi juga bagus pak tetapi asal tidak dilakukan dengan berlebihan dan merusak

    Posted by aderi | 2 Februari 2014, 9:33 pm
    • ekstensifikasi pertanian bukan berarti membuka lahan pertanian dengan cara membabat hutan. namun bisa juga memanfaatkan lahan marginal atau lahan kritis atau lahan tidur. potensi lahan marginal kita sangat besar seperti lahan gambut di sumatra, kalimantan dan papua. kemudian lahan di pesisir pantai yg membentang luas di semua pulau, ingat negara kita mempunyai garis pantai terluas didunia. anda sbg sarjana pertanian pasti mempunyai ilmu yg bisa diterapkan untuk mengolah lahan2 tersebut..

      Posted by G.Hariyanto | 2 Februari 2014, 9:49 pm
    • Istilah besi hanya memudahkan pemahaman untuk logam saja mas Aderi, karena teknologi sekarang sudah maju besi bisa dilapisi bahan anti karat utau coating dan logam juga tdk mesti besi, aluminium juga logam dan detektor logam saat ini tidak mesti pake medan elektro magnet tapi ultra sonic juga bisa.

      Posted by pakde | 3 Februari 2014, 3:58 am
  36. terimakasih sdh jd pemerhati saya. setidaknya tulisan sy tdk out of topic spt kebanyakan. sebetulnya bnyk tips pertanian berdasar pengalaman yg bs sy bagi. tp blog ini tdk semenarik dulu lg. bacanya klo sempat aja.

    Posted by G.Hariyanto | 4 Februari 2014, 3:57 pm
  37. Kendalikan tikus dengan senyawa pembuat plastik kl ga salah singkatannya VCD bukan vcd piringan bajakan itu ya…saya nonton NGC channel di amerika senyawa vcd itu dicampur dengan makanan tikus digunakan untuk memandulkan tikus2 sehingga populasi tikus turun dari 18jt menjadi 18rb….semoga cara ini bisa diterapkan di pertanian indonesia….

    Posted by Fitra | 29 April 2014, 5:14 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: