>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

Ekstrem Kanan Kiri Oke, tapi Tengah Memimpin

Rabu, 19 Agustus 2009
Ekstrem Kanan Kiri Oke, tapi Tengah Memimpin
Soemarsono, Golongan Kiri, dan Pergolakan Seputar Proklamasi

Cara memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 seperti itu memang sangat khas cara berpikir kita sampai sekarang: Yang penting merdeka dulu! Bagaimana rumitnya urusan setelah itu baru dipikirkan kemudian. Cara berpikir begitu juga terlihat ketika terjadi reformasi pada 1997/1998. Pokoknya reformasi dulu. Urusan rumit setelah itu dipikir kemudian. Karena itu, pikiran lain yang dilontarkan tokoh seperti Dr Nurcholish Madjid tidak laku. Maklum, waktu itu gelora untuk melakukan reformasi luar biasa besarnya. Bukan hanya gerakan bawah tanah sebagaimana yang terjadi menjelang proklamasi kemerdekaan RI, tapi sampai ke gerakan demo besar-besaran secara terang-terangan: Reformasi sekarang!

Padahal, sekitar seminggu sebelum Presiden Soeharto memutuskan untuk meletakkan jabatan, Cak Nur (begitu panggilan akrabnya) mengemukakan gagasan penting: Bagaimana kalau Pak Harto sendiri yang memimpin jalannya reformasi. Kita, kata Cak Nur, bisa memberi waktu dua tahun kepada Pak Harto untuk menyelesaikan proses reformasi itu. Selama proses itu, kita percaya penuh kepada Pak Harto. Dengan pikiran seperti itu, menurut Cak Nur, reformasi akan berjalan secara terencana. Tentu tidak perlu terjadi huru-hara. Tidak sampai meletus peristiwa Mei 1998. Tapi, pikiran seperti itu, pada masa yang penuh gelora menentang Pak Harto, dianggap pikirannya orang yang lembek. Soeharto harus segera turun takhta. Sekarang! Terlalu enak orang seperti Soeharto diberi waktu dua tahun.

Dua tahun itu lama sekali. Bisa-bisa Soeharto lupa tugasnya untuk melakukan reformasi. Ini sangat khas pola pergerakan revolusioner. Seperti juga sikap para pemuda menjelang proklamasi kemerdekaan dulu. Tidak sabar menunggu Jepang sendiri saja yang memerdekakan kita. Bahkan, saking tidak percayanya, kata-kata Jepang yang menjanjikan kemerdekaan “kelak” dibuat pelesetan di rapat-rapat umum waktu itu, juga di pertunjukan-pertunjukan ludruk: Kita tidak percaya “kelak”, kita hanya percaya “kolak”! Kolak adalah makanan khas Surabaya, yang terbuat dari pisang yang direbus bersama santan dan gula.

Yang selalu terpikir dalam suasana yang revolusioner adalah takut kehilangan momentum. Ini juga yang mewarnai revolusi Madiun 1948 dan G 30 S/PKI tahun 1965. Dalam pikiran revolusioner seperti itu, yang terbayang adalah keindahan melulu: Setelah proklamasi pastilah rakyat makmur. Setelah reformasi pastilah rakyat makmur.

Tidak terbayangkan bahwa setelah proklamasi luar biasa sulitnya. Perasaan telah merdeka ternyata membuat semua orang merasa punya hak yang sama. Lalu, merasa pula berhak melakukan apa saja sesuai dengan keinginan dan aliran politiknya. Ekstremitas terjadi di mana-mana dengan segala bentuk dan latar belakangnya. Yang aliran kanan mengkristal ke Negara Islam Indonesia. Yang kiri mengkristal menjadi peristiwa Madiun. Suasana setelah reformasi kurang lebih sama. Bukan main juga hebohnya. Negara menjadi lemah, pemerintah kehilangan keyakinan, pertentangan muncul dan kerusuhan di mana-mana. Semua orang seperti boleh melakukan apa saja. Dalam proses ini, yang kiri juga mengkristal, meski belum sampai menampakkan wujud formalnya. Yang kanan mengkristal dalam bentuk terorisme sekarang ini.

Iklan

Diskusi

3 thoughts on “Ekstrem Kanan Kiri Oke, tapi Tengah Memimpin

  1. mungkin ini alasannya kenapa gerakan2 perubahan dari mulai proklamasi sampai reformasi tidak menuntaskan permasalahan yang ada… hanya menjadi pergerakan perubahan atas dasar emosional semata tanpa konsep bangunan negara yang jelas yang akan diusungnya… semoga semua orang mengambil pelajaran 🙂

    Posted by anotherprodigy | 7 Agustus 2012, 11:46 am
  2. Ada tes laboratorium khusus dimaksudkan untuk gonore yang akan berkinerja baik . Beberapa kebetulan selesai dengan urin ( terutama karena usaha terutama karena pipis dari cangkir ) sedangkan yang lain menerima swab dalam waktu organ atau hanya leher rahim . Bicarakan dengan dokter individu untuk orang dengan keraguan terkait dengan tes diagnostik peluang .

    Posted by ARDILA NORASHIKIN | 9 Februari 2015, 10:56 pm
  3. Baca pidato pancasila 1 juni 1945. Kalo segala sesuatunya harus diurus sampai njelimet, gak tahu apakah kita jadi merdeka atau tidak.
    Yg jadi persoalan adalah pasca momentum itu (kemerdekaan, reformasi dll) itu, jalan menjalankan pemerintahan bisa sesuai misi momentum itu atau gak.
    Indonesia merdeka sudah punya landasan, salah satunya adalah bagaimana perekonomian dijalankan sesuai pasal 33 uud ’45. Kenyataanya, bung karno sedang menjalankan itu (trisakti), tapi keburu dikudeta suharto sehingga haluan perekonomian kita malah kembali dijajah asing.
    Begitu juga reformasi, baru bisa mendemokratiskan secara politik (walau dalam syarat yang minimal dan prosedural), sedangkan demokrasi ekonomi belum berjalan. Padahal, salah satu unsur pancasila (trisila) adalah sosio-demokrasi. Reformasi ditelikung reformis gadungan macam amin rasis, megawati dll sehingga, jalannya perekonomian kian dalam dalam pelukan neoliberalisme.
    Trims…

    Posted by Made ari | 5 Januari 2016, 11:44 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: