>>
Anda sedang membaca ...
Sisi Susah Dua Perusahaan yang sangat sukses di Tiongkok

Si Wanita Pedang yang Diserbu Jurus Serangan Pajak

26 Juni 2007
Si Wanita Pedang yang Diserbu Jurus Serangan Pajak
Sisi Susah Dua Perusahaan yang Sangat Sukses di Tiongkok (2)

Tiongkok,- Catatan: Dahlan Iskan

Untuk memiliki rumah yang lagi ditawarkan di Shanghai ini, Anda harus punya uang sedikitnya Rp 40 miliar. Dan kalau itu satu-satunya uang Anda, maka ketika tinggal di rumah baru yang mewah itu nanti, Anda hanya akan bisa makan mi rebus seumur hidup Anda. Sebab, harga rumah yang ditawarkan tersebut Rp 39 miliar. Belum biaya lain-lain. Dari mana lagi Anda bisa membeli makanan yang lebih mahal daripada mi rebus?

ITULAH guyonan orang Tiongkok yang belakangan ini memang gemar membeli rumah. Baik untuk ditempati maupun untuk investasi. Tapi, rumah yang ditawarkan developer Tomson Riviera di Shanghai ini memang gila-gilaan, mewahnya dan juga mahalnya. Itulah rekor harga rumah termahal di Shanghai, dan tentu juga di seluruh Tiongkok.

Tapi, Tomson Riviera bukan hanya sukses bikin rekor rumah termahal. Perusahaan ini juga tercatat pemegang rekor yang lain: tidak mampu menjual satu rumah pun selama enam bulan sejak launching-nya tahun lalu. Banyak alasan mengapa pemasarannya gagal total. Harga yang dipatok itu memang dua kali lipat dari rekor harga termahal di Shanghai selama ini. Banyak orang datang hanya untuk mengagumi, tapi tidak untuk membeli.

Ada juga yang menghubungkan kegagalan pemasarannya itu dengan fengsui-nya. Ketika pembangunannya belum mencapai 50 persen, sebagian konstruksinya sudah terbakar. Lalu, kompleks seluas dua hektare itu dibangun tower yang jumlahnya empat. Apalagi yang dua tower berlantai 40 dan yang dua lagi berlantai 44. Angka serba empat (si) itulah yang kalau diucapkan dalam bahasa Mandarin bunyinya mirip dengan kata mati (si).

Tapi, Tomson Riviera belum akan mati. Setidaknya dalam waktu dekat. Memang dia harus menghadapi badai demi badai, tapi bukankah semua pengusaha juga mengalaminya? Mungkin, nasibnya memang lagi belum beruntung. Ketika pembangunan kondominium itu hampir selesai, keluarlah kebijaksanaan pemerintah yang tidak menguntungkan Tomson Riviera: pemerintah ingin mengerem laju perkembangan harga rumah, terutama rumah kelas atas. Pemerintah menilai pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi tahun-tahun terakhir ini harus direm. Pertumbuhan ekonomi dari sektor spekulasi harus yang paling ditekan. Harga rumah pun turun sampai 20 persen. Bahkan, untuk rumah kelas atas, penurunan itu mencapai 30 persen. Angka penjualan rumah pun terjun bebas. Pasar lesu. Apalagi bursa saham panasnya tidak ketulungan. Orang yang kelebihan uang punya pilihan lain.

Memang penjualan rumah di seluruh Shanghai naik lagi empat bulan setelah kebijaksanaan itu. Sempat menjadi 500 unit sehari. Namun, masih jauh dari puncak penjualan tahun 2005 yang sampai 1.000 rumah sehari.

Badai boleh mengempas. Tapi, Tomson Riviera berpikir akan bisa seperti Sinbad yang selalu sukses mengendalikan kapalnya. Hsu Feng, mantan bintang film top Taiwan yang juga janda seorang konglomerat Taiwan, adalah pemilik dan nakhoda Tomson Riviera. Suaminya, David Tong, juga pernah terkait berita besar mengenai pengalihan saham World Trade Centre Group Hongkong. Pengalihan saham di luar pengetahuan publik itu juga melibatkan raja kasino Macao, Stanley Ho, yang ketika itu juga salah satu direktur Tomson Pacific milik David Tong. Begitu canggihnya cara yang ditempuh sehingga meski selama dua tahun pengawas pasar modal Hongkong melakukan penyelidikan, tidak menemukan pelanggaran.

Di Tomson Riviera Shanghai, David Tong tidak ikut jadi pemegang saham. Istrinyalah, Hsu Feng, yang menguasai saham 44 persen –lagi-lagi angka itu yang muncul. Keluarganya juga masih punya 12 persen. Sisanya publik. ’’Suami saya memang terkait, tapi ini proyek saya,” kata Hsu Feng.

Orangnya tidak secantik Melinda Tedja (bos Pakuwon Jati), tapi gigihnya kurang lebih sama.

Hsu Feng dikawin David Tong setelah lima tahun berkarir sebagai bintang film. Sejak itu dia berhenti main film sama sekali. Apalagi setelah melahirkan dua anak. Namun, lima tahun setelah jadi ibu rumah tangga, kekangenan ke dunia film muncul kembali. Popularitasnya sebagai bintang film dan banyaknya film yang dibintangi tidak bisa dia lupakan. Apalagi, dunia filmlah yang sangat mengesankan dalam perjalanan hidupnya. Dia ingat ketika masih kecil harus menjadi anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya meninggal ketika Hsu Feng masih enam tahun. ’’Saya harus hidup susah dalam keluarga Tionghoa yang keras dan ketat,” katanya mengenang. Seperti umumnya orang Taiwan, ayah Hsu Feng kelahiran Fujian, Tiongkok. Ibunya berdarah Mongolia. Mereka lari ke Taiwan karena pergolakan politik di Tiongkok saat itu.

Saat berumur 15 tahun, Hsu Feng melihat iklan di koran, ’’Dicari, calon bintang film”. Hsu Feng diam-diam mengirimkan fotonya. Dia tahu di antara 1.000 pelamar hanya akan diambil 12 orang. Tes yang diberikan kepadanya adalah menatap gambar perkawinan di mana pengantin laki-lakinya sebenarnya sangat mencintai gadis lain. Dia tatap gambar itu dalam-dalam. Tiba-tiba sutradara yang hadir di situ memerintahkan ’’Zoom! Zoom!”. Saat itu Hsu Feng memang terlihat menitikkan air mata sampai meleleh panjang di pipinya. ’’Saya sedih seperti itu sebenarnya karena saya mengingat penderitaan masa kecil saya. Bukan merasakan perasaan pengantin wanita itu,” ujarnya kemudian.

Sejak itu, jadilah dia bintang film, terutama film kungfu. Dia dijuluki wanita penghancur. Tapi, panggilan terkenalnya kemudian adalah ’’Si Wanita Pedang”. Penggemar film Mandarin akan bisa bercerita lebih panjang lagi mengenai merajalelanya Hsu Feng dalam dunia film.

Dorongan untuk kembali ke film kian lama kian besar. Dia rengek suaminya agar diperbolehkan lagi terjun ke film. Kian hari kian keras rengekan itu. David Tong akhirnya menyerah. Istrinya boleh kembali ke dunia film asal tidak jadi bintangnya lagi. Dia berikan uang dalam jumlah besar sebagai modal. Jadilah Hsu Feng produser film. Jadilah dia pengusaha. ’’Saya mulai belajar bagaimana menggabungkan seni dan bisnis,” katanya suatu saat. Ambisinya merebut gelar di Cannes.

Ambisi itu sukses besar. Film produksinya, Ba Wang Bie Ji atau Farewell My Concubine, akhirnya memperoleh Palm d’Or di Festival Cannes 1993. Dia produser wanita pertama dan satu-satunya yang berhasil meraih prestasi itu. Bagaimana gelora perasaannya di dunia film bisa diterangkan lewat pendapatnya saat dia diketahui baru keluar dari kasino di Monaco. ’’Judi itu menggairahkan. Seperti juga membuat film,” katanya saat itu. Gairah itulah yang memang mewarnai sukses karir Hsu Feng. Baik sebagai bintang film, pengusaha film, dan kemudian pengusaha real estate di Shanghai. Hubungannya begitu luas sehingga Raja Monaco mengangkatnya sebagai konsul kehormatan Monaco di Shanghai.

Hsu Feng akhirnya memang pindah ke Shanghai. ’’Dunia film di Shanghai akan sangat menantang,” katanya. Namun, ternyata Hsu Feng lebih dulu terkenal sebagai pengusaha real estate di Shanghai. Sampai saat ini, sudah 20 proyek besar dia buat di kota termodern di Tiongkok itu. Mulai dari lapangan golf 18 hole 72 par, perumahan eksklusif gaya Eropa di depan Hotel Radisson itu, sampai pembangunan gedung-gedung pencakar langit. Seperti gedung International Finance, Tomson International Trade Building, Intercontinental Hotel, dan banyak lagi. ’’Hsu Feng telah ikut mengubah langit Shanghai,” begitu istilahnya. Atas prestasinya itu, dia mendapat bintang penghargaan dari pemerintah Shanghai.

Karena itu, ketika proyek terbarunya, Tomson Riviera, menghadapi masalah, Hsu Feng sangat percaya diri. Bukan tak ada alasannya. Lokasi apartemen terbarunya itu begitu baiknya. Begitu strategisnya. Di jantung Lujiazui, Pudong. Satu kawasan paling elite di Shanghai saat ini. Yakni di pinggir Sungai Huangpu, menghadap ke kota lama Shanghai yang antik. Kalau menginap di Peace Hotel, kita bisa melihat kemegahan dan keglamoran wilayah Lujiazui di seberang sungai itu.

Di pinggir sungai ini hanya ada dua proyek apartemen. Dengan demikian, persaingan tidak akan berat. Masih ada lagi. Shanghai itu tanahnya datar, rata. Satu-satunya cara untuk berada di ketinggian hanyalah dengan membeli rumah di gedung tinggi. Tapi, itu tidak akan ada artinya bila sebelah-menyebelahnya juga gedung tinggi. Di Tomson tidak akan terjadi seperti itu. Sebab, di depannya adalah sungai besar. Antara Tomson Riviera dan sungai yang ada justru hanya taman-taman hijau. Menggiurkan, memang.

Bahwa harga yang ditawarkan mahal, itu karena lokasinya memang seperti itu. Bahkan, ada yang lebih membuatnya strategis. Di sinilah pusat keuangan baru Shanghai. Gedung Jingmao, gedung tertinggi di Tiongkok selama ini, berada di sini. Proyek Financial Centre yang tertunda gara-gara krisis moneter Asia tahun 1998, sudah mulai dibangun lagi. Bahkan begitu cepatnya sehingga minggu lalu konstruksinya sudah mencapai lantai 90. Ini berarti sudah ’’mencopot” gelar Jingmao sebagai gedung tertinggi di Tiongkok.

Boleh dikata, Tomson sangat beruntung mendapatkan lokasi itu. Apalagi bisa dua hektare. Dari empat tower yang dibangun, tower C yang dijual duluan –dan tidak laku. Pengunjung lebih banyak melihat tower B yang lebih ’’wah”. Karena itu, rumah di tower B juga ditawarkan –dan ternyata juga tidak laku.

Di tower B ini, rumah paling kecil adalah 434 meter persegi. Inilah rumah yang paling ’’murah” untuk Anda, dengan harga Rp 39 miliar per rumah. Yang paling besar adalah 1.240 meter persegi. Balkonnya saja, yang menghadap Sungai Huangpu, 20 meter persegi. Harganya? Sekitar Rp 120 miliar per rumah.

Tomson lantas mengubah strategi. Bukan menurunkan harga, melainkan menawarkan ke investor besar untuk membeli tower A, B, C sekaligus dalam satu paket. Awalnya, Tomson berencana menjual dulu rumah-rumah di tower C dan B. Baru, kelak, menjual rumah di tower A yang letaknya lebih strategis. Dalam istilah pengusaha real estate, jual dulu tulang-tulangnya, baru terakhir nanti dagingnya. Dan kalau tulangnya saja sudah Rp 120 miliar tiap rumah, kita bisa bayangkan akan berapa harga dagingnya.

Masih ada lagi tender lainnya! Yakni tower D. Yang ini tidak akan dijual, melainkan disewakan sebagai service apartment. Tujuannya agar perusahaan tetap memilikinya. Karena itu, ketika melakukan penjualan paket, hanya tiga tower yang dilepas. Tomson sudah menunjuk beberapa perusahaan terkemuka dunia untuk melakukan penjualan secara tender internasional. Tomson berharap bisa mendapatkan Rp 5 triliun dari penjualan borongan itu.

’’Jadi, kalau rumah-rumah tersebut tidak laku, itu karena kami memang tidak agresif melakukan penjualan. Kami akan menjualnya langsung per tower.” Begitu alasan para petinggi Tomson. Hsu juga membantah bahwa persoalan ini membahayakan cash flow perusahaan. ’’Kami masih punya dana Rp 1 triliun cash di kas perusahaan. Ratio utang kami pun masih sangat baik,” katanya.

Bagaimana hasil penawaran internasionalnya? ’’Banyak sekali peminat,” ujarnya. Ada yang dari Jepang meski akhirnya batal karena menawar 20 persen lebih rendah daripada keinginan perusahaan. Ada penawar perorangan dari Thailand, tapi tiba-tiba batal karena ada masalah politik dalam negerinya. Masih ada lagi peminat dari Taiwan. Itulah klaim dari Tomson.

Tomson yakin, harga rumah di Shanghai akan kembali naik. Dalam lima tahun masih akan naik 100 persen. Tentu ini juga masih tergantung kebijaksanaan pemerintah yang semakin kelihatan pro-rakyat yang tidak punya rumah. Sebab, belakangan juga ramai dibicarakan akan adanya peraturan baru bahwa orang asing atau perusahaan asing hanya diperbolehkan membeli rumah kalau untuk ditempati sendiri. Pemerintah memang tidak mau dana asing masuk ke sektor spekulasi.

Lalu, siapa pula berani menjadi pembeli pertama rumah seharga Rp 40 miliar sampai Rp 120 miliar itu? Bukankah nama pembeli akan muncul di laporan kepada pemerintah? Dalam situasi perang melawan korupsi yang besar-besaran seperti ini, siapa yang mau berada di ketinggian kalau hanya sekadar untuk gampang jadi sasaran tembak? ’’Harga satu rumah di Tomson Riviera itu bisa untuk sewa apartemen biasa selama 3.000 tahun,” ujar pengamat perumahan di Shanghai.

Penegakan hukum yang kian giat di Tiongkok juga tidak menguntungkan Tomson. Kini pemerintah lagi menyelidikinya untuk perkara pajak. Ini entah karena pemerintah lagi marah (karena di saat pemerintah minta agar semua pengusaha mengendalikan harga rumah, Riviera justru seperti menantang dengan menaruh harga gila-gilaan), atau memang benar-benar pajaknya bermasalah. Pemerintah serius melakukan penyelidikan. Sampai-sampai bursa Hongkong menghentikan perdagangan sahamnya agar tidak jatuh secara tidak normal.

Pemerintah berpendapat, kalau Tomson Riviera memang menjual apartemen dengan harga 130.000 renminbi (lebih dari Rp 130 juta) per meter persegi, berarti perusahaan itu harus membayar pajak pertambahan nilai sangat besar. Yakni dari selisih harga rumah dengan biaya pembangunannya. Sebab pemerintah menghitung, biaya pembangunannya, termasuk biaya tanahnya, hanya 30.000 renminbi per meter persegi.

Memang, dari ucapan-ucapannya, Hsu Feng terasa tidak takut apa pun. Saat baru mendapat penghargaan di Cannes, dia bilang, ’’Ini hebat sekali. Terutama karena yang diberi penghargaan masih hidup. Di China, orang baru dapat penghargaan kalau sudah mati.” Lalu, dia juga ngomel mengenai kerasnya sensor film dan media di Tiongkok. ’’Sebulan sekali saya harus ke Hongkong untuk beli-beli,” katanya. ’’Dikira dengan mengontrol pikiran orang seperi itu akan bisa mengontrol orang sepenuhnya,” begitu Hsu Feng berkata di kesempatan lain.

Dia juga tidak takut menyentuh masalah yang sensitif. Misalnya, dia masih terus berusaha untuk membuat film mengenai kisah hidup dan mati di zaman Revolusi Kebudayaan di Shanghai. Bahkan, dia juga ingin membuat film mengenai Qiang Qing, bintang film yang jadi istri ke sekiannya Mao Zedong. Dia ingin mengubah pikiran orang bahwa Qiang Qing tidak sejelek yang digambarkan. Rupanya, dia sudah siap dengan cerita lengkapnya, bahkan sampai bagaimana adegan terakhir film itu. Yakni Qiang Qing berada di depan cermin, lalu jarinya dilapkan di lipstik merah yang ada di bibirnya untuk membuat tulisan di cermin itu: Mao!

Apakah semua itu ada hubungannya dengan perkara perpajakannya itu? Entahlah. Tapi bisa saja Hsu Feng, sekali lagi menggunakan pedang ajaibnya. Seperti juga Sinbad dalam Legend of the Seven Seas, Hsu Feng sebagai Swordwoman akan terus unggul seperti dalam banyak film yang dibintanginya.**

Iklan

Diskusi

2 thoughts on “Si Wanita Pedang yang Diserbu Jurus Serangan Pajak

  1. Semua catatan dari negeri tiongkok tidak jauh dari ” MAO “

    Posted by Lando Jr | 18 September 2012, 2:22 pm
  2. Forget the failures but always remember a lesson from every failure you got

    Posted by EVALINA RISKA NINGSIH SILALAHI | 11 Februari 2015, 5:03 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: