>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, CEO Notes, PLN

Lahirnya Bayi-Bayi Baru dan Mulainya SPPD Berkuota

Lahirnya Bayi-Bayi Baru dan Mulainya SPPD Berkuota

Satu per satu PLTU program 10.000 MW mulai menghasilkan listrik. Jumat malam lalu (27 Mei 2011) satu unit PLTU Lontar (beberapa kilometer sebelah barat Bandara Cengkareng) sudah bisa menghasilkan listrik 216 MW dari kapasitasnya 300 MW.

Memang, seperti umumnya PLTU baru, setelah dua hari dicoba, pembangkit tersebut harus dihentikan dulu beberapa hari karena diketahui ada beberapa bagian yang harus dikoreksi. Koreksi ini tidak serius karena hanya meliputi sensor temperatur di super heater, shoot blower yang temperaturnya terlalu tinggi dan cacat di anti-steam explotion. Tidak seperti di Suralaya-8, yang begitu dites, bagian yang penting gagal fungsi. Meski bulan lalu juga berhasil start kembali, prosesnya sempat menjengkelkan. Sebab, alat yang tidak berfungsi itu harus diganti dengan cara mendatangkan alat baru dari luar negeri.

Yang lebih mengesalkan adalah PLTU di Paiton. Begitu dicoba, trafo step-up-nya terbakar. Penyelesaian PLTU ini harus mundur delapan bulan karena trafo 500 kv-nya harus dibuat lagi di pabriknya di Tiongkok.

Dengan selesainya unit-1 PLTU Lontar, kini sudah delapan unit yang menghasilkan listrik. Total sudah sekitar 3.000 MW dari 10.000 MW yang direncanakan. Kalau saja tidak ada masalah trafo di Paiton, angka itu sudah mencapai 3.600 MW. Sampai akhir tahun ini masih tambah lagi beberapa unit, sehingga mencapai paling tidak 4.500 MW yang selesai.

Kita memang sudah sangat lama menunggu lahirnya bayi listrik di Lontar itu. Hamilnya sudah terlalu lama. Teman-teman PLN bekerja keras setahun terakhir ini untuk menjaga agar bayi PLTU Lontar tidak lahir cacat.

Sejak awal proyek ini memang mengalami hambatan besar. Bahkan, sejak pencarian tanahnya yang harus berpindah-pindah. Ketika kali pertama meninjau proyek ini (tidak lama setelah dilantik menjadi Dirut PLN), saya geleng-geleng kepala. Apalagi waktu itu baru saja hujan. Mobilitas alat, barang, dan pekerja sangatlah lebay. Yang terlihat di sekitar proyek hanyalah kubangan dan lumpur. “Ini proyek horor,” kata saya dalam hati saat itu.

Di tengah-tengah horor itu teman-teman yang menangani proyek ini ternyata tidak kehilangan rasa humornya. “Normalnya proyek PLTU itu dibangun dulu, baru kemudian dilakukan firing (pembakaran untuk menghasilkan uap). Tapi, PLTU Lontar ini firing dulu, baru dibangun,” ujarnya.

Tentu saya tidak mengerti di mana lucunya kalimat itu. Setelah diceritakan kejadiannya, barulah saya tertawa. Ternyata, sebelum proyek ini dimulai, penduduk sekitar sempat marah dan melakukan pembakaran yang menghebohkan. Setelah peristiwa pembakaran itu diatasi, barulah proyek bisa dimulai kembali.

Sebenarnya permukiman penduduk cukup jauh dari proyek ini. Areanya terpisahkan oleh persawahan sejauh kira-kira 2 km. Untuk bisa sampai ke proyek ini pun sulitnya bukan main. Harus menundukkan dulu jalan darurat yang berkubang dan berkubang.

Sepintas proyek ini seperti dibangun di tengah persawahan.Ternyata PLTU Lontar juga dibangun di pinggir pantai. Hanya, pantainya berada nun jauh di 2 km sana. Bisa dibayangkan betapa horornya proyek ini. Betapa sulitnya mengerjakannya. Termasuk betapa beratnya membangun water intake dan water outflow-nya. Maka, sejak awal pun saya memastikan bahwa pembangunannya akan lambat.

Yang bisa dilakukan hanyalah bagaimana agar bayi horor ini tidak lebih lama lagi ngendon di kandungan. Juga bagaimana agar kualitas si bayi bisa lebih baik dibanding yang lahir setahun sebelumnya. Setidaknya, jangan seperti yang di Labuhan yang sampai setahun kemudian pun masih terkena asma.

Kalau benar yang selesai pada 2011 ini kualitasnya lebih baik, tentu itu sebuah prestasi. Begitu ketat mengendalikan proyek sekarang ini. Sampai-sampai berbagai ancaman dikeluarkan. Di PLTU Rembang saya sempat mengancam mengusir kontraktornya. Demikian juga di Suralaya-8, manajer proyek di sana benar-benar mengusir pimpinan proyek yang diangkat kontraktornya.

Henky Heru Basudewo, penanggung jawab proyek-proyek itu di Jawa, sampai menciptakan sistem baru agar bisa mengendalikan anak buahnya 24 jam. HHB, begitu panggilannya, terus menguber para manajer proyek seperti menguber perampok. Begitu ketatnya HHB mengendalikan para manajer, sampai-sampai muncul kesan seolah-olah mereka itu seperti terdakwa. Seolah-olah keterlambatan proyek itu gara-gara mereka. Padahal, mereka baru diterjunkan satu tahun lalu, justru ketika proyek-proyek itu sudah sangat terlambat.

Dengan selesainya proyek-proyek itu satu per satu, tekanan untuk pasokan listrik di Jawa sudah berkurang. Tiga bulan lalu pasokan listrik di Jawa kembali memburuk. Yakni, ketika tiba-tiba air di waduk Saguling, Jabar, menurun drastik. PLN tiba-tiba saja kehilangan 1.300 MW setiap hari. Saat itu mestinya kondisi listrik di Jawa hancur-hancuran. Tapi, berkat kerja keras teman-teman PLN di distribusi, masyarakat tidak terlalu merasakan krisis itu. Kini, kalaupun waduk Saguling kehabisan air lagi, tekanan kekurangan listrik tidak terasa lagi.

Sistem pengendalian proyek itu bisa efektif karena BlackBerry. Semua jajaran proyek harus menggunakan BlackBerry agar bisa berkelompok dalam grup BBM. Maka, seluruh jajaran proyek dikelompokkan dalam grup BBM. Saya dan Dirops Jawa-Bali dianggap kepala proyek juga, sehingga kami berdua dimasukkan ke dalamnya.

Di situlah sesama manajer proyek saling melapor, memberikan saran, jalan keluar, memberikan instruksi, memuji, sewot, ngedumel, dan meringis. Bahkan sekadar melucu, untuk melepas stres. Setiap akhir pekan mereka bertukar lelucon. Kadang leluconnya memakai bahasa Suroboyoan sehingga banyak manajer yang Batak protes tidak bisa ikut tertawa.

Dengan sistem BBM itu, praktis sesama manajer proyek terhubung selama 24 jam. Sejak pukul 05.00 sampai pukul 24.00. BBM biasanya sudah “on” pada pukul 05.00. Mulai saat itu siapa pun sudah boleh mulai mengajukan persoalan yang dihadapi hari itu. Sesekali saya ikut nimbrung.

Saya membayangkan, kalau semua unit di PLN membuat grup seperti itu, alangkah efektifnya organisasi ini. Juga alangkah turunnya SPPD, biaya perjalanan dinas. Apalagi, SPPD memang harus turun pascapuasa SPPD sebulan penuh yang berakhir pada 31 Mei 2011 lalu. Apalagi, kini diberlakukan “kuota SPPD’. Kuota ini diterapkan dengan sistem terkomputer, sehingga begitu kuotanya habis tidak bisa di-klik lagi. (*)

Diskusi

21 thoughts on “Lahirnya Bayi-Bayi Baru dan Mulainya SPPD Berkuota

  1. Efisiensi sgt perlu namun sebaiknya efisiensi dlm hidup pegawai juga diperhatikan Pak. Tiap tahun pegawai PLN yg hidup diperantauan tabungannya habis cuma buat biaya tiket mudik dan bayar kontrakan. Efisiensi pegawai = efisiensi perusahaan, begitupun sebaliknya.

    Posted by piningit | 5 Juni 2011, 11:45 am
    • brenti aja jadi karyawan PLN mas, jualan apa gitu di tanah abang, jadi ga capek mudik. ke monas juga lebih dekat..

      Posted by slalu bersyukur | 6 Juni 2011, 11:19 am
      • Saya bukan ngga setuju efisiensi malah sangat mendukung makanya saya sarankan supaya penempatan pegawai yang kurang tepat yg sumber inefisiensi diminimalkan. SPPD pindah pegawai kan bisa berkurang kl mutasi pegawai dgn berbagai alasan berkurang.

        Pegawai efisien = perusahaan efisien = bangsa efisien (just opini)

        Posted by piningit | 8 Juni 2011, 5:32 pm
    • Orang selalu mengeluh
      saya aja perantaun pegawai swasta perusahaan kecil nyantai aja.tukar tempat sama saya gimana mas?

      Posted by joe | 6 Juni 2011, 11:56 am
    • Klo uda bosen jd pegawai PLN kluar aja, masih banyak pegawai2 baru yang berminat. Pengen kaya jangan di PLN,buka usaha sendiri sana!

      Posted by Smile | 7 Juni 2011, 11:39 am
    • Pak Iskan,
      banyak sekali perubahan semenjak ada pak iskan, semoga semakin maju pln nantinya
      perbaikan internal tentunya diharapkan perbaikan secara menyeluruh, demikian jg dalam hal rekrutment
      jika dalam test awal tidak ada nama peserta, kemudian pada test akhir tiba-tiba muncul namanya mungkin bisa dievaluasi
      perbaikan individu dari lini terbawah hingga tertinggi sangat diperlukan

      Posted by yanti | 17 Juni 2011, 8:31 am
  2. Allahu Akbar…3x Alhamdulillah saya sangat bersyukur mempunyai pejabat spt Bapak Dahlan. Terus berikhtiar pak dan jangan pernah menyerah, karena bayi-bayi horor di negeri ini disebabkan oleh para ortu yang horor. Tetap amanah dan saya selalu memohon kepada Allah utk senantiasa menjaga kesehatan dan melindungi Bpk Dahlan.. Good luck pak🙂

    Posted by Bang Dody | 6 Juni 2011, 11:49 am
  3. Assalamualaikum… alhamdulillah selama ini tulisan Bapak sangat menginspirasi saya dan menjadi referensi TS saya. Semoga Bapak sebagai Pemimpin bisa amanah dan menjadi inspirasi bagi kami para pegawai.. amin…

    Posted by romigumay | 6 Juni 2011, 12:00 pm
  4. Kira-kira, No PIN BB nya Pak Dahlan Iskan berapa ya? hihihi…

    Posted by Dimas Prasetyo | 8 Juni 2011, 4:15 pm
  5. kl mau duitnya utuh jgn cuma jd peg biasa tp jd pejabat. bs pulang pake sppd

    Posted by gudril | 9 Juni 2011, 10:55 am
  6. seandainya mental para pejabat dan pns seperti pak dahlan iskan semua. tp hanya bisa seandainya

    Posted by arif | 11 Juni 2011, 6:33 am
  7. Semoga setelah purna tugas di PLN, Dahlan Iskan bisa pindah ke BUMN lain yg merugi tapi tdk efisien dlm anggaran (ex. Pertamina, KAI, dll). Tapi biasanya cuma bisa semoga aja..😦

    Posted by Bang Dody | 12 Juni 2011, 11:51 pm
  8. PT KAI dululah yg ga ada perubahan dr jaman batu

    Posted by gudril | 13 Juni 2011, 10:57 am
  9. Pak Dahlan ojo lali bayinya terjaga kesehatannya dan dalam menjaga tersebut perlu pembinaan lebih konkrit dan lebih kreatif bagi para “baby sitter”……kelemahan PLN belum konsisten tertib sistem (segala hal…pemeliharaan, anggaran dsb), dan dalam menghadapi progaram WCS perlu mengubah kebiasaan menjadi budaya melayani dengan keikhlasan hati…baik internal maupun external….juga budaya gak enak hati……., …..gak enak hati jadi dokter spesialis SPPD….

    Posted by Bobby S. Hendrawan | 16 Juni 2011, 11:03 am
  10. Alhamdulillah, smoga PLTU lontar handal terutama dari peralatannya. karena saya yakin dari sisi SDM-nya sangat mampu. karena banyak rekan2 dari UBP suralaya yang pindah tugas ke Lontar. Salam sukses

    Posted by saifurrijal | 16 Juni 2011, 9:59 pm
  11. Rumahku yg deket paiton gak tau knapa pltu baru belum operasi, ternyata begitu toh. Kadang sering qt memandang negatif suatu hal hanya karena gak tau permasalahan. Selalu sehat pak dis, biar ide2 cemerlangnya selalu bisa terus dan teruuuuuus muncul dan diaplikasikan. Bravo pak dis….

    Posted by syaif | 28 Juni 2011, 7:29 am
  12. setiap perubahan sistem pasti ada resistensi. maju terus pak Dahlan Iskan…

    Posted by zainuri | 4 Juli 2011, 9:07 am
  13. bbm memang mantap untuk dipakai koordinasi tim

    Posted by eve | 12 Juli 2012, 6:51 pm
  14. Jangan membenci mereka yang mengatakan hal buruk tuk menjatuhkanmu karena merekalah yang buatmu semakin kuat setiap hari.

    Posted by EKO ZAKIYANTO | 7 Juli 2014, 10:15 pm
  15. Cintai apapun yang akan kamu lakukan hari ini kerena tidak ada yang menarik jika kamu tidak tertarik

    Posted by DESTRI LIANA MALSIA HUTABARAT | 11 Februari 2015, 3:46 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: