>>
Anda sedang membaca ...
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Banyak Faktor Keberhasilan, tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat

September 24, 2007
Banyak Faktor Keberhasilan, tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (30)

Oleh:
Dahlan Iskan
iskan@jawapos.co.id

MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya?

Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. Mau yang religius atau yang ilmiah. Kalau mau pendek dan tampak religius, jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. Selesai. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. Mereka mengatakan semua ini karena Allah. Hanya satu-dua yang mengatakan, “Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya.”


Tapi, kalau jawabnya itu, saya tidak perlu lagi menulis. Tapi, saya ingin menulis. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan semangat karena tidak dipuji sama sekali. Saya ingin memujinya.

Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin mengundang makan malam seorang suci. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. Waktu mau makan, sang suami meminta sang suci membacakan doa. “Terima kasih, Tuhan, Engkau telah menyediakan makanan yang lezat-lezat ini.” Ucap sang suci mengakhiri doanya. Selama makan sang istri merengut saja. Setelah sang suci pulang, si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan makanan ini?

Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu.

Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya kunci sukses. Saya mencoba merincinya sebagai berikut:

  1. Keahlian dan pengalaman dokternya.
  2. Kecanggihan peralatannya.
  3. Kemajuan obat-obatannya.
  4. Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya.
  5. Keberadaan donor yang sangat prima.
  6. Kondisi badan saya yang masih baik.

Faktor mana yang terpenting, rasanya sulit menentukan. Tapi, kalau ada waktu membahasnya lebih dalam, pasti juga akan diketahui ranking-nya.

Soal keahlian dokter, di Indonesia pun tidak akan kalah. Saya pernah menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele. Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura. Tapi, kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. Baik karena langkanya donor maupun minimnya peralatan. Bagaimana bisa punya pengalaman transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa mendonorkan organnya?

Mengenai kecanggihan peralatan, rumah sakit ini tergolong yang terbaik di dunia. Bahkan, ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS, Korea, Jepang, dan di rumah sakit ini. Saya tidak diberi tahu alat yang mana. Tersedianya peralatan yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan keinginan pemimpinnya. Untuk Indonesia, dua-duanya belum bisa banyak dinanti. Begitulah nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain.

Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan obat baru bukan main cepatnya. Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti sekarang, mungkin juga banyak halangannya. Untuk kegagalan transplantasi liver karena rejection, sekarang jumlahnya hampir nol. Obat sinkronisasi liver baru dengan organ lain sudah amat sempurna.

Bahkan, obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat minim. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah. Sebab, obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek samping di dua sektor itu. Kebetulan, saya tidak memiliki bakat darah tinggi maupun gula darah.

Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya komplikasi juga akan menyulitkan. Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU. Tapi mulai lemas di hari-hari berikutnya. Ini karena jantungnya memburuk.

Itulah sebabnya, saya membuat keputusan justru harus melakukan transplantasi ketika saya masih sehat. Maksud saya ketika organ-organ lain saya masih baik. Kalau saja terlambat mengambil keputusan, akan lain hasilnya.

Mendapatkan donor yang prima pun, antara lain, juga ditentukan oleh kondisi pasien. Misalnya, kalau saja saya tidak sabar menunggu. Mungkin akan mendapat juga donor, tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan saya sekarang. Atau, kalau saya sabar, tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama, tentunya donor seperti apa pun akan diterima. Toh semua donor sudah diperiksa kualitasnya. Bahwa ada kualitas I atau II, itu tentu ada kelas-kelasnya.

Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan berhasil, antara lain, saya sudah menghitung semua faktor di atas. Tentu, semua itu tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. Hanya saya dan tim saya yang tahu.

Teman-teman, juga para pemegang saham, mungkin banyak yang pesimistis. Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah darah, sudah bengkak, dan wajah sudah menghitam. Mereka juga melihat tanda-tanda nonfisik yang saya lakukan. Misalnya, saya tiba-tiba mengundang teman-teman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi. Kadang saya sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak salah. Tapi kalau sudah telanjur marah, masak bisa diralat? Yah, saya sering juga kemudian minta maaf, tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka.

Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum), saya berikan uang. Ada yang cuma Rp 5 juta, ada yang sampai Rp 100 juta. Tergantung perasaan saya seberapa saya merasa bersalah. Rupanya, bagi-bagi uang ini terdengar juga oleh pensiunan karyawan yang lain. Lantas, dia menghubungi saya lewat SMS: saya menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. “Boleh nggak sekarang saja dimarahi. Asal kemudian ikut diundang,” katanya.

Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz (orang yang hafal Quran). Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga bulan sekali di rumah saya.

“Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah?” komentar seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya. Apalagi saya juga menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali.

Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. “Apakah yang Anda lakukan ini ada hubungannya dengan sakit Anda?” tanya seorang pemegang saham.

Sambil menunggu saatnya transplantasi pun, buku yang saya baca adalah buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi liver. Sampai-sampai tim saya bilang, “Mbok jangan baca buku yang begituan.” Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyarat-isyarat bahwa saya akan gagal dan meninggal.

Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. Terutama: mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin.

Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan terlambat ambil keputusan transplantasi. Ini menambah kuat tekad saya untuk melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat.

Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. Transplantasi pertama dilakukan di Beijing. Berhasil. Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai acara, termasuk talk show dan jumpa fans di kota-kota yang jauh. Padahal, dia melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. Kankernya sudah telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain.

Akhirnya, dia harus transplantasi lagi di kota ini. Juga berhasil. Tapi, kanker sudah lebih menyebar lagi. Akhirnya meninggal dunia.

Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu. Karena itu, sepulang dari Tiongkok nanti, saya akan mampir dulu di Singapura beberapa hari. Kebetulan, istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek Group, Madame Ho Ching, juga minta agar saya menjalani review di negaranya. Itu bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. Singapura memang punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. Bahkan, untuk transplantasi “separo hati”, Singapura sudah amat berpengalaman. “Saya yang akan atur,” tulis Madame Ho Ching dalam email-nya kepada saya. (Bersambung)

Iklan

Diskusi

2 thoughts on “Banyak Faktor Keberhasilan, tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat

  1. Hi, yup this paragraph is truly fastidious and I have learned lot of
    things from it on the topic of blogging. thanks.

    Posted by Allied College | 21 Juli 2014, 2:48 pm
  2. Ternyata trasplasi hati merupakan perjalanan yang panjang ya. Terima kasih sudah menginspirasi pak Dahlan..

    Posted by Irman | 13 April 2016, 8:32 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: