>>
Anda sedang membaca ...
Hidup Super si Superkaya

Bangun Istana Pribadi Tertinggi di Dunia

23 Juli 2007

Bangun Istana Pribadi Tertinggi di Dunia

Hidup Super si Superkaya (1)

Catatan Dahlan Iskan
BANYAK orang kerja kelewat keras untuk menjadi kaya. Setelah kaya, mau apa? Mukesh Ambani, orang terkaya di India saat ini, mau bikin rumah yang tertinggi di dunia. Umurnya baru 51 tahun, jadi -insya Allah- masih akan lama menikmati rumah idamannya itu.

Rumah yang arsitekturnya akan sangat unik itu tahun lalu mulai dibangun dan baru akan selesai tahun depan. Tingginya 173 meter, sama dengan gedung pencakar langit berlantai 60. Berarti dua kali lipat ketinggian gedung Graha Pena Surabaya. Lokasinya di pusat bisnis Kota Mumbai (dulu Bombay) menghadap ke Laut Arabia.

Rumah itu akan diberi nama Istana Antilia, diambilkan dari nama mitologi pulau kecil di Samudera Atlantik, jauh di seberang Spanyol. Antilia dalam mitos lama bisa juga diartikan keberuntungan.

Tapi, bangunan setinggi itu hanya akan dia jadikan 27 lantai saja. Berarti, langit-langit tiap lantainya amat tinggi. Hampir tiga kali ketinggian lantai gedung bertingkat pada umumnya.

Untuk apa saja rumah tinggal setinggi 173 meter itu? Menurut laporan Mumbai Mirror, lantai 1 sampai 6 akan dipakai khusus untuk parkir mobil-mobilnya. Ambani memang hobi koleksi mobil mewah. Menurut laporan itu, dia punya 160 mobil, satu jumlah yang tidak istimewa untuk ukuran penggemar mobil. Di Surabaya saja ada penggemar mobil yang punya koleksi hampir 200 unit, termasuk Ferrari, Lamborghini, Porsche, hingga BMW.

Semua mobil itu tidak akan dirawat di bengkel umum. Ambani merancang lantai 7 rumahnya khusus untuk bengkel dan reparasi mobil. Semua fasilitas perawatan mobil akan diadakan di lantai 7 itu, termasuk karyawan-karyawan yang mengerti tentang seluk-beluk mobil mewah.

Lantai di atasnya akan digunakan untuk pusat rekreasi: terutama gedung bioskop dengan kursi-kursi kulit yang mewah untuk 50 orang. Ambani akan mengundang keluarga dekat atau rekan-rekan bisnisnya nonton film di situ.

Lantai 9, 10, 11, dan 12 akan dia biarkan sebagai ruang terbuka tanpa dinding. Ada empat lantai balkon yang begitu luas yang dari situ bisa melihat birunya Laut Arabia. Di balkon-balkon itu pula akan dibangun kebun, sehingga meski berada di lantai atas, akan terasa seperti di taman biasa.

Lantai 13 dan 14 khusus untuk menjaga kesehatan badannya. Ada poliklinik keluarga dan ada pula pusat kebugaran dengan peralatan yang tidak kalah dari gym modern. Sudah tentu juga ada kolam renangnya. Kolam renang yang berada di ketinggian sekitar 50 meter.

Tamu-tamunya akan diterima di ruang tersendiri di lantai 17 dan 18. Di situ juga disediakan kamar-kamar, kalau-kalau tamunya harus menginap. Rumah tinggalnya sendiri menempati empat lantai di atasnya, yakni lantai 19, 20, 21, dan 22. Di empat lantai itulah Ambani bersama istri dan tiga anaknya akan bertempat tinggal.

Karena rumah tersebut harus sempurna, perawatan dan kebersihannya juga harus dijaga ketat. Untuk fasilitas pemeliharaan gedung itu saja, diperlukan tiga lantai tersendiri: lantai 23, 24, dan 25. Itu masih harus ditambah satu lantai lagi di atasnya untuk ruang mekanikal dan elektrikal.

Satu lantai lagi di atasnya khusus untuk panel control room yang berkaitan dengan penerbangan. Penerbangan? Ya. Di lantai atas memang ada lapangan helikopter yang cukup untuk empat pesawat itu. Ambani ke mana-mana memang harus naik heli. Bukan untuk kemewahan, tapi untuk tuntutan mobilitas kerjanya.

India, khususnya Mumbai, kini memang padat dengan mobil, sehingga macet di mana-mana. Terutama sejak mobil sedan murah mulai dipasarkan dengan harga hanya Rp 40 juta. Bahwa dia memiliki mobil 160 unit dan perawatannya selalu dilakukan dengan istimewa, tampaknya, mobil-mobil tersebut hanya akan lebih banyak parkir di enam lantai terbawah rumah barunya.

Meski Ambani baru memimpin perusahaannya pada 1981 (hanya setahun lebih dulu dari saya mulai memimpin Jawa Pos), hasilnya luar biasa. Orang boleh berangkat bersama-sama, tapi sampainya bisa amat berbeda. Bahkan, banyak pula yang tidak pernah sampai sama sekali.

Teman saya yang sama-sama berangkat pada tahun itu, yang kemudian pindah dari Surabaya ke Jakarta, tahun lalu mulai menempati istananya yang baru seluas satu hektare di daerah elite Kebayoran Baru, Jakarta. Harga rumahnya itu paling tidak Rp 200 miliar. Teman saya satunya lagi, yang juga berangkat bisnis pada tahun yang sama, baru saja membeli rumah seluas satu hektare di Pondok Indah, Jakarta. Karena kurang puas dengan tata ruang rumah yang baru dibelinya itu, dia ambil putusan untuk meruntuhkannya sama sekali dan membangun saja yang baru. Sedang saya, alhamdulillah, juga baru pindah rumah, tapi dari perumahan murah Tenggilis Mejoyo ke perumahan Ketintang, dekat rel kereta api jurusan Mojokerto yang ternyata selalu kebanjiran pada musim hujan.

Ambani, yang pekan lalu jadi berita hangat di banyak media internasional sehubungan dengan rumah barunya itu, memang sudah menjadi lambang keberhasilan ekonomi India. Ambani sudah mengalahkan Mittal. Padahal, masih belum lama kita terkaget-kaget oleh langkah Mittal yang spektakuler. Mittal, yang ketika berumur 24 tahun mulai membangun pabrik baja di Waru, Surabaya, kini menjadi pemilik pabrik baja terbesar di dunia setelah membeli pabrik-pabrik baja di lima benua.

Mittal juga bikin heboh dua tahun lalu ketika menyelenggarakan perkawinan anaknya dengan cara menyewa istana Versailles di Paris untuk menutup pesta tujuh hari tujuh malam. Dia juga membeli rumah mewah di daerah elite London, bertetangga dengan Sultan Bolkiah dari Brunei.

Memang, sangat banyak orang super-kaya baru di negara-negara yang baru membuka ekonominya. Ada yang karena fasilitas, ada yang karena hubungan baik dengan penguasa. Tapi, juga ada yang karena kerja keras. Kini, wanita terkaya di dunia dari hasil usahanya sendiri (bukan hasil warisan) muncul dari Tiongkok. Yakni, Madame Zhang Yin, pemilik pabrik kertas Sembilan Naga yang berasal dari Harbin, tapi mulai membangun pabriknya di Dongguan, Guangdong. Kini, Zhang juga baru berumur 50 tahun. Zhang juga baru pada 1980-an memulai bisnisnya, tapi dengan cepat bisa jadi “ratu kertas” Asia. Mula-mula, anak miskin dari keluarga tentara tersebut hanyalah pengumpul kertas bekas, lalu memasokkan sampahnya itu ke pabrik kertas dan kemudian dia sendiri mendirikan pabrik kertas.

Rusia juga melahirkan konglomerat yang masuk deretan orang terkaya di dunia. Itu juga pernah dialami Indonesia di awal ekonomi terbukanya pada 1970 dengan munculnya taipan seperti Liem Sioe Liong yang sempat masuk 10 besar orang terkaya di dunia. Kini, Tiongkok, Rusia, dan India memang bersaing dalam memasok nama-nama orang terkaya dalam daftar paling berduit di jagat raya.

Memang, sangat banyak reaksi dari masyarakat India terhadap “kegilaan” Ambani itu. Mereka umumnya mengecam bagaimana Ambani tega membangun rumah yang berlebihan seperti itu di tengah-tengah masyarakat India yang masih sangat miskin. Berapa juta rumah sederhana yang bisa dibangun dari dana tersebut untuk disumbangkan kepada orang miskin. Bukankah rumah Ambani yang sekarang sudah tidak kurang suatu apa?

Tapi, ada juga yang memaklumi. Misalnya, reaksi yang dikirimkan ke sebuah media di Mumbai dalam bentuk surat pembaca. “Itu kan uang-uang Ambani sendiri. Untuk apa pun penggunaannya, ya terserah dia sendiri,” katanya. “Dia pinter, bapaknya menyiapkannya dengan baik, dia juga kerja keras, mengapa tidak boleh menikmati hasilnya?” kata yang lain.

Menarik juga bagaimana ayah Ambani mempersiapkan anaknya dulu dan bagaimana pikiran Ambani sendiri untuk kemajuan India. (Bersambung)

Iklan

Diskusi

12 thoughts on “Bangun Istana Pribadi Tertinggi di Dunia

  1. orang gak ada kerjaan…

    Posted by Mas Kopdang | 18 April 2008, 5:32 pm
  2. whatever the reason is …
    tetep aja itu berlebihan banget.
    what a waste!

    Posted by icha | 19 April 2008, 11:35 pm
  3. bener tuh g’ da kerjaan bgt
    masih bayak orng2 tidak punya rumah
    mendingat beramal biar bisa buat istana nanti di akhirat

    Posted by chilla | 29 April 2008, 7:39 pm
  4. pada sirik aja sich?!

    Posted by lila | 14 Agustus 2008, 9:39 pm
  5. Hm….bagus tuh….menambah lapangan pekerjaan (baik saat sedang proses pembangunan maupun setelah bangunan selesai).

    Posted by Budi Suryanto | 6 Januari 2009, 1:43 pm
  6. Hem…….. aku ngiri, seandanya itu aku, harta itu aku pergunakan untuk amal ibadah tabungan akhirat, biar nantinya harta itu tidak mencelakakan diakhirat, tapi khan orang itu berbeda beda keyakinannya, ya terserah yang punya harta.

    Posted by Subono | 12 Januari 2010, 10:28 am
  7. sebenernya fair2 aja kok. dia yg bekerja keras dan dia juga yg menuai, tp hidup kya gituu kan pilihan…toh dia juga bisa hidup kya milioner jepang HONDA klo dia mau…

    Posted by Jane | 21 Oktober 2010, 9:39 am
  8. Weleh-weleh-weleh,…….,jadi pengen juga P.Dahlan,……Amien…

    Posted by Agung Purnomo | 21 Oktober 2010, 4:28 pm
  9. berlebihan sekali…
    mendingan buat rumah mewahnya di akhirat..

    eman2 kalo buat rumah mewahnya dunia..
    nantinya juga akan runtuh juga kalau kena gempa…
    ckckck…

    Posted by Ophan | 23 Oktober 2010, 10:11 pm
  10. ya gakpp cuman harta tak dibw mati,nt yg nikmati ya anak cucu dan lainya

    Posted by amron hanafi | 6 Januari 2013, 2:50 pm
  11. Hidup ini bukan hanya mencari yang terbaik namun lebih kepada menerima kenyataan bahwa kamu adalah kamu. Jadi dirimu sendiri.

    Posted by BAYU PRIMA TURANGGA | 5 Juli 2014, 9:59 am
  12. Jangan selalu katakan “masih ada waktu” atau “nanti saja”. Lakukan segera gunakan waktumu dengan bijak.

    Posted by BAYU PRIMA TURANGGA | 7 Juli 2014, 10:19 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: