>>
Anda sedang membaca ...
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (10)

4 September 2007
Meski Keluar ICU, Jangan Anggap Sudah Merdeka

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (10)

Oleh:
Dahlan Iskan
iskan@jawapos.co.id

SEPANJANG sore sampai malam (hari kedua di ICU), perut saya mulai merasa kembung. Sangat tidak enak. Oh, rupanya saya belum bisa buang air besar. Juga belum bisa buang angin. Ini saya sadari setelah beberapa kali perawat menanyakan soal yang kelihatannya sepele itu. Makanya perut seperti penuh sekali. Penuhnya bukan hanya di perut, tapi seperti sampai dada. Sepanjang malam saya tidak bisa tidur.

Itu membuat pikiran saya lari ke mana-mana. Termasuk ke liver baru saya. Saya berkhayal sedang apakah dia? Lagi saling berkenalan dengan organ saya yang lain, atau lagi pasang kuda-kuda untuk saling bermusuhan? Apakah liver baru itu sedang tawar-menawar pekerjaan dengan organ lain? Apakah liver baru itu sedang mengajukan syarat-syarat kerja sama? Misalnya, hanya akan mau bekerja sama kalau tetap dibolehkan makan babi? Atau dia begitu baiknya sehingga akan ikut saja peran apa yang harus dia jalankan?

Yang tak kalah penting adalah perbedaan umur yang mencolok antara liver baru dan organ saya yang lain. Apakah tidak akan menimbulkan persoalan? Misalnya, terjadi generation gap yang tajam? Bukankah liver baru itu belum sampai berumur 25 tahun, apakah tidak akan mengajak balapan organ lain seperti jantung, paru, dan ginjal? Kalau organ-organ lain saya sudah berumur 56 tahun, apakah tidak akan terjadi konflik anak-bapak yang diakibatkan perbedaan zaman? Juga perbedaan gaya hidup? Apakah tidak akan terjadi adu balap? Apakah jantung tua saya kuat melayani balapan itu? Panjang sekali khayalan saya. Bukan khayalan yang ilmiah. Khayalan orang yang tidak bisa tidur saja.

Paginya, hari ketiga di ICU, barulah saya “rasa” itu muncul. Saya panggil perawat. Ternyata untuk urusan buang air besar ini ada perawat khusus. Dia perawat yang berbaju biru, yang sudah lebih tua umurnya. Dialah yang memasang tadah kotoran dan membersihkannya. Urusan buang hajat pun selesai. Setelah itu tiba-tiba saya merasa seperti ingin buang angin banyak-banyak. Maka suara bom pun bergelegaran. Semua dicatat oleh perawat. Pagi itu juga diputuskan saya boleh keluar dari ICU. Rupanya keluar atau tidak dari ICU, salah satu ukuran yang menentukan adalah ada atau tidaknya “rasa” tadi.

Kalau saja pagi itu saya belum punya “rasa”, akan dilakukan rekayasa. Perut saya akan dimasuki cairan lewat pantat. Untunglah saya tidak perlu melalui tahapan darurat itu. Mekanisme tubuh saya, dengan organ baru di dalamnya, berjalan dengan normal. Semua berjalan natural.

Satu jam kemudian persiapan mengeluarkan saya dari ICU dilakukan. Selang yang sudah 56 jam berada di lubang kemaluan saya dicabut. Agak sakit rasanya. Tapi, kan tetap harus dicabut? Sakit tapi lega. Lega tapi memang sakit. “Kencing pertama sampai ketiga nanti mungkin agak sakit,” kata perawat setelah berhasil mencabut selang itu.

Kata-kata itu terus melekat di ingatan saya. Sampai-sampai timbul rasa takut setiap merasa akan kencing. Tapi, sakitnya seperti apa kan belum dirasakan. Ya, saya harus merasakannya, karena saya toh harus kencing. Ternyata rasa sakitnya tidak seberat yang saya bayangkan. Atau barangkali karena saya sudah merasakan yang paling sakit, sehingga sakit-sakit kelas seperti itu sudah saya anggap bukan sakit lagi.

Lalu, selang yang masuk ke rongga perut melalui pinggang kanan juga dicabut. Rasanya juga sakit, tapi sakit yang menimbulkan kelegaan. Alat untuk mengukur tekanan darah juga dilepas. Kabel-kabel yang menempel di dada kanan dan dada kiri dicabut. Juga kabel-kabel yang dihubungkan ke ujung-ujung jari. Semuanya hilang sudah. Rasa plongnya bukan main. Apalagi, kalau saya ingat banyak pasien yang keluar ICU masih dengan selang yang menancap di leher. Saya pun sebenarnya sudah membayangkan akan keluar ICU dalam keadaan seperti itu. Tapi, ternyata tidak. Saya bersyukur.

Sekitar pukul 10.00 saya sudah dipindahkan dari ranjang ICU ke kereta angkut. Kereta ini dilengkapi sistem hidrolis. Ini untuk memudahkan memindah badan saya dari ranjang ICU. Tidak perlu ada orang yang mengangkat, yang bisa saja membuat badan saya berubah posisi dan menimbulkan bahaya bagi bekas-bekas operasi. Dari kereta itu secara otomatis menjulur sebuah papan besi menyekop ke bawah badan saya. Badan saya terbawa di atasnya. Kereta ini yang membawa saya turun ke lantai 11, ke kamar lama saya yang sudah dibuat bersih sebersih-bersihnya.

Dalam proses keluar dari ICU itulah saya baru tahu bahwa ruang ICU ini amat-amat panjangnya. Memang seluruh lantai 12 adalah ICU. Tiap pasien dapat satu kapling yang dibatasi dengan kaca terhadap pasien lain. Rumah sakit ini memang bisa melakukan transplantasi organ sebanyak 30 orang dalam waktu bersamaan. Berarti ruang ICU-nya memang harus banyak sekali.

Tiba di lantai 11, para perawat menyambut. Perawat yang sudah tiga bulan lebih saya kenali dengan baik. Kini saya diserahterimakan dari perawat ICU ke perawat ruang rawat inap. Mereka segera membuat lubang baru di lengan saya untuk keperluan infus-infus berikutnya. Tiap hari saya masih harus diinfus beberapa obat dan vitamin. Mula-mula tiga jam sehari. Lalu tinggal dua jam. Lalu satu jam. Lalu tidak perlu infus sama sekali.

Pasien lain yang belum operasi menyambut kepulangan saya dari ICU. Sebelah kamar saya, orang Jepang, melambaikan tangan. Dari kamar yang lain, orang Arab Saudi, mengucapkan salam. Pasien dari Taiwan mengucapkan selamat atas kesuksesan operasi saya. Saya sendiri sudah sering memberikan ucapan selamat seperti itu kepada pasien yang baru menjalani operasi sebelum saya.

***

“Meski sudah keluar ICU, jangan Anda anggap sudah merdeka,” ujar Robert Lai, teman saya itu. Dia lantas menakut-nakuti saya dengan kisah banyaknya pasien yang sukses dalam menjalani operasi, tapi gagal menjauhkan diri dari virus dan infeksi. Terutama di seminggu pertama keluar dari ICU.

Seorang kenalan dari Pakistan terkena infeksi setelah tiga hari keluar ICU. Terpaksa perutnya dibuka lagi. Diadakan perbaikan lagi di dalamnya. Contoh lainnya, ada pasien yang merasa kuat dan jalan sendiri ke kamar mandi. Dia terjatuh dan harus masuk ICU lagi.

Masih sederet contoh tragedi seperti itu. Termasuk yang nekat pulang meski baru satu bulan setelah operasi. Memang sudah diizinkan pulang. Tapi, harus balik lagi ke Tiongkok tiga bulan kemudian. Yakni, untuk mengambil “barang” yang masih dititipkan di dalam. Orang tersebut merasa sudah sangat normal. Lalu ke rumah sakit di negaranya sendiri untuk mengeluarkan “barang titipan sementara” itu. Sayangnya, proses tersebut tidak mulus. Dia terkena infeksi.

Setelah tidak bisa diatasi di negaranya, terpaksa balik lagi ke rumah sakit ini. Tapi, keadaannya sudah sangat payah. Berbagai usaha sudah disiapkan, termasuk akan dilakukan transplantasi liver lagi. Namun, dia harus menunggu kondisi badannya membaik dulu. Kondisi yang ditunggu itulah yang tidak datang. Akhirnya dia meninggal dunia di rumah sakit ini bulan lalu.

Saya mendengarkan baik-baik nasihat itu. Robert tahu saya sering maunya sendiri. Tapi, kali ini dia kecele. Saya sudah bertekad akan taat peraturan setaat-taatnya. Saya hanya minta kelonggaran dua saja. Pertama, boleh membuka, membaca, serta membalas dan mengirim email. Kedua, boleh mulai menulis cerita ini. Sebab, apa yang mau saya tulis ini semuanya sudah lengkap dan memenuhi kepala saya.

Apa saja yang akan saya tulis, berapa seri tulisan itu nanti, tiap seri harus dibuka dengan kalimat apa dan ditutup dengan cara bagaimana, semua sudah ada di kepala. Kalau tidak segera saya tuangkan di komputer, tekanan darah bisa naik. Itu membahayakan hasil operasi. Sebab, obat sinkronisasi liver baru saya punya efek samping menaikkan tekanan darah. Kalau ditambah dengan penuhnya bahan tulisan di otak saya, apakah tekanan darah tidak akan semakin tinggi?

“Itu logika Anda saja. Anda bukan dokter. Itu alasan Anda saja untuk diperbolehkan menulis,” ujar Robert Lai. “Mana ada baru tujuh hari setelah transplantasi liver sudah memeras otak untuk menulis begitu panjang?” sergahnya. Saya mengakui Robert benar. Tapi, saya tetap bermohon untuk dapat dispensasi melakukan dua pekerjaan itu. (bersambung)

Iklan

Diskusi

One thought on “Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (10)

  1. terima kasih untuk tulisan Pak Dahlan Iskan, sungguh inspiratif.

    Posted by yuliana | 24 September 2011, 8:24 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: