>>
Anda sedang membaca ...
Wawancara dengan First Lady Ibu Ani Yudhoyono

Bangga, Mobil Pintar sampai ke Lebanon

Jum’at, 28 November 2008
Wawancara dengan First Lady Ibu Ani Yudhoyono (2)
Bangga, Mobil Pintar sampai ke Lebanon

Ditemani Ibu (Menlu) Hassan Wirajuda, Ibu Ani Yudhoyono juga bercerita tentang kegiatannya menjelang tahun politik 2009. Termasuk tentang dua anaknya yang berbeda jalan dalam meretas pendidikan dan karir. Si sulung ke militer, sedangkan bungsunya terjun ke dunia politik. Berikut lanjutan petikan wawancara Dahlan Iskan dan Budi Rahman Hakim dari Jawa Pos dengan first lady Indonesia itu.

Tahun depan kesibukan bapak akan meningkat. Ada krisis, ada pemilu legislatif, dan pilpres. Apa yang Ibu persiapkan menyongsong semua itu?

Ya, karena bapak sudah memutuskan untuk running lagi, maka tentu harus bekerja keras lagi. Persiapan bapak yang sekarang mungkin sudah berbeda dengan yang dulu. Sudah berpengalaman. Tentu saya tahu kita akan lebih sibuk lagi. Tapi, barangkali secara mental, sudah lebih siap. Itu menurut perasaan saya. Kalau dulu, kita memang belum punya pengalaman sama sekali.

Tentu banyak aturan protokol yang kadang bisa menjauhkan dari rakyat. Apa kiat Ibu agar bapak tetap dekat dengan rakyat?

Ya, protokol atau pengawalan Paspampres memang mempunyai tugas yang seperti itu. Tapi, bapak kan sejak dulu dekat dengan rakyat. Pemilu dulu itu kan bapak bukan siapa-siapa ya… sehingga tidak ada protokoler seperti itu. Sekarang lebih ketat. Tetapi, kita juga mengatakan kepada pengawal bahwa bapak itu dekat dengan rakyat. Boleh ketat, tapi jangan kasar dan keras. Kalau kalian kasar, orang menilai sama dengan saya yang kasar kepada rakyat.

Karena itu, boleh melarang (rakyat) mendekat atau apa, tapi dengan cara-cara yang sopan. Itu selalu kita katakan kepada Paspampres. Bahkan, pernah suatu saat misalnya Paspampres-nya itu ganti, belum tahu kalau sikap bapak seperti itu. Kadang-kadang kasar sekali. Bapak marah dan mengatakan kalau seperti itu lebih baik tidak usah dikawal. Kalian boleh marah, tapi jangan kasar. Mereka itu rakyat yang juga ingin menyalami saya, rakyat ingin bertemu dengan pemimpinnya. Sebaliknya, pemimpin ingin bertemu rakyatnya. Ya kalau tugas seperti itu seolah-olah seperti ada gap antara pemimpin dengan rakyatnya. Karena itu, setiap pulang ke Cikeas bapak minta jangan ada pengawalan yang panjang. Bikin macet dan orang akan kesal. Presiden yang lebih sering mengalah, dengan cara memilih waktu ke Cikeas atau dari Cikeas yang lebih pagi atau lebih malam.

Peran sebagai first lady di masa Ibu banyak berubah. Termasuk kegiatan menciptakan masyarakat kreatif.

Begini… saya barusan ngobrol dengan ibu-ibu dari KBRI (Peru) juga. Ketika saya dulu menjadi istri presiden, saya baca aturan perundangan. Apa sih tugas sebagai seorang istri presiden? Yang ada hanyalah ibu negara itu mendampingi presiden dalam menjalankan tugas negara di dalam dan di luar negeri. Tetapi, selebihnya tidak ada. Oleh karena itu, saya berkomitmen, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu tugas bapak.

Tentu ada perbedaan antara ibu negara yang pertama sampai kepada saya. Tugas-tugasnya atau pilihan-pilihannya. Masyarakat bisa membandingkan. Tetapi, saya tidak mengatakan saya yang paling bagus, tidak. Tetapi, ada perbedaaan. Silakan dibandingkan.

Bisa dirinci jenis kegiatan itu?

Saya selalu melihat Indonesia ini seperti apa ke depan… apa yang dituju. Yaitu Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Artinya, kecukupan pangan, cukup sandang dan papan. Kemudian pendidikan dan kesehatan yang memadai, lingkungan dan rasa aman…

Menuju kesejahteraan itu, generasi baru Indonesia harus pintar. Kalau anak-anak itu pintar, suatu saat bisa mencapai kesejahteraan. Karena itu, kita adakan program mobil pintar, motor pintar, rumah pintar, (bahkan) ada kapal pintar. Semuanya kita rancang khusus: ada buku-buku, permainan edukatif, ada televisi, kemudian ada komputer. Mengapa dulu kok nggak ada ini.

Inspirasi kegiatan itu dari mana?

Saya kalau ke daerah-daerah sama bapak, anak-anak itu menyampaikan ingin belajar, ingin membaca, tapi nggak ada buku, nggak ada kemampuan. Saya waktu itu berpikir, semacam perpustakaan keliling itu. Kemudian, saya minta Ibu Hatta Radjasa (istri Mensesneg Hatta Radjasa), bisa nggak sebagai koordinator. Saya ingin mewujudkan segera. Jadilah kemudian apa yang seperti sekarang ini. Mobil baca itu dilengkapi tenaga tutor yang membantu mereka, kemudian ada jinggel khusus, seperti es krim keliling. Biarpun di kamar, kalau mendengar jinggel itu, anak-anak akan tahu kalau sedang ada mobil pintar yang sedang keliling. Mereka kemudian lari ke jalan memanfaatkan mobil pintar itu.

Sejauh ini perkembangannya bagaimana?

Melalui Indonesia Pintar itu kini sudah berkembang ke ratusan mobil. Dari mana sih dananya? Kita bekerja sama dengan para donatur. Donatur ini sebenarnya tahu program kita baik, kemudian mereka menawarkan diri untuk membantu. Kadang-kadang, saya juga ingin melihat siapa ya pengusaha yang ada di daerah itu ya kita ajak bekerja sama. Kita tidak menerima uangnya. Cukup memberikan desain dan syarat-syarat mobil berikut isinya. Mereka yang mengadakan sendiri.

Kabarnya program ini dikembangkan di negara lain…

Itu program kita yang pertama. Saya kirim ke Lebanon. Kebetulan, anak saya (Agus Harimurti) waktu itu (tugas) di Lebanon. Dia juga kepingin memberikan persembahan kepada masyarakat setempat. Pasukan dari negara lain itu kan selalu melakukan donasi. India kasih kaki palsu karena dia kan punya pabrik kaki palsu, kemudian Spanyol juga dalam bentuk lain. Indonesia selama ini nggak dilirik karena yang diberikan Indonesia biasanya hanya jasa seperti bakti sosial dengan cara pengobatan gratis. Atau dalam bentuk kerja bakti. Agus punya ide agar Indonesia bisa dikenang seperti negara lain. Agus bilang sama Annisa, istrinya, dan Annisa bilang sama saya. Lalu, saya katakan, coba mau tidak dengan mobil pintar. Kalau kalian mau kan bisa, ada unsur pendidikan dan kesehatan.

Lalu…

Mereka akhirnya berdiskusi dengan komandannya. Ya bagus juga ya, tapi kita nggak punya mobilnya. Lha Agus bilang, ini kan ada ambulans. Ambulans dua tidak dipakai. Nah, mobil ambulans ini saja yang kita desain. Akhirnya, tentara kita mendesain ulang. Ada rak bukunya segala. Kemudian, saya kirimkan dana untuk permainan edukatif, tapi kan harus beli di sana. Kan harus pakai bahasa Arab atau Prancis. Buku yang dari Indonesia adalah yang berbahasa Inggris, terutama mengenai pariwisata di Indonesia.

Di sana ternyata (mobil pintar) menjadi primadona, bahkan mendapatkan pujian dari komandan force-nya. Keberadaan mobil pintar di sana lantas dibikinkan CD-nya. Saya dikirimi CD-nya itu. Wah menyenangkan. Bermanfaat sekali. Aduh anak-anak (tentara) ini luar biasa, baguslah membuatnya itu. Bagus sekali. Ada juga rekaman testimoni dari anak-anak sana. Bahkan, mereka nulis kesan-kesan dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan untuk saya, ibu negara Indonesia. Terima kasih. Kami primadona di sana. (bersambung)

sumber

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: