>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

Semua dalam Posisi Memegang Benang

Selasa, 28 Oktober 2008

Dahlan Iskan : Semua dalam Posisi Memegang Benang

Terlalu banyak pertanyaan seperti ini: Di saat Amerika Serikat dilanda krisis yang hebat seperti ini, mengapa dolarnya justru menguat? Mengapa harga emas justru merosot? Bukankah dalam suasana krisis mestinya harga emas naik?

Jawabnya tidak tunggal, tapi yang utama hanya satu: terlalu banyak orang di banyak negara yang membutuhkan dolar AS. Lembaga-lembaga keuangan raksasa yang dulu selalu meminjamkan uang dalam dolar AS, sekarang memerlukan dolar sebanyak yang bisa ditarik. Kalau dulu dolar mengalir dari AS ke seluruh dunia, kini semua dolar harus mengalir balik ke AS untuk menutup lubang menganga yang sangat besar akibat krisis itu.

Masih ada tambahan lagi: di AS banyak perusahaan atau aset yang dijual dengan harga murah. Akibatnya, orang kaya dari seluruh dunia juga banyak yang tergiur untuk membeli aset itu. Tentu mereka membutuhkan dolar AS. Perusahaan (saham) AS yang di luar negeri juga banyak yang dijual. Pembelinya juga perlu dolar. Perusahaan-perusahaan yang punya pinjaman dolar diminta membayar sebelum jatuh tempo. Kalau tidak bisa bayar, perusahaan itu disita untuk dijual. Juga pakai dolar. Apakah bisa menarik kredit sebelum jatuh tempo? Bisa! Baca akad kreditnya. Pasti menyebutkan klausul seperti itu.

Satu-satunya negara yang mata uangnya justru menguat terhadap dolar AS hanyalah Jepang. Ini karena fondasi ekonomi Jepang sangat kukuh. Uang cash-nya amat banyak dan dalam posisi aman. Bank-banknya punya sumber dana yang amat murah dan berjangka panjang. Penabung di Jepang hanya mendapat bunga 0,5% setahun.

Sebagai negara yang maju berkat dibantu AS (setelah kalah perang dunia dulu), semestinya Jepang kini harus membantu AS. Jepang punya kemampuan untuk itu. Cadangan devisanya nyaris USD 1 triliun! (USD 950 miliar). Dana pensiunnya, lebih gila lagi: USD 1,5 triliun. Kekayaan sejumlah orang berduit di sana mencapai USD 15 triliun. Dana deposito di bank mencapai USD 8 triliun.

Para ahli menyebutkan, dengan kemampuan itu Jepang bisa banyak berbuat. Toh, Jepang tidak mau melakukannya. Jepang harus memikirkan keselamatan negaranya dulu. Padahal, Jepang adalah kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia setelah AS. Padahal, Jepang tidak akan bisa seperti sekarang kalau dulu tidak dibantu AS. Undang-undang dasar Jepang saja yang membuatkan McArthur! Toh, dalam keadaan krisis seperti ini keselamatan diri sendiri dulu yang diutamakan.

Maka, jangan harap kalau Indonesia nanti terkena krisis, ada negara lain yang mau membantu. Kini, semua negara menyelamatkan diri masing-masing. Tidak akan ada balas jasa sekalipun. Karena itu, mumpung krisis yang berat belum mengenai kita, Indonesia harus memupuk terus kemampuan keuangannya. Rencana menurunkan harga BBM benar-benar harus dihitung dulu kapan saatnya yang paling tepat.

Sebenarnya krisis yang terjadi di AS menjadi lebih gawat, antara lain, juga karena hilangnya rasa percaya diri. Rasa konfiden itu mudah hilang kalau kita tidak punya cukup uang. Kian besar dana yang dimiliki negara, kian besar konfiden itu. Penyelenggara negara saat ini tidak boleh kehilangan konfiden hanya karena tekanan politik.

Sebenarnya bukan tidak ada keinginan Jepang untuk membantu AS. Seorang tokoh politik di sana, Kotaro Tamura, bahkan sampai jengkel karena inisiatifnya untuk membantu AS tidak mendapat sambutan di dalam negeri. Tamura, seorang invesment banking yang kini menjadi anggota DPR dan mengetuai satu faksi dalam partai pemerintah, berpendapat, mestinya Jepang bisa menggunakan uang cash-nya yang begitu banyak untuk ikut menyembuhkan ekonomi dunia.

“Ini sebenarnya kesempatan besar bagi Jepang,” kata Tamura seperti dikutip media seluruh dunia. “Sekarang ini, di AS, semuanya murah. Seharusnya kita menggunakan dana kita untuk membeli semua itu,” katanya. Dengan cara itu, kata Tamura, Jepang bisa memberikan sinyal yang baik bagi pulihnya ekonomi dunia. Apalagi, bantuan itu toh bukan pinjaman yang berisiko. Bantuan itu berupa kesediaan membeli aset-aset yang lagi dijual di AS.

Beberapa perusahaan Jepang memang sudah membeli aset tersebut. Mitsubishi membeli sebagian saham Morgan Stanley sebesar USD 9 miliar, membeli Union BanCal di San Fransisco sebesar USD 3,5 miliar, dan membeli Aberdeen Asset Management sebesar USD 190 juta. Tapi, itu dianggap belum ada artinya.

Kalau Jepang bisa membeli sebanyak mungkin aset murah di AS, kata Tamura, dalam 10 tahun mendatang Jepang akan menikmati hasilnya: hasil ekonomi dan hasil politik. Toh seruan Tamura itu tidak ada yang menggubris. Tamura yang baru 45 tahun dan yang dikenal suka berpakaian elegan (jarang politisi Jepang yang berani memakai pakaian yang mahal seperti dia) menjadi sangat ketus.

Bahkan, proposalnya agar Jepang membuat perusahaan negara seperti Temasek di Singapura juga ditolak. Padahal, selama ini dana-dana di Jepang itu hanya menghasilkan bunga yang sangat rendah: 0,5% setahun! Kalau dana itu diakumulasikan ke dalam satu usaha seperti Temasek, hasilnya bisa sampai 18% setahun.

Jepang memang bangsa yang paling hati-hati terhadap sesuatu yang berisiko. Tingkatnya bukan lagi sekadar hati-hati, melainkan sudah “benci pada risiko”. “Bahkan, risiko baik sekali pun,” ujar Tamura. Mana ada orang yang memilih dapat bunga 0,5% daripada 18%. “Orang Jepang itu tidak tahu apa artinya laba,” kata Tamura.

Tapi, itulah memang Jepang. Mereka menilai bunga 0,5% tapi aman lebih baik daripada “bunga 18%” tapi ada risikonya. Kita memang kagum dengan langkah seperti Temasek, tapi kini kita juga perlu bertanya berapa kerugian Temasek akibat krisis ini.

Demikian juga investasi Tiongkok di Blackstone yang mencapai USD 250 miliar dua tahun lalu, kira-kira juga sudah hilang setidaknya separonya. Ini berarti ada uang Rp 1.200 triliun yang tiba-tiba lenyap. Uang yang hilang sekejap itu sudah sama dengan seluruh APBN Indonesia!

Bagaimana dengan sikap Tiongkok? Kita belum pernah mendengar inisiatif Tiongkok untuk menggunakan cadangan devisa terbesarnya di dunia itu untuk ikut menyelamatkan Amerika. Tiongkok pasti ingin menyelamatkan dirinya sendiri dulu. Rakyatnya begitu banyak. Pabriknya yang harus tutup jumlahnya bukan hanya ribuan. Tiongkok pasti akan menggunakan cadangan devisa, pertama-tama untuk dirinya sendiri.

Apalagi Tiongkok pasti tahu bahwa meski terkena krisis, Amerika masihlah negara kaya. Saya sering menyebutkan dengan krisis ini status Amerika hanya turun dari “negara yang kaya raya” menjadi “negara yang kaya sekali”. Kapitalisasi pasar modalnya masih lebih besar dibanding Jepang, Korea, Jerman, Tiongkok, Prancis, Inggris, dan Australia dijadikan satu! Kekuatan ekonomi Tiongkok yang sudah kita puji-puji itu baru sebesar ekonomi satu negara bagian California.

Ibarat layang-layang, perusahaan-perusahaan di Indonesia kini masih dalam status terbang. Baru satu-dua yang oleng kehilangan angin. Tapi, semua pemilik perusahaan kini harus terus dalam posisi memegang benang sambil mata tetap terus mengawasi layang-layang masing-masing. Begitu kehilangan angin harus tahu apa yang harus dilakukan: tarik benangnya. Lengah sedikit, layang-layang itu bisa langsung nyungsep ke tanah. Mata tidak boleh berkedip. Jangan sampai, misalnya, ditinggal ke toilet sekalipun. Banyak yang mungkin menganggap ini berlebihan. Tapi, siapa yang beranggapan demikian, layang-layangnyalah yang akan nyungsep lebih dulu. (*)

sumber

Iklan

Diskusi

7 thoughts on “Semua dalam Posisi Memegang Benang

  1. liburan itu enaknya gag lebih dr 10% masa kerja kita… AWAS, SIAP, SIAGA! semoga semua berjalan dgn baik…

    Posted by danny | 29 Oktober 2008, 7:59 am
  2. SBI naik, konon agar tidak terjadi rush. Tapi akibatnya menyengsarakan rakyat kecil, bagaimana mau kredit buat usaha, buat nyicil rumah, ngangsur motor, kalau bunganya selangit.
    yang diuntungkan sekali lagi orang kaya, yang depositonya selangit, bisa panen duit.
    sekali lagi setiap keputusan pemerintah yang diambil, selalu orang kecil yang sengsara, orang (yang sudah) kaya yang semakin kaya.
    kapan ya pemerintah membuat kebijakan yang membela rakyat kecil?
    Yok opo pak?

    Posted by joe | 31 Oktober 2008, 9:27 pm
  3. nyuwun sewu…
    mudik…gak tau kemana?? sama bapak..
    aku ingat Ramadhan ditanya mudik gak??/ kemana mas??
    tapi bahagia bisa temenin yang puasa sahur tiap hari dengan sms chat…moga msh ingat
    aku suka buku bapak ganti hati…juga karena temen saya D”mas…
    ya…intinya sama sama gak ada tempat mudik..
    semarang…cirebon…magelang dan sekitar…
    matur suwun bapak Dahlan ….dah boleh ikut nulis dan kenalan sama bapak yang terkenal itu….pareng…
    AYKE

    Posted by ayke | 5 November 2008, 12:06 pm
  4. Pak Dahlan anda orang pandai itu sudah pasti. Kita sama-sama orang kelahiran Magetan. Kapan ya saya dapat kesempatak untuk ketemu bapak ? Wah langka kali karena saya menyadari hanya orang kecil, saat ini bergelut di dunia medis merantau kesana-kemari karena mau balik ke Madiun apalagi Magetan nggak ada alat medis yang canggih yang biasa saya pakai menolong pasien. Saya sudah dengar Bapak buat sekolahan ” International” walau muridnya masih sedikit. Kapan bapak buat RS ” International” saya ingin balik kampung sekalian bantu bapak kalo mau buat RS di Magetan atau Madiun yg “layak” udah bosan merantau!! Saat bapak berobat di Tiongkok menunggu cangkok hati, merasakan Chemo sistemik maupun TACE itu juga saya baca, kebetulan saya melakukan TACE & sejenisnya di Indonesia ini. Kalo bapak ada minat untuk bantu orang sakit di Magetan & sekitar biarlah saya balik bantu semampunya karena saya prihatin melihat banyaknya orang Indonesia di Fuda Cancer Hospital yang sebenarnya bisa kita lakukan di Indonesia – Magetan sekalipun asal ada alatnya. Tulisan-tulisan bapak tentu saya ikuti walau tidak semua. Rasanya sudah saatnya bila bapak membantu masyarakat Magetan & sekitar untuk mendapat pertolongan RS yang layak seperti juga bapak buat Sekolah “International” Salam hormat

    Posted by santoso suhendro | 9 November 2008, 1:02 pm
  5. maaf, sekedar tanya
    ada catatan Bapak Dahlan iskan, tentang cara menulis, etikanya, dan responsibility nya
    terima kasih,
    salam

    Posted by nandangw | 7 Desember 2008, 3:12 pm
  6. Maaf Pak Dahlan, Setelah melihat kepiawaian Bapak dalam mengeluarkan jurus dalam membantu pemerintah mengatasi defisit tenaga listrik, apalagi setelah mempunyai hati yang baru. saya ingin juga bergerak seperti Bapak, kebetulan saya mempunyai aditive produk Amerika dengan tehnologi NANO, fungsinya untuk membantu menyempurnakan pembakaran BBM, terutama solar, kemampuannya dalam efisiensi mencapi +/-30% untuk mesin yang bergerak (truck dll) untuk genset mencapai +/-40%, tapi saya mengalami kesulitan untuk memasarkan terutama ke PLN maupun perusahaan yang cukup banyak mengkonsumsi BBM, mohon bimbingan Bapak, karena menurut saya bahan ini sangat berguna dalam menekan pemakaian BBM dan emisi gas buangnya mencapai 90% . (0852 500 29085)

    Posted by Heddy Santoso | 18 Desember 2008, 10:19 pm
  7. Jangan tangisi kesalahan tapi tersenyumlah karena setiap kesalahan mengajarkanmu agar berupaya lebih baik lagi.

    Posted by HOTNI RESKI | 11 Februari 2015, 3:02 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: