>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

“Kyai Langitan” di Bisnis Properti

24 Agustus 2006

“Kyai Langitan” di Bisnis Properti

Catatan Dahlan Iskan

BACALAH buku kecil mengenai 10 momentum yang membuat Ir Ciputra sukses besar. Salah satunya adalah apa yang selama ini juga saya yakini: merantau! Tentu tidak semua orang yang merantau otomatis akan sukses. Banyak juga yang di perantauan hanya jadi beban orang lain. Sering juga jadi beban sesama perantau dari satu daerah asal.

Tapi saya memang tidak bisa bayangkan kalau Ciputra tetap tinggal di desanya yang terpencil di pojokan Sulawesi Utara. Begitu jauhnya sehingga desa itu sudah nyaris berada di Sulawesi Tengah. Jauh dari Manado, jauh pula dari Palu. Kalau saja Ciputra tetap terikat dengan romantisme desanya yang damai, yang pantainya tenang, yang nyiurnya melambai-lambai, barangkali kalau toh dia tetap jadi pengusaha, kelasnya tidak akan seperti sekarang.

Usia saat merantau, saya kira juga amat menentukan. Dia meninggalkan desanya menuju Jawa –lambang kemajuan saat itu—ketika tamat SMA. Ia ingin memasuki perguruan tinggi di Jawa. Maka masuklah dia ke ITB Bandung. Memang, sejak kecil dia sudah merasakan kesulitan dan kepahitan hidup. Terutama saat bapaknya ditangkap oleh penjajah dan tidak pernah kembali lagi.

(Adegan kepiluan ini tak lama lagi akan bisa terwujud dalam salah satu patung yang akan dibangun Ciputra di Manado. Adegan lain dalam patung itu nanti adalah mengenai penderitaan pengusaha setempat, penderitaan rakyat Sulut, penderitaan wanita dan penderitaan pejuang kemerdekaan. Lalu di tengah-tengahnya akan berdiri patung besar mengenai gairah, harapan dan kedamaian).

Kalau saja momentum merantau itu terjadi saat ia sudah berumah tangga, apalagi saat sudah agak tua, tentu akan berbeda sekali juga. Merantau pada usia tamat SMA adalah munculnya kebebasan dan rasa tanggung jawab secara bersamaan. Ia bebas berbuat apa saja karena tidak ada rasa sungkan apa pun pada lingkungan. Juga tidak ada rasa keterikatan pada keluarga. Ia bebas! Mau baik atau mau rusak. Tapi bagi Ciputra, kebebasan yang dia peroleh dia ikuti dengan munculnya rasa tanggung jawab.

Suatu saat kelak, Ciputra harus menceritakan momentum yang membuat dia tidak hanya merasa bebas berada di perantauan, tapi juga apa yang membuat dia mengimbangi kebebasan itu dengan sebuah tanggung jawab. Apakah karena harus mencari makan sendiri? Harus membiayai sekolah sendiri? Ataukah malu kalau kelak dinilai gagal oleh kampung halaman yang dia tinggalkan (dan merasa suatu saat akan kembali ke sana?). Atau adakah rasa tanggung jawab itu karena didikan sejak kecil? Atau apa?

Saya juga sering mencontohkan mengapa merantau di usia yang tepat menjadi salah satu kunci sukses dalam berkarir. Itu karena dia bisa berkonsentrasi penuh pada karirnya. Berada di kampung halaman, terlalu banyak aturan yang kalau tidak dijalani dianggap tidak sopan. Misalnya, ia harus tidak masuk kerja karena tetangganya atau keluarga dekatnya sunatan, kawinan atau kesusahan. Padahal kerabat dan tetangganya banyak sekali. Begiliran saja acara seperti itu.

Kadang juga harus “jagongan” sampai larut malam. Sebuah keasyikan yang tidak produktif sama sekali. Sebagian bisa menjadi candu (kalau tidak “jagongan” tidak bisa tidur), sebagian bisa dianggap sebagai orang yang kurang bersosialisasi. Bagi perantau, hal semacam itu tidak akan ada. Biar pun keluarganya di kampung sunatan, dia sah saja tidak hadir. Tidak ada yang akan mengatakan dia tidak sopan. Paling hanya kalau keluarga amat dekat yang punya gawe saja yang harus didatangi. Dan itu amat jarang.

Tentu banyak juga orang yang merantau, tapi sama sekali kesulitan memutuskan romantisme kampung halaman. Dia merantau, tapi pikirannya terus berada di kampungnya. Tiap saat dia pulang ke kampungnya. Penghasilannya hanya dikonsentrasikan untuk bagaimana bisa membiayai pulang kampung. Kadang, penyebabnya tidak sebanding. Karena di kampung masih punya sedikit sawah atau sebuah rumah kecil yang kosong. Tapi ada juga yang karena alasannya sangat masuk akal: ibunya seorang diri dan sudah uzur.

Ciputra adalah perantau yang sempurna. Dia mendapatkan kebebasan, tapi juga memunculkan tanggung jawab pada dirinya. Ciputra sukses melampaui zaman apa saja: Bung Karno, Pak Harto, dan zaman reformasi. Dia sukses membawa perusahaan daerah maju, membawa perusahaan sesama koleganya maju dan akhirnya juga membawa perusahaan keluarganya sendiri maju. Dia sukses menjadi contoh kehidupan sebagai seorang manusia. Keluarganya boleh dibilang amat sempurna. Rukun dengan istrinya, anak-anaknya, menantu-menantunya dan cucu-cucunya.

Di ulang tahunnya yang ke-75 hari ini pun, Ciputra masih sangat sehat dan kuat. Otaknya juga masih terus dirangsang dengan gairah baru. Mengembangkan usaha dan kepengusahaan akan terus menjadi perjuangannya. Memang dia tidak menjadi konglomerat nomor satu atau nomor dua di Indonesia, tapi dia the best di bidangnya: real estate. Dia adalah “kyai langitan” untuk bidang itu.

Ketika akhirnya harus memikirkan pengabdian masyarakat apa yang harus dia besarkan, dia pilihlah pendidikan. Sekolah dan universitas Ciputra. Tentu di tengah sudah begitu banyaknya sekolah dan universitas akan terasa biasa saja. Tapi Ciputra mencoba menemukan blue ocean di bidang ini pun: sekolah yang menitip beratnya entrepreunership! Bukan sekolah biasa.

Ini juga akan jadi puncak pengabdian masyarkatnya yang sudah sejak lama dia terjuni: olahraga (khususnya bulu tangkis), kesenian (khususnya lukis dan patung) serta di bidang keagamaan. Dengan sekolah kewirausahaan dia ingin menyiapkan bangsa ini menjadi bangsa pengusaha! Ciputra dilahirkan dari keluarga pengusaha, dia tumbuh jadi pengusaha, dia menciptakan lingkungan keluarganya jadi pengusaha. Dan ini akan menciptakan masyarakatnya jadi masyarakat pengusaha! (*)

Iklan

Diskusi

3 thoughts on ““Kyai Langitan” di Bisnis Properti

  1. Tulisan ini yang sudah lama saya cari.terimakasih inspirasinya..

    Posted by Thosin | 17 Desember 2013, 11:18 pm
  2. Perasaan yang paling berbahaya adalah iri karena iri hati melahirkan kebencian dan kebencian akan membunuhmu perlahan

    Posted by LIESA POERNAMASARIE | 11 Februari 2015, 3:55 pm
  3. Surat 67 ayat 15.
    Merantau tampaknya memang dianjurkan…

    Posted by Huda | 23 Januari 2016, 11:23 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: