>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, PLN

Resiko Dihujat

Senin, 09 Agustus 2010

Listrik di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta padam. Heboh. Ribuan penumpang ngomel, marah dan menghujat. Terutama menghujat PLN. Dan juga tentu menghujat saya. Apalagi mati listrik itu terjadi pada waktu puncak-puncaknya: menjelang jam penerbangan pertama, di hari Jumat yang lebih ramai daripada hari apa pun, dan menjelang bulan puasa di mana banyak orang akan melakukan perjalanan suci berbakti kepada orang tua, termasuk ke kuburan mereka.

Nama PLN yang selama ini sudah buruk itu hancur lebur di Bandara Soekarno-Hatta pagi itu. Bahkan, hancur di mata seluruh bangsa Indonesia. Sebuah headline surat kabar yang memang biasa mengkritik PLN menulis: Byar-pet telah memalukan bangsa!

Sungguh masuk akal bila hari itu tidak ada satu pun orang yang berpikir bahwa mati lampu di bandara tersebut bukan kesalahan PLN. Masuk akal juga kalau tidak ada yang berpikir bahwa bisa saja instalasi listrik di dalam bandara itulah yang mengalami gangguan. Bahkan aneh sekali. Mengapa UPS yang mestinya otomatis mengambil alih daya listrik secara darurat itu tidak jalan.


Begitulah hukum alam. Seorang koruptor yang istrinya dua dan rumahnya mewah akan kelihatan lebih jahat daripada seorang koruptor yang lebih besar tapi istrinya satu dan rumahnya biasa saja karena berhasil menyimpan uangnya di luar negeri yang tidak ketahuan siapa pun.

Ada cerita lainnya: Kontraktor Jepang, Mitsubishi, mengerjakan pemborongan pembaruan pembangkit listrik di Muara Karang, Jakarta. Alat beratnya menghantam instalasi listrik dan membuat sebagian kawasan Jakarta padam. Hari itu nama PLN juga babak belur. Masyarakat Jakarta sudah trauma. Bisa-bisa akan berbulan-bulan lagi terjadi pemadaman bergilir. Meski hari itu listrik bisa dipulihkan dalam waktu lima jam, tapi nama sudah terlanjur hancur.

Orang tahunya PLN itu memang sudah parah. Tidak mungkin Mitsubishi bisa salah. Pasti PLN yang salah. Apalagi pihak Mitsubishi yang semula sudah setuju untuk meminta maaf secara terbuka ke publik, akhirnya menolak. Alasannya kantor pusatnya di Tokyo tidak setuju. Saya memaklumi alasan itu, karena begitu perusahaan itu minta maaf akan sangat rawan gugatan. Siapa pun yang menggugat, Mistubishi akan langsung kalah. Sudah minta maaf, berarti sudah mengakui berbuat salah. Di mata Mitsubishi barangkali muncul logika ini: sekalian saja biar PLN yang salah.

Di kota Pematang Siantar (Sumatera Utara), masyarakat yang baru saja menikmati hilangnya pemadaman bergilir bertahun-tahun, menghujat PLN lagi. Kali ini listrik di kota itu memang padam cukup luas. PLN hanya bisa menerima hujatan itu, meski mati lampu tersebut sama sekali tidak disangka-sangka. Hari itu seseorang yang lagi marah mengamuk membabi-buta. Ini karena jaringan di rumahnya diputus akibat ketahuan mencuri listrik. Diam-diam dia pergi ke suatu tempat yang vital. Mengamuk dan memutuskan jaringan penting listrik di sana. Polisi memang berhasil menangkap orang tersebut, tapi kekecewaan masyarakat yang listriknya mati tidak terobati.

Di Cianjur Selatan (Jawa Barat) masyarakat juga marah. Hari itu hujan angin luar biasa hebatnya. Disertai petir dan halilintar. Jaringan di Cianjur Selatan putus. Pemulihannya memerlukan waktu lebih dari lima jam. Kali ini PLN benar-benar salah.

Setelah diperiksa, ternyata jaringan ini terlalu panjang tanpa dipasangi LBS di tengah-tengahnya. Jaringan ini panjangnya 15 kilometer tanpa LBS sama sekali. Seharusnya, setidaknya di tiap 3 kilometer dipasangi LBS. Dengan demikian kalau pun listrik mati karena bencana alam, akan lebih cepat memperbaikinya. Tidak harus lebih lima jam seperti itu. Bahwa petugas harus memulihkan jaringan itu sambil mengarungi hujan badai, itu sudah biasa. Tapi, bahwa tidak ada LBS di tengah-tengah jaringan panjang itu, memang kesalahan sistem di PLN.

Setelah kejadian itu, seluruh Indonesia diminta memeriksa di mana saja ada jaringan yang terlalu panjang yang tidak dipasangi LBS. Rasanya tidak perlu dijelaskan apa itu LBS, karena begitu banyak peralatan listrik yang memang sulit dijelaskan. Dan tidak perlu. Yang penting listrik jangan mati.

Ternyata memang banyak listrik mati akibat kesalahan sistem PLN seperti itu.

Yang terakhir ini kesalahan saya juga: Waktu saya ke Istana Bogor Jumat lalu, saya menyempatkan diri menemui dan berdialog dengan karyawan PLN di Bogor. Hari sudah malam. Di luar lagi hujan deras. Saat itulah radio panggil petugas PLN bersuara: Lima tiang listrik di lereng Gunung Salak roboh. Saya bertanya, jam berapa ini. Sekitar jam 22.00.

Saya terus mendengarkan dialog di pesawat komunikasi itu. Suaranya agak kurang jelas. Rupanya petugas di sisi sana lagi di tengah-tengah hujan. Dia sudah berusaha untuk bersuara sekeras mungkin tapi masih kalah dengan suara angin ribut. “Jurangnya dalam sekali,” bunyi suara di radio komunikasi itu.

Dari seberang sana terdengar pertanyaan apa yang harus diperbuat. Jiwa saya terbelah. Di satu pihak saya membayangkan alangkah menderitanya masyarakat yang listriknya padam di lereng gunung Salak itu. Di lain pihak saya bergulat dengan perasaan: Akankah saya memaksa petugas itu untuk memulihkan tiang listrik di bibir jurang yang dalam di tengah kegelapan malam yang berhujan itu? Akankah saya harus mengorbankan jiwa mereka?

Saya tercenung agak lama. Kadang sebuah keputusan begitu sulitnya.

Bahwa PLN dan saya dihujat, baik akibat kesalahan sendiri maupun bukan, tidak bisa dihindari. Tidak ada resep yang lebih baik kecuali terus bekerja keras.

Saya hanya ingat ketika awal-awal membenahi Jawa Pos pada 1982. Waktu itu begitu lemahnya Jawa Pos sehingga orang Surabaya sendiri tidak tahu di mana alamat Jawa Pos di Jalan Kembang Jepun itu.

“Di mana sih Jawa Pos itu?”

“Di depan Bank Karman,” jawab saya.

Bank Karman. Begitu kecilnya bank itu, tapi masih lebih terkenal daripada Jawa Pos. Maka timbul dendam dalam jiwa saya: saya harus membuat Jawa Pos setidaknya akan menjadi lebih terkenal dari Bank Karman! Kalau suatu saat ada yang bertanya di mana itu Bank Karman, akan saya jawab dengan gagah berani: di depan Jawa Pos!

Dendam yang sama kini muncul di jiwa saya. Saya harus membuat PLN lebih terkenal daripada bandara Soekarno-Hatta. Dengan demikian kalau suatu saat ada mati lampu lagi di Bandara Soekarno-Hatta, orang tidak lagi menghujat PLN. Saya serahkan kepada-Nya mengenai hasilnya. (*)

Iklan

Diskusi

24 thoughts on “Resiko Dihujat

  1. Tak lama sesudah buka puasa hari I, istri saya menghubungi PLN. Sebuah pohon miring 45deg hampir rubuh beberapa ratus meter dari rumah kami. Satu bundle besar kabel2 listrik berada persis di bawah pohon tsb. Telfon 123, tidak diangkat. 108 memberi nomor lainnnya untuk daerah Depok. Si petugas di kantor tersebut (ternyata beda kecamatan)meminta istri kembali menelfon 123. Pesawat telfon beralih ke saya, dan saya katakan bahwa kami tidak akan menelfon siapapun setelah ini. Kalau informasi ini bapak anggap penting, tolong dicatat. Kalau perlu hub 123, bapak yang hubungi. Beliau menjawab: ya, terimakasih.
    Saya pikir ini masalah kurangnya rasa memiliki, dan kurangnya inisiatif. Bisa saja yang kami hubungi ternyata bukan petugas, tapi penjaga kantor. Namun tetap saja mengesalkan.

    Posted by Ridha | 13 Agustus 2010, 1:03 pm
  2. I LIKE IT

    Posted by EKA | 16 Agustus 2010, 7:37 pm
  3. all the best.

    Posted by Muhammad Fiji | 16 Agustus 2010, 8:54 pm
  4. Amin.. semoga masyarakat lebih mengerti…

    Buat Admin: saya pasang blog ini ke blog saya yah

    Posted by Lambertus Wahyu Hermawan | 17 Agustus 2010, 6:05 am
  5. Lanjutkan….., Pak !
    Memang membutuhkan waktu utk membuat citra PLN lebih baik, krn persepsi masyarakat yg sudah terlanjur mencap PLN sbg BUMN yg bobrok, “Sarang Koruptor”, dll.
    Saya yakin usaha & niat Bpk tsb didukung oleh banyak (kalau tdk boleh dikatakan “semua”) karyawan PLN.

    Posted by Efri Yendri | 17 Agustus 2010, 11:14 pm
  6. i m proud of you pak Dis

    Posted by adiwin | 18 Agustus 2010, 12:05 pm
  7. sudahlah pak, biarkan orang berkata apa , setidaknya PLN yang sekarang sudah jauh lebih baik . Tinggal dipoles dikit , maju terus pak Dahlan

    Posted by pai | 19 Agustus 2010, 3:36 am
  8. Oh iya… ada yang kelupaan…
    SELAMAT ULANG TAHUN buat Bapak Dahlan Iskan tanggal 17 Agustus kemarin…
    Sudah 59 tahun ya Pak..

    Sukses selalu buat Bapak Dahlan Iskan

    Posted by Lambertus Wahyu Hermawan | 19 Agustus 2010, 7:06 am
  9. GOOD LUCK PAK DAHLAN, SEMOGA PLN TAMBAH MAJU DAN MEMBUAT INVESTASI MAKIN BAIK DI INDONESIA

    Posted by dodo | 19 Agustus 2010, 11:03 am
  10. Pak Dahlan, saya adalah pelanggan PLN yang mungkin dapat menghujat perusahaan yang bapak pimpin. Hari ini sambungan listrik di warnet saya dirubah dari sebelumnya dari pasca bayar ke pra bayar. Hal ini terjadi karena sewaktu dua minggu yang lalu saya menaikkan daya dari 900 ke 2200, ada karyawan PLN setempat mewajibkan saya untuk berpindah dari listrik pasca bayar ke listrik pra bayar. Dan saya pun menyetujui karena ia menjanjikan tagihan listrik menjadi lebih murah bebas biaya beban, abonemen, dsb.

    Tapi sejauh pengamatan saya di hari pertama ini, koq keliatannya bisa lebih mahal ya daripada listrik pasca bayar. masa pemakaian 2-3 jam saja sudah habis 5 KWh atau sekitar 5 ribu rupiah. saya prediksi sehari mungkin bisa menghabiskan 20-30 KWh. Bisa bapak bayangkan saya mesti menghabiskan 20 – 30 ribu per hari untuk sambungan listrik! itu berarti 600 ribu sampai 1 juta per bulan. Sebagai perbandingan, ketika saya di tempat lama dengan listrik pasca bayar beban 2200 watt, saya hanya menghabiskan 200 sampai 250 ribu per bulannya. Gimana mau untung bisnis warnet saya, pak! Tolong, pak….direview kembali kebijakan listrik pra bayar ini!

    Posted by agitdd99 | 19 Agustus 2010, 1:30 pm
    • maaf sekali pak dahlan, saya ternyata barusan salah baca meteran digitalnya. ternyata baru menghabiskan 1,1 Kwh dalam 3 jam pemakaian. maklum aja, meteran digitalnya ngebingungin sih pak. ganti2 angka terus. jadi aja salah baca. moga aja persepsi saya di atas salah. Ini akan saya terus monitoring sampai akhir bulan. moga lebih hemat di banding listrik pasca bayar. Terima kasih.

      Posted by agitdd99 | 19 Agustus 2010, 1:44 pm
  11. Saya mengikuti catatan-catatan yang Pak Dahlan tulis, Saya yakin, percaya, salut dan apresiasi kepada beliau bahwa Pak Dahlan salah satu putra terbaik di Negeri ini . Dedikasi, pengabdian, kejujuran dan ketulusannya luar biasa untuk seorang DIRUT. Menurut kami sikap, rasa care, sensitifitas kdp pelanggan, rasa melayani kepada pelanggan belum sepenuhnya tertanam di insan-insan PLN . Maklum selama ini top management di PLN tidak seperti sekarang , praktis baru 6 bulan insan PLN menemukan orang yang jauh berbeda dengan pendahulunya .
    Ibarat bayi usia 6 bulan belum pandai berjalan , memang perlu waktu untuk dapat merubah sikap, perilaku, kebiasaan, empati dari para insan PLN untuk dapat lebih baik lagi dari sekarang .
    Saya ingat perjalanan PT.TELKOM (dahulu PERUMTEL), begitu mendapatkan seorang Direksi yang super ( Alm. Pak cacuk Sudarjanto) maka dalam kurun waktu 5 tahun semua berubah total 180 derajat . Semua bidang diadakan perombakan besar besaran . Percaloan, Kinerja, Prestasi, SDM, Tehnologi, Misi dan Visi semuanya berubah dan hansilnya nyata . Kini PT. Telkom dapat menjadi salah satu perusahaan BUMN yang maju dan dipercaya masayarakat .Proses tender selalu dilakukan dengan e-auction ( elektronic tender ) sehingga transparansi dan kejujuran cukup dapat diandalkan.
    Kembali ke masalah PLN , tugas pak Dahlan dan insan PLN masih panjang dan berat untuk bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap PLN yang sudah “kadung” di cap jelek oleh masyarakat . Tentunya dukungan Pemerintah sebagai pemegang otoritas sangat diharapkan .
    Kita berharap PLN bisa lebih biak lagi untuk kepentingan seluruh masyarakat Indonesia . Jangan karena..ah..monopoli ini ..terus insan PLN tidak tergerak untuk memperbaiki diri .Masih banyak hal-hal yang hrs diperbaiki …Contoh kecil aja adalah layanan 123, penambahan daya, respon gangguan pelanggan, dll
    Beruntung insan PLN mendapatkan CEO seperti pak Dahlan . Maju terus pak dahlan . Ciptakan insan PLN yang lebih profesional , lebih tanggap, lbih peka, dan lebih bersih lagi….!! Bravo

    Posted by Archi | 19 Agustus 2010, 5:03 pm
  12. Saya adalah pengagum Pak Dahlan Iskan. Saya telah membaca buku ganti hati. Beliau menulis bahwa bila masih diberi hidup oleh Allah maka disisa hidupnya akan diabdikan untuk kepentengan masyarakat. Dan itu dibuktikan dengan mau menjadi Dirut PLN yang mana Pak Dahlan tahu dengan menjadi Dirut tidak enak terlalu banyak masalah, siap dihujat. Namun dengan mental perjuangan seperti para pahlawan kita untuk mereformasi masalah PLN yang sudah puluhan tahun tak pernah beres. Mari Kita dukung Pak Dahlan. Smg tidak lama lagi negeri yang kaya sumber energi ini tidak lagi kekurangan Listrik. Karena tidak mungkin ekonomi mengalami pertumbuhan bila kekurangan listrik. Smg Allah meridhoi perjuangan Pah Dahlan dan dengan livernya yang baru 24 th tambah panjang umur dan diberi kesempatan mengabdi ditempat lain bila PLN sudah beres.

    Posted by Hanung haryanto | 19 Agustus 2010, 6:31 pm
  13. Salam Pa

    Saya salut dengan Bpk, dengan media blog ini kita jadi tau apa yang terjadi di PLN. Anyway, di Bangka Belitung sekarang aman, sudah tidak ada lagi pemadaman bergilir. Trims Pa, semoga PLN tetap jaya.

    Posted by aksansanjaya | 20 Agustus 2010, 1:26 pm
  14. Assalamu’alaikum pak iskan, apa kabar? Maaf pak ada yang perlu saya tanyakan pada Bapak,kira2 apa yg bisa saya hubungi untuk berdialog langsung dengan Bapak,trimakasih

    Posted by dudundhemdhem | 23 Agustus 2010, 8:38 pm
  15. Ketika Pak DIS ditunjuk jdi DIRUT PLN, banyak yang kontra dan banyak juga yang mendukung. Bagi yang kontra….. beribu alasan dan berbagai argumen disampaikan. Mulai dari pengalaman, keahlian, bahkan kesehatan.
    Bagi yang mendukung……, pengalaman, dan keahlian dibidang Listrik bukanlah harga mati. Meminjam istilah Gus Dur……., gak ada Presiden Indonesia yang ketika ditunjuk dan dipercaya pertamakalinya punya pengalaman jadi presiden.
    Kesehatan… jg bukanlah sesuatu yang perlu dijadikan halangan. Justru krn pernah manjalani transplantasi hati…. P DIS berarti akan lebih “PUNYA HATI” dari yang lain, dalam menentukan kebijakan maupun melakukan pelayanan.
    Latar belakang wartawan….diharapkan akan membw keterbukaan, pembaharuan pemikiran, dan perbaikan kom dan relasi dengan semua pihak termasuk masyarakat dan pelanggan.
    Jdi mungkin tak sepenuhnya saya salah jg ketika beberapa kali surel saya ke PT PLN tak berbalas mengenai keresahan saya dan warga yang berada dibawah jaringan SUTET yang sedang dibangun di kota madiun, maka kemudian saya menyandarkan pada Pak DIS untuk “sekedar berbagi informasi dan mengadakan program sosialisasi”.
    Karena klo mungkin dari sisi logika… informasi itu akan menyebabkan bisa menimbulkan adanya spekulasi…, provokasi, dsb. maka dari sisi hatinurani… informasi itu akan menentramkan kami yang langsung mengalami.
    Dan… Pak DIS lebih “PUNYA HATI” saya yakin. Semoga…Insyaallah.

    Posted by mohammad tauchid | 27 Agustus 2010, 11:22 am
  16. good job Dad !! it’s better than never !! the show must go on… whoever they are, who wants to kick you from PLN, ignore them !!! awaass… njebluugg…

    Posted by jasmine santamidjaja | 28 Agustus 2010, 9:41 pm
  17. Semoga Allah senantiasa melindungi P Dis dari segala mara bahaya yg tampak maupun tak tampak agar negera iki bisa segera bangkit

    Posted by Nudiya Yuliani | 1 September 2010, 2:07 pm
  18. Teelp 123 nya pak perlu dibenahi…………

    Posted by yusuf | 28 September 2010, 7:20 pm
  19. Bahwa hampir satu tahun Pak DI menahkodai PLN,dah banyak perubahan dan kita harus bersabar ibarat sakit , dari R ICCU dah pindah ke kamar,semoga tahun 2011 berobat jalan Semoga Pasien Dokter Perawat Keluarga ,handai Tolan-Kerabat,masyarakat,Touke2,maling listrik,premen saling dukung donk dan hijrah ke jalan yang lurus dan benar sehingga PLN sehat dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi,insyaallah 2020 PLN menuju terang dan Mandiri ,karena sisi gelapnya kita ganyang. Esteka 2010

    Posted by Surya Tarmizi Kasim | 3 Desember 2010, 2:08 pm
  20. benar2 luar biasa…

    Posted by Nur Ali Muchtar | 5 Februari 2012, 5:58 pm
  21. Yaampunn sabar ya pak ๐Ÿ˜€ , sukses terus apa yang dilakukan bapak asala tujuannya positif dan bermanfaat bagi orang lain ๐Ÿ˜€

    Posted by Citra Indah | 8 Juni 2015, 12:41 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Resiko Dihujat (via Catatan Dahlan Iskan) « DOWN TO THE ROAD: Muhammad Fiji - 16 Agustus 2010

  2. Ping-balik: PLN Penerang Nusantara « momopururu - 15 Oktober 2012

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: