>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

Ubah Rel KA Menjadi Jalan Tol

30 Maret 2004
Ubah Rel KA Menjadi Jalan Tol
Catatan: Dahlan Iskan

Pertengahan bulan ini, CEO Jawa Pos Group Dahlan Iskan, kembali berada di Tiongkok. Kali ini ke propinsi paling utara yang amat dingin. Berikut catatan ringannya.

SAYA memang suka mengendarai mobil dengan cepat, namun supir yang membawa saya di jalan tol antara Changchun-Jilin-Harbin ini jauh lebih berani. Ia hampir selalu memacu kendaraannya 180 km/jam. Saya yang duduk di belakang supir, selalu melirik ke speedometer. Tentu dengan doa mudah-mudahan si supir tidak menaikkan jarum itu ke angka 200 km/jam. Memang, saya juga sering carter mobil untuk perjalanan Makkah-Madinah yang jalannya amat lebar, sepi dan mulus itu. Namun di perjalanan sejauh 450 Km ini supir umumnya juga hanya lari maksimum 160 Km/jam.

Jalan tol di Tiongkok memang mengubah kehidupan yang luar biasa. Semangat membangun jalan tol gila-gilaan selama 10 tahun terakhir. Tahun 1987, ketika Surabaya saja sudah punya jalan tol Perak-Gempol sejauh 42 Km (jalan tol Jagorawi di Jakarta lebih lama lagi), saat itu Tiongkok belum punya jalan tol sama sekali (masih 0 Km). Namun akhir tahun 2003 kemarin, jumlah jalan tol di Tiongkok sudah mencapai 30.000 Km. Sedang jalan tol Perak-Gempol tidak juga bertambah satu kilometer pun.

Tiongkok membangun jalan tolnya yang pertama di bagian utara negara itu.

Yakni di tahun 1988 yang menghubungkan kota Senyang dengan kota Dalian.

Jalan tol pertama ini panjangnya 400 Km. Rupanya manfaatnya luar biasa sehingga diputuskan setiap tahun membangun rata-rata 2.000 Km. Ini sama dengan setiap tahun membangun jalan tol antara Surabaya-Medan. Maka tak ayal bila selama 15 tahun membangun jalan tol, jumlah jalan tol di sana sudah mencapai 30.000 Km.

Dengan banyaknya jalan tol seperti itu, kini banyak acara bisa dijangkau dalam waktu yang lebih pendek. Hari itu, misalnya, saya masih makan malam di Singapura. Makan pagi sudah di Beijing, makan siang di Changchun, namun sudah bisa makan malam di Jilin. Bahkan malamnya masih bisa kembali ke Changchun agar pagi sekali bisa ke Kota Harbin (baca: ha-el-ping) di propinsi Heilongjiang. Masih sempat makan siang di kota ini, untuk kemudian terbang ke Shanghai dan makan malam di Shanghai. Semuanya hanya dalam waktu 40 jam.

Saya harus akui supir dalam perjalanan Changchun-Jilin-Changchun-Harbin ini safe sekali. Jalan dengan kecepatan hampir selalu 180 Km/jam tidak terasa terlalu memaksa kendaraanya. Saya sendiri hanya pernah memacu mobil maksimum 165 km/jam (dan tentu juga hanya beberapa detik untuk kemudian melambat lagi). Itu karena saya selalu ingat pesan ini: mesin dan mobil memang bisa lari dengan mudah di atas angka itu, namun apakah kondisi bannya mendukung? Dengan kecepatan yang tinggi, suhu ban pasti naik. Dalam kondisi ban yang panas, bisa saja mobil dan mesinnya baik-baik saja, namun bannya yang tidak kuat.

Tapi dalam perjalanan di Tiongkok belahan utara itu saya tidak khawatir. Suhu udara di sini masih di sekitar nol derajat. Bahkan di kota Harbin dinginnya luar biasa: delapan derajat di bawah nol. Pada suhu seperti itu saya yakin ban mobil tidak akan panas meski diputar dalam kecepatan tinggi.

Apalagi mobil yang saya naiki adalah Toyota Land Cruiser. Jadi, dalam kecepatan 180 Km/jam tidak terasa terlalu cepat. Yang membuat sedikit was-was adalah Land Cruiser ini bikinan Tiongkok. Tepatnya bikinan kota Changchun yang saya kunjungi. Tapi si supir yang tak lain adalah staf pabrik pembuat mobil itu, rupanya ingin menunjukkan bahwa ‘made-in’ Tiongkok juga bisa diandalkan.

Hari itu saya memang mendampingi teman pengusaha Surabaya yang akan melakukan kerjasama dengan pabrik mobil tersebut. Karena itu kami harus ke Kota Changchun, satu jam penerbangan ke arah utara-timur dari Beijing. Di kota inilah pusat pabrik mobil Yi-Qi (dalam bahasa Inggris menggunakan

nama First Mobil). Di masa lalu kota ini amat terkenal di Tiongkok sebagai pusat perfilman, di samping Shanghai. Juga terkenal sebagai pusat industri berat, termasuk industri persenjataan. Kemampuannya membuat senjata berat di masa lalu itulah yang kemudian dimanfaatkan untuk membangun industri mobil saat ini.

Kini Yi-Qi menjelma jadi produsen mobil terbesar di Tiongkok. Tahun lalu pabrik ini sudah memproduksi 600.000 mobil. Dan tahun ini ditargetkan naik menjadi 1 juta mobil. Labanya saja tahun lalu sudah mencapai Rp 60

triliun! (untuk sekedar bandingan, perusahaan seraksasa Gudang Garam atau Sampoerna, labanya tahun lalu sekitar Rp 2 triliun). Berarti satu perusahaan Yi-Qi sudah sama dengan 30 kali Gudang Garam. Itu baru satu pabrik mobil. Padahal di Tiongkok ada beberapa pabrik mobil yang juga besar-besar. Angka-angka itu bisa diketahui secara publik karena Yi-Qi memang sudah menjadi perusahaan yang menaikkan papan namanya di pasar modal.

Saya merenung dalam-dalam mengapa perkembangan perusahaan mobil di Tiongkok melejit begitu cepat. Dan bagaimana industri ini bisa membuat industri-industri pendukung lainnya berkembang melebar. Mulai dari industri asesori, cat, kulit, plastik, komponen sampai ke industri ban. Juga bengkel, toko-toko onderdil dan usaha terkait lainnya. Betapa besar ekonomi yang bergerak di sekitar industri mobil ini.

Keberadaan jalan tol yang begitu besar tentu harus diakui menjadi salah satu faktor utama penggerak semua itu. Di Tiongkok saat ini, ke kota mana pun Anda pergi pasti sudah terhubung dengan jalan tol. Kini kita, kalau mau, bisa naik mobil dan selalu di jalan tol dari kota Harbin yang paling utara ke kota Beihai di propinsi Guangxi yang paling selatan. Itu saja berarti sekitar 10.000 Km jauhnya. Atau dari timur ke barat yang lebih jauh lagi. Atau dari barat daya ke timur laut dan dari tenggara ke barat laut. Dalam hal strategi jalan tol ini, Tiongkok mengikuti jejak sukses Amerika Serikat.

Maka saya agak heran ketika membaca berita mengenai rencana kerjasama

ASEAN untuk membangun jalan kereta api yang akan mengelilingi pulau Kalimantan. Mulai dari Sabah, Kaltim, Kalsel, Kalteng, Kalbar, Sarawak, Brunai untuk kemudian nyambung lagi ke Sabah.

Rencana itu harus benar-benar diubah menjadi jalan tol. Dengan jalan KA, tidak akan membawa nilai tambah apa-apa untuk sebagian besar kawasan yang dilewati. Bahkan dari pengalaman selama ini, kawasan yang dilewati rel KA harga tanahnya jatuh. Sebab rel KA telah membelah kawasan itu menjadi tidak fleksibel. Lalu bandingkan dengan keberadaan jalan tol. Semua kawasan yang dilewati jalan tol harganya naik. Maka kalau ada jalan tol yang mengelilingi Pulau Kalimantan, harga tanah seluruh pulau Kalimantan akan naik.

Hal serupa juga terjadi di Sumatera. Saya heran mengapa ada pembicaraan yang serius untuk membangun jalan KA dari Lampung sampai Aceh. Sekali

lagi, jalan tol lah yang harus diutamakan. Adanya jalan tol yang membelah pulau kaya itu akan semakin membuat berharga Pulau Sumatera.

Bahkan pemerintah sudah seharusnya memikir ulang keberadaan rel KA Surabaya-Jakarta, atau Banyuwangi-Jakarta itu. Kita tahu setiap tahun PT KIA (perusahaan yang mengelola kereta api) merugi. Dan sepanjang jalur KA tersebut juga telah menjadi kawasan yang nilainya tidak terangkat. Maka mengingat sulitnya mencari lahan untuk jalan tol Surabaya-Jakarta, PT KIA boleh berpikir untuk mengubah usahanya dari usaha transportasi kerata api menjadi usaha jalan tol. Yakni dengan mengubah rel KA-nya menjadi jalan tol. Tanpa kesulitan yang besar dalam pengadaan tanahnya. Maka para petani yang tanahnya berada di sepanjang rel KA yang selama ini nilainya sangat rendah, tiba-tiba akan naik. Jutaan petani pemilik tanah kita tiba-tiba akan lebih kaya!**

Iklan

Diskusi

109 thoughts on “Ubah Rel KA Menjadi Jalan Tol

  1. Sepertinya Anda seperti berada di atas awang2. Tidakkah Anda tau, dengan penambahan jalan tol, maka akan memicu pertumbuhan jumlah mobil, dan keberadaan jalan-jalan bebas hambatan ditengarai sebagai penyebab tingginya penggunaan bahan bakar minyak dan emisi karbon dioksida. Masalah tentang harga tanah, kalau begitu para petani harus merelakan sawahnya dijadikan jalan tol. Belum lagi kalo di pinggir jalan tol itu dibangun pabrik, perumahan, dsb. Terus para petani itu mau nanam padi di mana? Masa harus alih kerja. Jangan salahkan siapa2 kalau beras yang biasa Anda nikmati jadi barang langka gara2 lahan pertanian sudah dikonversi menjadi jalan tol. Masalah pembangunan jalur KA tidak membawa nilai tambah bagi tanah di sekitarnya, itu memang benar. Terbuktilah kalau pembangunan rel KA tidak terlalu banyak dampak sosialnya ketimbang jalan tol. Mengapa? Karena lahan yang diperlukan untuk buat trek dan stasiun KA jauh lebih sedikit daripada jalan tol dan interchangenya. Bahkan adanya stasiun KA juga bisa menyebabkan kota2 di sepanjang jalurnya tumbuh/berkembang, seperti Petersborough (Australia), Langå (Denmark), Bebra (Jerman), Ōmiya (Jepang), Zbąszynek (Polandia), Novosibirsk (Rusia), Hat Yai (Thailand), York (Inggris), Chicago (AS), Corupá (Brasil), dll. Ingat juga, Mas, kalo Kota Malang bertumbuh pesat setelah pembukaan jalur KA di wilayahnya, mengapa? Karakteristik stasiun KA adalah bisa dibangun tepat di jantung kota. Coba kalau jalan tol. Ingat kasus Purwakarta dll. yang jadi kota mati setelah pembangunan Tol Cipularang karena mobil tidak lewat kota itu lagi, ditambah dengan matinya sejumlah rumah makan di jalur tersebut. Belum lagi pembangunan Tol Cikampek-Cirebon yang membelah pesantren, dan diprotes oleh tokoh2 pesantren tersebut. Pikirkan juga Pak masyarakat yang lebih kecil, jangan gunakan pola pikir pemilik modal.

    Posted by Rudi Ibrahim Dewanto | 6 April 2010, 6:02 pm
    • Iya,….iya bapak benar tentang mengapa anda tidak setuju terhadap ide pengadaan jalan tol……
      Alasan yang bapak bangunpun sangat argumentatif, tapi maaf apa yang bapak kemukakan tidak nyambung dengan ide dasar baak Dahlan Iskan…! mohon untuk dibaca ulang tentang apa yang dimaksud dalam tulisan Dahlan I…. “Jalan tol tidak perlu membebaskan tanah masyarakat, terlebih tanah pertaniannya…

      Posted by Anjar Surasa | 18 Juli 2010, 6:20 pm
    • ne dia orang2 jumud yang gak mau di ajak membangun. mudah2an di Indonesia tidak banyak orang seperti Rudi Ibrahim Dewanto. Dia mungkin senengnya APBN untuk dikorupsi ja bukan untuk membangun…astagfirullah tobat pak

      Posted by lukman | 5 Januari 2012, 5:09 am
    • he pak rudi, indonesia bukan negara kaya yang bisa membangun segala2nya tapi disinilah letaknya skala prioritas. Rel KA memang perlu tapi dari karakteristik negara kita yang mirip India, Cina dan Brazil lebih membutuhkan jalan tol. negara2 eropa yang anda contohkan beda jauh dengan negara kita..

      Posted by lukman | 5 Januari 2012, 5:25 am
  2. Tidak usah mempertentangkan rel KA sama tol, Pak. Tol dan rel memiliki peran berbeda yg saling mengisi, dan tidak bisa masing2 melenggang sendiri. Di banyak negara maju, tol ada, KA pun ya ada, kalau jalur KA semua diganti tol, bisa terjadi ketimpangan, bayangkan akibatnya, tidak ada lagi angkutan masal yg bisa mengangkut ribuan orang dan ton barang sekali jalan yg lebih sedikit mengkonsumsi BBM dan menghasilkan emisi dibandingkan total kendaraan roda ban yg ada, akhirnya peran yg ditinggalkan KA, harus diisi dengan kendaraan roda ban yg konsekuensinnya harus lebih banyak jumlahnya yg akhirnya kebutuhan BBM pun akan membengkak, dan emisinya pun bakal jauh lebih besar daripada yg dihasilkan KA, dan biaya pun akan membengkak karena akan dibutuhkan lebih banyak kendaraan roda ban untuk menggantikan peran KA dan yg terpenting, angkutan murah akan lenyap. Apa Bapak tidak berpikir, tidak semua orang punya mobil untuk menikmati jalan tol? Motor saja tidak bisa masuk tol, dan tak bisa untuk perjalanan jauh.

    Posted by Rudi Ibrahim Dewanto | 6 April 2010, 7:04 pm
    • emang indonesia lagi hujan duit trus dapat buat rel KA ma jalan tol sekalian. dengan APBN yang pas2an kita harus melihat skala prioritas. usul pak rudi baik tapi tidak realistis. mimpi kali ye?
      dan untuk mengangkut komuditas yang ada di kalimantan gak epektif menggunakan kereta api tapi menggunakan tronton yang butuh jalan tol…

      Posted by lukman | 5 Januari 2012, 5:31 am
      • sebenarnya 2 ide itu gak perlu di adudomba kok, malah kalo bisa digabungkan. Kereta api itu paling efektif (dari sisi biaya, energi (emisi CO2nya lebih sedikit) dan waktu) untuk mengangkut barang/orang dalam jumlah besar dan jarak jauh. kalo jalan tol, itu efektif untuk dipakai mobil dan angkutan barang mini krn biasanya didesain untuk kendaraan berbobot sedang (up to 2 ton) dan memang lebih fleksible untuk jarak menengah pendek. akan lebih baik kalo misalkan 2 jalur itu dibuat sejajar, contohnya di eropa jalur KA diapit jalan tol antar kota. sepanjang jalan tol di bangun pergudangan yg nantinya akan dibawa oleh truk2 didistribusikan ke kota2 kecil sekitar stasiun.

        Posted by Akmila | 16 Mei 2012, 3:17 pm
  3. KA memiliki skill yg tidak similiki moda lain, yaitu bisa mengangkut manusia dan barang dalam jumlah masal dan waktu relatif cepat dengan sekali jaaln yg berarti lebih menghemat bbm dan emisi dibandingkan angkutan ban yg butuh lebih banyak truk dan bus yg akhirnya burtuh lebih banyak bbm n menghasilkan emisi dalam jumlah besar,,KA listrik malah tdak butuh bbm yg berarti lebih ramah lingkunganm,coba pikir sendiri akibatnnya jika yg anda inginkan itu terjadi, bagaimana kira2 dampaknnya?
    apakah semua orang lebih-lebih di indonesia raya ini bisa membeli mobil untuk lewat tol? kaalupun bisa, byaangkan dampak lingkungan yg akan terjadi, bukankah sekarang di negara2 maju, untuk mengurangi dampak pemanasan global dan kemacetan lalu lintas mereka mengurangi pengguanaan kendaraan pribadi dan beralih ke angkutan umum masal seperti subway, metro, High speed train,dsb,,wacana mengubah jalur KA jadi tol apakah tidak akan memperparah pemanasan global? dan akhirnnya bertentangan dengan usaha bersama masyarakat dunia untuk mengurangi pemanasan global,,jika mengubah jalan KA jadi tol yg akhirnnya mendorong bertambahnnya kendaraan roda ban untuk menggantikan peran masal KA apakah tidak akan membuat beban jalan di indonesia bertambah berat? padahal dengan traffic density KA di Indonesia yg tergolong rendah saja beban jalan dan kemacetan sudah begitu parah, bagaimana jika meng -coup de grace- jalur KA? jangan mengukur efektifitas KA secara global hanya dari perkeretaapian Indonesia yg memang sedang terpuruk, karena itu sangat tidak relevan. Lihatlah negara2 maju yg perkeretaapiannya maju, sukses dan memainkan peranan penting bagi perekonomian negarannya seperti di Jepang, Jerman, dan Prancis, bahkan di Uni Emirat Arab dan Saudi yg sebelumnya perkeretaapiannya tidak terlalu maju atau belum ada malah mereka sedang membangun perkeretaapiannya secara besar-besaran, di kota2 besar dunia seperti New York, Paris, Tokyo, London angkutan masal yg berperan besar juga adalah KA..denagn semakin padatnya penumpang dan arus interaksi, logikannya yg dijadikan solusi adalah angkutan maasal, bukan angkutan pribadi atau yg kecil kapsaitasnnya

    Posted by Derri Hutomo | 6 April 2010, 7:12 pm
  4. Mohon maaf kalau kata2 saya ada yg kurang berkenan. Saya heran koq seseorang dgn pola pikir seperti anda bisa diangkat menjadi dirut sebuah BUMN penyedia listrik negara? Anda ingin pulau Jawa ini tenggelam karena polusi dari kendaraan2 bermotor dan industri? Akan kemana sawah2 yg selama ini hijau sepanjang rel dan menjadi sumber makanan pokok rakyat? KA sudah menjadi alat transportasi yg berpolusi rendah dan murah bagi rakyat kecil. Mungkin Yth Bapak Dirut PLN ini belum pernah hidup miskin dan susah ya, yg hanya punya ongkos utk KA ekonomi pada saat alat transportasi lain tdk terjangkau walaupun hanya utk selembar tiket bus ekonomi. Jangan hanya berpikiran keuntungan semata Pak, anda cerita sering mondar-mandir ke Makkah – Madinah, asumsi sy bapak adalah org yg mengerti agama tapi koq bisa punya ide yg aneh2 ini? Sekedar infoi, saat ini pemerintah Saudi sdh mempersiapkan KA cepat antara Makkah – Madinah utk transportasi jemaah haji, yg kedepannya tdk mungkin terlaksana kalau hanya mengandalkan bus2. Saya tdk akan heran kalau suatu saat anda akan menghambat penyediaan listrik utk KRL. Semoga Allah membuka hati anda. Amiin.

    Posted by Didi | 6 April 2010, 7:53 pm
    • kenapa ya ….berargumen dan tidak setuju ide seseorang harus dengan menghujat dan menilai keimanan seseorang ? ….. sayang sekali ya

      Posted by azkiya | 7 November 2010, 10:36 pm
    • jalan tol memperlancar ekomomi. tanpa jalan tol pun perusahaan kirim barang dengan truck.jadi dg di buatkan jalan tol jadi lebih lancar. di sumatra kirim barang kl musim hujan sering terganggu karena jalannya rusak. akibatnya pengusaha merugi. soal BBM kan kereta juga pake BBM
      kl soal KRL kan pake listrik, listrik di indonesia masih pake batubara. kan sama juga emisi karbonnya banyak.
      di luar kereta di bawah tanah.
      kereta perlu

      Posted by aji | 18 Januari 2011, 8:21 pm
      • Menurut saya saya akan lebih bagus di bangun Sistem Transpotasi Kereta Api di Sumatra, apalagi kalau penggeraknya pakai motor listrik. Listrik bisa di gerakkan dengan menggunakan berbagai macam energi seperti: fosil, geothermal, Air, Angin, arus laut, mata hari dan nuklir jadi banyak alternatif. Kereta api adalah sistem angkutan masal dengan biaya lebih murah. Pembangunan rel kereta api 2 jalur jauh lebih murah di bandingkan dengan membangun jalan tol, karena jalan tol minimal di bangun 6 jalur masaing 3 jalur untuk arah yang sama. Masalah kecepatan kereta api sekarang ada mempunyai kecapatan 400 km perjam. Dengan kecepatan 200 km per jam aja dalam waktu 20 jam kereta yang berangkat dari Jakarta sudah sampai di Aceh. Kalau ngankut pakai Truk paling paling kecepatan rata rata hanya 60 km per jam, karena mereka membawa muatan yang berat ngak bisa laju. dalam waktu 4 hari baru nyampai kalau lewat jalan tol. Menurut saya lebih efesien kalau kita manggunakan sistem tranpotasi kereta api. Perhatikan sekarang jalan tol cikampek sering macet kenapa, karena kabanyakan truk angkutan yang menggunakan jalan tol. Kalau duit nya banyak bangunlah keduanya, dengan anggaran terbatas saya sarankan lebih baik di proritaskan pembangunan rel kereta api.

        Posted by Refa | 4 Oktober 2013, 3:27 pm
  5. pak DI yth, ide anda ini tidak bisa semerta-merta diterapkan di indonesia. coba lihat jakarta, salah satu kebodohan gubernur DKI adalah terus-menerus memperluas jaringan TOL !! coba kalo ada gubernur yg berani menghentikan segala pembangunan infrastruktur untuk mobil, gantikan dengan KA/subway/mass transport, insya allah semua permasalahan dan keruwetan kota terselesaikan. sekarang ini pemda DKI sudah melacurkan dirinya kepada industri otomotif, developer perumahan dan industri property, sementara mereka gagap akan rencana tata kotanya sendiri. semoga ide anda mengenai konversi KA ke tol ini tidak didengar pak gubernur DKI

    Posted by anto | 7 April 2010, 10:25 am
  6. catatan yang hanya menguntungkan kantong pribadi, bukan kemashalatan umat, pola pikir seroang pejabat BUMN yg sangat rendah dan picik serta sesat, ambisi pribadi disertai mengambil keuntungan sesaat. Mudah2an anda bukan bagian dari kelompok neoliberalisme

    Posted by Renungkanlah | 8 April 2010, 8:01 am
  7. Mohon maaf pak sejak kapan PT. KIA menjadi perusahaan Kereta api?
    Tolong diralat ya pak…sekian dan terima kasih….

    Posted by Jonathan | 8 April 2010, 9:42 am
  8. Kalo motivasi Bapak meniru Tiongkok, kenapa Bapak menutup mata kalo Tiongkok juga terus menambah jaringan relnya. Tahun 2007 panjang rel masih 78000 km, 2009 menjadi 86000. 2010 ditergetkan mencapai 100000 km, dan sampai 2020 menjadi 120000 km.

    Sampe 2009, panjang relnya saja sudah melampaui rusia yang 80000 km, membuatnya negara kedua yang memiliki panjang rel terbanyak di dunia di bawah AS yang punya panjang rel 250000 km.

    Posted by Rudi Ibrahim Dewanto | 8 April 2010, 1:12 pm
  9. hahahahah aneh rasanya membaca tulisan ini, sebenarnya anda ini paham tidak sih tentang manajemen transportasi ?? kok sepertinya asal bicara ya?
    anda tahu berapa manusia seperti anda yang bisa diangkut dengan menggunakan kereta ??? coba bandingkan dengan mobil? 1 kendaraan paling banyak hanya mengangkut 54 orang !! bandingkan dengan kereta api, 1 gerbong bisa mengangkut 68-80 penumpang. berapa banyak yg di hemat.
    banyak mobil banyak polusi.
    banyak jalan tol menjadi banyak mobil dan menjadi tidak efisian karena akan macet.
    berapa biaya yang terbuang dalam suasana macet. roda ekonomi bisa macet sama kaya jalan yg macet.

    oh ya sejak kapan ya PT KIA mengelola jalan dan rel?
    mohon dapat di riset dulu sebelum di tulis…

    oh ya coba lah berpikir secara makro bukan mikro yang hanya menguntungkan segelintir manusia saja.

    Posted by Nugi | 8 April 2010, 9:54 pm
  10. Mas, dicina aturan lebih ketat, layak saja mereka membangun jalan tol. Coba kalau disini moda transportasi menggunakan jalan raya. Truk yang memiliki berat muatan melebihi kapasitas boleh lewat hanya dengan mel di jembatan timbang / pemeriksaan. Izin pembuatan kendaraan baru lebih pesat dibanding pembuatan sarana jalan, regulasi uji emisi tidak serius diperhatikan.
    Kalau semua sudah terjadi wal hasil kita tidak akan bisa menikmati jalan tol / jalan raya dengan optimal, sebentar2 rusak / longsor, sebentar2 macet dan dampak buruknya bagi lingkungan sekitar adalah polusi udara yang semakin parah.
    Anda tidak tahu apa2 dengan Indonesia dan transportasinya dan tidak bisa membandingkan apple to apple dengan cina. Di cina pembuatan jalan tol bisa optimal karena sesuai anggaran, lihat cipularang, sebentar2 ditutup karena longsor maupun rusak karena kendaraan melebihi tonase, bahkan kendaraan melata seperti siput boleh lewat cipularang yang tentunya mengganggu kendaraan lain, semua terjadi karena korupsi dan mental para pemimpin sampai pelaksana yang memble.
    Apakah anda juga salah satu yang kecipratan uang korupsi jalan tol..? Sehingga berani menggembar gemborkan pembuatan jalan tol di Indonesia.

    Posted by Andi | 9 April 2010, 7:02 am
  11. Untuk saudara DI (CEO JawaPos + Dirut PLN), coba saudara renungkan.
    – memangnya investasi untuk pembangunan jalan tol adalah lebih murah daripada investasi pembamgunan jalur KA?
    – memangnya membangun 8 jalur jalan tol (incld bahu jalan) adalah lebih murah daripada membangun 2 jalur (double track) rel KA?
    – memangnya memobilisasi barang dan manusia dalam jumlah besar (massal) dengan menggunakan kendaraan beroda ban adalah lebih murah, lebih efisien dan lebih ekonomis daripada menggunakan moda angkutan KA?
    – memangnya akan dikemanakan jalan raya yang lama, yang sudah menghidupi sekian juta orang (tidak hanya petani) selama ini bahkan sejak jaman penjajahan dulu?
    – memangnya dengan menerima ganti rugi pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol lantas para petani bisa hidup lebih kaya tanpa memikirkan bahwa selama ini lahan tersebut merupakan gantungan hidup seluruh anggota keluarganya tanpa ada keahlian lain selain bertani?
    – memangnya dengan adanya jalan tol kehidupan rakyat disepanjang jalan raya yang lama akan menjadi lebih baik? belajarlah dari jalan tol cipularang.
    – memangnya dengan memerima ganti rugi pembebasan lahan para petani bisa langsung beralih profesi atau membuka usaha lain?
    – memangnya isu carbon trading, energy saving, environmental distructions, polution dan masalah lingkungan hidup lainnya tidak pernah hinggap di benak saudara?
    – bukalah mata dan telinga saudara lebar-lebar untuk lebih banyak lagi melihat dan mendengar problematika kehidupan di sekitar saudara.
    – bukalah wawasan dan pikiran saudara untuk hal-hal lain diluar urusan bisnis dan pribadi saudara, janganlah menjadi katak dalam tempurung.

    Posted by Wied | 9 April 2010, 10:23 am
  12. Kepada sodara2 yang komenya begitu panjang dan berapi2…

    Pak Dahlan iskan bukan orang yang (saat ini) memiliki wewenang untuk membuat perubahan sebesar itu, ide pak Dahlan sama saja dengan ide jenengan yang mau membangun Subway dan menambah rel kereta api, sama-sama sekedar ide dari sudut pandang yang berbeda.

    Tidak perlu terlalu diambil hati, toh ide ini dicetuskan 6 tahun yang lalu, lihat tanggal postingannya 30 Maret 2004. Ada kemungkinan pak Dahlan juga tidak lagi menggebu-gebu soal ide ini.

    Satu lagi, baca di sini https://dahlaniskan.wordpress.com/tentang-blog-ini/ , disitu dijelaskan ini bukan blog pribadi pak dahlan. Jika jenengan berteriak2 di sini, pak dahlan iskan kemungkin besar tidak akan membaca tulisan anda….

    Posted by kolojengking | 9 April 2010, 11:57 am
  13. Jalan Tol dan Rel Kereta Api sama2 penting, bukan untuk saling mensubtitusi tapi lebih baik disinergikan… Di China perkeretaapiaannya juga maju lho pak…

    Posted by Prasetyo | 9 April 2010, 8:05 pm
  14. EMANG PT.KIA ??? YANG PUNYA KA ITU PT.KAI … !!! GW SEORANG RAILFANS MENUNTUT … KALO BENERAN TERJADI GW GAG TERIMA …. !!!

    Posted by RAILFANS | 10 April 2010, 8:28 am
  15. Tunggu aja nanti, kalau jalan tol sudah jadi, nanti negara kita bertambah miskin, karena banyak kendaraan jalan raya dan tol, lalu kebutuhan BBM meningkat drastis, dampaknya naiknya harga BBM. Warga semakin geram kalau harga BBM naik kan? Apalagi yang saya takuti itu adalah terjadinya krisis moneter baru yang disebabkan oleh kenaikan BBM yang disebabkan pembangunan jalan tol.

    Lagipula harga HSD untuk lokomotif kereta api lebih murah daripada BBM Premium, Pertamax dan Solar. Selain itu, kereta api lebih efisien, karena bisa membawa lebih banyak penumpang dalam satu perjalanan.

    Coba bandingkan saja, berapa banyak penumpang yang bisa dibawa kereta api dan jalan tol. Satu rangkaian kereta api bisa membawa dari 400 orang hingga 1500 orang dalam satu perjalanan, banyangkan kalau perjalanan pulang-pergi (PP), jumlahnya bisa digandakan!!! Sementara bis yang paling besar sekaligus yang lewat jalan tol, sebanyak-banyaknya hanya bisa membawa 100 orang saja, itupun separuhnya tidak dapat tempat duduk! Aduh! Kasihan yang berdiri, naik bis dari Jakarta ke Surabaya berdiri??? Wah, sampai di Surabaya udah masuk RS tuh. Sementara yang dapat tempat duduk hanya sekitar 50 orang saja.

    Dilihat dari itu, jumlah bis yang dibutuhkan untuk mengangkut penumpang setara dengan kereta api, yaitu dari 8 hingga 20 buah bis. Sementara satu rangkaian kereta api yang mengangkut 1000 orang hanya butuh satu unit lokomotif CC 201, CC 203 atapun CC 204, bis manapun tidak bakal bisa mengalahkan efisiensi lokomotif CC 204 yang terbaru! Dengan tenaga 2300 HP, dia akan mengantarkan ular besi menuju tujuan dengan selamat!

    Selain itu, tentang biaya pembangunan dan perawatan kedua moda transportasi ini, menurut standar luar negeri yang saya kaji, biaya pembangunan dan perawatan jalan tol itu jumlahnya 10 kali lebih mahal daripada biaya pembangunan dan perawatan jalur kereta api. Sementara itu, dari hasil pendapatan, menurut standar luar negeri yang saya kaji pula, pendapatan kereta api itu jumlahnya bisa 20 hingga 500 kali lipat pendapatan jalan tol! Bayangkan banyaknya keuntungan yang bisa diraup dari transportasi kereta api!

    Topik yang lain, jalur kereta api di Indonesia, sudah dibangun sejak jaman penjajahan Belanda, dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda, insinyurnya termashyur dari negeri kincir angin. Lalu para pekerjanya? Yaitu kakek buyut kita! Mereka kebanyakan tidak dibayar dan tidak boleh istirahat hingga tengah malam! Mereka sudah susah payah membangun jalur kereta api, terutama ketika membangun jembatan yang tinggi dan panjang, dan ketika membangun terowongan kereta api, bekerja tanpa alat-alat yang canggih dan alat keselamatan, banyak diantara mereka yang tewas dalam pengerjaan pembangunan jalur kereta api saat itu. Mereka mau mengerjakan tugas yang sangat keras itu, kenapa? Karena mereka ingin mewariskan jalur kereta api yang telah mereka bangun untuk kita dan anak cucu kita semua! Mereka tahu kalau akan ada generasi yang akan menyusul dan akan memanfaatkan kereta api sebagai transportasi ungulan.

    Sekian ini saja yang saya sampaikan, semoga bermanfaat untuk anda semua yang membaca artikel utama di atas tersebut.

    Posted by Anonymous | 10 April 2010, 11:15 am
  16. mendingan kereta api yang dioptimalkan ketimbang jalan tol yang boros

    Posted by adit | 10 April 2010, 1:24 pm
  17. pak dahlan, ngarti ga sih ttg transportasi? saya heran anda masih membela roda empat yg terbatas ampe 59 orang saja kapasitasnya. meskipun saya jg mengincar gallardo dan r8, tapi sekedar gaya. untuk ke luar kota, saya pilih ka. ka itu umurnya panjang. dan ramah lingkungan. selain itu, tanahnya pun punya ptka. kalo tol kan ngembat tanah orang pak! yg kbnykan sawah. gak ada sawah bapak ga makan. peduli lingkungan pak, ka yg dimajuin bkan jalan.

    Posted by somebody who lives in jakarta, indonesia | 10 April 2010, 7:33 pm
  18. Dua duanya sama2 penting!!! Gak usah berebut!!

    Posted by Selo aja kalee | 10 April 2010, 9:04 pm
  19. Udah mendingan para railfans jangan kepanasan ngeliat ini. Toh ini cuma tulisan yang tidak mengancam. Iye gak?

    Posted by Kuping kebo kepanasan | 10 April 2010, 9:08 pm
  20. Oy oy. Setiap orang berbeda-beda pendapat. Kita itu hidup di negara demokrasi. Tapi sebenernya jalan tol itu dibutuhkan oleh banyak orang. Coba anda bayangkan!!! Bagaimana nasib indonesia jika tidak ada mobil atau motor? Hanya ada kereta saja. Kereta juga dibutuhkan oleh beberapa masyarakat juga. Tetapi dengan meningkatnya jumlah penduduk di indonesia. Mau gak mau memang jalan tol harus diperbanyak. Dan saya juga ingin supaya pelayanan kereta api ekonomi non ac juga ditingkatkan. Karena banyak copet, preman, pedagang, sama orang2 tidak takut mati seperti yang gelantungan di pintu.

    Posted by Sapi giling | 10 April 2010, 9:15 pm
  21. Hai para railfans jangan kepanasan ngeliat kayak gini. Kayak dunia mu kiamat aja. Maklumi saja!

    Posted by Aku railfans | 10 April 2010, 9:17 pm
  22. JANGAN EGOIS BRO, JUTAAN RAILFANS DI DUNIA …..

    Posted by railfans 8 | 11 April 2010, 8:26 am
  23. Sudah, tidak usah diperpanjang lagi. saya juga seorang railfans, tetapi melihat artikel yg dibuat tahun 2004 serta sudah 6 tahun lewat perekeretaapian kita masih aman2 saja, untuk apa lagi kita sumpah serapah bukan? lagipula ini kan bukan blognya Pak dahlan iskan. saya hanya punya 1 pemikiran, menghapus kereta api dari bumi Indonesia adalah sesuatu yg tidak mungkin

    Posted by haru | 11 April 2010, 10:59 am
  24. siiip,,jangan sakit hati hanya gara-gara ide, toh didunia ini semuanya bisa terjadi.

    Posted by bayu | 11 April 2010, 11:29 am
  25. percuma koar-koar di blog ini bukan punya si Dahlan Iskan
    mending kita sorakin aja disini http://pramudyaputrautama.wordpress.com/2008/04/05/sebuah-blog-untuk-dahlan-iskan/

    Posted by railfan | 11 April 2010, 12:19 pm
  26. Aku setuju ama haru!!! Ngapain pusing ngeliat kayak gini!! Ini kan cuma tulisan!!!

    Posted by Aku railfans | 11 April 2010, 9:43 pm
  27. Ya ALLAH. Kalian ngapain panik? Sudah tidak usah diperpanjang. Cobalah kita berpikir secara rasional dan optimis. Saya tau bahwa banyak railfans yang kecewa. Tetapi cobalah anda berpikir lagi. Bukannya saya egois. Saya juga railfans. Tetapi gk maniak banged ama yang namanya kereta. Toh, masih banyak juga yang menggunakan jasa perkereta apian. Ngapain panik? Kereta tidak akan terhapus dari muka bumi ini.

    Posted by Aku rakyat indonesia. | 11 April 2010, 9:49 pm
  28. Eh jangan ngata2in mobil and motor donk. Kalo gk ada mobil n motor bagaimana anda ke stasiun? Jalan kaki? Naek speda? Bisa jawab gak lu?

    Posted by Hamba ALLAH | 11 April 2010, 9:53 pm
  29. Kalian tidak sadar ya? Sebenarnya hubungan mobil dan kereta itu simbiosis mutualisme. Masa gak tau?

    Posted by Om om | 12 April 2010, 1:44 pm
  30. Ide yang radikal Pak Dahlan, komentator tidak perlu marah-marah. Ada hikmah yang diselipkan Pak Dahlan Iskan. Banyak orang Indonesia berfikir secara linear, akibatnya ya.. alon-alon waton klakon. Ada baiknya menghayal sesuatu yang besar, meskipun toh belum tentu terlaksana, tapi cara pikir seperti itu akan lebih mudah mengalirkan solusi, yang mungkin tidak umum bagi kebanyakan orang. Nggak perlu membahas tol dan relnya. Ide dan cara berfikirnya yang penting. Untung Anda jadi Dirut PLN, kalau tidak, bisa-bisa 10 tahun lagi tak ada listrik di Indonesia, gara-gara negara tak kuat memberi subsidi listrik. Jalan terus Pak Dahlan, saya mendukung cara pikir Anda.

    Posted by eko di nunukan | 12 April 2010, 10:22 pm
    • setuju mas, emang kadangkala harus berfikir radikal asal jangan keterusan. lihat kondisi yang ada. salah salah kita digebukin orang se kampung. moga ja belum pernah.

      Posted by Nur Muhis | 26 Desember 2010, 4:57 pm
  31. Untung aj bukan jadi dirut PT KA..
    bisa bubar kereta api di indonesia..

    Posted by yogabaguskoeswoyo | 14 April 2010, 10:53 am
  32. Pak cari alternatif untuk meminimalkan penggunaan sumberdaya alam yang banyaknya selalu berkurang.
    Pikirkan menghilangkan kesenjangan sosial di antara masyarakat.
    Pikirkan memaksimalkan penggunaan waktu bagi smberdaya manusia.
    Pikirkan menghilangkan sifat sumberdaya manusia Indonesia yang bersifat konsumtif.

    Kalo menggunakan mobil pasti memikirkan beli mobil terbaru.
    kalo naik kereta mikirnya harus beli karcis biar fasilitas yang di sediakan semakin baik.

    lebih nyaman mana naik mobil dengan kecepatan 200 KM/Jam dengan naik kereta 200 KM/Jam

    Posted by mahasiswa bodoh | 15 April 2010, 3:28 pm
  33. SUNGGUH HEBAT PAK DAHLAN ISKAN!!! BRAVO PAK,jalan pikiran yg nyeleneh bisa jadi alternative terbaik. gw dukung tuh sebetulnya. TAPI LEBUH HEBAT LUAR BIASA LAGI “ARTIKEL POSTINGAN 6 TAHUN LALU BISA MENUAI KOMENTAR2 SENGIT SEGINI BANYAK” MANTAF…

    Posted by Yudi Setyawan | 16 April 2010, 9:35 am
  34. Dukung terus ide ini!!! Bravo!! Supaya indonesia menjadi negara maju!!!

    Posted by Om om | 18 April 2010, 9:20 am
  35. Eh para railfans! Anda jangan terlalu mengata-ngatai mobil ataupun motor, karena berkat kendaraan itu anda bisa ke stasiun. Kalo enggak loe mu jalan kaki ato naek sepeda? Mau loe tarok mana tuh sepeda kalo lu naik sepeda? Bisa jawab gak loe? Lu railfans jangan membela kereta sampai rela harga diri dan nyawa lu hilang. Karena sifat berpikir seperti itu bisa menghancurkan transportasi di indonesia!!!!!!!!

    Posted by .mgdpw | 18 April 2010, 9:26 am
  36. Wah maaf. Saya kebawa emosi. Maaf kalo komentar saya yang diatas menyinggung kalian, sekali lagi maafkan saya.

    Posted by .mgdpw | 18 April 2010, 9:41 am
  37. Maaf banged ya…..

    Posted by .mgdpw | 18 April 2010, 9:53 am
  38. Hadoh2. Kenapa berantem? Sudah2 .mgdpw gk usah ampe minta maaf kayak gitu, tenang semua ini pasti ada maknanya.
    kenapa harus marah2 sih? Mau nulis kayak apapun percuma nggak akan didengar pemerintah. Mau ampe pulsa ampe uang lu abis percuma nggak akan didengar. Cuma buang2 waktu ama uang.

    Posted by Syedhow | 18 April 2010, 2:36 pm
  39. Heh! Jangan komen lagi! Menuh2in halaman ini saja!

    Posted by Web Master.(no reply) | 18 April 2010, 2:38 pm
  40. Gak semua orang mampu beli tiket bus Jakarta-surabaya pak,Tiketnya 120.000,sementara dengan Kereta api hanya 38.000,Lagian kalau di kereta cape duduk bisa jalan-jalan,nah kalo di bus,Pantat gatal-gatal begitu tiba di tujuan gara-gara Kelamaan duduk,Naik kereta juga hemat waktu,Jakarta-semarang dengan KA Ekonomi hanya 7 jam,dengan KA eksekutif 5 jam 30 menit,Nah kalo bus,Bus eksekutif saja bisa 11 jam apalagi ekonomi,Nah Dari segi bahan bakar Kereta api juga efisien,1 Lokomotif tipe CC 201 Menenggak Bahan bakar 1 liter setiap 2,5 Km,Bus juga sama tapi daya angkut hanya 50 orang,sementara dengan 1 Lokomotif CC 201 mampu menarik 12 gerbong dikalikan 70 sudah 840 orang,Jadi bayangkan BBM yang dikeluarkan Kurang lebih 17 bus bisa Dialihkan ke pemakaian 1 lokomotif

    Posted by Tito_Power | 22 April 2010, 5:17 pm
  41. Masa mau bikin jalan tol di seluruh Indonesia si? Yang benar saja! Jalan Tol itukan, minimal harus >40 meteran lebarnya! Kalo di Kalimantan dengan Di Sumatra jadi dibangun, lantas, mau apakan hutan-hutan disana? Sementara pembangunan Kereta Api? Mungkin hanya menggunakan lebar 10 Meteran! Itupun sudah bisa double track pak! Lagian kan, kontur di Kalimantan dan Sumatra saja sudah tidak mungkin untuk dibangun jalan tol pak. Kalapun sudah dibangun, paling2 cuma bertahan beberapa bulan saja sebelum aspalnya mulai keropos gara-gara ‘diinjak’ oleh tronton2 setiap hari.

    Posted by Jati | 25 April 2010, 7:33 pm
    • kirim barang ke sumatra pake truk om, cuma batubara aja yg pake kereta. Pake kereta kurang efisien karena sebagian besar pabrik n pasar jauh dari rel. Kl di paksakan pake kereta akhirnya juga tetep di pindah ke truk. Biaya bongkar muat bertambah. sementara jalan di sumatra kl musim hujan parah. pengusaha merugi karena perjalanan semakin lama.
      jadi jalan TOL juga dibutuhkan.

      Posted by aji | 18 Januari 2011, 8:46 pm
  42. Lagian namanya PT KAI, bukan PT KIA

    Posted by Jati | 25 April 2010, 7:34 pm
  43. …tulisan tahun 2004 dikomentari 2010..
    rasanya nggak fair lah kalo kita komentar pedas..,
    mungkin, bisa jadi, kondisi waktu itu berbeda..

    Posted by kukuruyuk | 4 Mei 2010, 2:59 pm
  44. bodo amat mo 2009 or 2010…
    toh sama aja
    yg nulis catatan diatas gk pernah sekolah apa y…
    kereta api tu gk bisa dilepaskan dari sejarah bangsa indonsia…
    bsok2 klo mo nulis lagi…
    pikir pake otak dulu…
    jangan asal jadi n ngrugiin orang

    Posted by hiki | 9 Juni 2010, 9:00 am
  45. Pak, menurut saya, Jalan Tol yang sebaliknya tdk efisien. Lihat saja kenaikan tarif Jalan Tol, makin hari makin naik sehingga lebih mahal. Belum lagi soal tanah, Sawahnya pingin dikemanain ? kasihan. Dan juga Tonase kendaraan yg makin hari makin meningkat. Bisa saja jalan jadi rusak. Beda dengan Kereta Api, banyak menolong perekonomian rakyat. Apalagi Kereta Api Sudah tdk terlepas dari sejarah Indonesia. Begitu pula kecepatan tempuh dan kenyamanan, Lebih tepat Kereta Api. Apalagi kehematan konsumsi bahan bakar, ya kereta Api. Jadi, usulan saya, boleh buat jalan raya, tapi pedulikan juga Kereta Api.

    Posted by Fauzan R. Decade | 10 Juni 2010, 11:56 am
  46. awas aja klo benar2 terjadi ……
    mau nambah polusi apa ?
    PIKIR JEH !!!

    MAUNYA CCARI GARA-GARA !

    Posted by NN | 10 Juni 2010, 1:23 pm
  47. Dan satu lagi, boleh saja kendaraan lain ada, tapi Kereta Api juga patut diperhatikan

    Posted by Fauzan R. Decade | 10 Juni 2010, 1:37 pm
  48. CUY JANGAN BERANTEM AJA, INI TEMPAT ORANG

    Posted by Anymous | 10 Juni 2010, 10:33 pm
  49. Tahukah anda apa kata Papa saya, bahwa seharusnya setiap negara apalagi yang kepulauan itu memajukan perkeretaapian, penerbangan, dan pelayarannya. Bukan Jalan Raya-nya.

    Posted by Pembela Transportasi yang Lebih Baik | 11 Juni 2010, 7:10 am
  50. @Hamba ALLAH: Baca nggak tulisan2 di atas? Omonganmu itu terkesan mengalihkan masalah.
    @eko di nunukan: Tol penting tapi rel juga penting. Apa itu gak lebih radikal?
    @Yudi Setyawan dan om om: Pake otak kalo ngomong.

    For Dahlan Iskan & the Gang: JANCOOOK KON, UUUASUUUU!!!!

    Posted by Ahmad Sujiwo Rahardy | 12 Juni 2010, 6:09 pm
    • Jangan omong kasar bro…mau ngangkut cabe dari daerah ke kota : dari sawah angkut ke truk, ke stasiun dibongkar/nunggu kereta..sampai kota cabenya kira-kira busuk ga? lalu cabe jadi mahal lagi dong. baru cabe aja yang mahal situ ngamuk lagi ….

      Posted by Lintas Perubahan | 11 November 2011, 10:10 pm
  51. Dirut PLN mau ngurusi jalan. Urus tuh listrik yang masih byar pet.

    Posted by Ahmad Sujiwo Rahardy | 12 Juni 2010, 6:11 pm
  52. hahahaha
    saya lucu liat postingan dsn 🙂
    ada yang sumpah serapah, ada yang mendukung..
    dahlan iskan jg manusia, saudaraku. tidak sempurna dengan keterbatasan informasi dan pertimbangan yang mngkn memang ada yang lebih jago di bidang pertrasnportasian yang komen dsn .toh ini sekedar catatan dia. keluhan dan impian dia yang jg sebagai masyarakat. apakah dia pengambil keputusan dalam hal ini? tidak. apakah dia berkompeten dalam transortasi? tidak. jadi ngapain di ributin, pake di debat dengan ber api2. bukannya semua orang di negeri ini berhak untuk berpendapat???

    Posted by adi widoyook | 14 Juni 2010, 10:50 am
  53. Beginilah kalau persoalan itu hanya dilihat dari satu sisi. Negara2 maju spt AS itu bukan hanya menambah dan memperpanjang jalan tol tapi juga mereka tiap tahunnya meningkatkan pelayanan transportasi massal seperti kereta, Jepang juga demikian. Tidak tepat mempertentangkan jalan tol dan kereta karena fungsi yang berbeda – beda. Selain itu juga, untuk masyarakat kita yang masih lebih banyak masyarakat kelas bawah, tentunya pembangunan jalan tol lagi -lagi HANYA dinikmati oleh pemilik modal sementara masyarakat kelas bawah lagi – lagi GIGIT JARI padahal jarinya sudah mau habis karena sering digigit 😀

    Posted by vhirgo | 14 Juni 2010, 3:19 pm
  54. he he he seru banget ya ….kalo di Indonesia beda pendapat bisa jadi ribut kayak gini ….jiwa rusuhnya selalu menonjol ….

    Posted by sapeke | 15 Juni 2010, 1:17 pm
  55. ah kata siapa klo jalan tol bikin petani untung, justru sebaliknya!
    bukannye ngurusin listrik malah ngurusin beginian

    Posted by ahmad rf sejati | 30 Juni 2010, 5:20 pm
  56. saya dukung jalan tol trans jawa. tapi saya juga tidak setuju rel ka dihapus. sebenarnya tulisan pak di ini tidak bakalan memicu konflik seandainya beliau tidak mewacanakan penghapusan rel.

    tetap saja diseluruh dunia persentase jalan (termasuk tol) lebih banyak dari rel ka. amerika saja punya lebih dari 1 juta km panjangnya. tapi apakah mereka dengan sertamerta menutup 250 ribu rel ka yang ada disana? padahal kurang apa amerika, negara yang sangat bebas dan liberal disegala bidang, termasuk transportasinya masih menganggap ka itu penting.

    Posted by plat kopling | 1 Juli 2010, 11:05 am
  57. jalan tol dan rel kereta api berbeda pak.
    ada keunggulannya masing2.
    saya kurang setuju.

    Posted by beryDS | 6 Juli 2010, 6:46 pm
  58. Seenaknya aja rel KA dijadiin jalan tol, drpd bangun jalan tol, mending revitalisasi kereta api. Karena kereta api ini paling ramah lingkungan, dengan rasio penggunaan bahan bakar perkapitanya paling rendah. Klo bangun jalan tol, udah nambah beban negara(lewat subsidi BBM, yg paling banyak nyedotnya orang kaya), memperparah tingkat polusi udara juga

    Posted by Cah gemblung | 9 Juli 2010, 10:51 pm
  59. herann..,posting 2004 nanggepinya 2010…, kemane aje ente para komentatorr di 2004…??

    Posted by nopan | 12 Juli 2010, 5:32 pm
  60. Jangan jadi orang munafik! Bukannya rasis, tapi memang sudah seharusnya kita mengadopsi sesuatu yang lebih baik. Betul?
    Ide pak dahlan itu ketika berada di tiongkok. Anda tau tiongkok atau cina? Tentunya anda tau bagaimana semangat dan kerja kerasnya untuk jadi sukses.
    Contoh:
    Nyang punya Bank BCA orang mana? Anda punya atm bca?
    Nyang punya toko2 elektronik,grosir2 org mana?
    Nyang punya pabrik rokok sampoerna,gudang garam org mana?
    Nyang megang hak distribusi motor,mobil org mana?
    Nyang punya pt/cv. Slaku pemborong perbaikan rel kreta api org mana?

    Wahai saudara2ku, pola pikir cerdas dan kerja keras nyata lebih bijaksana dari pada hanya bisa ngasi KRITIk tanpa bisa ngasi solusi nyata.

    Terima kasih.

    Posted by lempeng | 15 Juli 2010, 4:51 am
  61. @lempeng,
    siapa yang rasis? Selain mbikin jalan tol, Tiong Koq juga mbikin rel KA secara ekstensif.

    Posted by Ahmad Sujiwo Rahardy | 15 Juli 2010, 3:58 pm
  62. Kalo smua dibkin jalan tol sawah akan habis,negara kita tidak akan hijau lagi panas menunggu pak dahlan,kalo pa dahlan mungkin enak di ac terus,tapi rakyat kecil ???????????? sengsara

    Posted by ngarep | 23 Juli 2010, 1:26 pm
  63. Maaf sebelumnya..bukannya mau membela siapa atau apa..
    Saya juga seorang railfans, say setuju dengan mas tito power dari segi penghematan bahan bakar..saya setuju juga dengan pendapat kalo semua itu saling mengisi, komplementer, bukan subtitusi..

    Jika memang benar ini tulisan dari dahlan iskan, kita lihat background beliau sebagai seorang jurnalis, yang biasa menulis sebuah tulisan yang kadang2 memancing kontroversi dan pertentangan. Mungkin beliau cuma melihat dari salah satu aspek saja, sehingga kesannya sepihak.

    Kita sebagai warga negara biasa, mungkin hanya bisa dapat memberikan kritik atau saran, toh yang mengambil keputusan pastinya petinggi2 di negara ini. Pasti mereka juga sudah memikirkan aspek2 yang sudah temen2 tulis diatas. So jangan khawatir kawan2. Daripada kita terlalu mengkritik sebuah tulisan, mendingan kita bantu instansi seperti PT. KAI untuk meningkatkan kinerjanya. Kinerja mereka juga tergantung kita lho, kalo kita naek kereta ga bayar, PT.KAI merugi dan pastinya kinerjanya dianggap ga bener.

    Salam Railfans..

    Posted by phadeen | 27 Juli 2010, 3:13 pm
  64. saya merasa geli melihat komentator-komentator diatas yg berfikiran sempit.
    jalan tol itu dibangun di kalimantan, disana yg ada hutan, bukan pondok pesantren. jadi pembebasan lahan bukan perkara yg besar. kota mati karena jalan tol itu bisa diantisipasi. kalo soal polusi dan penghematan bbm, yang dikendalikan adalah jumlah kendaraan yg beredar, bukan akses jalannya, bukan bbm nya, apalagi moda transportasi. rel kereta, di jawa sekalipun memiliki kelemahan signifikan yaitu (1) hanya satu jenis moda transportasi yg bisa menggunakannya, kereta. sekarang mana ada penduduk yg memiliki kereta api & stasiun sendiri. (2) sudah gitu, lewatnya pada jam-jam tertentu, masyarakat kalo mo make kudu ke stasiun dan pada jam-jam tertentu pula. ini kan membatasi waktu akses. (3) memang, kereta bisa mass transport. tapi ga fleksibel. untuk ke tempat tujuan harus ganti moda transpor karena sudah jelas ga ada dan ga bisa seenaknya parkir di tempat parkir mana saja.
    Beda dengan jalan raya ataupun jalan tol, moda transpor yg dimiliki kebanyakan masyarakat bisa mengaksesnya dan masyarakat ga perlu repot ganti-ganti kendaraan. kendaraan dapat langsung menuju tempat tujuan. masyarakat yg punya kendaraan bisa sesuka hati kapan saja berpergian.
    Inti bacaan diatas adalah sisi plus dari jalan raya untuk kontribusi pertumbuhan kesejahteraan. Bukan perkara jalan tol itu sendiri.

    Posted by muhara | 14 September 2010, 8:02 pm
  65. @muhara,
    ooo, begitu? Apa dikira rel tidak bisa dibangun jalur baru untuk mencegah infleksibilitas? Anda bisa ngomong begitu kan cuma dari sudut pandang pengguna transportasi, bukan ahli transportasi? Pembangunan jalan tol harus pula dibarengi KA, bukan salah satu saling menghancurkan. Kalo yang dibangun cuma tol, mau seberapa panjang juga tidak bakal bisa mengatasi kemacetan karena memacu pertambahan kendaraan pribadi. Coba baca tulisan di KOMPAS rubrik Fokus besok tentang masalah KA Indonesia dan transportasi massal.

    Ada info menarik. Pada bulan Agustus kemaren, terjadi kemacetan di Jalan Raya Beijing-Tibet yang memakan waktu lebih dari seminggu. Pak DI mungkin pendek cara berpikirnya. Lihat aja jalan tol di Tiongkoq yang dia bangga2kan itu ternyata tidak bisa memecahkan solusi macet. Jadi, memang benar masyarakat bisa sesuka hati make kendaraan pribadi ke mana saja, tapi siap2lah macet kalo gak dikekang.

    Posted by Ahmad Sujiwo Rahardy | 21 Oktober 2010, 4:39 pm
    • anda juga berpikiran sempit. jadi jangan saling menghujat. Truk barang pake TOL. Pergi sekolah dan kerja juga gak mungkin 100% pake kereta.
      Antara kereta dan tol ada kelebihan dan kekurangan masing masing.
      orang yang buru buru pasti pilih lewat tol daripada nunggu kereta.
      Anda bisa ngomong begitu kan cuma dari sudut pandang pengguna kereta. setelah keluar dari kereta juga pasti butuh transportasi lain.

      Posted by aji | 18 Januari 2011, 9:18 pm
    • skala prioritas ahmad. gak mungkin APBN kita sanggup membiayai keduanya sekaligus. kalaupun dipaksakan hasilnya setengah2. dan ini tidak baik bagi kesehatan…he.he..

      Posted by lukman | 5 Januari 2012, 5:38 am
  66. ini tulisan DI 6 tahun lalu sewaktu ybs masih di JP. skrg selah jd dirut.pln katanya bbrp jabatan di prshn dia tinggalkan biar lebih fokus di pln kali. ato paling tidak sesuai dngn keinginannya jika hidup keduanya behasil mo berbuat yg bnyk bermanfaat bagi banyak khalayak. Saya sendiri suka baca2 tulisannya DI dan banyak belajar dari tulisannya. Harapannya setelah jadi dirut PLN bisa membawa perubahan yang lebih baik. Agar BUMN ini juga bagus secara institusi dan dinikmati hasil kerjanya oleh masyarakat indonesia. Bukan hanya karyawan ato pejabat-pejabatnya PLN. makanya saya ikutin tulisan2 DI setelah jadi Dirut PLN. Mungkin ini salah satu model reportase ato laporan rutin dirut BUMN terhadap rakyat Indonesia. Jadi banyak rakyat tahu yang dikerjakan Dirut2 BUMN. Bisa kelihatan kerja ato tidak, dan ini bisa diikutin oleh pimpinan BUMN lainnya sehingga kejadian Presiden marah2 sama direktur telkomsel tidak terulang lagi gara2 ga pernah cek ke lapangan.
    Kalo ada reportase ato laporannya yang semacam Dirut PLN skrg paling tidak kita tahu apa yang dia kerjakan dan apa yang dia fikirkan sekalipun ada keterbatasannya.
    Berkaitan dengan sepur dan tol ato PT,KAI dan PT, Jasa Marga yang masing milik pemerintah sudah saling mengisi tuh klo untuk proyek tol banyak mengambil lahan rakyat dengan memaksa maka rakyat juga dah banyak yang mengambil tanah PJKA alias PT,KAI dengan sengaja. Intinya klo mo nerusin PT.KAI harus dibuat kereta api yg bagus dengan loko2 yg super canggih dan hemat bahan bakar serta ramah lingkungan. Gerbong nya jangan kumuh apalagi toiletnya. stasiunnya juga dirawat termasuk MCK-nya.segera buat double track biar mengurangi kemungkinan tabrakan buat pintu otomatis di setiap perlintasan dngn jalan. Hidupkan jalur kereta yang sudah mati termasuk stasiunnya. jangan lupa asetnya dijaga. krn banyak aset tanah terutama yang terbengkalai yang bisa diakali oleh petinggi PT.KAI untuk dijual belikan. Dan Buat Harga karcis pantas biar bisa untung tapi terjangkau oleh masyarakat. Oiya bersihkan preman jg baik yg berseragam maupun yg urakan. tata pedagang asongannya juga biar ga ngributin termasuk pengamennya.Klo mo proyek tol yg diterusin ya buat kendaraan yang supercanggih yg Bahan bakarnya murah dan ramah lingkungan dan kurangi kepemilikan kendaraan pribadi tapi untuk bus diperbanyak. seperti busway. dan untuk yang jarak jauh tata lagi itu damri. itu pendapat saya.
    Jadi Buat yang di PT.KAI dan Jasa Marga apa Bina Marga ya ini masukan buat anda. Utamanya para Generasi Eksmud-nya Tunjukan kalian memang layak dan pantas untuk duduk disitu dan membawa perusahaan lebih baik dan membuat Indonesia Lebih sejahtera, kalo buat Dahlan Iskan kita pantau kinerjanya lewat tulisannya di JP. Moga aja tidak mengecewakan setelah diserahi amanah Dirut PLN. Serta tidak Seperti harapan kita kepada pemimpin2 kita baik yang dikantor kerja maupun di pemerintahan yang kita kenal di awang-awang atau imajinasi kita tapi setelah bekerja tidak sesuai dengan harapan kita. Moga aja masih ada harapan Indonesia menjadi lebih baik. Terimakasih. Salam untuk semuanya

    Posted by Nur Muhis | 26 Desember 2010, 6:04 pm
  67. ini banyak yang protes pasti yang kerjanya di ka, saya tahu persis
    padahal itu semua cuma pandangan dan tidak m ungkin akan dilaksanakan.
    jangan kwatir para kerja di ka.

    Posted by Sarjito | 27 Desember 2010, 1:43 pm
  68. ikutan ngomeng sambil numpang baca ah….
    baca-baca komentarnya juga,buat nambah-nambah pengetahuan 😀
    STOP KORUPSI dan SUAP di Indonesia

    Posted by jangkrik | 29 Desember 2010, 6:37 am
  69. Baru komentar sekarang…. pake protes2 n maki2 gk jelas.. di direktur PLN terbaik yg pernah di miliki Indonesia… Ente2 bisa pake komputer mungkin karna jasa beliau, yg sdh meperbaiki setrum yg byar pet… bedakan PLN sekarang dengan PLN yg dulu.. mana yang terbaik…
    6tahun kemana aja kalian…?

    Posted by Bayu Ramadhan | 13 Januari 2011, 8:40 pm
  70. lha iya masih dalam bentuk ide saja sdh pada geger kayak gini ,ya resiko kemajuan,resiko minum obat,…emang ada kemakmuran tanpa usaha,…setidaknya pak dahlan dah ngebuktikan kwalitas usaha dan kerja kerasnya,sumbangsi terhadap sesama,…sedang kita,boro2 bayar pajak ,ada anjal dijalan saja cueknya amit amit,….

    Posted by yus w anto | 18 Januari 2011, 12:37 pm
  71. kemajuan suatu negara berbanding lurus dengan emisi CO2 yang dikeluarkan…
    belajarlah sampai negeri china…
    kayanya pak DIS sangat mengamalkan ungkapan diatas
    saya setuju2 aja…

    Posted by aqilmawan | 27 Juli 2011, 11:47 am
  72. waduh pak, ide yang briliant. salut

    Posted by Nur Ali Muchtar | 27 Desember 2011, 11:20 pm
  73. saya sudah membaca sebagian besar tulisan pak DI, saya kagum dan setuju dengan tulisan beliau tp untuk tulisan ttg jalan Tol vs Jalan KA api ini saya sampai berpikir beberapa kali sebelum akhirnya meragukan tulisan pak DI.
    Jalan Tol dan Jalan KA mempunyai kekhususan yg berbeda, tidak bisa jalan Tol ditandingkan dengan jalan KA ibarat menandingkan gajah sama kuda, keduanya tidak akan bisa bertanding, kuda mempunyai kecepatan sedangkan gajah menonjol pada kekuatan fisiknya.

    Posted by deepblue | 4 Januari 2012, 1:48 pm
    • ingat skala prioritas. dengan keterbatasan APBN gak bisa dibangun dua2nya sekaligus. kalau dipaksakan hasilnya setengah2 dan apa yang setengah2 tidak akan berhasil…

      Posted by lukman | 5 Januari 2012, 5:33 am
  74. wah…ide dari tahun 2004 akhirnya bisa terlaksana juga setelah beliau (Pak DIS) jadi mentri BUMN…semangat pak….

    think big act locally

    Posted by irmandumai | 30 Maret 2012, 8:27 pm
  75. Apa harus dengan menimbun jalur KA?
    Kayaknya nggak lah.
    Makin lama makin banyak pembenci KA.
    Padahal jangan dibenci, tapi didukung.
    Pada liat kulitnya aja sih, padahal di dalamnya banyak orang yang terbantu.
    Nah, kalo orang-orang yang di dalam KA mau pulang ke rumahnya, pasti dia juga menggunakan kendaraan roda karet.

    Intinya, dua-duanya juga berguna. Kalo salah satunya dihilangkan, berarti mendzalimi banyak orang, karena banyak orang yang terbantu dengan hal itu…
    Sekali lagi, jangan dibenci, tapi didukung! 😀

    Posted by CC 50 | 11 April 2012, 4:25 pm
  76. Iya, di sini DI agak aneh cara berpikirnya. Mosok rel KA akarta – Surabaya diganti jalan tol ? Rel KA itu paling lebarnya berapa meter? Apalagi yg single track. Masyarakat di sepanjang jalan tol juga tidak menikmati apa-apa. Sebaliknya, kehidupan di kota-kota yg dilalui rel KA juga hidup, lihat Cirebon, Jogja, Solo, dst. China selain membangun banyak jalan tol, juga agresif membangun rel KA, termasuk KA super cepat. Saya kira, tulisan di sini sangat mentah. Jalan tol dan rel KA harus sama2 banyak dibangun, masing-masing punya keunggulan, jangan saling meniadakan.

    Posted by oguds | 11 April 2012, 10:18 pm
  77. Tulisan2 DIS di blog ini kebanyakan cukup bagus, sayang sekali kalau dirusak dengan komentar2 idiot dan sok tahu.

    Posted by bukanLuqman | 8 November 2012, 4:23 pm
  78. 1 KA Super Babaranjang mampu menarik sebanyak 60 Gerbong KKBW berdaya angkut hingga 3000 ton dari Muara Enim Sumsel hingga Tarahan Lampung hanya dalam hitungan JAM, dalam sehari bisa lebih dari 10 Perjalanan KA Babaranjang. Bila isi muatan ini dipindahkan dengan Truck dengan rata-rata kapasitas angkut yg diijinkan di lintas sumatera adalah 10 Ton maka diperlukan setidaknya 300 truck. maka:
    – berapa polusi udara yg ditimbukan?
    – berapa banyak aspal yang terkelupas?
    – bayangin kemacetannya jika truck itu beriringan atau misah-misah?
    – berapa lama perjalanannya dari Enim ke Lampung untuk mengangkut hanya 3000ton?
    – dll silahkan lanjutkan sendiri 😛

    Posted by Bekasi Printing | 11 Mei 2013, 7:50 pm
  79. Ini bener Dahlan Iskan yang nulis essay nya?, Saya ragu2 kok Dahlan Iskan yang terkenal tegas pada yang salah itu bisa membuat opini yang kurang baik seperti ini

    Posted by Teguh | 22 Desember 2013, 2:59 pm
  80. Kelihatan nya memang tidak meyakinkan.

    Posted by sewa mobil jakarta | 7 Februari 2014, 10:15 am
  81. Mantap….

    Posted by gadabinausaha | 24 April 2014, 9:26 pm
  82. Struggle that you do today is the single way to build a better future

    Posted by ANNISA FARAHDINA | 8 Juli 2014, 8:59 am
  83. The future is that you achieve attainment of the actions that you do every day

    Posted by yanasuryana152@gmail.com | 15 Maret 2015, 10:15 pm

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: