>>
Anda sedang membaca ...
Dampak Pembangkit Listrik yang Salah Makan

Dua Pilihan Akal Sehat Plus Satu Gila

Rabu, 18 November 2009
Dampak Pembangkit Listrik yang Salah Makan (2-Habis)
Dua Pilihan Akal Sehat Plus Satu Gila

Pertanyaan: Indonesia begitu kaya gas. Mengapa PLN sampai tidak bisa mendapatkan gas” Sehingga sebagian pembangkitnya, sekitar 5000 MW, harus diberi “minum” solar yang dalam setahun menghabiskan uang PLN Rp 80 triliun?

Urusan ini rumitnya bukan main. Memang yang berhak mengatur perdagangan gas adalah pemerintah. Mestinya pemerintah bisa mengaturnya lebih baik. Tapi, saya masih belum tahu siapa yang disebut pemerintah itu. Yang jelas, pemilik-pemilik ladang gas adalah perusahaan swasta. Asing maupun domestik.

Para pemilik ladang gas tentu ingin menjual gasnya dengan harga terbaik. Sebab, investasi untuk menemukan ladang gas tidak sedikit. Maka, PLN harus bersaing dengan pembeli-pembeli lain: pedagang luar negeri maupun pedagang dalam negeri seperti Perusahaan Gas Negara (PGN).

Keinginan lain para pemilik ladang gas adalah ini: pembeli harus mengambil semua gas yang dihasilkan suatu sumur, berapa pun jumlahnya. Di sini PLN ditakdirkan kurang bisa fleksibel. Sebuah pembangkit listrik tentu sudah didesain memerlukan gas sekian MMBTU (Million Metric British Thermal Unit). Sedangkan produksi sebuah sumur gas kadang kurang dari kebutuhan itu dan kadang sedikit kelebihan.

Dalam hal produksi sebuah sumur gas kelebihan, katakanlah 15 persen, dari kebutuhan sebuah pembangkit listrik, dilema muncul: dibeli semua PLN rugi, tidak dibeli semua pemilik sumur gas rugi. Maka, mestinya, tidak ada jalan lain kecuali ada kerja sama yang sangat khusus antara PLN dan PGN. Kalau PLN mendapatkan sumur gas yang produksinya kelebihan, kelebihan itu bisa disalurkan ke PGN. Sebaliknya, kalau produksi sebuah sumur gas kurang dari jumlah yang diinginkan PLN, PGN yang harus menambah.

Sampai sekarang kerja sama seperti itu rasanya belum ada. Egoisme setiap perusahaan masih sangat menonjol. Padahal, dua-duanya milik pemerintah. Memang itu saja belum cukup. PGN adalah juga sebuah perusahaan yang harus berlaba. Apalagi, sekarang sudah menjadi perusahaan publik. PGN sendiri kekurangan gas untuk melayani pelanggannya. Baik pelanggan rumahan dan terutama pelanggan industri. Maka, terjadilah persaingan ketat antara PLN dan PGN sebagai sama-sama pembeli gas dari ladang migas. Persaingan ini yang sampai sekarang belum mendapatkan jalan keluar.

Tentu ada yang berdoa agar kedua perusahaan itu jangan cepat-cepat rukun. Para pedagang solar (di dalam maupun di luar negeri) yang setiap tahun mengeruk uang PLN sampai Rp 80 triliun akan kehilangan bisnis yang mengilap dari pedagangan solar. Bahwa itu membuat PLN dan pemerintah sulit, yang kurang pintar kan PLN dan pemerintah sendiri.

Tentu ide yang paling realistis adalah membangun LNG-gasifikasi terminal. PLN atau investor yang bekerja sama dengan PLN diminta membangun terminal LNG-gasifikasi. PLN atau investor bisa membeli LNG (Liquefied Natural Gas atau gas alam cair) dari mana saja dalam jumlah yang pas untuk kepentingan PLN. Bisa dari Tangguh di Papua, bisa dari Senoro di Luwuk (Sulteng) bisa juga dari Qatar atau Iran. Atau dari tempat lainnya.

LNG itulah yang kemudian diubah menjadi gas di sebuah terminal LNG-gasifikasi. Terminal ini bisa dibangun di sekitar Cilegon. Bahkan, sudah pula ada teknolgi baru: terminalnya dibuat terapung di lepas pantai Jakarta. Agar dekat dengan “PLTG salah makan” yang sekarang membuat masalah itu.

Saya tidak melihat jalan lain. Hanya dua itulah jalan keluarnya: kerja sama yang baik dengan PGN atau membangun terminal G-gasifikasi. Yang pertama harus difasilitasi pemerintah dan yang kedua harus difasilitasi pemerintah. Memang masih ada jalan lain. Tapi, terlalu radikal. Lelang saja PLTG-PLTG itu! Daripada bikin penyakit yang mengisap darah keuangan pemerintah. Hasil lelang barang bekas itu untuk dibelikan PLTU bekas yang direkondisi seperti baru.

Jalan “gila” itu bisa menyelamatkan uang negara setidak-tidaknya Rp 10 triliun/setahun. Baca: 10.000.000.000.000/setahun. Kalau saja di swasta dan saya yang menjadi pemiliknya, saya akan lakukan yang terakhir ini. Masih ada penghematan lain yang juga triliunan rupiah. Tapi, dua seri tulisan ini saja sudah bisa menggambarkan mengapa PLN mengalami kesulitan selama ini. Dan mengapa sulit pula dipecahkan. (*)

Iklan

Diskusi

24 thoughts on “Dua Pilihan Akal Sehat Plus Satu Gila

  1. supaya gampang dan cespleng pak Dahlan pimpin langsung pln kita

    Posted by edo | 5 Desember 2009, 3:30 pm
  2. Gaji karyawan PLN udah gede-gede tapi kerjaan gak ada yang becus. Turunin aja gaji karyawan PLN, disubisidi ke BUMN ini yang katanya terus merugi..

    Posted by Blog CasCus | 9 Desember 2009, 10:54 pm
    • kalo semua gaji karyawan pln dipotong..gk akan ada yang mau kerja di pln..jadinya blackout..anda mau?

      Posted by andri | 10 Desember 2009, 10:48 am
      • dengan gaji dan fasilitas yang baik seharusnya PLN dapat lebih memiliki jiwa melayani bangsa yang baik pula. saya kira kinerja perusahaan di temapt saya bekerja (T.Sel) jauh lebih baik, mungkin fasilitas yang kami terima dari perusahaan sama dengan fasilitas yang diterima karyawan PLN (dari msy), namun secara kinerja, kami no 1 perusahaan telekomunikasi selular di Indonesia, gak monopoli lagi.

        Posted by amril | 26 Desember 2009, 4:08 pm
    • Maaf Semua nya
      Disini kita Tidak Mempermasalahkan Gaji atau apapun itu
      Emisi
      Emisi yang kita bicarakan
      karena emisi kita seperti ini emisi kita akan berkurang dan habis diperkirakan 50 tahun lagi
      lalu bagaiaman kita hidup
      kita hidup seprti dahulu dengan menggunakan kayu dan api
      itulah alat penerangan dan alat memasak kita nanti

      Korupsi lah sebanyak banyak nya pasti ketahuan nya itu

      Posted by Raja Jack | 2 Oktober 2013, 12:49 pm
  3. Yth Bapak YiSeGan,

    Kalo Anda pergi lagi ke RRC, segera hubungi perwakilan NORDEX AG disana. Kalo butuh penerjemah Jerman, saya akan bersedia bantu.
    PLTG yg sekarang, kiranya adalah asset yg salah urus, makanya dapat “makan yg salah”. So, Bukan PLTG nya yg harus dilelang, tapi pengelolanya, yg pasti tidak akan pernah rela.
    Mendingan Bapak ga usah ikut2 masuk plat merah laaah. Aku ndili aja agak2 nyesel, gituuu….

    Hidup Wind-Energy!!!
    Boleh bikinnan mana saja, yg penting murah dan awet !!!

    Gruss

    Posted by cap chay | 11 Desember 2009, 12:57 pm
  4. ini masalah leadership lagi bukan pak ? kyaknya sih iya…klo iya, dicari pemimpin yg berani mengambil keputusan dengan cepat,tepat dan bijak..Pak Dahlan keliatannya mampu..

    Posted by tipsbisnisuang | 12 Desember 2009, 7:02 am
  5. sepakat sama tipsbisnisuang

    Posted by nurrahman18 | 22 Desember 2009, 12:36 pm
  6. subhanallah, pak SBY rupanya membaca tulisan-tulisan bapak ini. Selamat berjuang di PLN pak Dahlan, salam dari saya, profesional muda di industri gas terbesar di Indonesia di Balikpapan, yang tak pernah sembuh dari krisis listrik yang tragis, ibarat ayam yang mati di lumbung padi

    Posted by anto | 23 Desember 2009, 1:39 pm
    • Selamat berjuang di PLN pak Dahlan.. Smg ide2nya bisa diimplementasikan. Mestinya PLN bisa lbh efisien dan lbh perform ke depan, dan banyak juga orang2 pintar di PLN. Mudah2an bisa bersinergi utk PLN yg lbh baik dan Indonesia yg lebih ter-elektrifikasi.

      Selain hal2 major, banyak juga hal2 minor yg step by step, start from small, tp terus menggelinding yg pada gilirannya akan mendorong PLN lbh baik. Misalnya perbaikan Business Process, System yg terintegrasi, handal & terpercaya, Change Management, Pengelolaan Inventory, dll. Kita jadikan PLN jadi perusahaan kebanggaan nasional, bukan perusahaan kejengkelan nasional.

      Salam.

      Posted by rivelino | 23 Desember 2009, 10:24 pm
  7. Kalo dalam setahun ide2 dan gebrakan pak dahlan membuat pln efisien dan handal nggak didukung menteri keuangan dan menneg bumn, sebaiknya wassalam, bapak langsung cabut aja dari pln. karena mubazir berurusan dengan pejabat yang tak peduli dengan nasib rakyat. janji ya pak. salam hangat dan tetap semangat.

    Posted by imam subari | 24 Desember 2009, 10:30 am
  8. Assalamu’alaikum Wr Wb
    untuk menyambut pelantikan saya tantang bapak di sini :

    http://ekonomi.kompasiana.com/2009/12/24/menimbang-dirut-pln-dahlan-iskan/#comments

    salam hangat dan tetap semangat

    Posted by imam subari | 24 Desember 2009, 5:49 pm
  9. PDCA yang bener = Plan Do Check Action
    PDCA-nya PLN = Please Don’t Change Anything

    Parahhh …
    Coba KPK sadapin isi teleponnya bos2 PLN dulu.
    Kayaknya jadi corongnya makelar2 solar.

    Posted by M. R. Taufik | 26 Desember 2009, 7:46 am
  10. selamat memimpin pln pak..smoga tulisan dan kerja bpk nanti sesuai.memang sulit klo dilihat tetapi klo di jalani sungguh2 pasti bisa.rintangan di”dalam” segede gunung fuji bukanlah suatu halangan untuk berhenti di tengah jalan.gusti pangeran pasti di sisi orang yang tulus dlm menjalani sesuatu….

    Posted by yan | 26 Desember 2009, 8:51 am
  11. Maju terus Pak….Bawa PLN lebih bagus lagi..
    Tapi kalo boleh saran, ada satu cara lagi pak…waste to energy technology alias closing the loop
    Pembakaran sampah dengan incinerator bisa menghasilkan listrik juga, ada technology yang di kembangkan Malaysia ( hiks 😦 , dimana Indonesia ?? ) yang cocok dengan karakter sampah tropis.
    2010 ini mereka 5 unit akan beroperasi.
    1 orang = 1 kg sampah / hari. 1000 ton sampah apabila di bakar bisa menjadi 1 MW. 250 juta kilo sampah / hari = ……males ngitung pak….energi yang murah dan lebih ‘hijau’…..

    Posted by Made Agus Mawira | 30 Desember 2009, 8:10 am
  12. Saya dulu juga berfikir begitu, coba melistriki luar Jawa itu kan rugi. Hitung saja konsumsi mesin diesel yg baru gress 0,25 ltr/kWh. kalau di kali harga solar/HSD disana Rp 8000/ltr, maka 1 kWh harusnya berharga Rp. 2000/kWh, belum dihitung ongkos yang lain, padahal harga jual cuma Rp 600/kWh. Ruginya Rp 1400/kWh. Kalau PLTD PLN sebesar 3000 MW, berapa ruginya 1 thn. Maka mendingan PLTD-PLTD itu di klioin saja. Apa begitu ?

    Posted by Cahyono | 11 Februari 2010, 2:41 pm
  13. Met Malam Pa & Kawan 2x sekalian.

    Waduh, baru tahu saya bahwa PLN begitu tidak efisien.
    Sedangkan Gas alam Republik ini dari Tangguh diekspor cuman seharga 3,35 sen U$ per MMBTU sejak tahun 2002 ke China. Mungkin saatnya memberlakukan peraturan pemenuhan kebutuhan dalam negri dulu sebelum export. Seperti di kelapa sawit.

    Dengan perbedaan Harga gas ~ USD 7/ton ekuivalen vs harga solar USD 16/ton ekuivalen, sangatlah rasional bila usulan Bpk utk membeli gas dari mana saja dilaksanakan.

    Saya harap menteri Keuangan ikut membaca forum ini.
    Yg terakhir minta ijin utk memfoward tulisan Bpk yg ke 1 & ke 2
    Saya tunggu ijinnya di sutben@gmail.com Pa.

    Thanks & semoga negara ini menjadi lebih baik & kuat di masa yg akan datang.

    Posted by sutben | 25 Februari 2010, 6:28 pm
  14. pagi Pak !
    mohon di perhatikan pak, di medan terlalu sering mati lampu bahkan 2 x dalam 1 hari selama 4 jam dan itu hampir setiap harinya. dalam hati sangat dongkol tp apa daya tk dapat berbuat apa2 dan kenapa tadi saya dengar berita akan naik TDL 15% apakah itu tidak semakin mengecewakan masyarakat yg saat ini lg puncak emosional akibat ulah PLN yg sering sekali mematikan listrik. Tolong pak ! saya yakin bapak lbh mengerti akan hal ini dan bapak jg pasti tau akibat mati listrik itu peralatan elektronik yg menggunakan arus listrik banyak yg rusak…bagaimana tanggapan bapak dan orang2 bapak sebagai pegawai PLN ? TKS.

    Posted by SINTA | 9 Maret 2010, 10:35 am
  15. Assalamualaikum….
    sekedar menanggapi…….., Bu Sinta….sebelumnya…bersabarlah sedikit tentang kondisi PLN saat ini, semua merasakan apa yang dirasakan oleh Bu Sinta, terutama di Luar Jawa-bali.

    Ibu Bilang…2x dalam satu hari di tempat ibu ya..?untuk ibu ketahui..disebagian belahan Pulau-pulau yang lain di indosesia ada yang lebih parah lagi bu..rata-rata setiap hari 4x sampai 8x sehari….bayangkan…???
    tapi Insan PLN tidak tinggal diam untuk mengatasi dan berusaha keluar dari masalah ini BU….kan PLN dan Pemerintah sudah mencanangkan Proyek Pembangkit 10.000 MW tahap 1 dan akan disusul dengan Proyek 10.000 MW tahap 2…., pernah Dengar BU…???
    untuk dikatahui…kita semua harus menyadari ini tugas yang teramat berat yang harus di pikul Oleh PLN, yang notabanenya sebagai satu satunya BUMN sektor kelislitsrikin ditanah Air .Ini bukan Hanya “DILEMA tapi TRILEMA”
    PLN sudah berusaha sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk mengatasi masalah ini , ada pepatah PLN: 3R…..,Tidak Pernah Tidur, Bekerja Lembur dan Bekerja Jujur…hik..hik..hik..
    ini bukan hanya masalah PLN tapi masalah kita semua….masalah bangsa
    Permasalahan ini sangat rumit,,,dan butuh perjalanan yang panjang, tidak seperti Ahli sulap yang bisa mengubah sesuatu dalam sekejap.PLN masih dalam Perjalanan mohon ditunggu dan disambut kedatangannya dengan senyuman……..” Semoga Esok jadi Lebih Baik”…

    Posted by Endang Faisol Darwin | 11 Maret 2010, 4:50 pm
  16. Hal yang paling sulit dalam sebuah kehidupan adalah mengalahkan diri sendiri.

    Posted by REZKY YASSIN NST | 10 Februari 2015, 5:17 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Dicari, Payung yang Berhemat Rp 10 Triliun « Catatan Dahlan Iskan - 1 Desember 2009

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: