>>
Anda sedang membaca ...
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya

September 19, 2007
Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya

Pengalaman Pribadi menjalani Transplantasi Liver (25)

Oleh:
Dahlan Iskan
iskan@jawapos.co.id

“SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,” kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah saya.

Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam.

Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu.

Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa “wajah hitam” Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja.

Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker.

Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan.

Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuning-kuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan.

Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain -misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus.

Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun, bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya.

Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu a’lam.

Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis.

Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas?

Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun.

Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian.

Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat?

Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum.

Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran.

Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terus-menerus dikampanyekan.

Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba “abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?”. Kita pernah mengalami berturut-turut, “zaman batu”, “zaman besi”, “zaman cocok tanam”, “zaman industri”, “zaman teknologi”, dan “zaman informasi”. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah “zaman biologi”.

Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar.

Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terus-menerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran.

Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan.

Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. “Akan” di situ tidak lama lagi. Kata “akan” mungkin kurang tepat. Yang tepat “segera”.

Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya.

Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu.

Cerita itu sama melekatnya dengan istilah “memanjatkan doa” yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e-mail, dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik “memanjat”. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai.

Tentu kata “memanjat” hanya simboliasi atau penyastraan. Dan lagi, Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan, yang di-e-mail-kan, atau yang di-compress-kan seperti yang dilakukan golongan tasawuf Shatariyah. Tapi, penggunaan term “panjat” juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. Pak Nuh, mantan rektor ITS yang kini menteri informasi, bisa malu. (Bersambung)

Iklan

Diskusi

12 thoughts on “Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya

  1. Bismillahirrahmanirrahim,

    Penjelasan ilmiah Pak Iskan kepada istri tercinta, tentang wajah hitam yang dialamai Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang.

    Dalam memaknai sebuah firasat serangkaian peristiwa setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda. Pengalaman mengenai tindakan manusia berbeda yang menyangkut fenomena alam dalam hal bahwa ia membutuhkan dan mem-prasuposisi-kan pengetahuan praksiologis. Inilah sebabnya mengapa metode sains tidak cocok untuk kajian praksiologi, ekonomi, dsb. Sebab firasat bukanlah sebuah obyektifitas. Firasat adalah sebuah subyektifitas yang akan sangat sulit dipahami oleh logika.

    Sains, ilmiah atau pengetahuan manusia didominasi oleh aliran positivisme, sebuah aliran yang sangat menuhankan metode ilmiah dengan menempatkan asumsi-asumsi. Menurut sains mempunyai reputasi tinggi untuk menentukan aksioma, sains kadang didewakan dalam beragam tindakan (sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain). Menurut sains pula, bahwa kebenaran adalah sesuatu yang empiris, logis, konsisten, dan dapat diverifikasi. Sains menempatkan kebenaran pada sesuatu yang bisa terjangkau oleh indra (lahiriah). Dan dalam sains harus mempunyai ukuran.

    Dari sisi sains, firasat tidak memperoleh posisinya. Sebab sains dibatasi hanya di wilayah yang rasional, sementara manusia memiliki hanyak hal yang secara rasional belum dapat dijelaskan? Lalu apakah itu kemudian dianggap tidak ada? Sains menepis pandangan-pandangan yang dianggap kebetulan, padahal seperti di dunia ini tidak ada yang sifatnya kebetulan. Dapatkan sains mengukur cinta? Melalui sains dapatkah menjelaskan firasat yang kadang dikatakan tidak nalar bisa terjadi?

    Manusia yang mempunyai the soul dengan berkata jujur: “Hidupku hampa walau bergelimang harta dan kebahagiaan, aku kehilangan makna, apa arti hidupku ini?”. Untuk menjawab dengan Sains tentu tidak mungkin.

    Bagaimana menurut sang khatib dalam memaknai sesuai agama yang difahaminya bahwa wajah hitam Cak Nur sebagai tanda Tuhan tidak mau menerima rohnya, menurut Pak Iskan mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain-misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus.

    Melalui perangkat hati seseorang yang tunduk pada cahaya syariat seseorang dapat mengungkap rahasia-rahasia Ilmu Allah, yang dapat ia buktikan melalui kesaksiannya pada fenomena alam. Dan keadaan ini akan membawanya kepada keyakinan yang lebih jauh terhadap kebenaran agama. Sesuai kemampuan dalam mengambil hikmah, setiap orang akan berbeda pula dalam mensikapinya.

    Seperti yang dialami oleh cak Nur ketika wajahnya berubah hitam, dan banyak orang yang mengkaitkan kematian dengan keridhoan Tuhan. Disinilah perlunya kemampuan seseorang dalam memaknai fenomena atau kejadian alam yang terjadi.

    Dalam mengkaitan warna hitam seperti pada umumnya bangsa dunia, yang mengkaitkan warna hitam dengan upacara kematian seseorang. Sebab menurut mereka pemaknaan warna hitam adalah kesan misterius. Dalam duni perfilman untuk menggambarkan fiksi sosok hantu, penyihir, dan mahkluk jadi-jadian sering dibentuk dengan kostum dan atribut yang serba hitam.

    Dalam ajaran Nuhammad Rasulullah, warna hitam yang diberikan Allah SWT pada beberapa jenis binatang agar disingkirkan, sebab bermakna fasik. Coba kita simak sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam ‘Kitabu Abwab al-Ihshar wa Jaza-u ash-Shayd’, hadits nomor 1731. Hadits tersebut menyatakan sebagai berikut : Lima macam hewan yang jika membunuhnya tidak ada masalah: Burung gagak [Ghurab], Burung Rajawali [Had’ah], Tikus [Al-Fa’ratu], Kalajengking [ular/’Aqrabu], dan Anjing yang menggigit [rabies/Aqoor].

    Riwayat dari Imam Muslim, terjemahan bebas riwayat tersebut begini : “Rasul telah memerintahkan kepada kita untuk membunuh anjing. Sampai [ketika] datanglah seorang wanita badui dengan membawa anjingnya, lalu ingin membunuhnya, begitu dia mengetahui [mendengar] adanya perintah Rasul sebelumnya. Tapi, Rasul melarang dan bersabda: [diperintah] atas kalian [hanya] membunuh anjing hitam yang memiliki dua bintik di matanya, sebab itu syetan.”

    Allah telah menggambarkan makna hitam sebagai kemurungan:
    • Surat Ali ‘Imran: 106 “Pada hari yang di waktu itu ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada pula wajah yang hitam muram.”
    • Surat An Nahl: 58;59 artinya: “Dan tatkala seseorang dari mereka diberi kabar gembira dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya dan dia sangat marah; Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”

    Lalu apa makna wajah hitam yang dialami oleh cak Nur, firasat apa gerangan. Untuk kita dapat membaca fenomena alam yang kejadiannya tidak luput dari pengamatan dan bahkan campur tangan Allah SWT tidak akan lepas pada setiap kejadian sekecil apapun di dunia ini. Mudah-mudahan kita dapat mengkajinya.

    Posted by sumi | 18 Juli 2008, 9:30 am
    • science-nya, cukuplah cak nur semasa hidupnya bersalah karena menistakan agama Islam (buktinya banyak), setelah hidup itu urusan beliau dengan Alloh SWT Yang Maha Adil…..tidak usah pusing2 kalo muka beliau hitam ketika meninggal artinya di murka Alloh SWT, khotib itu tau dari mana Alloh SWT murka? di kirimin SMS dari langit? baca lagi sambil nunggu Ashar tiba hehehe….

      Posted by jakasembung | 16 Oktober 2012, 2:31 pm
  2. mas pak bu….. memang semakin tinggi pengatahuan semakin banyak orang tak tahu tentang rahasia alam…….nich percaya tidak …saya punya resep untuk sirosis hati ..kangker hati……tinggal minum 6 bulan insya allah anda bisa tertunda kematianya dan wajah hitam…..hubungi kami….081235491929……..gak perlu pakai tranplantasi milyarran………semua udah ada dijawa oleh allah…………yang sempat baca komen ini……berarti anda disayang tuhan amin…..amin

    Posted by EDHANG... EDHONG | 8 September 2012, 9:22 am
  3. Pak DIS quote:
    “Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terus-menerus dikampanyekan.”

    Ayo kampanyekan kebenaran terus-menerus!

    Posted by ARI S. | 8 September 2012, 10:10 pm
  4. Pak DIS bukan dewa yang harus disembah, apalagi nabi atau rasul yang membawa risalah. Tetapi pemikiran dan perjalanan hidup beliau bisa menjadi cermin bagi siapa saja untuk memahami hidup dengan kearifannya masing-masing, dari sosok DIS yang tidak sempurna dan tidak akan pernah sempurna. Senang bisa mampir di blog luar biasa ini.

    Posted by zerosugar | 13 Desember 2012, 11:09 pm
  5. Kejadian adalah takdir campur tangan tuhan banyak rahasia dan hikmah bagi masing-masing makhluk.

    Posted by Ary Nano | 17 Januari 2013, 12:10 pm
  6. MEMANG KEBENARAN MUTLAK HANYA PADA ALLOH, MANUSIA HANYA BISA MENCOBA UNTUK MEMAHAMINYA, HANYA SEBATAS PENGETAHUANNYA. MUNGKIN BISA KITA ANALOGIKAN SEPERTI INI, KITA INGIN MENGETAHUI DAN PAHAM AKAN KOTA JAKARTA, KITA YANG BELUM PERNAH KESANA HANYA AKAN BISA MEMBAYANGKAN BAGAIMANA KOTA JAKARTA MMUNGKIN RAMAI, MUNGKIN MACET MUNGKIN BANYAK GEDUNG BERTINGKAT DAN LAIN SEBAGAINYA. MUNGKIN KITA HANYA MENDENGAR DARI CERITA TEMAN YANG KEBETULAN SEORANG KHOTIB. SEMASKIN BANYAK DIA MENGUMPULKAN INFORMASI SEMAKIN YAKINLAH DIA AKAN KOTA JAKARTA. MUNGKIN ORANG YANG SUDAH PERNAH KE JAKARTA HANYA TERSENYUM MENDENGAR CERITA ORANG TETANG JAKARTA PADAHAL ORANG TERSEBUT BELUM PERNAH KE JAKARTA.

    JANGANLAH KITA MEMVONIS SESORANG ITU BAIK ATAU JELEK, … KARENA KEBENARAN MUTLAK HANYA MILIK ALLOH.

    Posted by jatmiko | 19 Maret 2013, 10:04 am
  7. semua penyakit kan di respon oleh tubuh tidak terkecuali penderita liver…itu pun sama bahwa kesehatan rohani akan juga di respon oleh tubuh karena dia adalah tempat bersemanyamnya nikmat dan laknat, maka bila ada yang berdeda dari yang telah di gambaran atau di jelaskan oleh Rasulullah sebagai utusan Alloh SWT…manusia, kita hanya bisa menyakininya bahwa apa yang telah terjadi semua kehendak Alloh…..mantap tulisan yang menggairahkan otak, Hati, dan pemahamah akan sebuah kehidupan untuk beribadah kepada Alloh SWT….

    Posted by solihin | 2 April 2014, 8:59 am
  8. Be a young who love parents and fears God

    Posted by DEDET AFRIZON | 13 Desember 2014, 3:44 pm
  9. Pagi..sy dokter dan ketawa dengan penjelasan penulis..yg bilang karna sirosis membuat orang warna hitan..anda baca dari literatur mana? Jangan buat kesesatan dgn pengetahuan dangkal dan sok tau anda!!.kalo pembesaran payudara dan muntah darah itu emng benar tapi gak ada yg namae warna hitam.tanda2 cirosis biar anda ngerti : varises esophagica, edema anasarka(bengkak sluruh tubuh), hematemesis melena(muntah dan bab darah), gynaecomasti ( payudara membesar), spider navi, ikterus jaundice ( tubuh warna kuning)..nah bukane tubuh hitam tapi tubuh warna kuning coz terjadi ikterus yakni bahasa awam itu adalah zat bilirubin yg dihasilkan oleh hati menyebar ke seluruh tubuh soale terjadi keruskan hati..nah kalian seharuse pelajari and lihat apa yg dilakukan almarhum sebelum wafat..dia mengatakan tidak perlu jadi islam klo mau masuk surga..itu sangat bertentangan..seharuse klo kalian punya otak kalian bisa berfikir lebih jernih.

    Posted by riadi hendrianto, dr. | 12 April 2016, 5:59 am
  10. Alhamdulillah, dpt pencerahan. Saya jg bertanya2 kenapa adik saya wajahnya membiru/menghitam sesaat stlh wafat. Memang dy wafat krn kegagalan fungsi hati. Jadi penjelasannya sdh klop dg pertanyaan2 di hati saya. Mdh2an yg lain jg mendpt pencerahan dg penjelasan ini. Waktu meninggal wajah adik sy lgs membiru/menghitam smentara tubuh lainnya tetap bagus alias cerah. Saat jenazah diturunkan ke liang lahat, adik laki2 saya yg lain ikut mengangkatnya utk dibaringkan ke liang lahat, walaupun jenazah bertubuh ideal 168cm/63kg, tetapi ringan terasa saat diangkat oleh adik laki2 & kakak ipar saya. Moga adik saya khusnul khotimah, aamiin

    Posted by Ratna | 22 Oktober 2016, 9:52 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: