>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

Listrik Mati di Lumbung

Kamis, 19 November 2009
Listrik Mati di Lumbung

Ayam mati di lumbung bukan lagi kiasan untuk menggambarkan kelistrikan di Indonesia. Di Pulau Kalimantan yang kaya-raya akan batubara, hampir seluruh kotanya krisis listrik dengan sangat gawat. Bukan sejak sebulan yang lalu, tapi sudah 10 tahun atau 20 tahun lamanya.  Kota seperti (deretan nama-nama kota ini anggap saja pelajaran baru ilmu bumi): Pontianak, Singkawang, Sanggau, Ketapang, Pangkalanbun, Sampit, Palangkaraya, Samarida, Balikpapan, Penajam, Tanahgrogot, Bontang, Sengata, Tanjungredep, Tanjungselor, Tarakan, sampai ke kota penting di dekat negara tetangga seperti Nunukan dan Tanatidung bukan main menderitanya.

Tidak terhitung lagi orang yang kehilangan rumah karena lampu mati. Mereka menyalakan lilin, ketiduran,  lantas rumah yang umumnya terbuat dari kayu terbakar. Kisah pilu seperti  itu menjadi berita koran lokal yang tidak habis-habisnya. Kebetulan, saya memiliki koran di semua kota yang disebut terdahulu itu dan yang akan disebut kemudian.

Lalu, generasi masa depan macam apa yang akan tercipta dengan kondisi listrik seperti itu?  Belum lagi penderitaan para investor. Mencari investor yang mau masuk ke  daerah-darah itu bukan main sulitnya. Investor rasional pasti langsung mengabaikan daerah-daerah itu. Tapi, begitu ada investor yang ?emosional? (biasanya ada hubungan darah dengan salah satu daerah tersebut seperti saya),  kekecewaanlah yang diberikan oleh PLN. Banyak investor hotel-hotel bagus menderita karena listriknya mati-mati terus. Banyak investor perumahan yang rumahnya sudah siap tapi listriknya tidak ada.

Itu bukan cerita satu bulan yang lalu. Cerita duka tersebut sudah terjadi sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Atau sejak 20 tahun silam. Sampai hari ini. Tetangga dekat Kaltim di Sulawesi seperti Mamuju, Palu, Poso, Luwuk, Gorontalo, Tolitoli, Kendari, dan bahkan Makasar pun kurang lebih juga sama. Padahal, membawa batubara yang murah dari Kaltim ke Palu hanya perlu menyeberang satu malam.

Saya tidak perlu lagi menyebut kota seperti Tanjungpinang di Riau, Pangkal Pinang di Bangka, Tanjungpandan di Belitung. Belum juga menyebut Ambon, Lombok, Kupang, Flores, Ternate, Sorong, Jayapura, Merauke?. Pokoknya, sebutlah nama kota di mana saja di luar Jawa. Lebih mudah menyebut yang krisis listrik daripada yang tidak.

Kesabaran para gubernur seperti gubernur Kaltim, gubernur Kalteng, dan gubernur Kalbar sudah habis karena terus-menerus didemo rakyatnya. Juga gubernur di wilayah lain tadi. Tapi, para gubernur itu hanya bisa meneruskan suara pendemo itu ke PLN. Sebab, hanya PLN yang diberi hak untuk memiliki dan mengelola listrik di seluruh Indonesia nan luas ini. Tapi, suara pendemo itu datang dari tempat yang terlalu jauh dilihat dari kantor pusat PLN nun di Jakarta sana.

Begitu kaya Kalimantan akan batubara. Tapi, mayoritas pembangkit listrik di kawasan tadi menggunakan disel. Maka, PLTD (pembangkit listrik tenaga diesel) menjadi raja di sana. Raja yang haus uang, tapi lembek tenaga. Haus uang karena menghabiskan uang negara. Lembek karena lemah sekali tenaga listrik yang dihasilkannya. Padahal, wilayah itu begitu kaya akan batubara. Kaya-raya. Superkaya.  Tapi, kekayaan itu tidak membawa berkah ke diri sendiri. Batubara itu mengalir ke India, Thailand, Tiongkok, Jepang, bahkan sampai ke Eropa dan Amerika. Ibarat lagu Gesang, “batubara Kaltim itu mengalir sampai jaaaaauuuuuh”. Sampai membuat wilayah Kalimantan dan Sulawesi sendiri terlupakan.

Kalau saja ada pikiran sehat untuk mengubah wilayah itu, betapa gembiranya rakyat di seluruh kawasan tersebut. Mengapa kita yang begitu kaya batubara tidak mampu memanfaatkannya untuk membuat rakyatnya sendiri tersenyum. Memang pernah dicoba untuk mengatasinya. PLN mengadakan tender pembangunan PLTU di beberapa wilayah yang disebut tadi. PLN juga sudah menyatakan berpuluh-puluh investor sebagai pemenang tendernya.  Kalau saja semua berjalan baik, hari ini wilayah-wilayah tersebut sudah mulai sedikit terang. Tapi, sampai hari ini, sudah tiga tahun kemudian, tidak satu pun para pemenang tender itu menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan,  sebagian besar belum memulainya sama sekali. Sebagian lagi menghentikannya.

Ada persoalan kecerdasan mendasar dan kejujuran yang kurang ditegakkan di sini. Sistem tender itu harus diubah total. Direformasi habis-habisan. Padahal, kalau PLTD-PLTD itu diubah semua menjadi PLTU kecil dan menengah, bukan saja rakyat di wilayah itu bisa tersenyum, menteri keuangan yang cantik itu pun akan ikut tersenyum. Negara bisa berhemat  paling sedikit Rp 20 triliun setahun.  Baca: Rp 20.000.000.000.000/setahun. Dan lagi, kalau wilayah-wilayah itu punya listrik, investor berdatangan ke sana. Penghasilan pajak juga naik.  Tenaga kerja akan mengalir ke sana:  tidak perlu lagi ada dana transmigrasi!

Pandai benar orang yang menciptakan peribahasa ?ayam mati di lumbung? itu. Dia berhak berbangga karena ada contoh yang pas untuk membuktikannya: listrik kita!

Iklan

Diskusi

45 thoughts on “Listrik Mati di Lumbung

  1. Ayo pak Dahlan jadi Dirut PLN,semoga bisa melakukan reformasi kelistrikan di Indonesia,dan semoga diberikan payung hukum yg 10 Triliun rupiah itu,amiiiin..

    Posted by Arif Rahmawan | 4 Desember 2009, 4:19 am
  2. Memang dibutuhkan kredo sang pemberdaya dalam skala luas dalam hal ini.

    Posted by coklat | 6 Desember 2009, 9:34 am
  3. Perlu change management, Jujur, Tegas dan profesional.

    Posted by hembang | 6 Desember 2009, 2:25 pm
  4. sebagai perusahaan plat merah yang diharapkan untuk “profit”; saya tahu bagaimana sesaknya menghitung harga pokok produksi yang melambung tinggi namun tak berdaya harus menjual dengan harga “spesial” dengan reason subsidi rakyat kecil…
    Langkah pln sudah mulai on the right track utk diferensiasi tarif untuk beberapa kalangan menengah atas, walau itu juga bisa mengorbankan orang2 menengah seperti saya.. tapi kalo ga diketatkan manusia ga pernah belajar.. ^^
    Sumbang saran saya disini andai memang PLN ingin mendirikan PLTU/PLTD atau pembangkit2 lainnya utk menyuplai listrik.. berinovatiflah untuk bisa menjalankan nya dengan energi yang bukan menggunakan minyak.. (BBM) karena suplai tersebut memang suka tidak suka sangat terbatas dan akan cenderung meningkatkan ongkos produksi..
    Andai enjiner PLN bisa berinovasi sedikit.. bisa menciptakan dinamo penyimpan energi listrik dari arus laut, energi angin hingga solar matahari… mungkin PLN bisa menjadi perusahaan listrik internasional yang bisa mensejahterakan hidup orang banyak yang tidak hanya indonesia, tapi seluruh umat di dunia…
    sukses untuk PLN yang katanya tahun ini target utk profit 7 Triliun.. salam

    Posted by yogi | 9 Desember 2009, 12:45 pm
  5. Pak Yogi, pendapat saya lho bahasa profit atau keuntungan seperti PLN tidaklah susah jika kalau yang digunakan cara pengusaha swasta apalagi PLN memiliki kekuatan pelanggan tetap saat ini. Tinggal naikan aja harga jual. Namun dibalik itu kita harus tahu bahwa sumber daya alam kita milik negara dan dapat dimanfaatkan/dinikmati oleh masyarakat seluruh indonesia, apalagi ratio elektrifikasi masih di bawah 80 %. Dengan kondisi tersebut maka PLN harus menggunakan strategi optimalisasi memaintain resources yang ada serta melakukan inovasi. Bicara maintain perlu diketahui butuh fleksibitas secara terus menerus yang dilakukan berdasarkan regenerasi dan anda tahu biasanya perusahaan monopoli secara internal gimana sih pekerjanya apa bisa diharapkan peningkatan kapasitas/kapabilitas dengan tidak ada daya saing/kompetisi yang akhirnya muncul dipermukaan kerjanya begitu-begitu aja dan merasa sudah punya kompetensi. Kemudian mengenai Innovasi saya melihat momentumnya sudah terlambat. Perencanaan corporate sdh melakukan langkah konkrit sejak tahun 2003 karena saya pernah ikut seminar bahwa energi kita dalam kurun waktu semakin tipis dan beralih ke energi terbarukan. Karena sudah nyaman kondisinya serta tidak ada saingan maka tenang -tenang aja, baru sekarang merealisasikan. Itupun pengusaha batu bara sudah mengantisipasi harga jual batu bara nantinya sudah melonjak menyesuaikan harga pasar kemudian PLN baru mau mengkonsumsi batu bara tersebut. Sangat ironis. Jadi tugas DIRUT PLN nantinya harus memiliki Direction/ arah mau kemana PLN ini dibawa. Kalau profit sudah jelas namun strategi beliau dituang dalam strategi operasional untuk menghasilkan profit itu yang ditunggu-tunggu. Profit menunjukan perusahaan tersebut sehat. Pertanyaan apakah profit mempunyai korelasi bahwa perusahaan mengalami listrik mati di lumbung(Dahlan Iskan), ada yg mengatakan PLN perlu darah segar jangan Katak dalam tempurung( Dirjen LPE), ada yang mengatakan Direksi PLN tidak memiliki misi yang sama/ribut ( Sofyan wanandi).

    Posted by hembang | 10 Desember 2009, 5:08 pm
  6. Yth Pak Dahlan Iskan (Yi Se Gan),

    Apakah Bapak berani melawan gajah ? aboh (bengkak) lagi…
    Kelihatan ada banyak kepentingan golongan bermain untuk kelanggengan kroni. Berat Pak, beraaaaat….
    Mendingan JP-Grup bikin UKM di bidang Energie untuk daerah2 yg Bapak sebutkan tadi saja deeech….

    Gruss
    cap chay

    Posted by cap chay | 11 Desember 2009, 12:41 pm
    • Benar, banyak kepentingan dan kroni2 dalam suatu perusahaan yang sifatnya long life employee. Kalau cara pak Dahlan Iskan melakukan pengumpulan CV para Deputy Direktur itu merupakan salah satu cara bermain kroni2-nya. Solusinya adalah berantas usia yang tidak produktif lagi pada usia ( 50 tahun ke atas) sekaligus menghilangkan pengaruh generasi beriktna yang benar-benar memiliki etos keja yang profesional.

      Posted by hembang | 14 Desember 2009, 3:54 pm
  7. Berbicara krisis, benar sekali betapa di luar Jawa hal ini sudah dirasakan puluhan tahun yang lalu. Kita yang tinggal di Jawa setidaknya sedikit beruntung baru merasakan krisis sekarang.

    Saya dan kawan saya dari Surabaya pernah meledek kawan saya yang tinggal di Balikpapan. Bagaimana mungkin daerah kaya minyak bisa miskin listrik? “Balikpapan kan bukan Indonesia,” seloroh kawan saya yang Surabaya. Jadi judul “Listrik Mati di Lumbung” memang tepat sekali

    Posted by jokostt | 12 Desember 2009, 9:33 pm
  8. Berbicara soal PLN, rasanya kok gak fair kalo sepenuhnya menyalahkan PLN atas kondisi yang terjadi saat ini. Klo boleh saya bilang, PLN itu kayak BUMN yang tidak sebebas BUMN-BUMN lain, tetapi lebih kearah “komoditi politik” penguasa. dengan status BUMN yang notabene pemegang sahamnya adalah pemerintah, rasanya semakin klop untuk dijadikan sebagai sarana “alat berpolitik”.
    Jika seandainya pemerintah membuat kebijakan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri terlebih dahulu, sehingga batubara2 itu tidak mengalir sampai jauh, mungkin sudah dibangun PLTU batu bara di tempat2 yang bapak sebutkan tadi. tapi kenyataannya kan gak kayak gitu, pemerintah seakan2 tidak mau tau dengan semua itu. tak mau tahu dengan dg investasi yg diperlukan, tak mau tau dg ketersediaan energi primer yg di butuhkan. yang mereka tau, harga listrik harus sedemikian murahnya tanpa mau tau harga pokok produksi listriknya. lantas,,setelah semuanya kayak sekarang, pemerintah juga gak mau tau dengan semua itu dan menuding PLN sebagai biang kerok penyebabnya.
    sama skali tidak fair dan tidak bertanggung jawab mnurut saya. sayangnya, ini semua justru terjadi ketika saya lihat, PLN sudah mulai berbenah diri,,,tapi mungkin saking udah terlalu parahnya ditambah lagi image yg sudah rusak, seakan2 semua benar adanya klo PLN lah biang kerok nya. padahal, klo saya amati PLN sudah mulai berbenah, ada banyak rekrutmen tenaga2 muda dg pemikiran yang lebih terbuka yang nantinya akan jadi pendobrak reformasi SDM dalam tubuh PLN, ada proyek 10.000 MW yang beberapa mulai beroperasi. Dengan permaslahan yg sudah sistemik dan birokrasi yang njlimet, tentu itu memang tidak mudah dan perlu waktu. Jadi klo menurut saya, menilailah yang lebih fair. Karena kebijakan2 yang dikeluarkan oleh PLN juga dipengaruhi oleh pemegang saham, dalam hal ini pemerintah. Jadi, lihatlah juga kebijakan tersebut lahir di era pemerintahan siapa, sehingga kita bisa melihat dengan netral, fair tanpa “teracuni” statement buruk tentang PLN (yang pada kenyataanya image PLN emang sudah buruk).

    Posted by depe | 15 Desember 2009, 2:50 pm
  9. sudah saatnya paradigma dan tradisi dan kondisi pln berubah,saya adalah karyawan OUTSOURCHING PLN saya merasa jijik dan kekih juga melihat kondisi pln dari tahun ke tahun penuh dgn kolusi korupsi dan nepotisme kenapa itu terus bertahan? karena itu tadi ada rasa kebersamaan ,toleransi dll yang tidak benar ada di tubuh pln, itu terjadi dari pusat hingga ke daerah contoh para pegawai pusat yang notabene pejabat itu mempunyai kepentingan s/d daerah jadi gimana pln mau maju wong segala kepentingan itu di kuasai oleh orang2 pln itu sendiri,padahal mereka bergaji besar dan pasilitas yang mumpuni. termasuk sistem outsourching pegawai juga mereka kuasai kami merasa iri kami telah puluhan tahun kerja s/d detik ini tidak diperhatikan, perekrutan pegawai lebih memilih dari luar karena apa? ya ituuu tadi ada kepentingan jika os dihapuskan gimana????? jika tdk ada os darimana ” perusahaan2″mereka dapat keuntungan, juga dgn perekrutan baru bagi mereka keuntungan juga mereka mengadakan perekrutan tentunya pln mengeluarkan biaya yang cukup besar bisa sampai milyaran dan itu merupakan proyek bagi mereka juga, dan ironisnya ketika pegawai baru terjun kerja ke pln kami2 ini yang harus membingbingnya, padahal kami KAMI JUGA BANGSA INDONESIA dan kami punya potensi baik itu dari
    pendidikan juga keahlian, itu hanya sebagaian kecil contoh kasus,masih banyak lagi lagi kasus2 lagi yang kalau saya ketik bisa pegal tangan saya,so KAMI OS PLN mendukung sekali dgn masuknya Dahlan iskan menjadi Dirut pln,saya yakin dengan masuknya bapak pln dapat tumbuh kembang yang baik dan saya yakin bpk Dahlan iskan dapat membuat REVOLUSI di tubuh pln,hapuskan MAFIA MAFIA yg ada di tubuh pln, itu yang sangat penting dan dibutuhkan PLN sekarang ini dan mudah2an tentunya bapak Dahlan iskan dapat menolong kami OS pln yang terjajah ini UNTUK YANG LEBIH BAIK, jangan risau dan takut dengan penolakan Sp pln kami ada di belakang bapak, perlu diketahui hampir semua pekerjaan pln Kami kami lah yang mengrjakannya para pegawai PLN hanya sebagai tuan yang bisanya hanya tunjuk sana tunjuk sini. kami doakan mudah2 mudahan bapak sukses untuk menjadi dirut pln AMIIIN.

    Posted by rudi | 16 Desember 2009, 9:10 pm
    • Saya salut dengan Pak Rudi, Informasi (hasil pengolhan data) memberikan gambaran secara nyata peristiwa yang bapak alami. Ilustrasi holding PLN diibaratkan mirip dengan seekor GAJAH yang kapasitasnya diragukan namun memiliki kekuasaan yang tidak jelas juntrungannya. Kemudian pemahaman sama-sama kerja atau kerjasama yang salah menyebabkan membentuk kerajaan yang berorientasi suka-sukanya mereka. kemudian peran OS pun saat ini hampir semua dikerjakan tanpa melihat mana yang rutinitas di luar bisnis PLN dan mana yang bersifat developt. Kecenderungannya etos kerjanya carut marut.
      Kemudian mengenai penolakan SP hal itu tidak mungkin terjadi, sebab SP harus refleksi diri/ berkaca diri dari sisi kapasitas terhadap kepentingan bangsa bukan kepentingan penguasa PLN.

      Posted by hembang | 19 Desember 2009, 7:22 am
  10. Menurut saya, dari pendapat pak hembang, maupun informasi pak rudi membuka pikiran kita tentang PLN.
    Contoh kecil lain seperti pak rudi : Pekerjaan Pelayanan Teknik yang sepertinya bukan pekerjaan musiman (karena lebih dari 5 tahun ini, tiap tahun pasti ada pekerjaan pelayanan gangguan) ternyata dibuat sistem tender. Biro teknik lain yang mengelolanya. Bahkan selama 5 tahun, lebih dari 3 Vendor yang pernah memegang pekerjaan ini. Petugasnya kemungkinannya kecil untuk diganti, karena membutuhkan skill dan pengalaman khusus. Sehingga petugasnya pun tetap, hanya Vendornya yang berbeda. Kenapa memakai sistem tender tiap tahun yang bisa mengeluarkan biaya cukup besar jika langsung memakai SDM PLN sendiri bisa mengeluarkan biaya yang jauh lebih kecil? Bukankah SDM PLN lebih baik dari pada pekerja-pekerja kontrak?
    Dari penggunaan mobil operasional juga sama.
    PLN menyewa Mobil untuk waktu lebih dari 3 tahun. Kenapa tidak beli saja? jika sudah tidak dipakai, dijual lagi?
    Semoga Pak Dahlan Iskan dapat membawa PLN untuk kehidupan yang lebih baik.

    Posted by Maulana | 22 Desember 2009, 7:19 am
  11. selamat kepada pak dahlan iskan atas terpilihnya sebagai dirut PLN yang baru.semoga masalah kelistrikan di negara ini segera teratasi.aminnn

    Posted by gozen | 22 Desember 2009, 10:01 pm
  12. ALHAMDULILLAH, Selamat mr Dahlan Iskan dilantik sbg Dirut PT PLN (Persero) hari ini, Insya Alloh membawa Keuntungan bagi bangsa lewat kajian potensi alam dan SDM. Wujudkanlah amanah Listrik HIDUP Di Lumbung..bukannya malah mati (seperti artikel Bapak-red). Juga perhatikan SDM PLN. Rangkul temen-temen Outsource (abaikan usia utamakan pengalaman kerja mereka)prioritaskan mereka dahulu menjadi Pegawai tetap PLN, jangan import tenaga muda dari luar dahulu. Jangan sampai SDM listrik mati di lumbung sendiri. Ingat PLN akan krisis Pegawai di tahun-tahun mendatang (26 ribu pegawai akan sangat langka)… Matur nuwun –Madiun

    Posted by Jiggo | 23 Desember 2009, 7:49 am
  13. Dear pak Dahlan,saya, dari kemarin berpikir terus tentang conbine cycle power plan, apakah kira – kira hal ini dapat diwujudkan?.

    Kebetulan saya adalah seorang Electrician di sebuah perusahaan minyak dan gas di Kalimantan Timur.
    Saya melihat peluang dimanfaatkannya panas dari exhaust gas turbine untuk direcovery dan kemudian digunakan untuk pembangkitan.
    kebetulannya lagi, lapangan yang banyak memakai turbin gas sangat dekat dengan grid PLN.

    Mungkin teknologi yang berhubungan dengan hal ini harganya lumayan mahal, akan tetapi dengan melihat zero cost untuk bahan bakarnya tentu hal ini sangat menarik dan kedepannya akan sangat menguntungkan negara ini.

    terimakasih dan mohon komentar anda.

    Salam

    Posted by M. Syamsudin | 23 Desember 2009, 12:31 pm
  14. Yang pertama, SELAMAT kepada pak dahlan sebagai pemimpin tertinggi di PT PLN,saya tau reputasi bapak, semoga bapak dapat mereformasi PLN, di dalam dan di luar PLN, cuma listrik hidup atau mati, kami tetap aja outsouching, semoga bapak memperhatikan kehidupan kami juga yang hidupnya tutup lobang gali lobang,
    outsorcing kalimantan barat

    Posted by Outsourching | 23 Desember 2009, 3:52 pm
  15. Selamat Bekerja Dan Berkarya Pak.. Semoga PLN bisa lebih baik.. Amin..

    Posted by Agus Muhammad | 23 Desember 2009, 5:24 pm
  16. Sekarang Pak Dahlan udah jadi Dirut PLN. Apakah rencana Bapak mau mencoba PLTU?

    Posted by alisyah | 24 Desember 2009, 1:12 pm
  17. Selamat atas terpilihnya bapak sebagai Dirut PLN. PR bapak sangat banyak dan kompleks. memang benar sistem OS telah merugikan banyak pihak, termasuk vendor sendiri. jika memang tetap dengan OS, sistemnya harus diubah. dalam 5 tahun bisa berubah vendor, sehingga baik pekerja maupun vendor kelabakan. semoga bapak bisa menjadikan PLN sebagai perusahaan yang benar2 profesional.

    Posted by okta | 24 Desember 2009, 1:16 pm
  18. Selamat Buat BOOOOOOOS Baru ,Kami Hanya nitip Do`a dan harapan semoga para karyawan Outsorching menjadi lebih baik bukan menjadi pegawai Outgoing

    Posted by rizal | 24 Desember 2009, 2:11 pm
  19. nb.buat bos PLN yang baru kalo mau untung cepat aja semua SDM PLN pakai OS biar lebih murah yang karyawan cuman direktur ama OB doang kasian tuh OS lihat karyawan PLN Gajinya 5 S/10 X LIPAT OS biara karyawan PLN ikut prihatin ama periuk nasinya. thaks BRAVO PLN (Sekali nyala tetap nyala)

    Posted by rizal | 24 Desember 2009, 2:15 pm
  20. Tak lupa saya mengucapkan selamat kepada Pak Dahlan yang dilantik jadi Dirut PLN. Semoga dengan menjadi Dirut PLN, bapak dapat meraih yang anda cita-citakan sesuai tulisan anda diatas yaitu menyalakan daerah-daerah yang merupakan lumbung bahan bakar pembangkit listrik (batubara), yang saat ini justru sangat minim pasokan aliran listriknya. untuk itu sekiranya 3 tahun jabatan anda kedepan dapat membuat indonesia lebih terang dan tidak akan ada lagi pemadaman listrik yang sangat merugikan semua masyarakat, minimal anda dapat merealisasikan yang anda tulis itu sudah cukup bagi kita.
    Mari kita canangkan ” INDONESIA TERANG ” 🙂

    Posted by mahardiko | 24 Desember 2009, 4:53 pm
  21. Kontroversi pengangkatan pak dahlan oleh serikat pkerja PLN, mengingatkan saya dengan kontroversi Jack Welch, mantan CEO GE yang dinobatkan sebagai “Manager Abad Ini” oleh fortune, karena berhasil menaikkan income GE hingga lebih dari 7 kali lipat dan menjadikan GE sebagai “Global most admired companies” versi majalah fortune beberapa waktu yg lalu.

    Namun dibalik itu semua, mgkn kita juga pernah mendengar,selama menjadi CEO GE selama 20 tahun, program restrukturisasi Jack Welch telah memangkas lebih dari 50% karyawan GE. Tak heran profit GE jadi melejit, karena komponen cost karyawan juga dia potong habis habisan. Buat shareholder, Jack Welch adalah malaikat, buat karyawan GE, Jack Welch adalah mimpi buruk.

    Wajar kalo pengangkatan Pak Dahlan juga jadi kontroversial buat karyawan PLN. Saya jadi ingat kata pepatah, “If you want to make enemies try to change something”. Program Power Sector Restructuring PLN dikhawatirkan akan mengancam nasib ribuan karyawan PLN. Namun saya sendiri berpendapat, sebaiknya semangat perubahan untuk memperbaiki PLN harus didukung oleh semua pihak. Karena PLN milik bersama, bukan hanya milik karyawan. Lagipula PLN adalah satu satunya di Indonesia, saya sendiri setuju bahwa sebaiknya monopoli PLN dihapuskan (tanpa harus privatisasi), karena persaingan yang sehat pasti akan meningkatkan daya saing dan tingkat inovasi perusahaan. Dan pada akhirnya seluruh stakeholder yang akan diuntungkan.

    Jika PHK karyawan yang ditakutkan, pihak Serikat Pekerja bisa melakukan dialog dengan direksi untuk mencari titik temu bagaimana caranya restrukturisasi PLN juga bisa membawa manfaat untuk karyawan. Misal, dengan memperbaiki sistem reward karyawan berbasis performance, biar tidak ada lagi byar pet/pemadaman giliran dan karyawan yg berprestasi bisa terus diapresiasi dan dkembangkan. Kedua, Inefisiensi dan over employee, tidak harus diakhiri dengan PHK, tapi bisa juga dengan mengalokasikan resource employee untuk venture bisnis lain disesuaikan dengan kapabilitas karyawan. Dan tentunya masih banyak cara cara kreatif lainnya yang bisa diterima semua pihak. Maju terus PLN, Maju terus Indonesia

    Posted by Rangga Almahendra | 24 Desember 2009, 5:38 pm
  22. Saya mungkin lebih mengenal pak DI ketika mengulas ttg krisis tahun 2008. Tapi ketika isu akan adanya kemungkinan privatisasi Kelistrikan, maaf pada intinya kita sudah menjui al diri secara rendah. Kasarnya kalau orang bilang “Pasrah Bongkokan” MENYERAH !!. Janganlah sampai seperti itu. Mungkin yang tepat adalah meniadakan Karakter Monopoli. Janganlah menyerahkan listrik ke swasta.
    Saya ambil contoh, ketika airline di Indonesia hanya ada Garuda, Merpati, Mandala dan Bouroq. Tiket penerbangan mahalnya minta ampun dan airline bersikap semena-mena bahkan Jawatan Kereta Api bersikap masa bodoh dengan mutu layanan.
    Namun sekarang berbeda dan LUCUNYA pihak swasta lebih ekspansive dibanding GARUDA yang masih keteteran banyar HUTANG. Lho kemana saja arah manajemen mereka selama itu ? Dan pihak Kereta Api pun terkena imbasnya.
    Soal kelistrikan, sepertinya masyarakat hendaknya disadarkan kalau bahan pembangkit listrik itu MAHAL maka akan di jual pada harga yang MAHAL. Nah untuk menyadarkan itu harus didukung dengan regulasi pengunaan dan produksi barang elektronik dengan konsumsi tenaga listrik yang murah.
    Ketika pemerintah tidak berdaya, maka kecenderungannya akan diserahkan ke rakyat sendiri untuk memyelesaikan. Semisal pemerintah Jakarta belum bisa menyediakan sarana transportasi yang memadai, maka masyarakat dibiarkan menyelesaiakan masalahnya sendiri dengan sepeda motor. Ada untungya memang, kredit konsumsi naik, lapangan pekerjaan industri motor naik. Tapi sekarang yang terjadi apa ?? Masyarakat terjebak dengan berbagai regulasi ttg penggunaan motor, namun mana pengembangan transportasi massalnya ? Apakah ini akan terjadi pada Listrik juga ??!!
    Pak DI, apa yang Anda lihat ketika melakukan penerbangan malam hari dan mendarat di Soekarno Hatta, pada radius berapa kilometer cahaya lampu bersinar terang ?? Bandingkjan dengan di Padang, Balikpapan, Medan atau Surabaya lalu di Solo atau Yogyakarta. Ketimpangan !!!!
    Alangkah baiknya alternatif sumber tenaga disosialisasikan ke masyarakat. Saya membayanhgkan kita adalah negeri tropis, kaya akan panas matahari. Coba area lapang mana yang mubazir tapi boros listrik ? Justru area lapang tersebut merupakan meeting point masyarakat. Semisal Bandara, Jalan Tol, Pelabuhan Gedung-gedung Tinggi. Bayangkan kalau saja pada area dimaksud kita gunakan solar cell.
    MAHAL ???! Tapi menanamkan cara berpikir ke masyarakat, hey cari alternatif ketanagalistrikan yok!
    Atau perketat penggunaan listrik di gedung-gedung tinggi di Jakarta yang nota bene diisi oleh para pekerja kalau pagi sampai sore hari, dorong mereka dengan pembekalan penghematan listrik. Karena ketika sore sampai pagi mereka adalah kepala rumah tangga dan atau ibu rumah tangga yang akan menemui anak-anaknya yang nantinya sebagai generasi muda, InsyaAllah akan menularkan pemahaman hemat listrik.

    Posted by fanu | 25 Desember 2009, 8:02 am
  23. Selamat berkarya Pak!

    Posted by bambang | 25 Desember 2009, 10:49 pm
  24. Selamat buat Pak DI.
    Dari hasil orientasi di PLN, apakah Bapak sudah menemukan perbedaan yang mendasar antara sistem & model bisnis kelistrikan dari perusahaan yang Bapak kelola sebelumnya (PT. Fajar Cahaya Kaltim) dengan PLN.
    Jika di perusahaan Bapak sebelumnya mengalami kerugian, apakah sekiranya Bapak bisa mendatangkan keuntungan bagi PLN? celah-celah vital mana saja yang bisa diperbaiki agar PLN bisa mendatangkan keuntungan dan perbaikan kinerja.
    Tks

    Posted by ardian | 26 Desember 2009, 1:16 am
  25. Pak DI.
    Perkenalkan, Saya juga baru masuk ke Perusahaan plat Merah yang bergerak di bidang Energi. Disini saya melihat bahwa banyak permasalahan yang terjadi. Satu diantaranya adalah dimana Pemerintah selaku pemilik 100% saham menginginkan kita bisa menangguk untung yang besar dan menjadi perusahaan Profesional, namun kita juga mempunyai Public Service Obligation yang harus dipenuhi. Suatu Kondisi terhimpit yang bisa membikin pusing karena Pemerintah seringnya tidak full support terhadap perusahaan kita, terbukti dari kebijakan2 yang diambil.

    Kembali ke topik…
    Saya yakin, walaupun ada beberapa karyawan yang menolak kehadiran Bapak. Tapi pasti ada juga beberapa karyawan lainnya yang menginginkan dan mendukung kehadiran bapak disana, untuk melakukan perubahan dan perombakan radikal demi kemajuan perusahaan dan Negara yang di service Perusahaan Listrik ini. Tetaplah maju Pak…, jangan takut mengeluarkan kebijakan dan melakukan perubahan yang sekiranya bisa membuat Perusahaan Listrik ini menjadi lebih baik kedepannya.

    Posted by Mirwan | 26 Desember 2009, 4:26 pm
  26. Selamat kpd Bp.Dahlan Iskan sbg pimpinan baru di PLN.Kami masyarakat di Kaltim tlh merasakan betapa tersiksanya hidup di negeri kaya tp sekarat masalah listrik.Internal PLN menolak bapak karena takut mereka tak bisa lagi makan solar.Ungkap semua kebobrokan PLN pak.Apakah ada kebijakan pasang baru dgn metode bayar di depan pak?tp kog tiba-tiba ditunda begitu bapak dilantik?takut ya…ho…ho…ho

    Posted by Armen | 27 Desember 2009, 5:21 pm
  27. wacana yg diutarakan pak dahlan adalah benar. dan mungkin smua orang akan berpikiran sama. setidaknya itu yang saya pikirkan sebelum masuk (menjadi pegawai) PLN.
    tapi ketika pertama kali masuk, para direksi PLN (pak murtaqi) juga mengeluhkan hal yang sama, dan merekomendasikan usulan yang sama (dengan pak dahlan). bahkan lebih inovatif dari itu. pak murtaqi dan beberapa direksi menilai, kebijakan ketenagalistrikan tidak sepenuhnya di tangan PLN, yang berkuasa adalah pemegang saham atau pemerintah (presiden). contoh, misalnya krisi gas di batam, PLN sudah membangun PLTGU, tapi gas malah diekspor oleh SBY ke singapur. dengan ceremony milyaran rupiah, SBY (atas nama indonesia)bangga telah mengekspor gas ke negara tetangga, tambahan devisa katanya.direksi PLN waktu itu menangis, karena harus kembali menyaalakan diesel yang harga BBM-nya tidak dikorting Pertamina.
    sekali lagi, ini kata pak murtaqi, selaku direksi waktu itu.
    dan sekarang, anda telah resmi menjadi Dirut PLN yang juga ‘dekat’ dengan SBY (Pemerintah), mudah2an segala rencana anda bisa direalisasikan dengan cepat tanpa campur tangan orang ‘dekat’ anda.

    terimakasih

    Posted by imam alkarami | 28 Desember 2009, 12:44 pm
  28. malang banget nasib bangsa indonesia yang begitu kaya raya, tapi semua kekayaan tidak bisa dimaksimalkan dengan bijaksana. andaikan ada pemimpin layaknya soekarno sekarang ini, yang begitu gigih memperjuangkan kemakmuran rakyatnya, tentu indonesia tidak akan separah hari ini. listrik yang merupakan kebutuhan vital, seharusnya tidak perlu bahkan tidak boleh mengalami masalah seperti itu. kita berharap, sangat berharap, melalui kepemimpinan yang baru, pak Dahlan bisa menjembatani pemecahan masalah yang fundamental dalam bidang kelistrikan negara. saya yakin pak dahlan bisa untuk itu. bravo pah Dahlan..

    Posted by ngurah | 29 Desember 2009, 10:27 am
  29. Iya… Prilaku Orang2 PLN emang banyak yang korup. Secara gak langsung, saya juga “menikmati” hasil korup mereka, meskipun yang saya kerjakan adalah Legal & Halal…
    Saya Legowo, meskipun pergantian Direksi telah mengakibatkan saya kehilangan penghasilan/job dari beberapa pejabat PLN. Mungkin memang sudah saatnya, saya cari sumber penghasilan dari tempat lain…
    Bagaimanapun, Saya tetap sampaikan Ucapan Terimakasih Yang Tak Terhingga, pada Salah Satu Direktur PLN yang selama beberapa tahun sejak menjabat GM telah memberikan saya pekerjaan melalui dua GM mantan bawahannya langsung… Selain itu, salah satu Direktur yg lengser itu, menurut saya Cukup Profesional & Berjasa bagi ketersediaannya Listrik, namun sepertinya tidak ada Reward untuknya… Jadi, hal tersebut mengakibatkan saya tetap berpendapat. : BAHWA PERGANTIAN DIREKSI PLN TIDAK TERLEPAS DARI PERCATURAN POLITIK. BUKAN SEMATA-MATA MENEGAKKAN PROFESIONALISME…
    Selamat Jalan, Sahabat… Aku tau, ini Bukan Salahmu, sebab Jasamu untuk PLN memang Cukup Besar…
    Selamat Datang WARTAWAN… Semoga Dirimu Juga Legowo, bila kelak Dikritisi oleh Para Wartawan, sebab Membangun Kelistrikan, seperti yang mungkin sudah anda ketahui, TIDAK SEMUDAH SEPERTI MENULISKAN SEBUAH OPINI…
    Salam,
    Bagus Budi Santoso
    0818458841

    Posted by Bagus Budi Santoso | 2 Januari 2010, 9:27 pm
  30. Mmm, ibukota negara dan kantor DPR pindah ke kalimantan saja.
    sebagai rakyat yang tidak bersentuhan langsung, saya hanya banyak berkhayal dan berandai2 mengenai perubahan bangsa dan manajemen energi di negara ini.

    Posted by tito | 5 Januari 2010, 10:16 am
  31. Selamat buat Bapak telah dilantik sebagai dirut PLN. mudah mudahan masalah mati lampu yg sering terjadi diatas 20an tahun di kota Selatpanjang-Riau bisa benar benar teratasi. kami warga selatpanjang sangat mengharapkan perhatian & bantuan bapak dalam hal mati lampu dikota kami. kami tidak ingin 2 hari terang 1 hari gelap.kami mau terang setiap hari. karna sekian lama kami terasa sangat terancam oleh resiko yg bapak sebut sebut diatas. mohon kabulkan permintaan rakyat kecil pak.

    Posted by anto | 20 Januari 2010, 2:11 am
  32. Ntar nya juga sami mawon, biasa feodal

    Posted by legowo | 28 Januari 2010, 12:03 pm
  33. Sejauh ini kami bangga memiliki dirut seperti jenengan Pak Dahlan… Terus bekerja dan berkarya Pak demi bangsa ini, kami yang di bawahmu selalu akan berusaha memberi yang terbaik bagi kemajuan PLN tercinta…

    Salam. 🙂

    Posted by kolojengking | 2 Februari 2010, 8:20 pm
  34. Dahlan Iskan for PLN! em.. for President deh kalo perlu! ayo teruskan perjuangan anda untuk kami Pak Dahlan Iskan! dan Terimakasih!!

    Posted by Jacky Supit | 22 Februari 2010, 9:59 pm
  35. Dear Pak Dahlan,
    Saya gak terlalu yakin klo bapak membaca komen2 disini tapi saya berharap ada yang menyampaikan ke bapak..Saya adalah salah satu warga dari salah satu daerah yang bapak sebutkan pada tulisan diatas tepatnya saya berdomisili dan besar dikabupaten kutai kertanegara atau tepatnya dikecamatan Marang Kayu dimana terdapat salah satu perusahaan migas terbesar. dulu waktu saya kecil Listrik di marang kayu dipasok oleh warga yang mempunyai genset yang menyalah pada pukul 18.00 dan mati pada jam 02.00 pada saat acara televisi selesai. sejak kehadiran PLN di marangkayu membawa harapan baru bagi kami warga, setidaknya listrik menyalah sampai pagi.mungkin harapan saya sama dengan seluruh penduduk marang kayu yang merindukan kehadiran PLN yang bisa siang malam menyalah. tapi itu mungkin hanya sebatas harapan karena sampai saat ini pun masih ada daerah warga dimarang kayu yang tidak tersentuh oleh listrik..sangat ironis memang..kukar dikenal dengan daerah yang kaya raya tapi ternyata dampak kekayaan itu tidak menyentuh langsung ke masyarakatnya. suatu saat saya pernah ketenggarong untuk suatu urusan, melihat kondisi tenggarong yang begitu wah dengan listriknya..hati saya jadi menangis..coba saja lihat jembatannya atau pulau kumalanya yang tak berpenghuni..listriknya kalau bisa menyala 25 jam non stop bukan 24 jam lagi..dibandingkan dengan marangkayu yang hanya menyala pada jam 17.00 sampai jam 07.00 pagi itu pun kalau tidak dapat giliran mati. rasanya tidak adil. kerinduan kami hampir terobati ketika PLTU yang bapak bangun dikukar beroperasi dan PLTG disekitar sambera juga beroperasi…tetapi kerinduan tinggal kerinduan..sampai saat ini marang kayu belum bisa menikmati listrik pada siang hari. saya bukan ahli ekonomi tapi saya yakin jika listrik di marang kayu bisa siang malam maka kehidupan ekonomi warga akan berkembang…usaha photo copy, warnet, dll akan lancar…semoga…melalui tulisan ini semoga bapak dengan tugas baru sebagai punggawa PLN bisa mengobati kerinduan kami warga marang kayu. terima kasih.

    Posted by Rio Ferdinand | 12 Maret 2010, 9:46 pm
  36. wah memang birokarasi gtu dech

    Posted by yudha | 28 Maret 2010, 11:38 pm
  37. Untuk menangani masalah OS ini, bapak boleh melihat dan meniru cara yang dilakukan PEMDA diseluruh Indonesia. OS bisa menjadi bom waktu jika tidak cepat direstrukturisasi. Jangan pilih bulu Pak karena mereka sudah mengabdi bertahun-tahun, Jangan pilih bulu Pak karena diantara mereka pun banyak yang pintar dan bertalenta. Pelan-Pelan saja Pak tapi pasti, karena kepastian itu penting.

    Salam dari kami OS se Indonesia.
    TETAP JAYA NKRI
    SEKALI LAYAR TERKEMBANG PANTANG SURUT KEBELAKANG

    Posted by CUNKRING | 23 November 2010, 9:24 pm
  38. Industrious people certainly beat those smart even though in a long time

    Posted by EVALRI ELENZESI | 15 Juni 2014, 7:23 pm
  39. Anda dapat menggunakan obat yang berbentuk salep atau krim seperti imiquimod (aldara zyclara) yang dapat meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kutil kelamin. Ketika Anda menggunakan salep ini Anda harus menghindari hubungan seksual karena dapat melemahkan kondom dan diafragma yang dapat mengiritasi kulit dari pasangan Anda. Namun apabila ukuran kutil terus membesar dan tidak dapat diobati Anda mungkin harus melakukan pembedahan.

    Posted by EVALRI ELENZESI | 9 Februari 2015, 11:16 pm
  40. Solusinya, tegakkan pasal 33 uud 45! Batubara yg banyak sekali itu mestinya digunakan untuk kebutuhan domestik dulu. Kalo ada kelebihan, baru diekspor.soal pertambangan kan ada di bawah Men ESDM, dan PLN ada di bawaj Men BUMN. Kedua kementrian ini kan di bawab presiden. Apa susahnya sih berkoordinasi di bawah presiden? Ini dah kalau antar kementerian tidak memahami pancasila, UUD 45 (khususnya pasal 33) dan trisakti.

    Posted by Made ari | 5 Januari 2016, 2:17 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: