>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, Manufacturing Hope

Jendral Semut Kebanggaan Bangsa

Manufacturing Hope 112

Salah satu masalah yang harus langsung saya hadapi saat diangkat menjadi Menteri BUMN di akhir tahun 2011 lalu, adalah ini: mencari orang yang harus menggantikan Direktur Utama Perum Bulog saat itu, Sutarto Alimoeso.

Dia oleh banyak kalangan dinilai kurang baik kinerjanya. Namanya sudah resmi diusulkan untuk diganti.

Maka saya pun mulai memilah dan memilih. Terpikir oleh saya untuk mengangkat pak Sofyan Basyir menjadi Dirut Bulog. Tapi saya merasa alangkah sayangnya kalau pak Sofyan Basyir harus meninggalkan jabatannya sebagai Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI). Padahal BRI lagi semangat-semangatnya untuk mengembangkan diri. Terutama untuk menjadi micro banking terbesar di dunia.

Secara pribadi saya juga kasihan kalau dirut bank besar harus turun kelas, meski tugas negara lagi memerlukannya untuk penyelamatan kecukupan pangan. Tapi akhirnya saya putuskan: jangan pak Sofyan Basyir. Beliau harus mewujudkan mimpi besarnya yang tak lain juga mimpi besar kita semua.

Lalu terlintas juga nama Arifin Tasrif, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia. Tapi dia lagi melakukan pembenahan total di lima pabrik pupuk kita. Pembenahan bidang pupuk juga sangat strategis. Maka saya pun segera melupakan nama Arifin Tasrif.

Di balik sulitnya mencari calon pengganti pak Sutarto itulah saya “kembali ke laptop”: apakah benar Sutarto harus diganti? Mengapa? Kinerja apa yang kurang? Kurang puas di bagian mananya?

Berdasarkah pertanyaan-pertanyaan itu saya memutuskan ini: bertemu dulu dengan orang yang namanya Sutarto itu. Saya akan bicara dengan dia dan mencari tahu mengapa kinerjanya dinilai kurang baik.

Dari diskusi itu saya mengambil kesimpulan: orang ini tidak perlu diganti. Orang ini lurus, punya integritas. Mencari orang yang berintegritas lebih sulit daripada mencari orang pandai. Mencari orang jujur lebih sulit dari mencari orang pintar.

Saya juga melihat orang ini penampilannya sederhana, tidak tampak hedonis dan punya semangat menyala-nyala. Memang penampilannya mengesankan “gaya orang tua”. Tapi saya bisa menangkap api yang menyala dari mata, kepala, dan hatinya.

Gurat-gurat wajah dan ototnya mencerminkan bukan orang yang bossy di belakang meja.

Yang lebih penting lagi saya memperoleh track record-nya yang cemerlang. Saat menjabat sebagai Dirjen Tanaman Pangan, pak Tarto membukukan prestasi istimewa: indonesia memproduksi beras tertinggi dalam sejarah republik ini.

Keputusan saya kian bulat: orang ini jangan diganti. Beri dia iklim manajemen yang baik. Beri dia keleluasaan yang memadai. Beri dia kebebasan yang cukup untuk mengembangkan ambisinya memimpin Bulog. Tentu saya harus menyampaikan putusan saya itu kepada Bapak Presiden SBY.

Dalam kesempatan pertama bertemu Pak SBY saya bicara soal Bulog. “Bapak Presiden, sebaiknya saya tidak mengganti Dirut Bulog. Saya minta diberi waktu untuk membuktikan sendiri apakah dia benar-benar tidak mampu”, kata saya.

“Pak Dahlan,” kata Bapak Presiden, “Saya serahkan kepada Pak Dahlan untuk mengambil keputusan terbaik.” Kata beliau lagi: “Dulu saya setuju diganti karena saya tidak ingin dinilai mempertahankan teman sekolah saya. Kalau selama ini saya menyetujui pak Tarto diganti itu karena beliau adik kelas saya di SMA di Pacitan.”

Saya pun pamit. Maunya sih berlama-lama di halaman belakang Istana Cipanas yang sejuk dan indah itu, tapi puncak Gunung Gede yang mengawal Istana itu seperti melarang saya berlama-lama di situ.

Apa kata Pak Tarto? “Saya akan buktikan saya bisa,” ujar dia saat saya beritahu bahwa dia tidak jadi diganti.

Pembicaraan itu kini sudah berlangsung dua tahun. Pak Tarto memenuhi janjinya. Saya sangat senang. Usaha saya mempertahankannya tidak memalukan saya. Bahkan membuat bangga. Bukan saja untuk saya pribadi tapi juga membanggakan bangsa Indonesia. Maka tutup tahun 2013 lalu saya menulis di rubrik Manufacturing Hope dengan tema kebanggaan itu.

“Inilah berita yang paling menggembirakan bagi bangsa Indonesia di akhir tahun 2013 ini: Indonesia berhasil tidak impor beras lagi. Ini karena pengadaan beras oleh Bulog mencapai angka tertinggi dalam sejarah Bulog. Sampai tanggal 25 Desember kemarin Bulog berhasil membeli beras petani sebanyak 3,5 juta ton,” begitu tulis saya di pembukaan kolom itu.

Sofyan Basyir sendiri terus all out membesarkan BRI. Tahun 2012 laba BRI mengalahkan Bank Mandiri: 18 triliun rupiah. Tahun lalu meningkat lagi menjadi Rp 21 triliun. Pak Sofyan benar-benar berhasil menjadikan BRI micro banking terbesar di dunia! Alangkah sayangnya bila waktu itu dia pindah ke Bulog.

Memang, begitu ada kepastian tidak diganti, Soetarto langsung tancap gas. Dia bentuk pasukan semut untuk all out membeli beras dari petani. Dia sendiri menjadi jenderalnya. Jenderal Semut. Dia tidak henti-hentinya menjadi kipas angin: muter terus. Dari satu daerah ke daerah lain. Dari satu gudang ke gudang Bulog yang lain.

Hasilnya pun nyata. Gudang-gudang Bulog segera penuh. Harga beras stabil. Kalau sampai harga beras ikut melonjak-lonjak seperti daging dan kedelai maka perekonomian kita kian sulit. Pak Tarto berhasil menjaga gawang salah satu pilar perekonomian kita.

Yang saya juga bangga pada Pak Tarto adalah gaya hidupnya yang tetap sederhana dan rendah hati. Dan itu bisa mewarnai manajemen Bulog. Saya begitu berbunga-bunga ketika ke Brebes mendapat laporan ini: Kepala Gudang Bulog tidak bisa lagi disogok! Beras yang masuk ke gudang Bulog harus tepat mutu dan timbangannya.

Saya senang karena yang bicara ini orang luar yang telah lama menjadi pemasok beras Bulog. Dia bisa membedakan kondisi dulu dan setelah Pak Tarto menangani Bulog.

Kerja kerasnya tidak hanya dilakukan di hari kerja tapi juga di hari-hari weekend. Tidak jarang dia lagi di lapangan ketika saya telepon di Sabtu malam.

Pak Tarto termasuk yang tidak suka berwacana. Kita memang tidak bisa mengatasi masalah hanya dengan ngomel-ngomel. Hanya rapat-rapat. Hanya berwacana. Kita harus berbuat sesuatu. Dan ternyata bisa.

Tahun 2013 kita tidak perlu lagi impor beras. Sutarto menegaskan stok beras di gudang Bulog akhir tahun ini lebih dari dua juta ton.

Pak Tarto memang termasuk sedikit generasi tua di BUMN yang tidak mau kalah dengan generasi yang lebih muda. Dia masih kuat seperti kitiran: muter terus ke gudang-gudang Bulog di seluruh sentra produksi beras. Belakangan dia juga mengganti sepatunya. Dengan sepatu ketsnya, Pak Tarto sering harus bermalam minggu di gudang beras.

Dengan stok beras nasional yang berlebih seperti itu memang ada juga negatifnya: kalau lama tidak disalurkan, kualitas berasnya menurun. Untuk itu saya menerima usulan menarik dari seorang petani di sebuah desa di Bantul. Tahun depan sebaiknya sebagian pengadaan beras Bulog berupa gabah. Agar bisa disimpan lebih lama.

Ide yang bagus dan yang aplikatif dari seorang petani kecil. Tahun depan ide itu benar-benar akan dilaksanakan oleh Bulog. Sekitar 20 persen pengadaan Bulog akan berupa gabah. Ini lebih realistis dan hemat daripada membangun silo-silo vakum yang amat mahal.

Begitu lega rasanya tutup tahun kemarin ditandai dengan keberhasilan tidak impor beras selama tahun 2013.

Tapi kelegaan itu tidak boleh lama-lama. Tahun 2014 harus bisa bertahan tidak impor beras lagi. Artinya: Bulog dengan pasukan semutnya, di bawah pimpinan Jenderal Semut Surtarto Alimoeso tetap harus segera kerja, kerja, kerja.

Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Diskusi

82 thoughts on “Jendral Semut Kebanggaan Bangsa

  1. salam…

    Posted by aditam@putra | 20 Januari 2014, 5:46 am
    • Sudahkah Anda bergabung dengan mendaftar jadi relawan Dahlan Iskan?
      Caranya siapkan nomor telepon yang valid, lakukan 3 hal berikut dan ikuti langkahnya/konfirmasi by phone:
      1. Daftar dan dapatkan ID relawan di http://www.dicommunicationcenter.com
      2. Daftar dengan ketik SMS :
      – Format: Daftar*Nama*Umur*JenisKelamin(L/P)*Alamat
      – Contoh: Daftar*Eko Putra*29*L*Jakarta Pusat
      – Dikirim ke: 0896 500 600 81 atau 0896 500 600 82
      3. Undang teman untuk daftar (berpeluang mendapat hadiah) dengan ketik SMS :
      – Format: Undang*Nama*Umur*JenisKelamin(L/P)*Alamat*No.HPTeman
      – Contoh: Undang*Eko Putra*29*L*Jakarta Pusat*0812xxxxxxxx
      – Dikirim ke: 0896 500 600 81

      Posisi sementara (Propinsi, jumlah relawan)
      Sumatera Utara 1795
      Jawa Timur 455
      Jawa Tengah 263
      Jawa Barat 170
      Jambi 147
      DKI Jakarta 75
      Sumatera Selatan 73
      Kalimantan Tengah 55
      DI Yogyakarta 41
      Kalimantan Timur 37
      Banten 32
      Riau 26
      Nanggroe Aceh Darussalam 19
      Nusa Tenggara Barat 19
      Lampung 19
      Kepulauan Riau 17
      Kalimantan Selatan 12
      Sulawesi Selatan 11
      Kalimantan Barat 10
      Bali 9
      Sumatera Barat 9
      Sulawesi Tengah 7
      Kalimantan Utara 6
      Sulawesi Utara 6
      Nusa Tenggara Timur 4
      Bengkulu 4
      Republik Rakyat China 3
      Saudi Arabia 3
      Bangka Belitung 3
      Maluku 3
      Sulawesi Barat 2
      Maluku Utara 2
      Sulawesi Tenggara 2
      Qatar 1
      Korea Selatan 1
      Yaman 1
      Papua 1

      Berdasarkan kota/kabupaten

      Wilayah Total
      Kota Medan 1525
      Brebes 159
      Kota Jambi 108
      Kota Surabaya 87
      Kota Palembang 58
      Malang 54
      Tapanuli Utara 44
      Kota Palangka Raya 43
      Sidoarjo 43
      Kota Administrasi Jakarta Pusat 35
      Jember 35
      Kota Yogyakarta 33
      Dairi 32
      Kediri 31
      Bandung 31
      Semarang 29
      (blank) 25
      Simalungun 22
      Bekasi 21
      Bogor 21
      Samosir 21
      Mojokerto 21
      Kota Administrasi Jakarta Selatan 20
      dst

      Posted by Apa Saja | 20 Januari 2014, 2:07 pm
  2. Selamat pagi

    Posted by Dina Indriyani | 20 Januari 2014, 5:50 am
  3. Heebaaat..saluut buat Bulog dan pak Sutarto..
    Harapan yang tinggi utk perbaikan Bulog memang mendapatkan angin segar saat pak Sutarto yang pegang, setelah sukses sebagai dirjen tanaman pangan. Bulog yang penuh dibayangi mafia harus terus membai..kBahkan sebenarnya beliau pantas jadi MenTan…
    Selamat pak DIS atas pilihan yang benar ke pak Sutarto.

    Posted by Beka | 20 Januari 2014, 6:08 am
  4. Alhamdulillah…semoga bisa swasembada lagi…

    Posted by yuni | 20 Januari 2014, 6:13 am
  5. Jendral Ali Muso. Selamat pagi.,

    Posted by Widi | 20 Januari 2014, 6:14 am
  6. Selamat,,,atas prestasi….BULOG…saya bangga sebagai warga Indonesia,, bagaimana dengan harga Daging?

    Posted by hamdun | 20 Januari 2014, 6:16 am
  7. Semangat Kerja Indonesia !!!

    Posted by HWAHYU | 20 Januari 2014, 6:17 am
  8. Salah satu kriteria Capres 2014 adalah harus mampu mencari dan mengkader pemimpin – peminpin di bawahnya. Tentu dengan cara simple praktis tapi efektif. Tidak perlu dengan cara – cara yang populis ( lelang- lelangan misalnya) namun hasilnya tisak jelas. Pak Dahlan telah membuktikannya, insting leadersipnya sangat kuat sehingga keputusan penggantian para pimpinan di Kementerian BUMN sangat cepat namun hasilnya tepat.Nah… yang menyedihkan ada ada seorang gubernur yang sampai satu tahun menjabat belum bisa memilih sekprovnya dan ironisnya gubernur ini selalau unggul dalam polling capres he he……

    Posted by Radiya | 20 Januari 2014, 6:19 am
    • 😀 khuznudon saja bro.. kita tak pernah tahu kesulitan apa saja yang ada… sama halnya kita sedikit tahu kesulitan abah karena beliau melaporkannya…

      Posted by jannotama | 20 Januari 2014, 6:56 am
    • bro…sedapat ungkin kita menghindari black campaign (meskipun andai itu benar, karena kalau itu di munculkan sebagai berita seolah kita tidak punya kelebihan apa apa kecuali berharap kejatuhan orang lain) lebih baik kita jual vii misi dan juga aplikasi, andai nanti tidak kepilih setidaknya sudah buka wawasan kita, dengan demikian kita bias menjadi bagian kemajuan Indonesia, tidak sekedar macan kertas dan polling duang…salam….

      Posted by haeny | 20 Januari 2014, 8:52 am
      • Syukur jika semua pejabat bisa menuliskan visi, misi, dan karyanya, sehingga transparan dan obyektif dinilai oleh orang2/ lembaga independent, daripada polling yang hanya populer2an saja, tetapi berpotensi “bisa dibeli” dan bisa “pepesan kosong”.

        Ringkasnya, direferensi saja cara pemilihan “Balloon D’Or”, pasti hasilnya pas-mantab. Sang Terpilih memang benar2 Competence.

        Posted by pemerhati | 20 Januari 2014, 12:38 pm
    • Betul Pak. Jokowi tuh siapa sih.
      Beda lah sama kita yg sudah berjuang untuk Demi Indonesia.

      he he….

      Kerja Kerja Kerja
      Demi Indonesia.

      Posted by uyung | 20 Januari 2014, 12:05 pm
  9. jenderal semut saja bisa melakukan hal seperti itu apakah jenderal manusia bisa ?

    Posted by andimustafa | 20 Januari 2014, 6:24 am
  10. Membanggakan.

    Posted by bitriksulaiman | 20 Januari 2014, 6:46 am
  11. 2014… semoga badai politik(praktis) yang bakal nabrak apapun, tidak memporak porandakan iklim bulog yang sudah terbangun bagus…

    Posted by jannotama | 20 Januari 2014, 6:54 am
  12. Berita bagus di awal minggu, semoga tahun ini impor yg gk penting seperti ini menjadi lebih sedikit…

    Posted by Ceudah | 20 Januari 2014, 7:11 am
  13. Besok bentuk kabinet dgn aturan Harus Bersepatu Kets!!!

    Posted by lumpiarivai | 20 Januari 2014, 7:17 am
    • Setuju…, kabinet Kerja, Kerja, Kerja

      Posted by Wanto Kdr | 20 Januari 2014, 10:29 am
      • setuju juga. sepatu kets=mobilitas tinggi= pekerja keras= suka keliling sambil jalan= kerja-kerja-kerja
        Coba keliling jalanan bergelombang pakai sepatu kulit kinclong dan dasi koncling, pastilah “nge-per”. Tak sudilah yauw.
        Bisa-bisa 3 kilometer, kaus kaki sudah bolong dan kaki lecet2 plus kesemutan.

        Posted by pemerhati | 20 Januari 2014, 12:42 pm
  14. Semangat pagii… ada anggota ReDI?Dahlanis Bogor disini? ada informasi dimana alamat pos ReDi/Dahlanis Bogor?

    Posted by Ruli | 20 Januari 2014, 7:20 am
  15. Setelah menerima hadiah buku mengenai Pak DIS dari seorang sahabat di Pontianak Pos, saya semakin salut dengan Pak DIS, tambah lagi beliau mampu membaca potensi seseorang hingga petani mendapatkan angin segar untuk bernafas. Senang juga karena Kabupaten Bantul di sebut-sebut….salam rindu untuk semua teman di Bantul….

    Semoga kesehatan yang prima tercurah untuk Pak DIS…

    Posted by Ririn Agustin | 20 Januari 2014, 7:32 am
  16. Selamat untuk BULOG dan Indonesia.. Kita semua ikut bangga. Target selanjutnya kedelai, gula, daging.
    Apakah masih dalam lingkup Bulog??? Kalau iya, mohon dapat disukseskan juga Pak Tarto dan Pak DI

    Posted by Kuntop | 20 Januari 2014, 7:39 am
  17. semoga tahun depan, kita bisa swasembada gula dan kedelai.

    Posted by yanto | 20 Januari 2014, 7:49 am
  18. Yup, smg di tahun ini dan tahun2 seterusnya tidak ada lagi impor beras dan kemudian disusul tidak ada lagi impor2 bahan pangan lainnya shg ketahanan pangan bs terwujud.

    Posted by Munoe | 20 Januari 2014, 7:57 am
  19. Tetep semangat meski sedang banjir,….
    Kerja, Kerja, Kerja,….
    Terima kasih atas inspirasinya,…

    Posted by Yanto ( Lurah Sastro ) | 20 Januari 2014, 8:14 am
  20. alhamdulilah. salah satu komoditi penting negri ini sudah bisa di atasi. kapan kedelai dan daging? mudah mudahan segera menyusul

    Posted by cah wonogiri | 20 Januari 2014, 8:32 am
  21. Semoga tahun ini lebih banyak yang bisa di swasembadakan…agar lebih mandiri

    Posted by munduf | 20 Januari 2014, 8:32 am
  22. Beras adalah kebutuhan pokok 90 % rakyat Indonesia, isi perutnya orang Indonesia, masa harus disandarkan pada produksi bangsa lain ?. ya begini yang smart-nya. Indonesia dilarang import beras, karena kalau terbiasa import suatu saat kita bakalan dijajah bangsa lain lewat permainan import. wiiiih tatuuut.

    Bravo Dahlan Iskan, bravo Soetarto Alimusa. bravo para pendekar kebanggaan bangsa.!

    Posted by Manihot Ultissima | 20 Januari 2014, 8:49 am
    • Kalo bisa, sekaliyan pak Dahlan menggandeng menteri pertanian, menteri PU, menteri Perumahan dan menteri/ institusi lain yang terkait dengan tanah/ agraria dan perijinan, agar jangan seenaknya membangun/ menjadikan tanah subur produktif menjadi lahan industri, perumahan, apartemen, pabrik, gudang, dan properti bangunan beton lainnya, sehingga mengurangi daya indonesia untuk ketahanan pangan.

      Posted by pemerhati | 20 Januari 2014, 12:46 pm
  23. Kabar yang menggembirakan bagi kami. Ada harapan bagi kemajuan bangsa.
    Saya harap, kualitas beras Bulog tidak identik dengan beras raskin. Yang saat dibagikan ke masyarakat, orang yang terbiasa kelaparan pun tidak sudi memakannya. Akhirnya, beras bercampur kutu itu pun harus menerima nasib menjadi pakan unggas.

    Posted by ruanginstalasi | 20 Januari 2014, 8:58 am
  24. Subhanallaah….

    Semoga semangat kemandirian Bulog (dan Jendral semutnya) bisa menginspirasi BUMN yang lainnya…..

    Semoga menjadi Indonesia yg lebih baik….

    Posted by m4siw4n | 20 Januari 2014, 9:04 am
  25. kerja kerja karja

    Posted by risdan antoni | 20 Januari 2014, 9:28 am
  26. alhamdulillah..ada kalanya sesuatu itu perlu pembuktian lebih lanjut. ini terbukti dari saat pak Dahlan Iskan yang memberikan kesempatan kepada Dirut Aliemoso untuk membuktikan bahwa dia bener-benar berkompeten dan berintegritas

    Posted by Caderabdulpacker.com | 20 Januari 2014, 9:32 am
    • Siiipppp,, tidak terpengaruh oleh rumor yang belum tentu bisa dipercaya. Tidak langsung percaya isu untuk mengganti pak aliemuso, tetapi melalui pengakajian yang jujur, adil dan independent, walaupun pak menteri berwenang penuh untuk menggantinya. Cari orang integritas dan jujur lebih sulit daripada cari pintar.

      Posted by pemerhati | 20 Januari 2014, 12:49 pm
  27. Tidak semua yg tua kalah dg yg muda..kerja..kerja..kerja…..

    Posted by aburachman | 20 Januari 2014, 9:48 am
  28. Alhamdulillah…moga semakin jadi inspirasi bagi pejabat yg lain,

    Posted by Anna | 20 Januari 2014, 10:36 am
  29. Nah, akhirnya terbukti kan jika menjadi pejabat publik (menteri BUMN) pengambil keputusan didasarkan pada kepentingan rakyat maka membuahkan hasil yang maksimal bagi rakyat harga beras stabil dan utamanya petani kita juga bersemangat karena hasil tanamannya berharga untuk Republik tercinta ini.

    Soal pupuk Pak Dahlan bagaimana jika pupuk kimia itu dimodifikasi dengan pupuk kandang karena kalau hanya pyur pupuk kimia merusak kesuburan tanah. Dalam kurun waktu tertentu jumlah pupuk yang dibutuhkan untuk luas sawah yang sama meningkat, apalagi harga pupuk sekarang mahal tanpa subsidi dari pemerintah, PETANI MENGELUH SOAL HARGA PUPUK YANG TERLALU MAHAL. Keuntungan lain jika di modifikasi dengan pupuk kandang berarti kebutuhan akan sapi meningkat sekalian dagingnya untuk pemenuhan kebutuhan daging yang selama andalan import dari Australia, juga kebutuhan akan susu, keju kedepan Indonesia harus bisa memproduksi sendiri supaya juga tidak lagi import dari Australia, New Zelang, Swiss dll. Seperti Thailand dong sejak 2003 AFTA berjalan bahan-bahan makanan seperti ini sudah bermerek Made in Thai saat itu saya menjadi penumpung TG airline ke Chiang Mai makanan di pesawat itu semua sudah made in Thai, saya sempat cemburu, kenapa Thailand bisa Indonesia tidak bisa. Celakanya lagi saat Chiang Mai saya makan di restaurant seefood ketemu seorang ahli pertanian yang dulu kuliahnya di IPB. Saya seperti mau pinsan sampai hotel saya menangis apa yang bisa ku perbuat selain memberi masukan kepeda para petinggi Negeri yang tidak peduli saya cuma curhat pada teman-teman aktivis masyarakat sipil.

    Selain itu mengenai pupuk bisa juga dengan garam krosok, (dulu masa kecil saya garam ini dibawah PN Garam) nah kebutuhan garam meningkat ini juga bagus dampaknya bagi petani garam kita. Syukur-syukur sebagian diolah untuk menjadi garam dapur yang beryodium juga supaya tidak lagi import dari Australia. Mengenai limbah pupuk Sriwijaya itu dibuang ke Sungai Musi tentu mematikan ikan-ikan yang adadi Sunagi itu tolong dong soal lingkungan diperhatikan karena Sungai Musi obyek Wisata yang sangat bagus jika di pelihara dan ditingkatkan mutunya. Kayaknya mesti bersinergi dengan Kementerian Pariwisata. Rasanya jika sungai Musi itu dibuat seperti selat Bosporus di Istanbul itu Wauuuwww.

    Posted by Ari Sunarijati | 20 Januari 2014, 11:22 am
  30. Yuk Pensiun Dini. gabung di Bisnis VSI Ustadz Yusuf Mansur: Ubah Pengeluaran Anda Menjadi Pasif income Tidak terbatas dan Kini, semua orang pun bisa jadi pengusaha. Klik http://www.bisnisvsi.biz

    Posted by mei | 20 Januari 2014, 11:24 am
  31. Kalau p. Tarto jendral semut. Kalau P. Dis JENDRAL apa yaa ??
    Semga senantiasa dlm lindunganNya.

    Posted by Wanto Kdr | 20 Januari 2014, 12:08 pm
  32. saya pengikut setia tulisan2 pak DIS sejak masih di JP dulu. melihat MH edisi kali ini tulisan pak DIS sedikit beda; endingnya (mulai kalimat “Pak Tarto termasuk orang yang tidak suka berwacana”) mengulangi tulisan MH edisi 109; tidak disengaja ataukah bermaksud menggugah ingatan untuk membaca edisi 109? jangan2 gaya menulisnya sudah terpengaruh detik.com ya?
    selain itu, akhir2 ini tulisan pak DIS lebih sering memuji bawahannya, sedangkan masalah dan cara mengatasinya jarang menjadi pembahasan utama.

    btw, apa tidak ada keinginan untuk mengganti judul MH? bukankah harapan para pejabat BUMN dan bawahannya serta rakyat – yang sejak awal ingin dipompa oleh pak DIS melalui tulisannya – sudah terpenuhi dan semakin kuat?

    Posted by arizani | 20 Januari 2014, 12:10 pm
    • Bukankah ini pencapaian yang caranya sudah di babarkan di MH sebelumnya jadi ini kalimat itu hanya remainder saja, pak DI itu wartawan senior yang sudah punya karekter dalam tulisanya masak terpengaruh detik heheh ga kebalik ya (menurut saya) mari Kerja!

      Posted by munduf | 20 Januari 2014, 2:04 pm
  33. Semangat terus bangun indonesia

    Posted by masbrowww | 20 Januari 2014, 12:14 pm
  34. Swasembada gula hendaknya menjadi tahap berikutnya yang kiranya menjadi target DI dengan memberi peran Bulog yang lebih besar dalam kebijakan impor,perlindungan petani dan kontribusi pabrik rafinasi.Selamat dan sukses untuk Jendral Semut.

    Posted by suroso | 20 Januari 2014, 7:34 pm
  35. Mulai Juli 2014 Abah Dahlan Iskan harus berlama lama di istana Cipanas, Bogor. Sudah waktunya Abah memetik buah kerja kerja kerja.

    Posted by Djoko Sawolo | 20 Januari 2014, 9:32 pm
  36. Abah Dahlan Iskan, daging apa Pak yg melonjak lonjak???

    Posted by Djoko Sawolo | 20 Januari 2014, 9:40 pm
  37. BRAVO Pak Dahlan, memilah dan memilih Dirut BUMN dahulu selalu ribut, antara penguasa dan pengusaha.
    Era BUMN sbg ajang berebut kekuasaan dijaman pak DI tdk ada lagi, diganti dgn era integritas, sederhana, tapi pakar yg mengakar, kerja, kerja…..kerja.
    BRAVO CAPRESKU.

    Posted by eddy setiohardono | 21 Januari 2014, 5:14 am
  38. Seharusnya dibalik kesuksesan bulog berswasembada beras bisa diikuti kesuksesan lainnya asal….mau berpikir beberapa langkah lagi kedepan karena dibalik usaha bulog (BUMN) berswasembada beras “menurut saya ada peluang2 yang dilewati begitu saja” dan itu sangat disayangkan padahal peluang2 itu dahsyat sekali efek/manfaatnya kalau BUMN bisa menangkapnya,apakah itu?……………………yang pasti hasil/manfaatnya adalah kesejahteraan masyarakat desa meningkat,pemanfaatan lahan pertanian yang maksimal,pengenalan dan pembelajaran masyarakat desa/petani pada teknologi,pemberdayaan sarjana pertanian dan turunannya,sarjana kimia dan farmasi,sarjana ekonomi,sarjana informatika dan mungkin sarjana2 lainnya bila diperlukan,yang dengan pemberdayaan itu artinya BUMN bisa menyerap tenaga kerja dari lulusan akademisi dan pengaplikasian iptek dari akademisi ke petani. Bersatu kita kukuh bercerai kita jatuh ibarat sapu lidi, BUMN sebagai pengikat dan petani,sarjana dan masyarakat sekitar desa sebagai yang diikat hasilnya swasembada beras dan pemberdayaan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) secara maksimal dan mewujudkan kekuatan ekonomi pedesaan yang handal dan berkelanjutan.

    Posted by pakde | 21 Januari 2014, 1:13 pm
    • setuju pakde ….ide brilian sebetulnya….artinya terintegrasi semua dan ada yang mengkoordinir yaitu BUMN..

      Posted by suhardi | 21 Januari 2014, 6:31 pm
      • Betul sekali. Kita itu kalau jalan sendiri-sendiri aja, pasti ada yang terjungkal, ada yang melesat, dan tidak ada yang menjamin. Jika benar-benar cita-cita telah terwujudnya menjadikan BUMN sebagai penggerak ekonomi, kebanggaan nasional, dan sebagai tangan kiri pemerintah, maka seharusnya semua SDA dan SDM disinergikan.
        Tapi yang saya tangkap, jika BUMN bersaing di tingkat lokal, dan dengan gebrakan ala DIS, kemajuannya bisa mengancam swasta. Itu juga yang sempat bikin galau Pak Dahlan Iskan. Kalau BUMN menggurita, swasta mati. Makanya mungkin ada tepatnya juga BUMN diperbesar kapitalnya, dibuat holding-holding, lalu bersaingnya di kancah internasional. Yang bisnis di dalam negeri biarlah swasta, sedangkan BUMN di dalam negeri hanya untuk sektor yang pokok, krusial dan menguasai hajat hidup orang banyak.
        Atau apakah dibalik saja? Indonesia itu usahanya melalui BUMN saja, dan semua sumber daya manusia Indonesia itu bekerja di bawah naungan BUMN? Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk kesejahteraan rakyat juga.
        Ya, semoga ada formulasi dan batasan yang jelas aja nantinya, di mana swasta bergerak, dan di mana BUMN bergerak. Yang penting, rakyat kita bisa terserap sebagai tenaga kerja, dan hasil usahanya juga dipergunakan untuk makin mensejahterakan rakyat. Kalau Malaysia boleh, Indonesia pasti bisa. Walau berbeda kata tapi bisa jadi bersama makna. Selamat bekerja, dan untuk korban banjir dan Sinabung, semoga diberi ketabahan, dan kekuatan untuk bangkit lagi.

        Posted by Apa Saja | 22 Januari 2014, 7:57 am
        • BUMN dan swasta sama dalam bisnis tetapi seharusnya sangat beda dalam tujuan!….swasta jelas sekali tujuannya yaitu untuk memperkaya diri si pengusaha,BUMN untuk memperkaya pejabat,politikus dan penguasa he he he “ITU DULU BRO”! mudah2an sekarang tidak?!..sebagai tangan kiri pemerintah dalam pendapatan BUMN juga punya kewajiban mensejahterakan karyawannya (mungkin ada yang belum krn masalah masa lalu dll.) dan masyarakat sekitarnya khususnya dan semua warga Negara umumnya (seharusnya, karena milik pemerintah/Negara), dari sini jelas bahwa BUMN semestinya menjadi stabilisator industry dan bisnis dalam negeri (bukan regulator),bila swasta tidak mampu BUMN wajib mengambil alih dari pada perekonomian macet/tdk bergerak (biasanya di sector insfrastruktur dan swastanya adalah swasta kelas kakap/besar),bila swasta jatuh BUMN wajib membantu selama mampu,bila swasta hancur BUMN wajib maju untuk bertempur. Tetapi swasta itu sendiri swasta yang bagaimana?….karena sekali lagi swasta itu tujuannya untuk memperkaya diri sendiri (umumnya) bila sudah demikian mampu tdknya,jatuh tdknya dan hancur tdknya swasta pertimbangannya hanya untung dan rugi saja jarang yang pertimbangannya pembangunan,kebersamaan apalagi kemanusiaan, apalagi yang swasta asing dia pilih kabur ke Negara lain atau pulang kampung bila sdh dianggap tidak profitable atau terlalu banyak konflik/masalah,sudah banyak kejadian baik swasta yang kecil maupun besar bermasalah di hal itu seperti berita penyekapan pekerja di pabrik panci,kasus marsinah,perusakan hutan untuk sawit,pencemaran air,udara,dan suara terhadap lingkungan penduduk semuanya terjadi karena pertimbangan keuntungan semata dan mungkin masih banyak contoh2 lainnya.

          Menurut saya bisnis apapun yang menentukan untung ruginya,maju tdknya,besar kecilnya bisnis/usaha adalah market/pasar! Selama market itu ada terus bisnispun jalan terus apapun situasinya karena market sama dengan kebutuhan/demand. Disinlah seharusnya BUMN berperan…BUMN harus menjadi penjamin pasar apapun,bukankah BUMN ada di berbagai bidang juga lebih mudah menembus ekspor dan jangan terlalu mengutamakan keuntungan semata yang penting terjadi keberlanjutan usaha di dalam negeri,..jangan hanya beras dan komoditi pertanian/perkebunan saja iya kan…tetapi jaminan pasar ini hanya khusus bagi usaha kecil dan menengah saja yang sedang dilanda paceklik market yang memang secara global sedang terjadi tentunya kwalitas komoditi juga jd pertimbangan,bila demikian semua usaha swasta dijamin tetap jalan selama manajemennya juga bagus, dan cara kerjanya juga hampir sama dengan bulog. Bila ada pertanyaan bagaimana dengan usaha kuliner?….itu adalah resiko pengusahanya kecuali penjual/pengusaha bahan bakunya (sayuran dan buah2an/organic/cepat busuk) itu masih bisa di olah jadi sayuran atau buah2an dan rempah2 yang di keringkan yang biasanya jadi bahan baku industry makanan dan farmasi masak BUMN gak mau dan gak bisa???…….

          Posted by pakde | 22 Januari 2014, 2:18 pm
          • Mungkin di situlah seninya (atau bahasa lainnya tantangan kali ya). Kalo swasta, murni cari untung. Untuk kebaikannya sih ada CSR, pemakaian putra daerah, dsb. Jadi benar, kalo ga profitable tinggal hengkang dari bisnis itu. Kalau BUMN, selain harus cari untung (saya menangkap keharusan ini mulai saat-saat belakangan ini saja, karena dulu orientasinya kan buat bancakan), juga harus menjadi stabilisator pasar, di samping menyerap tenaga kerja. Susah ya jadi BUMN, di saat ada kecukupan supply dan demand, dituntut untuk menarik diri, tapi di saat kurang supply dituntut untuk menyediakan. Kurang demand, dituntut untuk mengadakan, dan kalo perlu ke luar negeri. Semoga BUMN kita tambah maju, dan akhirnya rakyat tambah sejahtera.

            Posted by Apa Saja | 23 Januari 2014, 6:13 pm
  39. mantap DI,banyak pejabat yg baik tersingkir dinegri ini klo tdk menuruti intruksi bos yg tdk mengerti masalah dan kepentingan politik,oleh sebab itu sebaiknya para pejabat tdk diambil dari politikus atau partai politik,semoga DI sehat selalu sampai saatnya RI 1 agar kepentingan negara/rakyat tidak dicampuri politik busuk.bravo DI.

    Posted by toga | 21 Januari 2014, 3:46 pm
  40. Semoga prestasi seperti ini bisa dipertahankan dan tidak salah jika ditambahkan dengan prestasi lainnya. Aamiin.

    Posted by perioksida | 22 Januari 2014, 6:05 am
  41. Bapak memuji keberhasilan BRI yang dapt laba triliunan Rupiah wajar aja pak karena bunga bank BRI naik dan untuk menutup/ memperpanjang Pinjaman biasanya hanya kena Tiga Bulan Bunga sekarang saya mengajukan lagi Pinjaman malah kena 10 Kali bunga, wajar BRI laba Besar Pak tolong yang begini di perbaharui karena tidak menolong rakyat kecil bukan malah di sanjung2 ah yang bener aja pak ……

    Posted by Uptd Ngaliyan | 22 Januari 2014, 9:15 am
  42. Integritas no.1, setuju pak DI

    Posted by Batik Novita | 22 Januari 2014, 3:06 pm
  43. semoga selalu sehat BAH

    Posted by harsia | 22 Januari 2014, 7:28 pm
  44. almadulillah, selamat dan sukses sll buat kita semua Indonesia Tercinta.
    dan jangan lupa utk selalu bersyukur, Insya Allah semua ini mendapat barokah dan selalu dalam Lindungan-Nya. Amien

    Posted by @budi_kurnia | 24 Januari 2014, 9:43 am
  45. ikut nyimak. salam sukses

    Posted by Mesin Pengumpul Rupiah | 24 Januari 2014, 4:36 pm
  46. harus diperbanyak pejabat seperti ini. dulu waktu adik ibu Ani jadi dirut bni, banyak yang curiga, ini titipan, ternyata beliau sukses, teman sekolah sby juga sukses. MANTAAP

    Posted by sanusi | 26 Januari 2014, 7:31 am
  47. Seharusnya impor beras dari dulu tidak di perlukan lagi, hanya saja bulog malas membeli beras petani, untuk persediaan kebutuhan penyangga pangan. Karena sentra produksi nya mencar dari sulawesi sampai sumatra. Kalau pembelian melalui impor kan tidak repot tinggal pesan ke Thailan atau Vietnam, konon selisih harga beras di negeri jiran lebih murah untuk kualitas yang sama.

    Posted by Refauzi | 26 Januari 2014, 10:28 pm
  48. mencari nama pak sutarto, lurah nya bulog sekarang, eh ketemu nya di sini, hehe

    Posted by jarwadi | 29 Januari 2014, 12:15 pm
  49. kalau mau fair dan punya etika seharusnya dahlan iskan mundur jadi menteri BUMN !
    ikut konvensi khan ?
    mosok ngelendot terus sih di BUMN… malu dong !

    Posted by sejatinyabonek | 2 Februari 2014, 5:30 am
  50. Reblogged this on Coretanlepas and commented:
    Perjuangan semut oleh jenderal semut di negeri semut hehe

    Posted by Mirsa Wicaksono | 5 Februari 2014, 8:13 am
  51. pemimpin yang cerdas…………, tidak begitu saja bongkar pasang bawahan tetapi selalu menggunakan metode pendekatan secara individu dan dapat melihat kemampuan bawahan bahwa yang bersangkutan mampu untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan memberikan kesempatan untuk melaksanakan tugasnya dengan kemampuan yang dimiliki yang bersangkutan !

    Posted by teddy dwi hartoto | 8 Februari 2014, 9:24 pm
  52. pak dahlan iskan memang luar biasa dan saya bangga dengan pak dahlan iskan

    Posted by jual dompet kulit | 9 Februari 2014, 4:41 pm
  53. Kerja JUGA adalah IBADAH PA MENTERI. Mantap….

    Posted by fritsdimuheo | 28 Maret 2014, 12:52 pm
  54. Untung Pak Dahlan tidak langsung mengambil keputusan, tetapi memberi keempatan dan menilai hasilnya terlebih dahulu.. Kalau tidak, eman-eman aset bangsa yang tersingkir atau disingkirkan atau dimatikan karakternya sebagaimana Pak Sutarto Alimoeso ini. Sebab, kinerja, etos, dan trade recordnya yang bagus dianggap membahayakan orang-orang yang sukanya “Di sini senang, di sana senang” itu.

    Posted by har | 3 Mei 2014, 1:35 pm
  55. Segera stop impor beras!!
    Sejahterakan petani..
    Pak petani, tolong lahannya jangan dijual ya..🙂

    Posted by Penitipan Anak Pekanbaru | 6 Mei 2014, 9:13 am
  56. Lanjutkan!!
    Kerja! Kerja! Kerja!

    Posted by Kursus Gitar Pekanbaru | 6 Mei 2014, 9:15 am
  57. sejahterakan para petaniiii

    tolong ya lahannya jang di jual ya😉

    Posted by ace maxs | 9 Juni 2014, 4:19 pm
  58. sejahterakan para petaniiii

    tolong ya lahannya jang di jua

    Posted by naraya | 11 Juni 2014, 1:30 am
  59. Ehm, begitu ya? Informatif banget. Aku numpang promosi juga deh sambil baca beritanya.
    Poker Online, Game Facebook, Judi Online, Nagapoker
    Terima kasih.

    Posted by xamplecup | 20 Juni 2014, 4:57 pm
  60. artikel yang sangat menarik..
    terimakasih😉

    Posted by mobil datsun bandung | 2 April 2015, 1:16 pm
  61. siapa jendral semut yang dimaksud gan?
    terimakasih😉

    Posted by obatdiabetesalamijg.com | 19 Desember 2015, 9:41 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: