>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

Jauhi politik! Jadilah pengusaha!

10 Juli 2008

Saya pernah melakukan kampanye setahun penuh dengan tema: JAUHI POLITIK dengan subtema KERJA! KERJA! KERJA! Waktu itu, enam tahun lalu, saya ingin mengajak masyarakat agar tidak semua orang tersedot ke magnet politik yang memang lagi “hot” di negara kita.

Ada reformasi, ada kebebasan membentuk partai politik, ada pemilihan presiden langsung dan ada pilkada langsung. Waktu itu saya menangkap gejala terjadinya pembiusan politik kepada masyarakat luas.

Apalagi masyarakat Jawa Timur memang sangat politis. Tokoh-tokoh politik asal Jatim luar biasa dominannya. Akibatnya kedekatan mereka kepada rakyat Jatim juga kental. Buntutnya, daya sedot politik kepada rakyat luar biasa hebat.

Kampanye itu saya maksudkan agar orang ingat bahwa negara ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan politik. Semakin banyak politikus akan semakin ruwet. Semakin besar daya tarik masyarakat pada politik semakin seru pertengkaran politik. Bukan saja antar kekuatan politik, bahkan di internal kelompok-kelompok politik itu sendiri.

Mengapa sesekali perlu kampanye seperti itu?

Jawabnya: kita tidak boleh lupa bahwa salah satu syarat agar sebuah negara bisa maju adalah jumlah pengusahanya minimal harus 5% dari jumlah penduduknya. Sedang sebuah data menunjukkan bahwa jumlah pengusaha di Indoensia ini belum sampai 1% jumlah penduduk. Bahkan ada data yang menyebutkan baru 0,18%!

Orang seperti Ciputra atau Hermawana Kartajaya yang tidak jemu-jemunya membuat atmosfir enterpreuneur dan marketing di masyarakat bisa kalah gema dengan kampanye politik, kalau tidak ada yang menghambat wabah politik itu. Mengapa? Sebab, menjadikan seseorang jadi pengusaha atau menjadi orang marketing itu sulitnya bukan main. Perlu telaten, kerja sungguh-sungguh, jujur, konsisten dan merambat pelan.

Sedang untuk menjadi politikus: tidak perlu telaten, bahkan boleh hanya hit and run. Juga tidak perlu kerja sungguh-sungguh karena cukup modal mulut. Juga tidak perlu jujur. Bahkan kian pandai menipu kian baik. Tidak perlu konsisten. Bahkan loncat partai sana, loncat partai sini sah-sah saja. Juga tidak perlu konsisten: kapan-kapan koalisi dengan A, lain kali koalisi dengan B. Bahkan dalam satu koalisi pun suaranya bisa beda seperti dalam kasus angket BBM di DPR.

Jadi aktivis politik gampang. Jadi pengusaha atau orang marketing sulit. Karena itu saya sangat menghargai orang seperti Ciputra dan Hermawan Kartajaya yang di tengah-tengah hotnya isyu politik di Jatim saat menjelang Pilkada seperti ini, masih tetap gigih mengadakan berbagai perlawanan kepada arus politik.

Mungkin sudah waktunya lagi dikampanyekan besar-besaran JAUHI POLITIK disertai seruan KEMBALILAH BEKERJA. Terutama tahun-tahun terakhir ini daya pikat politik mengalami pasang naik lagi. Tragisnya, beberapa orang yang dulu sudah mulai tertarik jadi pengusaha dan sudah mulai menampakkan hasilnya kembali mengalami kemunduran. Gara-garanya: merasa sudah berduit, lalu terjun ke politik dan kehilanganlah IMAN wiraswastaannya.

Ingat! Kita perlu 5% penduduk yang mau jadi pengusaha.

About Administrator

Administrator : DahlanIskan.Wordpress.Com, TheDahlanIskanWay.Wordpress.Com Contact : Twitter : @PramudyaPU | Email : PramudyaPutraUtama@Gmail.Com | Blog : PramudyaPutraUtama.Wordpress.Com

Diskusi

9 thoughts on “Jauhi politik! Jadilah pengusaha!

  1. Bonus di sore hari…

    Posted by yuni | 29 Oktober 2013, 3:29 pm
  2. Mantaps. …..

    Posted by msodikvip | 29 Oktober 2013, 3:49 pm
  3. Setuju sekali

    Posted by fath | 29 Oktober 2013, 3:54 pm
  4. Sistim pendidikan kita sekarang ini tidak memotivasi utk jadi Pengusaha. Lebih berat kearah Penguasa, menguasai jabatan, menguasai asset dst. Dibutuhkan orang yg berani melakukan Terobosan2. Lihat saja blusukannya Jokowi ternyata efektif. Dan pak Dahlan Iskan. Hayo Pak Dahlan Pemuda2 kita digembleng m’jadi Pengusaha. Bravo Dahlan, bravo Jokowi, bravo Ahok.
    Powered by Telkomsel BlackBerry®

    Posted by sofyan253 | 29 Oktober 2013, 4:01 pm
  5. wehhh ini tulisan pak dahlan tahun 2008?

    Posted by shayun | 29 Oktober 2013, 4:25 pm
  6. sementara ini belum menjadi pengusaha, baru menjadi buruh di sebuah perusahaan bubur. tapi suatu saat ada rencana untuk menjadi enterpreneur…belajar dulu, mengumpulkan modal dulu.

    Pak Dis memang selalu inovatif, berbeda dan fresh…salut buat beliau.

    Posted by kaka | 29 Oktober 2013, 9:25 pm
  7. Sampeyan juga mestinya tau, bahwa untuk menjadi pengusaha suksesseses…, harus dekat dengan kekuasaan politik. Saya kira yang perlu di kampanyekan adalah memusuhi dengan segala cara penegak hukum yang sontoloyo!!!!. Trims…, semoga sukses!

    Posted by Rudy M. Saragi | 3 November 2013, 6:15 pm
  8. tahun depan mulai januari 2014 tarif Kereta Ekonomi jarak jauh kembali pada tarif Normal, ternyata subsidi hanya berlaku 4 bulan saja (dari September 2013-Desember 2013). Apakah ini INKONSISTENSI subsidi negara pada rakyatnya? apakah subsidi sudah tersedot luar biasa di BBM, termasuk akibat kebijakan “MOBIL MURAH”?

    Posted by Antena Tv Bagus Wajanbolic | 4 November 2013, 6:47 pm
  9. Jangan memikirkan pendapat orang lain tetapi pikirkan pendapatan kita.

    Posted by FRIDO EVRIN S | 10 Februari 2015, 7:47 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: