>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

Menjelajahi Kota Minyak Daqing di Tiongkok, Membayangkan Bojonegoro

Kota Serba Wah dengan 50.000 Sumur Angguk
Rabu, 18 Jan 2006

Selama homestay di kota Harbin (Tiongkok), CEO Jawa Pos Group DAHLAN ISKAN sempat pergi ke kota Daqing dan Heihe. Daqing adalah kota kabupaten yang terpencil yang menghasilkan minyak bumi hampir 1 juta barel sehari. Sedangkan Heihe adalah kota di pinggir selatan Sungai Heilongjiang yang berhadap-hadapan dengan kota milik Rusia di utara sungai.

Melihat kota Daqing (baca: Ta-jing), pikiran saya langsung terbayang kota Bojonegoro. Bisakah kelak, setelah menghasilkan minyak, Bojonegoro seperti Daqing? Ataukah Bojonegoro juga hanya akan jadi Lhokseumawe di Aceh atau Dumai di Riau atau Bontang di Kaltim? Atau Prabumulih di Sumsel?

Untuk ke kota Daqing, saya harus naik mobil dari ibu kota Provinsi Heilongjiang, Harbin, sejauh 250 km. Heilongjiang sendiri berada di pojok timur laut Tiongkok. Melihat letaknya yang begitu ke pedalaman, saya bayangkan kabupaten ini tentu tidak ada yang istimewa. Memang untuk menuju Daqing cukup ditempuh 1,5 jam (karena seluruh kabupaten di Tiongkok kini sudah dihubungkan dengan jalan tol), namun tidak membayangkan sama sekali bahwa begitu masuk kota Daqing yang terlihat serba wah.

Jalan masuk kota itu 10 jalur lebarnya. Kanan kirinya lampu merkuri yang dibentuk seperti angsa terbang. Antara jalur cepat dan jalur lambat digelar taman yang lebarnya masing-masing 6 meter. Di sisi-sisi jalan dihampar trotoar masing-masing 4 meter. Jalan masuk kota ini tidak hanya lapang dan terang, tapi juga panjaaang sekali: 5 km. Di ujung jalan masuk inilah kota Daqing dibangun.

Biarpun kota kabupaten terpencil, jumlah gedung tingginya melebihi Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia. Bank-bank terkemuka Tiongkok punya cabang dengan gedung yang megah di kota ini. BUMN minyak yang mengelola sumber minyak di Daqing mendirikan kantor yang megah. Apartemen, mal, dan shopping center membuat kota ini hidup. Pembangkit listrik yang besar-besar, refinery (kilang pembuat BBM), pabrik petrokimia berada di pinggiran kotanya. Stasiun-stasiun pooling minyak mentah terlihat di berbagai sudut kota.

Kota ini sungguh unik dalam membuat kebijaksanaan pembangunan daerah dikaitkan dengan kekayaan minyaknya. Hasil minyaknya sendiri hampir sepenuhnya milik pusat. Kota Daqing hanya dapat 1 persen. Tapi, bagaimana kota ini bisa hidup sungguh karena kebijaksanaan yang pro-pembangunan daerah.

Saya kagum tidak habis-habisnya bagaimana untuk menyedot minyak sebanyak itu digunakan teknologi yang sederhana saja: pompa anggukan biasa. Bukan dengan teknologi modern. Teknologi yang dipakai adalah yang bisa dibuat di kota itu, diperbaiki di kota itu, dan dipasang oleh tenaga di kota situ. Maka, jangan heran bila di dalam kota Daqing yang modern terdapat ribuan pompa minyak yang mengangguk-angguk tidak henti-hentinya.

Sumur minyak lengkap dengan pompa angguknya itu ada yang di tengah-tengah taman di pojok jalan raya atau di halaman gedung tinggi nan modern atau di sebelah showroom mobil atau di depan pintu-pintu apartemen atau di halaman mal atau di sela-sela rumah. Di mana-mana terlihat pompa minyak yang mengangguk-angguk.

Semua sumur minyak itu terawat bersih, sehingga yang di tengah taman pun bisa menjadi bagian dari taman itu. Yang di halaman gedung, ya jadi bagian dari hiasan halaman itu. Tidak terlihat ceceran minyak di sekitarnya.

Kota yang berarti “menggali sumur” ini pun lahir dari minyak pada 1959. Bermula dari rumah-rumah petak buruh minyak, berkembang menjadi kota modern nan mewah seperti sekarang. Kini dihuni 2,6 juta penduduk dengan 1,2 juta tinggal di kota.

Semangat untuk maju di kota ini sudah menjadi contoh sejak di zaman Mao Zedong. Menurut situs tentang kota ini, pemimpin besar Tiongkok yang juga menjabat “pengarah tertinggi” itu menyebut pada 1960-an: dalam industri, belajarlah dari Daqing. Semangat kota ini sudah difilmkan dengan judul Pelopor Entrepreneur pada 1970-an.

Sebagai kembarannya, dalam bidang agrikultur, adalah Dazhai di Provinsi Sanxi. Mao menyebut, juga pada 1960-an: dalam agrikultur, belajarlah dari Dazhai.

Ladang minyak Daqing adalah yang terbesar di Tiongkok. Tapi, yang luar biasa, menurut wikipedia, ladang minyak Daqing adalah nomor empat yang paling produktif di dunia.

Minyak menjadi 62 persen GDP Daqing dengan nilai 124 miliar yuan pada 2004. Dengan populasi sedikit, GDP per kapita Daqing mencapai 90 ribu yuan atau sekitar Rp 105 juta, urutan kedua di Tiongkok.

Tentu, Bojonegoro tampaknya tidak akan bisa jadi Daqing. Sumur minyak di Bojonegoro akan digarap dengan cara modern. Sumur itu tidak akan kelihatan. Dari dalam tanah sana, langsung dipasang pipa bawah tanah sepanjang puluhan kilometer menuju tengah laut di lepas pantai Tuban. Kekayaan minyak itu boleh dibilang lewat begitu saja di bawah tanah tanpa perlu bertegur sapa dengan siapa pun yang dilewatinya.

Mungkin memang sudah terlambat untuk membicarakan model pengeboran minyak di Bojonegoro. Namun, tetap saja saya mengajak Bupati Bojonegoro Santoso dan Bupati Lamongan Masfuk untuk berkunjung ke Daqing. Didampingi Ketua DPRD Jatim Fathorrasyid, kami menemui Wali Kota Daqing Wang Zhibin. Dalam satu bulan dua kali saya jadinya ke Daqing. Dinginnya bukan main. Saat itu minus 12 derajat. Bagi dua bupati tersebut tentu sangat menarik untuk menjadikan Daqing sebagai inspirasi membangun kabupatennya. “Di sini terdapat 50.000 sumur angguk,” ujar Wang Zhibin.

Tapi, bukanlah sumur angguk itu hanya untuk sumur dangkal? Sedangkan di Bojonegoro memerlukan sumur dalam? “Di sini pun banyak sumur angguk yang kedalamannya 3.000 meter,” katanya.*

Diskusi

17 thoughts on “Menjelajahi Kota Minyak Daqing di Tiongkok, Membayangkan Bojonegoro

  1. Ada lagi….blm sempat baca semua… Present lagi…

    Posted by yuni | 26 November 2012, 9:23 am
  2. Tuntut lah ilmu sampai ke negeri Cina..🙂

    Posted by akadarisman | 26 November 2012, 9:23 am
  3. pak Dahlan ,
    di Indonesia banyak tuh sumur angguk yang dianggurkan …
    https://plus.google.com/photos/117189376959258818925/albums/5433086815070316801?banner=pwa&gpsrc=pwrd1#photos/117189376959258818925/albums/5433086815070316801/5433088019163429298
    itu ada di Jambi , jumlah nya diatas 1000

    yang mengherankan ..
    tidak jauh dari sumur sumur angguk itu ,
    sumur sumur petrochina beroperasi

    sementara sumur sumur tua di Indonesia tidak lebih dari 1500 meter
    apalagi yang di daerah Bojonegoro itu …
    persoalan nya , selama ini model BPMIGAS tidak ada perhatian sama sekali bahkan cenderung mempersulit pengurusan perijinan , tapi kalau yang datang model perusahaan asing , pada diberi kesempatan …

    Posted by bsuhardiman | 26 November 2012, 9:30 am
  4. Bisa, tinggal kapan ya , keburu kiamat kali😆

    Posted by A-bede | 26 November 2012, 9:33 am
  5. tak ada kata terlambat…….ayo kita mulai Indonesia-ku….

    Posted by done | 26 November 2012, 9:35 am
  6. wah dulu (2006) belum kenal pa Dahlan Iskan….jadi belum kebaca…

    Posted by bewe+em | 26 November 2012, 9:39 am
  7. Wah,mantab mas admin. Dapat aja tulisan abah tahun 2006, semoga semakin membuka mata kita sebagai bangsa dengan ladang minyak yg tidak sedikit. Semangat….
    MH dobel pekan ini,asyik…

    Posted by fris | 26 November 2012, 9:44 am
  8. bila ada tulisan Pak Dahlan yang relavan,,, sambungkan terus Pa Admin

    Posted by akik | 26 November 2012, 12:03 pm
  9. Kesan industri hulu migas yg selalu High Tech, langsung lunturrrrrr………….. Ayo para bupati ada lahan garapan baru neh………..

    Posted by Damarta | 26 November 2012, 1:35 pm
  10. setelah membaca tulisan ini rasa nya tdk mustahil bojonegoro akan menyerupai daqing…sebagai warga bojonegoro sy berdoa smga kang yoto (bupati bojonegoro) mampu mewujudkan kemakmuran untuk bijonegoro.. ayo qt..kerja..kerja..kerja..yg polos2 aja..

    Posted by inne | 26 November 2012, 2:15 pm
  11. Bukan main pak..kita sebetulnya tdk malu meniru hal2 yg baik dan berguna bagi masyaraat banyak..teruskan ak pryek tsb di bojonegoro..carj dan pilih anak negrj yg pandai dan baik..masih banyk generasi muda kita yg integritasya tinggi..maju teus p.dahlan..

    Posted by J.Mudjiyanto | 26 November 2012, 2:45 pm
  12. Ga bisa pak…untuk formasi baru yang diproduksi oleh exxon dan mobil atau MCL kedalamannya tidak mampu atau tidak ekonomis apabila diproduksi menggunakan SRP. Karena kedalaman sumur yang menggunakan SRP terbatas. Sedangakan untuk sumur2 tua yang ada di wonocolo, cepu, dan sekitarnya, bisa menggunakan SRP karena kedalaman formasi produktif yang ditembus tidak lebih dari 1Km.

    Posted by Amur Jani | 26 November 2012, 4:28 pm
  13. oo.pantes…ternyata pak di sudah memberikan input yg berharga bagi para pejabat dan anggota dewan..kok ndak pernah dikerjakan ya………..begitu sulitkah menembus bpmigas???

    Posted by ep sard | 27 November 2012, 7:45 am
  14. yups.. !
    Moga bener, bojonegoro emang bener” jd bojone_negoro.
    Salam..

    ¤ lg begadang nunggu MH he he

    Posted by wa gi man | 2 Desember 2012, 10:58 pm
  15. Kutil ini tumbuhan dalam bentuk pembengkakan daging yang berwarna.

    Posted by RIZKI MA’RUFAH | 10 Februari 2015, 10:06 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: