>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

Alhamdulillah Saya Pernah Sakit Keras

Alhamdulillah saya pernah sakit keras!
Yang membuat saya tidak mungkin lagi aktif memimpin Jawa Pos selama hampir dua tahun. Alhamdulillah saya pernah sakit keras! Yang mengakibatkan saya harus lebih banyak berada di luar negeri sehingga jauh dari posisi kepemimpinan di Jawa Pos.

Alhamdulillah saya pernah sakit keras!
Yang mengakibatkan saya dilarang bekerja keras dan dilarang menjadi pemimpin No 1 di Jawa Pos.
Kalau saja takdir tidak seperti itu, barangkali saya masih terus bercokol di Jawa Pos sampai hari ini, memimpin Jawa Pos dengan gaya saya, lalu ditertawakan oleh yang muda-muda. Sakit keras saya secara tidak langsung membawa implikasi percepatan proses regenerasi di Jawa Pos. Saya dipaksa untuk rela meninggalkan kekuasaan yang hampir mutlak di Jawa Pos itu. Saya juga dipaksa untuk menjalankan apa yang sudah sering saya kemukakan sendiri sebelumnya: percayalah kepada generasi muda!

Tanpa saya sakit keras, barangkali saya akan dicatat sebagai pemimpin yang punya cacat besar: selalu menganjurkan regenerasi tapi dirinya sendiri terus bercokol. Sakit keras saya membuat saya konsekuen terhadap doktrin saya yang selalu saya dengungkan: hanya anak muda yang bisa membawa kemajuan. Orang-orang Jawa Pos Group hafal dengan doktrin tersebut lantaran begitu seringnya saya kemukakan.
Sebenarnya saya sudah berlatih untuk kehilangan kekuasaan sejak lama. Saya sudah berhenti menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos atas inisiatif saya sendiri ketika umur saya masih 36 tahun. Saya sudah minta berhenti sebagai pemimpin umum Jawa Pos ketika umur saya ’’baru’’ 38 tahun. Sayangnya, he he, sayangnya, saya meninggalkan jabatan itu karena sudah mendapat jabatan yang lebih tinggi. Misalnya, karena sudah menjadi direktur utama di hampir 100 perusahaan Jawa Pos Group.

Tapi, tidak sepenuhnya begitu. Suatu ketika, saya juga memutuskan untuk berhenti dari semua jabatan direktur utama di semua anak perusahaan Jawa Pos Group. Tujuan saya: biar yang muda-muda di berbagai daerah itu yang menjadi direktur utama di setiap perusahaan setempat. Saya melengserkan diri saya dari jabatan direktur utama untuk menjadi chairman saja di semua anak perusahaan tersebut.

Ketika salah seorang direksi bertanya mengapa tiba-tiba minta berhenti dari semua jabatan direktur utama, saya hanya menjawab dengan sangat enteng: saya ingin merasakan bagaimana kehilangan jabatan yang begitu banyak, sekaligus.

Tapi, ternyata saya belum kehilangan apa-apa. Berhenti dari jabatan Dirut, saya masih menjadi chairman. Karena itu, dua tahun kemudian, saya memutuskan untuk juga berhenti dari semua jabatan chairman di semua anak perusahaan tersebut. Dengan langkah itu, saya tidak punya jabatan apa pun di semua anak perusahaan. Saya ingin kembali merasakan bagaimana kehilangan jabatan yang begitu banyak.
Sekali lagi, ternyata saya tidak bisa kehilangan jabatan. Meski secara formal saya bukan siapa-siapa lagi di semua perusahaan itu, ternyata teman-teman di seluruh Indonesia tidak berubah sikap terhadap saya. Sampai-sampai, saya harus sering memberi tahu bahwa saya ini sudah bukan pemimpin Anda-Anda. Kata-kata saya jangan lagi dituruti dan jangan lagi dianggap perintah.

Rupanya, semua itu ada hikmahnya. Saya menjadi sudah terbiasa kehilangan jabatan. Karena itu, ketika akhirnya sakit keras dan harus meninggalkan jabatan di induknya pun, tidak ada perasaan owel (istilah Jawa, sulit merelakan, Red) sama sekali. Saya bisa menjalani pengobatan saya dengan perasaan yang longgar dan sikap yang sumeleh, tawakal kepada-Nya.

Pindahlah kepemimpinan Jawa Pos kepada yang jauh lebih muda.
Dua tahun saya sakit.
Dua tahun saya di luar negeri.
Dua tahun saya nonaktif.

Ternyata, semua baik-baik saja. Di tangan anak-anak muda, bahkan Jawa Pos terus maju dan kian maju. Justru di tangan yang muda-muda itu Jawa Pos mencapai lebih banyak prestasi, seperti menjadi koran terbaik di jagat raya ini.

Alhamdulillah saya akhirnya sembuh.
Alhamdulillah saya tidak punya keinginan ’’merebut’’ kembali jabatan itu.
Alhamdulillah saya segera punya tekad baru: ingin menjadi guru jurnalistik untuk lembaga pendidikan apa saja, sambil ikut mengurus pesantren di desa saya.

Sambil terus menyaksikan dari jauh kemajuan dan kemajuan yang diraih generasi baru di Jawa Pos.
Sungguh menyesal seandainya saya punya pikiran: tanpa saya Jawa Pos bukan apa-apa! Sungguh menyesal seandainya saya punya sikap: tanpa saya Jawa Pos tidak akan bisa apa-apa!

Memang pernah ada majalah yang menulis artikel dengan judul ’’Jawa Pos adalah Dahlan Iskan dan Dahlan Iskan adalah Jawa Pos’’. Tapi, dalam perjalanannya, judul itu telah terbukti berlebihan dan mengada-ada.
Alhamdulillah, duh Gusti, saya pernah sakit keras! (*)

Diskusi

78 thoughts on “Alhamdulillah Saya Pernah Sakit Keras

  1. Memank…semua ada hikmanya…semoga tulisan diatas bisa membuat kita dalam mengambil suatu hikma dalam kejadian…lam kenal aja..

    Posted by peduli pendidikan | 24 Agustus 2011, 3:56 pm
    • semoga tulisan anda bisa menginspirasi bnyak orang. menyadarkan pemimpin yg g mau bercermin pada dirinya sendiri, menyadarkan orang pintar yg tak mau digusur kekuasaannya…seprti apa yg terjadi di lingkungan saya. saya ingin sekali salaman sama bapak…hehehee./…..

      Posted by an4lisa | 5 Desember 2011, 12:13 pm
  2. Betapa malaunya *kalo malu sih ya* para pejabat yang suka matia2an mempertahankan jabatan tanpa mau bercermin dan hanya karena dasar keserakahan saja. Betapa tidak bergunanya orang2 yang pernah memebuat bapak tidak betah di PLN karena memang bapak tidak butuh akan jabatan. bapak punya senjata sapu jagat yang tidak akan pernah membuat bapak kalah dalam berperang dan berjuang “Tidak takut tidak menjadi direktur, tidak takut bakal kehilangan jabatan”

    Posted by syaif | 24 Agustus 2011, 4:08 pm
  3. Betapa malaunya *kalo malu sih ya* para pejabat yang suka matia2an mempertahankan jabatan tanpa mau bercermin dan hanya karena dasar keserakahan saja. Betapa tidak bergunanya orang2 yang pernah memebuat bapak tidak betah di PLN karena memang bapak tidak butuh akan jabatan. bapak punya senjata sapu jagat yang tidak akan pernah membuat bapak kalah dalam berperang dan berjuang “Tidak takut tidak menjadi direktur, tidak takut bakal kehilangan jabatan” Alhamdulillah kami punya contoh Pak Dis…

    Posted by syaif | 24 Agustus 2011, 4:15 pm
  4. BETUL SEKALI !! dan beruntung sekali generasi muda di Jawa Pos punya pemimpin dan panutan seperti Pak DI sehingga seperti skrang ini, masalahnya di tempat lain apalagi di Pemerintahan sdh jamak jabatan dipertahankan mati-matian klo bkan sungghan,,dgn sgl cara klo perlu dgn mngubah aturan/undang2 – jdi generasi mudanya layu sebelum berkembang..

    Posted by Febryjombang | 24 Agustus 2011, 9:21 pm
  5. sengsara membawa hikmah, pak..🙂

    Posted by Mvstova | 25 Agustus 2011, 10:23 am
  6. Masuk ke blog ini sebenarnya karena JLC di TVOne. Tidak perlu lagi Bapak di puji atau di sanjung-sanjung. Tetapi Bapak diperlukan untuk merubah cara berpikir semua direktur yang merangkap jabatan. Kalau sudah ada mobil pribadi tidak usah lagi mobil dinas. Salut pak……..

    Posted by umburesi | 25 Agustus 2011, 1:14 pm
  7. Enak dan renyah di dengar.

    Posted by AbahRahman | 25 Agustus 2011, 3:48 pm
  8. smoga pemimpin2 yg dah 2 kali menjabat tpi syahwatnya msih tinggi.. menghalalkan berbagai cara, dgn ganti smua dibawah pake yg loyal dgnnya atau ciptain boneka (ngajuin istri) misalnya.. mau baca tulisannya pak D.I.

    # legowo .. apalagi klo gagal (gak bisa bikin prestasi / terobosan / percepatan)

    Posted by Seno | 25 Agustus 2011, 5:40 pm
  9. Semoga jadi inspirasi generasi mendatang Pak. Kerendahan hati itu membahagiakan.

    Posted by AW | 26 Agustus 2011, 12:35 am
  10. saya salah satu pengagum pak dahlan iskan…
    saya mengikuti semua tulisan anda melalui radar lampung saat anda sakit dan ganti hati…
    walau saya tidak mengenal ana tapi saya merasa dekat bila membaca tulisan2 anda…
    salam……

    Posted by mbibandarlampung | 26 Agustus 2011, 8:11 am
  11. saya salah satu pengagum pak dahlan iskan…
    saya mengikuti semua tulisan anda melalui radar lampung saat anda sakit dan ganti hati…
    walau saya tidak mengenal ana tapi saya merasa dekat bila membaca tulisan2 anda…
    salam……

    Posted by dindik | 26 Agustus 2011, 8:21 am
  12. Wah, gmn ya menemukan generasi itu? Pengin juga niru…

    Posted by segerhasani | 26 Agustus 2011, 9:15 am
  13. waduh pertanda mau meninggalkan jabatan dirut PLN kah??? Jangan dulu dunk Pakkk ..

    Posted by Riemann | 26 Agustus 2011, 10:00 am
  14. Pa, hikmah untuk ke depannya bagaimana bila kita tiru germany, untuk menyelamatkan bumi dan anak cucu kita, yaitu membeli renewable energy listrik dari swasta dan memberi insentif2. Polusi2 ini banyak membuat rakyat indonesia sakit seperti Kanker paru2, TBC, Ispa akut dll, apalagi debu2 dari batubara.

    Terima kasih

    Posted by hendry | 26 Agustus 2011, 1:07 pm
  15. hahahahaa…saya perlu tertawa pak kalo bandingkan tulisan pak dahlan dengan para ”pencari” jabatan dinegeri ini. Ada yang rela pasang poster dipinggir jalan, sebar sembako sampai jual tanah dan utang dibank demi jabatan..
    Semoga pak dahlan selalu diberi kesehatan oleh Alloh SWT… Amin..

    Posted by hendra | 27 Agustus 2011, 6:49 am
  16. Sungguh pribadi yg bijak perlu dicontoh banyak orang.

    Posted by Arsad@yahoo.com | 28 Agustus 2011, 11:20 am
  17. terkadang memang keadaan yang memaksa kita untuk rela meninggalkan jabatan yang sedang kita kuasai.banyak diantara pemimpin yang harus dipaksa mundur untuk memebus kesalahannya.sangat jarang di indonesia pejabat yang dengan rela mundur dari jabatan karena kesalahannya.yang ada malah mati matian mempertahankan jabatan dengan menghalalkan segala cara.inilah indonesia.

    Posted by antok | 29 Agustus 2011, 4:41 pm
  18. Saya Acungkan JEMPOL buat Bapak Dahlan Iskan saya adalah fans berat “Bapak”

    Posted by Imam Badriyono | 31 Agustus 2011, 4:12 am
  19. Minal Aidin Wal Faidzin semuanya……

    Posted by syaif | 1 September 2011, 6:28 am
  20. Sakit memang ada hikmahnya pak.
    Tetapi sehat tentu lebih baik.🙂

    Posted by BlakBlakan | 3 September 2011, 7:34 am
  21. lho…?? artikel ini bukan sinyal untuk mundur dari PLN kan pak Haji?? minggu pertama puasa, pas magrib, listrik di lingkungan saya mati, sesaat sih.. tapi tetap aja mati..buka bersama penguruh RT diterangi cahaya lilin, asyiknya sebagai tuan rumah, jadi nggak kelihatan kalau lauknya kurang…
    oleh karena itu selama aliran listrik PLN masih “mati hidup” (walaupun tahun ini jauh berkurang dibanding dari tahun sebelumnya).. pak Haji tetap harus memegang amanah sebagai Dirut PLN, kecuali aliran listrik sudah mengaliri seluruh Indonesia, walaupun masih nyala hidup, nyala hidup, nyala hidup..🙂 maksudnya dah nggak ada “mati” nya pak Haji.. hehehe.

    Posted by Totok Wibisono | 3 September 2011, 1:11 pm
  22. jabatan jadi nggak penting, yang penting banyak manfaat, cukup rezeki, banyak berkah, banyak syukur, mewarnai kebaikan … semoga Bpk makin sehat.

    Posted by heru ss | 9 September 2011, 4:24 pm
  23. Kata orang bijak, mengejar jabatan itu suliiiit…… namun lebih suliit lagi menanggalkan jabatan yang telah diraih dengan susah payah.

    Ternyata Pak DIS mampu dan sudah berada pada tahap diatas yang paling sulit sekalipun !

    Alhamdulillah . . . . . . . !

    Posted by barlian.y | 10 September 2011, 11:52 pm
  24. Alhamdulillah

    Keikhlasan dan manfaat,

    Posted by cahyo ardiansyah | 21 September 2011, 10:40 am
  25. luar biasa…

    Posted by dennyraditya | 17 Oktober 2011, 1:38 pm
  26. Mantab tulisannya…mau saya masukkan ke kolom orang hebat nih bapak di blog saya…hehehe…lagi nyari2 referensi

    Posted by totosociety | 18 Oktober 2011, 12:49 pm
  27. tadi malem TvOne memutar wawancara khusus dengan Pak Dahlan Iskan. saya salut dengan pembawaan beliau, yang sangat humble… sangat inspiratif… perlukan jiwa-jiwa yang seperti Pak DI untuk membawa negeri ini ke arah kemajuan. Selamat berkarya Pak DI..🙂

    Posted by Agnes Nurcahyono | 18 Oktober 2011, 1:22 pm
  28. Kalo dari awal sudah punya banyak jabatan, dalam perkembangannya sebuah pribadi yang berkembang pasti akan merasa perlu untuk melepas jabatan tersebut satu-satu… untungnya (atau sialnya ya?) Pak Dahlan sudah mendapatkan banyak jabatan sejak awal, sehingga dalam perkembangannya pada akhirnya jabatan-jabatan tersebut direlakan…

    Akan tetapi lain ceritanya jika seseorang pada awalnya tidak pernah mendapatkan jabatan sama sekali, ini yang menyebabkan pada perkembangannya dia menjadi haus akan jabatan…

    Ibaratnya, kalo sudah punya sepeda sejak kecil, maka ketika sudah besar bosanlah dia bermain sepeda, tapi kalo sejak kecil belum pernah punya sepeda, akhirnya besarnya suka main sepeda… kira-kira sih begitu pendapat saya… kurang lebihnya mohon maaf… sekedar menyampaikan pendapat…😀 (maju terus pak dahlan)

    Posted by Reinhard | 18 Oktober 2011, 3:58 pm
  29. Semoga Allah selalu ridho setiap apa yang bapak kerjakan
    Salam

    Posted by Agus baru harjani | 18 Oktober 2011, 4:43 pm
  30. saya jadi ingat sebuah hadist yg bunyinya kurang lebih begini ” sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi sesamanya.” moga-moga pak Dahlan masuk dalam kriteria ini.

    Posted by masagung | 19 Oktober 2011, 9:30 am
  31. salut banget sama pak dahlan iskan

    Posted by leli | 19 Oktober 2011, 10:36 am
  32. Insya Allah…RI 1 tahun 2014 siap menanti Pak…

    Posted by Mujiyanto | 19 Oktober 2011, 12:32 pm
  33. Pak Dahlan Iskan adalah figur pemimpin masa depan bagi bangsa Indonesia. Moral, tanggung jawab dan dedikasinya sangat membanggakan anak bangsa. Mudah-mudahan generasi muda dapat mencontoh keberanian beliau dalam menghadapi setiap persoalan. Bravo….pak DI…..we’re follow you !!!

    Posted by ari | 19 Oktober 2011, 1:46 pm
  34. dibutuhkan presiden kayak pak dahlan iskan, berani tegas dan apa adanya tdk butuh dibawakan kacamata ajudan. oke. pak dahlan ditunggu th 2014.Insya Alloh Indonesia sejahtera.

    Posted by marzuki | 19 Oktober 2011, 2:24 pm
  35. dibutuhkan presiden kayak pak dahlan iskan, berani tegas dan apa adanya bila perlu gabung dengan Pak JK .Insya Alloh Indonesia sejahtera.

    Posted by marzuki | 19 Oktober 2011, 2:28 pm
  36. Semoga Pak Dahlan dapat terus mencapai posisi tertinggi di negara yang kita cintai ini, agar menjadi Bangsa yang sejahtera adil dan mamur bagi seluruh rakyat Indonesia, Salut buat Pak Dahlan,

    Posted by Wahyu Budiadi | 20 Oktober 2011, 9:24 am
  37. Ass, Pak Menteri, satu tekad utk mengabdi pada masyarakat. Smg selalu di beri kesehatan dan kekuatan utk membuat rakyat hidup tentran d damai. Ekonomi sj tdk cukup, suasana hati d harmoni sosial harus diwujudkan nyata di masyarakat. Sukses Pak Bos. Wassalaam.

    Posted by agung | 20 Oktober 2011, 2:16 pm
  38. perlu banyak lahir dahlan iskan2 yg lain…..

    Posted by syafaat | 21 Oktober 2011, 2:36 pm
  39. Luar biasa…
    Pak Dis sumber inspirasi bagi generasi muda bangsa ini..

    Posted by Maman | 23 Oktober 2011, 7:07 am
  40. Dahlan iskan satrio piningit, next presiden!

    Posted by deden | 23 Oktober 2011, 2:09 pm
  41. Alhamdulillah..Subhanallah..sy kagum dg Bapak.Sedia tinggalkan jabatan,sdgkan ada yg serakah dg jabatan,sampai mulai dr kakek,nenek,anak,mantu,cucu..dst.. smuanya sekeluarga punya jabatan,betapa serakahnya.. Apakah tdk takut dg Azab ALLAH swt? Sy mendoakan..Smoga Bapak slalu dikaruniai kesehatan dan Iman oleh ALLAH swt.. Aamiin yra.. Wasslm.ww.Yennie

    Posted by Handayani | 24 Oktober 2011, 7:36 pm
  42. kiranya bapak yang seharusnya menjadi presiden periode selanjutnya….
    insya Allah kami akan mendukung bapak…

    tetap istiqomah pak…

    NB:
    saya selalu suka tiap artikel yang bapak tulis…

    Posted by Dier Spears | 24 Oktober 2011, 8:52 pm
  43. mantab

    Posted by tije | 25 Oktober 2011, 12:22 am
  44. Alhamdulillah, Indonesia masih memiliki Pak Dahlan Iskan. Semoga Indonesia memiliki banyak manusia terbaiknya yang rendah hati, bersemangat tinggi, dan bekerja cerdas seperti Pak Dahlan.
    Alhamdulillah, Pak Dahlan ikhlas bersedia mengatur negeri ini. Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan kepada Pak Dahlan dan memberikan ganjaran kebaikan yang berlipat ganda atas keikhlasannya.
    Alhamdulillah.

    Posted by Wiyanto Suroso | 27 Oktober 2011, 8:31 am
  45. asem sampe merinding pas baca… lanjut terus pakdhe

    Posted by efendi al ayyubi | 27 Oktober 2011, 3:18 pm
  46. Tulisan tersebut membrikan tauladan dan jalan bagi harapan generasi muda

    Posted by Afdian Eka | 27 Oktober 2011, 3:32 pm
  47. semua itu memang ada batasnya… tapi sikap legowo dan sumeleh adalah sebuah keikhlasan yg sejati…dan semua peristiwa itu pasti ada hikmahnya…sampai sakitpun membawa berkah….All!segalanya…semoga kita selalu bersyukur apa yg diberikan oleh Allah SWT…Amien

    Posted by subiyantoro | 28 Oktober 2011, 8:44 pm
  48. Pak Dis adalah seperti pendaki gunung, begitu sudah dipuncak maka tidak berlama-lama akan dengan sukarela turun sendiri…

    Posted by mamad sardi | 29 Oktober 2011, 9:17 am
  49. Yth Bapak Dahlan,

    Senang sekali mendengar bahwa Pak Dahlan sehat walafiat sampai dengan hari ini, ini merupakan bukti dari kebesaran dan kebaikan Tuhan dalam hidup bapak. Terima kasih banyak untuk berbagi kisah melalui blog ini. Saya mendengar bahwa Pak Dahlan pernah melakukan transplantasi hati, kebetulan ibu dari teman saya mengidap penyakit sirosis dgn kondisi cukup serius. Profesor dan tim yang menangani beliau menyatakan bahwa beliau perlu melakukan transplantasi sel hati dan hati itu sendiri.

    Berbagai upaya saya dan pihak keluarga lakukan untuk mencari dokter ahli ataupun pengobatan. Akhirnya seorang dokter di Penang memberikan informasi mengenai Pak Dahlan yang berhasil tanpa komplikasi dalam menjalani transplantasi hati.

    Dengan ini saya ingin memohon informasi kepada Pak Dahlan apakah bisa membantu mereferensikan dokter yang menangani bapak.

    Terima kasih sebesar2nya atas informasi yang diberikan.

    Best regards,

    Posted by Jeffrey | 29 Oktober 2011, 2:37 pm
    • bung jeffry.. mungkin ada baiknya ada membaca buku dahlan iskan dengan judul ganti hati”kini ada simbol mercy di perut saya”… penerbit JPBOOKS Jl. karah agung no 45 surabaya telp 0318289999 ext 156

      saya sendiri sudah membaca sebagian dan mungkin apa yang bapak butuhkan tentang informasi tersebut ada di dalam buku itu…
      buku ini adalah pemberian langsung bung dahlan kepada saya sebagai salah satu inovator PLN

      tetap semangat bung…

      Posted by Firman | 30 Oktober 2011, 5:14 pm
      • wah terima kasih banyak bung firman untuk informasinya. saya akan coba menghubungi JPBOOKS. mudah2an saya menemukan titik terang untuk membantu keluarga rekan saya melalui buku ini.

        sewaktu browsing, saya sempat sedikit membaca di sebuah blog, http://dahlaniskan.blogdrive.com/
        saya tidak tahu apakah blog ini milik dari pak dahlan langsung.

        Terima kasih untuk dukungannya.

        Posted by jeffrey | 15 November 2011, 1:16 pm
  50. subahanallah pak dahlan tidak sadar saya meneteskan air mata,ternyata masih ada pemimpin di negeri ini yg cerdas, salut pak semoga ditiru anak cucu bangsa ini, trmksh

    Posted by usman | 9 November 2011, 4:09 pm
  51. Pak Dahlan Iskan yang baik , jejak langkahmu kami saksikan , semua ada hikmahnya , sy yakin Tuhan meberikan cobaan ini untuk mempersiapkan anda melakukan pekerjaan yang besar untuk rakyat negeri ini ..Semoga sekarang & kedepan anda tetap konsisten sbg Dahlan Iskan apa adanya , Kiranya Tuhan selalu menyertai anda dalam berkarya dgn melimpahkan ketabahan & kesehatan . amin

    Posted by Asali | 16 November 2011, 10:12 am
  52. Tak banyak tulisan yang membuat optimis, namun hari ini, walau agak terlambat alhamdulillah saya menemukan tulisan-tulisan optimis tentang Indonesia, terima kasih pak Dahlan semoga berumur panjang, negeri ini membutuhkan Anda, sekali lagi terima kasih.

    Posted by Kang WaOne | 7 Desember 2011, 3:07 pm
  53. kalau ada 100 orang pejabat tinggi indonesia yang berpikir dan bertindak seperti pak Dahlan Iskan tentu Indonesia akan berubah.

    Posted by abdul malik albar | 24 Desember 2011, 4:04 pm
  54. di tunggu tulisannya saat jadi mentri
    apakah masih sempat nulis?
    hehehehe

    Posted by samponoenda | 27 Desember 2011, 6:39 pm
  55. Alhamdulillah, Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, dan kemudahan kepada bapak. Indonesia sangat memerlukan tenaga dan pikiran Bapak, Semoga sukses menjadikan Indonesia lebih baik. Salam hormat kepada Bapak Dahlan Iskan.

    Posted by Rina Susilowati | 27 Desember 2011, 8:50 pm
  56. sy sngt kagum pd anda pak n sy jg sngt mengharapkan anda menjadi presiden RI, semoga Allah mengabulkan harapan hamba. Amin

    Posted by Nur hayati | 1 Januari 2012, 1:11 am
  57. Alhamdulillah kita punya panutan seperti Bapak.. Aku sangat terharu dan bangga…semoga bisa menjadi panutan bagi saya pribadi dan rekan-rekan generasi muda. Saatnya kita perbaiki negeri ini dengan memulai dari diri kita sendiri…

    Posted by Anang Eko Baskoro | 2 Januari 2012, 3:45 pm
  58. Super sekali (pinjam istilah pak Mario Teguh).
    apakah kami boleh bermimpi mendapatkan sosok pemimpin seperti Bapak????
    kami hanya berharap ada regenerasi yang dapat ditiru oleh instansi pemerintah demi meleburkan perepsi masyarakat akan kepemimpinan di pemerintahan (gila jabatan tapi kerja kurang, dan bahkan kurang menghargai hasil kerja bawahan).
    Tapi kami juga patut bersyukur, akhirnya Bapak bisa masuk ke ranah perusahaan dengan label BUMN dengan sikap optimis untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
    salut dengan slogannya KERJA!!! Kerja dan Kerja!!!!

    Posted by Ismail Gaffar | 3 Januari 2012, 7:20 am
  59. Mantap pak Dahlan, saya salut dengan berbagai catatan anda yang membawa paradigma baru. Sakit ada hikmahnya, yang muda membawa perubahan.

    Posted by sazadi | 3 Januari 2012, 7:31 am
  60. Saya baru menemukan blog Pak Dis..

    untuk komentarpun mungkin tak akan jauh berbeda..tp pak pujian-pujian sekarang yang mungkin sedang mendekat pada pribadi bapak..jadikanlah suatu cambuk untuk berbuat yang terbaik lagi dan lagi juga tetap istiqomah dijalan-Nya..

    doa saya.

    Posted by hilmirancak | 4 Januari 2012, 2:18 pm
  61. Luar biasa …..perilaku hidup Pak.Dahlan Iskan, semoha Allah SWT selalu memberikan kesehatan dan lindunganNYA kepada Pak.Dahlan Iskan dalam menjalankan tugas Negara, pertamakali saya terkesan dengan tulisan Pak.Dahlan Iskan adalah tulisan dengan judul ” Kalau Langit Masih Belum Tinggi ” (Krismon 2008) sampai sekarang saya selalu menyempatkan membaca tulisan Pak.Dahlan Iskan…

    Posted by adie | 5 Januari 2012, 12:00 pm
  62. Sebenarnya banyak figur-figur seperti Pak Dahlan Iskan di negeri ini….tetapi kebanyakan dr mereka biasanya kurang beruntung nasibnya jadi tidak memperoleh kesempatan untuk menjadi pemimpin di masyarakat malah biasanya kebanyakan yang jadi pemimpin dinegeri ini adalah orang-orang yang memamfaatkan massa dan situasi untuk memperoleh jabatannya…..tetapi bagaimanapun figur seperti pak Dahlan Iskan bisa jadi panutan buat generasi muda mendatang….salut…

    Posted by Tomy | 6 Januari 2012, 10:53 am
  63. Alhamdulillah saya menemukan catatan bapak yang bagus ini…..semoga cahaya hikmahnya menerangi kita semua, dan semoga Bapak selalu diberikan kesehatan, aamiin

    Posted by nik | 7 Januari 2012, 1:26 pm
  64. pak DIS, bapak secara tidak langsung mengajarkan, mengingatkan dan menegur kita-kita yang mau berpikiran arif dan berhati lapang bahwa inilah jalan kehidupan yang harus disadari dan diterima dengan baik, semoga bapak tetap istiqomah dan amanah (konsisten dan dapat dipercaya ) karena manusia tempatnya khilaf dan sombong.

    Posted by Budi Darmawan | 9 Januari 2012, 2:30 pm
  65. memang hidup kita tidak punya apa-apa, lahir tidak membawa apa-apa, mati juga tidak membawa apa-apa…. tanpa beban melepas segala yang melekat di kita merupakan cara terbaik untuk lebih dekat dengan Nya dan tentu lebih sehat….

    Posted by anto | 10 Januari 2012, 7:25 am
  66. “Tidak ada yang menimpa seorang muslim dari kepenatan, sakit yang menahun,kebimbangan, kesedihan, penderitaan, kesusahan, atau hanya tertusuk duri, kecuali dengan itu Allah hapus dosa-dosanya.”
    (H.R.Bukhari)

    Posted by Husein Nasution | 11 Januari 2012, 6:40 pm
  67. Ketika Jabatan diperebutkan, maka nilai sebuah jabatan tidak ubahnya seperti “lumbung” uang bagi Pemangkunya, sewaktu seorang sahabat/kerabat Rosulullah.SAW meminta sebuah jabatan dimasa kepemimpinan Beliau, Rosulullah.SAW menolaknya, karena Beliau tidak mau memberikan jabatan bagi siapa saja yang memintanya.

    Teladan tersebut dilanjutkan dengan pemilihan pemimpin Umat setelah Beliau wafat, dan dipilihlah seorang sahabat yang sama sekali tidak menginginkan sebuah jabatan Amirul mukminin, Abubakar Ra, Umar bin Khatab Ra, Ustman Ra, Imam Ali, dan Lainnya.

    Menariknya dari perjalanan dan pola kepemimpinan Sahabat pada masa itu, merasakan begitu beratnya menerima Takdir sebagai Amirul Mukminin.

    Kita ambil contoh kepemimpinan Umar Bin Khatab, dimana beliau sangat membatasi dirinya dan Keluarga dari godaan jabatan, dan efek (Gratifikasi) jabatan, dimana beliau meletakan jabatan sebagai sebuah amanah, bukan “Lumbung” atas dasar kekuasaan semata, beliau menggiring sendiri unta2 milik Baitul mal, berpakaian yang penuh tambalan, hingga USTMAN bin Afan mengkritik beliau dengan mengatakan “Janganlah engkau persulit meraka yang akan menerima Jabatan setelah engkau Hai Amirul mukminin ? dan ketika Umar harus antri sendiri dipasar berbelanja untuk keperluan janda2 perang jihad, serta begitu sulitnya menjadi seoarang anak Umar, dimana Ketika Umar berjalan-jalan dipasar dan melihat Unta yang gemuk dan sehat ternyata adalah milik anaknya, lalu beliau melarang anaknya dengan berkata ” Apakah karena engkau anak seorang Amirul mukminin maka engkau bisa berlaku seenaknya ? padahal semua orang tahu, bahwa anaknya Umar berdagang dan menggemukan unta2nya dengan cara yang HALAL tapi beliau tetap melarangnya.

    Diera sekarang ini mungkin tidak akan pernah kita temui model kepemimpin semacam itu, tapi setidaknya bertingkahlah yang sewajarnya ketika MAMANGKU sebuah jabatan. dan janganlah meraih jabatan dengan kecurangan,uang,dan politik licik, dan jadikanlah jabatan itu asyik untuk dipangku, maka jabatan tidak akan menderah PEMANGKUNYA.

    Posted by idil adha | 20 Maret 2012, 10:58 pm
  68. Melalui jurnalistik orang mampu mengubah dunia.
    Melalui media dunia dapat cepat berubah.
    Dan melalui tangan kita semua hal dapat terjadi,
    yang muda terbukti mampu melakukan sesuatu untuk negeri.

    Posted by INDRA | 12 Juli 2012, 7:23 pm
  69. Jangan pikirkan kegagalan kemarin hari ini sudah lain sukses pasti diraih selama semangat masih menyengat.

    Posted by SITI ROHMAH | 10 Februari 2015, 8:09 am
  70. sukses untuk abah , semoga kita semua di beri selalu kesehatan amin🙂

    Posted by Citra Indah | 17 Juni 2015, 1:17 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Menunggu Aksi Dahlan Iskan | totosociety.com - 18 Oktober 2011

  2. Ping-balik: Tulisan yang inspiring dari CEO PLN (dan mantan CEO Jawa Pos Group), Dahlan Iskan. :: his randomness - 23 Desember 2011

  3. Ping-balik: alhamdulillah saya pernah sakit keras « his randomness - 3 Januari 2012

  4. Ping-balik: Alhamdulillah saya pernah sakit keras Sebuah tulisan yang… « his randomness - 9 September 2012

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: