>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, CEO Notes, Ke Iran setelah 30 Tahun Diembargo Amerika, PLN

Kuasai Teknologi Pembangkit Canggih saat Kepepet

Jum’at, 06 Mei 2011
Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan mendapatkan gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk melihat kemungkinan mengimpor gas dari Negara Para Mullah ini.Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. Tapi, hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus-menerus. Kalau awal 2010 PLN masih mendapatkan jatah gas 1.100 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day atau juta standar metrik kaki kubik per hari), saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 MMSCFD. Perjuangan untuk mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil belakangan redup kembali.Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana, baru dari sana dijual ke PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal, PLN memerlukan 1,5 juta MMSCFD gas. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu, penghematannya bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya menggiurkan siapa pun.Maka, saya memutuskan ke Iran. Apalagi, upaya mengatasi krisis listrik sudah berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai bulan depan. Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak 1980-an diisolasi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi.

Sumber pemborosan terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang “salah makan”. Sekitar 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas sudah puluhan tahun diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan itulah yang membuat kembung perut PLN selama ini.

Kebetulan Iran memang sedang memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran sedang membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah di pantai Teluk Parsi. Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi” Bukankah Iran sudah 30 tahun lebih dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dari seluruh dunia” Bukankah begitu banyak yang meragukan Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG besar-besaran?

Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski Asaleuyah kota kecil, ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil, tapi cukup baik. Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal, seperti Aseman Air, terbang ke sana.

Itulah kota yang memang baru saja berkembang dengan pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri minyak, gas, dan petrokimia. Beratus-ratus hektare tanah di sepanjang pantai itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia, dan instalasi pembuatan LNG.

Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu pada saat Iran sedang diisolasi oleh dunia Barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya akan selesai dua tahun lagi.

Memang, kalau saja Iran tidak diembargo, proyek-proyek itu pasti bisa lebih cepat. Namun, Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas, barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet, biasanya memang banyak akalnya. Asal tidak mudah menyerah.

Demikian juga, Iran. Bahkan, untuk memenuhi keperluan listrik untuk industri petrokimia itu, Iran akhirnya bisa membuat pembangkit sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit listrik: turbin. Maka, Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.

Kemampuan membuat pembangkit listrik itu pun semula agak saya ragukan. Belum pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik secara utuh. Karena itu, setelah meninjau proyek LNG, saya minta diantar ke pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya.

Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, tetapi juga membuat keseluruhannya. Bahkan, sudah mampu membuat blade-blade turbin sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa meningkatkan efisiensi turbin. Baru sepuluh tahun Iran menekuni alih teknologi pembangkit listrik itu.

Sekarang Iran sudah memproduksi 225 unit turbin dari berbagai ukuran. Mulai 25 MW hingga 167 MW. Bahkan, Iran sudah mulai mengekspor turbin  ke Lebanon, Syria, dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran merayakan produksi blade-nya yang ke-80.000 unit!

Kesimpulan saya: inilah negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan meninjau semua proses produksinya. Mulai A hingga Z. Termasuk memasuki laboratorium metalurginya. Dengan kemampuannya itu, untuk urusan listrik, Iran bisa mandiri.

Bahkan, untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik yang lama, Iran tidak bergantung lagi kepada pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemens lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawat sendiri. Iran sudah bisa memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemens dan GE. Bahkan, mereka sudah dipercaya Siemens untuk memasok ke negara lain. “Anak perusahaan kami sanggup memelihara pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan menggunakan suku cadang dari sini,” kata manajer di situ.

Pabrik tersebut memiliki 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang pemeliharaan dan operasi pembangkitan.

Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas satu buatan Eropa: Italia, Jerman, Swiss, dan seterusnya. Saya juga tidak habis pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin itu bisa mendapatkan lisensi dari Siemens.

Rupanya, meski membenci Amerika dan sekutunya, Iran tidak sampai membenci produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. Itu jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan, Coca-Cola dijual secara luas di Iran. Demikian juga, Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada, dan seterusnya.

Intinya: dengan diembargo Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran kepepet, bangkit, dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin, apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang semula menjadi ketergantungannya.

Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai pengembangan bandara di mana-mana, pembangunan jalan laying, hingga ke industri dasar. Tidak ketinggalan pula industri mobil.

Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap gempita seperti Tiongkok, tapi tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan enam persen tahun ini. Mulai meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun pertama sanksi ekonomi diberlakukan. “Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta mobil setahun,” ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran. (bersambung)

Dahlan Iskan
CEO PLN

Diskusi

20 thoughts on “Kuasai Teknologi Pembangkit Canggih saat Kepepet

  1. Pak sudah baca berita ini :
    http://www.detikfinance.com/read/2011/05/06/150532/1634067/1034/kisah-sambungan-listrik-seharga-rp-65-juta?f9911023

    pelanggan menggunakan calo karena permintaan sambungan listrik tidak digubris oleh PLN.

    Posted by iwan | 6 Mei 2011, 4:03 pm
  2. Ayo Pak, jangan ragu-ragu untuk kerja sama alih teknologi dan membeli turbin dari Iran saja, pasti reliability jauh lebih baik dari turbin Cina yang sering ngadat.

    Posted by FRS | 6 Mei 2011, 5:00 pm
  3. Semoga PLN di pimpin Bpk. Dahlan bisa berkembang. Saya doakan bapak selalu di berikan kesehatan yang berlimpah semoga tugas2 yg berat dapat berjalan dengan lancar, amin.

    Posted by Yudhi | 7 Mei 2011, 2:40 pm
  4. Hebat euy..Negara Iran dpt eksis justru pada saat di embargo..mestinya negara kita juga jangan takut dgn embargo ekonomi negara2 barat..Pak Dahlan kalau dinas keluar negeri benar2 utk belajar dan bermanfaat bagi Indonesia, tdk spt anggota DPR yg hobi jln2 keluar negeri tp tdk jelas hasilnya..Ayo dong para anggota DPR buatlah tulisan di media massa hasil kunjungan anda ke luar negeri, biar rakyat tahu mereka tdk salah pilih, atau memang rakyatnya geblek mau saja milih org yg salah..

    Posted by marco | 8 Mei 2011, 9:20 am
  5. Indonesia gak ketinggalan masalah teknologi generator listrik, saya dah pernah mengalahkan perusahaan iran waktu tender di malaysia, coil yang kami buat lebih unggul dibandingkan coil mereka.
    tender rewinding 100MW di ombilin juga, kita dah kalahkan perusahaan singapura, cina dan eropa. kita kalahkan dengan coil produksi lokal

    Posted by kamal aziz | 8 Mei 2011, 10:48 am
  6. @KamaL Azis, kalo boleh tahu pabrik coil generator di Indonesia di mana? Apakah dibuat mulai dari bahan dasar awal tembaga sampai jadi?

    Posted by frs | 8 Mei 2011, 4:13 pm
    • @FRS untuk material tembaganya kita buat sesuai dengan permintaan customer, bisa yang buatan lokal/dari luar negeri, perusahaan kami membuat mulai dari molding, insulating, installing sampai testing at site. coba masuk ke mesindo-online.net kalau mau melihat pengalaman kita..

      Posted by kamal aziz | 9 Mei 2011, 8:51 am
  7. @ Kamal Azis : alhamdulillah kalau memang teknologi generator listrik kita tdk kalah dgn negara lain, tinggal bapak promosikan saja langsung ke pak dahlan iskan, saya yakin beliau pasti mau menampung produksi bapak dgn harga pantas, karena beliau orang baik, gak tau kalo bawahannya..he..he..

    Posted by marco | 8 Mei 2011, 7:42 pm
  8. kok bisa ya PLN gasnya tidak didukung oleh BUMN lain?? kok pemerintah tidak intervensi lewat perpu atau inpres atau sejenisnya ya?? kok bisa ya gasnya muter – muter dulu sebelum sampai PLN? birokrasi kita tidak punya nasionalisme apa ya?? toh sebenarnya PLN kan juga tidak beli lebih murah to? ini masalah keberpihakan.kenapa ya orang indonesia pikirannya masih banyak yang rumit.kapan kita lebih nasionalis dan sederhana??

    Posted by ahadi | 11 Mei 2011, 9:17 am
  9. Tulisannya sangat inspiratif. Kapan ya Indonesia bisa memproduksi mesin-mesin berat seperti turbin dll.

    Posted by MechanicalBrothers | 11 Mei 2011, 12:14 pm
  10. jangan2 pemerintah tidak mau jual gas pln karena kuatir. kalo gas dikasi murah nantinya malah dijual lagi oleh pln

    Posted by santjang | 13 Mei 2011, 4:44 pm
  11. assalamkm pak dahlan.saya mohon presentase kecenderungan pak dahlan terhadap china diturunkan, selanjutnya dialihkan ke Iran. sebab inspirasi iran sebenarnya jauh lebih dahysat dari China, buktikan

    Posted by ikhwan muhibuddin | 19 Mei 2011, 4:59 pm
  12. Tentu ny keinginan dr kita rakyat Indonesia sebagai bangsa yg mandiri. Bs hemat brp bnyk tuh klo bsa semua ny gk tergantung dr luar. Masak,sampai garam pun masih impor,padahal bayangin brp Km panjang garis pantai se nusantara ini. Pa lg klo bangsa ini bsa mandiri pst ny menarik bnyk tenaga kerja. Bayangin aja,ntar ada jaman ny perusahaan2 di negara ini kesulitan utk proses perekrutan peg baru krn kehabisan calon pegawai gara2 hampir ga ada org2 yg nganggur di negara ini.. ^^.

    Utk PLN,alat2 semua ny produksi dalam negeri,bahan baku jg dr alam sendr n hasil olahan yg dilakukan anak bangsa sndr. Gk hanya PLN,tp semua sektor industri mendapat perhatian. Jd kan ada hubngan timbal balik antara kesemua ny ,dgn perusahaan BUMN sebesar PLN menjadikan industri2 kecil ini jg berkembang,spt dgn pak @KamalAzis. Perlahan,tp pasti semua berjalan menuju kemandirian.

    Pak Dahlan,klo PLN uda baik,selanjutny jd Pirut Pertamina ya pak… ^^

    Ato klo gk jd,harapan kami..
    Pak Dahlan Iskan for President 2014
    😀

    Posted by SabunKun | 21 Mei 2011, 2:57 am
  13. Bagaimana dengan sumber energi alternatif, semisal penggunaan panas matahari. Selama ini penggunan panas matahari untuk sumber energi kurang begitu populer di masyarakat dikarenan harga cell surya yg masih mahal.

    Bisakah PLN bekerja sama dengan Menristek semisal untuk membikin cell surya yg bisa dijangkau oleh masyarakat luas..khususnya masyarakat yg saat ini belum terjangkau jaringan PLN di pelosok2 negeri

    Posted by Baron | 25 Mei 2011, 8:27 am
  14. Hebat – Iran sudah mampu merawat sendiri mesin mesin GE – apakah Iran sudah mampu membuat pengganti mesin mesin GE – khususnya utk fasilitas Pendinginan LNG ? GE masih mendominasi mesin turbin utk pendinginan LNG di Indonesia.

    Sedih sekali -bahwa PLN tak mendapatkan pasokan gas yang hanya less theb 1100 MMSCFD – sementara kita memasok gas utk LNG plant diatas jumlah tersebut

    Posted by yuniar | 28 Mei 2011, 2:36 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Syiah Sesat? Ini Kata Ustad Kampung | indonesiadamaibersatu - 26 Februari 2014

  2. Ping-balik: Iran-kah Bangsa Yang Dijanjikan Tuhan Dalam Surat Muhammad ? | Syiah Kafir - 3 September 2015

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: