>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan

Mampir ke Zhuhai, setelah Sebulan Belajar Putonghua di Tiongkok

21 Desember 2002
Mampir ke Zhuhai, setelah Sebulan Belajar Putonghua di Tiongkok
Wewenang Lebih Penting dari Uang

Pulang dari belajar bahasa mandarin (Putonghua) di Jiangxi Shi Fan University Nanchang, CEO Jawa Pos DAHLAN ISKAN mampir di kota Zhuhai. Dia sangat tertarik dengan kota ini. Berikut catatannya:

Inilah cara membangun kota yang modal utamanya bukan uang tapi ‘kemauan untuk membangun’. Setelah kemauan ada, lalu ditetapkanlah kebijaksanaan (policy) untuk melaksanakan kemauan itu. Setelah kebijaksanaannya digariskan, baru dicari caranya. Cara itulah yang menghasilkan dana untuk membangun kota Zhuhai yang beberapa tahun lalu masih seperti kampung kumuh, namun sekarang sudah hampir mendekati Singapura.

Sebenarnya ini untuk kedua kalinya saya ke Zhuhai. Tapi baru kali ini saya tahu latar belakangnya mengapa kota Zhuhai bisa membangun begitu cepat. Seperti juga kota-kota lain di Tiongkok, 15 tahun yang lalu Zhuhai hanyalah kota kecil yang jelek, kumuh dan miskin. Apalagi Zhuhai berada persis di seberang pulau Macao yang amat terkenal dengan perjudian dan pariwisatanya itu. Waktu itu, kelihatan betul betapa mencoloknya perbandingan antara Macao yang dikelola Portugal dengan Zhuhai yang dikelola pemerintahan komunis Tiongkok.

Tapi kini, dalam waktu yang begitu singkat, kota kecil yang miskin itu, Zhuhai, berubah total menjadi kota yang tertata, bersih, maju dan modern. Hari ini Zhuhai sudah mengalahkan Macao dari sudut apa pun: besarnya, banyaknya bangunan pencakar langit, bersihnya, hotel-hotelnya dan sebut saja apa lagi bidang yang harus diperbandingkan.

Ketika ke Zhuhai pertama kali awal tahun ini, saya tidak menyangka kota ini begitu berubah. Tapi, waktu itu, saya tidak bisa menulis tentang Zuhai karena tidak punya keterangan yang valid tentang kota itu. Yang bisa saya lakukan adalah menyeberang ke Macao dan ingin tahu apa beda Zuhai hari ini dengan Macao hari ini. Saya pernah ke Macao 15 tahunan yang lalu sehingga tahu agak banyak bagaimana perkembangan Macao. Karena itu saya juga ingin tahu bagaimana Macao setelah dikembalikan oelh Portugal kepada pemilik asalnya, Tiongkok.

Macao sendiri tentu juga berubah. Gedung pencakar langitnya lebih banyak. Bahkan kini ada jembatan yang amat panjang yang merangkai tiga pulau milik Macao menjadi satu untaian kepulauan. Kalau malam, jembatan ini menjadi lebih indah karena lampu-lampunya yang menghias sepanjang jembatan. Macao kini juga sudah punya lapangan terbang internasional.

Namun karena kali ini saya masuk Macao dari kota Zuhai (15 tahun lalu saya masuk Macao dari Hongkong dengan jalan naik jetfoil selama satu jam), kini saya bisa merasakan langsung beda Zuhai dan Macao. Sungguh terasa benar bedanya, bahwa Macao kini bukan apa-apanya lagi dibanding Zuhai. Apa pun yang ada di Macao (kecuali casino) kini sudah ada pula di Zuhai –bahkan dalam ukuran yang lebih besar.

Baru sepulang dari sekolah ini saya tahu bagaimana latar belakangnya sehingga Zuhai bisa berubah begitu cepat. Yakni ketika saya dapat kesempatan makan bersama Wakil Walikota Zuhai, Zhou Ben Hui. Saya kaget bahwa riwayat kebangkitan Zuhai yang begitu cepat dan pesat ternyata atas inisiatif tokoh-tokoh di Zuhai sendiri.

Waktu itu pemerintah pusat Tiongkok yang dipelopori oleh Si Orang Kecil yang berpikiran besar Deng Xiaoping, memang mulai menjalankan sistem perekonomian terbuka. Penduduk mulai boleh punya toko sendiri (sebelumnya, toko pun harus milik negara) dan boleh punya kekayaan sendiri. Seiring dengan itu daerah-daerah juga dirangsang untuk maju dengan inisiatifnya sendiri. Maka banyak sekali kota di Tiongkok yang tiba-tiba bangkit membangun dengan gegap gempita. Lalu menimbulkan persaingan antar kota, karena kota yang lain juga tidak ingin ketinggalan. Apalagi Deng Xiaoping selalu memuji kota-kota yang mengalami kemajuan sehingga kota lain pun juga ingin dapat pujian yang sama.

Maka kota Zuhai yang sebenarnya terlalu kecil dibandingkan dengan kota-kota lain, juga mengajukan keinginan untuk maju. Lalu saya bertanya kepada wakil walikota Zuhai yang berada di sebelah saya: berapa pemerintah pusat memberi dana untuk pembangunan yang menakjubkan itu.

Jawabnya sungguh mengejutkan. Pusat praktis tidak memberikan dana. Kalau toh ada hanya untuk memberikan semangat yang jumlahnya sungguh tidak berarti. Yakni 20 juta yen, atau sekitar Rp 20 miliar. Sedang dari pemerintah propinsi Guangdong juga tidak memberikan dana tambahan.

Memang bukan sekadar uang yang diinginkan kota Zuhai. Tapi wewenang. Yakni wewenang untuk membangun sendiri, mengundang investor, mengelola pendapatan dan seterusnya. Wewenang ternyata lebih penting dari uang, karena di balik wewenang ada tanggungjawab untuk bertanggungjawab atas wewenang yang diberikan padanya.

Wewenang itulah yang diberikan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah propinsi. Zuhai boleh mengundang investor sendiri dan memberikan izin sendiri. Lebih dari itu pemerintah pusat memberikan rangsangan pada Zuhai, selama lima tahun boleh tidah setor pajak ke propinsi maupun ke pusat. Segala bentuk pajak, semuanya boleh dikelola dan dipakai sendiri oleh Zuhai. Baru setelah lima tahun, pajak yang menjadi hak pusat harus diberikan ke pusat dan yang harus jadi hak propinsi diserahkan ke propinsi. Itu pun dengan menggunakan tahapan sesuai dengan perundingan, seberapa Zuhai sudah tidak memerlukan rangsangan itu. (Jatim kalau diberi hak seperti ini selama 5 tahun akan punya dana pembangunan sebesar sekitar Rp 100 triliun. Apalagi daerah seperti Kaltim, Riau dan sebagainya).

Pusat tentu punya pertimbangan sendiri untuk memberikan wewenang seperti itu. Yakni, karena letak Zuhai yang berada persis di seberang Macao yang kala itu sangat modern. Tentu kalau Zuhai bisa dibangun lebih hebat dari Macao maka secara politis akan sangat berarti. Ini akan mirip dengan Shenzhen yang berada di seberang Hongkong.

Pemberian otonomi, kalau bisa jatuh kepada orang yang tepat, sebenarnya bisa menghasilkan kemajuan yang hebat. Zuhai adalah contoh pemberian wewenang yang jelas tapi juga jatuh kepada orang yang tepat. Untuk kecermatan memilih orang yang tepat itulah pusat ikut menentukan. Memang pemilihan pimpinan kota di situ dilakukan oleh DPRD setempat, namun karena terjadi mayoritas mutlak maka pimpinan partai akan sangat menentukan di balik pemilihan itu. Padahal pimpinan partai punya disiplin berjenjang yang ketat sampai di pusat. Maka pusat maupun propinsi mengendalikan wewenang tersebut melalui mekanisme partai.

Maka untuk pemilihan pimpinan kota, biasanya sudah akan diketahui jauh-jauh hari siapa yang dapat “restu”. Bisa saja dia berasal dari kota setempat tapi juga bisa dari kota lain. Yang jelas, calon pimpinan kota yang mendapat “restu” tersebut haruslah orang yang sudah pernah menunjukkan prestasinya.

Dengan demikian maka pemberian wewenang yang begitu besar tidak akan jatuh kepada orang yang hanya mengandalkan punya massa besar tapi sebenarnya tidak akan mampu mengelola wewenang tersebut demi kemajuan kotanya. (*)

Iklan

Diskusi

8 thoughts on “Mampir ke Zhuhai, setelah Sebulan Belajar Putonghua di Tiongkok

  1. Kepada yth
    Redaksi Harian Jawa Pos
    Dengan hormat
    dengan ini kami ingin menanyakan tentang penggunaan istilah “Republik Rakyat Tiongkok” di dalam setiap pemberitaan di harian Jawa Pos.Mengapa tidak mempergunakan istilah ” Republik Rakyat China”, karena secara resmi pemerintahan China mempergunakan istilah “People Republic of China” di dalam komunitas internasional. Demikian pertanyaan dari kami, dan atas jawaban yang diberikan, kami ucapkan banyak terima kasih.

    Salam
    Subiantoro

    Posted by Subiantoro | 7 Juli 2008, 2:33 pm
  2. begitu indah bagaikan bayi yg baru tahu keadaan suasana di jagat raya. kota yg dulunya mati kini hidup

    Posted by arif | 20 November 2011, 10:47 am
  3. SIP SIP SIP…

    Posted by Sakinul Wadi | 3 Mei 2012, 2:42 pm
  4. Dimulai dari sini target seminggu semua catatan DaIs khatam terbaca….

    Posted by Lando Jr | 13 September 2012, 1:46 pm
  5. dimulai 21 Des 2002….adalagi gak yg lebih tua tulisannya dari ini???
    ####maniac-nih…..

    Posted by bewe+em | 26 November 2012, 9:57 am
  6. Waw. Mungkin inilah, pelajaran dari mengamati kota zuhai, yang membuat gaya kepemimpinan bapak begitu terbuka, itulah mengapa waktu jadi menteri Anda tidak pernah menginterfensi salah satu dirut Anda. Pemberian otonomi, kalau bisa jatuh kepada orang yang tepat, sebenarnya bisa menghasilkan kemajuan yang hebat. Saya kira kalimat Abah ini sangat tepat. 🙂

    Posted by Tips Bisnis dan review buku | 5 September 2015, 2:34 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Mata Air - 25 Februari 2011

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: