>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, CEO Notes, PLN

Susi Tetap di Hati

Saya bisa membayangkan dengan baik sulitnya mengevakuasi pesawat Susi Air yang jatuh di pedalaman Papua Jumat lalu. Lokasi itu begitu terjal, penuh gunung, dan lembah yang curam. Tidak jauh dari lembah terjal yang dengan susah payah saya kunjungi bulan lalu. Yakni, ketika saya dan rombongan PLN harus berjalan kaki 15 km dari Wamena ke wilayah atas Kabupaten Yahukimo, mencari lokasi ideal untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Ketika berada di lokasi itu saya sering mendongak karena ada pesawat yang lewat. Rupanya di atas lokasi itu merupakan jalur penerbangan yang baik untuk keluar dari lembah Wamena. Lokasi ini berada di sela-sela gunung. Memang, setiap pesawat yang hendak keluar atau masuk Wamena harus mencari celah-celah di antara gunung-gunung tinggi di sekeliling Wamena.Di kawasan itu kita bisa terkaget-kaget ketika pesawat keluar dari awan tiba-tiba ada tebing gunung tinggi di sebelah jendela. Itu saya alami sendiri ketika hendak mendarat di Wamena bulan lalu. Pesawat masih berada di dalam kegelapan awan ketika pilot mengumumkan kita segera mendarat. Saya pikir mau mendarat di mana? Wong tidak kelihatan apa-apa begini. Eh, tidak lama kemudian pesawat keluar dari awan dan seperti tiba-tiba berada di samping tebing puncak gunung yang terjal. Rasanya ngeri-ngeri asyik.

Yang membuat hati saya tetap tenang adalah ini; pesawat ini, Susi Air, dalam sejarahnya belum pernah mengalami kecelakaan. Pemiliknya, Susi yang saya kenal baik, selalu membanggakan itu. Pesawat ini sejenis dengan yang jatuh itu (atau jangan-jangan memang itu?) adalah pesawat yang masih relatif baru. Baru berumur empat tahun. Toh, saya sering naik pesawat yang umurnya sudah lebih 30 tahun. Seperti Boeing 737-200 atau MD80 itu.

Yang juga membuat saya tenang, Susi Air menempatkan banyak pesawat jenis ini di Papua, yang berarti perhatian terhadap perawatannya sangat baik. Bahkan, Susi Air adalah pemilik terbanyak kedua di dunia untuk pesawat jenis Caravan ini, setelah FedEx AS. Yang juga menambah ketenangan saya adalah (Ini sikap yang saya sadari kurang baik, dan kelihatan lebih kurang baik setelah terjadinya kecelakaan itu) pilot-pilotnya orang bule.

Susi Air memang punya kebijakan hanya mempekerjakan pilot asing untuk 38 pesawatnya. Pilot-pilot Susi Air, ujar Susi kepada saya suatu saat, mau mengerjakan semua hal yang terkait dengan pesawatnya: mengangkat bagasi, menutup pintu, mencuci pesawat, dan menjadi pramugarinya sekalian. Ini sama dengan sikap Susi sendiri yang senang mengerjakan apa saja. Meski seorang bos besar, dia biasa melakukan pekerjaan yang remeh-temeh.

Pernah saya terbang dengan Susi Air dari Dobo di Maluku Tenggara. Di situlah saya pertama kenal dengan dia. Semula saya pikir dia karyawan biasa. Dia bertindak seperti petugas ground dan ketika ikut terbang di psesawat itu dia yang melayani penumpang. Saya kagum ketika akhirnya tahu dialah bos besar Susi Air. Orangnya cekatan, cerdas, antusias, bicaranya blak-blakan, suaranya besar, agak parau, dan sangat tomboi.

Susi sangat bangga menjadi wanita Sunda yang lahir dan besar di Pangandaran, pantai selatan Jabar, yang bisa menjadi bos dari begitu banyak orang asing. Dia juga begitu bangga bisa mengabdi untuk republik dengan pesawat-pesawatnya. Baik sebagai jembatan daerah terisolasi maupun saat menjadi relawan waktu tsunami. Dia juga begitu bangga dengan desa kelahirannya, sehingga kantor pusat Susi Air dia pertahankan tetap di Desa Pangandaran yang jauh dari Jakarta. Termasuk di desa itu pula pusat pelatihan pilot dan peralatan simulasinya yang canggih.

Dari Pantai Pangandaran memang Susi jadi orang. Yakni, ketika awalnya dia mulai mencoba menampung udang hasil tangkapan nelayan di desanya yang kualitasnya begitu tinggi. Lalu dia kirim ke Jakarta. Lalu dia ekspor. Lalu dia mengalami kesulitan karena tak ada sarana yang bisa mengangkut udang Pangandaran dengan cepat dan dalam keadaan masih hidup sudah tiba di Jakarta atau Singapura. Lalu, demi udang nelayan Pangandaran itu dia sewa pesawat. Lalu beli pesawat. Lalu beli lagi dan beli lagi hingga mencapai 38 buah. Lalu bikin perusahaan penerbangan.

Saya begitu sering menggunakan jasa Susi Air. Banyak rute yang penerbangan lain tidak mau, dia terbangi. Misalnya, Jakarta-Cilacap. Atau Medan-Meulaboh. Atau antarkota kecil di Papua. Sebagai orang yang kini harus memikirkan listrik sampai ke seluruh pelosok negeri yang terpencil, saya ikut berterima kasih kepada Susi.

Saya agak heran mengapa kecelakaan itu terjadi. Selama ini saya sangat yakin dengan peralatan modern di Caravan yang berisi 14 orang itu. Layar radarnya yang cukup lebar bisa memberikan banyak indikasi cuaca. Saya sering duduk di barisan paling dekat pilot sehingga sering bertanya makna tanda-tanda yang muncul di layar. Ketika di depan sana ada awan tebal, layar itu bisa menggambarkan mana awan yang berisiko dan yang tidak. Mana awan tipis dan tebal. Gunung juga terbaca di situ.

Saya menduga kecelakaan itu karena pilot tidak berhasil mengangkat atau menaikkan pesawat setinggi yang dibutuhkan untuk melompati sebuah puncak gunung di situ. Misalnya, karena empat drum solar seberat 1,1 ton itu terlalu berat.

Saya pernah naik Caravan Susi Air dari Nabire ke Timika di Papua yang juga mendebarkan. Dua kota itu dipisahkan oleh pegunungan yang salah satu puncaknya setinggi 4.500 meter. Sebelum take off, saya mengira pesawat akan menghindari ketinggian itu dengan cara sedikit memutar ke atas Kaimana.

Ketika pesawat mengudara, saya terus memegang peta yang dalam posisi membuka. Ketika saya rasakan pesawat terus meninggi, barulah saya tahu bahwa sang pilot memilih meloncati saja puncak 4.500 meter itu. Wow! Kata saya dalam hati. Pesawat begini kecil terbang 5.000 meter! Karena kami semua memegang BlackBerry, kami menggunakannya juga untuk mengecek ketinggian. Benar. 5.000 meter!

Saya juga sering dibantu pilot Susi Air. Ketika terbang dari Jakarta ke Pangandaran, kami diberi bonus bisa terbang rendah dan memutar dua kali di atas Pegunungan Kamojang. Dengan cara begitu saya bisa melihat dari atas secara jelas pembangkit listrik geotermal di lereng Gunung Kamojang dan lereng Gunung Salak.

Demikian juga ketika saya terbang dari Bintuni ke Nabire, pilotnya tidak keberatan ketika saya minta mengarah dulu ke selatan karena saya ingin melihat dari atas fasilitas LNG Tangguh di pantai Teluk Bintuni. Bahkan, ketika ke Digul dan pesawat diperkirakan tidak bisa mendarat karena landasan jelek, pilot dengan sabar berusaha keras mendarat. Caranya, beberapa kali pilot menerbangkan Caravannya rendah sekali menyusuri sebelah landasan Digul. Yakni, untuk melihat dengan mata telanjang apakah landasan itu aman didarati. Akhirnya Susi Air mendarat di Digul dengan mulusnya.

Tentu saya juga sering bergurau dengan pilot-pilot itu. Ketika Susi Air mendarat di Merauke, saya menggoda pilot muda asal Australia itu.
“Apakah Anda ingin mampir pulang dulu?” tanya saya sambil menunjukkan jari ke arah Australia yang sudah begitu dekat.

Apa jawabnya? “Iya lho. Tinggal 150 mil lagi sudah Australia,” jawabnya lantas senyum. Mudah-mudahan bukan dia yang jatuh di Yahukimo Jumat lalu itu. Saya masih begitu ingat senyum perpisahan hari itu. (c2/lk)

Diskusi

67 thoughts on “Susi Tetap di Hati

  1. bangsa Indonesia harusnya malu & tau diri….kita yg msh ‘miskin’ tapi gayanya udh ‘big bos’ semua…….

    Posted by Ahmad Zuhri | 13 September 2011, 10:07 am
  2. sy selalu suka baca tulisan Pak Dis…
    Terima kasih Pak sudah mau shadaqah (berbagi) dengan menulis….

    Posted by solihudin | 13 September 2011, 11:41 am
  3. Bu Susi emang topmarkotop dach

    Posted by Fia | 13 September 2011, 11:06 pm
  4. Susi Air harus berterimakasih ke Pak Dis, He is a good and honest marketer. Lumayan promosi gratis.

    Posted by Denny | 14 September 2011, 12:19 am
  5. terimakasih sudah mau berbagi cerita kepada kami atas pengalaman pak dahlan,bercerita mengenai PLN kok saya ada yang mengganjal dan ingin bertanya ? kenapa PLN sekarang memakai sistem parbayar sedangkan menurut teman2 dilapangan kwhmeter prabayar bisa menyala minimal pada tegangan 180volt dan dibawah tegangan tersebut tidak bisa menyala.apakah tidak lebih efisien apabila pemasangan kwh prabayar dilakukan secara selektif : tegangan diatas 180volt menggunakan kwh prabayar dibawah 180 volt menggunakan kwh reguler.perlu bapak ketahui bahwa fakta dilapangan kwh prabayar justru menimbulkan kerugian yang sangat besar terhadap PLN yaitu:banyak terjadi menyala langsung tanpa melalui kwhmeter prabayar dikarenakan harus menunggu token,kwh prabayar sangat sensitif terhadap getaran sehingga mudah rusak.demikian masukan dari saya orang LAMPUNG dan sukses selalu untuk pak DAHLAN ISKAN

    Posted by firdaus setiawan | 14 September 2011, 1:04 pm
    • info itu gak bnar, kami di wilayah eks-KLP (koperasi listrik pedesaan) lombok timur sekarang 100% memakai listrk pln prabayar. tidak ada masalah,sangat memuaskan dan aman dari tonggakan

      Posted by lukman | 20 September 2011, 1:41 pm
      • bener kata firdaus setiawan, saya mngalami langsung betapa repotnya memakai meteran prabayar, karna Kwhmeter prabayar saya tidak bisa nyala disebabkan tegangan yang ada kurang dari 18volt, nah pertanyaannya bagaimana mengatasi hal tersebut ?

        Posted by run234 | 17 November 2011, 8:02 pm
  6. “Saya begitu sering menggunakan jasa Susi Air. Banyak rute yang penerbangan lain tidak mau, dia terbangi. Misalnya, Jakarta-Cilacap. Atau Medan-Meulaboh. Atau antarkota kecil di Papua. Sebagai orang yang kini harus memikirkan listrik sampai ke seluruh pelosok negeri yang terpencil, saya ikut berterima kasih kepada Susi”

    wah,kalo ke APJ Cilacap jangan lupa ke UPJ Kebumen pak DIS
    Tolong dong dibenahi internal PLN UPJ Kebumen biar tidak seperti preman dan banyak sekali PUNGLI.
    masa tagihan listrik yang belum terbayar bulan lalu sampai Rp.1,2 M. udah gitu minta bantuan BTL untuk nutupi TUSBUNG. 1 Kwh meter dihargai Rp. 300rb untuk nutupi tunggakan tersebut. apa memang dari atas seperti itu peraturannya????

    saya yakin kalo Pak Dis baca ini, mau membantu menyelesaikan. soalnya efeknya ke pelanggan juga. biaya pasang baru jadi mahal !!!!. sama aja rekening orang lain yang tidak dibayar, dibantu sama yang baru pasang listrik..

    Wah jan, kalo anda semua melihat kenyataan di lapangan ternyata masih banyak oknum internal PLN yang tidak beres. hanya DIRUT-nya aja yang baik dan pintar. semoga pak DIS peduli sama pelanggan listrik yang paling bawah yang selalu dirugikan..

    terima kasih

    Posted by Johan | 14 September 2011, 2:18 pm
  7. Bagaimana dengan nasib kami para tenaga outsourching pada PT. PLN. Kami sudah bekerja sekitar 8 tahunan namun nasib kami tidak ada perubahan. Apakah Pihak PLN tidak ada kebijakan untuk mengangkat kami menjaid pegawai tetap di Pt. PLN Pak?

    Posted by supardi | 14 September 2011, 8:21 pm
  8. Saya pernah nonton wawancara Ibu Susi di acara Kick Andy, orangnya sangat mengagumkan..

    Posted by Muntoha Ihsan Demak | 15 September 2011, 6:24 am
  9. Seandainya Pejabat2 Seperti Pak Dahlan Semua…………. alangkah Makmur nya Negara ini..

    Bravo pak

    Posted by heri | 15 September 2011, 9:16 am
  10. inspiratif…izin share tulisannya ya pak…

    Posted by fajar eka | 15 September 2011, 11:54 am
  11. Oknum lagi2 oknum banyak mencoreng citra yang sudah baik dan mulai dibangun dengan kerja keras dan ketulusan. semoga ketulusan pak Dis membenahi PLN tidak dirusak oleh orang2 seperti ini.

    Posted by syaif | 17 September 2011, 3:24 pm
  12. Kunci kesuksesan sngtlah simpel! Yakni adlh dg siapa qta brteman.dlm ingatan saya, (sy pmbc Jawapos n tinggal di surabaya dr th 92).pak dahlan bnr2 memulai dari nol.. Dr wrtwn kompas smp jd CEO JAWAPOS GROUP.beliau bs sukses krn sukses dlm mencari teman.ulama ahli tasawuf yg mengajarkan kejernihan hati(mnjdkn qta sll optimis dan berani),ulama syariat yg mngjrkn kejujuran dan nilai2 khdpn,dan para pengusaha2 sukses yg jd cermin n selalu memotivasi.semua itu menghasilkan sosok pak dahlan yg seimbang,sangat ambisius tp jg sngt jujur…
    Klo qta ingin sukses sprt
    p. dahlan, mgkn qta bs meniru hal2 tsb diatas.
    Dlm ingatan saya,hanya 1x pak dahlan melakukan “dosa besar” yg sbnrny wajar dlm dunia bisnis,yaitu kala “membunuh” alm. Koran surabaya post dg strategi obral JP hgg SP gak laku dan akhirnya bangkrut.. Dan kelak strategi ini ditiru koran s*ndo untuk membunuh JP namun gagal.bhkn awak JP mulai kpl redaksi smp wartawannya “bedol desa” ke JKT pun tak mampu merobohkan dominasi JP… Dan sy rasa “dosa” ini pun telah “tertebus” dg “pertaruhan nyawa” transplantasi liver p. Dahlan..
    Terus terang wlopun sy tdk kenal p. Dahlan bgtpun sebaliknya,(sy brmimpi suatu saat bs ketemu n ngobrol brg sejenak dg beliau),sy kagum dg kepribadian p. Dahlan..
    Sy hny bs berdoa,smg p.dahlan senantiasa diberi terang hati, tetapnya iman dan selamat dunia akhirat.amiiin…

    Posted by Kantong bolong | 17 September 2011, 9:15 pm
  13. Mantab sekali tulisan Pak Dahlan, semoga setelah jadi Menteri tetap nge-Blog ya Pak..Selamat atas pencapaian dan amanah menjadi Menteri BUMN

    Posted by Mujiyanto | 19 Oktober 2011, 12:27 pm
  14. semoga saya bisa bertemu dengan pak Dis. amin

    Posted by atasyudak | 20 Oktober 2011, 3:44 pm
  15. ini bukan blognya pa dahlan..akhir tahun ini barubeliau akan buat blog dari inisiatifnya (wawancara dg tv one siang tadi)

    Posted by farhan habib | 20 Oktober 2011, 4:01 pm
  16. cuman untuk berbagi tulisan tdk mslh berliau kalau tulisannya dibuat orang seperti blog ini

    Posted by farhan habib | 20 Oktober 2011, 4:02 pm
  17. ini memang bukan blog pak DIS, mas. kan sudah dijelaskan di”tentang blog ini”

    Posted by emma | 21 Oktober 2011, 1:15 pm
  18. excellent Pak Dis…

    Posted by Naizal | 21 Oktober 2011, 9:28 pm
  19. Saya sangat tulisan-tulisan Pak Dahlan. Tetap menulis ya pak meski sudah jadi mentri. Selamat atas ditunjuknya Bapak menjadi Mentri BUMN, saya yakin Bapak bisa membenahi BUMN-BUMN yang bobrok !

    Posted by Nina Evawaty | 22 Oktober 2011, 9:07 am
  20. saya bangga punya pak dahlan>>>>>>tulisan sangat bagus sekali dan membuat pencerahan buat bangsa ini.

    Posted by ruddy toyota | 22 Oktober 2011, 9:58 am
  21. senang bisa membaca tulisan yang memberi semangat..!!

    Posted by zubeidah2006 | 31 Oktober 2011, 8:53 am
  22. Entah kenapa setiap membaca artikel dari blog pak DIS… Mata ini selalu berlinang air mata… terima kasih pak…

    Posted by ulpina | 7 Desember 2011, 10:34 am
  23. Semoga kedepan kita tidak hanya bisa beli pesawat, tetapi bisa bikin pesawat.

    Semoga kedepan kita tidak hanya bisa bekerja keras, tetapi bisa bekerja cerdas.

    Dan kedepan bisa terwujud jika dimulai dari hari ini.

    Semoga pak DIS bisa mewujudkannya ! Tq (http://teguhsunaryo.wordpress.com)

    Posted by Teguh Sunaryo | 21 Desember 2011, 9:06 pm
    • sdh bikin pesawat pak cita2 Habbie menyatukan pulau2 di Indonesia dengan penerbangan murah, tp missmanagement krn pergolakan politik 1998 mengakibatkan cita2 itu kandas, pabriknya bangkrut, tp bakal berlanjut ke putri bu susi, masih 17 th, sekolah pilot di Amerika bercita2 untuk menyatukan daerah2 terpencil di Indonesia dengan pesawat

      Posted by Rinas | 1 November 2014, 10:39 pm
  24. Tulisan yang berbobot, banyak memberi inspirasi, membuat semangat………….. Semoga Bapak Dahlan Iskan selalu diberi kesehatan, kekuatan, kesuksesan serta perlindungan dari Allah SWT.

    Posted by Rina Susilowati | 27 Desember 2011, 9:41 pm
  25. Salut untuk Susi Air. Udah dua kali lihat profil beliau, benar-benar pekerja keras.

    Posted by Butik Naufal | 3 Januari 2012, 12:10 am
  26. Pak Dahlan…jikalau Bapak ntar jadi Presiden….ajak ya bu susy jadi menteri Bapak…Salam

    Posted by hadi | 3 Januari 2012, 12:30 pm
  27. Tak perlu harus boeing ato air bus… Sekecil susipun begitu berarti dan sangat berarti….TERIMA KASIH SUSI…

    Posted by Rietha | 4 Januari 2012, 2:34 pm
  28. mudah2an saya belum terlambat utk membaca tulisan bapak dahlan… memberikan informasi yg cukup utk mengenal sosok siapa sebenarnya ‘susi air’… luar biasa perjuangannya..

    Posted by sagawarnabudi wiratno | 11 Januari 2012, 6:11 am
  29. Pak Dahlan Iskan adalah calon pemimpin masa depan. Seandainya Pak Dahlan memimpin Indonesia, Insya Allah Indonesia menjadi negara yang dapat diperhitungkan oleh negara lain….. Bravo pak Dahlan…!!!

    Posted by Dharsono | 31 Januari 2012, 12:35 pm
  30. Tulisan yang “Tentang Blog Ini” tidak bisa dibuka. Dan jika ini bukan blognya Pak Dahlan Iskan, lalu siapa yang menuliskan artikel-artikel ini?? Mohon dijawab oleh orang yang bilang bahwa blog ini bukan blognya Pak Dahlan. Terimakasih Pak Dahlan, Andalah inspirasi saya menuju kesuksesan. Pertahankan kejujuran.

    Posted by Rizky Rossana Putri | 4 Februari 2012, 12:00 am
  31. Blog ini adalah kliping artikel2 tulisan pak dahlan iskan yg bisa anda temukan&baca di koran jawa pos (group jawa pos). Bedanya di blog ini kita bs komentar. Saya sendiri walopun sdh baca di koran JP msh sj berkunjung ke blog krn komentar2nya asyik jg. Utk administrator trima kasih

    Posted by Fia | 4 Februari 2012, 3:50 pm
  32. Memang bener tulisan pak Dis , saya sudah hampir setahun bolak balik naik Susi Air tujuan Balikpapan – Muara Teweh dan kendala nya hanya cuaca yang buruk ……

    Posted by Joko Rahmanto | 27 Oktober 2014, 10:37 am
  33. Bu Susi sdh jadi menteri.. Bukan menteri perhubungan, tapi menteri kelautan dan perikanan.. Selamat bekerja bu.. Pak DIS apa kabarnya? Semoga sehat pak, dan tetap berkontribusi positif untuk bangsa dan negara..

    Posted by mumox | 27 Oktober 2014, 12:57 pm
  34. Selamat buat Ibu Susi, semoga kerja kerasnya selama ini bisa mengangkat dan meningkatkan potensi perikanan dan kelautan di Indonesia. Demikian juga buat pak Dis, jangan pernah berhenti untuk tetap memberikan sumbangsihnya bua bangsa dan negara Indonesia.

    Posted by Hirawan | 27 Oktober 2014, 8:02 pm
  35. Dan sekarang ibu Susi sudah jadi menteri.. Semoga kesuksesannya membangun perusahaan, bisa terbawa mensukseskan Negeri ini..

    Posted by iKurniawan | 27 Oktober 2014, 10:20 pm
  36. susi ok..tp pln kronis parahx stadium akhir

    Posted by rhein | 28 Oktober 2014, 6:38 am
  37. Salam Indonesia bapak Dis semoga seht selalu. Selamat pula buat ibu Susi atas terpilihnya serta pelantikan ibu sbg menteri Kelautan dan Perikanan, semoga kesuksesan ibu di dunia swasta menerus ke dunia pemerintahan 2014-2019 ….. selamat bekerja keras

    Posted by Adhimastra | 28 Oktober 2014, 9:53 am
  38. Wow Enauk tenan di bacanya pengalaman yang asik punya

    Posted by doelsoehono | 28 Oktober 2014, 11:42 am
  39. Ini Baru Para Teladan Bangsa. bekerja untuk kepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan diri sendiri.

    Posted by Wahyu | 28 Oktober 2014, 12:04 pm
  40. Waahh, selamat ya bu SUSI.. Tetap rendah hati dan melayani (y)

    Posted by Anggun Rush | 28 Oktober 2014, 2:11 pm
  41. selamat bu susi…prestasimu menjadi cambuk bagi kami yg sekolah tinggi

    Posted by Gunawan | 28 Oktober 2014, 2:50 pm
  42. Ayo Pak Dahlan…mari kita terus berbuat yg terbaik…berbuat untuk kebaikan bangsa dan negara….

    Posted by Rasidin Azwar | 29 Oktober 2014, 5:10 am
  43. Selamat Bu Susi….lanjutkan…karya besarmu membangun bangsa dan negara……

    Posted by Rasidin Azwar | 29 Oktober 2014, 5:18 am
  44. Saya punya harapan tinggi pada beliau begitu melihat gaya beliau bicara di television, dan begitu membaca banyak hal positif dan unusual yg beliau kerja kan. Seperti mengontak koordinator Ojek untuk mengumpulkan ojekers menerangi land as an di Pangandaran. Sumpah! Indonesia perlu orang Merdeka seperti beliau…

    Posted by dwirani amelia | 29 Oktober 2014, 8:43 am
  45. pak dahlan memang wartawan hebat!

    Posted by edi | 29 Oktober 2014, 12:47 pm
  46. Slmt kerja…kerja…& kerja Bu Susi. Rakyat Indonesia menaruh harapan pd hasil kerja Anda bukan dr penampilan Anda. You are the next generation of Dahlan Iskan’s Style in Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla 2014 – 2019 he…he…πŸ™‚

    Posted by indra | 29 Oktober 2014, 1:46 pm
  47. Reblogged this on Nggelambyar v1.0.

    Posted by handyt2 | 30 Oktober 2014, 2:38 am
  48. spertinya TrailRunners, Mountaineers, Trekkers, dan pecinta2 alam lainnya bisa turun tangan untuk membantu memetakan & mendata tempat2 terpencil di Papua & tempat2 lain di indonesia..

    give me a portable gps beacon and a backpack, I’d sign up..

    Posted by handyt2 | 30 Oktober 2014, 2:58 am
  49. Memang pas pak untuk pernyataan bapak “Susi Air tetap di hati”, saya baru saja selesai nonton film dokumenter tentang tempat berbahaya untuk menjadi seorang pilot. Film dokumenter itu mengangkat Papua sebagai tempatnya dan penerbangan para pilot Susi Air. Dari film itu saya jadi tahu mengapa kecelakaan itu bisa terjadi.

    Posted by Keanzio | 30 Oktober 2014, 4:36 am
  50. Sebagai Pengusaha yang berdedikasi terhadap kualitas kerja dan pelayanan pelayanan prima, bu Susi luar biasa. Sebagai simbol semangat juang manusia lulusan smp yang tak menyerah dengan keadaan, bu Susi luar biasa.
    Sebagai pimpinan negara, dibutuhkan kualitas berebeda dari sekian kualitas tersebut. Pemimpin di negara mayoritas mulsim tentu harus (seharusnya) mengerti syariat dan menjadi teladan akhlak.

    Posted by Tomy | 30 Oktober 2014, 9:31 am
  51. Reblogged this on Elatias's Blog and commented:
    Salah satu catatan terbaik Pak DIS, saya kira…

    Posted by eljeha | 30 Oktober 2014, 10:59 am
  52. Dua-duanya Pak DI dan bu Susi membuat saya bangga menjadi warga Indonesia

    Posted by bundafira | 30 Oktober 2014, 7:14 pm
  53. Reblogged this on Mengisi Waktu Luang … and commented:
    Inspiring Story …….πŸ™‚

    Posted by Fie | 31 Oktober 2014, 2:54 pm
  54. Awal saya tahu Ibu Susi ini juga dari artikel yang dimuat di Jawa Pos. Tapi karena waktu itu masih remaja, jadi nge-fans nya sambil lalu saja. Nge fans lagi saat dengar Susi Air yang pertama kali bisa menembus Aceh setelah dihantam tsunami. Dan sekarang muncul banyak berita yang bikin nge fans lagi sama ibu Susi ini.
    Kerja..kerja…kerja….!

    Posted by mampoo | 31 Oktober 2014, 5:19 pm
  55. apakah masih ada susi susi yang lain… pak ?

    Posted by gorumah | 1 November 2014, 12:55 pm
  56. sisi + nya dri Ibu Susi memang patut diacungi jempol, semoga kami insan muda dapat terinspirasi dengan pengalaman2 ibu. smg Allah senantiasa memberikan kesehatan, kerendahan hati, kemauan dan kerja keras kpd Ibu. amin

    Posted by Nurlina Fauziani | 3 November 2014, 9:57 am
  57. terkadang kita terkaget kaget ..ternyata masih banyak juga di negeri tercinta kita ini orang yg tak tahu masalah lebih lengkap…tiba2 kasih komentar yg asal jeplak…kasihani lah mereka, mudah2an diberi jalan yg bener . untuk bu susi….anjing menggonggong kafillah berlalu…..kerja. kerja. kerja…semangat tetap terjaga agar bisa membawa indonesia berjaya

    Posted by bambang siswanto | 3 November 2014, 7:39 pm
  58. Sulit berkata-kata,,,, untuk ibu menteri Susi dan pak DI….

    Posted by Yonni Saputra | 20 November 2014, 7:47 am
  59. You are so interesting! I don’t suppose I’ve truly read a single thing like this
    before. So great to find somebody with a few original thoughts on this subject matter.
    Really.. thank you for starting this up. This web site is one thing
    that’s needed on the internet, someone with a little originality!

    Posted by Audio Specialists | 15 Desember 2014, 6:26 pm
  60. Kalaupun terdapat gejala pada wanita biasanya ringan. Namun pada beberapa kasus gejala yang biasanya timbul adalah sebagai berikut Keluarnya cairan Yang tidak normal Nanah dari saluran kencing dan atau liang senggama (Keputihan Yang banyak berbau amis berwarna putih kehijauan). Misalnya: GONORE TRIKOMONAS JAMUR Rasa nyeri/sakit pada saat kencing atau saat berhubungan seksual.

    Posted by NISKA RAMADHANI | 10 Februari 2015, 10:19 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Susi Tetap di Hati (Catatan Dahlan Iskan) – Susi Pudjiastuti - 22 Agustus 2015

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: