>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, PLN

Mengejar Bayangan yang Melelahkan

Minggu, 26 September 2010

Saya senang bisa kembali melakukan perjalanan panjang seperti ketika muda dulu. Bedanya, dulu untuk menguber berita, kini untuk melihat sendiri proyek-proyek dan kiprah aparat pln di berbagai daerah. Kali ini, sehari setelah lebaran lalu, saya ke Tanggari, Tonsa Lama, PLTS Bunaken, Lahendong, Amurang (semuanya di Sulut), lalu ke  Gorontalo dan terus jalan darat lagi semalam suntuk ke Paleleh dan Buol. Disambung lagi ke Palu dan Mamuju. Terus jalan darat lagi ke Poliwali dan Barru. Perjalanan ini baru berakhir di Makasar setelah tiga hari tiga malam hampir tanpa henti.

Sambil menikmati goncangan mobil ternyata banyak gagasan bisa lahir. Ide-ide itu bisa didiskusikan sepanjang jalan. Apalagi dalam perjalanan ini ikut pula para pimpinan PLN setempat termasuk general manajer wilayah Sulteng-Sulut Wirabumi, general manajer wilayah Sulsel dan Sutra Ahmad Siang dan para kepala cabang PLN setempat. Jalan darat dari Gorontalo ke Buol sangat menyiksa (harus beberapa kali berhenti karena mobil masuk kubangan atau tidak kuat menanjak) di situlah seninya sebuah tantangan.

Di perjalanan inilah ide untuk mengubah fungsi beberapa PLTA di  Sulut lahir. PLTA Tonsa, Tanggari I, Tanggari II dan Tanggari III (Sawangan) sebaiknya hanya akan dijadikan penyangga untuk beban puncak (picker) atau semi picker. Tidak perlu lagi dijalankan selama 24 jam seperti selama ini. Air dari danau Tondano yang indah itu bisa dihemat. Dengan demikian problem tahunan yang muncul setiap musim kemarau akan bisa diatasi. Setiap musim kemarau terjadi krisis listrik di Sulut karena jumlah air tidak cukup besar untuk menggerakkan turbin-turbin di sepanjang aliran sungai itu.

Saya sangat terkesan oleh PLTA Tanggari ini. Bukan karena besarnya melainkan sejarahnya. Sejarah masa lalu maupun masa kini. PLTA paling atas di Tanggari ini dibangun sebelum Indonesia merdeka. Sampai sekarang masih bisa berfungsi. Turbinnya General Electric dan bangunannya dari kayu. Masih kokoh. Di sana-sini masih tersisa lubang peluru pertanda PLTA ini pernah jadi medan pertempuran. Banyak gua-gua persembunyian Jepang di pegunungan dekat Air Madidi (Manado) ini.

Ide mengubah fungsi  PLTA Tanggari ini tentu baru bisa dilaksanakan setelah proyek PLTU Amurang selesai dibangun pertengahan tahun depan. Tepat sebelum musim kemarau tiba. Maka saya pun meninjau proyek PLTU Amurang ini. Benarkah segera jadi. Turbin, boiler dan deminnya memang sudah siap. Tapi setelah saya cek ternyata batu tahan apinya belum tiba. Padahal memasang batu tahan api di dinding ruang pembakaran itu tidak bisa selesai satu bulan. Tidak mungkin unit 1 PLTU Amurang (Proyek 10.000 MW) ini bisa selesai akhir tahun ini.

Dari sini saya harus menijau proyek PLTU Gorontalo.  Perkembangan proyek ini ternyata masih berakit-rakit ke hulu. Proyek ini lama tertunda karena selalu ada masalah tanah. Ketika akhirnya lokasi yang aman dari sengketa ditemukan, senangnya bukan main. Tapi kesenangan itu hanya sesaat. Begitu diadakan sonder, diketahuilah bahwa lokasi yang baru itu penuh dengan batu tua. Kerasnya bukan main. Lama sekali untuk mendiskusikan bagaimana mengatasi batu ini.

Akhirnya diputuskanlah tanpa tiang pancang. Ketika keputusan ini disampaikan ke saya imajinasi saya langsung ke Makkah. Di sana, di sekitar Masjidil Haram itu, lahannya juga bergunung-gunung batu. Tapi kini berbagai hotel bintang lima sudah mengepung Ka”bah. Gunung-gunung batu itu diledakkan dan di atasnya dibangun hotel tanpa tiang pancang. Begitu cepat gunung-gunung batu itu berubah jadi gunung-gunung hotel.

PLTU ini begitu vitalnya bagi system kelistrikan di Gorontalo sehingga perlu lebih cepat diselesaikan. Gorontalo yang sudah bertahun-tahun krisis listrik kini memang sudah tidak byar-pet lagi. Namun kecukupan listrik di Gorontalo ini harus diatasi dengan mesin-mesin sewa yang mahal. Padahal kalau PLTU ini segera jadi, PLN akan langsung berhemat raturan miliar setahun. Karena itu saya langsung minta agar peralatan untuk meledakkan gunung itu ditambah. demikian juga alat-alat berat lainnya.

Dari Gorontalo kami harus ke Buol yang baru saja rusuh itu. Masalahnya: istirahat dulu di Gorontalo atau langsung ke Buol. Hari sudah senja. Cahaya kuning yang tadi terlihat menyiram laut sudah menjadi hitam. Kalau bermalam di Gorontalo waktu terbuang. Kalau jalan terus, medannya berat. Jalannya sempit, bergunung-gunung dan banyak yang belum beraspal. Apalagi hujan baru saja turun.

Terus!

Ternyata benar. Mobil harus sering berkubang dengan Lumpur. Ada yang harus copot celana panjang untuk membuat parit sodetan. Anggota rombongan yang lain mengurangi air genangan dengan memfungsikan tangannya sebagai timba. Untungnya teman-teman sub ranting di sebuah kecamatan terpencil itu menyiapkan masakan yang menurut saya luar biasa enaknya: ikan kerapu dan ikan bawal yang dibakar dengan pas dan dengan sambal yang istimewa. Di sini ikan memang sangat segar. Inilah makan paling enak yang saya nikmati sepanjang perjalanan ini. Sayangnya istri saya mabuk. Tidak bisa ikut menikmatinya.

Pukul 00.30 kami tiba di kota kecil Palele. Kaget. Banyak orang berkumpul di pinggir jalan di malam yang gelap dan dingin itu. Ternyata para kepala desa dan camat setempat sengaja menghadang kedatangan kami. Oh, pak bupati Buol juga ada di situ. Hebat sekali bupati ini. Tengah malam masih mau menunggu seseorang yang jabatannya hanya Dirut PLN. Saya didaulat untuk berhenti dan mendengarkan apa keinginan mereka.

Di kota kecil ini listrik ternyata hanya menyala 6 jam saja sehari. Mulai jam 18.00 sampai jam 00.00. Mereka minta agar listrik bisa menyala 24 jam. Saya sangat terharu melihat tekad mereka yang tulus itu. Masyarakat Buol memang sedang bangkit untuk maju. Inisiatip daerah itu sangat besar tanpa harus selalu menunggu uluran tangan pihak luar. Mereka membangun pelabuhan, dan bandara sendiri. Juga menyiapkan lahan untuk diberikan kepada PLN kalau mau membangun pembangkit di sana. Maka kami memprogramkan (saya membedakan antara program dan janji) tepat tanggal 1 Januari 2011 nanti listrik di Paleleh harus menyala 24 jam.

Ketika azan subuh mulai berkumandang di masjid kampung yang sesekali kami lewati kami belum juga tiba di Buol. Berarti sudah 12 jam perjalanan ini. Mobil memang termehek-mehek. Di jalan yang mulus pun tidak bisa lari kencang. Penyebabnya lain lagi: sapi. Di bagian-bagian jalan yang mulus ternyata dipakai tidur sapid an kambing.

Sapi-sapi dan kambing-kambing itu memenuhi sepanjang jalan beraspal. Rupanya aspal lebih hangat untuk tidur malam. Saya tidak ngedumel melihat ini. Saya berpikiran positif. Berarti wilayah ini tidak miskin. Berarti wilayah ini aman tenteram. Begitu banyak sapi dan kambing yang tiduran di sepanjang jalan. Ribuan. Tidak ada yang berminat mengangkutnya barang satu ekor sekali pun!

Matahari sudah hamper terbit ketika rombongan masuk kota Buol. Jam 07.00 saya sudah berjalan kaki ke pelabuhan. Ini memang kebiasaan lama saya. Setiap mengunjungi sebuah daerah untuk pertama kalinya saya selalu memerlukan melihat pelabukannya. Ini untuk melihat prospek ekonomi ke depan wilayah itu. Ini penting untuk menetapkan perencanaan listrik ke depan.

Saya memang menginginkan sebuah perencanaan listrik yang tuntas. Bukan perencanaan yang sifatnya mengejar ketertinggalan. Inilah yang dialami PLN  sekarang. PLN selalu ketinggalan di belakang, lalu mengejar, ketinggalan lagi, lalu mengejar. Itu pun tidak terkejar. Terengah-engah. PLN seperti terus-menerus mengejar bayangan. Akibatnya bisa lelah. Frustrasi. Masa bodoh.

Maka daerah seperti Buol, yang pelabuhannya dibuah besar, yang bandara barunya terus dipepanjang, yang perkebunan sawit dan cokelatnya terus dipacu harus dibangun pembangkit yang sifatnya tidak lagi mengejar bayangan.

Sore itu juga kami sudah bisa tiba di Palu. Kebetulan ada pesawat kecil hari itu. Turun di Bandara Mutiara Palu saya lihat ada seseorang berbandan pendek, berkulit hitam, berbaju merah berada di tengah-tengah teman-teman PLN yang menyambut kedatangan saya. Orang itu menyalami saya dan berkata: terima kasih Pak Dahlan, kalau PLN tidak bisa menyelesaikan krisis listrik di Palu Juni lalu saya tidak akan jadi walikota lagi. Oh, dia itu walikota Palu.

Krisis listrik yang berpuluh-puluh tahun di Palu memang selalu jadi bahan kampanye Pilkada. Rupanya, tepat menjelang Pilkada itu PLN berhasil menyelesaikan krisis listrik di Palu. Sebenarnya ini tidak ada hubungannya dengan Pilkada. Ada atau tidak ada Pilkada krisis harus diatasi.

Di Palu ini saya kehilangan uang 300 yuan. Istilah saya “kecopetan”. Hari itu saya ikut taruhan dengan pimpinan unit PLTD Palu. Sebenarnya saya hanya ikut-ikutan. Dia lagi taruhan dengan Wirabumi: mungkinkah kawasan di sekitar tempat pembuangan oli itu bisa bersih di akhir Oktober 2010 nanti. Kepala unit itu bilang bisa. Pak Wirabumi bilang belum tentu.

Saya juga meragukannya. Sebab kawasan di belakang pembangkit diesel itu kotor nya bukan main. Juga kumuh. Menghitam. Saya pun ikut mempertaruhkan uang 300 yuan. Rasanya uang itu akan hilang. Saya lihat pimpinan unit di situ akan mampu mengatasinya. Ini terlihat dari bagian dalam gedung PLTD ini. Juga bisa dilihat dari mesin-mesin yang ada di dalamnya.

Semuanya sangat-sangat bersih. Padahal dulunya juga kotor. Dulunya PLTD di sini hanya bisa menghasilkan daya 9 MW. Kini sudah bisa 29 MW! Tanpa ada penambahan apa-apa. Saya yakin soal pembersihan kawasan oli itu pun juga akan beres tepat pada waktunya. Saya relakan 300 yuan itu.

Di Palu saya juga sempat chatting selama 1,5 jam. Dalam acara ini seluruh karyawan PLN di seluruh Indonesia bisa bertanya dan mengemukakan apa saja kepada saya. Banyak ide bagus, pertanyaan dan aspirasi yang disampaikan lewat chatting itu. Lebih 500 orang karyawan ikut gabung di diskusi itu, dan tentu ;lebih banyak lagi yang jadi peserta pasif.

Di Palu beberapa keputusan strategis juga dibuat: bagaimana agar transmisi 150 kv dari Tentena-Poso-Palu bisa selesai akhir tahun depan. Semula dianggap mustahil. Transmisi hamper 200 Km tidak akan bisa dikerjakan dalam waktu 16 bulan. Tapi ternyata ada saja jalan: proyek itu dipecah menjadi tiga paket tender. Masing-masing mengerjakan sekitar 65 km.

Dengan demikian maka akhir tahun depan ketergantungan Palu bisa hilang. Listrik yang dihasilkan oleh PLTA Danau Poso bisa dialirkan ke Palu dalam jumlah besar. Organisasi proyek pun akan disederhanakan. Tidak perlu punya banyak asisten manajer. Cukup Asmen administrasi/keuangan dan satu kordinator lapangan untuk masing-masing paket.

Tujuan berikutnya adalah Mamuju, ibukota propinsi Sulawesi Barat. Saya baru pertama kali ini ke Mamuju. Kaget. Ada hotel bintang empat yang masih baru. Pelabuhannya juga baru. Bandaranya juga baru. Sejak beberapa bulan lalu tidak ada krisis listrik di sini. Transmisi 150 kv yang menghubungkan Mamuju dan Makassar sudah selesai. Listrik bisa dikirim dari Makasar.

Bukankah Makassar sendiri krisis listrik? Itu dulu. Kini listrik untuk Makassar sudah cukup. Bahkan seperti yang saya lihat sendiri di control room sore itu, sudah punya cadangan listrik 108 MW. He he “tumben” Makassar kelebihan listrik. Sebuah tumben yang menyenangkan. Di Mamuju gubernur menyiarkan acara dialog. Intinya bagaimana agar potensi air di Mamuju bisa segera dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Saya pun ambil keputusan. Enam bulan lagi tender untuk PLTA Karamah (300 MW) di Mamuju harus sudah dilakukan.

Jam 05.00 subuh kami mulai bergerak lagi. Kali ini menuju Poliwali dan Barru. Hampir saja ada masalah. Mobil kami tabrakan. Depannya ringsek. Isteri saya terlempar dari tempat duduknya. Kami semua selamat. Alhamdulillah. Kami pun dievakuasi ke mobil kijang dan bisa sarapan dengan enaknya di kantor PLN ranting Poliwali: nasi kuning, ikan tongkol, ayam kampung bumbu bali dan kue-kue setempat.

Sepanjang pantai Barat Sulawesi ini indahnya bukan main. Kelak, kalau wilayah ini kaya dan rumah-rumahnya bagus, kawasan ini tidak akan kalah menarik dengan sepanjang pantai barat Itali menuju Monaco itu. Atau kawasan barat pantai Norwegia dari Bergen ke Tromso itu. Saya percaya kecukupan listriklah salah satu factor yang penting untuk memajukan ekonomi itu. Karena itu saya sering bercerita kepada teman-teman PLN bahwa kita ini tidak hanya sekedar bekerja untuk menyediakan listrik tapi jauh menjangkau yang di belakang itu.

Rencananya kami makan siang di Pare-Pare. Teman-teman cabang setempat sudah mengaturnya. Tapi beribu maaf, kami harus mendahulukan mengecek PLTU Barru 2×50 MW yang tidak jadi-jadi itu. Kami sepakat makanannya dibungkus saja dan dilarikan ke PLTU Barru. Sekali lagi kami menemukan persoalan di sini. Boiler dan kelengkapannya sudah beres, tapi turbinnya yang molor. Bahkan fondasi turbinnya belum jadi. Padahal setelah itu masih harus bikin platform di atasnya sebelum mendudukkan turbin dan mengesetnya.

Saya terpaksa agak bicara keras kepada kontraktornya. Tentu dalam bahasa mandarin sehingga seluruh staf tidak perlu tahu isinya. Tapi dia juga punya alasan: sub kontraktornya terlalu lambat bekerja dan terlalu sedikit mengirim peralatan kerja. Karena sub kontraktornya dari Jakarta tentu banyak teman yang bisa marah dalam bahasa sendiri. Makanan yang dibungkus itu sebenarnya enak sekali. Tapi suasana marah memang bisa membuat susu sebelanga tidak ada artinya.

Kembali ke mobil, istrri saya bertanya lirih dengan tenggorokan yang terganjal: kita ke mana lagi? Masih berapa lama lagi? Pertanyaan itu diajukan rupanya karena mabuknya tidak lebih baik. Pembangunan jalan yang tidak jadi-jadi antara Pare-Pare Makassar membuat perjalanan lambat, berguncang dan berdebu.

Di dalam pesawat yang membawa saya ke Jakarta saya teringat fakta ini: keadaan listrik Sulawesi saat ini masih seperti di Jawa tahun 1978. Inilah dendam yang harus terbalaskan!

Dalam perjalanan panjang ini saya seperti mendapat durian runtuh. Nun di Gorontalo, seorang insan PLN memiliki ide yang brilian untuk memecahkan problem beban puncak yang selalu menyulitkan PLN. Namanya Arifin Akuba. Dia kepala cabang setempat. Saya kaget bahwa dia lulusan Unhas. Saya pikir mahasiswa Unhas itu hanya bisa berantem.

Ternyata ada yang brilian seperti Arifin. Saya juga lupa bahwa Wirabumi dan Ahmad Siang itu juga lulusan Unhas. Sarjana elektro Unhas tadinmengusulkan agar di rumah pelanggan dipasang mcb khusus. Mcb ini bisa secara otomatis akan mengendalikan pemakaian daya pada jam-jam beban puncak. Ide seperti inilah, seperti juga ide-ide lain yang jumlahnya ratusan dari seluruh insan PLN se Indonesia yang membuat saya selalu bersemangat. Saking semangatnya, dari bandara Makassar saya telepon direksi di Jakarta: bisa nggak dari bandara Cengkareng saya langsung ke kantor untuk rapat direksi.

“Bisa”, jawab semua direksi. Ide ini dan ide-ide yang lahir dari banyak teman di sepanjang perjalanan ini segera jadi keputusan direksi secara utuh. Termasuk mcb model Gorontalo tadi.

Hidup ternyata amat indah!

*Dahlan Iskan
CEO PLN

Iklan

Diskusi

24 thoughts on “Mengejar Bayangan yang Melelahkan

  1. Semangat Pak, terus berjuang. Kami percayakan PLN di tangan Anda 🙂
    Saya salut dengan Anda masih mau menulis, berbagi hal kecil dengan kami para pembaca, sungguh sebuah ilmu yang jarang bisa kami dapatkan dari orang-orang penuh visi seperti Anda.

    hanggaady.blogspot.com

    Posted by hangga ady | 28 September 2010, 7:46 am
  2. saya gak pernah tinggal mengikuti catatan pak dahlan
    salut dengan bapak, smoga kesehatan slalu bersama bapak
    sehingga kelistrikan di Indonesia akan lebih baik..
    GOD BLESS U …

    Posted by zulkifli | 28 September 2010, 11:26 am
  3. Terima kasih atas pencerahannya pak dahlan. Bapak memang cocok jadi dirut, semoga tidak diangkat jadi menteri, karena jika jadi menteri, ceritanya akan lain.

    Posted by nazirni | 28 September 2010, 11:50 am
  4. Saya selalu mengikuti catatan bapak
    Terima kasih pak. Terus berjuang. Tuhan akan selalu memberkati bapak.

    Posted by Ida Ayu Yunita | 28 September 2010, 3:07 pm
  5. seandenya semua pejabat di negri ini seperti bapak, 3 tahun pasti sudah mengalahkan malaysia di bidabg ekonomi

    Posted by amir efendi | 28 September 2010, 3:10 pm
  6. jangan lupa jaga kesehatan pak ! terus berjuang pak ………… doa kami menyertai langkah bapak.

    Posted by khalid ibnu | 28 September 2010, 7:41 pm
  7. Sebagai seorang pegawai PLN saya salut dengan pengabdian Bapak yang tulus, semoga dapat menjadi contoh teladan bagi pejabat2 PLN dan generasi penerus PLN dalam menahkodai PLN kedepan. Mari kita teruskan pengabdian kita dengan naluri dan matahati. Saya berharap semoga kedepan banyak pemimpin2 PLN yang mengutamakan ketulusan dibandingkan kesenangan duniawi yang sering menjerumuskan dirinya sendiri. Amiin. Teruskan Pak…..Semoga PLN makin jaya. Amiin.

    Posted by Moh. Sarno | 29 September 2010, 10:09 am
  8. Selasa, 14 September 2010 , 05:05:00
    Sidak Kelistrikan, Dahlan Iskan Diberi Gelar Kehormatan

    PALU – Direktur Utama PT PLN Dahlan Iskan membuktikan komitmen dan janji untuk mengatasi krisis listrik di seluruh Indonesia, khususnya di Indonesia Timur. Hal itu ditunjukkan Dahlan melalui sidak (inspeksi atau kunjungan mendadak) ke kantor pelayanan PLN Ranting Desa Palele, Kecamatan Palele, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah (Sulteng).

    Sebagaimana dilaporkan Radar Sulteng (Group JPNN), sidak berlangsung pukul 01.30 Wita kemarin (13/9). Berangkat dari Gorontalo, dalam sidak dengan kendaraan darat itu, Dahlan didampingi istri, Ny Nafsiah, dan General Manager PT PLN Wilayah VII Sulutenggo Wirabumi Kaluti. Rombongan sempat dicegat warga untuk berdialog. Dahlan pun dianugerahi gelar adat Kabupaten Buol.

    “Kunjungan ini untuk memastikan sejauh mana sistem pelayanan dan persoalan listrik di beberapa kawasan di Sulawesi, khususnya di Kabupaten Buol, agar dicarikan pemecahan secepat mungkin,” kata Dahlan kepada wartawan.

    Kunjungan ke wilayah Sulut dan Sulteng tersebut dimulai sejak Sabtu lalu (11/9). Dahlan mengawali dengan kunjungan ke sejumlah fasilitas kelistrikan di Manado dan Minahasa. Sidak berlangsung dalam suasana libur Lebaran. Minggu lalu (12/9), Dahlan melanjutkan sidak ke PLTU Sumalata di Kabupaten Gorontalo Utara.

    Menjelang malam, dengan naik mobil, Dahlan dan rombongan melanjutkan sidak ke Kabupaten Buol, Sulteng. Padahal, mereka harus melintasi jalan rusak dan menghabiskan perjalanan 10-12 jam dari Gorontalo. “Ayo, kita nyalakan seluruh Indonesia,” seru Dahlan menyemangati anak buahnya.

    Saat tiba di Desa Palele, Kabupaten Buol, pukul 01.30, rombongan Dahlan didatangi puluhan warga. Mereka secara spontan mendatangi kantor PLN ketika mengetahui bahwa orang nomor satu di PLN itu mengunjungi desanya. “Kami minta maaf karena terkesan mencegat kedatangan Bapak Dahlan,” tutur Ramli, tokoh masyarakat Palele.

    Namun, dia menyebutkan bahwa para tokoh masyarakat itu hadir untuk memberikan dukungan penuh kepada Dahlan dalam mewujudkan tekad menyalakan listrik di seluruh Indonesia, khususnya di Kabupaten Buol.

    “Dulu, Sulteng seperti belum merdeka. Sebab, listriknya padam belasan jam dan hanya menyala tiga jam. Tapi, sejak PLN ditangani Pak Dahlan dan memberikan perhatian di daerah kami, listrik pun mulai menyala,” terangnya yang disambut aplaus puluhan warga. “Karena itu, kami berharap listrik di seluruh Palele dan bahkan Buol akan menyala terus. Kalau perlu 24 jam, tidak lagi digilir hanya 6 sampai 12 jam,” pintanya.

    Permintaan warga tersebut ditanggapi bijak oleh Dahlan. “Sejak saya dipercaya menjadi Dirut PLN oleh Bapak Presiden, tekad saya adalah listrik di Indonesia Timur, termasuk di Sulteng, harus mendapat perlakuan sama dengan fasilitas listrik di Jawa,” tutur penulis buku Hati Baru tersebut.

    Kepada warga Palele dan Bupati Buol Amrain Batalipu yang hadir saat itu, Dahlan berjanji segera menuntaskan listrik di wilayah tersebut. “Caranya, PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) di Buol harus segera dibangun,” tegasnya. Pada 1 Desember nanti, listrik di Palele ditargetkan menyala 24 jam. Tidak hanya enam jam atau 12 jam.

    Sambutan warga Buol benar-benar luar biasa. Bupati Amrain Batalipu dan dewan adat setempat ternyata telah menyiapkan prosesi penganugerahan gelar kehormatan adat Buol untuk Dahlan dan istri. Sesaat sebelum berkunjung ke lokasi pembangunan PLTU Buol dan fasilitas listrik lain di sana, kemarin pagi Dahlan dan istri menerima gelar kehormatan adat Buol sebagai warga kehormatan Buol. Dahlan mendapatkan gelar Taunoto dan Ny Nafsiah menerima gelar Takinoto.

    “Pemberian gelar adat itu merupakan bagian dari kecintaan dan kehormatan kami kepada Pak Dahlan karena telah ikut menuntaskan persoalan kelistrikan di daerah kami,” ungkap Bupati Amrain Batalipu.

    Prosesi pemberian gelar kehormatan dipusatkan di Kumalig (Kerajaan) Buol dan dipimpin langsung raja Buol saat ini. “Insya Allah, saya akan terus berjuang bersama masyarakat Buol dan seluruh Indonesia dalam tekad bersama menuju kemajuan, khususnya di bidang kelistrikan,” kata Dahlan saat memberikan sambutan singkat.

    Mohamad Yamin, sekretaris Dewan Adat Buol, menyatakan bahwa Dahlan pantas menerima gelar adat tersebut. “Bertahun-tahun kondisi Sulteng gelap gulita. Listrik padam 18 jam dan hanya tiga jam menyala. Tapi, sejak Pak Dahlan menjadi Dirut PLN, listrik di Sulteng jadi prioritas. Bahkan, Pak Dahlan menangisi kondisi sulit kami di hadapan presiden dan di Senayan. Luar biasa laki-laki istimewa itu,” ujar Mohamad Yamin kepada Radar Sulteng setelah pemberian gelar adat.

    Sementara itu, kepada wartawan di Palu, Dahlan menyatakan bahwa PLN bertekad untuk menuntaskan permasalahan kelistrikan di Sulawesi. Termasuk, memenuhi permintaan layanan sambungan puluhan ribu warga yang sudah antre selama tiga tahun. “Ada 7 ribu antrean di Buol, 30 ribu di Gorontalo, dan 50 ribu pelanggan antre di Manado. Kami segera tuntaskan,” tegas Dahlan. (jpnn)

    source : http://www.jpnn.com/read/2010/09/14/72172/Sidak-Kelistrikan,-Dahlan-Iskan-Diberi-Gelar-Kehormatan

    Posted by pramudyaputrautama | 29 September 2010, 2:13 pm
  9. Selasa, 14/09/2010 12:36 WIB
    Janjikan Listrik Menyala 24 Jam, Dahlan Jadi Tokoh Adat Buol
    Nurseffi Dwi Wahyuni – detikFinance

    Jakarta – Direktur Utama PT PLN (persero) Dahlan Iskan dinobatkan sebagai tokoh adat suku Buol. Dahlan dianggap ‘berjasa’ karena menjanjikan listrik menyala 24 jam di daerah yang baru saja rusuh itu mulai 1 Januari 2011.

    “Kemarin saya dinobatkan jadi tokoh adat suku Buol dalam upacara adat di rumah adat Buol karena dianggap bisa mengatasi listrik di daerah yang baru rusuh itu,” ujar Dahlan kepada detikFinance, Selasa (14/9/2010).

    Dahlan mengungkapkan, listrik di wilayah ibukota kabupaten di wilayah Sulawesi Tengah itu dulunya jarang-jarang menyala. Masyarakat pun meminta Dahlan segera mengatasi krisis listrik di wilayah tersebut.

    Permintaan masyarakat itu disampaikan ketika Dahlan mengunjungi wilayah tersebut. Kunjungan ke Buol juga memberikan kesan yang mendalam bagi Dahlan karena penuh perjuangan.

    “Saya tiba di Buol jam 5 subuh, padahal berangkat dari Gorontalo jam 5 sore. Jalan ini hancur-hancuran seperti belum ada kemerdekaan di sini. Jam 00.00 tiba di kota kecil Palele disambut masyarakat yang nunggu sejak sore,” ungkap Dahlan.

    “Mereka minta listriknya bisa menyala 24 jam karena sampai hari ini hanya 6 jam sehari. Saya sanggupi mulai 1 Januari nanti menyala 24 jam. Doakan ya,” pinta Dahlan. (qom/dnl)

    source : http://www.detikfinance.com/read/2010/09/14/123652/1440200/68/janjikan-listrik-menyala-24-jam-dahlan-jadi-tokoh-adat-buol

    Posted by pramudyaputrautama | 29 September 2010, 2:38 pm
  10. bangga punya warga negara seperti pak dahlan.selamat pak

    Posted by Heiruddin | 30 September 2010, 3:26 pm
  11. Dulu ketika saya kuliah,saya mengagumi visi dari Alm. Pak Cacuk.
    Beliau adalah anugerah bagi Telkom.
    Skrg,setelah saya bergabung dengan PLN,saya mengagumi anda Pak Dahlan.
    Banyak keraguan yg telah bapak jawab dengan tindakan nyata.
    Dan anda adalah anugerah bagi perusahaan ini.

    Jaga kesehatan selalu Pak Dis.
    Kami selalu mendoakan anda.

    Posted by Raditya | 1 Oktober 2010, 3:36 pm
  12. Salut buat pak Dahlan…semoga PLN bisa menjadi lebih baik..kalo berhasil vote DI for presiden 2014..

    Posted by Didik | 1 Oktober 2010, 5:03 pm
  13. Mudah2an Pak Dahlan Bisa jadi Presiden di pilpres 2014 mendatang. amin….
    bersama ibu Sri mulyani lebih mantab lagi.

    Saya merasakan adanya tantangan baru yang membikin pak Dahlan lebih semangat lagi semenjak tranpalasi Hati. Yaitu MEMBANGUN INDONESIA YANG MAJU DAN PROFESIONAL. Mungkin menbangun perusahaan besar2 sudah tidak menantang lagi ya pak ?

    AYO Pak Dahlan Selesaikan visi anda di PLN, saya yakin anda pasti akan di lirik partai Politik.

    Posted by tarkan | 1 Oktober 2010, 5:55 pm
  14. Masya Allah Pak Dahlan…. saya sangat kagum dengan seorang pejabat negara seperti Pak Dahlan yang mau turun ke daerah-daerah yang bukan hanya dilewati dengan pesawat udara, tetapi juga jalan darat yang tidak mulus dengan perjalanan malam hari yang menempuh waktu 12 jam lebih… pengen sekali bukan hanya 1 dahlan yang mau melakukan perjalanan dinas ke daerah terpencil, tetapi pejabat-pejabat negara yang lain pun mau turun ke daerah-daerah, tanpa di komando pak bos presiden atau menteri, tanpa patroli, tanpa protokoler, tanpa basa-basi, tanpa perlu pemberitaan yang hanya bikin riya, tanpa perlu mikirin dana perjalanan dinas, dll.Inisiatif Pak Dahlan untuk MENERANGI INDONESIA harus didukung oleh seluruh rakyat Indonesia, khususnya didaerah-daerah, karena orang-orang yang tinggal di pusat pemerintahan tidak akan pernah dan tidak akan tahu tentang “Nikmatnya hidup tanpa Lampu”, sangat sengsara bung…
    Pak Dahlan yang sangat saya hormati, ingat juga dong dengan kesehatan bapak, ingat dong dengan “Hati Non Original” yang bapak miliki, apakah perjalan jauh dan melelahkan tidak mengganggu organ cadangan yang sudah bapak pakai. Kami tak ingin Bapak cepat meninggalkan kami hanya karena terlalu aktif mengurusi hal-hal yang harusnya bisa dilimpahkan ke “bos tukang-tukang setrum di daerah”, apa ngga malu mereka dengan semangat bapak, ada baiknya bapak sedikit memberikan kepercayaan kepada direksi-direksi tukang setrum yang masih ada yang duduk-duduk dibelakang meja dan hanya nunggu laporan saja, kami sebagai salah seorang anak bangsa hanya bisa mendoakan agar bapak Dahlan Iskan selalu diberikan Allah SWT kesehatan dan kekuatan lahir dan bathin, diberikan umur yang panjang dan bermanfaat bagi rakyat Indonesia, serta diberikan kekuatan iman dalam menjalankan tugas yang juga merupakan ibadah bagi Bapak.
    Ayo tularkan semangat dahlan iskan ke segenap penjuru Indonesia….

    Posted by Amy Hasan | 1 Oktober 2010, 9:34 pm
  15. sangat menginspirasi sekali perjalanan pak dahlan ini.., luar biasa!! saya selalu mengikuti catatan yang dibuat oleh Pak Dis. saya serasa mendapat semangat baru, karena regional yang saya pegang saat ini hampir mirip kondisinya dengan PLN. saya banyak belajar dari tulisan Pak Dis, bagaimana membangun sebuah regional yang sedang terpuruk

    Posted by Alie | 4 Oktober 2010, 12:47 pm
  16. Hebat…..itulah satu kata yang pastas kita tujukan kepada Pak Dahlan Iskan atau lebih keren nya dipanggil pak DIS ini . Saya kira sangat langka kita bisa menemukan manusia Indonesia yang bergelar pejabat publik atau pejabat pemerintahan yang mau mengabdi seperti beliau . Dengan predikat sebagai CEO beliau mau berkubang dengan lumpur, melewati dinginnya malam, keritingnya jalan trans Sulawesi dengan hati yang tulus dan semangat menyala.(Saya tau betul kondisi jalan Trans Sulawesi bagaimana kondisinya) hanya untuk satu tujuan pengabdian kepada bangsa Indonesia dalam rangka menerangi Nusantara.
    Saya acungkan jempol untuk beliau …! Doa kami untuk Bapak dan Ibu . Indonesia sangat membutuhkan kiprah bapak . Teladan Bapak yang sangat baik untuk orang orang yang merasa menjadi pejabat publik atau pemerintahan .

    Posted by Archi | 5 Oktober 2010, 5:29 pm
  17. Salut buat Pak Dahlan, jika pemimpin tertinggi di republik ini seperti Pak Dahlan saya yakin semua persolan bisa diselesaikan. Semoga Bapak selalu diberi perlindungan dan kesehatan oleh Allah SWT.

    Posted by Radya | 6 Oktober 2010, 8:29 pm
  18. Bapak DIREKTUR UTAMA PLN YANG SAYA BANGGAKAN.

    SAYA BERSYUKUR PAK ISKAN TERPILIH SEBAGAI DIRUT PLN, SEMOGA IMPIAN DARI BANGSA INDONESIA YANG SELAMA INI BEBAS PEMADAMAN AKAN TIDAK ADA LAGI.

    SESUAI DENGAN TULISAN BAPAK : PLN AKAN BEBAS DARI PRAKTEK KKN SAYA SANGAT TERHARU DENGAN JANJI BAPAK ITU.

    DISINI RAKYAT INDONESIA MEMINTA AGAR PRAKTEK KKN / MARK UP HARGA YANG SELAMA INI ADA DI PLN MENURUT SAYA MASIH BANYAK YANG MENJURUS KESITU.

    TAPI INI SEMUA MEMANG TIDAK BISA MENGADA-ADA SUPAYA TIDAK TIMBUL FITNAH. DISINI SAYA MINTA PLN SECARA KESELURUHAN DARI SEMUA PROPINSI SAMPAI KE KABUPATEN AGAR DILAKUKAN PEMERIKSAAN OLEH KPK DAN DILAPORKAN KE PUBLIK.

    TERUTAMA DI BAGIAN PENGADAAN BARANG DAN JASA.
    PEMERIKSAAN DI DALAM PLN ADALAH KURANG PASS ” MANA MUNGKIN JERUK MINUM JERUK ”
    >>>>>>>>>>>>>>>IYA KAN PAK ISKAN????????????.

    PLN NYALA,
    INDONESIA TERANG MASA DEPAN CEMERLANG!!!!!!!!!!!!!!!!!

    SALAM.

    Posted by irwansyah M | 7 Oktober 2010, 10:07 pm
  19. SELAMA INI DI KAMPUNG KAMI LEBIH BANYAK PADAM DARI PADA NYALA.

    TAPI SEKARANG INI JARANG X PADAM MAKA SAYA PIKIR BERPIKIR “INDONESIA TERANG MASA DEPAN PUN AKAN JADI CEMERLANG”.

    SAYA BERTERIMA KASIH KEPADA SEMUA PIHAK YANG TELAH MEMBANTU, KHUSUSNYA PEGAWAI PLN DAN UMUNYA BANGSA INDONESIA YANG KITA CINTAI INI.

    SALAM DARI SAMBAS (KALIMANTAN BARAT).

    Posted by irwansyah M | 7 Oktober 2010, 10:19 pm
  20. Selama jadi pegawai, baru kali ini saya bangga sebagai pegawai.
    Maju terus Pak Dahlan, kita rombak PLN ini menjadi lebih baik.
    Sesuai jargon kita, Electricity for better future.

    Semoga Allah melimpahkan rahmat dan menjaga kesehatan bapak.

    Nb: saya setuju dengan pak Irwansyah M diatas. Ini memang saatnya transformasi dan pembersihan besar-besaran di tubuh PLN.

    Posted by kungfinity | 7 Oktober 2010, 10:38 pm
  21. Bapak Dirut PLN Dahlan Iskan yth.
    Selamat mudah-madahan PLN seperti jargon PLN diatas.

    Selama saya dari kontrator di PLN banyak hal yang saya dapat pembelajaran. tapi saya kadang berpikir sampaikan kapan PLN bisa maju seperti Perusahaan Listrik Luara Negeri.
    Saya menilai PLN perusahaan Monopoli sampai sekarang PLN belum bisa membersihkan diri dari Pihak-pihak yang mempengaruhi berbagai keputusan di PLN seperti (kontraktor Besar), yang berupaya mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang sangat strategis sehingga PLN bisa merugi besar akibat kebijakan tersebut.

    Mungkin bisa kita mengetahui Perusahaan yang monopoloi tidak mungkin rugi apalagi PLN perusahaan yang telah lama.

    Saya waktu mendengar PLN merubah sistem pengadaan Barang dan Jasa menjadi Eproc dan Jeproc bisa kita bersaing dengan kontraktor besar tetapi perubahan itu masih ditunggangi oleh berbagai kelompok.
    kapan kita bisa bisa maju kalau semua keputusan masih mementingkan kepentingan pribadi atau golonga bukan untuk Perusahaan.

    Demikian mungkin saya salah berkata saya mohon maaf.
    salam.
    Admad.

    Posted by ahmad syukri | 10 Oktober 2010, 1:26 pm
  22. saya membaca kata tiap katanya terangkai menjadi kalimat yang indah, dan tentunya dilapangan lebih indah, saya berharap seluruh pemimpin negara ini’ BERKELILING NEGERI SENDIRI” bukan kunker ke negeri-negeri luar..lihat,rasakan dan lakukan sesuatu untuk negeri ini…apakah SBY dan Boediono punya nyalikah untuk berkeliling dari kabupaten yang satu ke kabupaten yang satu tanpa birokrasi, pemimpin kita saja tidak hafal masalah satu daerah ke daerah lainya, bagaimana akan memberikan solusi..salut untuk pak dahlan, ini mungkin hikmat diganti nya hati pak dahlan, semoga berkah dan sehat selalu pak…:)

    Posted by kangiamm | 15 Oktober 2010, 4:32 pm
  23. Saya sebagai PNS pusat merasa terharu dengan lakon Pak Iskan di PLN,…bayangkan orang yg sakit( maaf pak saya kategorikan sakit…) ditawari jadi dirut PLN yg maaf agak amburadul manajemen servicenya,manajemen sdm nya, manajemen,…maaf ya kebanyakan yg amburadul..(meskipun saya tahu di PLN banyak insan2 yg ber integritas tinggi )….beliau mau…..
    Alhamdulillah ya Allah ini berkah bagi negeri ini…

    Menurut berita di koran banyak pegawai PLN yg menolak Pak Iskan,…tapi saya yakin sekarang mereka sekarang bangga sama belaiu,..sekarang mereka bangga menyebut instansi mereka kalau ditanya orang kerja dimana …PLN…

    Saya jadi iri sama PLN…kenapa orang2 seperti Pak Iskan tidak jadi pimpinan saya di PNS…kenapa orang yg dengan kualitas bela nusa dan bangsa serta militan seperti beliau tidak dapat saya temui di lingkungan PNS saya bekerja,…mungkin ada beberapa seperti ibu Sri Mulyani.. yg sekarang tersingkir ke luar negeri hasil konspirasi politik dalam dan luar negeri….semoga Pak Iskan tidak bernasib seperti Ibu Sri Mulyani….
    kami masyarakat indonesia mendoakan agar dalam dberi kesehatan dan kelancaran dalam segala sesuatunya dan sisa hidup Pak Iskan dapat memberikan arti lebih bagi Negara Indonesia, agar Indonesia menjadi lebih baik….

    Dan bagi pegawai PLN yg membaca ini,…ini saatnya bagi anda menegakkan kepala melawan KORUPSI, menyatukan hati dan tekat untuk membantu DIRUT PLN yang baru,…agar PLN benar benar memberikan hidup lebih baik bagi Negara Indonesia karena saya yakin pegawai PLN semuanya mempunyai hati nurani…Ayo maju PLN..Yo maju INDONESIA KU…

    Posted by dionat | 22 Oktober 2010, 12:16 pm
  24. Berikut adalah beberapa tandatanda dan gejala kutil kelamin Vulva leher rahim vagina atau di dalam anus dan atas paha adalah wilayah umum di mana kutil dapat ditemukan pada penderita wanita

    Posted by EKI SAPUTRA | 10 Februari 2015, 12:56 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: