>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

Mati Listrik 10 Jam? Di Surabaya?

Senin, 01 Februari 2010
Mati Listrik 10 Jam? Di Surabaya?

Rasanya tidak masuk akal. Apalagi, itu terjadi di akhir bulan Januari 2010 di saat semestinya tidak mungkin terjadi listrik mati begitu lamanya. Tapi, itulah kenyataannya. Tanggal 30 Januari 2010 kemarin, ada satu kawasan kecil di Surabaya (tepatnya di sebuah RT di Tenggilis Mejoyo, Surabaya) listrik mati sejak jam 15.00 dan baru hidup pada pukul 24.00.

Itu saya ketahui dari SMS yang masuk ke HP saya. Saat itu masih jam 17.00, berarti mati lampunya sudah dua jam. Saat itu saya lagi di ruang rapat kantor PLN pusat. Saya lagi membaca sebuah konsep perubahan pelayanan pelanggan PLN yang tentunya juga membahas soal mati lampu yang menjadi keluhan utama pelanggan. Menurut konsep tersebut penyebab utama kejadian mati lampu yang bersifat lokal seperti di Tenggilis tersebut umumnya akibat kerusakan trafo 200 kva (trafo untuk melayani sekitar 200 sampai 500 rumah).

Ketika saya tiba di Surabaya Jumat tengah malam, saya bertekad keesokan harinya saya harus ke lokasi yang mati lampu itu. Saya harus tahu secara detil apa yang terjadi di Tenggilis Mejoyo tersebut. Ini penting karena semua kasus mati lampu di mana pun kira-kira penyebabnya sama. Kalau saya bisa menghayati apa yang terjadi di tenggilis tersebut tentu saya bisa memperoleh gambaran begitulah yang terjadi di seluruh Indonesia.

Sebenarnya, saya sendiri bertekad tidak akan mendalami dulu masalah-masalah distribusi dan pelayanan pelanggan seperti ini. Saya berencana baru akan mendalaminya mulai bulan April mendatang. Yakni harus menyelesaikan dulu masalah-masalah yang terjadi di hulu dan yang lebih mendasar. Misalnya soal  kekurangan gas 1 juta mmbtu setiap hari. Atau bagaimana mengatasi kekurangan daya (strum) di luar Jawa. Atau bagaimana melakukan perbaikan sistem pengadaan barang/jasa yang harus lebih hemat. Tahun ini PLN harus membeli barang/jasa sebesar Rp70 triliun lebih. Alangkah besarnya. Saya ingin agar pembelian tersebut jangan sembarangan. Perlu langkah penghematan yang nyata dalam membelanjakan uang sebanyak itu.

Kalau masalah-masalah mendasar tersebut sudah tertata, barulah saya bertekad untuk mendalami persoalan yang menyangkut peningkatan pelayanan pelanggan.

Tapi kejadian mati lampu di sebuah RT di kota besar seperti Surabaya selama 10 jam yang tidak masuk akal itu membuat saya harus mengetahui detil persoalannya. Mungkin saya belum akan melakukan perbaikan, tapi setidaknya sudah mengetahui akar masalahnya.

Apalagi beberapa masalah mendasar memang sudah berhasil ditata. Perjuangan untuk pengadaan gas yang bisa menghemat dana Rp15 triliun pertahun itu sudah menunjukkan hasil. Pemerintah sudah memutuskan bahwa mulai bulan September tahun depan PLN bisa mendapatkan kekurangan seluruh gas yang diinginkan. Gambaran bagaimana mengatasi krisis listrik luar Jawa juga sudah selesai dipetakan dan dibuatkan road-mapnya. Bahkan sistem baru pengadaan barang/jasa juga sudah mulai berjalan. Hasilnya luar biasa: pengadaan barang strategis pertama yang kami lakukan minggu lalu (satu jenis barang saja) sudah bisa menghemat Rp50 miliar lebih. Barang yang dulu harus kita beli dengan harga Rp120 miliar/buah, dengan sistem baru itu bisa kita beli dengan harga Rp65 miliar/buah. Hemat Rp55 miliar untuk satu barang.

Maka ketika ada berita mati lampu selama 10 jam di sebuah RT di kota besar seperti Surabaya, saya menyelipkan agenda ini di sela-sela kesibukan saya yang sangat padat selama satu bulan menjabat Dirut PLN ini. Tidak masuk akal ada peristiwa mati lampu 10 jam! Tapi itulah kenyataannya. Saya khawatir kejadian ini tidak hanya terjadi di Tengglis Mejoyo. Saya khawatir kejadian serupa juga terjadi di Bekasi, Bantul atau daerah lainnya.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Sabtu pagi (30/1), jam 06.30 wib, saya minta salah seorang manajer PLN menemani saya ke Tenggilis Mejoyo. Saya hanya mau ditemani manajer yang paling bawah yang tahu persis keadaan lapangan. Tidak perlu ditemani para pimpinan PLN tingkat atas. Toh saya tidak bermaksud melakukan inspeksi atau sidak. Saya benar-benar hanya ingin belajar memahami apa yang terjadi, mengapa terjadi dan apakah bisa dicarikan jalan keluar yang sifatnya lebih mendasar dan lebih berlaku umum. Yakni jalan keluar yang bisa diterapkan untuk mengatasi persoalan yang sama di seluruh Indonesia.

Mula-mula saya minta diantar ke sebuah rumah pelanggan di Tenggilis Mejoyo yang lampunya mati 10 jam itu. Saya ingin menelusuri persoalan dari yang paling bawah sampai yang paling pokok. Di rumah pelanggan itu saya minta ditunjukkan sistem kabelnya. Lalu ke mana alirannya. Terus ke mana lagi dan ke mana lagi. Sampai akhirnya ke gardu induk.

Kabel listrik di sebuah rumah selalu berasal dari satu tiang yang ada di depan rumah tersebut. Inilah yang disebut tiang TR (tegangan rendah). Saya menyebutnya tiang pembagi. Satu tiang seperti ini melayani 6 atau 8 rumah. Di ujung atas tiang TR tersebut ada 8 buah konektor. Masing-masing untuk satu rumah. Kalau misalnya ada kejadian hanya satu rumah yang mati lampu, maka persoalannya ada di konektor ini. Biasanya konektor ke rumah tersebut  terbakar.

Penyebab terbakarnya konektor adalah karena “gigitan” konektornya merenggang. Karena renggang itulah maka konektornya panas sekali, lalu terbakar. Mengapa “gigitan” konektor itu merenggang? Ini umumnya disebabkan saat pemasangannya dulu kurang teliti dan kurang sempurna. Dalam satu kawasan setingkat kira-kira satu kecamatan, terjadi kebekaran konektor rata-rata 10 kali sehari.

Karena pemasangan konektor itu dilakukan oleh kontraktor, maka persoalan pokoknya adalah: bagaimana PLN harus mengontrol para kontraktor.
Dari tiang-tiang TR tersebut saya terus menelusuri dari mana kabelnya berasal. Maka penelusuran sampailah ke trafo 200 kva. Yakni trafo berbentuk kotak besi yang biasanya dipasang di pinggir jalan, di sela-sela dua tiang yang berjarak sekitar 1,5 meter. Trafonya sendiri ada di bagian atas, sedang kotak besinya itu instalasinya.

Satu trafo ini melayani sekitar 30 sampai 50 tiang TR. Dalam hal kejadian mati lampu 10 jam di Tenggilis Mejoyo tersebut penyebabnya adalah rusaknya trafo 200 kva ini. Yakni sebuah trafo di pinggir jalan di dekat sebuah sekolahan.

Mengapa trafo ini rusak? Lama saya berada di trafo ini. Tapi tidak berhasil mendapat jawaban. Trafo yang rusak itu sudah dilepas dan sudah dibawa ke gudang di Sukolilo. Saya hanya bisa melihat trafo yang baru yang sudah terpasang. Apakah trafo yang dipasang ini sama dengan trafo yang rusak? Dari segi spesifikasinya sama. Tapi merknya berbeda. Oh, saya tahu bahwa ada merk-merk tertentu yang kualitasnya lebih rendah dari merk-merk lainnya. Ini persoalan mendasar yang harus dipecahkan kelak: bagaimana memilih trafo yang baik.

Tapi mengapa mengganti trafo seperti ini memerlukan waktu mati lampu sampai 10 jam? Bukankah cukup 3 jam? Ternyata ada persoalan lain: PLN baru tahu kawasan itu mati lampu setelah jam 19.00! Padahal matinya sudah sejak jam 15.00. Berarti ketika mati lampu sudah berlangsung selama 4 jam belum ada yang tahu. Seperti orang stroke yang mati di dalam kamar mandi saja.

PLN baru tahu kalau ada kematian mendadak itu setelah seorang warga Tenggilis mengadu ke kantor PLN pada jam 19.00. Alangkah mengecewakannya. Sudah mati selama 4 jam PLN belum tahu. Warga tentu mengira PLN sudah tahu. Sedang PLN mengira sepanjang tidak ada warga yang mengadu, berarti tidak ada yang mati. Oh, saya tahu ada masalah berat di sini: masalah komunikasi dan sistem komunikasinya.

Maka saya bertanya ke petugas PLN yang mendampingi saya. Yakni Ir Mukhtar yang lulusan fakultas elektro Unhas: mungkinkah di dalam kotak trafo tersebut dipasangi komputer sehingga kalau trafonya rusak PLN otomatis tahu? Sehingga tidak perlu menunggu ada warga yang mengadu?
Ir Mukhtar memang bukan orang yang harus bertanggungjawab di kawasan itu. Wilayah tugasnya di Sidoarjo. Tapi hari itu dialah yang bisa mendampingi saya. Jawab Mukhtar ternyata mengejutkan saya. Petugas PLN tersebut punya solusi yang lebih sederhana. Sebuah solusi yang dia sudah tahu tapi tidak berdaya untuk melakukannya.

Dia mengusulkan agar di luar kotak trafo 200 kva tersebut dipasangi meteran digital. Tujuannya banyak: bisa memberi sinyal kepada bagian pengaduan PLN, bisa melaporkan kondisi trafo setiap saat dan bisa pula mengontrol beban di wilayah itu sehingga bisa langsung tahu kalau terjadi kasus kelebihan beban. Oh, saya tahu: ada teknologi yang bisa mengatasi kematian yang diketahui orang seperti itu.

Mengapa sebuah trafo hanya melayani 50-an tiang konektor? Tidak bisakah beberapa trafo 200kva itu digabung ke sebuah trafo yang lebih besar? Agar jumlah trafo tidak terlalu banyak sehingga mengontrolnya lebih mudah? Ini menarik untuk diperdebatkan. Tapi saya memaklumi mengapa trafo kecil banyak dipakai.

Trafo kecil itu mula-mula diperlukan karena dulunya perumahan di situ masih sedikit. Kian lama rumahnya kian banyak. Trafo kecil itu tidak cukup lagi. Lalu dibangun trafo kecil lainnya tidak jauh dari situ. Tapi jumlah rumah masih terus bertambah lagi. Maka trafo pun ditambah lagi, ditambah lagi. Begitulah seterusnya sehingga terlalu banyak trafo kecil di mana-mana.

Terlalu banyaknya trafo kecil 200kva itu membuat kontrol dan pemeliharaannya kian sulit. Rupanya karena itu kontrol dan pemeliharaan trafo ini diserahkan ke pihak swasta. Out sourching, istilahnya. Apakah trafo ini pemeliharaannya cukup? Petugas PLN yang mendampingi saya mengatakan sudah cukup. Swasta yang melakukan pekerjaan itu selalu melaporkan datanya.

Hanya saya agak kaget ketika diberitahu bahwa kontrol yang disebutkan cukup itu ternyata ini: enam bulan sekali. Itulah kontrak yang dilakukan antara PLN dengan swasta yang melakukan tugas kontrol itu. Oh, saya tahu: saya harus belajar banyak lagi apakah kontrol trafo setahun dua kali itu cukup? Apakah laporan hasil kontrol itu juga dikontrol dengan baik?

Saya lalu minta diantar ke gudang yang dipakai menyimpan trafo rusak tersebut. Letaknya cukup jauh tapi penelusuran ini harus sampai pada ujungnya. Di gudang inilah saya melihat bahwa trafo yang rusak tersebut masih teronggok di luar gudang. Masih belum dianalisa apa penyebab kerusakannya. Mungkin juga tidak pernah dianalisa. Trafo ini dari jenis/merk yang kurang disukai oleh para operator PLN karena tidak sebagus trafo yang lain. Tapi dia tidak berdaya untuk tidak memakainya karena urusan memilih trafo bukan kewenangannya.

Dari penelusuran kabel-kabel mulai dari rumah pelanggan sampai gardu induk tersebut saya benar-benar belajar sistem distribusi listrik yang sangat mendasar. Terlalu banyak ide untuk mengubahnya. Tapi saya mengambil kesimpulan tetap lebih baik kalau saya memprioritaskan pembenahan hulu-hulunya dulu. Maafkan saya. Pembenahan di hilir tidak akan ada artinya (bahkan membuat frustrasi saja) kalau hulunya belum dibenahi dulu. Begitulah urutan berpikir dan bertindaknya.(*)

Iklan

Diskusi

27 thoughts on “Mati Listrik 10 Jam? Di Surabaya?

  1. salut pak, kami titip amanah, semoga bisa menjadikan PLN lebih baik.
    Amiiin..

    Posted by nuena | 25 Februari 2010, 3:22 pm
  2. Alhamdulillah, semoga makin banyak pengasuh negeri ini yang begitu menjaga amanah sebaik mungkin, amin. Sukses terus buat Bapak dalam menjalankan amanah & semoga negeri ini semakin maju…

    Posted by ditya | 2 Maret 2010, 10:42 am
  3. maju teruss pak dahlan…

    andaikan Indonesia tercinta ini punya 10 orang sprt Dahlan Iskan, ngga perlu lama2 lagi akan jadi Macan Asia dgn ide2 yg gila tapi masuk akal.
    maju teruss,…bravo pak Dahlan

    Posted by wachid | 9 Maret 2010, 9:46 pm
  4. Semoga PLN bisa Lebi baik dibawah komando bapak!

    Posted by Jenson | 17 Maret 2010, 12:58 pm
  5. Pa Dahlan, jika ada investor yg ingin mendanai semua proyek 10.000 MW bagaimana skemenya?

    Posted by gandhi | 17 Maret 2010, 10:34 pm
  6. Semestinya para manajer PLN paling bawah punya cara berpikir seperti Pak Dahlan ini..
    jadi Bapak bisa fokus, mikir ke scope yg lbh besar di hulu..

    Posted by andrie_is | 22 Maret 2010, 12:31 pm
  7. Salut Pak…

    Saya punya keyakinan, bahwa para manager PLN seharusnya juga punya sense dan kemauan untuk berpikir seperti yan Pak Dahlan lakukan. Seharusnya sejak dulu, mengingat mereka dibesarkan dalam bisnis ini… Hanya saja mungkin pola pikir birokratif yang menghambat…

    Kalau boleh kami usulkan,
    – Short term, benahi hulu, seperti Bapak sampaikan
    – Medium term, benahi hilir
    – Long term, ubah budaya dan cara pikir PLN -yang kelamaan bermental BUMN birokratif dan monopolistik – sehingga kurang agile. Perlu ditanamkan agar bisa berubah untuk melayani lebih baik. Posisi monopolistik layaknya disyukuri dengan memberi pelayanan yang baik, bukan dengan memberikan pelayanan apa adanya.

    Mungkin pengalaman Pak Dahlan membawa JP group tumbuh, dan melewati badai krisis (seingat saya waktu kuliah kewirausahaan di ITS dulu, tanpa PHK ya?) bisa diterapkan dengan penyesuaian/fine tuning tertentu untuk memajukan PLN.

    Semoga sukses !

    Posted by rizki_zandra | 22 Maret 2010, 3:09 pm
  8. Krisis Energi listrik di Indonesia baik hulu maupun dihilir,lebih banyak disebabkan faktor konflik interest,adanya terobosan Pak DI ( Dahlan Iskan )dilevel langit diatasnya ngak buat regulasi macam-macam menurut hemat saya dalam 2(dua) ini dihulunya bisa klar,namun disisi hilir perlu sinergis dari seluruh masyarakat indonesia selaku konsumen listrik dengan upaya sosialisasipenggunaan listrik yang hemat dan legal.

    Posted by Surya Tarmizi Kasim | 23 Maret 2010, 12:27 pm
  9. subhanallah, memang harus ada orang dari luar untuk merubah PLN, begitu pula Pertamina. Di jawa, mati listrik 2 jam saja ribut, apalagi 10 jam, langsung berita di koran dan televisi merebak. Di sini, Kalimantan Timur, penghasil gas dan batubara terbesar di negeri ini, yang mensuplai hampir semua PLTU di Jawa, mati listrik 5 jam adalah paling bagus, dan itu bisa terjadi setiap hari. TRAGIS !!!

    Posted by anto | 25 Maret 2010, 10:30 am
  10. Salut dengan P Dahlan.
    Seharusnya pergantian pimpinan PLN dengan orang sekaliber Dahlan Iskan dilaksanakan sejak dari dulu!
    Spesifikasinya simple, bukan harus ‘lulusan ITB’, atau ‘lulusan ITS’ atau ‘lulusan UI’, tapi orang bersih yg punya niat utk memperbaiki kinerja divisi/unit yg dipimpinnya!
    Semoga pergantian ini dapat meningkatkan kinerja PLN, dan reformasi di sisi PLN, seperti jaman P Cacuk ketika mereformasi PT.Telkom yg di kenang dan selalu di bicarakan prestasi dan kiprahnya sampai sekarang…
    Maju terus P Dahlan, perjuangkan terus hal-hal yg benar yg sesuai dg hati nurani 🙂

    Posted by ika | 29 Maret 2010, 8:09 am
  11. sukses pak semoga pln menuju good coorperate governance dan tlg juga benahi pejabat2 minimal level manajer dasar yg bermental money oriented dan tdk task oriented tks..mdh2 cita2 proklamasi bisa diraih memajukan kesejahteraan umum lewat pln yg bpk pimpin.!!!tks wasslm.

    Posted by hevlind vanmarbos | 31 Maret 2010, 5:17 pm
  12. Salut buat pak dahlan dengan ide2 ciamiknya. Tapi apakah di level bawah bisa mengikuti cara berfikir bpk?

    Posted by Han moyo | 3 April 2010, 12:00 pm
  13. Mantap pak Dahlan, teruslah berinovasi dengan ide2 brilian Bapak. Memang banyak sekali persoalan listrik ini, di Hilir mungkin terlalampau mencampuri tanggungjawab bawahan Bapak, tapi dengan pola pikir yang lama oleh bawahan Bapak menyebabkan pelayan di hilir tidak berubah2. Apalagi di daerah kepulauan, saya mencotnohkan di Sungai Guntung yang hanya memiliki pembangkit 1.1 MW padahal penduduknya lebih dari 100 ribu orang, jadi listrik hanya mempu melayani 5 jam, bergiliran 2 hari sekali.
    Pembangkit yang mengandalkan mesin lama dan BBM bukan gas atau batubara.

    Posted by Doni | 12 April 2010, 11:20 am
  14. salut buat P. Dahlan…. Mudah2an aja jadi presiden RI pak….

    Posted by djunaedi | 12 April 2010, 11:53 am
  15. alhamdulillah idola saya yg sekarang ngurusi PLN. semoga pak dahlan senantiasa diberi nikmat kesehatan dan umur panjang agar ikut memperbaiki satu-satu ketidakberesan di negeri kita tercinta

    Posted by Yudi Setyawan | 16 April 2010, 9:00 am
  16. salut….kagum ..dan terharu….bagaimana seorang Dirut PLN masih mau menyempatkan diri untuk ngeloni..hal hal paling kecil…. ayo para Dirut yang lain……jangan hanya terima laporan yang ABS…Asal Bose Sumringah….bravo PLN…sehat selalu buat pak Dahlan….

    Posted by bangun widodo | 19 April 2010, 12:47 am
  17. Kepada Yth.
    Bapak Dahlan Iskan
    Dirut PT. PLN

    Dengan Hormat,
    Pertama-tama saya menyampaikan apresiasi atas komitmen Bapak untuk memperbaiki kinerja PT. PLN dan semoga dalam waktu dekat tidak ada lagi pemadaman listrik bergilir di republik ini.

    Namun demikian perlu kiranya kami informasikan bahwa mulai tanggal 24 April 2010 jam 22.00 hingga 25 April 2010 +/- jam 05.00 listrik di wilayah kami (Jl. Mabes Hankam, Setu-Cilangkap JAKTIM) padam. Berikutnya tanggal 25 April 2010 jam 20.00 hingga saat tulisan ini dibuat tanggal 26 April 2010 jam 09.11. listrik di wilayah kami padam kembali. Pada tanggal 26 April 2010 jam 06.00 kami mencoba menghubungi nomor 123 (Pengaduan Gangguan Listrik) sehingga kami mendapat informasi bahwa penyebab listrik padam adalah adanya kerusakan Jaringan Kabel Bawah Tanah di belakang Gedung Museum Wanabhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah. Saat kami menanyakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan, seseorang yang berperan sebagai custumer service menjawab tidak tahu. Jawaban seperti ini membuat kami gundah dan kecewa, karena terus terang pada sebagian besar aktivitas warga terkait langsung dengan ketersediaan listrik. Apabila ketersediaan listrik terganggu pada waktu lama, maka dipastikan bahwa warga yang selama ini “dimanjakan” dengan teknologi yang disebut listrik aktivitas kesehariannya terganggu.

    Demikian surat dari saya, semoga menjadi perhatian Bapak dalam upaya meningkatkan kinerja PT. PLN. Kami mendukung program-program Bapak guna meningkatkan kwalitas pelayanan PT. PLN. Dan semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan & petunjuk kepada Bapak dalam menjalankan tugas yang berat ini.

    Salam,

    Thoifur Rizal

    Posted by Thoifur Rizal | 26 April 2010, 9:29 am
  18. sekarang saya tahu,…kenapa ( waktu mo jadi Dirut PLN) seorang Dahlan Iskan di Demo oleh petinggi-petinggi PLN…, karena Dahlan Iskan orangnya “ngelutus”, gak mau diem, gak betah duduk manis, dan dan yg membuat petingi-petinggi PLN gusar……….Dahlan Iskan terlalu jujur untuk memimpin sebuah BUMN (mestinya seorang Dahlan Iskan memimpin majlis ta’lim saja,yach…kan sama-sama untuk menerangi umat….Majlis Ta’lim BUMN..)

    Maju terus Pak, semoga di beri kesehatan dan umur panjang, Negeri kami masih akan lama membutuhkan orang seperti panjenegan,

    salam
    lutvi

    Posted by lutvi | 1 Mei 2010, 8:53 am
  19. Tidak ada kata lain saluuutttt buat bapak dahlan, mugo sukses ya pak.

    Posted by Athiq vinka | 12 Mei 2010, 10:47 am
  20. wawww..salut bangetttt.. Masih sempat turun k bawah dan punya cara pikir yang hebat, cari akar masalah dan dengan pikiran kreatif mencari jalan keluar. Lewat tulisan ini gw jadi tau gimana aliran listrik bisa sampe di rumah..hehe..
    maju terus Pak Dahlan, gw yakin PLN akan lebih baik di tangan Pak DI.
    God bless you..

    Posted by Ruth | 18 Mei 2010, 9:02 pm
  21. Membaca tulisan ini saya berubah menjadi optimis terhadap perbaikan PLN. Jika dirunut semisal dengan wawancara terhadap pelanggan akhir, terlalu banyak persoalan di hilir yang selama ini hanya menunggu untuk digubris.

    Hal ini yang membuat saya pesimis terhadap layanan PLN. Namun tulisan ini benar-benar mengubah persepsi saya. Semoga langkah kepemimpinan Pak Dahlan menjadi awal perubahan menuju perbaikan PLN

    Posted by alisyah | 20 Mei 2010, 7:35 pm
  22. Pak Dahlan yang saya hormati,
    Saya salah seorang pelanggan PLN di Mataram,NTB.Saya menyadari saat ini di NTB terjadi krisis listrik yang cukup parah,untuk kota Mataram saja tiap dua hari sekali tiap wilayah mendapat jatah minimal 5 jam mati listrik bila malam hari dan minimal 7 jam mati listrik bila siang hari ( mungkin bila diluar Mataram bisa lebih parah ),dengan alasan yang cukup kami “mengerti” pula yaitu kurangnya daya dan sudah tuanya pembangkit yang ada,kemudian satu persatu penyedia listrik swasta juga menghentikan pasokannya ke PLN NTB.

    Kemarin tanggal 18 Mei 2010 malam saya main2 ke kantor PLN Mataram,alasannya karena malam itu mati lampu dari habis magrib,sedangkan tanggal 17 Mei 2010 kami sudah mendapatkan jatah mati lampu ( malam hari selama 5 jam ),dengan sedikit jengkel karena no telepon gangguan PLN selalu sibuk ( atau digantung? ) setiap terjadi pemadaman akhirnya saya datangi kantor PLN malam itu juga,di bagian gangguan saya tumpahkan uneg uneg saya plus ngobrol2 juga dengan staf yang malam itu bertugas,jawaban dari mereka adalah karena makin kurangnya daya akhirnya terpaksa frekuensi pemadaman akan makin “dirutinkan” dan kesan saya bahwa staf PLN di NTB sudah “angkat tangan” menangani hal ini,dan jurus “merutinkan pemadaman” adalah jurus pamungkas.

    Saya yang bekerja di bidang yang menghadapi customer juga mengerti akan ketidakberdayaan PLN NTB saat ini,apalagi kabar2 akan normalnya listrik di NTB sekitar bulan September – Oktober masih kabar sepoi2.Saya sebagai customer PLN hanya minta FAIRNESS dari PLN NTB sebagai penyedia jasa listrik,silakan merutinkan pemadaman karena memang tak berdaya namun berilah kompensasi pada kami selaku customer yang harus rutin belanja lilin atau terpaksa membeli emergency lamp.Salah satunya yang saya usulkan adalah BEBASKAN KAMI DARI BIAYA BEBAN selama PLN masih mati akal untuk mengatasi “pemadaman rutin” ini,kami tetap akan membayar listrik sesuai tarif yang ada sebesar pemakaian kami.Bila masalah telah teratasi silakan kutip kembali biaya beban.

    Uuups…ternyata PLN NTB menepati janjinya untuk merutinkan pemadaman,tanggal 19 kemarin mati dari jam 9:00 – 16:00 dan tanggal 20 dari jam 18:00 – 22:00…MANTAP…

    Terimakasih Pak Dahlan,
    Kami tunggu kiprah anda memperbaiki pabrik setrum negara ini…
    Sukses selalu…

    Posted by dharmawan | 22 Mei 2010, 2:15 am
  23. Pak Dahlan,

    Di Sangata masih terjadi pemadaman bergilir padahal penghasil batu bara terbesar (KPC) mohon untuk diperhatikan pak. Semoga bapak diberikan nikmat sehat selamanya

    Maju Terus Pak

    Posted by sumadi | 24 Mei 2010, 6:47 pm
  24. hebat … walau tdk punya latar belakang teknik, pak dahlan bicaranya seperti org teknik … tanya sana-sini hingga d dpt jwb yg memuaskan … hayo pak majukan PLN seperti memajukan Jawa Pos … Selamat Bekerja

    Posted by rahmad | 5 Juni 2010, 9:54 pm
  25. walah paak..gak usah muluk2 idenya..lha wong sekrg hr minggu tgl 14 nov listrik ditempt saya,kendangsari udah mati hampir 2 jam..dan sudah selama itu juga saya browsing internet nyari no telp layanan gangguan..dan hasilnya…stlah metemu setiap ditelp yg jwb mbak2 dari telkom, katanya tlpnya gak bisa dihubungi..lagi sibuk..!! huebat..kolaborasi pln dan telkom..he..he..yg sibuk peg pln yg jwb telp org telkom dan yg nelpon…org gendeng..

    Posted by jaruki | 14 November 2010, 11:09 pm
  26. dahlan iskan salah satu penyebab krisis listrik di Negara Kegelapan Republik Indonesia. sejak menjabat jadi dirut PLN (Pembuat Lilin Nyala) tsb, tidak ada perubahan berarti, yang ada malah makin menjadi2 krisis listrik di negara ini, itu artinya si dahlan gak becus ngurus listrik….!!! sekarang jadi Bos nya Dirut PLN (menteri BUMN) malah makin semakin menjadi-jadi pemadaman listrik di negara ini…..muak sudah rakyat indonesia melihat para pejabat yang berwenang gak mampu ngurus listrik dan bisanya cuma makan gaji buta saja……dasar edan……

    Posted by anti PLN | 27 Agustus 2013, 10:42 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: