>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, CEO Notes, PLN

Setengah Tahun Fukushima

Direktur PLTN Fukushima Tak Gajian

Tentu saya sering menerima tamu dari Jepang. Kadang harus minta maaf karena waktu yang tersedia terlalu pagi: pukul 06.30. “Toh ini di Jepang sudah pukul 08.30,” gurau saya kepada tamu-tamu dari Jepang yang umumnya selalu serius itu.

Para tamu itu umumnya dari kalangan kelistrikan. Setelah urusan bisnis selesai, biasanya saya manfaatkan untuk menggali informasi mengenai kelistrikan di Jepang. Saya perlu belajar banyak dari para tamu dari negara maju itu. Dari mereka pulalah saya bisa terus memperbarui informasi mengenai kelanjutan nasib pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Jepang setelah terjadi peristiwa kebocoran PLTN Fukushima akibat tsunami 11 Maret lalu.

Semua PLTN di Jepang kini menjalani apa yang disebut stress test. Sebuah tes untuk mengukur tingkat ketahanan PLTN menghadapi stres besar, seperti stunami atau gempa yang besar. Tes itu masih terus berlangsung, di bawah pengawasan badan nuklir dunia. Yang tidak memenuhi syarat harus melakukan perbaikan dan dites ulang. Setelah 54 PLTN itu dinyatakan tahan terhadap stres besar, hasil tes itu kelak diberikan kepada pemerintah. Saat itulah pemerintah akan memutuskan: go atau no go.

Tidak ada yang tahu kapan tes itu bisa selesai. Tapi, melihat tingginya tingkat ketakutan masyarakat terhadap nuklir, banyak yang pesimistis pemerintah bakal berani mengizinkannya kembali. Saat ini memang masih ada 12 PLTN yang beroperasi, tapi tidak lama lagi juga bakal dihentikan. Begitu tiba saatnya unit PLTN tersebut harus dipelihara, operasinya harus dihentikan. Kemudian, sekalian harus menjalani stress test. Pengoperasiannya kembali harus menunggu izin baru dari pemerintah.

Berarti Jepang sedang dan akan kehilangan listrik sekitar 40.000 MW (seluruh listrik di Indonesia 35.000 MW). Memang angka itu hanya 15 persen dari total produksi listrik di Jepang, tapi konsekuensinya tetap besar. Semua industri besar di Jepang kini harus mengurangi konsumsi listriknya 15 persen.

Untuk mengatasi itu tidak ada jalan lain. Pembangkit-pembangkit tua yang sudah puluhan tahun tidak dipakai itu cepat-cepat diperbaiki. Sebentar lagi bisa dijalankan kembali. Tapi, semua orang tahu pembangkit-pembangkit itu sudah sangat tidak efisien. Apa boleh buat. Jepang harus memproduksi listrik dengan cara yang sangat mahal. Bahan bakar pembangkit-pembangkit tua itu adalah minyak solar. Jepang pun harus impor BBM senilai Rp 300 triliun/tahun.

Karena itu, meski krisis listrik nanti akhirnya teratasi, persoalan baru segera muncul: siapa yang harus membayar kemahalan itu” Tidak ada rumus lain: konsumenlah yang akan menanggung. Jepang kini sudah siap-siap menghitung rencana kenaikan listrik yang kelihatannya bisa mencapai 30 persen. Kalau ini sampai terjadi, kalangan industri di Jepang bakal berteriak. Angka kenaikan tersebut akan membuat struktur bisnis di Jepang berubah total. Nilai kompetisi ekspornya akan hancur.

Bagi pelanggan rumah tangga, ini mungkin tidak begitu berat. Memang tarif listrik rumah tangga di Jepang sudah sekitar USD 22 sen. Hampir empat kali lipat lebih mahal daripada tarif listrik di Indonesia. Berapa jadinya kalau harus naik 30 persen lagi” Tapi, karena pendapatan masyarakat di sana juga tinggi, tarif itu tetap terasa murah. Hanya 1,5 persen dari total pendapatan per rumah tangga.

Saya perkirakan perdebatan kenaikan tarif listrik di Jepang akan seru. Terutama antara masyarakat yang tidak mau nuklir dan industri yang menginginkan tarif listrik murah. Bayangkan, memproduksi listrik dengan minyak solar bisa lima kali lipat lebih mahal daripada nuklir.

Bagaimana dengan kalangan akademisi? Sama juga dengan di Indonesia, mereka selalu mempersoalkan ini: mengapa tidak beralih ke energi baru? Bukankah potensi tenaga matahari di Jepang mencapai 500.000 MW? Bukankah potensi geotermalnya mencapai 20.000 MW? Bukankah Jepang dikelilingi laut sehingga potensi tenaga anginnya bisa mencapai 100.000 MW? Apa artinya kehilangan 40.000 MW?

Memang selalu ada benturan antara logika akademisi dan logika perusahaan listrik. Mereka hanya selalu mengemukakan potensi. Akademisi selalu mengemukakan “yang mungkin dilakukan”. Sedangkan perusahaan listrik hanya melihat “yang bisa dilakukan”. Akademisi selalu berbicara masa depan. Perusahaan listrik harus mengatasi problem SAAT INI.

Kehilangan 40.000 MW adalah persoalan yang harus dipecahkan SAAT INI. Sedangkan listrik dari geotermal itu, kalaupun bisa dikerjakan, baru didapat tujuh tahun lagi!

Persoalan geotermal di Jepang sama saja: potensi panas bumi itu berada di gunung-gunung dan di hutan-hutan lindung. Tidak boleh disentuh, apalagi dibongkar-bongkar. Biarpun itu untuk proyek geotermal yang misinya sama dengan si hutan lindung itu: memperbaiki lingkungan. Rupanya sesama program green tidak bisa saling menyalip.

Di Jepang, persoalan geotermal lebih rumit lagi. Lokasi-lokasi panas bumi yang ada di pegunungan itu umumnya sudah dimanfaatkan untuk spa air panas! Atau spa yang mengandung belerang. Sudah menjadi pusat-pusat wisata mandi. Larisnya bukan main.

Memang para teknolog akan bisa menemukan jalan keluarnya: lakukan bor miring! Artinya, gunung itu dibor dari samping, dari luar lokasi hutan, dari jarak yang sangat jauh. Para teknolog bisa menemukan jalannya. Tapi, selama ini sudah telanjur ada pameo: mimpi indah para teknolog adalah mimpi buruk para ekonom. Proyek sumur miring seperti itu akan menjadi begitu mahal.

Kalau listrik di Jepang menjadi sangat mahal, persaingan Jepang dengan Korea semakin seru. Korea yang berambisi menggeser Jepang (yang sudah tergeser oleh Tiongkok tahun lalu) punya peluang lebih besar. Rakyat Korea yang tidak mempersoalkan nuklir bisa mendapat listrik jauh lebih murah. Dengan tarif listrik yang baru nanti, kalangan industri di Jepang memperkirakan tidak mungkin lagi berproduksi di dalam negeri. Mereka harus mengalihkan pabrik ke negara yang lebih murah listriknya, seperti Indonesia.

Tentu mereka berharap masyarakat Jepang berubah sikap. Toh, seberat-berat Fukushima, terbukti sampai saat ini tidak ada satu pun orang meninggal akibat nuklir itu. Memang, ada tiga pegawai PLTN Fukushima yang dinyatakan terkena radiasi yang melebihi ambang batas yang bisa diterima manusia. Tapi, tiga orang itu baik-baik saja dan kini sudah kembali bekerja. Tiga orang itu masih terus diobservasi sampai aman benar.

Hanya, penduduk yang diungsikan masih sangat besar. Belum tahu lagi kapan mereka bisa kembali ke kampung halaman. Ini persoalan besar. Traumanya begitu dalam.

Masih banyak pekerjaan besar yang harus diselesaikan oleh direksi dan karyawan perusahaan listrik itu: membangun benteng yang bisa mengurung Fukushima rapat-rapat. Dengan demikian, radiasi tidak keluar dari reaktor. Demikian juga radiasi yang telanjur menyebar ke radius 20 km harus dibersihkan dulu. Setelah itu, kelak, entah kapan, pengungsi bisa kembali.

Sebelum semua itu selesai, masyarakat listrik di Jepang masih sangat menderita. Terutama TEPCO, pemilik PLTN Fukushima, yang kini harus menanggung semua biaya itu. Begitu berat beban kerja dan keuangannya. Sampai-sampai semua direkturnya tidak boleh menerima gaji. Dan, gaji semua karyawannya harus dipotong 20 persen. Sampai waktu yang belum bisa ditentukan.(*)

Dahlan Iskan
CEO PLN

Diskusi

29 thoughts on “Setengah Tahun Fukushima

  1. Kapan yaa dirut dan direksi2 PLN mau untuk tidak gajian demi rakyat Indonesia?

    Kenyataan yang ada di lapangan, rakyat Indonesia di bagian Indonesia timur masih banyak yang hanya menerima listrik di malam hari. Sungguh sangat miris dan tidak adil sedangkan orang-orang di ibukota cuma asyik ketawa2 menikmati pembangunan.

    Kalo harus membangun PLTN di Indonesia bangun lah PLTN, kalo mau membangun geothermal bangunlah geothermal, tidak usah terlalu banyak beralasan dan berteori. Pada dasarnya pembangunan pembangkit listrik di tolak hanya karena kita merasa PLN tidak ada kesiapan dan kurang profesional dalam mengembangkan pembangkit listrik di Indonesia.

    Indonesia butuh pemimpin yang cepat mengambil keputusan dan mementingkan orang yang kurang mampu demi mewujudkan keadilan dan pembangunan yang merata di Indonesia.

    Posted by Indone5ia | 19 September 2011, 4:59 pm
    • gan, kalo komentar, tolong objektif!

      Anda bilang orang2 PLN tidak memikirkan Indonesia Timur darimana? Anda baca tidak tulisan Pak Dahlan tentang perjuangannya yang sangat banyak dalam waktu relatif singkat dibandingkan pendahulunya?
      jika belum, silahkan baca lagi blog ini dari awal, lalu baru komentar (yang objektif).

      bagus2 kalau anda bisa memberikan solusi juga. tidak hanya mengeluh.

      Posted by cumi! | 19 September 2011, 7:52 pm
      • Sabar bos,🙂

        Komentar saya berdasarkan kenyataan saja sih. Membuka mata kalo ternyata masih ada ketidakadilan di bumi Indonesia, termasuk didalamnya masalah kelistrikan.
        Anda tau kalo masih banyak daerah Indonesia yang hanya menikmati listrik dari jam 6 sore sampai jam 12 malam saja? Kita rakyat Indonesia yang beda yaa sama orang di Jawa?
        Yaa kita sabar menunggu, cuma memang terlalu lama dan tambah miris karena disaat bersamaan pejabat-pejabat semakin berani untuk korupsi (ini bukan ngomong PLN saja yaa).

        Tapi disini saya memang harus meminta maaf karena komentar saya terlihat sarkas karena memang saya pingin mendapatkan perhatian yang lebih serius saja.

        Salut buat Pak Dahlan Iskan yang sudah membawa PLN lebih berkembang dari hari ke hari.
        Semoga suatu hari saya bisa berkontribusi seperti Bapak.🙂

        Posted by Indone5ia | 19 September 2011, 8:09 pm
      • Dear INDONE5IA,

        Betul, memang masih banyak, tapi kondisi sekarang berbeda dengan kondisi zaman Orba, misalnya, dimana ketidakadilan seperti itu hanya disapu ke bawah karpet dan ngga ada usaha untuk memperbaikinya.

        Masih banyak daerah yang menikmati listrik sebagian waktu saja, betul, tapi pihak PLN juga bukan duduk2 diam saja tanpa berusaha menanggulangi permasalahan ini.

        Silahkan INDONE5IA baca sebagian artikel Dahlan Iskan :
        https://dahlaniskan.wordpress.com/2011/07/11/plts-bunaken-model-untuk-100-pulau-lain/
        https://dahlaniskan.wordpress.com/2011/08/19/ketemu-lokasi-plta-berkelas-emas-kelelahan-lunas/
        https://dahlaniskan.wordpress.com/2011/08/20/atasi-kebutuhan-mendesak-bangun-minihidro/
        https://dahlaniskan.wordpress.com/2011/08/21/ironi-di-bintuni-mumi-listrik-di-digul/

        Bisa dilihat kalo PLN tidak tinggal diam saja. Tapi pembangunan bukan sesuatu yang bisa dilakukan secara instan, semua pihak harus bersabar atau ikut terjun membantu kita ingin hasil yang lebih cepat. Bukan dengan ber-sarkasme seperti tulisan anda.

        Posted by bam | 21 September 2011, 9:11 am
        • Dear Bam,

          Terimakasih atas informasinya sebelumnya.
          Iyaa saya juga sama seperti anda selalu membaca artikel yang ditulis oleh Pak Dahlan Iskan.

          Bahkan saya sampai meniru apa yang dilakukan Pak Dahlan untuk membagikan informasi tentang kondisi kelistrikan Indonesia melalui facebook dan blog juga setelah mendapatkan inspirasi dari blog ini.

          Ini buktinya halaman facebook yang telah saya buat : http://www.facebook.com/pages/Catatan-Fendy-Sutrisna/337392026287376

          dan ini blog saya yang berjudul Catatan Fendy Sutrisna : http://fendysutrisna.blogspot.com/

          Dukung saya untuk tetap konsisten membantu membagikan informasi tentang kondisi kelistrikan di Indonesia dengan meng-like halaman facebook saya atau artikel2 yang sudah saya tulis di blog.

          Jabat erat,

          Kadek Fendy Sutrisna

          Posted by Indone5ia | 27 Desember 2011, 12:44 pm
      • Saya lihat pak Dahlan sudah menunjukan proses perbaikan di Indonesia Timur dengan sangat pesatnya. Cuman ya itu, harus sabar jumlah area cakupan perbaikan terlalu besar, sedangkan perbaikan PLN baru dimulai sejak p Dahlan memimpin PLN. Dan progressnya sangat jelas.

        Jalan satu-satunya yang paling cepat memperbaiki Indonesia adalah menciptakan Ribuan Dahlan Iskan lagi.

        Ayo Pak Dahlan, dikader anak buahnya sampai bisa melebihi pak Dahlan. Itulah warisan paling manis dari Bapak. Karena dengan begitu sampai ratusan tahun kedepan, kita aman karena proses perbaikan Indonesia DIJAMIN.

        MAju terus Pak

        Posted by Agung A | 7 Januari 2012, 7:57 am
    • pertanyaannya kalau gajinya ga diambil, duitnya lari kemana?
      mending duitnya diambil trus disumbangin, kan lebih bermanfaat tuh

      saya setuju aja sih ada PLTN, asal pembangunannya bener2 diawasi, tapi masalahnyadi negara kita itu ya korupsinya itu lho, ntar biaya pembangunan dikorupsi akhirnya ya rakyat yg jadi korban nuklir

      Posted by gfreeputra | 29 November 2011, 9:15 am
  2. santai bos

    memang di indonesia timur fasilitas listrik belum seperti di pulau jawa,tetapi semenjak kepemimpinan pak dahlan iskan,pembanggunan pembangkit listrik di indonesia timur terus betambah

    terimakasih

    Posted by Bauy | 20 September 2011, 11:35 am
    • Terimakasih kembali dan kembali kasih,

      Atas berkat rahmat tuhan, pembangkit listrik di Indonesia Timur bertambah walaupun masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan energi listrik yang dibutuhkan.

      Miris juga kalo baca berita yang terbaru hari ini ttg proyek PLTS yang masih juga dikorupsi.

      Sepertinya memang pemimpin2 hebatnya Indonesia harus lebih sering diingatkan bahwa masih banyak kerjaan yang menunggu untuk diperbaiki dengan segera.
      Bahwa masih banyak ketidakadilan yang terlalu lama menunggu di bumi Indonesia bagian timur.

      Semoga dewan direksi PLN yang lain juga bisa mengikuti perjuangannya Pak Dahlan!
      Semoga tetap bekerja keras menanggung dosa-dosa pendahulu Bapak yang kerjanya sangat terlambat di bidang infrastruktur kelistrikan Indonesia secara keseluruhan.

      Posted by Indone5ia | 20 September 2011, 5:43 pm
  3. Yang saya tahu, Pak Dahlan Iskan itu tidak mau menerima gaji di PLN (alias gratis). Sulit menemukan pemimpin di negara ini yang bisa safari dari lereng gunung, hutan, merayap di jalur sumatera dan timur Indonesia. Bapak ini bahkan hapal kota-kota kecil yang kadang di peta sulit dicari. Saya kebayang capeknya, ribetnya, protes istrinya dan keluarganya dan lain-lain. Mungkin Bapak ini bisa disebut “Omar Bakrie” sejati.

    Sebagai generasi yang jauh lebih muda, saya akan mencontoh Bapak ini dalam memimpin. Sayangnya umurnya sudah tidak muda lagi, secara phisik kurang sehat dan normal lagi, tapi semangatnya luar biasa. Sayang juga, Bapak ini agak terlambat masuk ke birokrasi, karena orang-orang seperti ini sangat jarang yang mendapatkan kesempatan.

    Pak DI, mudah-mudahan sehat selalu, berhasil melakukan regenerasi kepemimpinan di PLN, Memberikan contoh yang baik bagi calon pemimpin yang lain sehingga dimasa-masa yang akan datang, orang-orang seperti bapak tidak sulit dicari.

    Posted by ansharitarmizieA | 20 September 2011, 12:19 pm
  4. wahhhhhh,…salutt buat pak Dahlan Iskan,…. maju terus pak,….

    Posted by MajalahFoto | 20 September 2011, 2:40 pm
  5. Salut buat Pak DI,untuk progres pengembangan Listrik di Indonesia,namun saya ingin menanyakan terjadinya kebakaran dimana-mana akibat hubungan pendek arus listrik,apakah PLN ikut mempertanggung jawabkan???? karena kelengkapan pengaman disisi PLN kurang memadai,contoh Fuse di gardu-gardu ketika kebakaran tidak pernah putus,padahal pengaman tersebut diperuntukan untuk memback-up pengaman-pengaman konsumen,yang seharusnya dapat segera memutuskan hubungan arus listrik….
    kasian kan Rakyat kalau sudah terbakar berapa kerugian dan penderitaan yang dirasakan oleh rakyat,yang tidak ternilai harganya.
    mudah-mudahan yang akan datang sistem keselamatan di PT.PLN dapat di tingkatkan yang berorintasi pada keselamtan konsumen dan PT.PLN sendiri.
    Sebaiknya kontraktor-kontraktor yang kerjanya hanya bongkar pasang di up-grade agar kejadian-kejadian tersebut diatas tidak terulang lagi.

    Posted by A.Fadjri | 20 September 2011, 3:02 pm
    • Jalan keluarnya (mungkin) pemerintah harus mulai membangun industri-industri nasional yang bergerak di bidang pembangkit listrik, energi dan ketenagalistrikan jangan bergantung dengan perusahaan asing terus.

      Posted by Indone5ia | 20 September 2011, 5:55 pm
  6. pa DI,,,,,sebaiknya jangan kembangkan PLTN,karena energi2 alternatif seperti laut,sungai-sungai yang akan dibendung,arus bawah laut,pulau-pulau yang berdekatan dengan laut.sangat berpotensi energi angin dimanfaatkan secara maksimal,bila kita kembangkan PLTN,struktur lapisan-lapisan tanah,dimana banyak patahan-patahan bumi,yang belum kita kenal karakteristik lapisan tanah di Bumi Indonesia ini,dan belum kita kuasai,sehingga apa bila terjadi suatu gempa apakah sudah siap menanggulangi kebocoran atau ledakan tenaga nuklir tersebut,dimana masyarakat kita Pak Dahlan sendiri tau akan kedisiplinan bangsa kita ini.
    mohon pertimbangan yang matang jangan berspekulasi tanpa memikirkan akibat yang sangat dahsyat,apa lagi Pak Dahlan moral bangsa kita ini tambah hancur,takut laknat yang besar turun ke bangsa kita ini melalui NUKLIR.

    Posted by I.Jumaedi | 20 September 2011, 3:26 pm
    • Yang terhormat Bapak yang berkomentar di atas,

      Semisal kalau mau membandingkan jeruk yaa harus sama jeruk.

      Jadi kalau mau membandingkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir harus membandingkan pembangkit listrik lainnya yang memiliki daya listrik keluaran yang sama.
      Biasanya 1 unit reaktor komersil berdaya keluaran sebesar 1100 MWatt.

      Jadi Bapak bisa membayangkan lebih bahaya dan ramah lingkungan yang mana PLTN atau PLTA berdaya keluaran 1100 MW.

      Indonesia harus bisa mengatasi lonjakan kebutuhan listrik yang diperkirakan mencapai 2-3% pertahun disamping meningkatkan rasio kelistrikan sekarang yang memang masih rendah.

      Posted by Indone5ia | 20 September 2011, 5:52 pm
      • bapak yang terhormat,,,,,,,

        diatas saya bicara tentang geologi dan dampak dari pada ledakan nuklir,,,,,,,,bukan masalah kapasitas energi yang dihasilkan,,,,,bukan juga masalah ramah lingkungan,,,,,kita liat saja dampak nuklir di Jepang,Iran,Chernobil,,,yang sudah terjadi,,,,apa bapak rela bila nuklir dikembangkan di bumi kita kita ini dengan kondisi saat ini masyarakat kita kurang disiplin,dan belum terjaminnya ahli geologi di republik ini…..

        terima kasih,,,,,,,,,,,

        Posted by I.Jumaedi | 26 September 2011, 11:57 am
      • *Semoga saja tidak ada ahli geologi republik ini yang membaca komen ini*

        Gmana Bapak dampak nuklir yang di Jepang dan di Iran?
        Apakah Bapak sudah pernah membandingkan dampak kecelakaan PLTN dengan pembangkit listrik lainnya yang berdaya sama?
        Perasaan juga sampai sekarang penduduk Jepang tidak ada yang mengungsi..
        Btw di Iran ada dampak nuklir yang seperti apa yaa?🙂

        Kalo bapak pingin tau pendapat saya intinya kalo terdapat energi lokal potensial yang bisa dimanfaatkan, yaa dimanfaatkan dan dikembangkan lahh.. (dengan syarat kalo PLN bisa mengembangkan)
        Kalo istilah di Kepres RI 05/06 best mix energy.
        Tapi kalo saya bole berpendapat gk usah bicara best mix dulu di kondisi saat ini,
        tapi yang mana yang bisa dimanfaatkan terlebih dulu yaa itu yang dimanfaatkan.
        Nantinya kalo memang sudah bisa, yaa dipake semua.

        Posted by Indone5ia | 26 September 2011, 12:14 pm
      • *koreksi : sekedar informasi tidak ada ledakan nuklir di Iran dan di Jepang.
        Di Fukushima – Jepang terjadi ledakan Hydrogen bukan nuklir.

        Jabat erat,

        Kadek Fendy Sutrisna

        Posted by Indone5ia | 26 September 2011, 12:16 pm
  7. gak usah muluk2 pak tolong mafia calo di bersihkan aja dulu karna mencekik masyarakat miskin apalagi di pln singosari malang jatim itu bnyk calo dan bkerja sama dg pegawai pln pasng baru900wt saja nyampai 2,7 jt klo itu sdh bersih baru qta mandang di fukusima dan cina matur nuwon pak

    Posted by huda | 21 September 2011, 12:15 am
  8. melihat tulisan pak Dahlan dr awal sampai akhir, sampai yg ini, luar biasa, sy sangat terinspirasi dgn Beliau (Pak Dahlan), seandainya sy diberikan kesempatan untuk bekerja dgn beliau tentunya sy sangat ingin menggali lebih dalam cara berpikir seperti beliau.
    Saya melihat apa yg dilakukan pak Dahlan utk membangun Listrik di negeri ini, tidak didukung dgn kebijakan Pemerintah. ketika PLN butuh Gas agar memproduksi Listri jd murah, malah harus berhadapan dgn kebijakan pemerintah yg berbelit2 utk menyuplai Gas utk PLN. sungguh sangat disayangkan sekali. seandainya tulisan2 ini(semua artikel pak dahlan) dibaca oleh Presiden, Semua Menteri dan anggota DPR, sy berharap (dgn sedikit keyakinan) bahwa orang2 itu akan membantu. Smoga Allah memudahkan usaha Pak Dahlan merevolusi cara berpikir Bangsa Indonesia.

    Posted by Mulyadi | 21 September 2011, 10:28 am
  9. Mohon Maaf klo koment saya di tidak ada hubungannya dengan postingan bapak.

    saya punya usulan Pak, seandainya Out sourching Pln juga di beri kesempatan untuk ikut rekruitment pegawai PLN, walau bagaimanapun kami turut andil dalam membesarkan PLN

    Posted by Noor | 22 September 2011, 7:09 am
  10. Sayangnya,sampai saat ini masih sulit menemukan pejabat yang benar benar berorientasi untuk kesejahteraan masyarakat.Yang ada malah memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.Sangat jarang pejabat BUMN yang mempunyai inovasi dan kinerja nyata yang bisa membawa perubahan menejemen perusahaan menjadi lebih baik.Minimal ya dikurangi lah korupsinya,karena untuk dihilangkan saya kok pesimis.Tapi melihat sosok pak Dahlan saat ini dalam menahkodai PLN, saya merasa mendapatkan harapan dari keinginan untuk berubah menjadi lebih baik.Ayo kita dukung.

    Posted by antok | 22 September 2011, 7:18 am
  11. Salut buat pak Dahlan, moga diberikan kesehatan dan umur panjang untuk semakin berkontribusi bagi kemajuan rakyat Indonesia..kenapa cuma segelintir pejabat yang berfikir seperti pak Dahlan ini, kebanyakan yang naik pangkat dan jabatan adalah para penjilat dan koruptor, sementara yang baik dan pintar seperti pak Dahlan biasanya tersingkir… Semoga pak SBY bisa mencari kembali orang2 spt pak Dahlan Iskan untuk diberikan jabatan dan amanah yang penting..

    Posted by marco | 25 September 2011, 8:33 am
  12. sipp lah,….

    Posted by uungferi | 27 September 2011, 11:33 pm
  13. zikir petang dulu untuk indonesia .

    Posted by farhan habib | 20 Oktober 2011, 3:38 pm
  14. Hmm selalu kagum dengan Jepang, negeri yang begitu rapi dan runut prasarana dan infrastrukturnya,,,,,tdk heran Jepang menjadi kekuatan ekonomi bertahun2,,,,semua permasalahan bisa dianalisis secara rapi dan gamblang solusinya,,,apalagi tingkat kemakmuran rakyat Jepang begitu tinggi,,,,,sehingga setiap persoalan mampu dihadapi dengan baik,,,,,,sementara kita, bicara prasarana sungguh belepotan, jalanan rusak dan macet. Rel sedikit dan kereta harus langsir gantian. Belum banjir dan bencana lain. Ditambah super mega masalah- korupsi yang bukan semakin sembuh namun menjadi akut dan perlahan mengancam existensi negara ini,,,

    Posted by Ardo | 26 Oktober 2011, 3:39 pm
  15. “memproduksi listrik dengan minyak solar bisa lima kali lipat lebih mahal daripada nuklir”… i like this so much:mrgreen:

    Posted by triclaksono | 3 November 2011, 10:26 pm
  16. Kalau di Indonesia yang disinari matahari sepanjang tahun, perlu segera dikembangkan energi listrik tenaga surya pak DIs…

    Posted by sedot wc tangerang | 8 Mei 2014, 11:54 am
  17. Ciri kanker serviks berikutnya adalah munculnya cairan encer atau keputihan dari vagina. Ciri ini biasanya terlihat pada penderita kanker serviks stadium lanjut. Oleh sebab itu perlu segera dilakukan pengobatan kanker serviks sebelum terlambat. Terjadinya perdarahan saat masa menopause juga bisa menjadi ciri kanker serviks. Pemeriksaan ke dokter harus cepat dilakukan sebelum semuanya menjadi terlambat.

    Posted by LATUVAN RIZKI YEGA PRATAMA | 10 Februari 2015, 1:52 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: