>>
Anda sedang membaca ...
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup)

September 26, 2007
Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup)

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (32-Habis)

Oleh:
Dahlan Iskan
iskan@jawapos.co.id

ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan!

Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates, teman di Batam yang lahir di Padang itu, saya jadi merasa bersalah. Ternyata, saya kurang pandai menjelaskan bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras, tapi karena saya terkena virus hepatitis B. Memang, setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian kanker, sebaiknya tidak kerja keras lagi. Tapi, itu bukan berarti akan menyembuhkan sakitnya, melainkan memperlambat saja perkembangannya.

Tentu memperlambat juga amat baik. Hanya, saya tidak memilih itu karena saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat, daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke teman-teman dengan istilah: intensifikasi umur.

Tentu kalau masih ada pilihan lain, saya akan memilih yang terbaik. Misalnya, ya berumur panjang, ya bermanfaat.

Tentu, saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini banyak orang takut bekerja keras. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih.

Kalau saya akan dijadikan contoh jelek, jangan dikaitkan dengan kerja keras, melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. Misalnya, jangan sampai terkena virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan!

***

Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok hebat. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya.

Kepada para dokter itu, saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat. Belajar manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. Manajemen dan pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita, secara umum, lebih baik. Terutama yang swasta. Memang, belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang lebih modern, tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura, bahkan di Malaysia sekalipun. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap itu. Ini karena, meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern, carry over problems masih terbawa. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja berubah.

Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya menilai belum. Tapi, petugas menilai “sudah amat bersih”. Saya bisa memahami itu karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya sekalipun.

Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar belakang ekonominya. Biasanya, saya hanya memberikan contoh dengan cara mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. Lama-lama standar kebersihannya berubah. Tapi, memang perlu waktu dan kesabaran.

Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan semangat untuk majunya. Karena mereka sangat unggul di situ, saya yakin tidak lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura, lebih cepat daripada waktu yang kita perlukan.

Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya rumah sakit swasta. Sampai sekarang, semua rumah sakit masih milik pemerintah. Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada dokter praktik di sana. Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit.

***

Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya, itu sudah meliputi semua pengeluaran. Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran saya. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang.

Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun, saya akan jual kalau harus melakukan transplantasi ini. Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu sakit: Menjual apa pun, termasuk alat-alat tukang kayunya, dan satu-satunya. Kalau waktu itu tidak menjual rumah, itu karena tidak akan ada orang yang mau membeli rumah lantai tanah di pelosok desa.

Dari seluruh pengeluaran, yang terbanyak adalah untuk pendukungnya. Misalnya, transportasi lokal, akomodasi, dan konsumsi saya sekeluarga, wira-wiri saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok, dan sebagainya. Biaya itu juga sudah termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005.

Jadi, biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan. Misalnya, membatasi keluarga yang harus wira-wiri. Di Tiongkok juga jangan tinggal di hotel, tapi cari apartemen murah saja. Itu pun sewa saja. Misalnya, sewa enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan).

Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya. Naik kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). Makan dengan masak sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. Satu orang dan yang lain tidak akan sama. Kalau semua biaya itu ditotal, untuk kasus saya ini, biaya operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya.

***

Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. Tapi, juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. Imunisasi yang sekali suntik Rp 70.000 memang mahal. Tapi, apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini?

Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal.

Kebetulan, saya tidak gagal. Dan lagi, saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. Atau sekadar hobi. Mainannya ya kerja keras itu. Seperti Pak Moh. Barmen, tokoh olahraga di Surabaya. Mainannya ya mengurus sepak bola itu.

Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia -dan kekayaan hanya datang membuntutinya.

***

Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru, tapi juga dengan tanda baru di kulit perut saya. Yakni, tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz), bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. Boleh juga dibilang sayatan dari satu titik di tengah ke tiga arah. Tapi, simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak sempurna. Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun. Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Jelek wujudnya, tetap mahal citranya.

Kini saya punya dua Mercy. Yang satu, yang di rumah, adalah Mercy seri 500 keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar. Satunya lagi “Mercy” di kulit perut saya. Jelek, tidak tahu seri berapa, tapi kira-kira sama harganya. (TAMAT)

Tulisan bersambung Pengalaman Pribadi Dahlan Iskan Ganti Liver berakhir hari ini pada seri ke-32. Mulai besok disambung dengan Hati Baru Menjawab. Dahlan Iskan akan menjawab e-mail dan SMS dari pembaca.

Iklan

Diskusi

12 thoughts on “Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup)

  1. PAK DAHLAN, tolong alamat lengakap rumah sakit di tianjin dengan nama dokter yang menangani anda pak. Kalo bisa sekalian dengan tempat anda melakukakn transpalasi dengan nama dokternya, estimasi biaya sekitar berapa ya???

    Thanks
    ————————————–
    pramudyaputrautama : Dear Pak Herson Wijaya, mungkin untuk lebih tepatnya bapak mencoba hubungi Bapak Dahlan Iskan via email : iskan@jawapos.co.id semoga dapat membantu

    Posted by Herson wijaya | 1 Oktober 2008, 7:38 pm
  2. Rabu, 11/08/2010 11:02 WIB
    Laporan dari China : Dahlan Iskan Ultah ke-24

    Tianjin – Meski sudah memiliki lima orang cucu, Direktur Utama PT PLN (Persero) Dahlan Iskan ternyata mengaku baru merayakan ulang tahunnya ke-24 pada 6 Agustus lalu. Bukan sok muda, namun Dahlan memang punya dua hari lahir setelah operasi cangkok hati.

    Menurut penuturan istri Dahlan, Nafsiah, sejak melakukan Operasi cangkok hati pada tahun 2007 silam, dalam setahun Dahlan memang selalu memperingati dua kali hari ulang tahun.

    Dahlan akan merayakan ulang tahun ke 59 tahun pada 17 Agustus mendatang. Sementara hari sakral kedua yaitu 6 Agustus lalu karena tepat pada hari itu, tiga tahun yang lalu, Dahlan melakukan transparasi hati di sebuah rumah sakit di China. Hati ‘baru’nya itu berasal dari donor seorang pemuda yang saat itu berusia 21 tahun.

    “Jadi beberapa hari lalu, Suami saya baru saja merayakan ulang tahun ke 24,” kata Nafsiah saat berbincang detikFinance, di Tianjin, China, Rabu (11/8/2010).

    Dua tahun berjuang bersama melawan kanker hati yang diderita suaminya, Nafsiah merasa bersyukur melihat kondisi Dahlan saat ini. Meskipun begitu, dirinya kerap kali merasa khawatir melihat Dahlan yang ‘super sibuk’ menjadi Direktur Utama PLN pada 23 Desember 2009 lalu.

    Apalagi profesi barunya tersebut juga telah membuat Entrepreneur of the Year versi Ernst & Young tahun 2001 itu tidak sempat mengecek kesehatannya ke dokter langganannya di Tianjin, China. Padahal pasca transplantasi hati beberapa tahun silam, Dahlan harus secara rutin berobat.

    Hal ini tentu saja membuatnya selalu was-was, apalagi transplantasi hati tersebut telah membuat Dahlan harus menelan obat ‘hati’ setiap pukul 5 pagi dan 5 sore setiap harinya.

    “Sekarang Abah semakin sibuk. Sering kali bekerja sampai larut malam. Jadi saya harus lebih rewel mengingatkan Abah,” ungkapnya.

    Untuk itu, dalam kunjungannya ke China pekan ini, Dahlan memang khusus akan melakukan cek up kesehatan di sebuah rumah sakit di China. Selain berobat, Dahlan akan bertemu dengan sejumlah pimpinan perusahaan listrik asal China seperti Guo Dien Power Group, Hwa Dien Power Group, Gezhouba Power Group dan Shanghai Electric Power.

    “Tapi biaya perjalanan saya ini tidak menggunakan uang PLN lho, namun pakai uang saya pribadi,” tambah Dahlan sambil tertawa.

    (epi/qom)

    source : http://www.detikfinance.com/read/2010/08/11/110257/1417955/68/dahlan-iskan-ultah-ke-24

    Posted by pramudyaputrautama | 29 September 2010, 2:32 pm
  3. aslm. mungkin disini tempat yang paling simple untuk bicara dengan pejabat.hehe;becanda pak..;begini pak;kami sudah mentok mencari pihak yang mau membiayai rencana kami untuk membangun pembangkit listrik tenaga air didaerah yang belum terjangkau jaringan PLN. survey sudah kami lakukan (power mampu untuk 175 kwh)’;pihak pemda sudah merestui’pihak PLN sudah setuju akan membeli daya; tinggal sekarang kami kesulitan menemukan pihak investornya pak. pada keseimpatan ini kami hohon arahan bapak;kemana proyek ini akan kami arahkan;dan berkenenlah kirana memberi kami alama investor tersebut yang ada di indonesia’untuk dapat kami kirimkan proposal hasil survey dll. atas bantuan bapak ;kami ucapkan terimakasihasemoga bapak sehat walafiat selalu’ aamiin walm; rizal

    Posted by rizal ; edy ; no. hp 0812110920396 | 13 Agustus 2011, 2:08 pm
  4. Amazing Pak Dahlan… Inspiratif banget…. Banyak sekali manfaat dan hikmahnya…
    Wonderfull!!!

    Posted by niken yuniarti | 6 April 2012, 11:25 pm
  5. Yach, orang seperti saya hanya bisa memahami ini semua, namun usahanya bagaimana ….
    Namun demikian aku ingin …

    Posted by kertarajasa59 | 11 Agustus 2012, 4:38 am
  6. Pak Dahlan, bolehkah saya tahu cara anda menjalani hidup sehingga bisa sukses seperti ini.

    Posted by Muksin D'boy Kongsou Tao | 22 Januari 2013, 11:31 pm
  7. pak dahlan, kayaknya cocok jadi dirut PLN lagi deh

    Posted by ime | 14 Mei 2013, 6:45 pm
  8. Saya bangga ada pekerja keras, negawaran hebat, pengusaha sukses dan lebih bangganya lagi kita sama-sama besar di Surabaya pak 🙂

    Liver baru itu bagai meberikan semanagt baru yang tak kunjung padam!

    Posted by hipnotis surabaya | 10 September 2013, 8:40 pm
  9. Semangat..!

    Posted by Sakinul Wadi | 14 Oktober 2013, 9:58 am
  10. Dahlan, saya mau menanyakan tentang hasil operasi lever uuga, entah situs ini masih berlaku tidak sampai saat ini 2014, tp sbelumnya saya mengucapkan terimakasih. Awalnya saya akan bercerita singkat, orangtua saya baru saja menjalanin operasi lever dengan dipotong bagian yg ada tumornya dan 1 bagian dibakar, karena posisinya ada di2 tempat dan tdk memungkinkan keduanya diambil. Operasi dilakukan dikota malaka malaysia. Operasi ini kami ambil juga dgn pertimbangan biaya , yang awalnya dilakukan dgn sistem tace, tp tdk berhasil krn pembuluh nadinya tdk bisa dilewatkan alat kecil yg dimaaukkan lewat lubang perut. Lalu keesok harinya diambil tindakan dgn operasi pemotongan dan pembakaran tersebut. 1 minggu lebih perawatan dirumah sakit tersebut setelah pasca operasi. Dan akhirnya bisa kembali kejakarts.1 hari perjalanan kembali, karena dr malaka kekualalumpur dgn bus 3jam. Dan dr kualalumour kejkt dgn pesawat. Sore sampai jkt. Dan malam sampai rumah dan beristirahat. Malamnya lubangbekas pipa operasi trsebut mengeluarkan cairan warna merah agak bening, yg saya baca dikisah bapak ini mungkin yg sisa darah operasi. Dan sapai pagi dan sordnya cairan tersebut terus keluar ada sudah sekitar setengah liter. Saat siangnya kita ada bawa ke ugd rmh sakit dijkt ini. Tp dokter bedah disana tdk mau ambilntindakan apa2. Dia minta disuru bawa kemalaka saja. Pdahal sudah ditunjukkan surat rujukan rekomendasi dr dokter dimalaka unt dibantu dokter dijkt sini jika ada apa2. Tp dokter diugd swasta dsini tetap tdk mau. Dan cuma dibersihkan bekas lukanya dan ditempel dgn plastik penampung cairan. Dan kita diminta membayar biayany hampir 800ribu. Kemudian kami mencoba mengirim email, krn melalui tlp kemalaka susah dihubungkan dgn jadwal dokternya., dgn via email dijawab wajar sampai 3 minggu keluar cairan tersebut. Tp drbacaan bapak, yg menceritakan mengenai cairan yg membuang sisa apapun yg ada didalam perut bisa berakibat fatal jika berlebih. Pak dahlan jika diperbolehkan saya diberi saran bagaimana tindakan terhadap lubang ini dan cairan yg terus keluar ini. Sampai hari ini berarti sudah 40 jam dr cairan tersebut keluar ada sekitar hampir 1 liter. Terimakasih.

    Posted by cecil | 29 April 2014, 11:59 pm
  11. Pak Dahlan, saya mau menanyakan tentang hasil operasi lever juga, entah situs ini masih berlaku tidak sampai saat ini 2014, tp sbelumnya saya mengucapkan terimakasih. Awalnya saya akan bercerita singkat, orangtua saya baru saja menjalanin operasi lever dengan dipotong bagian yg ada tumornya dan 1 bagian dibakar, karena posisinya ada di2 tempat dan tdk memungkinkan keduanya diambil. Operasi dilakukan dikota malaka malaysia. Operasi ini kami ambil juga dgn pertimbangan biaya , yang awalnya dilakukan dgn sistem tace, tp tdk berhasil krn pembuluh nadinya tdk bisa dilewatkan alat kecil yg dimaaukkan lewat lubang perut. Lalu keesok harinya diambil tindakan dgn operasi pemotongan dan pembakaran tersebut. 1 minggu lebih perawatan dirumah sakit tersebut setelah pasca operasi. Dan akhirnya bisa kembali kejakarts.1 hari perjalanan kembali, karena dr malaka kekualalumpur dgn bus 3jam. Dan dr kualalumour kejkt dgn pesawat. Sore sampai jkt. Dan malam sampai rumah dan beristirahat. Malamnya lubangbekas pipa operasi trsebut mengeluarkan cairan warna merah agak bening, yg saya baca dikisah bapak ini mungkin yg sisa darah operasi. Dan sapai pagi dan sordnya cairan tersebut terus keluar ada sudah sekitar setengah liter. Saat siangnya kita ada bawa ke ugd rmh sakit dijkt ini. Tp dokter bedah disana tdk mau ambilntindakan apa2. Dia minta disuru bawa kemalaka saja. Pdahal sudah ditunjukkan surat rujukan rekomendasi dr dokter dimalaka unt dibantu dokter dijkt sini jika ada apa2. Tp dokter diugd swasta dsini tetap tdk mau. Dan cuma dibersihkan bekas lukanya dan ditempel dgn plastik penampung cairan. Dan kita diminta membayar biayany hampir 800ribu. Kemudian kami mencoba mengirim email, krn melalui tlp kemalaka susah dihubungkan dgn jadwal dokternya., dgn via email dijawab wajar sampai 3 minggu keluar cairan tersebut. Tp drbacaan bapak, yg menceritakan mengenai cairan yg membuang sisa apapun yg ada didalam perut bisa berakibat fatal jika berlebih. Pak dahlan jika diperbolehkan saya diberi saran bagaimana tindakan terhadap lubang ini dan cairan yg terus keluar ini. Sampai hari ini berarti sudah 40 jam dr cairan tersebut keluar ada sekitar hampir 1 liter. Terimakasih.

    Posted by cecil | 30 April 2014, 12:07 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya Setelah Menjalani Transplantasi Liver | Dahlan-Iskan.com - 13 Januari 2012

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: