>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, CEO Notes, PLN

Ketemu Lokasi PLTA Berkelas Emas, Kelelahan Lunas

Lima Hari CEO PLN Dahlan Iskan Menjelajah Sorong-Bintuni-Nabire-Timika-Wamena-Digul-Merauke-Jayapura.(1)

Hujan turun sepanjang malam di Wamena. Sambil makan sahur di pedalaman Papua yang dingin itu, saya mengkhawatirkan gagalnya acara penting keesokan harinya: ekspedisi menyusuri tebing Sungai Baliem. Mencari lokasi yang cocok untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) bagi penduduk pegunungan tengah Papua.

Pagi itu kami, empat direksi, pimpinan PLN setempat, dan beberapa penunjuk jalan, berangkat diiringi rintik-rintik hujan. Panitia membagikan topi Mbah Surip untuk mengurangi rasa dingin. Dua dokter membawa peralatan medis. Seorang lagi memanggul tabung oksigen.

Setelah 15 menit naik mobil melewati jembatan Sungai Walesi yang lagi ambles digerus banjir, jalan aspal itu tiba-tiba putus. Gunung besar di kanan jalan tersebut, rupanya, longsor menjadi banjir bandang yang menghancurkan apa saja, tak terkecuali jalan aspal itu. Mirip yang terjadi di Wasior, Papua Barat, yang menewaskan ratusan orang itu. Hancurnya jalan raya tersebut membuat banyak anak sekolah harus berjalan kaki sejauh 10 km setiap hari.

Kami pun mulai masuk ke tanah setapak menuruni gunung yang terjal, meloncati sungai kecil, naik lagi ke bukit, menyusuri bibir jurang yang curam, merayapi tebing yang berbatu, dan sesekali kepeleset jalan yang licin. Keringat mulai bercucuran. Jaket dan penutup telinga tidak lagi berfungsi. Gerimis sudah lama berhenti dan langit mulai membiru.

Penduduk setempat, yakni Suku Wamena yang berwajah cendekia, bertanam hortikultura di tebing-tebing seperti itu: ketela, kentang, wortel, berbagai jenis keladi, jagung, jahe, kecipir, dan sebangsanya. Keladi Wamena, apalagi yang berwarna ungu, luar biasa enaknya. Dua malam di Wamena, saya tidak henti-hentinya menikmati keladi ungu itu.

Ketergantungan pada tanaman setempat itulah, rupanya, yang mengakibatkan penduduk terkena bencana kelaparan yang menghebohkan lima tahun lalu ketika terjadi kemarau panjang di situ. Saat ini, dengan hujan yang cukup, semua tanaman kelihatan memberikan harapan. Dan, babi-babi yang berkeliaran di setiap pekarangan kelihatan gemuk-gemulai.

Banyaknya babi itu pula yang mengakibatkan perjalanan ini lebih berat lagi. Penduduk umumnya membuat pagar batu yang menutup jalan setapak tersebut untuk menghalangi babi merusak tanaman. Tapi, kami bukan babi sehingga selalu mampu melompatinya, meski kadang harus merayapinya. Atau, harus dengan cara menaiki sebatang kayu. Sesekali memerlukan pertolongan orang lain agar pantat bisa terangkat.

Bahwa ekspedisi ini tidak menyiksa, semata-mata karena kami memang sedang dalam antusiasme yang tinggi untuk menemukan lokasi PLTA itu. Apalagi, kami bisa menikmati pemandangan yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain: alami tapi eksotis. Menengok ke kanan atas, kami melihat perbukitan yang berebut menuding langit. Menengok ke kiri bawah, kami melihat aliran sungai yang berbatu dengan suara air deras yang mistis. Sesekali kami berpapasan dengan banyak anak muda, laki-perempuan, dari Spanyol yang ternyata sangat menyukai wisata jenis ini.?

Yang membuat perjalanan ini juga asyik adalah suhu udara yang sejuk. Seperti di Eropa pada bulan Oktober. Hampir sepanjang tahun Tuhan memberikan AC secara gratis. Siang dan malam. Tidak pilih kasih: manusia, sungai-sungai, gunung-gunung, babi-babi, beserta aneka tanaman di seluruh Wamena. Karena itu, tidak ada hotel atau rumah yang pasang AC.

Ketinggian Wamena yang 1.700 meter di atas laut membuatnya sejuk sepanjang tahun. Sejuk yang nyaman karena humidity yang cukup. Tidak seperti dingin di Eropa yang amat kering yang sering membuat bibir pecah berdarah.

Lebih sedikit dari pukul 11.00, kami sudah tiba di lokasi yang diimpikan. Yakni, satu lokasi yang aliran sungainya menyempit. Kanan-kirinya gunung yang tinggi dan tebingnya terjal. Aliran airnya sangat deras pertanda di hilirnya masih sangat curam. Adanya belokan setelah tebing yang sempit itu sungguh ideal. Gambaran seperti itulah yang sangat cocok untuk sebuah hydro-power. Syarat-syarat untuk dibangunnya PLTA terpenuhi semua. Inilah lokasi yang dikategorikan berkelas emas.

Bersama penduduk setempat, tua-muda, anak-anak dan remaja, gadis-gadis dan ibunya, kami duduk di lereng bukit itu menghadap ke arah lembah aliran sungai. Kelelahan seperti terbayar lunas. Kami sangat menikmati pemandangan sambil beristirahat. Hanya Nur Pamudji, direktur energi primer PLN, yang selama istirahat satu jam itu tetap berdiri. Sebagai pendaki gunung yang andal, dia memberitahukan resep ini: jangan istirahat sampai duduk atau berbaring! Itu akan membuat perjalanan berikutnya lebih berat. Dia tahu, kami tidak boleh lengah karena masih harus kembali menyusuri jalan pulang yang sama beratnya.

Saya bukan pendaki gunung, tapi saya optimistis bisa melakukan perjalanan ini. Saya pernah jalan kaki dari Makkah ke Arafah sejauh 45 km. Yakni, waktu naik haji. Kembali ke Makkah keesokannya juga berjalan kaki. Hanya, saya sekarang sudah 20 tahun lebih tua. Dan masih berstatus pasien transplantasi hati.

Tentu, kami ingin lebih lama di lereng bukit itu. Kami seperti sedang jatuh cinta dengan tanah Wamena. Apalagi, di lokasi itu, kami bisa berkumpul dengan warga setempat dalam suasana yang santai dan akrab. Dialog pun penuh perhatian serta tawa. Mereka mengerti dengan baik bahasa Indonesia. Hanya, kalau mengajukan pertanyaan, masih merasa nyaman dengan bahasa Wamena. Dengan tulus mereka juga mengingatkan agar kami berhati-hati dalam membangun proyek raksasa ini. Gunung-gunung berbatu yang kelihatannya keras itu pada dasarnya mudah longsor.

Merasakan keakraban itu, saya menyesal seandainya tidak jadi ke pedalaman Papua hanya gara-gara berita media yang menggambarkan rusuhnya wilayah tersebut sehari sebelum saya berangkat dari Jakarta. Banyak sahabat yang mencegah saya berangkat Rabu lalu, tapi feeling saya mengatakan akan baik-baik saja.

Rasa kekeluargaan penduduk pedalaman itu juga sangat menonjol. Setiap berpapasan dengan orang yang sama-sama menggunakan jalan setapak itu, mereka selalu mengajak bersalaman. Salamannya pun sangat kuat. Pertanda ingin menjalin persaudaraan dan kepercayaan. Bahkan, beberapa kali, sambil bersalaman itu, mereka sampai merangkul pundak saya.

Tegur sapa seperti itu tidak hanya di jalan setapak, tapi juga di ladang-ladang hortikultura. Melihat kami melintas di situ, seorang petani yang menggarap tanah di lereng bawah sana mendongakkan kepala dan berteriak menyapa. Sebuah keramahan pegunungan yang mestinya bisa melahirkan berkoli-koli puisi. (c5/lk)

Dahlan Iskan
CEO PLN

Diskusi

41 thoughts on “Ketemu Lokasi PLTA Berkelas Emas, Kelelahan Lunas

  1. Bravo, merdeka Pak !!!

    Posted by Riemann | 19 Agustus 2011, 1:14 pm
  2. Wah… Satu-satunya alam hutan yang masih bagus di Indonesia hanya di Papua. Semoga pembangunan PLTA itu juga memprioritaskan masalah lingkungan dan sosial…

    Posted by Dode | 19 Agustus 2011, 1:45 pm
  3. As always, tulisan yg memukau dan penuh semangat.. Maju terus Pak DI!!🙂

    Posted by Ruth | 20 Agustus 2011, 9:32 am
  4. Bravooo pak Dis….

    Posted by syaif | 20 Agustus 2011, 10:33 pm
  5. tetap semangat pak dahlan, sampai seluruh nkri ini menikmati setruman dari pln..🙂

    Posted by irfanrivai83 | 21 Agustus 2011, 12:30 am
  6. Saya selalu ketagihan catatan2 Pak Dahlan sngat inspiratif,,bravo!! maju teruss INDONESIA maju teruss PLN !!

    Posted by Febryjombang | 21 Agustus 2011, 6:36 pm
  7. Pak…..saya pendukung setia bapak. Semangat dan Perjuangan bapak u/ menerangkan Indonesia dari sabang hinnga merauke memberikan inspirasi buat saya kelak. Maju terus ….kami mensupport dibelakang bapak!!!

    “aryphiton”

    Posted by arymuzayinmuzayin jauhari / marine engineer | 22 Agustus 2011, 11:58 am
  8. muuaaaannttteeepppp!!!

    Posted by nosiarsyahni | 22 Agustus 2011, 5:57 pm
  9. Andaikan ada 100 orang Dahlan Iskan di Indonesia, saya yakin Indonesia menjadi negara maju nomor satu di Dunia mengalahkan Amerika, Jepang, Cina dan negara-negara Eropa. Satu orang Dahlan Iskan saja sudah membuat PLN berubah 180 Derajat. Harusnya pejabat-pejabat Indonesia berkaca kepada Pak Dahlan, jangan cuma mikir cara korupsi saja.

    Posted by Iwan Setiawan | 24 Agustus 2011, 12:06 pm
  10. membaca tulisan ini aku jadi lebih cinta indonesia

    Posted by subandi | 24 Agustus 2011, 12:08 pm
  11. Ngaca hoooi para pejabat, sudah berbuat apa kalian sama negerimu. Jangan cuma bingung gerilya cari cara buat korupsi.

    Posted by syaif | 24 Agustus 2011, 4:23 pm
  12. Bravo..Pak!
    Saya Do’akan smoga Bapak Slalu diberi kesehatan dan panjang umur..
    Agar bisa menyelesaikan Revolusi Di PLN!

    Apa yg Bapak Lakukan saya menyebutnya sebuah REVOLUSI!

    Posted by Kang Jeri | 25 Agustus 2011, 5:26 pm
  13. Seorang dahlan iskan saja sudah cukup untuk memajukan Indonesia, asal beliau dipercaya untuk menjadi Presiden Kita….

    Bravo, Pak Dahkan for President…

    Posted by Jul | 26 Agustus 2011, 8:49 pm
  14. Sure, jika Bpk jadi president Indonesia
    karena Bpk sudah sangat pantas dan layak memimpin negara ini
    Aammiiinnnnn…….

    Posted by Slamet | 27 Agustus 2011, 5:45 am
  15. hehehe…saya jadi ngakak baca tulisan ini. terutama pada kalimat “Banyaknya babi itu pula yang mengakibatkan perjalanan ini lebih berat lagi. Penduduk umumnya membuat pagar batu yang menutup jalan setapak tersebut untuk menghalangi babi merusak tanaman. Tapi, kami bukan babi sehingga selalu mampu melompatinya, meski kadang harus merayapinya. Atau, harus dengan cara menaiki sebatang kayu. Sesekali memerlukan pertolongan orang lain agar pantat bisa terangkat.” hehehe… pak DIS humoris juga rupanya…hehehe…sukses buat anda lah…semoga dgn haridnya PLTA Papua bisa keluar dari ketertinggalan….

    Posted by phoerwanto | 28 Agustus 2011, 6:39 pm
  16. moga2 proyeknya terwujud pak DI, biar orang papua nggak buruk sangka terus sama orang di jawa/pusat

    Posted by sasongko | 3 September 2011, 11:06 am
  17. “Banyaknya babi itu pula yang mengakibatkan perjalanan ini lebih berat lagi. Penduduk umumnya membuat pagar batu yang menutup jalan setapak tersebut untuk menghalangi babi merusak tanaman. Tapi, kami bukan babi sehingga selalu mampu melompatinya, meski kadang harus merayapinya. Atau, harus dengan cara menaiki sebatang kayu. Sesekali memerlukan pertolongan orang lain agar pantat bisa terangkat.” Babi-babi diluaran sana malah lebih berat lagi. Terus berjuang Pak DIS!

    Posted by APS | 5 September 2011, 12:58 pm
  18. Alhamdulillahirobil’alamin….

    Posted by Free Energy | 23 September 2011, 6:49 am
  19. Sejak pertama saya membaca tulisan pak dahlan saya sangat suka..mudah dicerna dan tidak ada yg tidak bisa dalam hidupnya..salut saya buat pak dahlan..

    Posted by Yoel anto | 30 September 2011, 10:17 am
  20. H e b a t luar biasa!

    Posted by embun | 18 Oktober 2011, 7:49 pm
  21. Inspiratif….bermakna…lugas….

    Posted by Mujiyanto | 19 Oktober 2011, 12:43 pm
  22. Sebuah blog yg bagus, ijin share tulisannya.

    Posted by ati2008 | 19 Oktober 2011, 2:36 pm
  23. sy suka ma pak dahlan mulai dari smu kelas 2.sangat menginspirasi.ttp semangat pak…..
    umpama di duetin ma pak JK ccok bgt kliatane.sm2 pekerja keras dan taktis

    Posted by arizal | 20 Oktober 2011, 11:42 am
  24. inilah bedanya pak DI dengan para politikus. pak DI menganggap jabatan adalah sarana untuk berbakti kepada sesama, sedangkan politikus menggunakan jabatan untuk mengeruk kekayaan lewat korupsi

    Posted by nurdin | 21 Oktober 2011, 1:31 pm
  25. mungkin kalo dibuat buku setebal 1000 halaman, tulisan Pak DIS pasti akan ‘laku keras’. seperti ‘penggambaran kemajuan negara Cina’ di JP, sangat memukau cara penulisannya.
    Pak DIS, meski sudah jadi menteri BUMN, jangan lupa membagikan ceritanya ke kami sebagai ‘penggemar tulisan’ bapak. Maju terus, pantang mundur, panjang umur.
    semoga selalu diberi kekuatan, kesehatan dalam menjalankan semua tugas.
    Amiiin YRA

    Posted by sulthony | 22 Oktober 2011, 4:09 pm
  26. sunguh luar biasa pak. merupakan sebuah spirit bagi kami untuk melihat Papua lebih dekat. Kami kagum dengan anda meskipun dalam keadaan sakit anda berusaha untuk memberikan sesuatu yang indah bagi teman-teman di sana.

    Posted by Misbah Mustafa | 25 Oktober 2011, 1:15 am
  27. Maaf, saya mencuri bacaan disini… beberapa tidak sempat sy nikmati di koran…begitu inspiratif dan membaca serasa “menari”.. salam buat yg sudi mengkliping tulisan DIS disini…

    Posted by yudy | 26 Oktober 2011, 12:27 am
  28. kehabisan kata-kata saya,,,bodohnya kenapa baru sekarang membaca tulisan bapak….papua ku damai lah…

    Posted by FikriHadi | 26 Oktober 2011, 8:13 pm
  29. setiap membaca tulisan pak dis,,,saya selalu berdoa,,,semoga pak dis selalu di beri dan di jaga kesehatan’ny oleh Allah SWT…di negeri ini hanya pak dis dan beberapa segelintir tokoh yg saya kagumi…kalo saja bnyak pejabat2 negara yg mau turun naik gunung seperti pak dis,,niscaya mereka akan bnyak melihat ketimpangan2 yg terjadi selama ini…pak dis,,saya rasa hanya pak dis pejabat negara yang berpikir paling waras diantara bnyak pejabat2 negara yg selalu mmentingkan kpentingan pribadi dan kelompok’ny.mau bekerja keras tanpa memperhitungkan keselamatan dan kesehatan pak dis sendiri..semoga Allah selalu memebri kekuatan kpada pak dis dalam mengemban amanah baru………bravo pak dis….doa dari kami rakyat indonesia yg masih mempunyai mimpi dan setitik harapan baru kami panjatkan dalam menyertai tugas dan amanah bapak.Amiennn

    Posted by bagus iswahyudi | 2 November 2011, 9:08 am
  30. semoga pembangunan PLTA di Wamena bisa terlaksana dan tanpa merusak keindahan alamnya. Semoga kita sebagai bangsa Indonesia bisa lebih menjaga perdamaian di Papua dan daerah lain di Indonesia.Semoga Pak DIS diberi kesehatan selalu & diberi kekuatan untuk terus membenahi Indonesia….

    Posted by Bambang D | 16 November 2011, 10:02 am
  31. mungkin saya sudah terlalu terlena dengan kemapanan ini…malu rasanya membaca tulisan bapak..

    Posted by handi | 20 November 2011, 11:52 am
  32. Assalamualaikum wr wb
    Berbakti dan berguna bagi orang lain, sudah bukan lagi omongan bapak, tp sdh bapak lakukan.
    Saya ingin belajar banyak,,,salah satunya, bagaimana timbulnya gagasan setelah melihat sesuatu….
    Dengan tulisan bapak sudah bisa mengajarkan itu,,,,tapi kalo boleh ditambah dengan gambar (foto apa yang bapak lihat ),,,insyaalloh bisa mengajar lebih banyak,,,,
    semoga Alloh menjaga bapak dari niat lain selain keikhlasan

    Posted by Ainur Rofiq | 5 Desember 2011, 8:47 pm
  33. Terkutuklah para pemimpin, baik pemimpin negeri atau pun pemimpin instansi yang tidak amanah dengan apa yang dipimpinnya. Kalau setiap pemimpin mau terjun langsung ke lapangan dan tidak hanya mengandalkan informasi anak buah (yang belum tentu dapat dipercaya karena bisa jadi itupun hasil laporan dari anak buahnya anak buah dst…)!!

    Dedikasi dan ketulusan yang tinggi, menebarkan kasih sayang dan semangat pada orang sekitar. Energi positif ini yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mendapat amanah sebagai pemimpin. Ya Allah, berilah kesehatan, dan keteguhan iman pada Pak Dahlan Iskan dan semua pemimpin di negeri ini…..

    Posted by nunukendahsrimulyani | 10 Desember 2011, 12:30 am
  34. Pak semoga bisa memimpin indonesia berikutnya!

    Posted by rafif | 20 Desember 2011, 8:43 pm
  35. Dahlan for RI one

    Posted by doni | 23 Desember 2011, 3:54 pm
  36. Semoga Tuhan selalu memberi kesehatan dan kekuatan pada bapak, seandainya Indonesia diberi pimpinan
    yang seperti Pak Dahlan semua, pasti negeri ini sejahtera.
    Saya betul2 terinspirasi dengan langkah Pak Dahlan.
    Semoga bisa memimpin Indonesia.

    Posted by mama | 31 Desember 2011, 4:06 pm
  37. Pak Dis…pemberi kesejukan di tngah gersang nya bangsa ini….

    Posted by Hatta Manik | 9 Mei 2012, 3:58 pm
  38. Sepertinya tak bosan mengulangi membaca tulisan tulisan pak DIS. Pasti banyak yang menunggu dibukukannya Manufacturing Hope nya… bravo!!! semoga Tuhan YME senantiasa memberi perlindungan pada sosok harapan rakyat ini

    Posted by Subur | 1 Agustus 2012, 11:20 pm
  39. kalo di jakarta babi itu punya partai dan LSM yg kerjaannya merusak tatanan moral dan bermasyarakat.. ^ ^

    Posted by Take The Power back | 6 Agustus 2012, 11:15 am
  40. Kepingin bisa nulis seperti Pak Dahlan, tapi ternyata sulit …..

    Posted by wonokairun | 3 Desember 2012, 2:36 pm
  41. saya pernah bekerja di perusahaan yang melakukan maintenance pembangkit listrik ( PLTA , PLTG, dan PLTGU)
    seluruh sumatera, jawa, Sulawesi, dan papua, saya sangat salut dengan kerja keras pak D….semangat
    (kangen pengen balik lagi maintenance pembangkit di Indonesia)….

    Posted by guruh yulianto | 4 Agustus 2014, 2:30 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: