>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, Manufacturing Hope

Kekalahan Kebaikan oleh Fitnah

Senin, 09 Desember 2013
Manufacturing Hope 106

Saya punya kebiasaan yang mungkin bisa membahayakan diri saya sendiri, yaitu selalu meneruskan (forward) SMS, BBM atau e-mail kepada direksi-direksi BUMN yang terkait. SMS, BBM atau e-mail itu datang dari mana-mana, baik perorangan atau lembaga.

Banyak sekali SMS, BBM atau e-mail yang saya terima setiap harinya. Ada yang menghujat, ada yang memuji, ada juga yang memberi saran. Misalnya saya baru saja mengemukakan sebuah ide, tidak lama kemudian masuklah berbagai tanggapan, masukan dan kritik atas ide tersebut.

Ide membeli peternakan di Australia, misalnya, termasuk yang banyak mendapat tanggapan. Bahkan banyak juga e-mail yang menawarkan kerjasama. E-mail seperti itu langsung saya forward ke direksi yang terkait. Ada yang saya beri komentar, ada juga yang tidak. Akan diapakan masukan-masukan itu terserah direksi yang bersangkutan.

Demikian juga ketika saya minta Pertamina meningkatkan produksi minyak. Sebagai Menteri BUMN, saya malu kalau produksi minyak Pertamina tidak bisa meningkat. Bukan hanya malu. Tapi juga prihatin. Impor minyak kita terlalu besar.

Salah satu yang saya dorong adalah ditingkatkannya produksi minyak dari sumur-sumur tua milik Pertamina. Lantas masuklah ide dari berbagai kalangan. Semua saya forward ke direksi Pertamina, atau saya print untuk diserahlan ke direksi Pertamina.
Selanjutnya sepenuhnya terserah direksi. Apakah masukan itu akan diperhatikan, ditanggapi atau diabaikan.
Direksi bumn memiliki aturannya sendiri. Rupanya dalam hal ini ada yang ditanggapi oleh direksi Pertamina.
Lalu Pertamina melakukan proses tertentu yang sesuai dengan prosedur mereka. Yang seperti ini bisa membahayakan saya. Bisa saja pesan forward dari saya tadi dianggap memo atau rekomendasi atau disposisi yang dianggap bagian dari KKN.
Saya sendiri tidak akan pernah merasa begitu. Saya percaya direksi Pertamina memiliki aturan dan disiplin sendiri unruk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Usaha meningkatkan produksi sumur tua itu mulai memberi hasil. Sudah ada sumur tua yang dulunya hanya menghasilkan minyak 80 barel perhari sudah bisa menjadi 400 barel perhari. Padahal Pertamina memiliki sekitar 5.000 sumur tua. Tentu tidak semua bisa direvitalisasi. Tapi kalau bisa separonya saja, sangat berarti bagi negara yang masih besar impor minyaknya.

Apakah dengan sorotan dari majalah TEMPO terbaru itu saya akan menghentikan kebiasaan meneruskan e-mail, SMS dan BBM dari masyarakat ke para direksi BUMN? Sama sekali tidak! Saya tidak takut sama sekali. Kebiasaan itu tetap akan saya teruskan, dengan segala resikonya. Semua SMS, BBM dan e-mail dari siapa pun tetap akan saya kirim (forward) ke direksi terkait.

Mungkin memang ada di antara masukan itu yang kemudian diperhatikan direksi dan lantas menjadi bisnis. Saya tidak keberatan. Asal diproses dengan benar. Apakah yang di Pertamina itu sudah di proses dengan benar? Salah satu e-mail itu memang datang dari orang yang sudah saya kenal baik. Isinya sebuah ide jitu untuk merevitalisasi sumur tua. Rupanya ide itu dipakai oleh Pertamina.

Ketika selentingan “Disposisi Dahlan” itu mulai dipersoalkan sebagian serikat pekerja, saya perlu menelepon direksi Pertamina. Saya tanyakan: “Apakah sudah diproses secara benar?” Jawabnya tegas: “SUDAH”. “Apakah itu karena disposisi saya?” Jawabnya tegas: “TIDAK”.

Masukan itu, untuk bisa sampai diterapkan di lapangan, ternyata sudah diuji dengan benar. Bahkan kasus keberhasilan merevitalisasi sumur tua itu jadi bahasan utama dalam konferensi insinyur perminyakan se-Dunia di Dubai tahun ini.

Tentu menarik juga kalau dalam proses itu ditemukan kasus korupsinya.
Bongkar saja! Siapa menerima apa. Tunai maupun fasilitas.
Bongkar!!! Kenapa tidak?!
Tapi kalau ternyata tidak ada korupsinya, tidak ada aliran uangnya, tidak ada gratifikasinya, pemanfaatkan teknologi untuk merevitalisasi sumur tua itu harus dipuji!

Kita memang sulit melakukan terobosan di negeri ini. Tapi tidak boleh niat baik kalah oleh fitnah.

Dahlan Iskan
Menteri  BUMN

Iklan

Diskusi

123 thoughts on “Kekalahan Kebaikan oleh Fitnah

  1. Bacaan semangat sebelum tidur. BONGKARRRR!!!

    Posted by arsyad syauqi | 9 Desember 2013, 1:17 am
    • Bonceng pertamax gan!

      Posted by Aldizy | 9 Desember 2013, 1:28 am
      • Walah boncenger diboncengilagi hehe

        Posted by gadgetmoo.com | 9 Desember 2013, 5:08 am
        • Ayo kita semakin bergerak ditempat kita masing-masing untuk mendukung Pak Dahlan Iskan Demi Indonesia.

          Tag Line kita :

          Dahlan Iskan : Demi Indonesia
          Dahlan Iskan : Sahabatku Pemimpinku
          Dahlan Iskan : Kerja.. Kerja.. Kerja..

          Semoga ALLAH meridho’i.

          =============================================================================
          Teman-teman yuk kita gabung dan kumpul-kumpul di http://www.facebook.com/groups/dahlaniskangroup/
          Terbuka untuk siapapun kita.

          Salam hormat,
          Bonzo – Jakarta Barat

          Posted by bonzo | 9 Desember 2013, 8:30 am
          • Sudahkah Anda gabung mendaftar jadi relawan Dahlan Iskan?
            Caranya siapkan nomor telepon yang valid, lakukan 3 hal berikut dan ikuti langkahnya/konfirmasi by phone:
            1. Daftar dan dapatkan ID relawan di http://www.dicommunicationcenter.com
            2. Daftar dengan ketik SMS :
            – Format: Daftar*Nama*Umur*JenisKelamin(L/P)*Alamat
            – Contoh: Daftar*Eko Putra*29*L*Jakarta Pusat
            – Dikirim ke: 0896 500 600 81 atau 0896 500 600 82
            3. Undang teman untuk daftar (berpeluang mendapat hadiah) dengan ketik SMS :
            – Format: Undang*Nama*Umur*JenisKelamin(L/P)*Alamat*No.HPTeman
            – Contoh: Undang*Eko Putra*29*L*Jakarta Pusat*0812xxxxxxxx
            – Dikirim ke: 0896 500 600 81

            Posisi sementara (Propinsi, jumlah relawan)
            Sumatera Utara 1758
            Jawa Timur 399
            Jawa Tengah 251
            Jawa Barat 149
            DKI Jakarta 59
            Sumatera Selatan 53
            Kalimantan Tengah 38
            Kalimantan Timur 34
            Banten 28
            DI Yogyakarta 27
            Riau 22
            (blank) 20
            Nusa Tenggara Barat 17
            Lampung 16
            Nanggroe Aceh Darussalam 15
            Kepulauan Riau 14
            Jambi 13
            Kalimantan Selatan 11
            Sulawesi Selatan 10
            Kalimantan Barat 10
            Sumatera Barat 9
            Bali 7
            Sulawesi Tengah 7
            Sulawesi Utara 6
            Kalimantan Utara 5
            Bengkulu 4
            Nusa Tenggara Timur 4
            Bangka Belitung 3
            Maluku 3
            Maluku Utara 2
            Sulawesi Barat 1
            Sulawesi Tenggara 1
            Papua 1
            Luar negeri:
            Saudi Arabia 3
            Republik Rakyat China 3 (5)
            Qatar 1
            Korea Selatan 1
            Yaman 1
            Singapura 0 (1)

            Posted by Apa Saja | 9 Desember 2013, 11:53 am
    • RAWE-RAWE RANTAS MALANG-MALANG PUTUNG! MAJU TRUSSSS DI FOR RI 1

      Posted by Emha Yuslifar | 9 Desember 2013, 9:23 am
  2. Terima kasih pencerahannya pak DIS tetap semangat membangun Indonesia. Jayalah negeriku.

    Posted by binro | 9 Desember 2013, 1:18 am
  3. Mari sama2 kita mentahkan fitnah tabloid tempo itu ! Semangat dahlanis…. Semakin di fitnah semakin bergelora dan berlipat ganda keyakinan kita untuk DI for president ! Salam kerja kerja kerja

    Posted by hotelbumiasih | 9 Desember 2013, 2:45 am
  4. Kita memang sulit melakukan
    terobosan di negeri ini. Tapi tidak
    boleh niat baik kalah oleh fitnah.

    Tetap Semangat!

    Posted by msodikvip | 9 Desember 2013, 3:21 am
  5. Niat baik mestilah mendatangkan hasil baik pak. Sehat selalu ya pak. 🙂

    Posted by karin sabrina | 9 Desember 2013, 3:45 am
  6. Semangat Pagi Indonesia…

    Posted by msyatno | 9 Desember 2013, 4:00 am
  7. Fitnah & “Fatonah” memang hanya ada di Indonesia…….
    “Iri karena tidak mampu atau iri karena tidak “kebagian”……

    Posted by rhon | 9 Desember 2013, 4:26 am
  8. Kenapa membaca MH ini aku menangis yaa, aku jg gak tau…apa karena berkaitan dg direktur PLN, yg ud kerja keras dan kena fitnah korupsi, apa benar mereka korupsi… ? Yaa اَللّهُ SWT… Smg Engkau melindungi negeri ini.. Berikanlah berkah dan hidayahMu pd pemimpin negeri ini… Lindungilah negeri ini dari adzabMu Yaa Robb…

    Posted by yuni | 9 Desember 2013, 4:46 am
  9. Mendukung Abah Dahlan Iskan menjadi Presiden RI 2014

    Posted by Djoko Sawolo | 9 Desember 2013, 4:52 am
  10. Isi nya Curhat…Rupa nya Beliau sedang Galau…Gɑ̤̈ perlu Galau pak..jalan yg benar memang biasanya banyak kerikilnya…entah yg kasar atau halus…jalan terus Pak,.doa kami untk Bapak dan mereka Amanah…

    Posted by sekarpamungkas1 | 9 Desember 2013, 4:57 am
  11. ” niat baik tidak boleh kalah oleh fitnah” maju terus abah. Allah SWT bersama orang2 yg berbuat kebaikan. smoga abah senantiasa diberikan kesehatan.amiin.

    Posted by anrie_farel | 9 Desember 2013, 5:04 am
  12. “Tapi tidak boleh niat baik kalah oleh fitnah.”
    kemudian niat baik tersebut direalisasikan
    lanjuuuuttt

    Posted by tyo | 9 Desember 2013, 5:07 am
  13. susahnya membenahi mental pejabat negri ini. haruskah hukum karma yang berbicara ?

    Posted by cah wonogiri | 9 Desember 2013, 5:09 am
  14. kalai tidak terbukti, gugat balik…”fitnah lebih kejam dr pada pembunuhan”.

    Posted by aburachman | 9 Desember 2013, 5:43 am
  15. Dahlan Iskan itu tamatan Tempo ? Gunawan Mohammad adalah mentornya. Karena itu Gunawan Mohammad lagi menguji anak didikknya. Jika lolos diuji kemungkinan menjadi presiden tinggi. Besuk Tempo akan memberikan ujian lebih berat lagi. Ayo Tempo uji terus Dahlan Iskan.

    Posted by Widi | 9 Desember 2013, 5:46 am
  16. Salam Sejahtera
    Maju terus Pak DI ,,
    Niat baik memang banyak sekali tantangannya ,, apalagi iklim politik di Indonesia dengan puluhan Partai Politik ,, dua tiga ato bahkan lebih yang mengharapkan Bapak akan tersandung masalah demi keuntungan mereka.
    InsyaAllah, Allah SWT menjaga Bapak
    Amiin ya Robbal Alaamiin

    Posted by prassetijosungkono | 9 Desember 2013, 6:02 am
  17. D pasti sudah tahu batas2 kepatutannya

    Posted by bandung bondowoso | 9 Desember 2013, 6:47 am
  18. Cobaan cobaan dan cobaan akan selalu datang kepada mereka yang memperjuangkan kebaikan. Bukan untuk membuat keraguan dan membatalkan niat kebaikan, namun untuk menguji kualitas perjuangan dan menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk menghadapi cobaan itu sendiri. Mari terus berjuang, sesuatu yang diniatkan, direncanakan, diucapkan dan dikerjakan karena kebaikan terus lah kita jalankan, Demi Indonesia tercinta. Salam DahlanIs, salam kebaikan dan semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan, kekuatan, bimbingan dan lindungan kepada Pak Dis dan kita semua para pegiat kebaikan. Mari terus kerja kerja kerja. Semangat Pagii 🙂

    Posted by akadarisman | 9 Desember 2013, 7:02 am
  19. Jalan terus bah semua nanti akan tau mana yang berbuat baik tuk negei tercinta ini

    Posted by ki ageng Ronggojumeno | 9 Desember 2013, 7:03 am
  20. tidak akan jadi presiden Dahlan Iskan, jika tidak lulus ujian ini.

    Posted by tki | 9 Desember 2013, 7:05 am
  21. Ada yg bisa kasih link artikel Tempo ini?

    Posted by lumpiarivai | 9 Desember 2013, 7:07 am
  22. baru kali mbaca MH dengan nada agak marah, maju terus pak dahlan

    Posted by ed | 9 Desember 2013, 7:21 am
  23. Setuju pk dis.. bongkar!!! Saja.. seprti semangat bang iwan fals… sapa takutt… maju terusss indonesia…

    Posted by iwan | 9 Desember 2013, 7:21 am
  24. maju terus pak dahlan iskan… kalahkan fitnah dengan terus berbuat kebaikan dan kerja
    mdh2an ujian ini adalah jalan untuk meninggikan derajat abah

    Posted by kirana | 9 Desember 2013, 7:41 am
  25. Asal yakin benar akan bermanfaat untuk perkembangan bisnis dan sesuai prosedur yang berlaku maju terus jangan takut sama fitnah. Maju terus BUMN Indonesia.

    Posted by muklisin | 9 Desember 2013, 7:48 am
  26. Asal yakin benar akan bermanfaat untuk perkembangan bisnis dan sesuai prosedur yang berlaku maju terus jangan takut dan kalah sama fitnah. Maju terus BUMN Indonesia.

    Posted by muklisin | 9 Desember 2013, 7:52 am
  27. tergantung sudut pandang,nah mari kita menggunakan sudut pandang positif,ayo maju demi indonesia…

    Posted by abdillah | 9 Desember 2013, 7:53 am
  28. Gak nyangka sekelas tempo beritanya adalah fitnah dan sampah.. jngan2 selama ini berita2 yg diangkat tempo hanyalah fitnah dan sampah belaka.. jd gak percaya sm tempo..

    Posted by Munoe | 9 Desember 2013, 7:56 am
  29. benar2x negeri yang aneh…orang yg kerja keras di fitnah…sementara yang jelas2x korup malah “dipelihara”.
    Pak DI jika nanti menjadi presiden, mohon terapkan HUKUMAN MATI bagi para koruptor.

    Posted by arti | 9 Desember 2013, 8:04 am
  30. Maju terus Pak, kami dukung. Cocok diduetkan dengan Prabowo dengan catatan bapak diusung oleh PDI P.

    Salam

    Posted by uranoncuUran | 9 Desember 2013, 8:13 am
  31. lanjut pak Dahlan

    Posted by sugarajoss | 9 Desember 2013, 8:18 am
  32. seharusnya semua mentri punya blog kayak gini, jadi masyarakat tahu kerjaannya itu apa aja..??

    Posted by sugarajoss | 9 Desember 2013, 8:22 am
  33. Bongkar!!! Ayo semangat Demi Indonesia. Vote Dahlan Iskan for RI 1 2014

    Posted by msyatno | 9 Desember 2013, 8:36 am
  34. Tempo,Vivagroup,media group,MNC Group,pemberitaannya memuakkan,apalgi para pengamat yg sudah dicocok hidungnya dengan uang,mestinya pengamat juga berimbang dalam memberikan penilaian.masak dibilang selama 9 tahun tdk ada prestasi yg dibuat SBY,pantesan aja ruhut bilang kau itu pengamat hitam,krn hatinya,pengamatannya sudah dihitamkan oleh pemilik media yg notabenenya ketua parpol dan capres tertentu. Ruhut itu meskipun omongan nya agak kasar tpi belak belakan dan apa ada nya.

    Posted by Arya Sutha | 9 Desember 2013, 8:38 am
    • Jangan terlalu sensitif, mereka hanya jualan… siapa yang bayar lebih itu yang dilayanani.

      Posted by bowo | 9 Desember 2013, 10:00 am
      • Tambahan ini juga karena perilaku umum masyarakat kita, yaitu lebih suka berita-berita negatif. Umumnya lebih rajin mengikuti perkembangan info negatif semacam gosip daripada info tentang kebaikan/keberhasilan.

        Adalah tugas kita semua untuk menyadarkan itu minimal mulai dari keluarga kemudian ke tetangga dst

        Posted by bowo | 9 Desember 2013, 10:05 am
    • komentar DI yg memuakkan, penuh kebohongan ! coba baca komentar dia ttg oentang pekerja outsorcing PLN dan Pertamina katanya sudah diangkat sebanyak 31 ribu orang menjadi pegawai tetap, padahal satupun gak ada, BOHONG !!! ini hanya utk menipu DPR dan rakyat, udah jangan dibela atau anda berdosa

      Posted by judy | 11 Desember 2013, 9:27 pm
  35. MH curhat. walo tak menangis spt bu yuni. rasanya ikut ngenes bin prihatin. mgkn benar komen pak widi, sang mentor sdg menguji. Maju tak gentar krn benar
    ide jitu kreatif inovatif bisa datg dr siapa saja. kalo memang efektif efisien berdayaguna utk diterapkan knapa enggak. asal sesuai prosedur dan aturan. teknokrat indonesia kmampuannya sejajar dgn negara lain. jayalah indonesiaku. utk pak dis smoga slalu sehat dan tetap dlm lindungan allah swt

    Posted by fia | 9 Desember 2013, 8:40 am
  36. Mantap DI,maju karena benar,terkait pertamina dlm pembatasan BBM subsidi pemasangan alat RFID dgn jumlah kendaraan yg sangat banyak dan mengganggu SPBU,sebaiknya Pemasangan PT.Inti dapat memasang dgn kolektif di kantor2/mal/show room sehingga tdk membuat keresahan baru dan buang2 waktu,juga konsistensi Pertamina menyediakan/distribusi BBG untuk rakyat,sehingga mafia harga bbg 3 kg,12 kg tdk merajalela,apakah ini ulah oknum pertamina? tolong ditertibkan Pak DI.bravo DI

    Posted by toga | 9 Desember 2013, 8:51 am
  37. Memang betul bahwa niat baik dan kebenaran tidak boleh dikalahkan oleh kefasikan dan fitnah..

    Posted by tarigan1902 | 9 Desember 2013, 9:00 am
  38. Kebanyakan kasus yang dimunculkan untuk dipolitisir bukan untuk dibongkar, semoga niat baik tidak tumbang oleh fitnah

    Posted by Fris | 9 Desember 2013, 9:02 am
  39. sangat setuju

    Posted by udin | 9 Desember 2013, 9:03 am
  40. jadi gregetan bacanya, sepertinya tempo lagi getol cari duit…….untuk siapa ya…..?????????

    Posted by MChoir | 9 Desember 2013, 9:06 am
  41. Tidak ada laut yang tidak bergelombang dan tidak ada perjuangan tanpa fitnah. Ini tidak ada uji menguji antara murid dan guru yang ada hanyalah secuil kepentingan, Majalah Tempo mempunyai kepentingan begitu juga DI mempunyai kepentingan, hanya bentuknya yang lain. Majalah Tempo kepentingannya jelas yaitu meningkatkan oplah penjualan majalahnya..(Mungkin juga politik ?????), adapun DI juga jelas kepentingannya yaitu ingin Masuk Surga. Dua kepentingan yang sangat berbeda orientasinya, dan ini kecil kemungkinannya untuk disatukan, yang satu bersifat materialistik/neo liberal sedangkan yang satunya bersifat pengabdian untuk negara. silahkan dipilih menurut selera anda.

    Posted by Abu Arum | 9 Desember 2013, 9:08 am
  42. Negeri yang sulit untuk diterka oleh akal sehat……orang yang akan memajukan negaranya bisa dikalahkan oleh orang yang kepingin berkuasa…..orang yang bersih, jujur, bisa dikalahkan oleh orang yang korup….aneh bin ajaib negeri ini….. memang benar di dunia politik tidak ada yang abadi…yang ada hanya kepentingan…Pak Dahlan Iskan ….maju terus …kepentingan menyejahterahkan SELURUH rakyat Indonesia….mudah mudahan tercapai ….

    Posted by suhardi | 9 Desember 2013, 9:16 am
  43. Pantesan detik ga nongolin nih MH ternyata ngomongin fitnahan Tempo… Jurnalis sekarang kalo ga bikin fitnah emang ga laku kali yah….

    Posted by dulgenuk | 9 Desember 2013, 9:37 am
  44. Bukannya dulu pak dahlan juga wartawan Tempo? TUNGGAL GURU OJO NGGANGGU, TUNGGAL KONCO OJO NGGODHO.

    Hari-hari ini media-media kebanyakan hanya mencari keuntungan dengan memainkan berita. Kebetulan yang sekarang yang menjadi bahan jualan pak Dahlan.

    Btw, banyak dokumen2 rahasia perusahaan/pemerintah bisa bertebaran ke media menunjukkan ada yg tidak amanah di tubuh perusahaan tersebut.

    Posted by bowo | 9 Desember 2013, 9:59 am
  45. Ini lho foto surat yang dipermasalahkan tempo itu……. ternyata isinya kritik untuk pertamina…bukan minta proyek. https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151917960267830&set=gm.10151798126280334&type=1&theater

    Posted by ilikedis | 9 Desember 2013, 10:18 am
  46. Yang pertama, DI mempunyai nilai jual yang tinggi, apapun gerak DI bagi media merupakan uang, jadi media nggak perlu repot-repot dalam mengeruk keuntungan walaupun ada pihak yang dirugikan…inilah salah satu dasar dari filosofi NEO LIBERAL yang dianut majalah tempo.

    Yang kedua, Majalah Tempo sangat tahu bahwa DI merupakan “Harta Karun” bagi medianya. Inilah saatnya untuk meng-Explore DI begitalah kira-kira pemikiran Majalah Tempo.

    Yang ketiga, Direksi Majalah Tempo sangat tahu kelemahan DI, bahwa walaupun diomongin apa saja DI tidak akan mensomasinya apalagi mengerahkan penggemarnya untuk DEMO.

    Yang keempat, Majalah Tempo dapat pesan sponsor untuk selalu menjatuhkan DI walaupun kesalahannya DI relatif sangatlah kecil. ini sesuai dengan filosofi kaum zionis (bukan berarti Tempo itu Zionis)

    Yang kelima, Direksi Majalah Tempo ingin dikenang sebagai “Pahlawan” karena sudah bisa memborbardir agenda DI yang ingin memajukan Negara dan Bangsa ini.

    Yang keenam, Direksi Majalah Tempo menganut faham “Hater’s” yaitu “paku yang menonjol harus di palu”

    Yang ketujuh, Direksi Majalah tempo sedikit banyak sudah ketularan “Triomacan2000″…wani piro

    Yang kedelapan, Direksi Majalah Tempo menganut filosofi “Triomacan2000” yaitu “Fitnah” adalah “Uang”

    Yang kesembilan…tunggu kelanjutannya…

    Posted by zuqos | 9 Desember 2013, 10:36 am
    • ZUQOS,

      Analisa yang menarik.

      Salam hormat,
      Bonzo

      Posted by bonzo | 9 Desember 2013, 10:45 am
    • Yang menganut ini bukan hanya Tempo, yang lainnya juga. Media adalah bisnis alias tambang uang. Bukan perjuangan

      Posted by bowo | 9 Desember 2013, 11:20 am
    • Betul betul betul, Sungguh sangat top markotop analisanya

      Posted by Ikin | 9 Desember 2013, 11:58 am
    • Kesembilan : ” mungkin ini cerita lama, kalau merujuk : http://www.youtube.com/watch?v=7TUgrSlqc68
      Alkisah, DIS dapat membalas “dendam” terhadap tempo, dalam hal besarnya media.
      Dan mungkin tempo berpikir:” ini lah saat nya membalas “

      Posted by Juned | 10 Desember 2013, 2:40 am
    • Kalau saya berpikir ini suatu kecemburuan yang tak terlihat, kenapa yah saya nggak seperti Pak DIS, sama sama Wartawan bahkan saya punya back ground Teknik, kok dia yang diangkat jadi Dirut PLN, lalu Meneg BUMN lalu calon RI-1 pula, ini nggak bener ini, kan aku lebih pintar dari dia apa sih bisanya dia, kan dulu aku sering ngobrol dengan dia, dia biasa biasa saja. Padahal kepintaran ilmu akademis tidak menjamin kesuksesan. Saya mendengar bahwa Pak DI itu sangat bijaksana, sangat tidak SARA walapun pendidikan pesantren, jadi pantas dan boleh dibilang Negarawan.

      Posted by Humala Pontas Silaen | 14 Maret 2014, 2:14 pm
  47. cukup terkejut saya baca judul mh kali ini, ada apa dengan tempo ya ?
    untuk menghindari suudzon, saya berpikir tempo me warning pak DI untuk hati-hati dlm me forward sms, email atau sejenisnya ke pihak terkait, barangkali ada yg nunut kaya kayak pak DI.
    terus saja pak DI kerjakan terus apa yg harus dikerjakan dan bpk tahu apa yg harus dilakukan untuk itu
    tuhan beserta orang yg sabar dan iklas.

    Posted by aniq abdullah | 9 Desember 2013, 11:04 am
  48. sesudah membaca tulisan di KASKUS tentang “jilbab hitam”? baru terjawab dengan jelas mengapa surat saya yang menyampaikan ada kelasahan prosedur oleh direksi BEI tidak dimuat oleh Medai(biasanya jika ada berita dari organisasi saya hampir semua media bisnis memuat). tdk satupun media memuat padahal wartawan terus-terusan meminta email berita tersebut bahkan seteleh 5 hari masih ada yg minta, tapi tdk dimuat, aneeh. saya duga memang ada kordinator mafia berita yang melindungi pihak-pihak tertentu dan terjawab sudah. pak Dahlan maju terus, jangan takut, semoga Allah SWT selalu melindungi Bapak dan Keluarga,

    Posted by sanusi | 9 Desember 2013, 11:05 am
    • Media jaman sekarang sudah disetir oleh berbagai kepentingan, terutama oleh kepentingan politik pemiliknya. sayang dahlan iskan tidak memakai medianya untuk mengamankan posisinya

      Posted by tatang suryadin | 9 Desember 2013, 12:11 pm
  49. ORANG-ORANG YANG TERGANGGU KEPENTINGAN BISNISNYA, KEPENTINGAN POLITIKNYA SELALU BERUSAHA MENGKRITISI SEGALA KEBIJAKAN DAHLAN ISKAN DENGAN BERBAGAI FITNAH, JEBAKAN DAN SEBAGAINYA.
    KITA PERCAYA DAHLAN ISKAN ADALAH PEMIMPIN AMANAH DAN INGIN SELURUH BANGSA INDONESIA MAJU, MAKA SIAPAPUN YANG MELAWAN DAHLAN ISKAN ADALAH PENGHIANAT BANGSA, YANG INGIN DIA SAJA YANG BERJAYA, DAN BIASANYA DIA YANG DISETIR OLEH KEPENTINGAN ASING.

    Posted by tatang suryadin | 9 Desember 2013, 12:17 pm
  50. Kita memang sulit melakukan terobosan di negeri ini. Tapi niat baik tidak boleh kalah oleh fitnah. Kenapa di negeri ini selalu saja ada orang yang nggak suka melakukan perbuatan baik bahkan mereka selalu mencoba mencari cari kesalahan, padahal dalam hatinya kecilnya saya yakin mereka itu juga masih menginginkan negeri ini maju.

    Posted by Ikin | 9 Desember 2013, 12:21 pm
  51. Orang Hebat Harus Kita DUKUNG SELALU…
    Orang2 yg mencari2 kesalah didoakan saja agar segera insyaf…

    Posted by PUTU | 9 Desember 2013, 1:08 pm
  52. Jilbab hitam di kaskus sdh cukup buktikan siapa dan bagaimana tempo. Prmainan opini sdh menghantam abah. Entah siapa yg pesan n siapa yg bayar. Yg pasti pengkhianat bangsa. Tabahkan hati abah. Doa kami selalu bersamamu.

    Posted by tonybastian | 9 Desember 2013, 1:11 pm
  53. Reblogged this on Asuransi Allianz Life Indonesia and commented:
    Sip.

    Posted by desoel | 9 Desember 2013, 3:05 pm
  54. Cerita yang bagus Pak, anda pasti sudah senior nih di dunia tulis menulis, bila ada waktu kunjungi blogku ya. Salam kenal

    Posted by Gigih | 9 Desember 2013, 3:48 pm
  55. kalo mau merenung, PLN dan Pertamina. . . . Kerjanya luar biasa. . . Kalo melihat dari udara mobil dan motor yg mengular itu alangkah banyaknya dan smua taunya tinggal isi bahan bakar,murah dan ndak peduli.
    Apalagi malam hari ,alangkah indahnya daratan dikota kota maupun jalan . . Bagaimana mereka Pln menjaga agar tetap menyala.
    . . . Pernahkah kita berterima kasih kepada mereka ?

    Posted by Posag | 9 Desember 2013, 5:11 pm
  56. Pak pom bensin di kalimantan yg jual minyak subsidi di drum dan jerigan juga di bereskan lah, masa pom bensin di buka hanya untuk melayani truk dan mobil yg antri membeli minyak pakai drum dan jerigan aja.

    Posted by bendol waseso | 9 Desember 2013, 6:35 pm
  57. Sebagai info aja, di kalimantan byk pom bensin subsidi yg tutup siang hari krn kehabisan minyak, tp knp byk yg penjual bensin di sekitar pom dengan stok yg melimpah. Apa mungkin mereka para pengecer membeli minyak non subsidi dr pertamina ???

    Posted by bendol waseso | 9 Desember 2013, 6:43 pm
  58. Tumben Pak Dahlan Iskan menulis MH dengan isi seperti ini yaa ??, mungkin karena Beliau sudah merasa kesal juga dengan perlakuan media yang tidak adil ?.
    Tapi ngomong-ngomong… saya tetep salut sama Pak Dahlan Iskan, memang Fitanh hanya dapat dilawan dengan pembuktian.. jadi tunggu apalagi ayoo bongkar..!!

    Posted by Manihot Ultissima | 9 Desember 2013, 7:32 pm
  59. Semoga saja manusia manusia pemfitnah membaca MH ini, siapa tahu mereka akan sadar, syukur syukur mereka balik mendukung Pak Dis

    Posted by Ikin Muslikin | 9 Desember 2013, 10:57 pm
  60. Katrok, katanya ngga disposisi, tapi ngaku juga setelah ketahuan :

    Ketika selentingan “Disposisi Dahlan” itu mulai dipersoalkan sebagian serikat pekerja, saya perlu menelepon direksi Pertamina. Saya tanyakan: “Apakah sudah diproses secara benar?” Jawabnya tegas: “SUDAH”. “Apakah itu karena disposisi saya?” Jawabnya tegas: “TIDAK”.

    Posted by katrok | 10 Desember 2013, 5:35 am
  61. @ Junet, makasih diteruskannya yang ke sembilan

    Yang kesepuluh….tunggu kelanjutannya

    Posted by zuqos | 10 Desember 2013, 5:42 am
  62. Apapun yang dilakukan oleh Pak Dis selalu saja ada orang yang nggak suka, bahkan mereka malah berusaha mencari cari kesalahan, Tapi bagi Pak Dis niat baik akan tetap terus jalan dan tidak akan kalah dengan fitnah. Kerja kerja kerja

    Posted by Ikin Muslikin | 10 Desember 2013, 6:34 am
  63. Membuka wawasan dari penjelasan bapak. Thanks

    Posted by nandito silaen | 10 Desember 2013, 7:20 am
  64. Saya suka dengan ungkapan terakhir “Kita memang sulit melakukan terobosan di negeri ini. Tapi tidak boleh niat baik kalah oleh fitnah.” Betul! Berat memang…

    Posted by Mochamad Yusuf | 10 Desember 2013, 8:38 am
  65. Meskipun diterjang badai fitnah, Tetaplah semangat pak dahlan iskan, bapak adalah salah satu figur yang cocok memimpin dan menyelamatkan negeri ini

    Posted by Dina Aftani | 10 Desember 2013, 9:04 am
  66. Bnr2 ujian yg komplit nih buat DI. PLN dan pertamina, lalu kemaren KAI (walau itu musibah, tp ttp aja ketahuan KRL tdk siapp dgn peralatan darurat utk pecahin kaca)… Udah sering komen sih bhwa PLN dan KAI ujung tombak masalah sekaligus ujung tombak keberhasilan… Perlu kerja lebih keras dan PR yg menyampaikan hasil kerja tsb. Kebetulan sekarang lagi jamannya UAS… Semoga lulus ujian pak DI… Jd nanti semester depan bisa naik kelas jadi RI 1… Hehehehe

    Posted by sutan sjah | 10 Desember 2013, 9:42 am
  67. Maju terus Pak Dahlan….
    Abaikan saja orang2 politik yang cuma bisa mencari-cari kesalahan orang lain, tapi ndak berbuat apa2 untuk negeri ini…

    Posted by DWi S. Harsono | 10 Desember 2013, 10:04 am
  68. dahlan iskan pernah dibikin sakit hati sama TEMPO,
    DI lah yg ketika memimpin TEMPO biro surabaya berhasil menghidupkan kembali Jawapos (pernah diakuisisi Tempo) yg sudah sekarat.
    Dia gak dapet reward dari prestasinya tersebut. dan gemparlah markas besar Tempo ketika disana dia memuntahkan uneg2nya…
    kok ya sekarang dia disakiti lagi?…apa mungkin mereka yg ‘mengupas’ (bukan mengulas) tidak tahu peran besar DI dalam sejarah Tempo.

    biasa aja lah, jangan cari makan dengan melahap bangkai saudaramu sendiri…Tempo terlalu bagus untuk ikut2an jadi media kelas tetelan.

    Posted by daya setiawan | 10 Desember 2013, 2:58 pm
  69. Saya dulu suka baca Tempo, tapi setelah saya tahu kerjaanya tempo sekarang tukang sebar fitnah saya langsung stop. Buat apa baca tempo kalau isinya cuma menjelekkan jelekkan orang yang dulu pernah ikut membesarkan tempo.

    Bukankah ada pepatah sesama sopir jangan mendahului. Kenapa sesama orang pers harus berusaha menjatuhkan? Kenapa kok tidak berusaha memberitakan pengabdian Pak Dis yang selama ini dilakukan demi negeri ini. Ingatlah Pak Dis adalah kebanggaan orang-orang Pers itu sendiri. Kerja kerja kerja, Demi Indonesia.

    Posted by Ikin Muslikin | 11 Desember 2013, 6:45 am
  70. Bisnis paling inoatif dari ustad Yusuf Mansur. Ubah pengeluaran Anda menjadi pendapatan bersama VSI. Klik http://www.bisnisvsi.biz

    Posted by mei | 11 Desember 2013, 2:36 pm
    • Tulisan Pertama :

      Dahlan: Pos Indonesia “mati ya mati saja”
      TERBIT : Kamis, 31 Januari 2013 12:03 WIB | 6811 Views
      SUBJECT : Penambahan Modal Negara (PNM)

      Tulisan Kedua :

      Cum Laude Melalui Clearing House Model Ketut
      POSTED BY ADMINISTRATOR ⋅ 1 JULI 2013 ⋅ 103 KOMENTAR
      TERBIT : Senin, 01 Juli 2013
      Manufacturing Hope 83
      SUBJECT : APPRECIATION KEPADA PAK KETUT

      Tulisan Ketiga :

      Komentar ente, bagus banget.

      Salam hormat,
      Bonzo

      Posted by bonzo | 11 Desember 2013, 6:36 pm
  71. maaf barangkali tulisan ini bentuk karma pa dahlan yg tlh melakukan kebohongan publik mslh outsourcing jg tlh mempermainkan nasib rkyt kcl atw mungkin jg mulai terkabulnya outsourcing yg terzalimi..mana ada kebaikan dikalahkan oleh fitnah/kejahatan, yg ada setiap kebaikan pasti akan happy ending dan itu sdh janji Allah entah prosesnya seperti apa….cb renungkan..

    Posted by junus | 11 Desember 2013, 8:15 pm
  72. kalau sms tentang pekerja outsorcing BUMN kepada direksi BUMN bagaimana pak, kenapa sistem perbudakan ini masih di pertahankan ? takut kehilangan penghasilan tambahan ? padahal itu uang negara. sudahlah tak usah sok hebat, buat apa BUMN jadi hebat tetapi burhnya melarat dan sekarat, yang dapat nilai hanya menteri dan dirut, ini dzoolim ! hasilnya Harom !. bertaubatlah pak sebelum adzab datang di dunia dan akhirot, angkat buruh Outsorcing di BUMN jadi pegawai tetap BUMN segera, insyaa Alloh diampuni dosa2 anda dan pekerja organik BUMN

    Posted by judy | 11 Desember 2013, 9:20 pm
    • Maaf, saya bingung membaca komen anda.
      Kalau merasa diperbudak, kenapa tidak keluar saja ?

      Posted by Juned | 12 Desember 2013, 1:45 am
    • Bang JUDY,

      Penyataan kamu “…. …, kenapa sistem perbudakan ini masih di pertahankan ?”

      Benar bang, jangan mau jadi budak, kamu resign (berhenti) kerja aja.

      Teman saya bilang, “lebih baik nganggur daripada jadi budak”.
      Teman saya bilang, “nganggur lebih terhormat daripada jadi budak”.

      Berarti kamu masih punya akal sehat, bukan akal sakit. Salut.

      Salam hormat,
      Bonzo – Jakarta Barat

      Posted by bonzo | 12 Desember 2013, 12:11 pm
    • Sampean karyawan outsorching mas?
      Setau saya kalau mau jadi karyawan tetap apa saja (apalagi BUMN) harus melalui seleksi yang standardnya telah ditentukan. Jadi kalau sampean pingin jadi akryawan tetap, ada baiknya sampean menyiapkan diri dan/atau membekali diri dengan kemampuan yang diburtuhkan tempat sampean kerja agar dalam seleksi, sampean siap untuk mengalahkan “saingan” sampean…
      Tetap semangat ya…

      Posted by HIBATILLAH'S | 12 Desember 2013, 2:16 pm
    • Setahu saya kalau ingin melamar jadi karyawan BUMN harus melewati minimal 4 tahap penyaringan…Eh yang karyawan oursourcing enak aja minta diangkat jadi karyawan tetap…

      Kalo ngaku kerja sebagai karyawan outsourcing adalah perbudakan, kenapa juga si Junus, Judy dan teman2nya mau aja ngelamar. Dan kenapa pula mau aja sampai sekarang bekerja…

      Pake bawa2 kata dosa lagi…

      Dasar manusia munafik dan hina anda2 itu….

      Posted by Ardian | 13 Desember 2013, 4:47 pm
  73. sumber: http://hukum.kompasiana.com/2013/12/09/tempo-mengfitnah-dahlan-iskan-617008.html

    Yang menimbulkan pertanyaan adalah kenapa Dahlan dan Karen membantah telah membuat disposisi atau memo itu? Padahal jelas-jelas Tempo telah menemukan bukti salinan dokumen dengan disposisi yang ditulis dan ditandatangani oleh Dahlan/Karen itu.

    Bagaimana dengan informasi yang diperoleh Tempo, yang menyebutkan tanggal revisi pedoman KSO telah dimanipulasi? Bahwa sebenarnya, revisi KSO itu baru dilakukan setelah perjanjian kontrak ditandatangani (setelah 16 Agustus 2013), tetapi dibuat seolah-olah sudah direvisi sebelum perjanjian itu dibuat (2 Agustus 2013)?

    Bagaimana juga dengan laporan Tempo yang mengatakan, seharusnya proyek sumur-sumur tua itu bisa dikerjakan sendiri oleh anak usaha Pertamina, yaitu, Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PEP)? Tetapi, karena proyek itu telah diserahkan kepada perusahaan sahabat dekat Dahlan Iskan itu, PEP kehilangan potensi keuntungan sampai Rp. 37 triliun?

    Hal-hal seperti inilah yang tidak ada di penjelasan Dahlan Iskan di artikelnya itu. Atau, Tempo yang harus membuat laporan investigasi yang lebih dalam untuk bisa mempertanggungjawabkan lebih lanjut laporannya itu. Agar kita bisa tahu, sebenarnya Tempo itu telah melakukan fitnah kepada Dahlan Iskan ataukah tidak? ***

    Posted by uyung | 12 Desember 2013, 6:03 am
    • Apakakah catatan kecil Pak Dahlan di Hard Copi email dari temennya merupakan disposisi? saya pikir bukan. Itu hanyalah sebuah note Men. BUMN kepada Dirut Pertamina. Dan ingat catatanyanya hanya berbunyi Untuk Ibu Karen : ” Sebagai Bahan Perbaikan”. Ini catatan biasa yang tidak masuk dalam kategori Disposisi. Note tersebut kemudian dilanjutkan dengan Note ibu Karen : ” tolong untuk dibahas bersama dengan PEP”. Sekali lagi catatan – catatan tersebut baru sebatas “Note” dan bukan disposisi, kalau disposisi sudah mengarah petunjuk pengambilan keputusan.
      Meski demikian saya setuju kalau kasus ini di bongkar saja, karena saya melihat ada pihak – pihak yang menmanfaatkan situasi dari adanya note Pak Dis dan Dirut Pertamiana. Tapi poinnya adalah saya sepakat sekali dengan dengan Pak Dahlan : Kebaikan jangan sampai kalah oleh fitnah. Apa yang di lakukan Pak Dis dengan share email ke Dirut BUMN tentu bagus apalagi didalam email tersebut banyak hal yang isinya bersifat perbaikan.
      Tempo sendiri dalam tulisanya menyebutkan bahwa belum ada bukti Pak Dahlan Iskan mengambil keuntungan dari Note di atas hard copi email tersebut. Jadi kesimpulan sementara, isu ini baru sebatas iktiar kecil dari Tempo untuk menaikan olplahnya, meskipun korbannya adalah “darah dagingnya” sendiri he he… Maju Terus Pak Dis ini hanya kericil kecil “Road To RI 1”

      Posted by Radiya | 13 Desember 2013, 6:29 am
    • anda masih ingat dengan kasus (klo dianggap kasus) PLN INEFISIENSI Rp. 37 T bahkan pak dahlan bilang seharusnya lebih dari Rp. 100 T…apa yg dibilang oleh efendi bloon….kerugian….padahal inefisiensi bukan merupakan kerugian….apakah ini juga …Note (catatan) bukan merupakan disposisi atau keputusan….apakah ini merupan plintiran dari para jurnalis (dalam hal ini tempo)…orang awam akhirnya hanya membaca ini kongkalikong – KKN dll….tolong lihat arti bahasanya dulu…klo emang niat menjatuhkan ……silahkan artikan sendiri…

      Posted by suhardi | 13 Desember 2013, 9:17 am
      • Effendy Simbolon dan Tempo adalah dua orang buta yang membicarakan mengenai bentuk Gajah, jang diucapkan Pak DIS itu 100% betul karena harga jual listrik PLN SAMPAI SEKARANG adalah harga subsidi. Harga Subsidi itu artinya harga jual listrik diseluruh Indonesia sama termasuk harga listrik di Puncak Jaya, Irian. Hitung hitungannya gampang, kalau Pembangkit Listriknya PLTD, Harga Pokok Produksinya Rp 3000/ Kwh dijual kepada Rakyat Rp 1000/Kwh nombok Rp 2000/Kwh. Di Jawa dan didaerah yang ada PLTA atau PLTU Batubara bisa untung lalu subsidi silang dengan daerah daerah yang masih PLTD. Penjelasan ini mestinya bisa dimengerti oleh lulusan SMP kecuali orang idiot atau sengaja bohongin rakyat agar membenci Pak DIS dan Pak SBY. Kerugian Rp 37 T itu karena Anggota DPR minta menyelesaikan Krisis Listrik secara cepat, satu satunya Solusi adalah membuat Peternakan Diesel didaerah daerah Krisis Listrik. TIDAK ADA SOLUSI yang bisa dilakukan Pak DIS dan PLN kecuali yang seperti itu dalam waktu singkat kecuali ABU NAWAS yang bisa bikin PLTU 6 bulan, PLTU Batubara 2 x 100 Mw bisa dibangun paling cepat 28 bulan itu pun kalau lancar semua persiapannya. Saya ini Insinyur Listrik pengalaman 40 tahun, kalau orang orang di Tempo itu mungkin Insnjur Listrik yang dengar sana dengar sini lalu nulis dan membuat suatu drama bagi orang awam, kalau nggak salah Pemimpin Redaksinya juga Lulusan Elektro juga cuman spesialisasinya nulis cerita.

        Posted by Humala Pontas Silaen | 12 Maret 2014, 3:10 pm
  74. Disinilah letak keahliannya Pak Dahlan, dikala dia merasa di fitnah, dia bisa menyampaikan curhatnya lewat tulisanya di MH, sehingga bisa dibaca dan dipahami oleh semua orang.

    Tentu kalau kita ingin mengetahui yang benar dan yang salah yang mana, harusnya di bongkar saja. Bukankah sudah dijelaskan Pak Dahlan, Siapa menerima apa. Tunai maupun fasilitas. Bongkar saja !!! Kenapa tidak ! Kerja kerja kerja. Demi Indonesia

    Posted by Ikin Muslikin | 12 Desember 2013, 7:48 am
    • betul slh satu keahlian dahlan adlh kewenangan maen tunjuk maen otoritas.dlm melakukan otoritasnya nyaris halus tak terlihat masyarakat umum.cuci tangan adlh keahlian dahlan jg.sbg negarawan bpknya bumn semestinya dahlan faham btl bhw setiap tingkhlaku,tindakan/ kebijakan & statmen yg dia buat pastinya mengandng makna&arti yg harus dipertanggngjwbkan kpd slrh rakyat RI.
      pun dgn kasus tempo mngkin DI niatnya baik(wallahu alam) tp dengan adanya “memo” tsb,jelas dan terang,(ada bukti) bkn fitnah terliat ada cmpur tngn DI dlm hal ini mskipun secarik memo bentuknya. sementara disisi lain dia mengatakan dgn terang”n pertamina diberi kewenangan dlm menentukan mitranya sendiri tdk akan pernah ada cmpurtngn dr DI sbg mentri bumn..dan kasus ini menimbulkn prasangka negatif yg DI sebut sbg “fitnah” tp ini wajar, lha tindakannya seprti itu??

      Posted by junus | 12 Desember 2013, 10:16 am
      • “kasus ini menimbulkn prasangka negatif yg DI sebut sbg “fitnah” tp ini wajar,….”
        yaaa.. wajar saja toh……
        Wajar : karena anda Su’udzon (buruk sangka/negative thinking) kepada DI ?
        Apa itu masalahnya, bung junus ?

        Posted by Juned | 12 Desember 2013, 11:05 pm
      • junus & ikin….anda sok tahu dengan semua masalah yang ada di BUMN….hanya sekarang anda menjadi SOK pintar…..padahal…..silakan artrikan sendiri…

        Posted by suhardi | 13 Desember 2013, 9:20 am
  75. Outsourcing lg…. outsourcing lg…… sdh tahu upah murah. Status g jelas. Msh aj brtahan. Demo terus minta/ ngemis kesejahteraan. Upaya perbaikan nasib sendiri mana? Hidup koq d gantungkn org lain. Daripada mengecam org yg g bs bntu merbaiki nasibny. Lebih baik energiny d pakai u mencari terobosan n kerja…kerja….kerja…. demi diriny sendiri.

    Posted by tonybastian | 12 Desember 2013, 12:39 pm
    • sangat setuju bung tony…. jangan seperti Junus dan Ikin ….maunya mengemis minta jadi pegawai tetap….tapi gak masuk spesifikasi pegawai tetap yang dibutuhkan ….

      Posted by suhardi | 13 Desember 2013, 9:21 am
      • hehe..saya paling anti mengemis mas malah kl bs saya akan memberi dan itu lbh mulia..dulu ktka saya melamar lsng ke prshn tnpa koneksi dgn sejumlah persyrstan (pnddikn wkt itu min D3-S1) termasuk sesi terakhir wawancara alhmd diterima meski jd seorang OS.
        saya percy diri aja akan kemampuan, potensi n keahlian dlm bekerja mengingat sdh lbh dr 15 thn saya mengabdi dslh satu bumn .mengingat beban pekerjaan dll sama dgn krywn ttp tapi penghargaan & kesempatan menambah wawasan diperlakukn berbeda dr pihak prshn mk kami menuntut hak jd krywn tetap.
        saya n kwn2 OS siap ditanding (kl dipertandingkan) lgsung dilapangan di bagian mn saya bekerja dgn lulusan yg melalui seleksi(fresh graduate) ukuran standar prshn.okelah saya beri kesempatan tuh yg lulus seleksi utk OJT terlebih dahulu agar mengenal dunia pekerjaan di bagian mana saya&kwn2 dipekerjakan. anda yakin kl fresh graduate/lulusan seleksi itu bs lgsng melakukan pekerjan2 plus permslhn2 yg ada?? tanpa bimbingan dr senior2,dsuruh lgsng bekerja sndri?? (mf bukannya merendahkn) fakta akurat “tdk akan pernah bisa” paling dia bengong, tdk tau apa yg musti dikerjakan.

        intinya,kl kami OS menuntut jd tetap ingsyallh prshn tdk akan rugi, kami siap tempur tanpa OJT,tanpa bimbingan trlbh dulu,tanpa platihn& pendidikn, dll, yg kesemuanya itu hanyalah proyek2 yg memerlukn biaya besar ( mending kl tdk dikorup).

        Posted by junus | 13 Desember 2013, 12:47 pm
        • Saya tidak mengerti, kenapa dengan status anda, kemudian menyalahkan DIS ?
          bukannya anda sudah bekerja sebagai OS 15 tahun, dan apakah DIS yang menyebabkan nasib anda ?
          kesan saya, anda sedang galau, kemudian membuat komen yang tidak nyambung.

          Posted by Juned | 13 Desember 2013, 3:07 pm
        • Ngapain juga betah jadi budak OS selama 15 tahun pak Junus????…Kalau tahu OS itu adalah perbudakan kenapa anda tidak keluar dari dulu dan ngelamar kerja ditempat lain yang jauuuhhhh lebih bagus dan sejahtera. Kalau anda pintar dan skill anda bagus, tentu akan mudah mendapatkan pekerjaan di tempat lain. Beda kalau kemampuan anda sebaliknya, maka akan berusaha ngemis ke orang lain untuk mendapatkan gaji lebih…

          Posted by Ardian | 13 Desember 2013, 5:01 pm
        • Bung , saya sih sudah bisa menebak di perusahaan mana anda sebagai OS, tapi anda nggak pantas untuk menjelek jelekkan Pak DIS, umur anda kira kira 30-35 tahun, kalau anda mengatakan berkwalitas saya agak kurang percaya. Saya dulu sering menghadapi orang orang seperti anda yang terlalu pede terhadap kemampuannya, coba ketemu dengan seperti saya, pasti akan saya tunjukkan kekurangan anda, terutama sok pedenya, karena pengalaman saya sampai pensiun, dan kerja lagi di swasta selama 10 tahun (umur saya sekarang 66 tahun), saya belajar terus dan masih belajar dan sampai sekarang tidak pernah merasa pintar dan pede, jadi kita kita ini nggak sekelas Pak DI, dia terlalu tinggi buat kita, walaupun dia merakyat.

          Posted by Humala Pontas Silaen | 14 Maret 2014, 2:30 pm
  76. Salah satu kelemahan kita adalah maunya segala sesuatu itu didapatkan dengan mudah. Apalagi setelah DPR meminta Menteri BUMN secepatnya untuk mengangkat pegawai outsourcing menjadi pegawai tetap. Maka semakin banyaklah yang ingin menjadi pegawai outsourcing walaupun gajinya murah, toh sebentar lagi kan diangkat pegawai tetap.

    Tapi buat Pak Dahlan hal seperti itu bisa diatasi dengan pengangkatan menjadi pegawai tetap secara bertahap. Mana yang harus didahulukan dan mana yang harus diseleksi dulu. sehingga kasus-kasus wani piro dapat dihindari.

    Posted by Ikin Muslikin | 13 Desember 2013, 7:49 am
  77. Apa yang dilakukan pak Dahlan Iskan itu baik, bahwa hal itu mengandung resiko bisa saja. Coba apa yang tidak berisko dalam pengambilan keputusan? Jadi pak jalan saja, insyaallah ada petunjuk bagi mereka yang memiliki pengetahuan dan hati nurani. Maju terus, kembangkan teknologi di segala bidang, karena itu yang akan membantu kita keluar dari masalah. Semoga sukses. Amin.

    Posted by Soebroto Hadisoegondo | 13 Desember 2013, 8:16 am
  78. Apapun itu yang penting indonesia majuu

    Posted by masbrowww | 14 Desember 2013, 7:21 am
  79. semangat trus pokoke 😀

    Posted by TrenDIs (@trenDIs179) | 14 Desember 2013, 8:42 am
  80. Kenapa Akhir-akhir ini Manufacturing Hope nya aga kurang bagus yah pak? Masih bapak kah yg nulis MH ini?

    Posted by rxb10 | 16 Desember 2013, 10:17 am
  81. d’Explosafe®, dwipa extra effort production for low pressure well safety system

    Posted by PT Dwipa Citraperkasa | 16 Desember 2013, 4:05 pm
  82. ardian@ucapan anda…”eh yg karywn outsourcing enak az minta diangkat jd krywan tetap”…dst…hati2 dgn lisan yg tak terjaga!..justru orang yg hina nan rendah martabatnya itu adlh orang yg tdk suka melihat orang lain senang..saya sendiri krywn tetap, mendukung agar para outsourcing mendapat keadilan yg sama seperti krywn ttp krn semuanya sdh jelas kl praktik OS dinegeri kita sdh menyimpang dr koridor perundang undangan .

    ardian,cobalah belajar berucap kata yg baik dan tdk menyakiti ,belajarlah berkomen yg elegant dgn berpemikiran 99 pertimbangan ..itulah sejatinya sbg dahlainiser

    Posted by yosef | 17 Desember 2013, 7:41 am
    • Bung Yosef, Bung Ardian itu sudah dongkol membaca keluh kesah OS karena para OS ini kebanyakan menyerah kepada nasib, nggak berani ambil risiko untuk pindah kerja (penakut termasuk pengecut), padahal kalau sesuai dengan pengakuannya mereka proffesional, banyak lapangan pekerjaan yang gajinya 3 x lipat dari BUMN tempat mereka kerja. Saya dulu juga pernah mempunyai anak buah OS, yang bekerja juga 15 tahun , bukan jaminan mempunyai kemampuan, kalau anak buah saya seperti itu sudah saya habisin, mungkin atasannya tidak cukup pintar atau professional untuk menunjukkan kekurangan anak buahnya, jadinya anak buahnya sudah merasa pintar dan berani beraninya menjelek jelekkan Pak DI.

      Posted by Humala Pontas Silaen | 14 Maret 2014, 2:51 pm
  83. biasalah sepertinya Tempo udah kebakaran jenggot ne..masak mantan anak buahnya juga mau dicelakakan dengan fitnah..wahai Tempo,masak majalah sekelas ini bisa kayak gitu nulis beritanya..orang-orang tempo perlu belajar ke Pak Dahlan cara nulis yang berimbang.

    Posted by Caderabdulpacker.com | 18 Desember 2013, 12:09 pm
  84. Joss….. Makin Semangat!! Jangan ketinggalan utk baca ini juga “Majalah Pegawai Kantoran” setiap seninnya >> http://www.mediatamamag.com/

    Posted by Praja Penulis Buku | 5 Januari 2014, 8:40 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: