>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, CEO Notes, PLN

Geotermal; Gara-gara Nila Setitik Jangan Rusak Susu Se-Malinda

Dimulai oleh Aceh, Selanjutnya Tinggal Kopi

Senin, 11 April 2011

Akhirnya ketemu juga cara terbaik untuk mempercepat proses dimulainya pembangunan “geotermal. Indonesia begitu kaya dengan geotermal yang bisa dipergunakan untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), tetapi begitu kecil yang sudah dimanfaatkan. Luar biasa besarnya kendala untuk membangun PLTP itu.

Yang lucu, kesulitan itu terjadi bukan pada cara mengerjakan proyek geotermalnya, melainkan pengurusannya. Prosesnya begitu ruwet sehingga potensi geotermal praktis tersandera oleh birokrasi itu.

Sudah banyak seminar, rapat kerja, dan surat keputusan dibuat, tetapi belum juga menemukan cara yang terbaik. Lebih tepatnya, belum juga ada keberanian untuk memutuskan cara terbaik itu yang dipilih. Kemudian, terbetik kabar dari Aceh. “Cara Aceh” saya yakini menjadi yang terbaik sehingga apa salahnya diterapkan di seluruh Indonesia. Please, bapak-bapak yang berwenang, putuskanlah!

“Cara Aceh” segera dilaksanakan Pemda Aceh untuk membangun PLTP Seulawah, yang potensi listriknya hingga 200 MW. Tendernya berlangsung sekarang ini. Cara itu sebaiknya menjadi koreksi total atas proses pengadaan geotermal yang berlaku sekarang, yang ruwet itu.

Kita tidak perlu malu belajar dari Aceh. Tidak perlu sungkan meniru apa yang ditemukan dan dilakukan Pemda Aceh itu. Saya tidak tahu siapa penemu ide tersebut. Yang jelas, Pemda Aceh berani mulai menerapkannya. Kata “berani” itu harus ditekankan karena sering banyak ide baru yang baik, tapi belum tentu ada yang berani menerapkannya.

Inti dari cara baru model Aceh itu adalah tersedianya pihak yang menyiapkan dana khusus untuk melakukan pengeboran eksplorasi satu sumur. Dana itu sebesar USD 7,5 juta atau sekitar Rp 70 miliar. Dari pengeboran ini akan diketahui secara pasti apakah di wilayah itu ada-sumber panas bumi atau tidak.

Maklum, belum tentu satu wilayah yang sudah ditetapkan sebagai wilayah panas bumi benar-benar bisa menghasilkan panas bumi. Perlu pengeboran satu sumur dengan biaya Rp 70 miliar untuk memastikan itu.

Memang ketika pemerintah menetapkan di mana saja ada potensi panas bumi sudah terlebih dahulu melakukan kajian geologis. Tetapi, kajian itu bersifat teoretis berdasar hitungan-hitungan geologis yang ada. Tidak jarang wilayah yang sudah ditetapkan memiliki potensi panas bumi itu setelah dilakukan pengeboran eksplorasi ternyata bodong.

Itulah sebabnya proyek geotermal mengandung risiko yang tinggi bagi investor. Ada unsur ketidakpastian. Ada risiko yang besar. Para investor maunya mentransfer risiko itu ke PLN dalam wujud permintaan tarif listrik yang tinggi. PLN yang tidak bisa menjual listrik ke masyarakat dengan harga tinggi tentu keberatan menerima transfer risiko itu. Akibatnya, proyek geotermal tidak seperti lipstick yang muter-muter di Bibir Mer, tapi hanya muter-muter seperti susur (sekepal tembakau rajang) di bibir nenek tua.

Problem “muter-muter” itu akan hilang dengan sendirinya kalau “cara Aceh” dilaksanakan di seluruh Indonesia. Dengan model Aceh tersebut, investor tidak menanggung risiko yang besar. Biaya pengeboran eksplorasi tersebut tidak menggunakan uang sendiri, melainkan menggunakan dana pihak lain. Pihak lain itulah yang menanggung risiko. Kalau gagal, uangnya hilang. Kalau berhasil, dia memperoleh sejumlah saham di usaha geotermal tersebut.

“Lembaga lain” dalam kasus Seulawah, Aceh,  kebetulan adalah sebuah lembaga di Jerman. Lembaga itulah yang menyediakan dana USD 7,5 juta tersebut dalam bentuk hibah ke Pemda Aceh. Tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain kecuali untuk melakukan drilling eksplorasi geotermal Seulawah. Kalau pengeboran itu gagal menemukan panas bumi, Pemda Aceh tidak menikmati apa-apa dari hibah tersebut. Tetapi, kalau ternyata berhasil, Pemda Aceh akan memiliki sejumlah saham di usaha geotermal tersebut.

Berdasar kesepakatan seperti itu, Pemda Aceh melakukan lelang geotermal Seulawah. Investor sangat antusias mengikuti lelang itu karena sudah tahu risikonya kecil. Mereka tahu siapa pun yang memenangi lelang tersebut bakal mendapatkan dana USD 7,5 juta untuk melakukan pengeboran eksplorasi plus kewajiban menggandeng Pemda Aceh sebagai pemegang saham. Kalau eksplorasi itu berhasil, barulah investor yang memenangi tender melakukan pengeboran-pengeboran lanjutan untuk mendapatkan uap panas bumi untuk pembangkit listrik.

Model itu juga bisa membuat persaingan lebih baik, dalam arti pemerintah bisa mendapatkan sumber listrik lebih murah. Tiadanya risiko yang besar di investor membuat investor berani menawarkan harga lebih rendah pada saat lelang.

Yang lebih penting lagi, proyek geotermal tersebut akan bisa lebih cepat dikerjakan. Itu bakal sangat berbeda dengan lelang-lelang geotermal yang berlaku di seluruh Indonesia selama ini. Pemda selama ini melelang geotermal dengan data yang masih penuh dengan risiko. Akibatnya, pemenang lelang tidak bisa segera mengerjakan proyeknya. Mengapa?

Pertama, investor tidak akan berani mempertaruhkan dana Rp 70 miliar hanya untuk “berjudi” melakukan pengeboran eksplorasi. Siapa orang yang mau membiayai pengeboran semahal itu tanpa ada kepastian hasilnya?

Kedua, pemenang lelang mengalami kesulitan untuk mencari dana pinjaman. Sangat sulit mengharapkan lembaga keuangan memberikan kredit kepada usaha yang tingkat ketidakpastiannya begitu tinggi.

Dua hal itulah yang sebenarnya menjadi inti dari persoalan mengapa proyek-proyek geotermal berjalan amat lambat. Kesan bahwa PLN ogah-ogahan membeli listrik dari geotermal memang ada benarnya, tapi juga sengaja dibesar-besarkan untuk menutupi kesulitan-kesulitan dalam memulai proyek itu.

Soal harga hanyalah satu di antara 32 masalah yang harus dinegosiasikan. Tetapi, kesan selama ini hanya harga yang menentukan. Padahal, faktor harga hanyalah satu titik nila. Buktinya, banyak kasus PLN sudah menyetujui harga, tetapi tidak juga bisa segera deal. Geotermal Sarulla di Sumut itu, misalnya. PLN sudah menyetujui harganya hampir setahun yang lalu.
Hingga hari ini, perjanjian jual-beli listriknya belum bisa ditandatangani. Masih ada saja keinginan investor yang diajukan ke pemerintah. Maka, bagi PLN, soal harga listrik geotermal telah menjadi noda yang menimpa citranya. Harga listrik geotermal bagi PLN ibarat “gara-gara nila setitik rusaklah susu se- Malinda”.

Tentu tidak mungkin kita mengharapkan lembaga Jerman itu memberikan hibah ke semua pemda yang memiliki potensi geotermal. Bahwa Jerman mau memberikan hibah kepada Aceh, itu dilakukan karena unsur Acehnya. Mungkin pintar-pintarnya gubernur Aceh mencari partner.

Lalu, siapa yang sebaiknya menjadi “Jermannya” untuk semua ladang geotermal se-Indonesia?

Tidak ada lain kecuali pemerintah Republik Indonesia. Alasannya jelas: pemerintah sudah menetapkan tujuan pembangunan yang mengutamakan green energy. Pemerintah juga sudah menargetkan harus memiliki listrik dari geotermal sebesar 4.000 MW pada 2014. Kalau target itu terwujud, Indonesia memang akan berkibar ke seluruh dunia. Indonesia-lah negara terbesar di dunia yang menggunakan geotermal!

Hingga hari ini, listrik geotermal Indonesia baru mencapai 1.050 MW. Baru 25 persen dari target. Saya bisa memastikan tidak mungkin target 2014 tersebut dicapai tanpa ada terobosan yang radikal. Terobosan itu kini sudah ada. Dimulai oleh Aceh. Kita tinggal meng-copy saja. Kalau tidak, proyek-proyek geotermal di Indonesia hanya akan menjadi Sarulla-Sarulla berikutnya. Bahkan, lebih buruk daripada itu.

Untuk meniru “cara Aceh” itu memang perlu anggaran negara. Tetapi, nilai rupiahnya tidak besar-besar amat. Katakanlah tahun ini kita akan memprioritaskan 25 PLTP. Maka, dana yang perlu disiapkan adalah USD 187,5 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun. Sama dengan biaya membangun satu gedung baru di DPR.

Dana tersebut mungkin bisa disediakan dalam dua tahun sehingga setahun perlu hanya sekitar Rp 750 miliar. Dana itu juga tidak akan hilang. Katakanlah seperempatnya akan gagal. Masih ada – yang berhasil. Dari yang berhasil itu, pemerintah bisa mendapatkan hak sahamnya. Nilai saham itu bisa lebih tinggi daripada dana yang sudah dikeluarkan sehingga pemerintah juga bisa mendapatkan gain.

Dengan demikian, potensi geotermal yang mencapai 29.000 MW yang baru bisa dimanfaatkan 1.050 MW itu akan menjadi kenyataan. Angka 29.000 MW itu sendiri berlebihan. Yang realistis mungkin hanya 15.000 MW, tapi bahwa yang benar-benar menghasilkan listrik baru 1.050 MW adalah keterlaluan.

Begitulah. Mungkin dengan cara itu memang masih akan ada nila, tapi tidak akan sampai bisa merusak susu se-Malinda! (*)

Dahlan Iskan
CEO PLN

Diskusi

37 thoughts on “Geotermal; Gara-gara Nila Setitik Jangan Rusak Susu Se-Malinda

  1. Semoga bayak pejabat pemerintahan yang baca tulisan pak dahlan BIAR MEREKA TAU MANA POLITIK MANA KERJA…. Maju terus pak dis!!!!!!!!!!

    Posted by Kresnayana | 11 April 2011, 8:11 pm
  2. Setiap usaha pemanfaatan hasil alam (natural resources) yg dapat diangkut keluar (ekspor), selalu saja akan ramai investasi. Geothermal tidak dapat dieksport, sehingga tidak ada investor yang masuk.
    Gas sebelum ada teknologi LNG juga ngga laku, setelah ada teknologi “pengangkut” gas dalam bentuk cair (LNG), barulah gas dieksplotasi habis-habisan. Ingat sebelum arun dibangun, gas yang ada di sumatera hanya dibakar. Saat ini gas punya “harga” karena laku dijual keluar.
    Kalau saja ada teknologi “mengangkut” listrik ke luar negeri, maka investasi geothermal akan laku keras di Indonesia. Tapi masih untuk keperluan di luar, bukan untuk memenuhi kebutuhan energi DN.
    Salam
    http://rovicky.wordpress.com/?s=geothermal

    Posted by Rovicky | 11 April 2011, 9:47 pm
  3. moga moga aja gak terulang lagi hal yang memalukan perbankan indonesia lagi heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeem

    Posted by rrian | 11 April 2011, 11:52 pm
  4. dengan SDA yang lebih dari cukup, renewable energy sangat potensial di Indonesia dan cukup utk memenuhi kebutuhan listrik pelanggan. Maju terus PLN dg renewable energy!
    Salam
    Ayub

    Posted by Ayub | 12 April 2011, 4:37 am
  5. Pemerintah sebagai organisasi yang PADAT MODAL DAN PADAT KARYA haruslah dipaksa dengan berbagai cara untuk melakukan apapun yang menjadi kewajibannya..

    Posted by andihendra | 12 April 2011, 8:06 am
  6. smoga tulisan ini bisa menjadi pencerahan bagi para pelaku birokrasi disana

    Posted by Varian Aditya | 12 April 2011, 8:23 am
  7. kenapa harus aceh????

    Posted by fenyot | 12 April 2011, 4:19 pm
  8. Wah kalau top pimpinan kita berfikir kreatif negara kita akan makmur

    Posted by Fajar | 12 April 2011, 8:16 pm
  9. harusnya para anggota dpr “yang terhormat” itu mau dengan pak Dahlan Iskan

    Posted by arif | 13 April 2011, 6:39 am
  10. Tulisan Pak Dahlan memang bagus lagi menghanyutkan. Dan jangan jangan sebenarnya hanya upaya upaya untuk menarik simpati khalayak ramai agar PLN ini dipandang, wow…, benar benar mantap. Padahal, naudzubillah. hehehe

    Posted by Kallolo | 13 April 2011, 5:37 pm
    • tulisannya memang bagus, dan tentunya antara pikiran dan tindakan harusnya ga jauh, tapi apa daya, tidak punya kuasa lebih untuk memperlancar implementasi ide

      Posted by dul | 14 April 2011, 11:15 am
  11. “Daya tarik tulisan Dahlan Iskan memang luar biasa,”
    Ketika pak Boss mengupas masalah ini, semua persoalan jadi terang bendrang.
    semua persoalan besar menjadi simple.

    Wislah, ojo lali nulis terus,penggemare akeh..🙂

    Posted by hsastraw | 13 April 2011, 6:35 pm
  12. talk less do more…hidup pak dahlan

    Posted by wawan | 14 April 2011, 3:05 pm
  13. mari berdo’a semoga pak DIS tidak dizholimi oleh orang2 yang tidak mendapatkan keuntungan dari kerja keras pak DIS. Pak DIS jangan ikut2 korupsi ya !!!!

    Posted by Mila | 15 April 2011, 9:08 pm
    • Sedikit nyimpang juga gak apa, biar gak terlalu ‘putih’.. khawatirnya bila terlalu putih Tuhan akan sayang. Kata orang tua, orang baik cepat dipanggil Tuhan supaya kebaikannya abadi.. atau ada yang ‘kembaliin paksa’Indonesia lho ?? Contoh Munir dan Baharudin Lopa.

      Namun tetap doa kita bersama diperlukan agar pak DIS bisa awet mengabdi pada bangsa ini, dan tetap berkibar walau didzolimi. Dan. . diredhoi oleh Yang Maha Kuasa. . .Aamiin !

      Posted by barlian.y | 10 Mei 2011, 12:05 pm
  14. tulisan bagus dengan kinerja hebat itulah pak DIS

    Posted by sohib | 16 April 2011, 11:24 am
  15. selamat siang pak sebelumnya saya moho maaf jika kata2 saya terasa agak kasar sebelumnya saya mautanya pak dengan listrik prabayar maudikemanakan petugas baca meter yang ada saatini pak,dengan program bapak kami merasa ada acaman terhadap kami bahkan kami menyikapi dengan pembunuhan yang terncana dan secara berlahan tapi pasti terhadap kelangsungan hidup kami dan pendapatan kami pak mungkin ucapan saya ini kasar pak karena ketidak tauan kami akan plening bapak mau dibawa kemana kami ini nanti

    Posted by sugeng riyadi | 18 April 2011, 2:04 pm
    • Salam kenal Pak Sugeng…
      Perubahan dan perkembangan PLN sudah begitu cepat…anda harus bisa mengikuti perubahan itu, dan bahkan kalau bisa mempersiapkan diri jauh melebihi kecepatan perubahan itu. Sangat tidak relevan kalau zaman sudah semodern ini anda masih enjoy dengan sistem manual. Sebagai orang internal PLN anda harus bangga atas kemajuan yang dicapai PLN, meskipun dampak kemajuan itu “nafkah” anda terancam. Jangan pernah menyalahkan perubahan jika sebenarnya diri kita yang “loyo” beradaptasi dengan perubahan itu. Ayo semangat untuk berubah, menjadi pribadi yang jaul lebih baik. Hari ini harus lebih baik dari kemaren, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini, itu mottonya. Kalau bapak bisa berprestasi seperti Pak DIS pasti anda juga berkesempatan jadi CEO PLN. ini bukan hal yang mustahal!

      Posted by pendukungPLN | 20 April 2011, 8:18 pm
      • salam kenal juga pak memang benar pak apa yang menjadi saran bapak akan tetapi semua itu kami harus memerlukan suatu araqhan yang nantinya tidak membuat kami kebingungan karena apa yang selama ini kami alami kami dilepaskan seperti kuda liar tanpa adanya suatu arahan harus dibawah kemana kami dan yang saya rasakan selama ini kami hanya melakukan dan dituntut untuk melakukan pekerjaan secarabenar dan membaca secara benar tapi tidak pernah diarah kan untuk kearah kemoderenan seperti ini dan di saat ini terjadi itu seakan akan harus dan mau tidak mau harus kita terima seherus nya dari perusahan yang berkelas setidak nya meberikan solosi bagaimana dan gimana kita harus bertindak untuk menghadapi kemajuan ini setidanya kami mengujapkan terima kasih pak atas saran dan komonikasinya ini semoga komunikasi ini menjadi jebatan yang baik diantara kita di duni dan akirat amain

        Posted by sugeng riyadi | 23 April 2011, 9:53 pm
      • selamat pagi pak sayatunggu jawabanya mana…..pak biar kami punya gambaran apa yang harus kami lakukan dan akan kami bawa kemana teman teman kami

        Posted by sugeng riyadi | 26 April 2011, 7:54 am
  16. salam,….P.Dahlan,……sy do’akan semoga sehat selalu dan tetap dalam lindungan Allah SWT.

    Posted by agung purnomo | 19 April 2011, 9:05 pm
  17. Pak Dahlan,

    Saya suka gaya tulisan anda, sangat bagus. Gamblang, mudah dicerna, dan menggelitik, sehingga menarik pembacanya untuk terus membaca sampai selesai.

    Senang, kalau Pak Dahlan mau berbagi “ilmu” gaya menulis ini.

    Salam,
    Virja Dharma Gita

    Posted by Virja Dharma Gita | 22 April 2011, 3:40 pm
  18. insaallah saya faham pak akan tetapi dengan kemajuan jaman yang seprti ini apakah kami harus mengambil langkah untu menuju sertifikasi dan kopetensi sehingga bisa mendapat dayasaing dan nilai jual terhadap kinerja kami dan tuntutan yang akan berkembang kearah yang sesuai dengan perkembangan jaman yang kemungkinan pln akan diarah kan kedalam kemajuan sistem yang ada dan seperti yang bapak bilang tidak menuntut kemungkinan saya bisa menjadi salah satu CEO PLN nantinya dan bagai mana caranya kami bisa mengambil arah itu tolong kami dibibing demi kemajuan kami nantinya .!!!dan setidanya kami di arah kan demi kebaikan salam sukses dari saya pak

    Posted by sugeng riyadi | 23 April 2011, 9:01 pm
  19. wah tulisannya bagus, meskipun sudah menjadi dirut PLN tetap aktif ngeblog. hehehe. jarang ada yg seperti ini

    Posted by Pandu Aji Wirawan | 26 April 2011, 12:28 pm
  20. Salam Pak Dahlan. Saya orang Kaltim, berharap smoga ada yang mengusung “Pak Dahlan Iskan for President”.

    Posted by qosim | 26 April 2011, 2:18 pm
  21. selamat pagi pak… gimana dengan pertanyaan saya pak?…sampai sekarang belum ada jawa ban karena ini akan menjadi tolak ukur kami akan kedepanya nanti apakah pemerintah masih memikirkan kami anak bangsa ini atau sebaliknya meraka akan memikirkan keuntungan sendiri dengan tidak mengindahkan UUD 1945 bawasanya kami berhak untuk mendapatkan kehidupan yang laya kesejahteraan dinegara sendiri jika ini dibawah kearah kapitalis maka tinggal menunggu deti – detik kehancuran peradapan yang pacasilais dengan dasar UUD 1945 bawah bangsa indonesia dibesarkan dengan perjuangan dan rasa sosialis yang tinggi dan mejujung kebersaman diantara pejuang yang telah medahuli kita semua bawasanya bangsa indonesia tidak diperjuangakan dengan jiwa kapitalis tapi dengan semangat kebersaman dan sosialis yang tinggi harappan kami dengan program bapak dahlan ini tidak meninggal kan nilai – nilai leluhur kita semoga semua ini dapat kita renungkan bersama amin

    Posted by sugeng riyadi | 28 April 2011, 7:12 am
    • pak sugeng riyadi….ini bukan blog resmi Pak Dis…jadi jangan harap ada jawaban dari beliau.Ini hanya kumpulan/kliping tulisan beliau di JP yang kemudian ditampilkan dalam blog oleh salah satu penggemar beliau. Silahkan baca “tentang blog ini” diatas utk lebih detail

      Posted by neobi | 28 April 2011, 7:43 am
    • Betul mas sugeng, ini bukan blog beliau. Lagian harus menjawab setiap pertanyaan, kapan bekerjanya. Dari beberapa tulisan beliau, kita bisa simpulkan beberapa kriteria pekerja (bawahan) yang baik, misalnya, suka kerja keras, selalu optimis, berfikir kreatif, jangan pernah mudah menyerah, selalu gunakan akal sehat, jangan melakukan sesuatu dengan standar abs (asal bapak senang). Dan, mungkin masih banyak lagi, dikira-kira sendiri mas. Wassalam.

      Posted by hidayat | 28 April 2011, 10:48 am
      • betul mas hidayat apa yang mas bilang apakah mas mengalami sepwerti apa yang kami alami mungkin iya mungkin tidak oleh karena itu kami tidak meyerah dan oleh karena itu kami harus bisa mencapainya…. apa yang mencadi cita cita kamidemi kesejateran kami dan keluarga kami satuhal yang mas hidayat perlutau pernah mas mengalami gaji turun 50%

        Posted by sugeng riiyadi | 30 April 2011, 8:20 pm
    • Pak Sugeng Riyadi, sepertinya Anda tidak akan menemukan jawaban di sini. Blog ini hanya kumpulan tulisan Pak Dis di media dan disalin orang lain. Silakan coba menghubungi beliau melalui jalur internal PLN.
      Salam sukses!

      Posted by bedul | 28 April 2011, 5:00 pm
    • Salam, Berpikirlah yang luas pak Sugeng, pekejaan lain kan banyak…saya aja jualan pizza juga bisa hidup…

      Posted by pizzarakyatmalang | 28 Mei 2011, 10:03 am
  22. Beberapa waktu belakangan ini saya mengamati sepak terjang Bapak Dahlan Iskan. Dari rekam jejak anda, saya sangat mengagumi anda. Kalau ada buah pemikiran anda, dlam bentuk buku, atau apa saja, Insya Allah saya akan membelinya. Terimakasih.

    Posted by Leo Fernando, SE., Ak | 19 Juni 2011, 4:48 pm
  23. Dalam kesimpulan catatan Pak Dahlan Iskan ini disebutkan sebagai berikut:

    1. “Hingga hari ini, listrik geotermal Indonesia baru mencapai 1.050 MW. Baru 25 persen dari target. Saya bisa memastikan tidak mungkin target 2014 tersebut dicapai tanpa ada terobosan yang radikal. Terobosan itu kini sudah ada. Dimulai oleh Aceh. Kita tinggal meng-copy saja. Kalau tidak, proyek-proyek geotermal di Indonesia hanya akan menjadi Sarulla-Sarulla berikutnya. Bahkan, lebih buruk daripada itu”.

    2. “Untuk meniru “cara Aceh” itu memang perlu anggaran negara. Tetapi, nilai rupiahnya tidak besar-besar amat. Katakanlah tahun ini kita akan memprioritaskan 25 PLTP. Maka, dana yang perlu disiapkan adalah USD 187,5 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun. Sama dengan biaya membangun satu gedung baru di DPR”.

    Kita salut dengan keinginan Pak Dahlan untuk mendorong pengembangan tenaga listrik panas bumi. Hal ini sangat penting; tanpa dukungan PLN, Panas Bumi tidak bisa berkembang, karena PLN lah satu satunya pembeli hasil listrik panas bumi. Karena itu Pak Dahlan sebagai pembuat keputusan puncak perlu mendapatkan informasi yang benar tentang proses dan investasi yang diperlukan untuk pengembangan panas bumi yang meliputi Eksplorasi, Pengembangan/ Konstruksi dan Operasi. Tanpa informasi dan pemahaman yang benar dikhwatirkan pak Dahlan akan membuat kesimpulan dan keputusan yang salah. Karena itu kami merasa bertanggung jawab untuk sharing informasi agar pak Dahlan mendapatkan informasi yg benar.

    Di dalam tulisan tersebut disimpulkan bahwa dengan dana USD 7,5 juta, cukup untuk membiayai kegiatan eksplorasi untuk suatu proyek panas bumi dan sudah cukup untuk menghilangkan resiko eksplorasi yang ditakuti investor. Ini merupakan asumsi yang sangat keliru tentang kegiatan eksplorasi panas bumi. Kita tidak bisa berbuat banyak dengan menggunakan dana ‘hanya’ USD 7,5 juta untuk melaksanakan kegiatan eksplorasi panas bumi.

    Tujuan kegiatan eksplorasi adalah memastikan adanya cadangan terbukti panas bumi di wilayah/proyek panas bumi. Memang angka USD 7,5 juta adalah kira-kira sebesar biaya pemboran satu sumur. Tapi kegiatan eksplorasi bukanlah hanya pemboran satu sumur saja (Mustinya Pak Dahlan juga bisa mengetahui dari data pemboran PLN Geothermal di Maluku).

    Berikut kami sampaikan urutan kegiatan eksplorasi dan estimasi biayanya:

    1. Studi G&G ( Geology dan Geophysics termasuk Geochemistry )

    Sebelum kegiatan pemboran dapat dilaksankan harus dilakukan studi G&G terlebih dahulu untuk mengetahui (mapping) ada tidaknya “geothermal system“ di daerah yang akan dieksplorasi dan juga menentukan lokasi pemboran. Biaya yang diperlukan mencapai USD 2-3 juta. Tanpa dilakukan terlebih studi G&G yang komprehensif, maka pemboran eksplorasi tidak akan dapat dilakukan. Jikapun dipaksanakan, dapat dikategorikan suatu kegiatan yang nekat dan sia-sia karena akan berakhir dengan kegagalan. Artinya uang USD 7,5 juta tersebut dipastikan akan terbuang sia-sia dan proyek pengembangan akan gagal, meskipun mungkin sebenarnya terdapat potensi panas bumi di daerah tersebut.

    2. Pekerjaan sipil persiapan eksplorasi.

    Potensi panas bumi umumnya berada di gunung dan di daerah remote (terpencil) dengan topografi yang sulit serta tidak ada infrastuktur yang memadai. Untuk proyek panas bumi di Sumatera misalnya, proyek-proyek panas bumi berada di sisi barat Pulau Sumatera di sepanjang pegunungan Bukit Barisan. Demikian juga topografi yang sulit seperti di daerah Ngebel dan Wilis di Jawa Timur. Tentunya untuk dapat melakukan pemboran di daerah terpencil, diperlukan pembangunan infrastruktur antara lain berupa pembangunan prasarana jalan (termasuk jembatan) akses ke lokasi pemboran berikut pematangan lahan pemboran. Sebagai gambaran, pembangunan jalan (termasuk jembatan) baru tersebut dapat mencapai puluhan kilometer, belum termasuk perbaikan jalan dan jembatan yang ada sehingga peralatan pemboran dapat masuk ke daerah tersebut. Sebelum pemboran di daerah Pertamina Lumut Balai, misalnya, Pertamina harus membuat jalan sepanjang 60 km.

    Biaya untuk pembangunan prasarana ini bisa mencapai USD 20-35 juta, tergantung daerahnya. Bahkan ada yang mencapai USD 50 juta. Bayangkan ini dengan angka ‘USD 7,5 juta’ yang disebutkan oleh Pak Dahlan Iskan.

    3. Pemboran eksplorasi

    Untuk membuktikan adanya sumber panas bumi, mungkin cukup diperlukan satu atau dua sumur saja. Namun tujuan kegiatan eksplorasi adalah membuktikan dan menghitung cadangan komersial terbukti di proyek panas bumi sehingga secara komersial dapat dikembangkan. Untuk itu diperlukan perhitungan volumetric, yaitu menghitung luas areal nya, sehingga diperlukan 4-5 sumur berhasil. Jika melihat resiko sukses/gagal tahap eksplorasi adalah 50/50, maka diperlukan dana untuk dapat membor 8-10 sumur. Jika biaya pemboran dan testing per sumur adalah USD 7,5 juta, maka diperlukan biaya pemboran sebesar USD 50 -75 juta.

    Karena itu investasi yang diperlukan didalam kegiatan eksplorasi untuk membuktikan cadangan 110 – 220 MW, akan berkisar antara USD 70 – USD 100 juta Biaya kegiatan eksplorasi tersebut harus ditanggung sendiri oleh investor/pengembang (equity) karena pada tahap ini belum ada bank yang bersedia untuk memberikan pinjaman. Setelah selesainya kegiatan eksplorasi, maka akan dilanjutkan dengan kegiatan pengembangan, yaitu dengan melakukan kegiatan pemboran sumur produksi dan pembangunan pembangkit listrik serta fasilitas produksi uap. Perlu di ketahui bahwa pemboran sumur produksipun masih ada resiko kegagalan.

    Untuk mencapai target eksplorasi 25 PLTP, maka diperlukan biaya eksplorasi sebesar USD 1,750 – 2.500 juta , bukan USD 187,5 juta sebagaimana yang disebutkan Pak Dahlan Iskan dalam catatannya. Biaya bisa lebih murah untuk PLTP dengan kapasitas yang lebih kecil.

    Sebenarnya Investor tidak enggan dan takut mengambil resiko eksplorasi. Tanpa bantuan dan keterlibatan Pemerintah atau hibah dari Negara asing pun, sebenarnya investor swasta sudah terbiasa dengan resiko sebesar itu, selama return nya benar. Investor swasta seperti Chevron dan Star Energy semuanya mengambil resiko yang demikian pada tahap eksplorasi. Perusahaan-perusahaan yang berkecimpung di industri minyak dan gas (migas) juga sudah terbiasa mengambil resiko eksplorasi yang besar. Bahkan di migas, kemungkinan berhasil hanya 12% dan biayanya jauh lebih besar. Yang penting adalah return yang baik dan kepastian pembelian hasil produksi.

    Dalam kontek energi nasional yang lebih luas, Listrik dari Geothermal tetap lebih baik dibanding listrik dari gas dan batubara yang lebih murah dan lebih cepat. Gas dan Batubara bisa lebih berperan sebagai “income negara” karena bisa dijual atau sebagai feedstock / raw material untuk industri hilir, sedang Geothermal yang “non tradable” tentu saja harus menjadi prioritas untuk mencukupi energi dan listrik.

    Mudah mudahan informasi ditas dapat menjadi masukan bagi pak Dahlan Iksan dan lebih mendorong beliau untuk pengembangan Panas Bumi. Selamat.

    Posted by Ifnaldi Sikumbang | 7 September 2011, 10:02 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Keterlaluan! Listrik geotermal Indonesia baru mencapai 1.050 MW | My Dinky Note - 13 April 2011

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: