>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, CEO Notes, PLN

Tekan Pencurian Listrik dengan Sistem Tender

Komite Yang Tentukan Tarif Listrik
Kamis, 03 Februari 2011

Di India, badan otorita independen tidak hanya untuk jalan tol (lihat bagian pertama tulisan saya kemarin), tapi juga untuk listrik. India memang punya cara sendiri untuk membenahi keruwetan listriknya. “PLN” New Delhi selalu rugi besar dan pelayanannya sangat parah. Pembenahan itu sudah diuji coba di negara bagian New Delhi yang tak lain juga ibu kota India.

Pemerintah negara bagian New Delhi sudah tidak tahan lagi menanggung beban subsidi listrik. Kerugian “PLN”-nya dari tahun ke tahun terus meningkat. Padahal tarif listrik yang dikenakan kepada masyarakat sudah cukup mahal. Jauh lebih mahal dari tarif listrik di Indonesia. Rata-rata sudah sekitar Rp 1.000/kWh (Indonesia rata-rata Rp 730/kWh).

Dengan tarif seperti itu, seharusnya listrik di New Delhi sudah tidak lagi byar-pet. Tapi, kenyataannya byar-petnya gawat sekali. Sebulan 30.000 pengaduan masuk ke “PLN”-nya New Delhi. Padahal jumlah pelanggannya hanya sekitar 4 juta orang (pelanggan Jakarta 3,7 juta, tahun lalu pengaduannya 5.000).

Penyebab utama kerugian itu ternyata di sistem distribusi listrik. Peralatannya sudah tua dan, ini dia yang keterlaluan: pencurian listrik oleh penduduknya luar biasa. Kerugian tersebut kian lama kian besar sehingga “PLN” New Delhi tidak mampu memperbaiki jaringan, mengganti trafo, dan akhirnya jadi pengemis subsidi.

Yang sangat memalukan: kebocoran listrik (loses) di New Delhi mencapai 53 persen. Bandingkan dengan loses di Indonesia yang tahun lalu sudah berhasil diturunkan menjadi tinggal 9,85 persen. Loses yang tidak masuk akal itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Petugas “PLN” India kalah gesit oleh kepintaran rakyatnya mengakali meteran listrik. Operasi pemberantasan pencurian listrik tidak pernah berhasil dilakukan. Hari ini diberantas, besok sudah mencuri lagi.

Saya sempat berkeliling bagian kota yang disebut Old Delhi. Saya masuk gang-gang yang kumuh di kota itu. Saya perhatikan kabel-kabel listriknya malang-melintang dan saling bergulat dengan serunya. Saya membayangkan betapa sulit memang mengatasi pencurian listrik di sana.

Maka, sebagai senjata pemungkas, sampailah pada keputusan ini: mengubah sistem distribusi secara radikal. Distribusi listriknya dikerjasamakan saja dengan swasta. Kalau swasta yang menangani, mau tidak mau menggunakan pendekatan untung-rugi. Petugas penertiban dari swasta akan lebih ampuh dalam bekerja.

Untuk itu, diadakanlah tender. Pemerintah mencari partner swasta untuk mendistribusikan listrik di tiap wilayah. Di New Delhi diadakan tiga paket tender: wilayah utara-barat, wilayah timur-tenggara, dan selatan-barat daya. Peminat tender itu ternyata cukup banyak.

Mengapa? Tarif listrik yang rata-rata Rp 1.000/kWh rupanya cukup menarik bagi swasta. Itu akan berbeda kalau tarif listriknya masih rendah. Dengan tarif seperti itu, asal pencurian listriknya rendah, perusahaan sudah bisa untung.

Tingkat kebocoran itulah yang kemudian menjadi pokok yang ditenderkan. Barang siapa bisa menurunkan loses paling rendah, dialah yang menang tender. Di wilayah Delhi utara-barat, grup Tata (konglomerat nomor satu India) memenangi tender tersebut. Waktu tender, Tata menawarkan: sanggup menurunkan loses dari 53 menjadi 31 persen secara bertahap dalam lima tahun. Ternyata
Tata mampu. Bahkan terlampaui menjadi 24 persen. Dua tahun berikutnya menurun drastis lagi. Akhir Desember 2010, kebocoran listrik di Delhi sudah tinggal 13 persen.

Meski masih kalah oleh Jakarta (tahun lalu Jakarta berhasil menurunkan loses-nya menjadi 8,3 persen), pencapaian itu luar biasa. Dalam delapan tahun turun dari 53 menjadi 13 persen. Maka, Delhi Utara, setelah delapan tahun pembenahan, tercatat sebagai wilayah paling kecil kebocoran listriknya. Loses yang 13 persen tersebut sudah langsung menjadi buah bibir di seluruh negeri.

Di Indonesia saat ini sudah banyak daerah yang loses-nya tinggal 6 persen (sudah setara dengan di Korea). Misalnya, di Surabaya Barat, Bukittinggi, Salatiga, dan banyak lagi. Namun, masih ada satu daerah lebih buruk dari New Delhi. Yakni, di Madura yang loses-nya masih 15 persen (sudah turun dari 24 persen dua tahun lalu tapi masih yang tertinggi di Indonesia).

Kalau saja dalam beberapa tahun ke depan loses di New Delhi bisa mencapai apa yang terjadi di Jakarta, perusahaan patungan swasta-pemerintah tersebut bisa meraih untung yang cukup. Maksudnya, cukup untuk terus memperbarui peralatan listriknya.
Demikian juga, pemerintah negara bagian New Delhi tidak lagi direpotkan oleh subsidi. Dengan penanganan seperti sekarang saja, penghematan subsidinya mencapai USD 3 miliar (sekitar Rp 27 triliun) tahun lalu. Dan yang lebih penting, masyarakat tidak ribut karena byar-petnya teratasi dan pengaduannya menurun drastis.

Dari mana perusahaan distribusi tersebut mendapat pasokan listriknya?

Di India, seperti juga di banyak negara, perusahaan listriknya tidak monopoli dari hulu sampai hilir, dari barat sampai timur, dari utara sampai selatan, seperti PLN. Masing-masing negara bagian memiliki perusahaan khusus untuk mendistribusikan listrik.

Perusahaan-perusahaan distribusi itu masing-masing membeli listrik sendiri-sendiri pula dari perusahaan-perusahaan pembangkit listrik. Tiap tahun perusahaan distribusi listrik tersebut melakukan tender pembelian listrik. Perusahaan pembangkit yang menawarkan listrik termurah, dialah yang menang.

Bagaimana kalau perusahaan pembangkitnya itu berada jauh di selatan, sedangkan New Delhi di Utara? India, sebagaimana juga di negara lain, memiliki perusahaan transmisi secara nasional. Listrik dari pembangkit tersebut dialirkan ke perusahaan distribusi dengan cara membayar sewa transmisi. Dengan demikian, perusahaan transmisi mirip dengan perusahaan jalan tol. Mengenakan tarif untuk listrik yang lewat berdasar besarnya daya dan jauhnya jarak.

Di samping membeli listrik lewat tender seperti itu, perusahaan distribusi listrik kadang juga membeli listrik secara spot. Misalnya, kalau tiba-tiba ada lonjakan pemakaian listrik pada jam-jam tertentu. Mengingat banyaknya perusahaan distribusi dan perusahaan pembangkit, transaksi listrik itu terus terjadi sepanjang hari. Mirip dengan yang terjadi di bursa saham.

Dengan naiknya harga batu bara dan gas belakangan ini, pembelian listrik dari perusahaan pembangkit juga naik. Itu memukul perusahaan distribusi mengingat tarif listrik kepada pelanggan tidak bisa mengikuti kenaikan harga beli listrik. Perusahaan-perusahaan distribusi itu pun lantas meminta kenaikan tarif listrik kepada badan otorita yang independen tadi.

Di India, badan independen itulah yang menentukan tarif listrik. Bukan pemerintah atau DPR seperti di Indonesia. Komite tersebut memang ditunjuk pemerintah, tapi tidak bertanggung jawab kepada pemerintah. Komite itu benar-benar independen.
Seperti komite gaji wali kota dan anggota DPRD di Jepang. Di Jepang, gaji seorang bupati/wali kota dan anggota DPRD ditentukan oleh komite yang ditunjuk pemda. Anggota komite tersebut terdiri atas sembilan orang. Ada pengusahanya, petani, guru, pensiunan, dan sebagainya. Komite itulah yang menilai berapa sebaiknya gaji para pejabat tersebut.

Demikian juga komite listrik di India. Komite itu berisi berbagai unsur yang dianggap mengerti listrik dan bersifat independen. Komite tersebut bisa mewakili perasaan masyarakat, kalangan industri, dan bisa mengerti juga kesulitan perusahaan listrik. Tidak selalu permintaan kenaikan tarif dikabulkan.

Komite akan membahas usul kenaikan tarif secara komprehensif. Perusahaan listrik akan dievaluasi dulu, apakah permintaan kenaikan tarif tersebut wajar atau tidak. Bisa saja setelah dievaluasi ternyata ketahuan kinerja perusahaan listrik tersebut yang kurang baik. Misalnya, loses-nya yang masih tinggi. Karena itu, di dalam komite tersebut terdapat ahli-ahli manajemen, ahli loses, ahli pembangkitan, dan seterusnya.

Sebaliknya, kalau secara objektif melihat tarif listrik sudah seharusnya naik, komite akan menaikkannya. Kalau tidak, perusahaan listrik tersebut akan merugi dan ujung-ujungnya akan byar-pet lagi. Sekali komite itu sudah menetapkan tarif listrik yang baru, pemerintah dan DPR tidak bisa ikut campur.

Adanya komite listrik maupun komite jalan tol ternyata menjadi solusi bagi negara demokrasi untuk mempercepat kemajuan pembangunan infrastrukturnya.(***)

Iklan

Diskusi

34 thoughts on “Tekan Pencurian Listrik dengan Sistem Tender

  1. semoga bisa diterapka di indonesia

    Posted by dul | 4 Februari 2011, 8:28 am
  2. Indonesia in terkenal sebagai negara yang religus, dalam praktik kehidupan seari-hari mengunakan nafas agama sebagai pedoman dalam bersikap. Tapi benarkah demikian? Kalau anda mau perhatikan, dlam candaan-candaan kecil ketika berkelakar, masyarakat kita ini dengan bangahnya ketika menabrak aturan Tuhan. Misal, orang begitu bangganya kalau tidak harus banyak listrik padahal ia menggunakan istrik dalam jumlah yang tidak sedikit. bahkan ia mengambil listrik dengan cara mencuri daya, wah dia akan banga sekali bila bisa melakukan itu selama bertahun-tahun dan tidak terendus oleh orang PLN, dana kalau toh terndus dia bisa mengakalai orang PLN, dia akan lebih bangga lagi? bisakah perialaku ini di terima oleh nalar agama? bisakah fenomena ini dikatakan seagai p=budaya masyarakat yang religius? Kalau anda mengatakan ya, tentu saya akan bertanya, logika ajaran agama anda yang tidak sehat ataukha logika anda yang demikian tidak sehatnya!?
    Jika negara ini banyak dikelola oleh orang-orang yang kita anggap religius tapi nalarnya sedemikian sakit, maka dapat kita bayangkan kira-kira akan seperti apa indonesia kedepan, pun demikian dengan PLN. Pak Dahlan jangan pernah bosan menularkan akal sehat di Indomisia dan PLN khususnya.

    Posted by budi al sunardi | 4 Februari 2011, 11:08 am
  3. Siipp lah,, 🙂

    Posted by Muhammad Joe Sekigawa | 5 Februari 2011, 5:31 pm
  4. pertanyaan ku mungkin menyimpang dari bahasan.
    tentang SK.DIR no 25, Larangan Menikah Sesama Pegawai,
    bagaimana kelanjutannya, jika saya boleh tahu???
    karena setau saya ada SP PLN yang mengatakan kalo SK itu cacat hukum,

    dan bisa jelaskan sedikit mengapa diadakan SK tersebut, karena dalam pemahaman saya itu seperti menentang takdir.
    terima kasih sebelumnya.
    I LOVE PLN

    Posted by miss. diamondra | 9 Februari 2011, 4:13 pm
  5. Setiap kebijakan musti berujung pada tujuan mulya, yang dan pada akhirnya diharapkan memberikan hasil yang positip. Kebijkan pelarangan menikah antara pegawai PLN, menurut saya tujuan mulia, biar tidak ada bias kebijakan dalam roda organisasi, bisa kita bayangkan jika (misal)suami jadi atasan dan sang istri jadi bawahan, kalu dikemudian hari uistri membuat sebuah kesalhan, akan sangat mungkin sang atasan yang nota bene adalah sang suami sendiri, maka akan bertindak tidak tegas, bahkan mungkin akan menutup-nutupi kesalahan sang istri.
    Perihal takdir, menikah adalah takdir, tapi bagimana kita akan menikah, itu lepas dari takdir. SK DIR no 25, tidak melarang karyawan PLN menikah! jadi tidak melawan takdir.
    Kalau kita buat perumpamaan, ibarat makan, makan itu takdir, tapi apa yang kita makan itu pilihan, melarang orang makan, itu melawan takdir, tapi kalau melarang makan-MAKANAN TERTENTU, iyu pilihan KEBIJAKAN.Anda menikah itu takdir, tapi anda menikah-DENGAN SIAPA- itu pilihan.
    semoga urun rembuk saya ini ada gunanya, amin!

    Posted by budi | 10 Februari 2011, 11:07 am
    • makasih mas/pak budi,
      emang seh saya tau setiap keputusan pasti ada bahan pertimbangan yan bener2 di pikirin,
      apalagi ini keputusan seorang direksi,
      cuman kasian seh temen2 saya ada yang cepet2 nikah,
      ada yang mesti putus juga,
      tapi bner itu adalah pilihan.

      Posted by miss. diamondra | 10 Februari 2011, 11:45 am
  6. iya klo barang,tekan pencurian listrik d tenderkan sih bagus tapi kl tenaga orang d tenderkan rasanya kurang manusiawi spt outsourcing PLN yg jd ujung tombak pelayanan pelanggan PLN palagi dgn standar gaji buruh pabrik tanpa ada uang makan pula trus klo kontrak dah selesai d lelang lg spt barang ,……..outsourcing PLN spt barang china fiturnya harus lengkap serba bisa,inovatif,kreatif,loyal,improvisasi tp dgn harga super murah dan bisa d tendang seenak nya,……!

    Posted by asti | 13 Februari 2011, 10:18 am
    • Wah berarti sama mba asti dia mah bisa ngomong ke kita kerja harus iklas tp enyataan nya NOL BESAR,,,,,,,,,,,,,,,,kerja harus loyall kreatip n macem macem kita yang capenya para pegawai yang dapat pialanya ……..bener 2 ga ppoenya HATI’BERSATU OS PLN,,,,,,,,,,,,

      Posted by sri wahyuni | 4 April 2011, 9:22 pm
  7. Makasih Mas atas segala usaha smpyn mengupdate trs blog ini,krn saya jg salah satu pengagum beliau …krn wkt & kesibukan saya kadang ga sempat mengikuti tulisan beliau,tp dg adanya blog ini saya sangat terbantu skl.Smg apa yg smpyn lakukan ini sll mendapat barokah dr Allah SWT..AMIN.

    Posted by Ahmad Zuhri | 15 Februari 2011, 11:18 am
  8. semoga aja pln kita te2p eksis n loss~nya berkurang

    Posted by tbmalhidayah | 24 Februari 2011, 7:12 am
  9. Kalau mau berbenah mulailah berbenah kedalam, gaji pegawai PLN jauh lebih tinggi dari standar penggajian pada umumnya. Seorang sopir direktur Wilayah di daerah saja lebih dari 3 juta. padahal kalau sebesar itu di jakarta saja hanya untuk supervisor di kantor swasta. PLN bukan biaya pengadaan listrik dan jaringannya yang mahal. tetapi biaya oprasional untuk dirinya sendiri mulai dari penggajian staf2nya sampai pasilitas direksinya. salah satu case, biaya perpindahan seorang direksi dari daerah ke Jakarta saja dapat subsidi 150 juta untuk pemindahan barang2 dan keluarganya yang sudah tentu ini sangat mahal. saya rasa 50 juta saja sudah banyak sisanya apalgi sampai 150 juta.
    Maka, janganlah salahkan loses power dulu karena sebenarnya ada lost capital di internalnya PLN.

    Posted by opy | 24 Februari 2011, 11:40 am
  10. langsung saja ga usah bnyk cerita.
    no meter listrik saya 01102106***.
    saya kecewa sekali dengan UPJ Depok kota jalan sentosa no.4.
    sudah saya laporkan 7 kali bahwa listrik di tempat saya tegangan sangat sangat rendah sekali 135 Volt, silahkan di pikir saja elektronik apa yang bisa di hidupkan dgn voltase segitu?
    sudah hampir 1 bulan sejak laporan pertama saya, hingga hari ini tidak ada perbaikan apapun.
    saya harap anda sebagai PLN pusat memberi sanksi kepada UPJ depok kota karena pelayanan nya yang buruk sekali.
    harap di respon segera, karena saya juga mau menulis keluhan ini di surat pembaca.

    NB: untuk admin tolong sampaikan ke Bpk Dahlan surat saya.

    Posted by farhan | 25 Februari 2011, 7:23 pm
  11. Pak, kami berencana membangun proyek bersama untuk meningkatkan listrik di kampung kami. ini link.nya http://andihendra.wordpress.com/2011/03/02/proposalputra-petir-sumut-itb-berbakti-ke-kampung-halaman/
    sudi kiranya untuk membaca..
    terima kasih

    Posted by andihendra | 2 Maret 2011, 7:39 pm
  12. Untuk mbuat PLN efesiensi, harus diperbanyak peranan swasta, jangan monopoli lagi.
    lihatlah perkebangan Telekomunikasi dan Pertamina sekarang sudah maju dan profesional.

    Posted by wba | 6 Maret 2011, 3:27 pm
  13. Pak Dahlan Iskan, mohon donk situs PLN nya di perbaharui alias di perbagus atau di percantik. klo bisa, melampirkan layanan Online lsg di situs nya jg pak.
    jangan mau kalah ma situs Garuda Indonesia pak ….
    hehehe….
    thanks… itu aja pak, semoga PLN menjadi Sukses…

    Posted by farizi ilham | 8 Maret 2011, 9:29 pm
  14. mengapa perusahan swasta cenderung lebih komit dibanding perusahaan pemerintah..
    saya salut dgn semangat dan keinginan pa dahlan iskan dlm membenahi PLN namun semangat dan keinginan itu mesti bisa di transfer ke smua pegawai pln dari hilir sampai hulu.sampai level karyawan terendahpun harus sadar bahwa perubahan telah terjadi dipucuk pimpinan. Membuatkan KPI untuk masing2 wilayah kemudian dipersempit ke kota/kabupaten akan bisa memudahkan dirut mengukur kinerja bawahannya lebih baik lagi kalo ada sistem reward dan punishment sehingga semua level pimpinan di daerah saling berlomba mencapai target KPI.

    Posted by yadi | 14 Maret 2011, 9:28 am
  15. Pak dahlan iskan, catatan yang bapak diatas memang bagus untuk penekanan loses, yang ssya tanyakan kenapa sekarang PLN sosialisasi program prabayar, padahal jelas sekali program prabayar tersebut rawan sekali pencurian listrik, karena kita tau masyarakat indonesia belum sadar hukum sepenuhnya. itu sama saja sosialisasi pencurian listrik. kita ambil salah satu contoh didaerah, seorang pelanggan 900 VA melakukan pencurian listrik, petugas pencatat meter mengetahui dan dilaporkan pada petugas opal. tapi apa yang terjadi, petugas opal melakuakn damai dengan pelanggan. akhirnya pelanggan merasa untung sangsi dari PLN jauh lebih rendah dari harga listrik yang ia curi. Coba bapak keliling di daerah bapak akan tercengang karena sama persis yang bapak lihat di india. Jadi pada intinya kwh meter yang sekarang, yang setiap bulannya dikunjungi petugas baca meter aja masih banyak pencurian, apalagi diganti dengan prabayar. itupun harus ditunjang dengan moral yang baik dari semua petugas lapangan PLN. Maaf bapak saya bisa menulis seperti ini karena saya juga bekerja dilingkup PLN. Dan demi kebaikan PLN kedepan teima kasih.

    Posted by yuda | 16 Maret 2011, 9:30 am
  16. yuda :
    Pak dahlan iskan, catatan yang bapak diatas memang bagus untuk penekanan loses, yang ssya tanyakan kenapa sekarang PLN sosialisasi program prabayar, padahal jelas sekali program prabayar tersebut rawan sekali pencurian listrik, karena kita tau masyarakat indonesia belum sadar hukum sepenuhnya. itu sama saja sosialisasi pencurian listrik. kita ambil salah satu contoh didaerah, seorang pelanggan 900 VA melakukan pencurian listrik, petugas pencatat meter mengetahui dan dilaporkan pada petugas opal. tapi apa yang terjadi, petugas opal melakuakn damai dengan pelanggan. akhirnya pelanggan merasa untung sanksi dari PLN jauh lebih rendah dari harga listrik yang ia curi. Coba bapak keliling di daerah bapak akan tercengang karena sama persis yang bapak lihat di india. Jadi pada intinya kwh meter yang sekarang, yang setiap bulannya dikunjungi petugas baca meter aja masih banyak pencurian, apalagi diganti dengan prabayar. itupun harus ditunjang dengan moral yang baik dari semua petugas lapangan PLN. Maaf bapak saya bisa menulis seperti ini karena saya juga bekerja dilingkup PLN. Dan demi kebaikan PLN kedepan teima kasih.

    Posted by yuda | 16 Maret 2011, 9:34 am
  17. seperti halnya jawa pos, tulisan bapak memang gak mbosenin kalo dibaca. semoga PLN menjadi perusahaan yang benar-benar memihak rakyat. seperti halnya tulisan bapak, dimana dulu nggak pernah kepikiran bisa ‘ngalahin’ surab*** post (almarhum), eh nggak taunya sekarang jadi no 1. sama seperti PLN, dulu masih sering byar pet (apalagi di kalimantan selatan, waktu itu, kayak minum obat aja, bisa lebih dari 3 kali sehari. mungkin bisa disebut over dosis byar pet-nya), semoga di tangan dingin bapak, menjadi percontohan perusahaan BUMN yang bisa dibanggakan.
    Semoga PLN bisa menjadi perusahaan yang bersih, jauh dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Semoga gaya kepemimpinan bapak di JP, bisa sangat bermanfaat di PLN yang sekarang, dimana bapak dipercaya oleh rakyat untuk selalu, sekali lagi, bisa berpihak pada rakyat.
    Semoga. Amin.

    Posted by sulthony | 25 Maret 2011, 10:50 pm
  18. Tulisan dan ide-ide Pak Dahlan Iskan sangat saya kagumi.
    Tapi sungguh sangat disayangkan, apabila ternyata beberapa dan bahkan tidak sedikit dari para individu yang jadi perpanjangan tangan para Direksi – dalam hal ini adalah para pimpinan Wilayah, Unit, Area Pelayanan, dst – justru membuat jelek nama PLN sendiri yang mana bertekad tahun 2012 akan mulai bangkit.
    Berikut ini hanya sebatas clue saja untuk perbaikan internal perusahaan listrik yang sedang Bapak kelola, tanpa mengurangi rasa hormat dan salut saya kepada Bapak :
    a. Efektif kah sistem pengadaan secara e-proc nya? Karena seorang admin bisa saja ikut bermain, malah kalau yang saya alami, e-proc lebih memuluskan langkah untuk “win-win solution”.
    b. Biaya pemasangan sambungan baru. Rakyat butuhnya listrik, dan “oknum” memanfaatkan ini. Silahkan dilakukan “silent observation by hidden agent”, daerah Sumatera yang kaya akan sumber daya alam, terutama SDA yang digunakan untuk pembangkitan listrik.
    c. Orang-orang yang sudah “berkarat” di suatu tempat, apalagi daerah “empuk”, sebaiknya mulai diperhatikan, apakah mereka memang layak disana. Karena sudah terjadi keadaan “kerajaan kecil” bahkan “mafia”. Sedikit bocoran, suatu unit bisnis yang akan menjadi milik PLN, tapi setelah cicilannya beres terlebih dahulu di masa yang akan datang.
    d. Pencurian listrik terbesar yang pernah saya lihat sendiri terdapat di suatu kota yang dikenal dengan sebutan tim sepakbola nya “Ayam Kinantan – berkaos hijau putih”. Daerah kampus terbesar di kota tersebut, silahkan diusut, Pak. Mohon jangan berdasarkan laporan, karena laporan bisa di “edit” dan sebagainya, ujung-ujungnya “asal bapak senang”.
    e. Semangat untuk memaksimalkan potensi orang-orang muda di PLN sangatlah patut diacungi jempol. Tapi ketika hal tersebut hanya sekedar “semangat” saja, PLN akan tetap kembali terpuruk lagi. Yang membuat miris adalah di saat keadaan sebagai berikut : “Enak saja kamu, kamu kan masih baru jadi pegawai, nanti 3 tahun lagi, itu juga tergantung keadaan lah, jadi tidak perlu dapat PIW atau Eagle untuk sekarang ini. PIW / Eagle buat bapak yang sudah ubanan itu saja, kasihan dia, 1 tahun lagi sudah pensiun”. Jadilah si orang muda yang sangat bersemangat tadi mulai pudar kepercayaannya akan janji-janji Direktur SDM PLN saat presentasi ke kampus si orang muda tadi. Hendak hengkang dari perusahaan, sudah tidak laku lagi di luaran. Sungguh tragis nasib si anak muda, hanya bisa baca koran, browsing-browsing dan minum kopi saja di kantor, berharap nasibnya bisa seperti si bapak yang ubanan yang diberikan nilai PIW saat dia nanti telah ubanan juga, 25 tahun lagi.
    f. Coba sebar “hidden agent” dari kalangan anak muda, yang belum “teracuni” oleh kekuasaan, sehingga dapat memberikan penilaian yang lebih objektif.

    Semoga keadaan dan pencapaian PLN bisa mencapai 200% dari saat ini di masa 5 tahun lagi.

    Wassalam,
    Pegawai Yang Hengkang
    Tanpa Penyesalan

    8307xxx-$

    Posted by pegawai | 28 Maret 2011, 2:35 pm
  19. Maap menyimpang dari pembahasan,saya OS PT.PLN,ALHAMDULILLAH sudah lima tahun sy bekerja,yang saya mau tanyakan apakah PLN g bisa merekrut pekerjanya dari OS_OS yang ad seperti di PJT atau perusahaan 2 lain yang bisa mensejahterakan para OS nya,n 1 lg pa itu LOGO TOP tanpa TIP it hanya untuk OS atau berlaku untuk para pegawai juga ya sebab msh banyak pegawai yang minta TIP pa padahal dia bilang kerja itu harus IKHLAS,

    Posted by sri wahyuni | 4 April 2011, 9:11 pm
  20. Yth Pak Dahlan,
    Maaf saya ganggu Bapak. Saya Safari ANS profesi saya juga jurnalis dan presenter tv. Saya tulis email ini, karena saya sudah capek lapor ke telpon pengaduan 123 PLN. Tak hanya saya, tetangga saya pun yang satu RW pun melakukan hal yang sama. Jika kami telp 123, tak sampai 30 menit memang petugas PLN sudah datang mengecek meteran dan kami disuruh mengisi formulir keluhan. Rumah saya sudah tiga kali didatangani petugas PLN tetapi tetap saja volatase listrik di rumah saya dan sekitarnya tidak berubah sampai sekarang. Tv, Ac dan kulkas saya sudah rusak akibat hal ini. Tetangga saya juga mengalami hal yang sama. Saya minta tolong kepada Bapak selaku pucuk pimpinan PLN untuk dapat mengatasi masalah kami ini. Sebab kami bukan tinggal ditepi gunung di desa yang jauh, tetapi di Ibukota RI. Bapak tinggal cek pengaduan saya di 123 atas nama Safari Ans. Terima kasih.
    Hormat saya,
    Safari Ans

    Posted by safari ans | 16 April 2011, 10:56 am
  21. maf pak sebelumnya saya pernah surfe didaera kami ada sebuh aliran sungai yang cukum deras jika dimanfaat kan itu bisa mencapai angka sampai 1-2mg watt dan itu pernah saya ajukan kedaerah tapi belum ada tangapan mungkin ini bisa menjadi nilai tambah bagi pln pak

    Posted by sugeng riyadi | 23 April 2011, 10:04 pm
  22. bpk yg terhormat,maaf klo komen saya menyimpang dari tema di atas,
    kami hanya mau sharing saja,kami dari tenaga os pln apj sala3 yg selalu loyal terhadap pekerjaan,yg saat ini PT os kami sudah di “cut” sepihak sama apj sala3 (akhir tahun 2010),dan akibatnya pesangon kami tidak cair,dan PT os kami yg dulu jg tidak bersedia memberikan pesangon dengan alasan di “cut” sepihak sama apj sala3.
    Dan sampai 2012 ini tidak ada kelanjutan baik dari apj sala3 maupun ex PT os kami yg dulu,mohon bantuannya supaya pesangon yg merupakan hak kami dapat cair,demikian terima kasih

    Posted by ajeg os | 11 Januari 2012, 3:56 pm
  23. Di rmh saya selalu turun wattnya. Soalnya d dpan saya rumah bpk hendi besar tapi dia hanya 900watt tp stabil. Kata orang banyak yg bilang ini rumah dpan dia maling listrik langsung dr kabel yg mau msuk k kwh. Tolong d cek utk rmh bpk hendi kebenarannya alamat jl pajaten ds dawuan tengah rt 08 / 05 cikampek sebelah kaw pupuk kujang. Saya udh lapor tp ga kunjung di perbaiki

    Posted by Irenrosalinda | 22 Februari 2012, 8:45 am
  24. huh,,,lapor pln ga di tanggapi,,pencurian masih banyak,kasian dong yg bayar tiap bulan merasa dirugikan,sedang tetangga saya bertahun2 listriknya tanpa meteran,ga percaya? cek sendiri jl p tb angke kp gusti rt01 rw05 (rumah tanpa nomor/samping rumah nomor 10)wijaya kusuma jakarta barat.

    Posted by naughtyman | 13 November 2012, 10:30 am
  25. Pak Dahlan,

    curhat dikit ya. Saya baru mau pasang listrik 10,600 VA. Dari 2 bulan lalu tiap ke cabang PLN banyak sekali oknum yang menawarkan pasang listrik langsung jadi, tanpa syarat apapun. 3 juta sekali pasang. Karena saya mendukung Indonesia bersih, saya apply online. Akhirnya bayar resmi 8.2 juta. Saya bingung karena dipingpong sana sini. Petugas survey lapangan tidak mau pasang, tanpa alasan yang jelas. Saya diberikan nomer telephone salah satu orang di cabang PLN dan harus menghubungi dia kalau mau pasang. Lagi-lagi, karena mendukung Indonesia bersih, saya tidak hubungi. Saya tetap hubungi 123. Nah saat setelah lewat deadline pemasangan, saya kaget sekali, karena menurut 123, saya meminta ke petugas untuk dilakukan hold pemasangan. Setelah menghubungi 123 berkali-kali, mulailah dicari-cari apa kekurangannya. Akhirnya dibilang kalau harus urus SLO. Lebih pusing lagi saat urus SLO. Ini tidak jelas teknisnya, prasayaratnya…. dan BIAYA-nya. Banyak oknum yang bermain di sini. Kalau bisa sih pak, untuk mendukung Indonesia Bersih, semua prosedur harus jelas, termasuk ke SLO-nya. Kalau seperti ini, masih banyak celah di lapangan untuk orang korupsi. Yang saya masih ga nyambung juga, sepertinya kok kayak diatur ya, disuruh menghubungi petugas cabang tanpa penjelasan itu seperti menyerahkan diri untuk dirampok. Semuanya serba tidak jelas.

    Terima kasih atas perhatiannya. Semoga Bapak berkenan membaca curhatan saya ini. Tolong dibalas di sini pak, sehingga orang lain yang mengalami hal yang sama juga mendapat pencerahan.

    Posted by Dahlan Iskan | 27 Februari 2014, 9:53 am
  26. Do not dream too often however take action as often as possible Failure is a part of every success

    Posted by FEBRI MIRA | 15 Juni 2014, 7:38 pm
  27. When you want to give up look at back and then see how far you have climbed to reach your goals

    Posted by FEBRI MIRA | 20 Juni 2014, 4:08 pm
  28. Getting up in the morning is a sign that you can achieve the goal’s life better than yesterday

    Posted by ADRININGSIH VITRI PALLALO | 8 Juli 2014, 4:31 am
  29. Getting up in the morning is a sign that you can achieve the goal’s life better than yesterday

    Posted by FEBRI MIRA | 11 Februari 2015, 10:55 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: