>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, CEO Notes, PLN

Bila Dua Gajah Bertempur, Listrik yang Mati

Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau yang kaya raya itu, gelap gulita tadi malam. Entah sampai kapan. Lampu penerangan jalan umumnya dimatikan total oleh PLN. Penyebabnya, tunggakan listriknya hampir mencapai langit. Sudah Rp 30 miliar lebih. Tidak ada kejelasan kapan wali kota Pekanbaru bisa membayarnya.

Wali kota Pekanbaru memang tidak punya uang. Bahkan, Kota Pekanbaru tidak punya wali kota. Masa jabatan wali kotanya sudah habis. Dia tidak boleh mencalonkan lagi karena sudah menjabat dua periode.

Pemilihan wali kota sudah dilaksanakan. Tapi, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan agar dilaksanakan pilkada ulang. MK menemukan bukti terjadi kecurangan yang masif dan terstruktur. Dalam putusannya MK memberikan batas waktu pilkada ulang tersebut harus terlaksana dalam 90 hari.

Tapi, sampai batas yang ditetapkan itu habis, hari ini, pilkada ulang tidak terlaksana. Penyebabnya sama dengan mati listrik tadi. Tidak ada dana. Terpaksa MK bakal bersidang lagi, entah apa yang akan diputuskan.

Pilkada di daerah yang kaya raya ini termasuk miskin calon. Hanya dua pasang yang maju. Tapi, dua-duanya gajah. Yang satu, Firdaus (Demokrat-PKS-PDIP), adalah mantan kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Riau yang tentu kaya akan misi dan gizi. Satunya lagi, seorang Srikandi yang tidak kalah bergizinya. Dia adalah Septina Primawati (Golkar-PAN-PKB-PPP-Gerindra), yang tak lain istri Gubernur Riau yang lagi menjabat sekarang.

Karena itu, bisa disimpulkan begini: ketika dua gajah bertempur, listrik yang mati!

Lampu penerangan jalan memang menimbulkan banyak persoalan. Rakyat merasa memiliki hak agar jalan raya terang benderang. Sebab, rakyat sudah membayar retribusi penerangan jalan. Yakni, yang ditarik bersamaan dengan membayar rekening listrik di rumahnya. PLN yang ditugasi memungutkan pajak itu juga sudah menyetorkannya ke kas pemda.

Kalau saja disiplin anggaran bisa diterapkan, tentu tidak akan terjadi seperti di Pekanbaru ini. Masalahnya, pungutan dari rakyat itu sering tidak dipakai untuk membayar lampu jalan raya. Akibatnya, rakyat di perumahan sering memasang lampu penerangan jalannya sendiri dengan cara menggaet listrik dari PLN. Pihak PLN menilai yang seperti ini adalah pencurian listrik. Yang menggaet merasa tidak mencuri karena sudah membayar retribusi penerangan jalan umum.

Ada baiknya PLN di setiap kota mengumumkan kepada masyarakat berapa nilai uang retribusi penerangan jalan umum yang ditarik dari rakyat itu. Juga berapa pemkot/pemkab membayar listrik kepada PLN setiap bulan. Dengan demikian, rakyat di setiap kota bisa tahu apakah pemkot/pemkab sudah menggunakan uang retribusi penerangan jalan umum itu dengan baik dan benar.

Seperti di Pekanbaru itu, PLN telah menyetorkan hasil penarikan retribusi dari rakyat kepada kas pemkot lebih Rp 2 miliar per bulan. Ini berarti lebih Rp 24 miliar setahun. Dengan demikian, sebenarnya Pemkot Pekanbaru mampu membayar listrik untuk penerangan jalan umum tersebut.

Tentu saya ingin belajar juga dari kasus Pekanbaru itu. Maka, saya ingin mencarikan jalan keluar yang sangat meringankan pemda di seluruh Indonesia. Saya ingin menyerukan: jangan mau lagi membayar listrik ke PLN. Berswadayalah untuk listrik penerangan jalan umum. Jangan gunakan listrik dari PLN yang membebani anggaran daerah itu. Pemda bisa membuat listrik sendiri. Caranya mudah. Saya akan minta semua pimpinan PLN setempat menjadi konsultan gratis untuk setiap pemda.

Bagaimana caranya? Gunakanlah lampu penerangan jalan umum bertenaga matahari. Teknologinya sudah tersedia dan kini sudah teruji. Harganya juga sudah lebih murah dibanding dulu. Tanpa korupsi dan komisi, harga per lampu (tiang, lampu, dan baterai) hanya Rp 15 juta. Dengan investasi sebesar itu pemda tidak perlu lagi membayar listrik ke PLN. Pungutan retribusi penerangan jalan umum bisa terus dipergunakan untuk menambah lampu penerangan jalan sampai ke kampung-kampung.

Bagaimana kalau pemda tidak punya modal? Jangan pakai modal. Kerja sama saja dengan swasta. Mintalah perusahaan swasta membangun lampu tenaga matahari tersebut. Bayarlah swasta itu setiap bulan, seperti pemda membayar ke PLN. Dalam waktu lima tahun pembayaran itu sudah lunas. Untuk selanjutnya pemda sudah terbebas sama sekali dari kewajiban membayar lampu penerangan jalan. Retribusi penerangan jalannya bisa dipergunakan untuk terus menambah penerangan jalan di seluruh kota.

Dampak dari penerapan ide ini akan sangat besar. Indonesia akan menjadi terkenal di seluruh dunia sebagai pelopor lampu penerangan jalan yang paling besar. Industri dalam negeri juga hidup. Lapangan kerja bertambah-tambah.

Dengan melaksanakan ide ini, instruksi presiden agar hemat energi bisa dilaksanakan dengan nyata. Bukan hanya pepesan kosong. Kini semuanya berpulang kepada kepemimpinan di setiap daerah.

Sekali lagi, jangan seperti di Pekanbaru. Mau listriknya tidak mau bayarnya. Padahal, ada jalan yang lebih gagah: tidak perlu bayar listrik ke PLN, tapi jalan raya tetap terang benderang. (*)

Dahlan Iskan
CEO PLN

Diskusi

61 thoughts on “Bila Dua Gajah Bertempur, Listrik yang Mati

  1. Wah ide pak Dahlan bagus juga. Dan juga saya baru tahu prosedur kemana retribusi penerangan jalan itu perginya.
    Mungkin ide Lampu penerangan jalan dengan menggunakan solar cell nya. Semoga bisa diterapkan secepatnya dan juga semoga jangan sampai ada KORUPSI BERJAMA’AH antara pihak2 yang berkepentingan dalam mengerjakan proyek yang mulia ini🙂
    Regards,
    Nuclear boy
    Nuclear for better Indonesia Life

    Posted by Nuclear boy | 22 September 2011, 9:22 am
  2. setuju untuk diumumkan penerimaan dan pembayaran pajak penerangan jalan umum tiap kota/kabupaten.

    Posted by Giusty | 22 September 2011, 10:08 am
  3. kasian pekanbaru, kota ini ibu kota propinsi yang masuk jajaran terkaya karena hasil alamnya

    tapi masuk hotnews hanya gara-gara ga mampu bayar listrik

    *rakyatnya bayar, pemkotnya nunggak

    hadddeeeeuuuh

    Posted by arief setiawan | 22 September 2011, 10:22 am
  4. Ide yang sangat bagus Pak.🙂

    Sayangnya jarang ada orang dari Indonesia bagian Timur yang bisa mengakses internet seleluasa kita-kita, sehingga tulisan Pak Dahlan bisa menginspirasi sampai pelosok2 wilayah.
    Saya cuma bisa berharap ide ini bisa di dengar sampai pemerintah2 daerah di Indonesia Timur.

    Nanti kita bersedia menjadi pengumpul modal untuk membangun kelistrikan Indonesia di bagian timur, tentunya dilandasi dengan semangat pengabdian, diusahakan tanpa mencari untung, dan selalu mengharamkan korupsi.

    Terimakasih sudah selalu menginspirasi, Pak!

    Posted by Indone5ia | 22 September 2011, 10:54 am
    • sebenarnya jaringan internet di indonesia timur sudah bagus. bahkan ada yang lebih baik dari jawa. contohnya di kampung Tulehu, ambon jaringan internetnya sudah WCDMA/HSDPA. dibanding didesa takeran perbatasan magetan/madiun desa saya jaringannya baru EDGE.
      masalahnya hanya kemauan dan kecerdasan saja yang belum dimiliki oleh kebanyakan dari kita ini.

      Posted by didiksuprayitno | 23 September 2011, 5:23 am
      • Terimakasih mas Didik Suprayitno atas informasi dan koreksinya.

        Kalau sudah trasportasi dan komunikasi berkembang dengan baik, (mungkin) pembangunan di Indonesia Timur juga bisa merata.

        Semoga semakin banyak pemimpin2 kita yang bekerja keras seperti Pak Dahlan ini salah satunya.

        Posted by Indone5ia | 25 September 2011, 8:41 am
  5. 1. mmg hrs diumumkan brapa dana yg dsetor ke Pemda oleh PLN tiap bulannya, dan berapa tagihan listrik penerangan jalan raya yg harus pemda bayar;
    2. mmg harus semua daerah menggunakan listrik tenaga surya utk digunakan sebagai penerangan jalan.
    dua solusi yg sangat baik. sebaiknya smeua Kepala Daerah membaca ini Artikel.
    ‘moel-sang-taiko’

    Posted by Mulyadi | 22 September 2011, 1:06 pm
  6. mohon kepada admin agar mencantumkan sumbernya dapat darimana agar menjaga keilmiahan dan bisa dipertanggung jawabkan

    Posted by dodi | 22 September 2011, 2:18 pm
  7. mohon kepada admin agar mencantumkan sumber tulisan artikelnya pak Dahlan Iskan dapat darimana agar menjaga keilmiahan dan bisa dipertanggung jawabkan

    Posted by dodi | 22 September 2011, 2:19 pm
  8. Ide yang brillian dari Pak Dahlan. Semoga pemda menggagas ide ini. Bukankah sudah ada traffic light tenaga matahari di banyak persimpangan. Ada baiknya PLN mengajak salah satu pemda untuk menerapkan ide ini sebagai percontohan. Memang seharusnya pemda yang mengajak, tapi untuk kasus ini saya usul ke pak Dahlan, cari salah satu kota yang punya kemauan besar untuk melaksanakan ide in. Pak Dahlan pasti tahu Walikota mana yang mau diajak bekerjasama. Mahu terus pak Dahlan. Terima kasih

    Posted by nazirni | 22 September 2011, 2:57 pm
  9. Ide, konsep dan gagasan Pak Dahlan selalu cerdas dan mencerahkan. Kayaknya, pemkot surabaya tepat deh Pak untuk dijadikan proyek percontohan lampu penerangan jalan berenergi matahari…Pak, ngomong-ngomong kalau tanah bersertifikat yang diatasnya berdiri pal atau tiang listriknya PLN ada konpensasinya ndak ya…

    Posted by Lukman Nugroho | 22 September 2011, 7:28 pm
  10. Ide yang sangat bagus dan brilian, saya setuju sekali. Jlentreh, tegas dan jelas.

    Posted by Wahid Century | 22 September 2011, 9:41 pm
  11. Ide bagus pak, tapi pak nanti kalo hampir semua orang bisa memproduksi listrik sendiri dengan bebas (murah), apakah “mereka yang duduk disana” legowo menerima kenyataan?ini seperti BBM alternatif yang kepentok sama Pertamina, bisa jadi listrik alternatif nanti juga kepentok sama PLN…….

    Posted by Free Energy | 23 September 2011, 6:35 am
  12. Ide yang bagus Pak. Semoga Pemda mau mendengarkan. Lagi pula mereka kan harus malu, daerah kaya begitu kok bisa hidup dalam kemiskinan..

    Posted by Evi | 23 September 2011, 7:58 am
  13. Ide yang sangat bagus. Tapi negara kita kan negara tropis, ada musin kering ada musim hujan. Yang jadi pertanyaan bagaimana nanti operasionalnya sewaktu musin hujan? Kayanya ga bisa 100% mengandalkan tenaga matahari, perlu pasokan listrik dari PLN juga, walaupun cuman pada kondisi hujan.

    Posted by Bang Yos | 23 September 2011, 10:54 am
  14. setuju p dahlan,drpd tergantung sama pemerintah mdg swadaya..
    sa pernah tgs di pulau terpencil,dsn g ada listrik pdhl prnh diksh gen set sm tiang2x jg dah ada tp kt penduduk dsn cm berfungsi sebulan,selebihnya rusak trs..untung di tempat tinggal saya pake tenaga surya,walaupun g trll trg kdg2 (trgtg bykx cahaya matahari) tapi mendingan..gratis pula..

    Posted by adhe | 23 September 2011, 1:15 pm
  15. Yang menarik, 15 juta tanpa korupsi.
    Memang sih, setiap pengadaan barang / jasa di intstansi pemerintahan menjadi lahan korupsi yang subur.

    Jayalah pak DIS

    Posted by aris | 24 September 2011, 8:31 pm
  16. Saran yang bagus dari pak dahlan kepada pemkab dan pemko.untuk menghemat listrik dari PLN.15 jt memang angka yang besar tapi kalo tidak ada koropsi di pemerintah semua itu akan menjadi ringan dan dapat di gunakan sebagai infestasi kota .

    Posted by Bauy | 24 September 2011, 11:21 pm
  17. Sangat Super Pak Iskan, tapi saya kurang yakin pihak Pemda ybs mau menjalankan ide tsb, krn kalo ide tsb dijalankan, lahan korupsi mereka berkurang…he he he

    Posted by marco | 25 September 2011, 8:04 am
  18. Pak DI kenapa ga langsung dipotong aja setoran retribusi ke pemda untuk bayar utangnya pemda……lumayan tiap bulan 2M bisa cicil utangnya pemda

    Posted by pay | 25 September 2011, 8:57 pm
  19. Doa saya setiap membaca tulisan bapak dari pertama, agar bapak diberi nikmat sehat, serta selalu mendapat hidayah-NYa, agar kami generasi muda ini masih melihat adanya secercah harapan bahwa Indoesia memiliki pemimpin yang bekerja untuk rakyatnya. Bravo Pak Dis!!di tunggu setiap inspirasi tulisannya!!

    Posted by awaluddin | 25 September 2011, 10:53 pm
  20. Hadeeeeew ketahuan belangnya deh yang suka korupsi, bravooo pak Dis…..

    Posted by syaif | 26 September 2011, 4:59 am
  21. Saya di pulau Rupat (Riau), beberapa jam dr Pekanbaru. Tinggal nyebrang dr Dumai tmpt bapak kemarin naik pesawat (kebetulan ada teman yg lihat bapak di Pinang Kampai). Listrik di pulau ini maksimal dari jam 5 sore smp jam 7 pagi. Di titik-titik tertentu blm ada listrik sama sekali. Sempat saya dengar ada rencana tarik kabel dari Dumai agar bisa nyala 24 jam sehari, entah apa tidak lebih kalau bangun/maksimalkan pembangkit listrik di pulau saja ketimbang dr Dumai. Barangkali bpk punya ide lbh oke? Warga Rupat amat menantikannya..🙂

    Posted by rangga | 26 September 2011, 6:52 am
    • saya beberapa waktu lalu PKL ke pulau rupat, ke desa tanjung rhu, rupat utara. bikin tenda di bawah mercusuar. listrik hanya ada saat malam hari. kalau tidak salah disana pembangkit listriknya pakai solar ya. semoga dirut PLN yang baru segera menuntaskan masalah ini. semoga pak dis dapat membenahi BUMN lainnya agar dapat lebih menghasilkan

      Posted by harist | 29 Oktober 2011, 5:23 pm
  22. saya usulkan Judulnya jadi :
    “BILA DUA GAJAH BERTEMPUR, SEMUT YANG MATI
    Semut (baca masyarakat-red)

    Posted by Dani | 26 September 2011, 11:21 am
  23. jngn bnyk wacana tolong calonya di bersihkan dulu

    Posted by huda | 27 September 2011, 12:28 am
  24. Ide Bagus…… cuma semoga saja tidak ada KKN dalam pelaksanaannya, Emang repot sich…. kalo seseorang menjadikan sebuah jabatan sebagai sarana Memperkaya diri. Mungkin “mereka” kalo jatah rizki sudah di paket masing-masing dan gak bakal ketuker sama orang lain…..

    Posted by Ghozali | 28 September 2011, 3:39 pm
  25. Terima kasih Pak Dahlan atas inspirasinya, smoga bisa segrera diterapkan oleh Pemda masing2. Sukses Selalu🙂

    Posted by pratama2011 | 29 September 2011, 1:29 pm
  26. Wah, ini jadi salah satu kendala PLN bayar utang ke Pertamina pak ya? Repot deh kalo gini, pemda ga bayar PLN, PLN ga bayar Pertamina, akar masalahnya ya pemda, politik, penguasa yang pada korupsi, yang kerja beneran jadi korban, capek deh, potong tuh gaji walikota-nya -_-“

    Posted by devy | 29 September 2011, 5:09 pm
  27. Akar dari banyak masalah di negeri ini ya KORUPSI.Sama seperti yang dijelaskan dalam uraian Pak Dahlan.Pemda dan DPRD sering punya kepentingan yang ujung ujungnya mengabaikan kepentingan masyarakat umum.Coba kalau mereka memang berkomitmen untuk rakyat,tidak akan terjadi masalah seperti di Pekanbaru.Anggaran kan sudah dijalankan setiap tahun,mereka tentunya juga bisa berhitung berapa pemasukan,berapa pengeluaran.Tapi Pemda dan DPED tidak pernah mau belajar dari pengalaman.Yang terjadi ya pengulangan pengulangan kesalahan.Alih alih untuk mengurangi kesalahan,menambah ruwet masalah malah iya.Capek deh.

    Posted by antok | 5 Oktober 2011, 6:35 am
  28. ini baru ide segar,,tinggal, apakah masyarakat tergerak untuk melakukannya tanpa menunggu pemerintah..

    Posted by tipsbisnisuang | 5 Oktober 2011, 7:27 am
  29. maaf, bumg admin bolehkah saya melink kan blog saya ke blog ini?

    Posted by fhadiningrat | 12 Oktober 2011, 3:00 pm
  30. Perlu difikirkan bagaimana jika pas hari-hari mendung. apakah lampu jalan akan mati malam harinya? Juga bagaimana jika solar kit-nya kotor karena debu dan tahi burung. Bagaimana manajemennya? Ide dasar sudah bagus, tinggal memikirkan pemeiliharaannya.

    Posted by Eko Atmadji | 17 Oktober 2011, 2:01 pm
  31. Ide bapak sedang diterapkan di denpasar bali khususnya di kabupaten badung..untuk LPJ sekarang menggunakan solar cell di jl.bypass nusadua..bravo pak dahlan

    Posted by oka budi | 17 Oktober 2011, 6:53 pm
  32. Ide Bapak benar2 “out of the box”. Posisi bapak adalah seorang CEO PLN, tetapi Bapak malah memberikan ide untuk tidak menggunakan jasa PLN dalam menyediakan lampu penerangan jalan. Sebaliknya, Bapak memberikan solusi agar pemda bisa lebih mandiri lagi untuk menyediakan fasilitas tersebut, Luar biasa!
    Sangat banyak implikasi positif dari ide ini untuk masyarakat, masyarakat bisa lebih berhemat pengeluarannya untuk listrik dalam jangka panjang dan jalan raya tetap terang-benderang.
    Semoga kesehatan selalu menyertai Bapak agar Indonesia memiliki kesempatan untuk dipimpin oleh seseorang yg visioner dan merakyat seperti Bapak Dahlan Iskan, Amin!

    Posted by Liyu | 18 Oktober 2011, 6:31 pm
  33. sholat dulu..untuk terangnya negeri kite..

    Posted by farhan habib | 20 Oktober 2011, 3:02 pm
  34. Salot saya dengan pemikiran dan ide yg bapak tulis. Seharusnya memang begitu..mslahnya pimpinan daerah ini nga punya niat ato mmng nga tau..saya sarankan ke bapak,klo berkunjung ke daerah2..kasi pencerahan sama kepimpinan daerah..:).0h ya pak, gmana listrik geothermal disabang,apa mslahnya hingga kini blom terlaksana🙂

    Posted by agus | 21 Oktober 2011, 10:50 am
  35. Di jalan penghubung kota, Aceh telah menerapkan teknologi seperti itu…
    salut dah,,,
    (bisa hemat Listrik)

    Posted by dyco | 17 November 2011, 8:20 pm
  36. GOKIL… DAN JENIUS….

    Posted by Yahya Nursalim | 23 November 2011, 11:03 am
  37. Benar Pak Dis, Kami di Prabumulih Sumatera Selatan, Pemkot sudah melaksanakan penerangan lampu jalan menggunakan tenaga matahari sehingga jalan lingkar sudah terang menderang
    terima kasih Pak dis Idenya sudah dilaksanakan

    Posted by sandiga | 7 Desember 2011, 9:22 am
  38. kok ribet bgt ya birokrasinya, seharusnya retribusi yang ditarik oleh PLN bisa langsung dimanfaatkan PLN. ga usah di setor ke Pemda (yang ga bisa dipercaya itu)

    Posted by arifrp | 12 Desember 2011, 9:44 am
  39. excellent person,. manusia langka..

    Posted by mastyo | 14 Desember 2011, 1:49 pm
  40. Belajar dari pekanbaru, kutai dan daerah-daerah kaya lainnya, sebenarnya bukan kayanya karena terbukti kekayaan daerah ternyata jarang yang mengkayakan masyarakatnya karena kekayaan tsbt cm dinikmati segelintir orang terutama pemimpin2 daerah yang bersangkutan. Yang perlu dilakukan cerdaskan masyarakat untuk memilih pimpinannya, cerdaskan masyarakat untuk kritis terhadap pimpinan karena kekayaan intelektual lebih bernilai daripada sekedar kekayaan alam.

    Posted by arif | 31 Desember 2011, 2:40 am
  41. Pekanbaru lagi hemat energi Pak……hehehe

    Posted by Sylvia | 22 Januari 2012, 1:16 pm
  42. Pak
    ide nya ruarrr biasa bergizi
    gmana sdh di laksanakan?

    saya kasihan sama pak dahlan, dijadikan harapan sangat banyak orang
    sedangkan persoalan di indon nesia ini sdh sangattt sangaat ruwet

    tlg dong, anda yg pintar2 & ber hati nurani, bersatu dalam satu barisan….
    lalu publikasikan

    biar ndak yg korup2 saja yg terkenal… rakyat jadi ikut2an pak….

    Posted by muslim nusantara | 5 Februari 2012, 11:33 am
  43. Wah baru tau jg klo distribusi retribusi penerangan jalan itu mampir dulu ke pemkot, knpa jg hrus dilewatkan pemkot baru dikembalikan lg ke PLN. Knpa ga skali jalan aja, LN yang motong langsung, jd gak kerja dua kali…. ANEH

    Posted by Sugeng Santoso | 20 Februari 2012, 10:53 pm
  44. idenya sih bagus pa cuma apa tidak dipikirkan pemeliharaannya jangan-jangan nanti pemeliharaannya malah lebih banyak pengeluarannya setelah 5 tahun beres dibayar. yang jelas pemdanya aja yang malas bekerja pengen nya nyala dan duitnya masuk ke kantong wah pusing lah kalo para pejabatnya yang tidak peduli malingkungannya, jangankan lingkungannya pekerjaanya aja tidak peduli yang peduli hanya uang uang dan uang…….

    Posted by catur | 23 Februari 2012, 8:04 am
  45. Subhannallah…

    ~·Dengan Rp.15.juta tiap tiang (Lampu jalan dari foto cell),
    ~·Ber-arti tiap bulan akan terpasang Lampu jalan Kampung dan Lampu jalan di Komplek,
    sekitar 133 Tiang (lebih) Lampu jalan dengan gunakan Tenaga-Surya..
    ~·Artinya setahun bisa terpasang sekitar 1600 Tiang Lampu jalan.
    ~·Kalau kita asumsikan jarak tiang ke tiang 50M,
    maka panjang jalan yang telah di terangi dengan :
    Lampu Solar-Cell,sekitar : 80 KM….

    Begitu “cerdas”dan “sederhana”-nya,solusi yang ada didepan Kita…

    Bagaimana kalau sampai : 3-5 Tahun…?
    Tentu,seluruh Kota Pakan Baru akan terang benerang sampai Kampung2..
    Sehingga kegiatan perekonomian tetap lancar karena “terang” dan
    kerawanan keamanan masyarakat akan menurun…

    Belum lagi, penambahan kesempatan kerja akan terbuka lebar…

    Maaf, itu baru bicaraa Pakan Baru…,bagaimana kalau kita bicara secara Nasional…?

    Tetap semangat..Jayalah Indonesia bersama Abah Dahlan Iskan…

    Posted by N. SORRI.. | 11 Februari 2013, 8:43 am
  46. Tiga tahun setelah tulisan ini dimuat, saya telah melihat banyak penerangan jalan bersolar cell…..tapi jalan tetap gelap, karena kotak penyimpan baterai sudah terbuka, kosong melompong…. sayang yah ide baik, dng tujuan baik dan sudah terlaksana tidak dapat dipelihara dengan baik……

    Posted by agnis | 5 November 2014, 4:27 pm
  47. Bagi ANDA yang menemukan website kami SYPHILIS CURE ini Baik secara kebetulan saja / mencari pengobatan sipilis yang paling tepat.. atau mungkin anda sudah pernah mencoba obat sipilis di tempat lain tetapi tidak sembuh juga / barang kali anda korban penipuan dari website orang lain yang fiktif keberadaannya Maka tepat sekali jika anda menemukan website saya ini Kami yakin semua ini atas petunjuk TUHAN.

    Posted by HERNAWATI OMPUSUNGGU | 10 Februari 2015, 12:12 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Bila Dua Gajah Bertempur, Listrik yang Mati « ronymarif - 22 September 2011

  2. Ping-balik: IPO PLN,Kapan? « Dre@ms Come True - 13 Januari 2012

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: