>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, Kembali Berlebaran di Makkah

Di Al Haram Tak Ada Yang Tersinggung

Catatan Dahlan Iskan yang Kembali Berlebaran di Makkah (3)

Di sini bukan hanya simbol-simbol ibadah agama yang harus kalah oleh kepentingan umum, bahkan ibadah itu sendiri. Di sini terjadi, ibadah bisa ditafsirkan sebagai kepentingan pribadi yang di atas itu berarti masih ada kepentingan umum yang harus diutamakan, apa pun arti kepentingan umum itu.

Di sini, di dalam masjid yang teragung ini, tak terbayangkan sembahyang ada kalanya harus kalah oleh kepentingan umum. Di dalam Masjid Al Haram Makkah Al Mukarramah ini, sembahyang bisa tiba-tiba dihentikan: ketika sembahyang itu menghalangi berfungsinya fasilitas umum.

Di sini begitu sering terjadi: ketika salat baru saja dimulai, petugas sudah datang menyuruhnya berhenti. Bahkan menyuruhnya pergi. Menyuruh pindah lokasi (menyuruhnya kadang dengan mendorong-dorong orang yang lagi khusyuk sembahyang itu) agar tugas membersihkan lantai itu tidak terhalangi.

Bagaimana bisa terjadi di sini, di dalam masjid yang paling dimuliakan di bumi ini, orang yang lagi sembayang bisa mengalah: mengalah dengan kepentingan dibersihkannya lantai. Mengalah demi  kelancaran arus orang yang berlalu-lalang.

Hanya di sinilah, di dalam masjid ini, petugas berlaku sangat tegas. Mulai petugas ketertiban hingga petugas pengepel lantai. Mereka begitu tidak peduli terhadap kepentingan pribadi. Kalau lantai itu sudah waktunya disiram cairan kimia sebelum dipel, petugas cukup berteriak: pergi! pergi! Dan bagi yang tidak pergi, dengan alasan lagi sembahyang sekalipun, tak terhindarkan: kakinya bakal disiram. Kalaupun basah itu belum membuatnya beranjak, alat pengepel yang besar akan menyingkirkan orang yang lagi sembahyang itu. Kebersihan bukan saja sebagian dari iman sebagaimana doktrin Islam, tapi juga menjaga kebersihan masjid yang tidak pernah kosong itu adalah bagian dari kepentingan umum yang harus diutamakan, mengalahkan orang sembahyang yang jelas-jelas hanya untuk kepentingan pribadi orang itu.

Demikian juga petugas ketertiban masjid itu. Tidak kalah tegasnya. Kalaupun ada yang ngotot sembahyang di dalam masjid, tapi menempati jalur jamaah yang digunakan lalu-lalang (entah jalur ke Kakbah atau ke Sofa/Marwa, atau juga ke pintu-pintunya, jangan harap bisa tenang. Di tengah Anda sedang sembahyang pun badan Anda bisa ditarik-tarik atau disorong agar hengkang.

Tidak ada yang tersinggung. Misalnya dengan alasan telah melecehkan orang yang lagi bersembahyang. Tidak ada yang marah. Misalnya dengan alasan menghina orang yang lagi beribadah. Tidak ada yang protes. Misalnya dengan alasan praktik keagamaan telah dihinakan.

Di sini, hanya di sini, terjadi peraturan ditegakkan mengalahkan peribadatan. Di sini, hanya di sini, terjadi orang tidak bisa memaksakan kepentingan pribadi dengan dibungkus alasan keagamaan sekalipun.

Saya pun tertegun: mengapa di sini orang tidak mudah tersinggung? Mengapa di sini orang tidak mudah marah?

Di sini, lagi-lagi hanya di sini, tidak ada jamaah yang tersinggung oleh sandal dan tidak marah oleh sepatu. Biarpun sandal itu dan sepatu itu ditaruh begitu saja di belakang tumit kakinya yang berarti juga tempat wajah bersujud bagi barisan jamaah di belakangnya.

Di sini tidak ada yang memperdebatkan membawa najiskah sandal itu? Tidak ada yang tersinggung mengapa sandal masuk masjid.

Ataukah citra sandal dan sepatu yang identik dengan najis memang sudah waktunya harus berubah? Dulu, di masa yang lalu, ketika di sekitar masjid masih berkeliaran ayam dan kambing, ketika masyarakat sekitar masjid masih sangat agraris, barangkali sandal dan sepatu memang sering bernajis. Tapi, kini? Ketika dari rumah langsung masuk mobil dan dari mobil masuk ke masjid, masih adakah potensi najis itu? Atau dalam kasus Makkah, sandal itu hanya mondar-mandir dari hotel ke masjid? Tidakkah sudah lebih kecil jika dibandingkan dengan potensi najis dari kencing cicak dan coro dan tikus (eh, kencing jugakah cicak?) yang berkeliaran di dalam masjid?

Di sini, di Masjid Al Haram yang sangat agung ini, bermula perubahan sikap akan sandal dan sepatu. Juga pengutamaan kepentingan umum atas kepentingan pribadi –biarpun kepentingan pribadi itu terbungkus keagamaan dan peribadatan.

Iklan

Diskusi

31 thoughts on “Di Al Haram Tak Ada Yang Tersinggung

  1. wew! bener tuh… hehehe. jadi inget, kalo ada orang yg solat ditengah jalan dan ngehalangi jalan bakal langsung ditarik dan disuruh batal.

    Posted by angga | 5 September 2011, 11:51 am
  2. Awalnya pas sy baca, sy kurang setuju dengan petugas bersih-bersih yang mengganggu seseorang yang sedang beribadah dengan khusuk. Tp kemudian sy memaklumi hal yang dilakukan petugas bersih-bersih tersebut. Sy membayangkan Mesjid Al Haram yang luas (hehhee smoga ada rejeki untuk bisa berdiri di Mesjid Al Haram), pasti dengan jumlah jamaah yang banyak, akan mengumpulkan jumlah kotoran yang banyak juga. Trus apabila Mesjid tersebut kotor, hal itu lebih membuat jamaah yang banyak banget akan lebih tidak khusuk. Jadi bener pendapat bapakanya ttg lebih memprioritaskan kepentingan umum dibanding kepentingan pribadi walaupun itu sedang beribadah…^_^…

    Posted by NdaRi | 6 September 2011, 6:53 pm
  3. kalo mis yg lg sembahyang itu raja arab (king abdullah)ato menteri pertahanannya kira2 masih berani gak tuh tukang sapu/pel dorong2/narik2 (kan yg punya kepentingan pribadi) ato cuma beraninya sama budak2 arab aja….hehehe gitchu aza repyot

    Posted by Boas | 8 September 2011, 6:27 pm
  4. Di Indonesia, sholat jumat ditunda, menunggu bakrie datang,
    Kepentingan umum kah?
    He..he..

    Posted by soleh | 10 September 2011, 8:26 am
    • Di Indonesia ini aneh…masa klo sholat Id qt liat di Istiqlal orang2nya harus di atur berdasarkan Kasta! Presiden, Wakilnya, jajaran mentri dan duta besar duduknya MESTI di DEPAN! padahal belum tentu sholeh tu datangnya telat pula sementara rakyat biasa harus “ngalah” di belakang…padahal itu Rumah Allah lho…bukan Istana Negara kan…

      Posted by Zein | 3 Januari 2012, 11:05 am
  5. alhamdulillah ya…

    Posted by MARCO | 11 September 2011, 5:43 pm
  6. Deso mowo coro, negoro mowo toto…tapi penting lho untuk saat ini membudayakan diri sendiri dan masyarakat kita untuk tidak “mumbulan” alias mudah marah dan anarkis.

    Posted by Lukman Nugroho | 22 September 2011, 7:41 pm
  7. Artikel menarik, cerita inspiratif, berita provokatif dan yang pasti bernilai positif…..setujuuuuuuuuu……….

    Posted by Free Energy | 23 September 2011, 6:42 am
  8. Pak Dahlan memang pinter bikin pembaca ikut mikir …..jadi tambah wawasan , tambah pinter..hehehe..

    Posted by herikus | 26 September 2011, 3:53 pm
  9. Alhamdulillah saya dan suami sudah diberi rezeki untuk mengunjungi Al Haram tahun lalu. Memang benar apa yang dikatakan Pak Dahlan. Petugas kebersihan dan petugas2 lainnya sangat tegas dan tertib. Tapi, jangan tanya. Jika diperlukan bantuannya dengan sigap mereka akan menolong. Saya pernah jatuh pingsan di Al Haram. Petugas kebersihan (asli Arab) berlari2 membawakan kursi roda dan menolong suami saya mendorong saya sampai ke ruang kesehatan (di sebuah sudut Al HAram). Sesudah dokter di situ menangani saya, dia menghilang begitu saja. Sampai hari ini kami mendoakan semoga apa yang telah dilakukannya mendapat pahala yang berlimpah dari Allah……amiiin………

    Posted by poppy rose | 18 Oktober 2011, 8:23 pm
  10. mudah-mudahan masjid/musholla di ina..tdk ada lagi yg melarang jaamaah yg mau iktikaf..hy gara gara takut masjidnya kotor, pdhl kebersihan tetap diutama kalo ada jamaah iktikaf itu

    Posted by farhan habib | 20 Oktober 2011, 4:20 pm
  11. Tipuwan dari dusta agama
    Pergi haji tibang berharta
    Bangun masjid bangun musola
    Ujub riya ngorbanin banda

    Menilai bener hanya menduga
    Mencari dari banyak masa
    Yang banyakan mereka puja
    Yang dikitan mereka hina

    Jumlah total begituh rupa
    Bener semuwah ahli naroka
    Bener menghayal masuk sorga
    Pakta buktinyah Cuma kesiksa

    Bener yang betul tanpa masa
    Bener dewekan Alloh Taala
    Masa mencari Alloh Taala
    Pabila bener di gosip gila

    Hidup tidak mencari harta
    Malah dirinyah di cari harta
    Seluruh alam yang Alloh cipta
    Pada dirinyah jatuh cinta

    Si bener tida mencari cinta
    Karena cinta sering kecewa
    Kecewa akibat cemburu buta
    Terpancing cinta bisa kesiksa

    Si bener hanya hobi bercanda
    Bercanda pada siapah suka
    Pabila Alloh hobi bercanda
    Alloh juga di ajak bercanda

    Alloh Tuhan sang pencipta
    Utusannyah ogah di duga
    Alloh kuasa segala rupa
    Wajib ain yaqin percaya

    Tida make bukti pakta
    Kepada Alloh yaqin percaya
    Percaya dengan bukti pakta
    Menjadi musrik batal taqwa

    Sesudah batal iman taqwa
    Amal taqwa tinggal belaga
    Solat puasa dusta belaka
    Dusta agama batalin taqwa

    Basa basi yaqin percaya
    Yang isinyah mencari masa
    Gamis jubah adat budaya
    Mekah madinah zolim agama

    Selagi Rosul masih ada
    Mekah medinah sudah dusta
    Saking takut pada binasa
    Kepada Rosul ngaku percaya

    Ngaku islam bertemu muka
    Di balik Rosul malah mencela
    Alloh ta’ala balik berdusta
    Akhirnya Rosul di buwat kaya

    Setelah Rosul menjadi kaya
    Malah dahsat perang agama
    Sehingga Rosul menutup mata
    Saking cape di adu domba

    Posted by Setiono | 24 Oktober 2011, 5:55 pm
  12. Bung Dahlan kan skrg mentri BUMN baiknya buatkan BUMN Travel Haji (3 buah/indo brt,tengah,timur) biar BPIH tdk dikorup an agama, trus usulin ke raja Arab spy MEMBUAT SATU JALUR TOWAF DAN SA’I biar org haji/umroh lancar (sy punya skema konsepnya mau kukirim dengan pian). 2006 sy sempat jadi tenaga kontrak bin Laden bagian elektrik, padatnya Ka’bah minta ampun, pokok’e padet..det…det. apalagi sekarang tambah remeg kalo tipe org indo kecil2 apalagi fisiknya ga fit. kasian pernah ada org towaf ke injak2 trus dead,petugasnya juga repot ambil mayatnya. Gak usah mikiri kerjaan di BUMN terus bung, gak ada abisnya kalo belum mujur ngalor/dead, smuanya sudah ada yg ngatur serahin yg diatas. THANK’S BUNG DAHLAN MY HERO

    Posted by Dayakindo | 26 Oktober 2011, 10:53 am
  13. kalau ngelihat cara ibadah dan dakwah di negeri kita akhir2 ini kok kayanya ekslusive dan sakral gitu ya? jamaah seragam yang indah2, ustadznya khotbah di TV-TV,,,,malah sulit bedain antara ustadz dan artis belakangan ini, ternyata di al haram, ngga perlu kedok macem2 ya, semuanya kembali ke niat yang tulus,,,,,jamaah juga berjiwa dan bermental ikhlas,,,,,kalau kita hal sederhana saja menjadi rumit, ada org yg ngga pernah mau jadi makmum, maunya jadi imam mulu, ada org yg sholatnya mesti di masjid tertentu, dst org terbelenggu dg attribut dan prosesnya, sementara hakikat ibadah terlupakan,

    Posted by Ardo | 26 Oktober 2011, 11:22 am
  14. 1. agak kurang sependapat bung dahlan, kesannya menyalahkan orang yg beribadat. Yang lebih baik adalah seharusnya para tamu Allah (orang yg beribadah) tahu waktu2 dibersihkannya masjid (sebagaimana masjid di tanah air), bedanya kalo tukang bersih di tanah air punya rasa ewuh pakewuh (nanti ga enak sama yg lagi sholat apalagi kalangan tradisional di jawa timur ), kalo di Saudi dikarenakan sudah tugas dan jadwal ya tetap diutamakan demi kebersihan waktu sholat selanjutnya. 2. ke masjid bawa sandal dsb… setau saya zaman Rasulullah ga ada masjid pake keramik, pake marmer…adanya ya alas tanah, dan bersama sahabat sholat langsung dengan alas kaki, ga dilepas seperti zaman sekarang, makanya pernah Rasulullah diberitahu Jibril terkait kotoran yang melekat di alas kaki Nabi.Itulah kiranya umat Islam berlajar dengan baik ajaran syari’at Islam dengan baik jangan hanya terkooptasi mahzab syafii atau menurut ormas mereka masing2 seperti NU lah, Muhamadiyah-lah…atau malah menyimpang dari pemahaman sebenarnya seperti kalangan liberalis. Saya bukannya ustadz, tapi menginginkan bahwa umat Islam di Indonesia janganlah menjadi tukang omong (komentator) dan tukang adu domba. Apalagi tradisi ewuh pakewuh di negeri ini yang semakin bikin bubrah, coba bayangkan saja yang berhak berdiri di belakang imam adalah yang bisa membenarkan imam (berarti yang hapalan baik dsb), bukannya pejabat yang cuma nampang muka, hamparan karpetnya pun dibedakan. Di saudi, pejabat diberi tempat tersendiri tapi bukan di belakang imam, dilantai atas jauh sono. Belum lagi cerita2 yang lucu di negeri ini, semua terangkum dalam “HANYA DI INDONESIA”…Semoga kelak Bung Dahlan bisa mengulasnya… Pesan saya, jangan mau dijadikan tumbal kekuasaan Bung! Saya sangat sayangkan para komentator, para pengamat yang cuma OMDO, setelah masuk pemerintahan…hanya jadi penjilat, bukan pejuang…Saya tidak ingin Bung Dahlan yang sudah idealis, dengan berkibarnya Media sebagai penyuara rakyat menjadi terbungkam hanya gara2 Bung Dahlan masuk lingkaran pemerintahan…alangkah naif-nya….

    Posted by abu zalfa | 11 November 2011, 5:32 pm
    • maaf, anda sepertinya sama sekali belum pernah ke sana ya?
      tapi saya setuju pendapat anda kalo umat islam jangan cuma pandai bicara dan mudah diadu domba. mazhab2 itu membuat pertikaian jalan terus, “siapa yang berbeda dari aku, maka dia salah dan harus diberantas”. ngeri sekali.

      Posted by pipdon | 11 Januari 2012, 2:52 pm
  15. Sepertinya Pak Dahlan bermaksud lebih dalam lagi, tidak semata hanya persoalan “sholat” dan “petugas”. Lewat ilustrasi catatan ini (yang senyatanya memang ada), Pak Dahlan memberi inspirasi bahwa sudah seharusnya pribadi-pribadi kita bisa mengedepankan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dengan IKHLAS dan kesadaran penuh bahwasanya hal itu dapat menciptakan keteraturan dan kemajuan bagi kelompok pribadi itu sendiri. Dan untuk seorang pemimpin, tulisan Pak Dahlan memberi inspirasi untuk hendaknya bersikap tegas dan tega “menyingkirkan” pribadi-pribadi yang berpotensial menghambat dan mengganggu kondisi kerja kelompoknya, sehingga akan selalu tercipta lingkungan kerja yang kondusif, sehingga tujuan kelompok dapat tercapai. Hilang satu, untuk maju seribu…

    Posted by NUNIE | 10 Desember 2011, 6:14 pm
  16. Sepakat dengan pak DIS dan NUNIE…intinya :

    1) Kepentingan umum lebih diutamakan dari kepentingan pribadi
    2) Kebersihan benar-benar bagian dari iman
    3) Shalat lima waktu ada waktunya, tidak setiap detik selama 24 jam hanya untuk shalat lima waktu, sehingga sebagian waktunya untuk membersihkan tempat shalat itu sendiri agar tidak batal shalatnya, sekaligus bisa mewujudkan ajaran islam itu sendiri (kebersihan bagian dari iman)

    4) Selesai gitu saja kok repot. Tq (http://teguhsunaryo.wordpress.com)

    Posted by Teguh Sunaryo | 21 Desember 2011, 8:50 pm
  17. itu, gmana ya pak, seberapa penting kebersihan, barang mengalah 5 menit… saya masih berpikir, apakah pengepel itu arogan, atau tidak peduli dengan orang lain. (dengan kenyamanan yang solat) apakah orang yang lalu lalang juga lebih mementingkan jalan yang dilaluinya mengkilap daripada kenyamanan orang lain yang sedang solat….

    Posted by anto | 10 Januari 2012, 7:18 am
    • pasti mas Anto belum pernah ke sana ya? 🙂

      Posted by wawan | 10 Januari 2012, 10:21 am
    • yang perlu anda ketahui,AL HARRAM jauh berbeda dengan masjid lainnya.
      kalo di masjid yang lain petugas bersih2 nunggu masjid sepi.
      kalo di HARRAM mau nunggu sepi..KAPANN??
      mau nungguin orang selesai shalat??
      kapan selesainya??
      tiap detik
      tiap menit
      tiap jam
      tiap hari
      sepanjang tahun;
      AL HARRAM tidak pernah sepi dari orang shalat.

      Posted by Aam Gebes | 3 Februari 2012, 8:34 am
  18. …… mungkin maksud Dais yaitu mempriotaskan kepentingan umum dibanding kepentingan pribadi ……… contoh lain : menumpuk harta untuk kebutuhan pribadi yang belum memprioritaskan kebutuhan umum.

    Posted by abu rickmail | 11 Januari 2012, 5:25 pm
  19. Membaca tulisan awal sangat terkezut, koq sampai segitunya orang ibadah diganggu.
    Berikutnya … Oooo… Gitu Toh!!!
    Sampai pada komentar malah ketawa-ketiwi, hehehe…

    Memang kalo petugas gak tegas, kapan mereka bisa kerja??? kapan masjid bisa bersih???
    Orang yang mau sholat_lah yang harus bisa liat sikon, kira-kira dimana mereka bisa sholat khusyu. Jangan asal nginjak lantai, berdiri langsung sholat. Kan petugas muter tuh kerjanya gak serempak seluruh masjid ditutup untuk dibersihkan.

    Point’nya :
    Disana kepentingan umun diutamakan dari kepentingan pribadi, meski dalam situasi beribadah. Bahkan harga diri pun tak dihiraukan, kepala bersinggungan dengan sandal/sepatu orang lain ga masalah.
    Nah disini… kepentingan pribadi, kelompok, baru umum. Sungguh terbalik “nyungsep”.
    Harga diri “sory la yau” mana ada pejabat mau turun langsung ke bawah…sangat langka kecuali Dis kayaknya.

    Posted by c'bob | 1 Mei 2012, 1:33 am
  20. Your are the person who chosen to live this life by God. Why God choose you? Because you have the strength to cope with any difficulties that given

    Posted by DINA MULIANA | 8 Juli 2014, 7:54 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Di Al Haram Tak Ada Yang Tersinggung « My Journal - 7 November 2011

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: