>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, PLN

Soal Sepele dengan Pertaruhan Jabatan

Pilih Merokok atau Tinggalkan Jabatan

Senin, 20 September 2010

Inilah CEO’s note edisi ke-9 yang untuk menuliskannya tidak perlu mikir. Ini gara-gara e-mail curhat seorang karyawan yang dikirim ke beberapa rekannya pertengahan bulan Ramadan lalu. Salah satu alamat cc e-mail tersebut untuk saya sehingga saya ikut membacanya. E-mail itulah yang kemudian mendapat reaksi luas, bersahut-sahutan, dari karyawan lainnya.

Saya terus mengikutinya dengan seksama. E-mail itu lantas saya teruskan ke semua direksi PLN. Mereka pun ikut menanggapi. Lalu lintas e-mail antar karyawan itulah yang menjadi bagian pertama CEO’s note kali ini. Sedangkan tanggapan para direktur saya tempatkan di bagian berikutnya.

Inilah CEO’s note dadakan karena sudah harus terbit pada akhir Ramadan. Agar berkahnya masih kuat. Setidaknya, agar momentumnya masih nyambung. Setidaknya lagi, agar begitu bulan puasa lewat, apa yang dimaksudkan dalam CEO’s note ini langsung bisa dilaksanakan di semua kantor PLN di seluruh Indonesia.

Sebenarnya, sudah banyak pimpinan cabang PLN yang menerapkan peraturan ini lebih dulu dari pusatnya, tapi masih sporadis. Beberapa pimpinan cabang PLN memang ikut mengeluhkan pengapnya kantor pusat saat mereka datang ke Jakarta.

Saya sendiri, di tempat saya yang lama (Jawa Pos, Red), pernah mengeluarkan peraturan seperti ini. Jadi, bagi saya tidak ada masalah. Hasilnya juga sudah terbukti sangat baik. Karena itu, kalau sekarang saya dituntut karyawan PLN untuk mengeluarkan ketentuan yang sama, ibaratnya asu rindhik digitik. Seperti orang lapar tiba-tiba disuruh makan xia fei.

Bahkan, ketentuan yang pernah saya buat di tempat saya yang lama itu lebih keras. Larangan tersebut mula-mula hanya berlaku di ruang kerja. Lalu, berhasil diperluas ke seluruh gedung. Dua tahun berikutnya lebih keras lagi: Karyawan yang tidak memedulikan larangan itu tidak boleh memegang jabatan struktural.

Terakhir, larangan tersebut berbunyi: Barang siapa masih melakukannya, tunjangan kesehatannya (biaya pengobatannya) dihapuskan! Untuk apa memberikan tunjangan kesehatan kalau dia sendiri dengan sengaja mengorbankan kesehatannya!

Kebetulan, semua direksi saya waktu itu tidak ada yang begitu. Setidaknya, sudah tidak melakukannya lagi sebelum jadi direktur. Itu sebuah kebetulan yang hebat. Sekarang pun, tidak seorang pun direksi PLN yang melakukannya. Jadi, pasti, peraturan ini akan bisa ditegakkan dengan keras.

Saya perhatikan, di mana-mana, termasuk di anak-anak perusahaan tempat saya dulu bekerja, ketentuan seperti ini sulit dilaksanakan karena satu alasan: di antara pimpinannya sendiri ada yang melakukannya. Bahkan, sebagaimana bisa dibaca dalam kutipan e-mail di bawah nanti, ada salah seorang direksi PLN yang di tempat lamanya dulu, di sebuah unit PLN, kerasnya melebihi saya. Di samping ada juga yang lucunya sangat mengabunawas. Yakni, seorang direktur yang aslinya Surabaya dan memang alumnus ITS.

Maka, untuk meneruskan berkah Ramadan itu, ketentuan ini mulai berlaku di PLN sejak hari pertama masuk kerja pasca-Lebaran. SK direksinya sudah diterbitkan awal September lalu. Sebetulnya saya malu. Mengeluarkan ketentuan begini saja kok menghabiskan masa jabatan hampir delapan bulan. Kesannya seperti pimpinan yang tidak tegas.

Perusahaan-perusahaan maju di seluruh dunia sudah lama menerapkannya. Kalau tidak segera dibuat, kesannya, di bidang ini pun PLN ketinggalan jauh. Untung ada e-mail berikut ini. Bisa menjadi pemicu awal ketentuan baru ini:

***

Bulan Ramadhan memang bulan penuh rahmat. Hikmah Ramadhan kali ini tak hanya membekaskan hikmah-hikmah spiritual, tapi juga yang lain. Setelah beberapa hari memasuki Ramadhan aku merasakan kelapangan tersendiri memasuki ruang kerja.

Ya, dada ini begitu lapang, lega, dan nyamaaaannn.

Tidak seperti hari-hari sebelum Ramadhan.

Semenjak kepindahanku ke PLN Pusat ini lima bulan yg lalu, dada begitu sesaknya. Bahkan sudah semenjak pagi buta, saat baru keluar dari pintu lift sekali pun.

Bahkan terkadang aku malu saat punya tamu, dan mereka melihat kantor PLN-ku yang megah dan ber-AC tapi penuh dengan asap rokok.

Ya, di hari kelimabelas Ramadhan hikmah besar ini aku rasakan. Hilanglah sudah bekas-bekas asap rokok. Rupanya perlu 15 hari tersendiri untuk menghilangkan sisa-sisa asap rokok itu.

Dada menjadi begitu lapaaaang. Beraktivitas pun menjadi lebih bersemangat. Terasa sebuah kebersamaan hakiki: bekerja sehat adalah milik bersama.

Alhamdulillah.

Lalu.

Adakah ini bisa berlanjut sesudah Ramadhan? Selamanya? Adakah bekerja sehat ini akan berhasil kembali menjadi milik kita?

Aku enggak tahu, apakah hanya aku yang enggak tahan dengan asap itu?

Aku engga tahu, apakah aku yang terlalu menuntut hakku agar udara kamar kerjaku bersih? Aku enggak tahu, apakah merokok di ruang AC memang sudah dibenarkan? (sesuatu yg tidak aku dapati di unit-unit yang telah kulalui).

Aku juga enggak tahu, apakah ‘hanya’ untuk bekerja sehat diperlukan SK DIREKSI?

Hehehe.

(Supriyadi M.S., risk infrastructure, divisi manajemen risiko)

***

Kang Supri, banyak orang menonjolkan ego dan urat sarafnya, hanya karena sebatang rokok. Kalau diingatkan bahwa merokok itu mengganggu kesehatan… banyak yang menjawab yang tidak merokok pun banyak yang mati duluan. Astaghfirullah.

Kalau orang luar negeri datang ke kantor kita, mereka merokoknya keluar gedung. Atau ke ruang khusus tempat merokok. Yakni saat rapat break 10-15 menit… kemudian balik dan lanjut kerja. PLN sudah lama punya buku COC (code of conduct, Red) dan sudah naik cetak edisi yang baru. Tapi kayaknya hanya akan menjadi etalase berikutnya kalau tidak diimplementasikan.

Hanya waktu yang akan menjawab… apakah PLN bangkit… atau sebaliknya. Ini hampir terjadi di seluruh PLN. Lebih gawat lagi mereka juga masih merokok di kamar kecil alias WC. Maaf ini hanya mengungkapkan ketidakberdayaan saya melihat kondisi ini. Semoga masih ada waktu untuk menikmati hari-hari kerja TANPA ASAP ROKOK di luar bulan Ramadhan. (Tri Prantoro, perencanaan korporat PT PLN).

***

Kok sama ya. Ini juga kegelisahan saya. Saya pernah masuk ke salah satu ruang Kadiv (kepala divisi). Uh! Bau asap rokok. Yang juga berat adalah: banyaknya puntung rokok di sekitar kita. Saya sudah minta bagian umum untuk mengadakan pos penerimaan puntung rokok setelah Lebaran nanti. Dengan imbalan Rp 1.000/puntung.

Kalau memang aspirasi untuk sehat dari para karyawan sedemikian kuatnya, ok. Go! Kita tingkatkan upaya melarang merokok di ruang kerja ini. Yang masih melakukannya kita minta memilih: pilih tetap merokok di ruang kerja atau meninggalkan jabatannya! Setelah Lebaran mulai kita berlakukan.

(Dahlan Iskan).

***

Luar biasa… Dirut seperti ini yang kita harapkan… yang mampu menyehatkan karyawannya. Kegelisahan kawan-kawan semua ini sebenarnya juga dirasakan oleh sebagian besar kaum perempuan. Hanya, umumnya tidak mau protes. Tapi, dari beberapa kali saya komunikasi dengan pegawai/outsourcing wanita di PLN, sebenarnya mereka juga keberatan. Hanya tidak mau ribut saja. Pilih diam.

Sebenarnya sudah ada peraturan tentang hal ini yang bisa dijadikan pedoman termasuk sanksi-sanksinya. Hanya, masalahnya apakah pimpinan kita secara kolektif mau menjalankan apa tidak. Sudah terlalu banyak aturan di negeri ini… tapi yang kita harapkan sebenarnya pada tataran pelaksanaannya.

Kalau kita perhatikan Perda dan Pergub DKI, yang punya kewajiban menegakkannya bukan hanya perokok, tapi juga pimpinan perusahaan dan pegawai secara umum. Pasal-pasal dalam perda tersebut tidak dimuat di sini. Intinya, perokok di dalam ruangan kerja bisa dimasukkan penjara. (Endro Yulianto).

***

From: Manu Sukendro

Jika seorang tukang ojek merokok sehari 1 bungkus, maka sebulan telah membakar tembakau Rp 300.000. Setahun Rp 3.600.000. Dalam 10 tahun Rp 36.000.000. Padahal, jika uang sebesar Rp 10.000 dishadaqahkan, Allah menggantinya sebesar 10x, atau sebesar 700x, atau tak terhingga tergantung keridhaan-Nya. Tergantung tingkat keimanan dan ketaqwaan seseorang.

Katakan balasan dari Allah sebesar 700x, seorang tukang ojek yang mau bershadaqah setiap hari (hadist shahih mengatakan bershadaqah wajib setiap hari), maka Allah akan memberikan ganjarannya per hari Rp 10.000 x 700 = Rp 7.000.000, sebulan Rp 210.000.000, setahun Rp 2.520.000.000, atau 10 tahun Rp 25.200.000.000.000.

Balasan rizki dari Allah bisa berupa harta yang mendatangkan keberkahan, istri, anak-anak yang saleh dan saleha, shadaqah dapat memadamkan panas kubur, shadaqah dapat menjadi naungan di Padang Mashar, dll. (Muh. Manu S.).

***

Terima kasih pencerahannya. Mari kita sama-sama menyesuaikan diri dengan aturan yang ada, dengan niat ibadah. (Iskandar, divisi perbendaharaan).

***

Aku pernah ikut seminar di Gedung Serbaguna di Pusdiklat PLN di Ragunan, a few years ago. Tiba-tiba Pak Nur Pamudji (sekarang menjabat direktur energi primer PLN) dengan gagahnya mengambil mic dan berkata: ”Karena ruangan seminar ini ber-AC, mohon peserta seminar yang merokok di ruangan ini diminta keluar oleh panitia” (demikian kira2 kalimat yg saya ingat). Bahkan, ada yg cerita ke saya bahwa beliau mencabut rokok dari mulut seseorang yg sedang merokok di dalam ruangan Jawa Bali Control Center di Gandul. (Helmi Najamuddin).

***

Pak Eddy (direktur SDM), setelah saya mengamati aspirasi karyawan yang beredar di e-mail mereka, saya ikut menanggapi: Lain kali ruang Kadiv jangan diberi pintu, agar mereka jangan menutup pintu dengan alasan untuk merokok! Dalam e-mail itu saya kemukakan bahwa siapa yang merokok di ruang kerja akan kita suruh memilih: merokok atau berhenti dari jabatan/status karyawan. Mohon disiapkan SK, dengan sanksi yang benar-benar kita tegakkan (saya sendiri bersedia jadi polisi). (Dahlan Iskan).

***

Besok saya akan mulai menyiapkan aturan tersebut lengkap dengan sanksi disiplinnya, begitu pula prosedur pengendalian & penegakan GCG (termasuk pembuatan/pengelolaan situs whistle blower). (Eddy Erningpramaja, direktur SDM)

***

Aku sedih… manakala ingatanku kembali pada dua orang bulik/tanteku, orang2 yang aku dekat dengan mereka… Mereka sakit, mereka berbulan-bulan batuk, mereka sesak napas, menderita… Mereka terkena kanker paru2, dan akhirnya mereka tidak kuat…

Mereka bukan perokok, mereka setiap hari… dipaksa menghirup asap rokok. Orang bilang… mereka perokok pasif. Bulikku yang satu terpaksa kerja di satu ruangan… di kantornya… yang isinya orang-orang yang…. semuanya perokok.

Bulikku yang satunya lagi, suaminya perokok berat. Dia habiskan waktunya… bercengkerama, makan, tidur dengan suaminya yang tidak pernah lepas dari rokok… Aku pikir…. mereka ini, bulik-bulikku, sejatinya para korban orang-orang yang kurang peduli…

Duh Gusti… ampunilah dosa2 bulik-bulikku itu… Juga, limpahkan kasih-MU bagi yang lain, yang tidak berdaya, para korban perokok. Duh Gusti… berilah petunjuk kepada orang-orang yang kurang peduli itu…

Duh Gusti… terima kasih dan puji syukur… aku haturkan. Nyatanya… Engkau telah berikan kekuatan padaku dan kawan2ku untuk jadikan bilik, lorong, selasar, dan ruang-ruang majelis tempatku bekerja… terbebas dari kurang peduli. (Murtaqi Syamsuddin, direktur bisnis dan manajemen risiko)

***

Saya sudah merokok sejak kelas 5 SD. Maklum anak kolong. Puncaknya waktu tugas di Aceh Tengah selama 4 tahun, 96-99. Maklum udara sangat dingin dan tiap hari stres krn GAM. Bisa 3 bungkus sehari! Kretek lagi. Saya 3x usaha berhenti. Kali pertama dan kedua berhenti dgn niat krn batuk dan nggak enak badan… gagal total karena 6 bulan kemudian krn badan mantap terus merokok lagi.

Kali ketiga berhenti tahun 2005. Alasan? Nggak ada. Berhenti saja. Sukses sampai hari ini. Supaya terus sukses saya mendukung 100% larangan merokok. Nggak usah bikin ruangan khusus merokok atau apa pun. Nggak ada gunanya. Di bandara gagal! Nggak usah pake alasan kesehatan atau ditakut-takuti pake gambar tengkorak segala, percuma! Pokoknya tidak boleh saja. (Nasri Sebayang, direktur perencanaan dan teknologi)

***

Waktu saya Kabag Operasi di Control Center Gandul tahun 2000, saya berlakukan larangan merokok di Gedung Operasi Gandul. Alasannya: ”Bahaya Kebakaran” (habis gimana, pangkat cuma kepala bagian, di atas masih ada kepala dinas dan kepala divisi di gedung yang sama, jadi musti cari alasan yang kuat).

Alasan yang sebenarnya adalah saya tidak mau jadi perokok pasif seperti buliknya Pak Murtaqi. Sebab, di Gandul, asap rokok beredar melalui saluran AC sentral. Larangan ini mendapat dukungan luas, sampai kepala divisi pun (Pak Gultom) yang berkantor di gedung itu nggak berani melanggar (Pak Gultom alumnus Inggris, jadi paham benar soal sopan santun merokok). Mereka yang melanggar, saya cabut rokoknya dari mulutnya, nggak peduli atasan atau bawahan (saya dulu dijuluki ”Madura” karena galak banget soal rokok ini).

Tahun 2005, GM P3B JB (Muljo Adji) mengeluarkan larangan merokok di semua gedung P3B JB dan masih berlaku sampai sekarang. Kalau Dirut mengeluarkan larangan merokok itu, dukungan akan datang dari 99,999% pegawai PLN. Karena sesungguhnya yang merokok ini sedikit sekali, tapi mereka mendominasi, seolah-olah itu kebebasan mereka. Next turn, larangan merokok harus masuk surat pernyataan ketika rekruitmen dan perjanjian kerja bersama. Setuju dengan Pak Nasri, nggak usah dibuatkan tempat merokok. Pokoknya DILARANG. Titik. (Nur Pamudji)

***

Wah… aku setuju 1000%. Bagiku, mending bau kentut daripada bau rokok. Kentut gak jelas pelakunya dan gak bisa dilarang… Kalo perokok, pelakunya jelas… Larang aja! (Bagiyo, direktur pengadaan strategis).

***

Bismillah! Ramadan kali ini kita kenang sebagai bulan pemicu larangan merokok di ruang kerja di seluruh PLN!

Mohon maaf lahir batin. (*)

Dahlan Iskan, CEO PLN

Iklan

Diskusi

22 thoughts on “Soal Sepele dengan Pertaruhan Jabatan

  1. Salut untuk Bapak. Hal semacam ini harus dimulai segera dan menjadi kewajiban setiap kantor, apalgi kantor Pemerintah/BUMN. Terus berjuang Pak.

    Perda sungguh tidak ada garangnya sama sekali. Mungkin ketika peringatan pemerintah diganti Peringatan Tuhan baru semua mau berhenti merokok.

    http://hanggaady.blogspot.com/2009/12/suka-vs-tidak-suka-merokok.html

    Posted by hangga ady | 21 September 2010, 8:27 am
  2. setuju! sangat inspiratif! saya share pak ya! hehehehe..
    mestinya pemerintah yang melarang produksi rokok. lha masak pemerintah dapet duit dari ngeracunin penduduknya sendiri (baca: cukai rokok).
    bismillah deh, pasti ada solusi untuk karyawan perusahaan rokok yang kehilangan pekerjaan gara2 pemerintah melarang rokok. hehehe..
    bismillah deh pasti ada solusi pendapatan negara yang hilang dari hilangnya cukai rokok.
    jadi bangsa kok gak optimis. jual racun, duitnya buat nyembuhin orang keracunan. sama aja gali lubang tutup lobang. hehehe piss ah! (^_^)\/

    Posted by iqbal | 21 September 2010, 8:40 am
  3. Hebat Pak!!! Sangat inspiratif dan membuat saya bersemangat lagi melakukan gerakan no smoking di ruangan kantor yang mulai kendor. Selama ini walaupun sudah berbusa2 meminta mereka merokok diluar ruangan, tetap saja tidak dihiraukan. Seandainya pemimpin di tempat saya seperti Bapak…………betapa semakin indahnya hidup saya 😀
    GBU, Pak!!!!!

    Posted by Tiwi | 22 September 2010, 1:17 pm
  4. kami setuju pak Dahlan atas keikhlasan dan kesungguhan memberantas kebiasaan merokok. Insya allah, akan diberi solusi untuk mengatasi efek dominonya.

    Posted by quantumillahi | 22 September 2010, 9:35 pm
  5. Maju terus Pak Dahlan … 🙂

    Posted by Yenny Agustin | 23 September 2010, 9:47 am
  6. Senangnya bisa baca tulisan ini… bertahun2 saya bekerja di ruangan yg tdk sehat, banyak asap rokok, meskipun sudah memohon kepada teman2 perokok utk tidak merokok di ruangan kerja yg ber AC, dari cara halus sampai bikin gerakan underground movement dg tmn2 ga ada hasilnya. saya sangat merindukan ruangan kerja yg sehat, bebas asap rokok. Seandainya pimpinan di kantor saya spt Pak Dahlan, saya pasti akan lbh bersemangat bekerja krn bekerja di ruang bebas asap rokok, saya bisa terbebas dr mata merah+pedih dan batuk2 sampai muntah krn asap rokok, dan terlebih saya tidak perlu khawatir lagi seandainya saya hamil nanti.GBU pak Dahlan…

    Posted by ester | 23 September 2010, 9:57 am
  7. Bersyukur saya bekerja ditempatku yang nyaman & bersih ber AC, kebetulan dibidang pekerjaanku & team sales & marketing tidak ada yang Perokok..!
    Buat Pak Dahlan Semangatnya yang luar biasa bekerja tanpa pamrih..untuk kemajuan bangsa Indonesia yang lebih Cerah, dan harapan kami mudah2an Indonesia bisa keluar dari krisis listrik……..Semoga Cahaya Sinar Terang dapat menerangi seluruh jagad raya di Bumi Indonesia.., Terima kasih Bapak, Good Luck & God Bless you Pak. Dahlan.

    Posted by Maritje L.M.Poluan | 23 September 2010, 12:34 pm
  8. maju terus, rokok emang kurang baik bagi kesehatan …, seandainya pak dahlan maju jadi CAPRES , saya akan langsung pilh anda pak

    Posted by pai | 24 September 2010, 8:40 am
  9. setuju pak….kobarkan terus gerakan anti merokok…kebetulan setelah pergantian pimpinan ditempat sya bekerja gedung tempat kami di pusat TIK universitas negeri malang sudah bebas rokok….akhirnya saya terbebas juga dr penyakit kronis yg meresahkan orang laen disekitarnya…..ayo pak kami dukung 1.000.000 %…hidup pak dahlan iskan….

    Posted by radenfahmi | 25 September 2010, 7:47 pm
  10. Saya kerja d RS Paru , tp kerja d rumah sakit PARU-PARU bukan berarti bebas 100% asap rokok ! kalo karyawan sendiri ngrokok masih sembunyi2. lha tapi keluarga yg nunggu pasien itu yg parah ngrokoknya…
    kdng2 ndak hbs pikir, saudaranya d bangsal “sentig2” seseg. yg nunggu malah kebal kebul. meski kalo dtegur y manut, tp nek ndak ada yg negur y kebal kebul lagi.
    padahal PPOK / penyakit paru obstruktif kronik -yg termasuk penyakit paru yg sering dtemui- hampir pasti punya riwayat perokok.
    PADAHAL ROKOK itu NDAK ADA TANGGAL KADALUARSANYA. semoga istiqomah pak..!!!

    Posted by adi nugroho | 26 September 2010, 2:19 am
  11. mantep, pak
    menggunakan kekuasaan untuk ngajarin orang lain utk bisa saling menghormati
    keren !

    Posted by warm | 28 September 2010, 12:13 pm
  12. hehehe, ternyata banyak orang baik di PLN 🙂

    Posted by alon rider | 28 September 2010, 1:38 pm
  13. Tulisan ringan dengan jiwa serupa dengan judul Asu Rindhik Digitik Ala Dahlan Iskan:
    http://hanggaady.blogspot.com/2010/09/asu-rindhik-digitik-ala-dahlan-iskan.html

    Posted by Hangga Ady | 28 September 2010, 8:18 pm
  14. Kamis, 16/09/2010 16:28 WIB
    Dahlan Iskan Kasih Rp 1.000 ke Karyawan yang Pungut Puntung Rokok
    Nurseffi Dwi Wahyuni – detikFinance

    Jakarta – Direktur Utama PT PLN (Persero) Dahlan Iskan memberikan uang sebesar Rp 1.000 kepada setiap karyawannya yang memungut satu puntung rokok yang berserakan di Kantor PLN Pusat.

    “Ide memberikan Rp 1.000 untuk setiap puntung rokok yang ditemukan oleh cleaning service dan karyawan PLN ini muncul karena saya prihatin melihat banyaknya rokok di PLN dan bahkan banyak yang merokok di ruangan,” ujar Dahlan saat berbincang dengan detikFinance, Kamis (16/9/2010).

    Ia menegaskan dana yang dikeluarkan untuk penukaran sampah puntung rokok tersebut tidak berasal dari dana internal perseroan, namun langsung dari seluruh jajaran direksi PLN.

    “Itu uang pribadi saya dan Direktur lainnya kok,” kata dia.

    Gerakan bebas puntung rokok di seluruh bangunan gedung PLN Pusat ini dilakukan pada hari ini. Gerakan ini merupakan tindak lanjut dari keputusan Direksi PT PLN (Persero) tentang Kawasan Dilarang Merokok yang diterapkan sejak awal September lalu.

    “Ini dilakukan agar kebiasaan merokok yang sudah sampai ke dekat-dekat pembangkit juga harus ditinggalkan,” jelasnya.

    Sejak dibukanya counter penukaran puntung rokok pagi tadi di plaza terbuka kantor PLN Pusat hingga siang hari tadi, setidaknya telah terkumpul tidak kurang dari 2.500-an puntung rokok. Bila ditukarkan, setara dengan nilai Rp 2.500.000.

    Puntung-puntung rokok itu berasal dari sekitar lingkungan kantor, baik yang ada di tong/tempat sampah yang tersebar di beberapa titik yang ada di gedung kantor, maupun yang berasal dari di halaman kantor.

    Gerakan ini dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan kantor yang bersih dari puntung rokok, terbebas dari asap rokok dan untuk lebih menjamin kenyamanan lingkungan kerja.

    Sementara itu, ketentuan kawasan dilarang merokok di semua gedung kantor PLN diberlakukan bagi semua pegawai dan tenaga kerja lainnya yang bekerja di bangunan kantor PLN, maupun bagi tamu-tamu yang berkunjung ke kantor PLN.

    Selain dimaksudkan untuk menciptakan ruang kerja yang bebas asap rokok, kebijakan ‘Kawasan Dilarang Merokok’ juga bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang dengan kualitas udara yang lebih bersih dan sehat, mendorong setiap anggota perusahaan untuk mengembangkan perilaku hidup sehat dan lebih meningkatkan produktivitas kerja pegawai.

    Pelanggaran terhadap ketentuan ini, bagi pegawai akan dikenakan sanksi tegas secara berjenjang, mulai dari teguran lisan sampai demosi jabatan.

    Diharapkan dengan diterapkannya ketentuan kasawan dilarang merokok ini,benar-benar dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat, bersih bebas dari asap rokok. (epi/dnl)

    source : http://www.detikfinance.com/read/2010/09/16/162811/1441882/68/dahlan-iskan-kasih-rp-1000-ke-karyawan-yang-pungut-puntung-rokok

    Posted by pramudyaputrautama | 29 September 2010, 2:36 pm
  15. salut buat pak dahlan iskan mudah2an bawahan bapak dapat mencontoh kinerja kerja bapak…saya mau minta petunjuk ke bapak tentang pemanfaatan tiang listrik pln guna menunjang usaha kecil masyarakat…saya mempunyai usaha tv kabel yang sebagian besar kabelnya memanfaatkan tiang pln…yang ingin saya tanyakan apakah saya tetap dapat menggunakan fasilitas tersebut dengan memberikan sumbangsih ke pada pihak pln dan bagai mana prosudurnya pak…mohon bantuan bapak untuk hal yang satu ini agar kami tidak menjadi pengangguran lagi ….trimah kasih buat pak dahlan iskan….

    Posted by ashriyandi | 1 Oktober 2010, 7:53 pm
  16. keren…go Pak Dahlan Go!!!

    Posted by Siu Elha | 4 Oktober 2010, 2:26 pm
  17. salah satu putra terbaik bangsa.

    Posted by arief | 31 Oktober 2010, 1:32 am
  18. Saya dulu mantan perokok (berat di teman karena dimintain terus 🙂 ), alhamdulillah sekarang sudah berhenti total. Berhenti memang tidak usah pakai cara, berhenti saja. Kalau dilarang memang harusnya dilarang saja, tidak usah ada smoking area.

    http://www.baherba.blogspot.com
    http://www.koinemasdinar.co.cc

    Posted by A Shiyam | 15 Desember 2010, 9:39 am
  19. Not all the things that you worry could happen in your life Stop worrying about something because worries make you more afraid to do everything

    Posted by RAFIKA AYUANDARI | 15 Juni 2014, 7:32 pm
  20. Jangan tanyakan mengapa seseorang membencimu sebelum kamu tanyakan dirimu sendiri mengapa kamu peduli akan hal itu

    Posted by RAFIKA AYUANDARI | 10 Februari 2015, 8:17 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Investasi Rokok | Oiasatria - 26 Januari 2012

  2. Ping-balik: Investasi Rokok | oiasatria - 27 Mei 2012

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: