>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

Buka-bukaan Gas Di Komisi VII DPR

Jum’at, 12 Februari 2010
Buka-bukaan Gas Di Komisi VII DPR

Rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR-RI ini memang berlangsung 10 jam. Tapi kelelahan itu berakhir dengan happy ending banyak sekali persoalan gas terungkap dan terselesaikan. Buka-bukaan antara BP Migas, BPH- Hilir Migas, Perusahaan Gas Negara, PLN dan anggota Komisi VII kemarin itu membuahkan saling pengertian mengenai enam masalah gas yang ada berikut pemecahannya.

Gas sebesar 85.000 mmbtu dari Jambi Merang di Sumsel, misalnya, yang semula akan dialirkan ke Jawa tapi terhalang banyak hambatan, disepakati untuk PLN saja. PLN akan membangun pembangkit listrik di dekat lokasi itu sebesar 400 MW. Besar sekali. Sangat membantu untuk mengatasi kekurangan listrik di Sumsel dan Riau. PGN pun terhindar dari investasi kompresor yang mahal itu. Kesan politis bahwa lagi-lagi gas untuk Jawa juga terselesaikan.

Pola yang sama akan dilakukan untuk menampung gas dari lapangan Singa (juga di Sumsel) sebesar 45.000 mmbtu yang bisa dipakai untuk membangun tambahan pembangkit listrik 140 MW. Manfaatnya juga sangat besar bagi kecukupan listrik di Sumsel sampai Riau. Diskusi yang intensif (jumlah anggota DPR yang bertanya sampai 25 orang dengan jumlah pertanyaan sampai 134 pertanyaan) membuat banyak persoalan terungkap. Memang sempat melebar sampai ke soal tarif listrik untuk orang kaya dan ke soal audit teknologi pembangkit, namun pimpinan rapat kemarin, Effendy Simbolon, segera mengarahkan kembali ke fokus pembahasan gas dalam negeri.

Bahkan BP Migas sampai “membocorkan” bahwa di Sorong pun sebenarnya tersedia gas meski amat kecil. Yakni hanya 1500 mmbtu. Tapi bagi PLN gas sekecil itu pun sangat bernilai. Bisa membuat seluruh rakyat Sorong pesta cahaya.Gas itu bisa untuk menghidupi pembangkit listrik 2×4 MW. Padahal seluruh Sorong hanya membutuhkan sekitar 4 MW. Ini juga berarti rencana PLN yang semula ingin membangun PLTU kecil di Sorong bisa dibatalkan. Investasi bisa lebih dihemat.

Pembicaraan menjadi lebih seru ketika memasuki topik mengatasi kekurangan gas 1 juta mmbtu untuk pembangkit listrik yang sudah terlanjur ada di Medan, Jakarta, Gresik dan Pasuruan. Saya mengungkapkan bahwa untuk menutupi kekurangan yang begitu besar PLN terpaksa hanya bisa mengharapkan dari receiving LNG terminal. Ini berarti PLN harus membeli gas dengan harga sangat mahal dibanding harga gas dalam negeri lainnya. Yakni bisa mencapai 9 dolar/mmbtu. Padahal selama ini PLN mendapatkan gas dari dalam negeri dengan harga maksimal hanya 5 dolar/mmbtu.

Sayangnya gas dengan harga yang murah itu hanya tersedia sedikit. Karena itu PLN harus menghidupkan pembangkitnya yang bertenaga gas itu dengan BBM. Mahalnya bukan main 16 dolar/ mmbtu. Maka, meski harga 9 dolar/ mmbtu sudah sangat mahal dibanding harga gas dalam negeri, namun masih sangat murah dibanding harus membeli BBM 16 dolar/setara mmbtu. Ini saja sudah akan bisa membuat PLN lebih hemat Rp 15 triliun setahun.

Pertanyaan yang sangat kritis dari anggota Komisi VII adalah kalau PLN kini berani membeli gas dengan harga 9 dolar/mmbtu, bagaimana kalau pemilik gas dalam negeri yang selama ini menjual gasnya ke PLN hanya dengan harga di bawah 5 dolar/mmbtu lantas minta naik harga semua? Anggota DPR lainnya juga mempertanyakan, bagaimana pula akibatnya terhadap pabrik pupuk? Terhadap pabrik keramik? Terhadap industri lainnya?

Bahkan Kepala BP Migas langsung membuat kesimpulan kalau saja sejak dulu ada yang mau membeli gas dengan harga tidak usah 9 dolar/mmbtu, tapi 7
dolar saja, selesailah sudah semua persoalan pergasan kita. Investor akan berebut mengembangkan ladang gas, jumlah gas akan melimpah, dan kekurangan gas akan langsung teratasi. Bahkan polemik ekspor gas pun akan dengan sendirinya tidak relevan lagi. Persoalan Donggi Senoro juga langsung teratasi.

LNG receiving terminal kelihatannya tetap harus dibangun di laut Medan, Teluk Jakarta dan lepas pantai Surabaya. Tapi sumber gasnya kelihatannya tidak perlu lagi harus dairi Qatar. Ini bisa memecahkan kebekuan Donggi Senoro dan merangsang dipompanya gas-gas dari sumur besar lainnya. Dengan demikian PLN pun tidak jadi harus membeli dengan 9 dolar/mmbtu. Mungkin cukup dengan 7 atau 8 dolar/mmbtu.

Saya yakin setelah dengar pendapat kemarin, BP Migas, PGN dah PLN akan seru berdiskusi di intern masing-masing untuk mencari jalan ditemukannya keseimbangan baru antara demand, supplay dan harga gas di masa depan. Sebuah pcrmenungan yang akan menjadi terobosan mengatasi banyak persoalan gas di dalam negeri.*

Iklan

Diskusi

18 thoughts on “Buka-bukaan Gas Di Komisi VII DPR

  1. wah2..semoga ini dapat memecahkan masalah kelistrikan di Negara kita dan juga tingginya tingkat subsidi listrik..sudah saatnya pembangkit listrik yang “harusnya” bahan bakarnya Gas tidak diisi lagi dengan BBM…

    Posted by Putu Eka Sudiartha | 24 Februari 2010, 4:45 am
  2. Pertanyaan dari anggota DPR saya nilai sebagai phobia terhadap pembaharuan. Jika ada cara yang lebih tepat dan berguna mengapa harus takut?

    Posted by Jek Wibawa | 25 Februari 2010, 10:34 am
  3. Setuju Pa.Langkah2x yg baik sekali.

    Bila harga USD 7/ MMBTU di setujui, maka Gas2x yg di ekspor bisa kembali ke Dlm Negri. Seperti Commodity trading Jagung. Yg dibayarkan hanya selisih saja dan delivery hanya kepada Highest Bidder.

    Tentunya akan lebih baik bila dibentuk commodity trading GAS yg mempunyai harga spot & future pricing. Sehingga pembelian gas bisa direncanakan dng baik.
    contohnya Future 3 bulan. PO sekarang, delivery 3 bulan lagi.
    Dan anggota commodity trading gas adalah international gas producers or owners.
    Jadi harga gas dalam negri tidak ikut naik.

    Posted by sutben | 27 Februari 2010, 7:12 am
  4. Oh iya Pa. Minta Ijin utk mem-forward article diatas. Tolong ijinnya di email ke Sutben@gmail.com.

    Ditunggu ya Pa. Makasih

    Posted by sutben | 27 Februari 2010, 7:15 am
  5. Semangat pak Dahlan, saya yakin 1000% PLN akan jaya di tangan bapak… Amin.

    Posted by Roni Marta | 5 Maret 2010, 5:30 pm
  6. Siang Pa.

    Selamat atas kabar baiknya di Jak TV. Listrik sdh tidak deficit lagi.
    Plus, peningkatan dari 20 MW ke 90 MW dng menggunakan batu bara yg baik.

    Nitip Pa. Kebakaran banyak sekali ya. Kebanyakan karena arus pendek listrik. Apa ada yg bisa dilakukan utk mencegah kebakaran?

    Makasih.

    Posted by sutben | 18 Maret 2010, 12:02 pm
  7. pak dahlan, intinya adalah : stop investasi berlebih untuk pulau JAWA !! prioritaskan pembangunan pembangkit listrik di kantong2 utama gas nasional di luar jawa. FYI, kaltim setiap hari mensuplai hampir 3000 juta kaki kubik gas, namun semua pembangkit listrik disini pake SOLAR !!! SHIT, betapa bobroknya planning pemerintah di sektor energi. Jawa berlimpah2 listrik dengan sistem interkoneksinya padahal suplai batubara dan gas berasal dari Kalimantan yang notabene mengalami krisis listrik bertahun-tahun. SO, Jawa adalah masa lalu…..Hidup pak Dahlan, semoga Allah menyertai langkah anda selalu

    Posted by anto | 25 Maret 2010, 9:50 am
  8. kami harap pa dahlan jg perhatikan outsourcing PLN yg jd plaksana tugas tehnik lapangan PLN yg jauh dr sejahtera spy lbh semangat melayani masyarakat.tolong sampaikan p pram u/ p dahlan iskan trims!

    Posted by disti | 3 April 2010, 2:00 pm
  9. kenapa ga dari dulu aja sih pada duduk ngobrol bareng ngomongin gas. kan jelas tuh jadi masuk akal sekarang logikanya. untung ada pak dahlan sbg inisiatornya. semoga selalu diberi kesehatan dan panjang umur pak dahlan

    Posted by Yudi Setyawan | 16 April 2010, 9:18 am
  10. Semangat pak……….
    kami dari PLN PLTD Kolaka Sultra terus mendukung bapak dalam mengatasi krisis listrik….
    Mohon Outsourcingnya PLN diperhatikan pak, karena menurut saya Outsourcing sangat berpengaruh terhadap PLN..
    Terima kasih.

    Posted by Akmal | 23 April 2010, 3:01 pm
  11. smangat terus pak
    kami outsourcingnya PLTG glimanuk mendukung 6 keputusan untuk Bali.
    dan mohon untuk pak Dahlan kesejahteraan kami sebagai outsourcing ditingkatkan,
    mengingat selama kami bekerja 7 tahun seperti jamsostek kami tidak ada
    Terima kasih.

    Posted by shoni eka puswandono | 26 April 2010, 6:41 am
  12. God bless you, sir.. Do’a kami menyertaimu pak.. Salut untuk totalitas bpk.. Trima kasih, jatim (terutama kediri) sudah jarang ada pemadaman listrik bergilir, salam

    Posted by Aa jack | 19 Mei 2010, 9:55 am
  13. Amin. Semoga menjadi terobosan untuk Indonesia yang lebih baik lagi.

    Posted by alisyah | 20 Mei 2010, 7:45 pm
  14. Dear Bpk. Dahlan Iskan yg saya cintai,

    PLN harus menjual listrik dengan mencetak laba, untuk diinvestasikan kembali ke dalam peningkatan pelayanan dan penambahan daya. Wacana subsidi dan listrik “gratis” itu sangat tidak mendidik dan menyesatkan. Maaf, there is nothing such as a “free lunch”, Bapak yg nraktir saya atau saya yang ntraktir Bapak.
    Pemerintah dan DPR kalau mau benar-benar peduli kepada rakyat kebanyakan harus mencurahkan uang pajak rakyat buat membangun infrastruktur, meningkatkan mutu pendidikan biar terjangkau, menjamin pasokan listrik dan tidak ada lagi problem byar pet, menurunkan tarif INTERNET yang nauzubillah mahalnya dan pelannya dibanding dengan negara-negara tetangga kita yang sama sama negara kepulauan dan berkembang. Infrastruktur yang baik, internet yang kencang dan murah, listrik yang terjamin diiringi kualitas SDM yang baik dan stabilitas nasional dan daerah yang bagus karena rakyatnya sudah dewasa dan kaga mempan dihasut oleh isu isu SARA dan selalu mengacu kepada the “rule of laws” untuk menyelesaikan berbagai sengketa secara bermartabat dan adil adalah kunci kemajuan NKRI dan kemakmuran rakyat secara menyeluruh. Rakyat tidak butuh subsidi dan mengemis ke sana kemari tapi butuh kredit murah, pelatihan wirausaha dan jaminan infrastruktur buat memasarkan produk dan jasa mereka baik buat konsumsi domestik maupun eksport.
    PLN juga harus membangun pembangkit listrik yang tepat sasaran sesuai potensi sumber energi yang paling efisien di tiap daerah. Jangan bangun PLTU di wilayah yang ngga ada tambang batubaranya seperti di NTT. NTT khususnya pulau Flores kaya energi geothermal. Indonesia itu kaya sumber panas bumi, mengapa ini ngga digali ? Bagaimana pula dengan PLT Angin ? Untuk pulau-pulau terpencil lebih tepat dibangun PLT Angin dan daerah pedalaman yang kaya sumber air terjun atau sungai deras dibangun PLTA atau Mikro Hidro. Sudah waktunya PLN melakukan investasi besar-besaran buat pembangkit listrik dari sumber energi yang terbarui dan bersih dari polusi.

    PLN juga harus memberikan kesempatan kepada UKM2 atau KUD2 atau individu2 untuk berinvestasi membangun pembangkit listrik mandiri dan pemerintah harus berani mengucurkan kredit murah buat PLT Mandiri ini khususnya yang berasal dari sumber energi terbarui seperti panas bumi, Mikro Hidro dan Angin dan memberikan peluang buat mereka untuk menjual listrik ini masuk ke dalam jaringan PLN dengan harga yang menguntungkan kedua belah pihak.

    Peningkatan konsumsi listrik harus disambut gembira oleh Bapak, karena ini berarti ada kemajuan pembangunan dan harus segera diantisipasi oleh pemerintah dan PLN dengan memberikan jaminan pasokan listrik secara profesional.

    Saran saya jual listrik PLN dengan harga kompetitif dan mencetak laba, hapus semua subsidi. Yang miskin bayar harga pokok produksi PLN yang mampu akan dikenai harga komersial PLN (ada laba) tapi dengan jaminan bahwa pemadaman listrik tanpa pemberitahuan harus dikompensasi secara adil dan layak.

    Terima kasih kalau komen saya dibaca dan ditanggapi secara positif.

    Kiranya Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang memberikan berkah dan hikmat kepada Bapak dalam memimpin PLN dan memajukan NKRI.

    Richard Yang

    Posted by Richard Yang | 15 Juni 2010, 9:05 pm
  15. kami selalu mendoakan bapak agar teruz maju,
    kami outsourcingnya Pembangkitan Sumatera Bagian Utara,
    dan mohon untuk pak Dahlan kesejahteraan kami sebagai outsourcing di perhatikan.
    Terima Kasih

    Posted by RONALD | 26 Juli 2010, 11:42 pm
  16. Bravo Pak Dahlan… rencana strategis dalam mengatasi krisis listrik terarah dan jelas antara demand dengan power plant-nya, kalo boleh usul pak Outsourching nya juga lebih diperhatikan pak, bukan hanya dari masalah kesejahteraan tapi juga dari skill mereka, kan PLN punya banyak DIKLAT, tentunya gak salah dong kalo melibatkan Outsourching didik kembali biar lebih handal lagi, kalo di itung-itung (terlepas dari orang dinas PLN ataupun Outsourching) SDM yang handal akan menghemat dari semua aspek pekerjaan kan pak, baik itu pemeliharaan rutin ataupun jenis incidental/ gangguan jadi ujung-ujungnya SAIDI & SAIFI nya bisa terus ditekan pak…
    tentunya kami semua bangga pak dapat bergabung dengan PLN walau kesejahteraan masih pas-pas an, tapi niat kami ikhlas untuk menerangi saudara-saudara kami dan masyarakat diseluruh bangsa ini.
    trims

    Posted by Niko Okta S.T | 27 Juli 2010, 10:49 am
  17. Sadness in your heart is an inhibitor of success Avoid the prolonged grief take heart and take your chance as soon as possible

    Posted by WALISAH | 15 Juni 2014, 7:24 pm
  18. Pencegahannya adalah dengan tidak melakukan hubungan seks bebas apalagi hubungan seks sesama jenis. Bagi para homoseksual meskipun tidak melakukan hubungan kelamin oral seks juga berisiko besar untuk menularkan Penyakit Kulit Kelamin ini. Sedangkan untuk pengobatan dapat menggunakan antibiotic sesuai anjuran dokter.

    Posted by WALISAH | 11 Februari 2015, 1:03 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: