>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, Manufacturing Hope

Mengabdikah di BUMN? Lebih Sulitkah?

Manufacturing Hope 3
Senin, 05 Desember 2011

Benarkah menjadi eksekutif di BUMN itu lebih sulit dibanding di swasta? Benarkah menjadi direksi di perusahaan negara itu lebih makan hati? Lebih tersiksa? Lebih terkungkung birokrasi? Lebih terbelit peraturan? Lebih tidak ada hope? Jawabnya: entahlah.

Belum ada penelitian ilmiahnya. Yang ada barulah rumor. Persepsi. Anggapan.

Bagaimana kalau dibalik: tidak mungkinkah anggapan itu hanya cermin dari pepatah “rumput di halaman tetangga lebih hijau”. Atau bahkan lebih negatif lagi: sebagai kambing hitam? Yakni, sebuah kambing hitam untuk pembenaran dari kegagalan? Atau sebuah kambing hitam untuk sebuah ketidakmampuan?

Agar lebih fair, sebaiknya didengar juga suara-suara dari kalangan eksekutif swasta.

Mereka tentu bisa banyak bercerita. Misalnya, cerita betapa stresnya mengejar target dari sang pemilik perusahaan. Di sisi ini jelas menjadi eksekutif di swasta jauh lebih sulit. Bagi seorang eksekutif swasta yang tidak bisa mencapai target, hukumannya langsung di depan mata: diberhentikan. Bahkan, kalau lagi sial, yakni menghadapi pemilik perusahaan yang mulutnya kotor, seorang eksekutif swasta tidak ubahnya penghuni kebun binatang.

Di BUMN konsekuensi tidak mencapai target tidak ada. Menteri yang mewakili pemilik BUMN setidaknya tidak akan pernah mencaci maki eksekutifnya di depan umum.

Bagaimana dengan citra campur tangan yang tinggi di BUMN? Ini pun kelihatannya juga hanya kambing hitam. Di swasta campur tangan pemilik jauh lebih dalam.

Katakanlah direksi BUMN mengeluh seringnya dipanggil DPR sebagai salah satu bentuk campur tangan. Tapi, saya lihat, pemanggilan oleh DPR itu tidak sampai memiliki konsekuensi seberat pemanggilan oleh pemilik perusahaan swasta. Apalagi, Komisi VI DPR yang membawahkan BUMN sangat proporsional. Tidak banyak yang aneh-aneh. Bahkan, salah satu anggota DPR di situ, Mumtaz Amin Rais, sudah seperti anggota parlemen dari Inggris. Kalau bertanya sangat singkat, padat, dan langsung pada pokok persoalan. Tidak sampai satu menit. Anggota yang lain juga tidak ada yang sampai menghujat tanpa alasan yang kuat. Jelaslah, campur tangan pemilik perusahaan swasta jauh lebih mendalam.

Di swasta juga sering ditemukan kenyataan ini: banyak pemilik perusahaan swasta yang maunya aneh-aneh. Kediktatoran mereka juga luar biasa! Sangat biasa pemilik perusahaan swasta memaksakan kehendaknya. Dengan demikian, cerita soal campur tangan pemilik, soal pemaksaan kehendak, dan soal kediktatoran pemilik di swasta jauh lebih besar daripada di BUMN.

Bagaimana dengan iklim korporasinya? Sebenarnya juga sama saja. Hanya berbeda nuansanya. Bukankah di swasta Anda juga sering terjepit oleh besarnya dominasi keluarga pemilik? Apalagi kalau si pemilik akhirnya sudah punya anak dan anak itu tumbuh dewasa dan menghasilkan menantu-menantu? Dengan demikian, tidak cukup kuat juga alasan bahwa menjadi eksekutif di BUMN itu lebih sulit karena iklim korporasinya kurang mendukung.

Bagaimana soal campur tangan politik? Memang ada anggapan campur tangan politik sangat menonjol di BUMN. Untuk soal ini pun saya meragukannya. Saya melihat campur tangan itu lebih banyak lantaran justru diundang oleh eksekutif itu sendiri. Di swasta pun kini akan tertular penyakit itu. Dengan banyaknya pemilik perusahaan swasta yang terjun ke politik, bisa jadi kerepotan eksekutif di swasta juga bertambah-tambah. Tidakkah Anda pusing menjadi eksekutif swasta yang pemiliknya berambisi terjun ke politik?

Maka, saya curiga orang-orang yang sering mengembuskan wacana bahwa menjadi eksekutif di BUMN itu sulit adalah orang-orang yang pada dasarnya memang tidak bisa bekerja. Di dunia ini alasan, dalih, kambing hitam, dan sebangsanya terlalu mudah dicari. Orang yang sering diberi nasihat atasannya, tapi gagal dalam melaksanakan pekerjaannya, dia akan cenderung beralasan “terlalu banyak dicampuri sih!”. Sebaliknya, orang yang diberi kepercayaan penuh, tapi juga gagal, dia akan bilang, “Tidak pernah ditengok sih!”.

Maka, pada akhirnya sebenarnya kembali ke who is he! Kalau dibilang menjadi direksi di BUMN itu sulit dan bekerja di swasta ternyata juga sulit, lalu di mana dong bekerja yang enak? Yang tidak sulit? Yang tidak repot? Yang tidak stres? Yang gajinya besar? Yang fasilitasnya baik? Yang bisa bermewah-mewah? Yang bisa semaunya?

Saya tidak bisa menjawab itu. Yang paling tepat menjawabnya adalah orang yang tingkatan hidupnya lebih tinggi dari saya. Bukan Rhenald Kasali atau Tanri Abeng atau Hermawan Kartajaya. Bukan Peter Drucker, bukan pula Jack Welch.

Yang paling tepat menjawab pertanyaan itu adalah seseorang yang lagi menikmati tidurnya yang pulas pada hari Senin pukul 10 pagi di bawah jembatan kereta api Manggarai dengan hanya beralaskan karton. Dialah seenak-enaknya orang. Sebebas-bebasnya manusia. Tidak mikir utang, tidak mikir target, tidak mikir tanggung jawab. Orang seperti dialah yang barangkali justru heran melihat orang-orang yang sibuk!

Maksud saya: maka berhentilah mengeluh!
Maksud saya: tetapkanlah tekad! Mau jadi direksi BUMN atau mau di swasta. Atau mau, he he, memilih hidup yang paling nikmat itu!
Maksud saya: kalau pilihan sudah dijatuhkan, tinggallah kita fokus di pilihan itu. Sepenuh hati. Tidak ada pikiran lain kecuali bekerja, bekerja, bekerja!

Daripada mengeluh terus, berhentilah bekerja. Masih banyak orang lain yang mau bekerja. Masih banyak orang lain yang tanpa mengeluh bisa menunjukkan kemajuan!

Lihatlah direksi bank-bank BUMN itu. Mereka begitu majunya. Sama sekali tidak kalah dengan direksi bank swasta. Padahal, direksi bank BUMN itu terjepit antara peraturan birokrasi BUMN dan peraturan yang ketat dari bank sentral. Mana ada direksi yang dikontrol begitu ketat dari dua jurusan sekaligus melebihi direksi bank BUMN” Buktinya, bank-bank BUMN kita luar biasa.

Lihatlah pemilihan Marketeers of The Year yang sudah lima tahun dilaksanakan Marks Plus-nya Hermawan Kartajaya. Empat tahun berturut-turut Marketeers of The Year-nya adalah direksi BUMN! Swasta baru menang satu kali! Para Marketeers of The Year dari BUMN itu adalah tipe orang-orang yang tidak pandai mengeluh! Mereka adalah tipe orang yang bekerja, bekerja, bekerja!

Lihatlah tiga CEO BUMN yang minggu lalu terpilih sebagai CEO BUMN of The Year: R.J. Lino (Dirut Pelindo 2), Tommy Soetomo (Dirut Angkasapura 1), dan Ignasius Jonan (Dirut Kereta Api Indonesia). Mereka adalah orang-orang yang sambil mengeluh terus bekerja keras. Mereka terus menghasilkan prestasi dari sela-sela jepitan birokrasi dan peraturan. Bahkan, salah satu dari tiga orang itu terus bekerja keras sambil menahan sakitnya yang berat.

Lihat pulalah para direksi BUMN yang malam itu memenangi berbagai kategori inovasi di BUMN. Mereka adalah orang-orang andal yang mau mengabdi di BUMN.

Maaf, mungkin inilah untuk kali terakhir saya menggunakan kata “mengabdi di BUMN”. Setelah ini saya ingin menghapus istilah “mengabdi” itu. Istilah “mengabdi di BUMN” tidak lebih dari sebuah kemunafikan.

Selalu ada udang di balik batu di balik istilah “mengabdi di BUMN” itu. Setiap ada pihak yang mengucapkan kata “mengabdi di BUMN”, pasti ada mau yang ingin dia sampaikan. Banyak sekali mantan pejabat BUMN yang ingin terus memiliki rumah jabatan dengan alasan sudah puluhan tahun mengabdi di BUMN. Terlalu banyak orang BUMN yang memanfaatkan istilah mengabdi untuk tujuan-tujuan tersembunyi. Barangkali memang sudah waktunya BUMN bukan lagi tempat mengabdi, dalam pengertian seperti itu. Kecuali mereka benar-benar mau bekerja keras di BUMN tanpa digaji! Sudah waktunya BUMN hanya sebagai tempat membuat prestasi. (*)

Diskusi

148 thoughts on “Mengabdikah di BUMN? Lebih Sulitkah?

  1. saatnya semua lari kalo masih jalan apalagi ngesot ya bakal tertinggal bahkan gak kepake…. bravo pak Dis……….

    Posted by syaif | 5 Desember 2011, 9:26 pm
    • saya sangat-sangat terharu, mudah-mudahan pak DI punya keberanian untuk membuang jauh-jauh mungkin kelaut aje orang-orang di BUMN yang tidak mau bekerja keras, yang manuanya enaknya aja ..emang perusahan nbahmu po….rakyat ni menderita……kalian yang punya jabatan gaji besar, fasilitas mewah masih aja suka korupsi.memang waktu kecil hidupnya pasti menderita….makanya ketika menjadi pejabat merasa sok kaya…habisi…habisi…habisi..aja pak Dahlan Iskan orang-orang yang seperti itu, saya dukung 1000% pak DI. selamat berjuang.

      Posted by Agus Supriyono | 6 Desember 2011, 8:52 am
      • Bekerja itu memberikan tenaga, waktu, pikiran untuk diri sendiri, seseorang, perusahaan, pemerintah, negara, rakyat, dsb. Kalau untuk “pengabdian”, itu jika sudah bekerja di tempat itu beberapa tahun lamanya (walau tidak bisa diukur juga sih – baca: relatif, red).
        Yang penting bekerja itu ikhlas dan tidak mengeluh, kalau masih mengeluh juga, mending usaha sendiri..tapi usaha sendiri juga tidak bisa bertahan lama kalau masih suka mengeluh🙂

        Posted by BUMN atau SWASTA itu TIDAK PENTING | 12 Desember 2011, 7:22 pm
    • YA LAH harus kerja keras,jangan lelet. sMOGA SUKSES bUNG dIS, TERMASUK SUKSES MENGATASI TUKANG MENGELUH TANPA KERJA KERAS. Kalo menangabdi ya sama Tuhan, petik hasilnya diakherat nanti. DUNIA TEMPAT MENANAM/tEMPATNYA KERJA KERAS. Kerja di BUMN gajinya gede tuh masa masih ngaku mengabdi, rumus dari mana ya…..babat aja sudah kalo ngakar disitu BUNG DIS. Sebel ngliati.Kalo gak dikorup..gede banget tu hasil BUMN, lagian kekayaan alam dikuasai negara, diolah negara. Trus negara tu siapa sih……………. Bung Dis GIMANA KABAR PT TASPEN, konon katanya banyak dana disono salah invest atao di korup. Kalo dulu dapat taspen bisa dipake haji……sekarang boro2 haji……dipake uang muka perumahan aja gak bisa. Gimana sih bisa gitu. Kasian bagi pegawe yg gak bisa korup cuma gitu2 aja, masih dibawah garis…meskipun dikit jumlahnya

      Posted by Dayakindo | 7 Desember 2011, 5:55 pm
  2. seperti kata steve jobs, jangan percaya dogma ya pak Dis?

    Posted by Pandu Aji Wirawan | 5 Desember 2011, 9:41 pm
  3. Teruslah berkarya Pa dahlan untuk negeri ini,doakan kami generasi muda menjadi penerus perjuanganmu untuk negeri ini..semoga bapa sehat wal’afiat slalu,amin

    Posted by @D3D1_A | 5 Desember 2011, 9:58 pm
  4. brarti klo sudah ujungnya prestasi tinggal menunggu aja BUMN kita jadi world class seperti yang pak dis dengungkan ato minimal kalahin malay..siipp pak.. kita doakan .. kita bisa :))

    Posted by isma | 5 Desember 2011, 10:25 pm
  5. “kalau pilihan sudah dijatuhkan, tinggallah kita fokus di pilihan itu. Sepenuh hati. Tidak ada pikiran lain kecuali bekerja, bekerja, bekerja!”

    saya suka kalimat ini🙂

    Posted by Berlin Sianipar | 5 Desember 2011, 10:59 pm
  6. wah… pak dahlan rek.. memang sudah waktunya yang mau kerja di BUMN di filter. kalau mau enak ya tidur aja di bawah jembatan manggarai. bisa kerja sambilan ngitung yang lewat d situ berapa aja, siapa tahu ada proyek kalo yang lewat dah overload. hehehe..

    Posted by pratamasigit | 5 Desember 2011, 11:49 pm
  7. bisa buat motifasi buat kita anak muda untuk bekerja keras dan tidak mudah mengeluh

    Posted by Bauy | 6 Desember 2011, 12:17 am
  8. Selamat berjuang pak DIS, do’a kami selalu mengiringi langkah bapak.
    Ayo BUMN, tunjukkan prestasimu. Nggak perlu sampai level world class, cukup memberikan kontribusi & keuntungan bagi negara. Insya Allah pengakuan yg lain akan datang dengan sendirinya.

    Posted by Areks | 6 Desember 2011, 6:04 am
  9. loyal dan integrit adalah hal yang mekan hati..apa lagi banyak oknum yang selalau mengurangi keikhlasan…. niati segala sesuatu untuk-Nya….

    Posted by slamet | 6 Desember 2011, 7:02 am
  10. SEMANGAT, Bekerja, bekerja, bekerja

    Posted by Ridwan Fajar | 6 Desember 2011, 7:22 am
  11. iya..hidup kerja..kerja dan kerja jadi ingat tulisan bapak d buku ganti hati “bekerjalah sebaik baiknya”..teruslah menulis pak dahlan agar semangat bapak jg menular ke anak muda indonesia

    Posted by inna | 6 Desember 2011, 7:31 am
  12. Sungguh luar biasa tulisan tulisan dari pak dahlan ini. Semoga bapak bisa memberikan yang terbaik di BUMN.

    Kami tunggu kiprah bapak kemudian.

    Posted by admin | 6 Desember 2011, 7:41 am
  13. “mengabdi di bumn ” menjadi ” bumn tempat membuat prestasi “…..istilah yg bagus pak dis…semoga selalu sehat buat pak dis dan keluarga….

    Posted by iwan | 6 Desember 2011, 8:04 am
  14. pak dis , perkenalkan nama saya sagung seorang mahasiswi kerja sama PLN di Politeknik Negeri Bali.
    izinkan saya menanggapi ya pak🙂
    memang sulit kalau sudah menyebut kata “mengabdi” yang sesungguhnya kata-kata ini tidak main-main. mengabdi berarti secara sederhana tersirat makna tanpa pamrih da taat patuh. tetapi sesungguhnya mengabdi pasti perlu penghargaan untuk meningkatkan kinerja (menurut saya secara manusiawi) . pak dis , selalu semangat ya ,,,

    Posted by leegundi | 6 Desember 2011, 8:17 am
  15. Pak Dahlan, ditunggu reformasi nya di PERTAMINA dan TELKOM sebagai bukti Menteri BUMNA emang top…

    Posted by Ridho | 6 Desember 2011, 8:20 am
  16. Tulisannya selalu penuh aura semangat dan pesan-pesan moral yang tersembunyi di balik setiap kalimat. Tetap menjadi inpirasi bagi kita kaum muda Pak Dahlan

    Posted by massnitch | 6 Desember 2011, 8:32 am
  17. Semangat Perubahan…
    Fokus…
    Bekerja…
    Berinovasi…
    dan Fokus…

    Posted by Amrina Rosyada | 6 Desember 2011, 8:44 am
  18. Saya teringat gaya nasehat P. Zar Rahimahullah. i’maluu fauqa maa amiluu

    Posted by Umam | 6 Desember 2011, 8:52 am
  19. Konsumen pengguna adalah juri yang paling adil dan obyektif, maka jika diperkenankan maka saya sebagai pengguna kereta api krl komuter jakarta-bogor, mohon ijin menyampaikan penilaian berdasrkan pengalaman merasakan langsung setiap hari pelayanan krl yang belum signifikan hasil perbaikan pelayanannya.

    Masih banyak masalah sepele namun berdampak signifikan di soal manajemen operasi krl jabodtabek. Mulai dari tahap awal perencanaan sampai tahap pengendaliannya, yang terlalu panjang jika diuraikan disini.

    Dua contohnya yang paling sepele adalah pertama, soal pengumuman bagi penumpang bahwa krl yang dinaikinya sudah tiba di stasiun mana. Mosok hal seperti ini tak terfikirkan oelh para petinggi kai untuk dimasukkan di manual sopnya. Mosok sih para eksekutif kai kalah dibandingkjan dengan kernet metromini dan kernet kopaja.

    Kedua soal manajemen pemakaian kereta. Contoh kasus, jam 09 di stasiun bogor telah ada 3 rangkaian krl, 2 di peron, 1 di dalam depo. Jadwal keberangkatan kereta adalah jam 09.10 , 09.20 , 09.30 .

    2 rangkaian yg sdh ada di peron diperuntukkan untuk jadwal jam 09.20 dan 09.30, sedangkan yang di depo tak ada info, mungkin diperuntukkan yang jadwal 10.05

    Lalu untuk yang 09.10 rangkaian masih menunggu, kereta masih dalam perjalanan yang saat jam 09.00 baru sampai stasiun bojonggede..

    Mungkin kai memakai metode lifo (last in first out) dlm pemakaian keretanya. Namun akibatnya, saat kereta itu baru tiba di stasiun bosor pukul 09.10 akan mengakibatkan mundur jadwal beruntun.

    Kenapa jadwal 09.10 tak memakai saja kereta yg sdh ada di stasiun bogor ?, kenapa kereta yg masih di bojonggede itu tak dipakai untuk jadwal yang 09.20 atau 09.30 saja ?, khan sama jenis keretanya ?, khan bisa menghindarkan dari mundur jadwal beruntun ?.

    Saya yakin, hal tersebut luput dari tindak perbaikan dari direksi kai bukan karena tak bisa diperrbaiki. Namun karena para pemutus kebijakan di kai itu tak mengenal permasalahan dengan pasti lantaran nyaris tak pernahj merasakan langsung naik kereta api yg merupakan produk jasa layanan yg dihqasilkan oleh perusahaan yang dipimpinnya.

    Akhirulkalam, semoga catatan dari pengguna ini berguna

    Wassalamualaikum

    Posted by taufik | 6 Desember 2011, 9:08 am
  20. mantap pak Dis..
    banyak orang yg ingin menyontoh bapak..

    Posted by azuto | 6 Desember 2011, 9:30 am
  21. Saya sangat setuju dengan pak DIS pada dasarnya yang namanya bekerja yang penuh tanggung jawab dan serius pastilah tidak ada yang enak (apalagi kalau, namun apabila semua itu dilakukan dengan sungguh2 dan serius pasti akan menjadi lebih enak dan baik dalam menjalaninya. karena sesungguhnya kerja itu adalah kewajiban dan amanah.

    Maju Terus Pak DIS

    Posted by Henky Moriska | 6 Desember 2011, 9:46 am
  22. pak jangan segan2 mengganti orang2 yang tidak berkompeten. terus berjuang pak!

    Posted by andre007 | 6 Desember 2011, 10:31 am
  23. Pak Dah mohon diperhatikan keadaan setiap stasiun, contoh seperti ada sidak di stasiun depok lama,bojong gede dan cilebut ada pemberitahun dari petugas stasiun lewat mikrofon bahwa ada sidak dari pusat 2 jam lagi jadi para penjual asongan yg ada distasiun harus dibersihan sementara, nanti setelah ada kunjungan dari pusat selesai boleh lagi berjualan. Ini kelihatan sekali ada permainan Pak Dah bahwa sebenarnya setiap stasiun itu kotor dan rawan jadi jika ada kunjungan dari pusat dibuat cantik setelah pergi dibiarkan lagi sembrawut. Perlu adanya penilaian yg objekti sebelum menjadi KS jangan sampai ada KKN atau setoran. Bukan rahasia lagi di cikini yg berjualan di stasiun cikini harus membayar kepetugas dan KS serta lihat di lantai 2 keadaannya bau sekali banyak gelandangan, bau kencing serta sampah, ini KS cekininya hanya makan gaji buta aja Pak Dah, harus dilengserkan karena tidak mengikuti moto Bapak yang harus bekerja, bekerja dan bekerja. Bisa Pak Dah cek langsung tapi jangan dikasitahu sama KS nya ntar udah dirapikan tkp nya…. biasa ks nya gaya ordebaru abs. Mohon perhatiannya untuk fasilitas publik, makasih Pak Dah. Sehat selalu buat Bapak dan keluarga.

    Posted by mengurai | 6 Desember 2011, 10:43 am
  24. lagi…lagi….adaaaa aja ide om DIS, kapan ya beliau istirahat, sesekali ada tulisan tentang tidurnya om DIS..lucu juga kali yeee…no comment deh..smoga beliau sehat dan slalu dalam lindungannya..AMIIIINNN….

    Posted by kriswidiatmoko | 6 Desember 2011, 10:47 am
  25. Maju terus,….
    Kerja,…..kerja,…..kerja,….
    Semoga sehat selalu Pak DI

    Posted by Zlatan | 6 Desember 2011, 10:56 am
  26. Mantaaaappp Pak DI, semoga apa yang menjadi pemikiran anda dapat diterapkan dengan jujur, dan semoga BUMN dapat memakmurkan seluruh rakyat Indonesia. Kami berdo’a untuk anda Pak DI

    Posted by hendriks | 6 Desember 2011, 10:58 am
  27. Aih……Kang Dahlan, gamblang banget Pen-jlentrehan-nya, walau sambil bawa’PECUT’. salut, dech!!

    Posted by Begog | 6 Desember 2011, 11:25 am
  28. amin… amiiin

    Posted by Tomi Rimayoga | 6 Desember 2011, 11:36 am
  29. Utk pak DI: “saya dengan SENANG HATI akan BEKERJA SEPENUH HATI— tapi BELUM SAMPAI PADA LEVEL BEKERJA TANPA DIGAJI, mungkin NANTI setelah sampai di tingkatan dimana BAPAK SEKARANG BERDIRI”🙂 tx for inspiring me

    Posted by Sitta | 6 Desember 2011, 11:45 am
  30. Siaap membuat prestasi Pak Dahlan.

    Posted by M Arif Bijaksana | 6 Desember 2011, 12:41 pm
  31. luar biasa Pak Dahlan.
    mudah2an setiap Direksi di BUMN membaca tulisan ini, setidaknya mengingatkan mereka bahwa BUMN yg mereka pimpin bukan hanya menjadi ladang mereka mencari harta tanpa bekerja, bekerja, dan bekerja, dan tidak lagi merasa sebagai penguasa di BUMN yg dipimpin.
    Sebaiknya mereka mengundurkan diri saja jika memang mereka itu adalah direksi titipan karena ‘kongko-kongko’ dgn menteri sebelumnya.

    Posted by dragon | 6 Desember 2011, 1:13 pm
  32. menata indonesia yang sedemikian runyam tidak mudah pak,
    mempunyai posisi di bumn sudah mengeluarkan modal besar pak ( sebagian laah)
    tentunya masih berfikir Break even point yang terus menggelayut dipikiran merka,

    keberadaan Mass Transport terkadang susah karena penentu kebijakan lebih menikmati gain dari pangsa kendaraan pribadi yang instant,

    tengok saja tidak ada penambahan jalur kerta diluar trek yang sudah ada, yang ada juga terbengkalai dan bapak rasakan sendiri,

    saya beri tantangan kepada bapak,
    tolong commuterline sampai cikarang aja pak, hehe

    Posted by shayun | 6 Desember 2011, 1:24 pm
  33. tulisan sebaik ini mana bisa di komntari.. Coba baca lagi!!! Kalimat mana yg perlu d komeni.. Ga ada kan..

    Posted by yudhy | 6 Desember 2011, 1:31 pm
  34. yuk dukung pak DI jadi presiden 2014.. klo perlu bikin dukungan di facebook biar partai politik pada kalah semua😀 saya yakin banyak yang setuju..

    *kita butuh pemimpin yang jago praktek bukan jago omong doang*

    -saya surprise ngeliat pak DI ngantri di halte busway dukuh atas sudirman 051211😀

    Posted by BAYOU | 6 Desember 2011, 1:34 pm
  35. tulisan pak DI kali ini, terkesan sedang memarahi beberapa karyawan BUMN. terlihat dari nada tulisannya. Tapi sy setuju pak. memang harus dihapus tuh kalimat “mengabdi”. karena munafik sekali. Seperti mereka2 yang pada saat dilantik bersumpah, siap mengabdi pada negara. tapi ga lama kemudian, jadi “tikus” negara. menggrogoti uang rakyat. Udah bukan jamannya lagi karyawan BUMN yang malas dibiarkan di tempatnya.
    Singsingkan lengan baju
    singkirkan mereka yang tidak punya malu
    makan gaji buta, hidup mau enak
    tanpa kerja. bikin hati muak….

    Posted by teguh | 6 Desember 2011, 1:43 pm
  36. blognya bagus, mampir di blogku ya, http://duaribuan.wordpress.com

    Posted by duaribuan | 6 Desember 2011, 1:51 pm
  37. luar biasa Pak DI

    satu hal kebiasaan kita adalah mengeluh
    dan sau hal yang sering kita lupakan adalah sungguh-sungguh

    saatnya kita tinggalkan kebiasaan lama …. tinggalkan mengeluh….. ayo kerja sungguh-sungguh….

    Posted by bersimpulkesederhanaan | 6 Desember 2011, 2:07 pm
  38. Ditunggu karya-karya dari pak dahlan iskan dlm kepemimpinannya yg baru. Semoga Bapak Dahlan Iskan dapat membawa hal yg positif seperti yang dilakukannya sebagai Dirut PLN. Saya Tak mengharapkan perubahan yg luarbiasa karena kini dia bukan mengurusi PLN namun kini menjadi Bapak dari Beberapa Perusahaan BUMN.

    Selamat Bekerja, Pak Dahlan.

    Posted by Apriadi | 6 Desember 2011, 2:28 pm
  39. sipp….kalo tantangan ada di depan kita….siapa takut??? teruskan perjuanganmu kang Dahlan… rakyat memimpikan kerja2 nyata sepertimu….mereka sangat berharap atasan turun langsung melihat kondisi rakyatnya (seperti Kang Dahlan kemarin)…tanpa birokrasi, tanpa protokoler….jadi inget kisah Umar bin Khattab yang manggul gandum sendirian ke salah satu warganya yang kelaparan…..

    Posted by abu zalfa | 6 Desember 2011, 3:04 pm
  40. Kali saya bisa tertawa terpingkal-pingkal, kemana sih Bapak sebenarnya mau nembak dengan kata “mengeluh” karena beban dari pilihan tanggung jawab atau karier?
    Coba kita ganti kata “mengeluh” dengan “prihatin” apakah sama yah Pak?
    Jadi yang biasa ‘prihatin’ bisa jadi biasa ‘mengeluh’.
    Saya juga mencoba untuk mengganti semua kata itu dengan “mengabdi” apalagi “mengabdi pada negara” (mencontoh istilah Bapak ‘mengabdi pada BUMN) wuihh..jos tenan. Pegawai negeri adalah abdi negara. Jadinya seakan-akan memiliki negara, bisa ngapa-ngapain dengan kekayaan negara. Wuiinaakkk tenan yah. Makanya semua orang mau nyogok-nyogok untuk jadi pegawai negara. Sepertinya ini yang terjadi selama ini.
    Saya pikir sudah waktunya kata ‘mengabdi’ ditransfer kepada tafsir ayat qur’an karim, bahwasannya manusia diciptakan untuk mengabdi (beribadah). Jadi keren kan abdi negara adalah beribadah untuk negara. Insya Allah penyelenggaraan negara jauh lebih bersih dan bening.

    Posted by Achmad Saifullah | 6 Desember 2011, 3:15 pm
  41. mantab pak….

    ditunggu inovasnya di pertamina,..gmn caranya minyak indonesia bisa di manfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahtraan rakyat, bukan untuk kalangan tertentu

    dan aplikasi teknolgi penambangan minyak, bisa dikelola dari A sampai Z oleh orang2 indonesia dan teknologi indonesia, jgn di subcont ke perusahaan asing aja, jadi ilmu nya kita tidak dapat..

    temen ada yg bilang, indonesia klo mau ngebor dan explore sendiri minyaknya , kudu harus belajar dulu 20th lagi, baru bisa..soalnya selama ini yg mengerjakan hanya vendor2 asing semua, dan tidak ada transfer teknologinya..

    ampunn dah pertamina..

    Posted by rani_tea | 6 Desember 2011, 3:56 pm
  42. Selamat pagi Pak Jonan Dirut PT KAI yang terhormat, berserta jajarannya.
    Sudahkah anda naik kereta pagi seperti bapak mentri kemarin?
    Jika belum, bayangkanlah hari ini bapak akan berangkat kerja sebelum jam tujuh pagi arah sudirman,
    Selasa 6 Desember 2011 bapak bersama istri tercinta yang sedang hamil muda.
    @ Didepan stasiun bapak mesti berjalan lambat, karena banyak yang menghambat.
    @ Ketika membeli tiket, bapak harus menganti panjang di loket (maaf loket cuma 1)
    @ Nanya kepetugas, ac dulu atau eko dulu? ac sahut petugas. oke, ac sahut bapak.
    @ Eh yang lewat eko dulu, yang sudah penuh sesak. terpaksa menunggu.
    @ Commuter datang, bapak senang, dikereta istri sedikit gelisah, padat sekali ya.
    @ Sebentar kemudian istri berkata: “ac-nya nggak terasa apa karena penuh?
    @ Beberapa stasiun berlalu, penumpang bertambah padat, kaki mulai nggak napak
    @ Istri anda meminta jendela dibuka karena ia sulit menghirup udara
    @ Sambil menghiba istri anda berkata: “jangan sampai saya mati dikereta”
    @ Seorang pemuda menyela, apa perlu pintu dibuka?, ya ganjal saja sahut yg lain.
    @ Tiba distasiun transit, bapak terpaksa menunggu bermenit-menit,
    @ Atau.. jika kereta transit tlah tiba, dia ada di jalur berbeda,
    @ Istri anda terpaksa turun naik kereta dengan tergesa-gesa takut tak terangkut.
    @ Ups tunggu dulu pak, di jalur tengah ada kereta lain yang menghadang,
    @ Uh…. untung saja kereta transit belum pergi, sayangnya yang ada ekonomi.
    @ Agar terangkut, terpaksa harus berlari-lari sambil naik turun tangga dulu.
    @ untung tidak tersandung rel, belum lagi copet yang mulai merajalela.
    @ Bahkan biasanya anda harus melompat karena kereta tak ada yang bisa dipijak.
    @ Setelah melewati manggarai, ada gangguan wesel, distasiun depan.
    @ Anda terpaksa menunggu didalam kereta dengan waktu yang tidak bisa dikira2 ,
    @ Sambil berdiri dengan kaki yang mulai pegal dan keringat yang bercucuran.
    @ Istri anda mulai kesal, dia hampir terlambat, dan mesti naik ojek lagi ke kantor.
    @ Setengah marah dia berkata, siapa sich DIRUTNYA ?

    Apa pantas kami diperlakukan seperti ini,
    AC mati “faktor kebetulan”,
    Penumpang sesak “maklum aja jam kerja, mau lapang naik yg jam 10 siang”,
    Jadwal molor “kami mohon maaf”,
    Wesel rusak “diluar dugaan”,
    Signal mati, kabel hilang “gangguan alam” atau paling top “dicuri orang”,
    Harus transit “untuk menaikan jumlah penumpang”
    Apa pantas bapak sibuk membuka jalur baru yang melingkar-lingkar untuk Menaikkan jumlah penumpang, seolah-olah kami ini barang bukan orang.
    Lebih baik fokus dulu pada ketepatan waktu tempuh dan tidak ngaret dari jadwal.
    Perbaiki pelayanan kepada pelanggan yang sudah ada jauh lebih elegan.
    Tentu bapak lebih mengerti, jika kereta mogok atau terlambat satu saja,
    maka akan tercipta efek domino yang lebih besar, semua kereta tidak bisa jalan.
    kondisi commuter line di hari kerja nggak jauh beda sama ekonomi.
    Padahal kami membayar 4x lipat dari ekonomi, meski tak semahal taksi yang biasa bapak jadikan perbandingan
    NOTE:
    semua cuma khayalan untuk bapak, toh istri anda tidak merasakan itu khan?
    Janganlah, nanti bisa keguguran.
    Tapi semua hal diatas adalah realita yang harus kami hadapi.
    semua curahan adalah akumulasi dari peristiwa yang saya alami,
    saya lihat dan saya pahami selama jadi roker (rombongan kereta).
    setiap roker pasti pernah mengalami hal yang sama meski tak serupa.
    tapi bagaimanapun, saya tetap cinta kereta api.
    Aku tinggal di dekat UI, dari saya jadi mahasiswi, kalau mau berangkat pagi-pagi, kereta api lah solusi utama.
    mau naik bis entah kapan sampai tujuan, macet.
    apalagi sejak ada commuter line, aku bisa berlega hati.
    jika sebelumnya aku hanya bisa gigit jari sambil memandangi ka ekspress dari bogor yang tidak berhenti di UI.
    mau naik ekonomi?……uh mana bisa masuk gerbong kalau naik dari UI di pagi hari.
    tapi tidak mengapa,toh kami bisa membayar lebih. Bukankah ekonomi disubsidi?
    bagaimanapun, TERIMA KASIH COMEL, I LOVE U, I NEED U.
    terutama bagi bapak masinis yang selalu menyertai perjalanan kami

    Posted by afnidawati | 6 Desember 2011, 3:56 pm
  43. puuuuuiiiiih, mangabdi…???? kata-kata sampah….yang keluar dari mulut dan hati yang kotor. Kemewahan dunia membuat mereka terlena, telah memberi makan anak-istri mereka dengan pasir, semen, besi, totaly semua macam bentuk proyek-proyek pengembangan, pengadaan dll telah mereka “lahap” dengan tamak, salah satu Indikasinya, rata-rata dirut-komisaris BUMN perut-nya buncit…(kata mereka yg tidur di kolong jembatan)………

    Posted by ilfa yusmadi | 6 Desember 2011, 3:56 pm
  44. Pak DI kenapa tidak bikin sekolah, forum, kumpulan, atau apapun yang bisa kerja dan berpikir seperti pak DI seandainya bisa tiap kabupaten & kotamadya ada satu betapa maju perubahan yg ada.

    Semoga pemikiran, kerja pak DI tidak hanya samapai diatas saja dampak bisa cepat sampai ke daerah
    semoga juga pak DI masih mampu berpikir dan kerja sampai sepuluh tahun lagi atau lebih.

    Jangan jadi presiden pak nanti habis waktu bapak untuk ngurus diluar kerja yg nyata
    selamat kerja kerja kerja semoga banyak seperti njenengan.

    Posted by aris pujiantp | 6 Desember 2011, 4:47 pm
  45. Betul pak ,kalau kita bekerja sambil mengeloh,pekerjaan itu akan bertambah berat,kapan pak Dis melakukan sesuatu untuk saudara”di papua,jangan lupa jaga kesehatan pak !

    Posted by Nurfadillah | 6 Desember 2011, 6:38 pm
  46. betul tu pak,ada yang udah pensiun dini tau2 masih kerja dikaryakan lagi katanya macam tak ada manusia lagi nampak kali akal-akalannya ngambil uang pensiun

    Posted by alit alpa | 6 Desember 2011, 6:56 pm
  47. lanjutkan…

    Posted by hardiy | 6 Desember 2011, 7:49 pm
  48. Ikuti Kontes JFleece The Biggest Fans 2 berhadiah Ipad 2, klik disini untuk daftar http://www.j-fleece.com/fleecious/Bossderry ….sekarang juga..

    Posted by derry | 6 Desember 2011, 8:23 pm
  49. manthaps… very visioner… pembelajaran banget….

    Posted by yoene | 6 Desember 2011, 9:27 pm
  50. i really like your post kang Dahlan.

    salam,
    muslimshares
    http://muslimshares.wordpress.com

    Posted by muslimshares | 6 Desember 2011, 10:13 pm
  51. Salam hormat Pak Dahlan,
    Salut dengan pemikiran dan segenap tindakan bapak; suatu know how dan pemahaman serta tanggung jawab yang sangat total, baik kepada profesi maupun kepada Tuhan YME; bahwa bapak diciptakanNya dengan segenap kekuatan bapak untuk menjadi terang bagi Indonesia.

    Saya sendiri hidup dalam iklim swasta yang terus berkembang dalam artian dinamis; hari ini mustilah lebih efektif dari kemarin, musti lebih efisien dari kemarin, dan achivement yang lebih ketimbang hari kemarin (karena kalau tidak begitu pastilah posisi kita digeser oleh yang lain . . . he he . .)

    Tapi bukan begitu maksud saya lebih dari itu; mustinya ada mindset bahwa perusahaan inilah yang sudah memberi saya makan, membuat saya punya uang untuk JJS bareng dengan pacar yang sekarang jadi ibu 2 anak saya, memberi anak saya susu, sekolah, tabungan, dan segala yang secara ekonomis dapat saya miliki dan penuhi; tentunya dengan standar saya; yang hanya drop out dari DIII ekonomi.

    Nah pak Dahlan, saya pikir mindset karyawan (dari operator hingga eksekutif) yang demikianlah yang mungkin dapat memajukan perusahaan secara berkesinambungan; istilah saya “ngrumangsani” dan merasa ikut memiliki/

    (masih) menurut saya; mindset tersebut hanya dapat tercipta jika antara korporat dan “karyawan” sama sama support dalam penciptaan iklim yang kondusif, dan kompetitif; Hal yang semoga saja dapat segera tercipta di BUMN kita. Kiranya Tuhan memberkati. Salam

    Posted by daniel benny setiono | 6 Desember 2011, 10:16 pm
  52. Nice🙂

    Posted by entoet | 6 Desember 2011, 10:39 pm
  53. saya mengerti arah dan sudut pandang serta tujuan dr Tulisan (uneg2) pak DI ini..
    seperti itulah kondisinya pak, sdh trlalu lama di kasi nina bobok..
    kapasitas kemampuan tdk sejalan dng amanah. Top Leader Karbitan alias titipan kali ya,,,

    biar mereka para DM (direksi Meble ) pada baca pak!
    siapa siap, dia maju..
    siapa lalai, dia alay!

    wonk BUMN amanah ny 250juta rakyat, koq di emban ma ‘orang2 Pengeluh’
    saat ny kita bkerja., saat ny kita sadar, klo keterbatasan itu hanya tembok baja yg ada di khayalan..
    tooh BUMN perbankan aj pada kinclong koq prestasinya..

    terima kasih.

    Dahlanisme follower-

    Posted by farizi ilham | 6 Desember 2011, 10:55 pm
  54. Koq cm “who is he?”
    “Who is she?” Jg dunk
    Kartini modern punya kmampuan jg. Sy yakin bnyk “adik2nya” ibu sri mulyani indriyati yg bs mnunjukkan prestasinya
    Smoga pak dis slalu sehat

    Posted by Fia | 6 Desember 2011, 11:53 pm
    • walah.. jangan ngangkat issue gender lah.. mari kita langsung kerja..kerja..kerja ..dan kerja…gak perduli SIAPA, DIMANA dan APA kita ini.. yg penting segera kerja..kerja..kerja ..dan kerja..

      Posted by didik | 7 Desember 2011, 6:41 am
    • tidak ada ruang bagi penganut kapitalisme di negeri ini. tu liat barat yg lagi keok…ngapain indonesia ngikut mereka dengan cara mengagung2kan srimulyani? mau gulung tikar kayak yunani n italy?

      Posted by lukman | 7 Desember 2011, 11:05 pm
  55. bangsa ini harus bangga punya prototype pemimpin yang benar benar pemimpin………………saya sebagai generasi muda negeri ini akan selalu mengikuti perkembangan bapak,dan mohon bimbing kami dan bangsa ini.

    Posted by wildan | 7 Desember 2011, 12:49 am
  56. saya kagum dengan tulisan bapak, dan semoga itu memang lahir dari hati nurani terdalam dan menggambarkan kepribadian bapak. saya ga tau harus ngomong apa tentang bangsa ini, tentang pemimpin bangsa ini. terlalu banyak peristiwa yang ngenas di hati saya sebagai rakyat kecil, mungkin saya juga ga tahu harus percaya pada pemimpin bangsa yang mana lagi.
    namun, hati nurani saya mengatakan pasti ada segelintir pemimpin bangsa yang perduli rakyatnya, yang pro rakyatnya, amin. tapi, yang jelas pa, bagi saya mau kita bekerja di swasta, mau bekerja di bumn, mau wirausaha, pasti ada plus minusnya pak, pasti ada saja yg mengoyak idealisme kita, dan terakhir tergantung bagaimana kita menyikapinya apapun hasilnya. yg penting, bekerja dan terus bekerja, seperti tulisan bapak, saya sgt setuju. bekerja dari hati nurani, iklas, dan mempersembahkan yg terbaik. yg terbaik buat diri sendiri, buat orang lain dan buat bangsa negara.
    sukses pa ya, bismillah.

    Posted by sharot | 7 Desember 2011, 3:11 am
  57. butuh sepuluh orang kayak Pak DIS aja, kayak nya akan significant untuk perubahan republik tercinta ini……..

    Posted by wirid | 7 Desember 2011, 9:24 am
  58. Kok koment ku dadi koyo iku.

    Posted by Abd Cell | 7 Desember 2011, 9:49 am
  59. KORAN terbesar dan berpengaruh di Singapura The Straits Times (TST), Jumat (2/12) kemarin memberitakan satu analisa menarik tentang Menteri BUMN Dahlan Iskan. “Untuk kalangan yang mengharapkan Indonesia menjadi baik, sosok Menteri Dahlan (Iskan, red) menawarkan harapan, bahwa sesuatu yang lebih baik akan datang,” tulis Bruce Gale, penulis senior TST dalam penutup analisa satu halamannya itu.

    Bruce memulai tulisannya dengan situasi berlarut-larut menjelang perompakan kabinet akhir Oktober lalu. Pengamat menilai perombakan itu lebih banyak memenuhi kepentingan koalisi partai pendukung Presiden Susilo Bambang Yudoyono, ketimbang perubahan nyata yang memperbaiki kinerja para menteri. Di luar dugaan, tulis Bruce, perombakan itu membawa satu hal yang menarik, yaitu penggantian Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari Mustafa Abubakar kepada Dahlan Iskan. Menteri Mustafa menuai banyak kritik ketika tahun lalu mengeluarkan kebijaksaan yang tak mulus dalam penjualan saham Krakatau Steel, salah satu BUMN milik Indonesia.

    Dahlan Iskan, kata Bruce, dikenal berhasil membawa reformasi besar-besaran di tubuh PT PLN, sejak dipercaya menjadi direktur utama-nya, tahun 2009. ” Di situ Dahlan menunjukkan kemampuan manajerialnya,” kata Bruce. Tapi, bukan hanya itu kelebihan Dahlan. Pria 60-tahun ini berani tegas karena sudah cukup kaya dan sama sekali tak menunjukkan ambisi politik apa-apa. Alhasil, selama memimpin PLN Dahlan sama sekali tak bisa dipengaruhi oleh pengusaha dan politisi korup.
    “Dahlan juga nyaman bekerja karena didukung oleh kekuatan potensial yaitu jaringan surat-kabar terbesar di Indonesia, yang ternyata ampuh mengatasi kendala ketika upaya reformasinya menghadapi kendala,” kata Bruce.

    Pengetahuan dan pengalamannya dalam bisnis media membuat Dahlan sangat akrab dengan media. Media melaporkan Dahlan menangis ketika ia mengumumkan penunjukannya sebagai Menteri BUMN. Bruce mengutip kata-kata Dahlan saat itu: “Saya katakan kepada Presiden bahwa saya sedih meninggalkan PLN karena kawan-kawan di sana saya tahu sudah bekerja sangat keras.” Komentar Dahlan itu, kata Bruce, bukanlah pernyataan normal jika dibandingkan para Menteri baru lainnya yang diangkat Presiden saat itu. Dahlan usai pelantikan menyetir sendiri mobil pribadi bersama istrinya dan ditumpangi oleh wakil menteri dan istrinya.

    Kebiasaan Dahlan berangkat ke kantor berjalan kaki saat menjadi Dirut PLN, kegemarannya memakai sepatu sneaker ketimbang pantopel kulit hitam (meskipun di perhelatan resmi), juga ditandai oleh Bruce. “Itu diluar kelaziman figur nasional di Indonesia lainnya,” kata Bruce.Dalam analisanya yang berjudul “Minister a Reformer Who Walk The Talk” mengutip analisa Agung Wicaksono, peneliti BUMN dari ITB. Agung mencatat keputusasaan orang melihat gaya hidup politisi di pusat kekuasaan Indonesia. “Dahlan orang yang mampu mendukung perkataannya dengan tindakan,” katanya.

    Bruce menilai langkah awal Menteri Dahlan tepat, yaitu memangkas birorasi, memangkas rapat hingga 50 persen hingga akhir tahun ini. “Apa yang ingin saya lakukan pertama-tama adalah mengurangi campur tangan pemerintah di BUMN untuk memberi kebebasan dan otoritas kepada para direktur utamanya melakukan aksi-aksi korporasi,” kata Dahlan. BUMN di Indonesia sudah lama dibenani oleh reputasi tak bagus: manajemen yang buruk dan kerap kali menjadi sapi perah politisi korup, dan selama bertahun-tahun sangat resisten terhadap perubahan ke arah yang lebih baik.

    Bruce mencatat, ada sejumlah hal yang bisa menjadi kendala langkah Dahlan Iskan. Pertama, tak seperti saat di PLN, dimana ia punya otoritas yang luas, saat menjadi Menteri ia harus berkoordinasi dengan menteri lain untuk mencapai tujuannya. Penjualan aset, masuk ke bursa saham, misalnya, harus dengan persetujuan Menteri Keuangan. Mengutip sumber tertentu Bruce mengatakan selama di PLN Dahlan sering mengambil keputusan dengan sangat cepat, dan langkah tersebut kadang tak didukung oleh institusi negara lainnya.

    Secara umum, Bruce mencatat, di bawah Presiden Yudoyono, Indonesia menjadi negara yang stabil kondisi makroekonominya, bisa menegakkan disiplin fiskal, dan pertumbuhan GDP yang kuat. Tetapi, untuk mencapai keberhasilan jangka panjang, Indonesia memerlukan menteri yang mampu mewujudkan janji-janji reformasi, meningkatkan efektiviyas birokrasi dan melenyapkan korupsi. Harapan seperti itu, kata Bruce, bisa diharapkan dari sosok Menteri Dahlan Iskan.(hah)

    Posted by andre007 | 7 Desember 2011, 10:38 am
  60. saya yakin ada segelintir orang yg tdk suka dg kebijakkan bapak,untuk itu saya usul pak:

    bagi pejabat BUMN yg tdk bisa di bina di binasakan saja pak dis…..bpk luar biasa selamat merubah bangsa ini mnjadi lebih baik…kami percaya bpk…

    Posted by david sunarko | 7 Desember 2011, 12:31 pm
  61. Sy menaruh harapan besar pd Bpk.Dahlan Iskan terhadap BUMN Indonesia.jujur pak!!mengabdi kpd BUMN?itu kata2 bulshit(maaf pak jika sy menggunakan kt2 Ïπï utk melukiskan betapa BOBROK nya BUMN kita).krn sy mempunyai seorg kakak yg bekerja di BUMN ” Djakarta Lloyd ” ,sdh puluhan thn mengabdi d prshaan tsb.tp ap skrg yg terjd pd kakak sy?yg ada saat Ïπï kakak sy di rmhkan,tanpa pesangon,sdh 2thn gaji tdk d bayar,,padahal ada 2 nyawa yg msh hrs d perhatikan masa depan nya.kakak sy seora single parents,jd nafas hidup nya hny bersumber dr BUMN yg kakak sy telah mengabdi puluhan thn.klau begini kpd siapa pak sy hrs mengadu akan mslh Ïπï?sy rasa bkn hny kakak sy yg berharap besar pada perushaan Djakarta Lloyd Ïπï,bnyk karyawan lain yg bernasib sama spt kakak sy.mk dr itu,sy berharap kpd Bpk.Dahlan Iskan utk menindak lanjuti apa sbnr ny yg terjd pd perusahaan BUMN spt Djakarta Lloyd?pdhal sy th,BUMN spt PELINDO bs besar spt itu?coba d telusuri pak apakah ada korupsi d dalam tubuh Djakarta Lloyd.sy memohoooooon sngt kpd Bpk,sy ingin kakak sy dpt menghirup udara yg selayak ny pak!!!!terima ksih pak atas kesempatan Ïπï,semoga Ïπï menjadi acuan Bpk Dahlan Iskan dlm merombak kebusukan dlm BUMN.wass

    Posted by santi sirwanti | 7 Desember 2011, 12:52 pm
  62. Assalamualaikum pak dahlan,
    Sebelumnya saya tidak tahu apakah bapak akan membaca komentar ini atau tidak… tapi saya sangat berharap bapak membaca komentar saya ini. Saya membaca di koran elektronik di Indonesia tentang aksi bapak mencoba KRL di jakarta, dan menurut saya itu sangat menarik sekali. Akhirnya ada pejabat negara yg mau naik KRL dengan kondisi yang nyata ^^ Bravo pak🙂

    Saya ingin memberi sedikit masukan mengenai isu perkereta apian ini. Saat ini saya sedang belajar di belanda, dan sistem transportasi utama yg mereka gunakan adalah kereta api. Belanda memang tidak besar, dan jumlah penduduknya tidak seperti di Indonesia, tapi sistem perkereta apian mereka sangat rapi dan efisien. Mungkin dr luar tidak terlalu terlihat high tech or canggih seperti di China or Singapore maybe…Tapi menurut saya, tingkat kerapian dan efisiensi mereka patut kita contoh dan layak untuk dikembangkan di Indonesia.

    Saya beri beberapa contoh nyata. Disini rangkain gerbong untuk kereta semacam commuter line memang tidak terlalu banyak, dengan tujuan agar kecepatannya bisa maksimal. nama keretanya stoptrein. this train berhenti di setiap stasiun2 kecil yg ada di belanda. kalau kereta antar kota namanya intercity. Masinis dan kondektur disini juga sangat tepat waktu. toleransi keterlamabatan kereta hanya maksimal 1 menit saya rasa, klo kereta terlambat 10 menit, pihak NS (semacam PT KAI dsini) akan memberikan komplement gratis kopi/tea bagi para penumpangnya…well saya rasa yg ini mgkn belum bisa kita terapkan di Indonesia.

    Contoh kecil lain yg bisa saya berikan adalah bagaimana sederhana dan mudahnya tampilan website NS disini. Saya lihat tampilan webstite PT KAI sangat bertele2 dan rumit. membingunkan bagi pelanggan yg ingin mencari jadwal kereta..well mgkn internet adalah barang mahal di indonesia saat ini, tapi tidak ada salahnya untuk memperbaiki tampilan website tersebut guna memudahkan pelanggannya. untuk perbandingan dengan belanda anda bisa cek di website http://www.ns.nl .Di website pt kai banyak link atau informasi yang saya rasa tidak penting, seperti link ke bumn dan daftar pimpinan pt. kai, dsb. menurut saya website pt kai harusnya memuat yg utama jadwal kereta, bukan siapa pimpinan, dsb. Selain itu setiap akan berhenti di stasiun, di dalam kereta akan disebutkan nama stasiun itu. dan di Jakarta, saya tidak tahu ini sudah berubah atau belum, yg disebutkan adalah tarif kereta…in my personal opinion, who care about tarif kereta? since we already pay before we got on the train.

    Klo ada agenda kunjungan kerja di luar negeri, saya sarankan bapak untuk datang ke Belanda dan mencoba layanan NS ini. Dibandingkan dengan negara eropa lain seperti jerman, belgia, perancis atau spanyol, sistem perkereta apia.an di Belanda adalah yang terbaik. Saya yakin Indonesia mampu untuk membangun jaringan kereta api dan memberikan layanan terbaik seperti disni, semua hanyalah masalah komitmen diri dari semua pihak dan kedisplinan. dan saran saya janganlah hanya berkunjung ke kota2 besar atau ibu kota di eropa seperti Amsterdam, namun kunjungilah kota2 kecil yang masih benar2 Belanda, dimana imigran tidak terlalu banyak seperti Groningen, Leeuwarden, dimana anda akan bisa melihat bagaimana orang Belanda yg sebenarnya dengan segala kedisiplinan dan kerja keras mereka.

    Wassalamualaikum wr.wb.

    Posted by adisthi | 7 Desember 2011, 5:04 pm
  63. satu kata saja M A N T A P!! Bismillahirrohmaanirrohim…….bekerja …bekerja….bekerja……

    Posted by agung purnomo | 7 Desember 2011, 5:08 pm
  64. Subhanallah…
    Semoga pemikiran-pemikiran cerdas pak Dahlan Iskan bisa mengilhami saya untuk kedepannya..
    bisa mengabdi kepada negara dengan loyalitas yang tinggi..!! Aamiinn..!!
    Saya adalah salah satu seorang pemuda yang ingin mengabdikan diri untuk memperbaiki negara ini…!!
    Semangat pak..!!!

    Posted by Hidayat | 7 Desember 2011, 6:10 pm
  65. Bener sekali tulisan pak Dahlan soal perilaku orang yang ada di BUMN. Semoga bapak terus fokus dan agar BUMN ini benar-benar jadi tempat ajang mengukir prestasi bukan wadah orang-orang malas bergaji tinggi.

    Posted by tri susanto | 7 Desember 2011, 9:26 pm
  66. Muantaaaappppp, Cak DI tulisane dualemmm dan menohok orang² yg ada di sebelah kanan – kiri peno, nek diwoco mereka dan yg bener² kerjo yo bakal sadar dan tahu diri… ayooo para dirut BUMN stop mengeluh….kerja….kerja….kerja….

    Posted by Erust | 7 Desember 2011, 10:25 pm
  67. Numpang ngepost dr kompasiana.com mas

    “Dahlan Iskan dan Perempuan yang Mencintainya”
    Oleh: Mustafa Kamal | 07 December 2011 | 13:30 WIB

    Pemuda  agak ceking itu mengenakan paduan celana kain dan kaus berkerah yang menutupi sebagian kulit sawo matangnya. Tatapan mata tajam tersorot dari wajah bulatnya. Sedikit tirus, tonjolan tulang di kedua pipinya kokoh di bawah kening yang tertutup poni. Telapak kakinya hanya mengenakan sandal. Pemuda itu adalah aktivis Organisasi Pelajar Islam Indonesia. Pemuda itulah yang menarik perhatian gadis putih cantik Nafsiah Sabri, perempuan asal Loa Kulu, Kutai Kertanegara yang juga aktivis perempuan di organisasi tersebut.

    Dahlan muda adalah orang yang serius, idealis dan terkesan cuek dengan perempuan. Nafsiah Sabri gadis manis itu terus berusaha mencari-cari perhatian Dahlan Muda, dan akhirnya sisi kemanusiaan Dahlan Muda tidak bisa menolak kehadiran perempuan humoris, ceria dan cantik  Nafsiah Sabri,  merekapun menikah.

    Dahlan muda yang memutuskan meninggalkan bangku kuliah, bekerja sebagai  wartawan di Surat Kabar Mingguan Mimbar Masyarakat samarinda Kalimantan Timur. Pekerjaan Sebagai wartawanpun tidak lepas dari aktivitasnya sebagai aktivis kampus yang pernah dikejar-kejar meliter karena kasus Malari yaitu pengibaran bendera hitam bersama teman-temannya di Tugu Nasional  persis di sebelah Kantor Pusat BNI 46 Samarinda di Jalan Pulau Sebatik sebagai bentuk perjuangan antimodal asing.  ” kami ini sebagai anak muda harus menegakkan keadilan,” kata Dahlan Muda ketika ditanya tentang alasannya.

    Alwy pendiri Surat Kabar Mimbar Masyarakat menyelamatkan Dahlan dari kejaran militer, salah satu pesan ALwy kepada Dahlan Muda adalah  “Kalau kamu mau tetap jadi aktivis? Mau idealis? Mau mengkritik tetapi tidak akan ditangkap? Ada caranya,” kata Alwy yang lahir di Singkang, Sulawesi Selatan. “Bagaimana caranya?” Dahlan yang kadung penasaran balik bertanya. Sembari mengulas senyum, Alwy menjawab, “Ikut saya. Kamu jadi wartawan.”

    Setelah menikah dengan Nafsiah Sabri,  mereka menyewa rumah sangat sederhana di Samarinda.Seluruh tiang rumah sewaan ini menancap di Sungai Karang Mumus, anak Sungai Mahakam. Hanya teras rumahnya yang menempel di bibir jalan raya. Tak ada perabotan memadai di rumah itu. Kasur tempat mereka tidur pun harus digulung kalau siang hari agar rumah tanpa kamar itu tetap terasa lebar.

    Nafsiah adalah seorang guru SD. Gajinya banyak menunjang kehidupan sehari-hari. Ketika lahir anak pertama mereka, Azrul Ananda –(kini presiden direktur Jawa Pos)– mereka bisa menyewa rumah yang ada kamarnya meski di gang sempit. Setelah direkrut Majalah Tempo, pada akhir dekade 1970-an, Dahlan pindah ke Surabaya dan menjadi kepala biro Jawa Timur. Dahlan sering terlihat tidak sabar. Dia seperti ingin segera menggulung dunia. Majalah Tempo yang terbit sekali seminggu membuat Dahlan merasa banyak menganggur. Sementara materi berita di Jawa Timur banyak sekali.

    Wartawan seproduktif  Dahlan tentu gelisah. Diam-diam, Dahlan menulis berita untuk sebuah media di Surabaya. Bahkan berita-berita yang ditolak Tempo ia kirim ke media itu. Dia pernah ditegur Tempo dengan sikapnya. Sejak di Samarinda, keinginan Dahlan memiliki koran harian memang besar sekali. Potensi dan semangat Dahlan inilah yang menjadi salah satu pertimbangan manajemen Tempo membeli harian Jawa Pos dan akhirnya Dahlan menjadikan Jawa Pos menjadi perusahaan media terbesar di Indonesia bahkan dunia.

    Dahlan adalah orang yang keras dan tegas dalam mengambil keputusan, baik di perusahaan maupun dalam keluarganya. Pernah suatu ketika Nafsiah setelah pindah ke Surabaya ingin kembali mengajar di sekolah, tapi Dahlan tidak mengizinkan. Bahkan perempuan ini tidak bisa lagi menemukan ijazah dan surat-surat penting lainnya. Ketika ijazah itu ia tanyakan kepada Dahlan.  Jawaban Dahlan, “Sudah saya bakar.” Tapi Nafsiah tidak yakin suami yang dipanggilnya dengan sebutan ‘Bapak Rully (Azrul)’ itu telah membakar ijazahnya. “Curiganya, surat-surat penting saya hanya disembunyikan,” tuturnya.

    Nafsiah Sabri adalah perempaun yang juga tegas dan bersuara lantang namun  tetap lembut, humoris, dan penuh perhatian. Saat Dahlan hendak  hendak berangkat kerja, ia seringkali memanggil dan mengejar Dahlan sampai ke pekarangan rumah untuk sekadar membetulkan kerah baju yang tidak teratur. Kadang, dia menyisir rambut Dahlan yang awut-awutan. Saya pernah berseloroh, “Untung saja Mas Dahlan tidak pakai sepatu. Kalau tidak, kakak harus tambah kerjaan ekstra, membetulkan tali sepatunya.” Dahlan beruntung mendapatkan istri seperti Nafsiah yang patuh, penyantun dan sangat perhatian pada suaminya.

    Sampai mereka menempati rumah lumayan bagus di Rungkut, Surabaya, memerhatikan kerapian Dahlan itu tetap dilakukan. Tentu tidak ada seorang pun yang melebihi kecemasan Nafsiah ketika diputuskan hati Dahlan harus diganti karena serangan kanker yang ganas. Namun Allah SWT berkehendak lain,  alhamdulillah, semuanya berjalan baik. Musibah inilah yang melecut Dahlan untuk berbuat lebih untuk sesama. Berbekal keuletan, ketabahan, keteguhan dan kesabaran hati Nafsiah dalam mendampingi Dahlan akhirnya Dahlan bisa sukses seperti sekarang ini. Nafsiah adalah  salah satu faktor sangat penting dalam menentukan sukses Dahlan Iskan. Di luar itu, sebagai perempuan Nafsiah acapkali digoda rasa cemburu. Maklum, Dahlan adalah sosok yang populer bak selebriti. Namun dengan iman dan pemikiran muslimahnya, Nafsiah mampu mengatasi goncangan perasaannya.

    Dahlan adalah manusia ‘autodidak brilian bertangan dingin’. Sukses yang dicapainya hingga sekarang merupakan jerih payah keuletan, ketekunan, kejujuran, dan nasib baik. Meski sudah jadi orang sukses dan penting secara nasional, penampilan dan karakternya tidak banyak berubah. Komitmen moralnya terhadap orang kecil tetap konsisten. Di usianya yang sudah 61 tahun, dengan tanggung jawab pekerjaan yang makin luas, Dahlan tetap pekerja keras dan produktif menulis.

    Penulis jadi teringat dibalik sukses Soeharto ada ibu Tien yang sangat mencintai dan menenangkan hati, Dibalik Kecermelangan Habibie ada Ibu Ainun yang sangat sabar dan penyayang, dibalik kegigihan Dahlan Iskan ada Ibu Nafsiah yang terus mensupor dan penuh perhatian.  Laki-laki tidak akan bisa jadi apa-apa tanpa ada wanita hebat yang mendampinginya.

    Posted by rdimas | 8 Desember 2011, 2:40 am
  68. Ini kalau mau melihat foto muda Dahlan Iskan dan Nafsiah sewaktu baru menikah itu

    Posted by rdimas | 8 Desember 2011, 2:44 am
  69. semoga ini adalah sebagian kecil cara Alloh memberikan pelajaran, bagi yang mau berpikir.

    Posted by m.masduki | 8 Desember 2011, 10:39 am
  70. Pak Dahlan, kita tunggu kiprahnya di 2014. DAHLAN ISKAN FOR NEXT PRESIDENT of INDONESIA !! Amin, pAk DIS

    Posted by misterluthfi | 8 Desember 2011, 1:55 pm
  71. inikah yang pak DI maksud dengan HOPE untuk para direksinya??? semoga mereka sadar dan bangkit

    Posted by Roni ramlan | 8 Desember 2011, 6:20 pm
  72. sepakat pak! tidak ada pengabdian di tempat yg punya sisi komersial.

    selamat berjuang pak Dahlan!

    Posted by Ozz | 9 Desember 2011, 9:57 am
  73. Kamis, 08 Desember 2011 , 09:01:00
    Majalah Globe Asia Tetapkan 20 Orang Indonesia Paling Berpengaruh
    Dahlan Iskan Urutan 8

    MAJALAH Globe Asia menetapkan 20 orang Indonesia paling berpengaruh dalam menjalankan perannya di masyarakat. Pada peringkat pertama tentu saja tercantum nama Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

    Kedua diikuti Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Besan Presiden SBY yang juga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Radjasa, menyusul di posisi ketiga. Ketiga orang tersebut dianggap paling berpengaruh dalam menjalankan perannya di masyarakat dan mengalahkan puluhan nama lainnya yang juga dicalonkan.

    Berikut daftar 20 orang paling berpengaruh di Indonesia versi Majalah Globe Asia:
    1. Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
    2. Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie
    3. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa
    4. Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono
    5. Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD
    6. Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri
    7. Presiden PKS, Hilmi Aminuddin
    8. Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan
    9. Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro
    10.Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution
    11.Menteri Koordinator Politik Hukum dan Kemanan, Djoko Suyatno
    12.Menteri Keuangan, Agus Martowardoyo
    13.Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan 14.Ketua PMI, Jusuf Kalla
    15.Ketua KEN, Chairul Tanjung
    16.Kepala Polri, Gen Timur Pradopo
    17.Pemilik Kompas Gramedia Group, Jakob Oetama
    18.Menteri Perindustrian, MS Hidayat
    19.Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Marie E. Pangestu
    20.Menteri Agama, Suryadharma Ali

    sumber : http://www.manadopost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=107036

    Posted by administratoR | 9 Desember 2011, 1:36 pm
  74. Selasa, 29/11/2011 18:32 WIB
    Dahlan Iskan Malu RI Kaya Panas Bumi Tapi Tak Diberdayakan
    Ramdhania El Hida – detikFinance

    Jakarta – Menteri BUMN Dahlan Iskan merasa malu atas pemberdayaan energi panas bumi (geothermal) di Indonesia. Kaya sumber panas bumi, namun Indonesia tak bisa mengolahnya dengan benar.

    Padahal proyek panas bumi menjadi fokus pemerintah karena dapat menambah kapasitas daya listrik hingga 4.000 watt. Saat ini, ada sekitar 40 proyek pembangkit listrik tenaga geothermal dengan total produksi 4.000 watt.

    “Ya saya malu saja, negara yang begitu kaya akan geothermal kok tidak jadi kenyataan. Aku keras kan supaya cepat dilaksanakan bukan supaya tidak dilaksanakan. Bahkan saya minta sediakan APBN,” tutur Dahlan di Kantor Menko Perkonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (29/11/2011).

    Bahkan ia menyarankan seluruh tender geothermal untuk dibatalkan dan diserahkan saja kepada PLN biar cepat selesai.

    “Kalau saya sih sejak dulu seperti itu, kerjakan saja kepada PLN atau anak usaha Pertamina terus pemerintah mendukung penuh, setelah jadi kita segera stop subsidi listriklah,” jelasnya.

    Seperti diketahui, Indonesia menguasai 40% dari sumber daya panas bumi yang ada di dunia. Namun pengolahan panas bumi ini sangat lambat. Jika ini diberdayakan dengan baik, maka pemerintah bisa menekan subsidi listrik yang saat ini tinggi karena PLN masih mengunakan BBM untuk pembangkit listriknya.
    (dnl/ang)

    sumber : http://finance.detik.com/read/2011/11/29/182830/1778482/1034/dahlan-iskan-malu-ri-kaya-panas-bumi-tapi-tak-diberdayakan

    Posted by administratoR | 9 Desember 2011, 1:40 pm
  75. Semoga bapak sehat slalu karena selalu menjadi inspirasiku dalam mengelola beberapa kesibukanku. Saya termasuk yang diberi beberapa kepercayaan tetapi belum sehebat Bapak.

    Posted by agus tan | 9 Desember 2011, 3:26 pm
  76. Apa yang dilakukan Pak DI biasa aja karena itulah tugas pejabat…semua heran karena kita gak biasa….

    Posted by Jeme- Au | 9 Desember 2011, 5:52 pm
  77. Ikuti Kontes JFleece The Biggest Fans 2 berhadiah Ipad 2, klik disini untuk daftar http://www.j-fleece.com/fleecious/Bossderry ..

    Posted by derry | 9 Desember 2011, 8:40 pm
  78. Selalu tersentuh dengan apapun yang ditulis pak Dahlan…
    Ingin bertemu, kalau bisa secepatnya…
    ingin bertanya, dan bertanya…

    Posted by Nurjannah | 9 Desember 2011, 9:42 pm
  79. Bravo,Pa Dahlan kami rindu pemimpin yg jujur,pekerja keras &Amanah.

    Posted by adhifebrian | 10 Desember 2011, 6:21 am
  80. Apakah termasuk didalam kategori ‘Musyrik’ jika perusahaan BUMN yang output produknya adalah jasa pelayanan itu terlihat sangat mengkilat secara kinerja makro dan keuangannya tapi malahan justru jeblok di kinerja real pelayannya kepada publik konsumen penggunanya itu ya Pak Menteri ?.

    .

    Dahlan Iskan dan Manajemen Musyrik di KRL Jabodetabek
    http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/12/10/dahlan-iskan-dan-manajemen-musyrik-di-krl-jabodetabek/

    .

    Posted by Bocahndeso | 10 Desember 2011, 2:45 pm
  81. Dahlan Iskan dan Manajemen Musyrik di KRL Jabodetabek
    | 10 December 2011 |

    Surat terbuka kepada Bapak Dahlan Iskan dari penumpang setia KRL Commuter Line Jabodetabek

    *

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Teriring salam sejahtera, semoga Bapak Menteri selalu dalam lindungan Allah SWT dan senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat sehingga secara berkala dapat terus menerus melakukan sidak (inspeksi mendadak) dengan merasakan langsung menaiki rangkaian kereta KRL Commuter Line Jabodetabek untuk mengetahui dengan persis bagaimana tingkat kinerja pelayanannya.

    Sungguh, sidak bapak tempo hari itu secara sontak telah memberikan dampak langsung yang sangat signifikan terhadap tingkat kinerja pelayanannya KRL Commuter Line Jabodetabek. Kondisi gerbong yang selama bertahun-tahun ini selalu penuh sesak oleh penumpangnya, hingga bak ikan sarden yang dijejalkan didalam kalengnya, secara mendadak sontak, bak sulap mantra alakazam adakadabra, menjadi cukup longgar lantaran sidak bapak tersebut.

    Namun alangkah sungguh sayangnya, dampak itu hanya mampu bertahan dalam hitungan 1-2 hari saja. Selebih harinya, kembali ke kondisi klasik yang menahun, penumpang dijejal-jejalkan kembali ke dalam gerbong yang jarak headway antar rangkaiannya sungguh sangat tak memadai.

    Berkait dengan itu, maka dengan hormat bersama ini mohon ijin untuk menyampaikan uneg-uneg dari salah seorang pengguna jasa KRL Jabodetabek, sembari tak lupa teriring juga dengan permohonan dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya jika ternyata surat ini membuat bapak Menteri dan jajaran birokrasi terkait menjadi tidak berkenan hati karenanya.

    Perlu bapak ketahui, kondisi yang akan disampaikan berikut ini, bukanlah kondisi pelayanan KRL kelas ekonomi non-AC yang bapak naiki tempo hari itu. Namun kondisi kelas Commuter Line AC, yang harga tiketnya tiga kali lipat harga tiket kelas ekonomi Non-AC.

    Jadi, jika pelayanan kelas Commuter Line AC yang bisa dikatakan masih sangatlah jauh dari level sekedar layak saja, maka bisa dibayangkan betapa para penumpang KRL kelas ekonomi non-AC yang juga masih merupakan warganegara Republik Indonesia itu yang selama ini memanglah tepat jika sampai dikatakan sebagai telah diperlakukan bak hewan kambing saja layaknya.

    Bagaimana tidak, jika gerbong yang disediakan untuk mereka para penumpang KRL kelas ekonomi non-AC adalah gerbong sisa dan bekas serta kanibalan yang asal jalan saja. Dimana pintu dan jendelanya tak berfungsi, bahkan beberapa tak dilengkapi pintu dan jendela bertutup, lantai gerbong yang bopeng-bopeng, serta situasi kumuh lainnya.

    Jika banyak kalangan suka mengelus dada tanda prihatin dengan kondisi fisik bus kota Metromini, maka kondisi gerbong KRL Jabodetabek kelas ekonomi non-AC ini boleh dikatakan sepuluh kali lipat lebih memprihatinkan.

    Kondisi para penumpangnya juga tak kalah sengsaranya, berjejalan tapi tak disediakan pegangan tangan yang memadai. Hebatnya lagi, ditengah kondisi yang demikian itu, masih harus ditambah lagi dengan kehadiran para pedagang asongan, pengamen, pengemis, yang memaksa menyeruak menerobos hilir mudik didalam gerbong tersebut.

    Singkat kata, mungkin hewan kambing pun tak layak mendapatkan fasilitas alat moda transportasi yang seperti ini, KRL Jobodetabek kelas Ekonomi Non-AC itu.

    Lalu bagaimana dengan kondisi penumpang KRL Jobodetabek kelas Commuter Line AC itu ?.

    Alhamdulillahirrobbilalamin, kondisinya lebih baik dari kondisi penumpang KRL Jabodetabek kelas Ekonomi Non-AC itu.

    Maka, sungguh sebagai hamba-Nya yang telah diberikan kelonggaran rejeki sehingga bisa menjadi penumpang KRL Jabodetabek kelas Commuter Line AC, maka anugerah ‘kenyamanan’ itu sangat perlu disyukuri, jika diperbandingkan dengan musibah ‘kesengsaraan’ yang diterima oleh sesama warganegara Republik Indonesia yang terpaksa menjadi penumpang KRL Jabodetabek kelas Ekonomi Non-AC itu.

    Harus disyukuri, apapun juga itu adalah sesuatu anugerah-Nya yang harus disyukuri, yang kalau tidak bersyukur maka akan menjadi hamba-Nya yang kufur nikmat. Bukankah begitu pak menteri ?.

    MANAJEMEN OPERASI

    Seperti yang sudah dimahfumi bersama yang dapat dibaca dibanyak di berita media massa, bahwasanya KRL Jabodetabek, bukan hanya yang kelas Ekonomi Non-AC saja, tapi yang kelas Commuter Linen AC pun juga mengalami hal yang nyaris sama ini seringkali mengalami banyak gangguan.

    Mulai dari yang paling ‘ringan’ seperti dilempari batu oleh para penghuni ruli-ruli di sepanjang jalur rel kereta api, fasilitas AC yang tak dingin. Lalu yang ‘sedang-sedang’ saja seperti jadwal molor, jadwal dibatalkan, sinyal dan wesel yang ngadat. Kemudian sampai yang taraf ‘berat’ seperti korsleting listrik yang membuat terjadinya percikan api di gerbongnya, kecopetan, pelecehan seksual karena situasi yang memaksa penumpang berdiri berhimpit-himpitan mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut di kepala.

    Untuk mengatasi itu semua tentu membutuhkan biaya dan kecukupan dana serta waktu pembenahan yang tak singkat. Sungguh pekerjaan yang tak mudah, karena disisi lainnya, keluhan yang sering disampaikan oleh para petinggi perusahaan pengelola KRL Jabodetabek adalah kekurangan dana.

    Namun diluar masalah klasik soal kekurangan dana itu, sesungguhnya masih tersedia celah peluang yang masih memungkinkan untuk mendongkrak tingkat kinerja pelayanannya, yang tanpa perlu membutuhkan dana dalam jumlah yang cukup banyak. Salah satunya adalah pembenahan terhadap hal-hal kecil yang sepele di dalam manajemen operasinya, mulai dari awal tahap perencanaan operasi sampai ke tahap pengendalian operasinya.

    KERNET METROMINI

    Mungkin perlu diketahui oleh mereka yang belum pernah naik KRL Jabodetabek kelas Commuter Line AC, bahwasanya salah satu syarat menjadi penumpangnya haruslah hafal letak satu persatu setiap stasiun yang dilewatinya.

    Jika tidak hafal, maka harus mau menerapkan prinsip tak malu bertanya kepada sesama penumpang yang berada disampingnya, di setiap kali rangkaian kereta yang ditumpanginya itu berhenti disetiap stasiun yang dilewatinya.

    Karena jika malu bertanya, maka tentu akan mengalami seperti kata pepatah, malu bertanya tersesat di jalan, alias akan terlewatkan stasiun yang ditujunya.

    Mengapa bisa terlewatkan ?. Ya, karena tak ada pemberitahuan kereta yang ditumpanginya itu telah sampai stasiun mana.

    KRL Jobodetabek kelas Commuter Line AC memang unik dan berbeda dengan Metro Mini atau Kopaja, dimana kernetnya tak pernah alpa untuk berteriak-teriak memberitahukan kepada penumpangnya bahwa perjalanan kendaraan yang ditumpanginya itu telah sampai di halte mana.

    Perlu dicatat, bahwa rangkaian gerbong yang dipakai oleh KRL Jabodetabek kelas Commuter Line AC ini adalah bekas pakai yang tadinya dipakai sebagai KRL di Jepang. Tentu kondisinya masih layak pakai, karena dihibahkan oleh pemerintah Jepang dalam keadaan masih layak dan mengalami sedikit penyesuaian untuk bisa dipakai di Indonesia.

    Tapi kondisinya benar-benar masih asli Jepang, sehingga saking aslinya, huruf kanji yang bertuliskan nama rute yang dulu dilayani oleh rangkaian KRL ini masih tetap dibiarkan apa adanya seperti asli sediakalanya, masih menempel di tubuh gerbongnya.

    Termasuk fasilitas heater pemanas ruangannya juga masih terpasang, walau tak penah difungsikan lagi. Namun begitu, hawa panas yang sering terasakan itu, tidak jelas apakah karena kerusakan sistem AC pendingin udaranya, ataukah masinisnya alpa mematikan fungsi heaternya, entahlah.

    Termasuk fasilitas speaker pengeras suara di setiap gerbongnya untuk mengumumkan kepada para penumpangnya bahwa rangkaian KRL yang ditumpanginya itu telah sampai di stasiun mana, tentunya juga masih utuh terpasang seperti sediakala waktu rangkaian gerbong itu dipakai oleh pemerintah Jepang untuk melayani mobilitas rakyatnya.

    KONSER DANGDUT

    Hal lain yang mungkin juga perlu diketahui oleh mereka yang belum pernah naik KRL Jabodetabek kelas Commuter Line AC, bahwasanya fasilitas moda transpotasi massal berbasis jalan rel ini sungguh mengasyikkan dan tak pernah membosankan bagi penumpangnya, karena penuh dengan hiburan.

    Saat masih menunggu kereta di peron stasiun, para penumpangnya disuguhi dengan berbagai atraksi musik dari berbagai aliran corak musiknya. Mulai dari aliran dangdut goyang dombret, dangdutnya si Ayu Ting-Ting, sampai lengkingan lagu rock and roll ala Metalica.

    Hiburan yang disuguhkan oleh para penjual CD dan VCD bajakan yang menggelar lapak hampir disetiap sela-sela bangku tunggu di peron stasiun, sampai pengamen ibu-ibu yang membawa anaknya sambil berkaraoke dikotak musik yang ditentengnya.

    Belum cukup hanya itu, jika bosan menunggu kedatangan kereta yang sering molor dari jadwalnya, penumpang masih bisa menghibur diri, tanpa perlu beranjak terlalu jauh dari tempat bangku duduk tunggunya dapat membeli penganan kecil yang lapaknya digelar di peron itu.

    Masih ada lagi, jika membutuhkan oleh-oleh untuk sanak keluarga yang menunggunya di rumah, maka para penumpang juga dapat membeli oleh-oleh buah-buahan yang juga dijajakan berjejeran dengan lapak CD VCD dan penganan kecil itu.

    Sungguh kenyamanan sajian manajemen KRL Jabodetabek yang luar biasa dalam memanjakan para penumpangnya. Hiburan musik gratis plus lapak penjualan makanan yang teramat strategis letaknya dari jangkauan penumpang yang menunggu kereta.

    Namun ada juga dampaknya, walau itu mungkin dianggap hal kecil yang sepele saja. Seringkali para penumpang menjadi harus berdiri dekat dengan lintasan kereta lantaran peron penuh sesak oleh para pedangan lapak dan asongan tersebut. Tapi tak mengapa, anggaplah itu sebagai bentuk suatu latihan yang disuguhkan oleh manajemen KRL Jabodetabek untuk para penumpangnya, agar selalu hati-hati dan waspada supaya tak terserempet oleh kereta yang datang dan yang pergi.

    Hal lainnya, terkadang volume dari musik yang diputar oleh puluhan pedagang CD dan VCD bajakan itu membuat ‘sedikit’ gangguan bagi para penumpang yang kebetulan sedang membutuhkan menelpon koleganya, atau sedang menerima telpon dari kerabatnya. Tapi tak mengapa, anggaplah itu sebagai bentuk suatu latihan yang disuguhkan oleh manajemen KRL Jabodetabek untuk para penumpangnya, agar selalu hemat pulsa telepon seluler.

    Hal yang lainnya lagi, musik yang diputar dengan volume cukup ekstrem itu juga membuat ‘sedikit’ gangguan bagi para penumpang yang kebetulan sedang mendengarkan pengumuman informasi dari pengelola stasiun tentang jadwal kedatangan kereta. Tapi tak mengapa, anggaplah itu sebagai bentuk suatu latihan yang disuguhkan oleh manajemen KRL Jabodetabek untuk para penumpangnya, agar gendang telinga para penumpangnya selalu peka terhadap suara keriuhan yang anarkis itu.

    BEBEK BARIS

    Seperti yang sudah disampaikan diatas bahwa kelancaran operasional KRL Commuter Line Jabodetabek ini sering mengalami gangguan di tuas wesel dan persinyalannya. Gangguan yang sering sekali terjadi sehingga mengakibatkan sering sekali jadwal menjadi molor dan penumpang menunggu bertumpuk di setiap stasiunnya.

    Perlu dicatat bahwa jalur Manggarai – Bogor di rute Jakarta – Bogor ini boleh dikatakan sebagai jalur yang nyaris steril, dalam arti di jalur yang sudah rel ganda itu rute KRL Commuter Line Jabodetabek tak berhimpit menumpuk dengan rute kereta regional ke arah Jawa. Situasi yang sangat berbeda dengan rute Jakarta – Bekasi yang bertumpuk dengan rute kereta ke arah Bandung, Surabaya, Solo, baik kereta penumpang maupun kereta barang.

    Sehingga, dengan demikian seharusnya manajemen pengendalian operasi di jalur Manggarai – Bogor di rute Jakarta – Bogor ini akan relatif lebih sederhana dibandingkan dengan rute Jakarta – Bekasi. Mengatur perjalanan kereta di di jalur Manggarai – Bogor ini laksana mengatur bebek baris saja. Gangguan wesel seharusnya mudah diatasi karena hampir tak ada percabangan rute di jalur Manggarai – Bogor ini.

    Demikian pun dengan gangguan sinyal yang tak perlu sampai membuat jadwal molor berlebihan, karena bisa diatasi dengan prinsip bebek baris. Dimana, sementara dalam situasi demikian dapat dipakai cara manual yang mengandalkan komunikasi telepon seluler antar kepala stasiunnya, dengan prinsip kereta bisa diberangkatkan jika sudah di stasiun depannya sudah tak ada kereta.

    Tapi entah mengapa, gangguan selalu saja terjadi dan membuat molor jadwal yang sampai hitungan jam lamanya. Dan itu tambah menjadi-jadi yang lama tertanganinya apabila gangguan terjadi disaat selepas jam kerja normal, alias diatas jam 5 sore. Mungkin yang bisa jadi itu karena para pegawai KRL Jabodetabek sudah pulang dari tempat tugasnya, sudah berada di rumah kediamannya masing-masing.

    LAST IN FIRST OUT

    Dalam dunia manajemen dikenal istilah FILO (First In Last Out) dan FILO (First In Last Out) yang biasanya diterapkan untuk manajemen pergerakan barang di suatu gudang. Tapi entah mengapa, yang terjadi di manajemen operasi KRL Commuter Line Jabodetabek ini sering menggambarkan yang terkesan manajemen LIFO (Last In First Out) yang diterapkan dalam manajemen pengaturan pemakaian rangkaiannya.

    Ini dengan jelas yang kasat mata dapat seringkali terlihat di stasiun-stasiun awal pemberangkatan, seperti stasiun Bogor atau Bekasi sebagai contohnya.

    Biasanya kereta yang dengan jadwal keberangkatan sepuluh menit lagi masih harus menunggu kereta yang belum datang, yang masih dalam perjalanan menuju ke stasiun itu. Sedangkan kereta dengan jadwal keberangkatan berikutnya, dua puluh menit lagi, setengah jam lagi, bahkan satu jam lagi, malahan sudah tersedia di peron atau di depo sebagai garasinya.

    Akibatnya, penumpang yang menunggu menumpuk dan saling sikut menyikut berebutan masuk ke dalam gerbongnya sewaktu kereta itu datang. Memang belum ada laporan kecelakaan yang mengakibatkan kematian akibat berebutan ini. Sehingga mungkin dianggap hal kecil yang sepele, yang bahkan bisa dianggap sebagai bentuk suatu latihan yang disuguhkan oleh manajemen KRL Jabodetabek untuk para penumpangnya, agar sabar dan mengatur diri untuk tertib mengantri.

    Diluar soal berebutnya penumpang itu, seringkali hal itu membuat jadwal menjadi mundur secara beruntun yang bererotan ke jadwal pemberangkatan berikutnya.

    Hal tersebut diatas dapat dimaklumi jikalau spesifikasi dan kapasitas antar rangkaiannya berbeda sehingga tak memungkinkan untuk ditukar jadwal pemberangkatannya. Ibarat jadwal pemberangkatan yang semula dilayani oleh pesawat udara jenis Boeing 747 yang tentunya tak bisa digantikan oleh pesawat udara jenis Boeing 737.

    Namun pertanyaannya, apakah rangkaian gerbong yang dipakai oleh KRL Commuter Line Jabodetabek ini mempunyai masalah perbedaan spesifikasi dan kapasitas antar rangkaiannya seperti halnya Boeing 747 dengan Boeing 737 seperti tersebut diatas sehingga tak mungkin terjadi pertukaran jadwal pemakaiannya ?.

    HEADWAY dan TRAYEK BUS KOTA

    Inti dari semua persoalan kapasitas angkut moda transportasi kereta api adalah soal headway, jarak kedatangan antar rangkaian keretanya. Dan celakanya KRL Commuter Line Jabodetabek ini mengalami masalah dalam kekurangan jumlah rangkaian kereta yang dimilikinya untuk mendongkrak kapasitas angkut. Sehingga headway ideal untuk jam-jam sibuknya dapat terpenuhi secara memadai.

    Masalah yang paling pelik, yang konon itu disebabkan oleh tak dipunyainya dana oleh KRL Commuter Line Jabodetabek untuk pengadaan tambahan jumlah rangkaian kereta yang dibutuhkannya. Disamping juga ada soal di mekanisme pengadaan yang masih harus melalui mekanisme Kementerian Teknis yang membawahinya, yaitu Kementerian Perhubungan.

    Namun anehnya, ditengah belitan masalah kekurangan jumlah rangkaian kereta itu, masih juga dipertahankan model pengaturan rute ala permainan trayek antara rute Bus Kota bertrayek Bus Dalam Kota dengan Bus Kota bertrayek AKDP dan AKAP yang bertumpuk pada line yang sama sehingga tak efisien dalam jumlah pemakaian armada dan kapasitas lajur jalannya.

    Salah satu contohnya adalah rute KRL Commuter Line Jabodetabek yang melayani relasi Jakarta – Depok, relasi Jakarta – Bojong Gede, relasi Jakarta – Bogor, yang bertumpuk pada line yang sama, yaitu line Jakarta – Bogor.

    Rute relasi Jakarta – Bojong Gede, sungguh tak efisien, yang apabila diteruskan menjadi rute Jakarta – Bogor justru akan menambah kapasitas angkutnya. Sama halnya dengan relasi Jakarta – Depok.

    Khusus untuk relasi Jakarta – Depok ini masih bisa dimengerti jika itu dimaksudkan untuk metode mempercepat putaran pemakaian rangkaian agar bisa dipakai menambah jumlah rangkaian pada jam-jam sibuk di sore atau malam hari. Dalam arti kata, rangkaian kereta baliknya dirubah menjadi kereta KLB (Kereta Luar Biasa) agar cepat balik lagi ke Jakarta, selanjutnya akan menambah jumlah rangkaian yang siap diberangkatkan ke arah Bogor kembali, sehingga akan memperpendek headway.

    Namun yang terjadi, rangkaian kereta relasi Jakarta – Depok itu setibanya di Depok langsung masuk depo untuk diistirahatkan dan dipakai lagi esok hari. Padahal disaat itu, penumpang masih menumpuk di stasiun-stasiun antara Manggarai sampai Bogor.

    Mungkin hal tersebut juga diakibatkan berbedanya persepsi kurun waktu peak hour (jam sibuk) yang menjadi pedoman para perancang operasinya dengan realitas yang terjadi di lapangannya.

    Sesuatu yang sangat bisa dimengerti, karena disangsikan bahwasanya manajemen KRL Commuter Line Jabodetabek mempunyai kurun waktu peak hour (jam sibuk) dan data OD (Origin Destination) para penumpang penggunanya yang valid dan selalu up to date, mengingat sistem kontrol karcis yang diterapkannya itu jelas tak memungkinkan tersedianya data itu secara valid dan selalu up to date.

    Namun jika para decision makernya mau sesekali rajin menongkrongi rute – rute itu langsung di peron emplasemen naik turunnya penumpang, tidak nongkrong di kantor pusat atau kantin stasiun atau di ruang kepala stasiun saja, maka paling tidak akan didapatkan gambaran kurun waktu peak hour yang real terjadi di lapangan. Sehingga tidak buru-buru memutuskan pada jam 22.30, apalagi pada jam sebelumnya, rangkaian kereta sudah ada yang masuk depo untuk istirahat dan baru dioperasikan kembali pada keesokan harinya. Padahal jam 21.00 – 22.00 masih cukup banyak para pengguna kereta api yang harus dilayaninya.

    MANAJEMEN MUSYRIK

    Semua hal tersebut diatas tentu bertolak belakang dengan gambaran mengkilatnya kinerja PT. KAI yang secara makro telah mencatat prestasi yang patut diberikan award sebagai BUMN Inofatif, sebagaimana tertulis di artikel bapak di blog dahlaniskan.wordpress.com yang berjudul : Mengabdikah di BUMN ? Lebih Sulitkah ?.

    Tak bisa dipungkiri, secara diatas kertas pelaporan kinerjanya, memanglah kinerja keuangan dan kinerja yang jika dilihat secara makronya, barangkali memang perusahaan BUMN yang mengurusi soal perkereta apian ini patut diacungi dua jempol. Bahkan mungkin kalau perusahaan ini sudah tercatat di Bursa Saham maka sangat bisajadi sudah mendapatkan apresiasi dengan kenaikan harga sahamnya.

    Namun, meminjam istilah yang ada di artikel bapak di blog dahlaniskan.wordpress.com yang berjudul : Neraka dari “Manajemen Musyrik”, maka mungkin termasuk juga didalam kategori ‘Musyrik’ jika perusahaan BUMN yang output produknya adalah jasa pelayanan itu terlihat sangat mengkilat secara kinerja makro dan keuangannya tapi malahan justru jeblok di kinerja real pelayannya kepada publik konsumen penggunanya. Bukankah begitu ya Pak Menteri ?.

    PRODUCT KNOWLEDGE

    Hal lainnya, mungkin memang direksi yang ditempatkan di BUMN kereta api ini tak seberuntung bapak sewaktu bapak ditempatkan di PLN. Bisajadi mereka itu menghadapi situasi yang seperti digambarkan dalam artikel bapak di blog dahlaniskan.wordpress.com yang berjudul : Bupati Baru Di Kolam Air Keruh.

    Budaya di BUMN kereta api mungkin berbeda dengan di PLN, dimana di BUMN kereta api ini masih merupakan warisan budaya birokrasi di zaman perusahaan ini masih berbentuk jawatan, lantaran masih banyaknya veteran-veteran yang masih bersikukuh dengan paradigma lama birokrasi yang bukan melayani tapi malah minta dilayani itu masih bercokol di posisi kuncinya.

    Bisa jadi veteran-veteran itu bukan berarti mereka para pegawai yang berusia tua saja. Namun juga pegawai berusia muda tapi berparadigma pegawai tua. Dimana jika mengutip istilah bapak, birokrasi itu binantang aneh, yang kalau diingatkan dia ganti mengingatkan (dengan menunjuk pasal-pasal dalam peraturan yang luar biasa banyaknya). Kalau ditegur dia mengadu ke backingnya. Kalau dikerasi dia mogok secara diam-diam dengan cara menghambat program agar tidak berjalan lancar. Kalau dihalusi dia malas. Kalau dipecat dia menggugat. Dan kalau diberi persoalan dia menghindar.

    Untuk itu, dalam kondisi itu, tentunya para petingginya, jika ingin membenahi hal-hal kecil yang terlihat sepele tersebut diatas itu, haruslah terjun langsung ke lapangan. Jangan hanya 100% percaya dengan laporan dari bawahannya saja.

    Sehingga dengan demikian, para petingginya mengenal dengan pasti bagaimana sesungguh-sungguhnya hasil output produk dari mesin manajemen perusahaan yang dipimpinnya itu. Karena ini adalah perusahaan jasa pelayanan, maka tentu para petingginya harus mencoba naik kereta api secara berkala. Seperti yang bapak contoh tauladankan beberapa saat yang lalu dengan naik kereta api tanpa pengawalan yang selayaknya penumpang biasa.

    Syukur-syukur jika para petinggi BUMN kereta api itu mau mencontoh petinggi maskapai penerbangan terkemuka di Jepang, yang setiap harinya, berangkat dan pulang kerja menggunakan kereta api.

    Dengan demikian tingkat pelayanannya bisa terkontrol setiap harinya. Dan, apabila tak mengenal dengan persis bagaimana sesungguh-sungguhnya hasil output produk dari mesin manajemen perusahaan yang dipimpinnya itu, maka tak mungkin bisa memutuskan kebijakan terbaik untuk membenahi pelayanannya. Setujukah bapak dengan itu ?.

    RESHUFFLE KABINET

    Bapak Menteri, semoga uneg-uneg yang disampaikan diatas itu tak dianggap sebagai menggurui para direksi dalam mengelola perusahaan perkereta apian. Karena sungguh disadari bahwa para penumpang pengguna kereta api itu tingkat kemampuan dan keahlian serta profesionalitasnya yang tentu jauh dibawah para direksi perusahaan kereta api yang untuk menduduki posisinya saja harus lulus fit and proper test dari para anggota DPR ang terhormat.

    Para pengguna kereta api itu rata-rata hanyalah karyawan dengan gaji yang hanya memadai untuk membayar ongkos tiket kereta api saja. Hal yang tentu jauh berbeda dengan para direksi BUMN yang bergaji besar dan bermobil dinas Toyota Camry.

    Para direksi BUMN perkereta apian itu tentu sangat ahli dalam prinsip manajemen transportasi dan pengelolaan perusahaan serta financial engineering. Akan tetapi pengetahuan dan pengenalan mereka atas hasil output dari mesin manajemen perusahaan yang dipimpinnya itu pasti dibawahnya para penumpang kereta api yang disetiap hari kerjanya menggunakan jasa pelayanan yang dihasilkan oleh perusahaan yang dipimpin oleh para direksi BUMN perkereta apian itu.

    Akhirulkalam, semoga ada reshuffle kabinet jilid 2, sehingga pak Dahlan Iskan bisa menempati posisi yang lebih strategis lagi, agar bisa lebih memberikan pencerahan dan kemaslahatan bagi rakyat banyak. Dan dapat mewujudkan bangkitnya transportasi massal berbasis rel dalam tata arsitektur transportasi nasional baik untuk transportasi antar kota maupun dalam kota, terutama untuk di Jabodetabek, sehingga beban jalan raya menjadi berkurang dan kemacetan parah tak berlanjut diwariskan ke anak cucu. Amin, Allahumma Amin Ya Karim.

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    *

    by bocahndeso di kompasiana

    Posted by MOH TOHA | 10 Desember 2011, 3:17 pm
  82. sya kurang tau tanggapan di sini di baca atau tidak oleh pak Dis. Kalau dibaca syukur, kalau tidak minimal saya sudah berbagi rasa… hehe🙂
    Pak Dis, saya juga orang magetan, alhamdulillah bisa bekerja di Pertamina, tentunya pak Dis sudah lebih banyak tau tentang Pertamina. Harapan saya, Pak Dis berkenan memberikan sentuhan untuk transformasi yang sedang berjalan agar lebih bergairah… Menuju wordclass.. aamiin,..🙂

    Posted by budi | 10 Desember 2011, 5:27 pm
  83. Bravo pak DI…anda memang layak menjadi pemimpin di negeri ini…sudah waktunya negeri ini memiliki pemimpin seperti anda…Selamat Berjuang,do’a kami menyertaimu Pak..

    Posted by Makhfud | 10 Desember 2011, 10:13 pm
  84. hmmm semoga segera mendapat penyelesaian dari permasalahan yang ketemu..
    semoga sukses…

    Posted by tamandewi | 11 Desember 2011, 1:05 am
  85. Pemikiran Pak Dis sangat luar biasa semoga menjadikan perubuhan di tubuh BMUN

    Posted by bani ardani | 11 Desember 2011, 8:00 am
  86. Ass.wr.wb
    Pak mentri saya heran dengan management kereta di indonesia, terus apa yg selama ini hasil dari studi banding ke negara lain, klu mau pt.pjka mau maju jgn jauh jauh coba naik kereta di negara tetangga malaysia, betapa malunya kadang saya berfikir kok kenapa di indonesia tidak bisa seperti di malysia, kita harus belajar dari mereka, mulai dr sistem tiketing sampai informasi stasiun.
    Pasti bpk bisa rubah menjdi lbh maju. Selamat pak

    Posted by Iman | 11 Desember 2011, 9:25 pm
  87. Muantap pak dahlan…. Saya sangat setuju… Kata2 abdi harus dihapus tak terkecuali abdi negara… Kecuali memang mental mereka adalah babu.. Babu BUMN atau babu Negara… Semua rata2 ada udang dibalik batu.. Maju terus pak DIS…

    Posted by aprie | 11 Desember 2011, 9:33 pm
  88. pak masih ada lowongan gak di bumn?
    saya daftar kalo ada yang mau dicoret dari direksinya pak :::::::::::D

    Posted by deden hapsari | 12 Desember 2011, 8:15 pm
  89. apalagi kita-kita ini sebagai pekerja outsourcing di lingkungan bumn, mohon kami ini diberikan perhatian lebih, karena bagi kami bekerja sebagai OS merupakan nikmat yang luar biasa. jangan hanya melihat ke atas terus, sesekali aja lihat kebawah.

    Posted by nia | 12 Desember 2011, 9:53 pm
  90. Semoga bapak diberi ketabahan dan kekuatan dalam menjalan tugas. BUMN kita harus lebih baik lagi, dan Bapak seperti sudah ditakdirkan untuk merubah kultur BUMN yang buruk selama ini.

    Posted by beasiswa s2 | 12 Desember 2011, 10:42 pm
  91. Saya hanya mendoakan semoga kata “Mengabdi di BUMN” bisa berubah menjadi “Mengabdi pada TUHAN”…
    Semoga sukses pak DIS..

    Posted by m_romi | 13 Desember 2011, 2:10 pm
  92. palin enak kerja di bumn atau bahkan PNS sekarang, kemungkinan di pecat/diberhentikan kecil, tiap taun gaji pasti naik, blum tunjangan ini dan itu. terlepas ini rejeki masing – masing orang, saya berfikir bagaimana para pegawai bumn/PNS selama setahun di suruh bekerja di perusahaan swasta begitupun sebaliknya pekerja swasta diminta menjadi pegawai bumn/PNS saya yakin ada perubahan positif dalam kinerja bumn apalagi PNS.

    Posted by someone_somethink | 13 Desember 2011, 4:29 pm
  93. Pak Dis tolong paparan dan buah pemikiran yang real dan mantap sekali, teruskan pak Dis : Bekerja, bekerja, bekerja ….

    Posted by Fais ismail | 13 Desember 2011, 6:42 pm
  94. Pak DI,apa iya bayar listrik tak boleh di kantor PLN?.di perawang/siak bayar listrik harus di loket2 yg di tunjuk,ahirnya konsumen harus bayar biaya adm lagi,sepertinya orang2 PLN tak mau repot,tapi dapat komisi.

    Posted by Golan | 14 Desember 2011, 2:07 pm
  95. Pemilik BUMN adalah publik, sudahkah publik diberi kesempatan bersuara atas pelayanan yang diberikan oleh bos-bos BUMN ? Ciptakan salurannya pak DIS. Suara pelanggan adalah suara Tuhan, dan suara tsb bisa meringkankan sebagian tugas bpk. Perintahkan kepada bos-bos tsb untuk menjelaskan secara langsung dan terbuka kepada publik atas saran dan keluhan yg ada. lihatlah cara berpikirnya, gaya manajemennya, cara kerjanya dan tentu bisa dievaluasi integritas dan profesionalismenya.
    Salam sukses slalu ! Tq

    Posted by Teguh Sunaryo | 14 Desember 2011, 4:07 pm
    • semoga bang dahlan bisa menjadi pintu pembuka bagi kesejahteraan dan kehormatan bangsa indonesia diperjalanan sejarahnya nanti…………seperti raden wijaya meletakkan dasar kemakmuran dan kehormatan majapahit.

      “Hidup Ki Mageti”

      Posted by Akris_Reska | 15 Desember 2011, 5:44 pm
  96. banyak PR yang mesti diselesaikan BUMN-BUMN Indonesia, mari dukung dengan mematuhi aturan2nya dan berdisiplin

    Posted by intenratna | 15 Desember 2011, 8:25 pm
  97. Like this *ala FB*.
    Saya bener-bener suka kata-kata “maka berhentilah mengeluh”.
    Soalnya saya juga nulis hal yang serupa di blog saya.😀

    Salam.

    Posted by Togap | 16 Desember 2011, 10:24 am
  98. benar pak, kata “Mengabdi” yang digunakan para pejabat BUMN itu adalah kata kata MUNAFIK…

    mengabdi itu lebih tepat digunakan oleh mereka yg mendapatkan upah tidak sebanding dengan yg sudah dilakukan (alias upahnya sangat kecil). sedang para direksi BUMN tersebut bonus mereka saja bisa untuk hidup seorang buruh 20 tahun tanpa bekerja.

    Posted by Beyondbes | 16 Desember 2011, 12:07 pm
  99. saya garis bawahi kalimat bapak Dahlan yg terakhir:

    “sudah waktunya BUMN bukan lagi tempat mengabdi, Kecuali mereka benar-benar mau bekerja keras di BUMN tanpa digaji! Sudah waktunya BUMN hanya sebagai tempat membuat prestasi”

    Kalau selama periode bapak memimpin hal ini bisa terwujud
    bukan mustahil 3-5 thn kedepan BUMN2 kita akan muncul dalam deretan Multi nasional company versi majalah FORBES…semoga

    Posted by Pipapi | 16 Desember 2011, 12:17 pm
  100. respect…. its my idole …. keep spirit pak DI… engkau adalah setitik oase di gurun…. semoga BUMN lain menjadi mata air- mata air yang berlimpah air di saat kemarau..amiinnnn

    Posted by skizzo | 17 Desember 2011, 10:37 pm
  101. Saya rasa pak Dis perlu memberikan wadah buat kita-kita untuk membatu pak Dis melaporkan semua hal yang sekiranya dapat membantu buat perbaikan dan perkembangan BUMN kita. Yang tentu saja dapat dibaca langsung oleh pak Dis Sendiri. Sukses selalu buat pak Dis.

    Posted by BOYS | 20 Desember 2011, 8:19 am
  102. apalagi PNS : Abdi Negara……cuihhhhhh NAJIS MUGHOLADHOHHHHHHHHHH

    Posted by iyusmaknyus | 23 Desember 2011, 3:36 pm
  103. betul pak dis BUMN sebagai tmpat membuat prestasi bukan tempatnya dapat rumah dinas yang kalau sudah pensiun tidak mau pergi.memang orang-orang lama maunya menang sendiri

    Posted by arte | 25 Desember 2011, 1:40 pm
  104. Setuju pak dis…

    Posted by budi revianto | 25 Desember 2011, 1:52 pm
  105. mantafh pak
    Kerja dan bekerja…..!!!
    Maju BUMN indonesia

    Posted by nanda | 26 Desember 2011, 11:28 am
  106. Hati-hati melangkah Pak DIS, orang seperti Bapak pasti banyak yang gak suka…… Lebih waspada Pak, jangan grusa-grusu….

    Posted by hisyam | 27 Desember 2011, 5:36 pm
  107. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kesehatan, kekuatan, dan kesuksesan serta perlindungan kepada Bapak Dahlan Iskan dan keluarga. Semoga Bapak dapat mewujudkan BUMN yang maju dan mandiri serta dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Indosesia. Maju terus pak ………. semoga sukses selalu.

    Posted by Rina Susilowati | 27 Desember 2011, 9:14 pm
  108. semoga kesehatan dan umur yang panjang selalu diberikan kepada Bapak Dahlan Iskan beserta seluruh orang-orang yang menjadi semangat beliau.. supaya negeri ini lebih baik lagi dengan keberadaan beliau di tengah-tengah birokrasi kita. aamiin..🙂

    Posted by ikhwanalim | 27 Desember 2011, 10:05 pm
  109. Di bbrp BUMN, msh sulit membedakan mana profesional dan mana politisi. Bahkan di bbrp BUMN yg leader-nya berpola politisi-birokrat bs membuat SDM2 yg profesional patah arang, terkontaminasi atau keluar krn pola politisi lbh dipilih drpd pola kerja profesional. Penilaian kinerja Pimpinan BUMN yg tidak jelas menyuburkan praktek2 ketidakprofesionalan bahkan malah menyuburkan praktek KKN.
    Mohon perhatian dan tiindakan tegas Pak DIS & Tim utk memilih pimpinan BUMN yg bersih, profesional dan pekerja keras. Begitu ada indikasi permainan atau manuver dalam upaya menjadi pimpinan BUMN sebaiknya jauhkan orang2 spt ittu dr BUMN krn mereka lah para potensi racun perusak kinerja bisnis & organisasi BUMN. BUMN hrs dibersihkan dr paradigma & mentalitas politik, birokrat & KKN yg msh subur di bbrp BUMN. Tugas besar pak DIS, tp kami percaya bapak bisa. Rgrds.

    Posted by Aris Kadarisman | 1 Januari 2012, 7:03 am
  110. Pak Dahlan, gw suka gaya lu..!!!

    gw pikir, apa yg ditulis pak Dahlan gak cuman ditujukan utk orang2 yg udah duduk dan kerja di BUMN tp jg utk semua orang Indonesia. Karena kebiasaan orang Indonesia adalah selalu mencemooh/merendahkan dirinya sendiri. maksud gw, setiap ada berita tentang kemajuan di negara lain, orang Indonesia selalu bertanya, kapan di Indonesia ya, atau Indonesia bisa gak ya, atau yang lebih aneh selalu menuduh orang Indonesia hanya bisa korupsi padahal dia jg orang Indonesia. Lalu klo ada berita tentang hal-2 jelek yg terjadi di Indonesia, maka orang Indonesia selalu tertawa mentertawakan orang Indonesia…sekali lagi, padahal dia sendiri jg orang Indonesia.

    Belum lagi keanehan yang terjadi di kalangan aktivis ato mahasiswa yang sering berteriak-2 korupsi atau menghujat orang lain, tetapi begitu dia bekerja dan punya kedudukan maka dia juga akan jadi koruptor kelas paus (bukan kelas kakap lagi). Alasannya pasti serba klise alias penuh keluhan, karena diajak senior atao karena budayanya sudah begitu jd klo dia gak ikut korupsi maka dia akan kehilangan karir bahkan pekerjaan, dan bermacam-2 alasan lainnya.

    Setuju dengan Pak Dahlan, berhentilah mengeluh, berhentilah menghujat, berhentilah pasrah menerima keadaan dan berhentilah menjelek-2kan diri/bangsa sendiri. Buktikan klo kita mampu, buktikan klo kita bisa, buktikan klo Indonesia gak kalah dgn negara lain, dengan cara dengan bekerja..bekerja..dan bekerja.

    Posted by hage | 1 Januari 2012, 7:23 pm
  111. saya me”mulai” untuk menyantap notes bapak DI . . . saya resapi dan saya set back . . . setelah more than 25 tahun “berkarya” (saya memang tidak suka dengan istilah bekerja atau mengabdi – karena berkarya merupakan bagian dari seni yang seharusnya tidak mengenal waktu dan tempat serta ruang) – beberapa substansi dari notes bapak DI, saya rasakan demikian . . . rasanya memang berfikir out of box syulit u diterima, bisa2 dan bahkan dianggap vokalis dsb dsb . . mestinya diresapi dan diserapi atau memang dipertajam . . . . sering2 masukan dianggap sebagai “gangguan” padahal kita diajar untuk berfikir rasional (katanya setelah diikutkan kursus2 macam2 – berfikir secara SMART – lupa kepanjangan apa SMART itu . . .) . . . . . . . . . tapi itu masa lalu . . . sekarang saya hanya sebagai penonton . . . . .TERIMA KASIH pak DI u pencerahannya . . . .

    Posted by iwan sw | 2 Januari 2012, 9:28 am
  112. Pak DI,

    Kalau bicara-nya di level direksi rasanya tidak menyentuh “persoalan” di dalam BUMN yg menurut saya lebih “kronis” yaitu pemborosan anggaran yg -katanya- sudah di setujui DPR. Kebetulan saya bekerja di swasta, dan ada beberapa teman saya yg mencoba “membuat prestasi di BUMN” sesuai dengan kapasitas dan ke-ahlian-nya. Paling lama teman-2 saya tersebut hanya bertahan 1 tahun, untuk kemudian kembali “membuat prestasi” di swasta.

    Alasannya hampir mirip Pak, mereka dipaksa untuk mengingkari hati nurani mereka dengan membuat laporan/rekomendasi/usulan yang menjunjung tinggi asas ABS (Asal Bapak Senang) dengan tujuan dapat membuka keran anggaran untuk membeli sesuatu yg sebetulnya tidak perlu.
    Misalnya pengadaan perangkat tehnologi informasi, kami di swasta paling cepat 3 tahun baru bisa mengajukan update/pembaruan perangkat seperti PC dkk (bahkan lebih sering asas “selama bisa digunakan kenapa harus ganti baru?” yang digunakan di swasta🙂 ). Ada teman saya yang terpaksa bilang “tidak layak” untuk perangkat “enterprise level” yang baru setahun di beli oleh sebuah BUMN tersebut. Tujuannya adalah supaya pada tahun berjalan “proyek” upgrade perangkat tersebut -yang sudah dianggarkan bisa berjalan.

    Saya tidak mau syouzon dengan mengatakan ada unsur “KPK” di dalamnya, tetapi yang jelas penghematan anggaran untuk BUMN amat sangat significant jika proses pengadaan, pemutakhiran/pembaruan, pemeliharaan dll di dalam BUMN mengikuti kaidah “professional” yang biasa di gunakan.

    Semoga Bapak Dahlan selalu diberikan kesehatan dan perlindungan dari ALLAH SWT dalam memimpin seluruh BUMN yg ada di negri ini, dan semoga Bapak bisa meminimalisasi praktek-2 pemborosan anggaran dengan kedok apapun di seluruh BUMN yang Bapak pimpin sekarang ini. AMinnn…

    wasalam….

    Anto

    Posted by Suranto | 4 Januari 2012, 8:17 am
  113. Bapak juga harus melihat langsung “budaya komisi” yang sangat merugikan, merajalela, dan sangat diskriminatif dan mengarah koruptif di BUMN industri perasuransian pak. Karena bila masalah ini bisa teratasi secara benar insya Allah saya yakin industri asuransi kerugian BUMN akan semakin terus maju secara signifikan. Silahkan Bapak melakukan kroscek sendiri atas masalah ini, insya Allah Bapak akan mengerti kenapa ini menjadi masalah krusial di BUMN yang bergerak di bidang / industri asuransi kerugian. Terima kasih atas perhatiannya pak. Wassalam. #PIPI (Pecinta Industri Perasuransian Indonesia)

    Posted by PIPI (Pecinta Industri Perasuransian Indonesia) | 4 Januari 2012, 7:30 pm
  114. Memang perubahan itu harus dimulai dari masing-masing hati manusia.
    Pak DI hanya menjadi guru dan mentor untuk kita semua.

    Semoga berhasil…..

    Posted by Zulkifli Iskandar | 5 Januari 2012, 8:48 am
  115. semoga pak dahlan hidup sampai 100 tahun lagi, amin.

    Posted by suntoro | 5 Januari 2012, 11:31 pm
  116. Pak dahlan, saya termasuk orang yang amat sangat mengagumi kepribadian bapak, , ,
    bapak punya kepribadian yang hebat untuk selalu bekerja profesional, cepat tanggap membaca keadaan, sampai membuat gebrakan-gebrakan cepat demi kemajuan bersama, , ,
    Saya berharap perjuangan bapak tidak hanya berhenti disini sebagai menteri BUMN tetapi tolong bekerja untuk perusahaan dengan skala yang lebih besar, tolong berfikir dan mengabdi untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menurut saya sekarang telah memasuki titik puncak kerusakannya, , ,
    Saya dukung bapak sepenuhnya untuk mencalonkan diri sebagai CAPRES 2014, atau minimal CAWAPRES 2014 dengan pasangan capres yang bisa diajak kerja sama demi kemajuan bersama, , ,
    terima kasih

    Posted by hanik akbar | 15 Januari 2012, 1:34 pm
  117. saya sangat bergembira pak Dis jadi mentri BUMN, moga BUMN-BUMN kita bisa jadi lebih baik,,,,,,,,,,,,,

    coba bapak masuk di BUMN dulu sebelum PLN mungkin cerita teman saya akan lain,,,,,,,,,,,

    teman sesama kuliah saya masuk BUMN bidang konstruksi………

    singkat cerita dia mengundurkan diri dari BUMN itu bukan karena tidak bisa kerja tapi karena kebagusan kerja (menurut saya sih, karena lumayan dekat dan sering cerita)

    kebagusan kerjanya menurut saya karena semua proyek yang dia kerjakan on time, on budget dan selalu profit,,,,,,
    tapi dia orangnya tidak bisa “ditawar” walaupun bulan-bulan kadang masih pinjaman…………..
    pernah untuk melancarkan pembayaran ditawari “puluhan juta” di tolaknya padahal dia nya lagi kekurangan🙂

    akibatnya selalu “tabrakan” sama atasannya

    akibatnya selalu di pindah ke pekerjaan yg bermasalah, dan biasanya selalu teratasi sama dia……….

    sampai terakhir dia sudah gak tahan dan resign………

    menurut saya sayang orang seperti dia mesti “terdepak” secara “sistematis” dari BUMN, dan orang-orang yang tadinya baik, takutnya kalo tidak ikut “cara” bos nya bisa terdepak juga………

    selamat bekerja pak Dis, saya salut buat bapak………
    siap menerima inspirasi-inspirasi bapak berikutnya…..

    Posted by ira satria | 8 Februari 2012, 8:33 pm
  118. Artikel ini memicu artikel terkait di Blog LIPI untuk kasus di LIPI. Silahkan cek di http://u.lipi.go.id/1327881604

    Posted by A. Ashar | 14 Maret 2012, 5:12 am
  119. wah pak banyak tuh yg dg kata2 “mengabdi tp ternyata menggunakan “fasilitas” dr BUMN yg dipimpinnya unt kebutuhan2 pribadi dan keluarganya. yg ada dibenak saya Bpk pasti taulah hal2 gitu itu.. anak buah diperas keringatnya bos/ dirut2 yg enak2kan. semua hal sampai2 kentut keluarganya pun pun di klaimkan kan suruh ganti kantornya.. benar2 pemborosan. coba tengok az di RNI anak perusahaan2nya. jgn bpk tutup mata telinga jika yg bpk katakan untuk penghematan negara demi rakyat kecil.. jangan lalu Bpk jadi pejabat lalu tdk mau urus hal2 yg lebih kecil yg menyangkut langsung unt rakyat kecil.. jangan anggap bodoh rakyat pak.. jangan seperti politikus2 yg hanya berkoar2 dan punya maksud unt pribadinya sendiri.. pemborosan itu terjadi didepan mata Bpk Dahlan.. apa yg akan Bpk lakukan..khusus nya unt bos2/direksi2 perusahaan BUMN/ anak perusahaan BUMN itu.. bos enak semau2 udelnya sendiri, anak buah suruh mati2an urus kebutuhan mereka.. tolong dilihat dan dikoreksi krn spt bos RNI yg baru kan jg pernah jd anak buah Bpk. jd bisa dicek lewat dia dan rekan2 wartawan bpk. terimakasih Pak, semoga BUMN dibawah Bpk bisa menghe,mat dan selalu untung melebihi keuntungan yg lalu2 dan tdk hanya menggemukkan dirut2nya tp anak buah jg ikut merasa memiliki jd tdk akan meniru bos2nya nantinya..😀

    Posted by albar | 16 Maret 2012, 10:22 am
  120. lebih sulit memberantas korupsi, kolusi, nepotisme, dan itu yg penting… maling sandal dihukum bui 5 tahun, koruptor ber – M-M ber T-t cm 1-2 tahun.. banyak petinggi2 bumn, yg ngasih proyek ntah pengadaan ntah jasa ke pengusaha dgn imbal balik salam tempel..

    sperti yg lagi marak akhir2 ini, siapa tu, mantan putri? dan antek2ny..

    Posted by wongcilik | 24 Maret 2012, 4:56 pm
  121. Pak DIS, kenapa untuk masuk BUMN ada persyaratan tidak buta warna.. apakah syarat tersebut mutlak.. saya ingin sekali mengabdi di BUMN, saya profesional, tanpa mengabaikan fakta saya buta warna parsial

    Posted by wanda | 11 April 2012, 10:36 am
  122. Reblogged this on serulingsakti.

    Posted by ssmamaze | 22 April 2012, 7:06 am
  123. Masyaallah…
    Benar2 ditelanjangi dan dikuliti.
    Analisa yang tajam yang mengungkap kenyataan alam bawah sadar.

    Terima kasih pak DIS…
    Semoga terus istiqomah dan dalam lindungan Allah SWT.

    salam.

    Posted by Hamid | 11 September 2012, 4:01 pm
  124. Spot on with this write-up, I truly think this web
    site wants far more consideration. I’ll in all probability be again to read
    far more, thanks for that info.

    Posted by free christian dating site | 10 November 2012, 4:43 am
  125. Zaman revolusi per-KRL-an Jabodetabekse telah dimulai dengan diberlakukannya tiket elektronik dengan tarif berdasarkan jarak, dan disubsidi Pemerintah, sehingga tarif lebih murah, karena tariff perjalanan dihitung berdasarkan jumlah stasiun.

    Posted by KRL Jabodetabek | 5 Juli 2013, 1:07 am
  126. satu hope
    berjuta work
    lanjutkan!!!!!

    Posted by marjanfuadi | 6 Mei 2014, 7:33 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: MENGABDIKAH DI BUMN ? LEBIH SULITKAH ? | pabrikgulasemboro - 1 Februari 2012

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: