<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Dahlan Iskan &#187; Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver</title>
	<atom:link href="http://dahlaniskan.wordpress.com/category/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dahlaniskan.wordpress.com</link>
	<description>dahlaniskan.wordpress.com</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 May 2013 10:19:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dahlaniskan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/1100d3e78131c3b46a91150a3fc92756?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Catatan Dahlan Iskan &#187; Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dahlaniskan.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan Dahlan Iskan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dahlaniskan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hari Ini Tepat Satu Tahun Ganti Hati</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com/2008/08/06/hari-ini-tepat-satu-tahun-ganti-hati/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.wordpress.com/2008/08/06/hari-ini-tepat-satu-tahun-ganti-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 00:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Dahlan Iskan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 06 Agustus 2008 Hari Ini Tepat Satu Tahun Ganti Hati Catatan Dahlan Iskan Sering Berdebar, Jauhi Pedas Bhut Jokolia India Hari ini, tepat setahun yang lalu, saya menjalani operasi ganti hati. Hari ini, pukul 10.00, tepat setahun yang lalu, saya diberi pakaian warna biru pertanda saya sudah harus disiapkan untuk memasuki ruang operasi yang &#8230; <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2008/08/06/hari-ini-tepat-satu-tahun-ganti-hati/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=127&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu, 06 Agustus 2008<br />
<strong>Hari Ini Tepat Satu Tahun Ganti Hati</strong><br />
Catatan Dahlan Iskan</p>
<p><strong>Sering Berdebar, Jauhi Pedas Bhut Jokolia India</strong></p>
<p><a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/08/26/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-1/" target="_blank">Hari ini, tepat setahun yang lalu, saya menjalani operasi ganti hati</a>. Hari ini, pukul 10.00, tepat setahun yang lalu, saya diberi pakaian warna biru pertanda saya sudah harus disiapkan untuk memasuki ruang operasi yang sangat menentukan apakah saya akan hidup atau mati.</p>
<p><span id="more-127"></span></p>
<p>Hari ini, tanpa perencanaan yang matang, saya harus terbang dari New Delhi ke Kashmir. Tentu bersama Robert Lai yang tepat setahun lalu ikut mengantarkan saya masuk ruang operasi. Robert Lai, teman warga Singapura itu, sebenarnya menentang saya pergi ke Kashmir. Sebab, sejak tiga hari yang lalu, kerusuhan antaretnis dan juga SARA meletus lagi di sana. Tapi, saya harus ke Kashmir untuk urusan yang tidak bisa ditunda. Memang belum tentu akhirnya saya bisa terbang ke Kashmir. Saya masih harus menunggu perkembangan sampai pagi hari ini. Tadi malam, sebagaimana bisa disaksikan di breaking news televisi CNN, kerusuhan meluas di Kashmir. Kalau tiga hari ini meletus hanya di wilayah Jammu, kemarin berkembang ke Shrinagar. Kalau keadaan tetap genting seperti itu, belum tentu pagi ini saya bisa mendarat di Shrinagar. Mulai kemarin sore bandara ditutup dan angkutan umum di Shrinagar dilarang beroperasi. Maka, pagi-pagi ini saya harus pergi ke Bandara New Delhi sambil menunggu perkembangan terakhir pagi ini.</p>
<p>Negara Bagian Kashmir memang bagian yang paling bergolak di India dari waktu ke waktu. Sudah puluhan tahun seperti itu. Shrinagar adalah ibu kota Negara Bagian Kashmir, tapi hanya untuk sembilan bulan. Pada waktu musim dingin atau salju, ibu kota pindah ke Jammu. Begitulah setiap tahun, ibu kotanya boyongan rame-rame.</p>
<p>Beberapa hari ini saya memang berada di India. Saya harus melakukan perjalanan mulai dari Kota Madras, New Delhi, Kashmir, Gujarat, Bombay, dan Bangalore. Itu berarti perjalanan keliling India yang besar itu mulai dari selatan, utara, timur, dan barat. Di samping urusan perusahaan, saya ingin tahu perkembangan India yang belakangan terus diunggul-unggulkan sebagai kisah sukses menyusul sukses yang diraih Tiongkok. Lantaran perkembangannya begitu fenomenal, dua negara dengan pertumbuhan tinggi itu sering disingkat dengan Chindia yang berarti China-India.</p>
<p>Bagaimanakah rasanya bisa melewatkan masa kritis setahun pertama setelah ganti hati?</p>
<p>Memang, untuk mencapai genap satu tahun itu, saya harus berjuang keras mempertahankan hati baru saya. Karena itu, semakin dekat genap masa satu tahun semakin berdebar-debar. Bisakah beberapa hari yang tersisa itu saya lewati dengan mulus?</p>
<p>Sejak seminggu yang lalu, rasa berdebar itu lebih keras daripada biasanya. Saya yang seumur hidup tidak pernah berulang tahun seperti merasa menunggu sesuatu yang patut diulangtahuni. Yakni ulang tahun genap satu tahun ganti hati. Saya menanti datangnya tanggal 6 Agustus seperti seseorang yang sedang memimpikan acara ulang tahun. Sampai-sampai di beberapa kesempatan, saya sering bicara kepada orang banyak bahwa &#8220;seminggu lagi genap satu tahun ganti hati&#8221;. Demikian juga ketika tiga hari menjelang tanggal 6 Agustus itu saya diminta ikut rekaman acara Kick Andy lagi, saya mengatakan bahwa &#8220;tiga hari lagi saya genap satu tahun menjalani transplantasi hati&#8221;.</p>
<p>Bahkan, saya sering minta doa restu agar dalam beberapa hari menjelang &#8220;ulang tahun&#8221; ini saya tidak terkena flu atau sakit perut. &#8220;Saya sudah berhasil mempertahankan diri untuk tidak flu selama hampir satu tahun. Jangan sampai di hari-hari terakhir ini saya terkena flu,&#8221; kata saya di berbagai acara yang saya hadiri, termasuk di Kick Andy di Metro TV.</p>
<p>Alhamdulillah, sampai tadi malam, tepat setahun setelah ganti hati, saya belum pernah terkena flu. Saya memang dipesani agar dalam setahun setelah ganti hati tidak sampai terkena flu atau sakit perut. Kalau sampai kena dua penyakit tersebut, bisa-bisa itu pertanda bahwa ganti hati saya gagal. Karena itu, saya menjaga diri dengan amat keras untuk menghindari flu dan sakit perut.</p>
<p>Dua hari terakhir menjelang satu tahun itu, tantangannya lebih besar. Bukan saja saya harus ke India yang lagi musim hujan, tapi juga harus menghadapi makanan India yang serbapedas. Bukankah lombok paling pedas di dunia ada di India? Nama lombok itu Bhut Jokolia yang artinya lombok setan. Pedasnya sampai 1.080.000 SHU. SHU adalah satuan pedas, sebagaimana Celsius untuk temperatur. Di Indonesia, lombok yang paling pedas hanya 300.000 SHU.</p>
<p>Maka, selama di India saya harus hati-hati. Paling-paling saya hanya makan kare ayam. Atau ayam kare. Atau kare dan ayam. Mulai besok, karena sudah lewat satu tahun, baru saya akan mencoba makanan India yang lain pelan-pelan.</p>
<p>Ketika dalam perjalanan ke Metro TV pun, saya sudah waswas. Hujan lebat melanda Jakarta. Saya sangat khawatir itu akan membuat saya flu. Ternyata, saya bisa menghindari hujan berkat mobilnya bisa langsung masuk ke studio. Malam itu, saya dijemput satu keluarga di bandara Jakarta untuk diantar ke studio dan setelah acara selesai diantar kembali ke bandara untuk terus ke India. Keluarga itu punya masalah dengan anak lelakinya yang terkena sakit liver. Berbagai dokter sudah didatangi, termasuk selama sebulan di Singapura. Karena sakitnya tidak beres, keluarga itu ngotot ingin bertemu saya. Tapi, waktu saya ya hanya antara bandara-Metro TV-bandara. Di sepanjang perjalanan itulah kami mengobrol tentang penyakit anaknya. Lalu, kami sepakat untuk pergi bersama-sama mencari jalan keluar yang lebih tepat dua minggu lagi.</p>
<p>Malam itu program Kick Andy mengundang orang-orang yang merasa terinspirasi setelah menonton program tersebut. Salah seorang di antaranya merasa terinspirasi sesudah menonton topik Ganti Hati yang menampilkan saya beberapa bulan lalu. Namanya Ayu dari Malang. Dia sudah tiga kali mencoba bunuh diri karena merasa tidak mampu keluar dari kemelut hidupnya. Antara lain hamil di luar nikah. Bahkan, dia bertekad akan bunuh diri sampai berhasil. Tapi, setelah menonton penayangan &#8220;ganti hati&#8221;, dia urungkan niat bunuh diri itu. Dia justru menyatakan akan mendonorkan bagian mana saja dari tubuhnya yang diperlukan orang lain. &#8220;Hidup ternyata tidak pernah sia-sia,&#8221; kata ayu. Saya tidak tahu kapan rekaman itu akan ditayangkan. Sebab, sebelum rekaman selesai, saya sudah harus kembali ke bandara untuk langsung ke India.</p>
<p>Memang, selama setahun ini, banyak sekali orang yang bertanya mengenai berbagai penyakit kepada saya.</p>
<p>Tentu selalu saya tegaskan bahwa saya ini bukan dokter. Tapi, mereka minta saya ikut membantu saran. Maka, tiada hari tanpa telepon atau SMS dari orang yang memerlukan pemikiran seperti itu. Beberapa di antaranya langsung minta diantarkan menjalani operasi. Sebagian sudah pada pulang. Dua orang di antaranya kini lagi di Tianjin menunggu pulang. Operasinya sudah berhasil.</p>
<p>Sebenarnya, saya akan melewatkan satu tahun ganti hati di Tiongkok. Di samping check up satu tahunan, juga menonton pembukaan Olimpiade. Ternyata, saya harus ke India sehingga tepat tanggal 6 Agustus saya berada di belahan utara India. Mudah-mudahan pagi ini kerusuhan mereda dan bandara tetap dibuka. Kalau tidak, saya akan langsung saja terbang ke Gujarat.</p>
<p>Kini saya memang lagi menulis buku yang akan saya beri judul Hati Baru. Inilah buku yang akan berkisah tentang bagaimana saya merawat dan menjaga hati baru saya selama satu tahun penuh sehingga bisa melewati tahun pertama yang amat menentukan gagal atau tidaknya ganti hati ini. Di buku itu juga akan saya ceritakan kesalahan apa saja yang pernah saya lakukan selama satu tahun ini. Sebenarnya, saya ingin bulan ini buku itu terbit. Tapi, kesibukan yang padat membuatnya tertunda. Sampai hari ini, baru selesai separonya. Mungkin baru bulan depan bisa hadir ke publik. (*)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dahlaniskan.wordpress.com/127/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dahlaniskan.wordpress.com/127/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dahlaniskan.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dahlaniskan.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=127&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.wordpress.com/2008/08/06/hari-ini-tepat-satu-tahun-ganti-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup)</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/26/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-32-habis/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/26/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-32-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Sep 2007 00:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[September 26, 2007 Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup) Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (32-Habis) Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan! Setelah &#8230; <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/26/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-32-habis/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=36&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>September 26, 2007<br />
<strong>Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup)</strong></p>
<p><strong>Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (32-Habis)</strong></p>
<p>Oleh:<br />
Dahlan Iskan<br />
iskan@jawapos.co.id</p>
<p>ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan!</p>
<p>Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates, teman di Batam yang lahir di Padang itu, saya jadi merasa bersalah. Ternyata, saya kurang pandai menjelaskan bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras, tapi karena saya terkena virus hepatitis B. Memang, setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian kanker, sebaiknya tidak kerja keras lagi. Tapi, itu bukan berarti akan menyembuhkan sakitnya, melainkan memperlambat saja perkembangannya.<br />
<span id="more-36"></span></p>
<p>Tentu memperlambat juga amat baik. Hanya, saya tidak memilih itu karena saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat, daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke teman-teman dengan istilah: intensifikasi umur.</p>
<p>Tentu kalau masih ada pilihan lain, saya akan memilih yang terbaik. Misalnya, ya berumur panjang, ya bermanfaat.</p>
<p>Tentu, saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini banyak orang takut bekerja keras. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih.</p>
<p>Kalau saya akan dijadikan contoh jelek, jangan dikaitkan dengan kerja keras, melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. Misalnya, jangan sampai terkena virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan!</p>
<p>***</p>
<p>Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok hebat. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya.</p>
<p>Kepada para dokter itu, saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat. Belajar manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. Manajemen dan pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita, secara umum, lebih baik. Terutama yang swasta. Memang, belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang lebih modern, tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura, bahkan di Malaysia sekalipun. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap itu. Ini karena, meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern, carry over problems masih terbawa. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja berubah.</p>
<p>Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya menilai belum. Tapi, petugas menilai &#8220;sudah amat bersih&#8221;. Saya bisa memahami itu karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya sekalipun.</p>
<p>Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar belakang ekonominya. Biasanya, saya hanya memberikan contoh dengan cara mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. Lama-lama standar kebersihannya berubah. Tapi, memang perlu waktu dan kesabaran.</p>
<p>Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan semangat untuk majunya. Karena mereka sangat unggul di situ, saya yakin tidak lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura, lebih cepat daripada waktu yang kita perlukan.</p>
<p>Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya rumah sakit swasta. Sampai sekarang, semua rumah sakit masih milik pemerintah. Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada dokter praktik di sana. Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit.</p>
<p>***</p>
<p>Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya, itu sudah meliputi semua pengeluaran. Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran saya. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang.</p>
<p>Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun, saya akan jual kalau harus melakukan transplantasi ini. Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu sakit: Menjual apa pun, termasuk alat-alat tukang kayunya, dan satu-satunya. Kalau waktu itu tidak menjual rumah, itu karena tidak akan ada orang yang mau membeli rumah lantai tanah di pelosok desa.</p>
<p>Dari seluruh pengeluaran, yang terbanyak adalah untuk pendukungnya. Misalnya, transportasi lokal, akomodasi, dan konsumsi saya sekeluarga, wira-wiri saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok, dan sebagainya. Biaya itu juga sudah termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005.</p>
<p>Jadi, biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan. Misalnya, membatasi keluarga yang harus wira-wiri. Di Tiongkok juga jangan tinggal di hotel, tapi cari apartemen murah saja. Itu pun sewa saja. Misalnya, sewa enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan).</p>
<p>Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya. Naik kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). Makan dengan masak sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. Satu orang dan yang lain tidak akan sama. Kalau semua biaya itu ditotal, untuk kasus saya ini, biaya operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya.</p>
<p>***</p>
<p>Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. Tapi, juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. Imunisasi yang sekali suntik Rp 70.000 memang mahal. Tapi, apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini?</p>
<p>Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal.</p>
<p>Kebetulan, saya tidak gagal. Dan lagi, saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. Atau sekadar hobi. Mainannya ya kerja keras itu. Seperti Pak Moh. Barmen, tokoh olahraga di Surabaya. Mainannya ya mengurus sepak bola itu.</p>
<p>Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia -dan kekayaan hanya datang membuntutinya.</p>
<p>***</p>
<p>Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru, tapi juga dengan tanda baru di kulit perut saya. Yakni, tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz), bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. Boleh juga dibilang sayatan dari satu titik di tengah ke tiga arah. Tapi, simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak sempurna. Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun. Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Jelek wujudnya, tetap mahal citranya.</p>
<p>Kini saya punya dua Mercy. Yang satu, yang di rumah, adalah Mercy seri 500 keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar. Satunya lagi &#8220;Mercy&#8221; di kulit perut saya. Jelek, tidak tahu seri berapa, tapi kira-kira sama harganya. (TAMAT)</p>
<p>Tulisan bersambung Pengalaman Pribadi Dahlan Iskan Ganti Liver berakhir hari ini pada seri ke-32. Mulai besok disambung dengan Hati Baru Menjawab. Dahlan Iskan akan menjawab e-mail dan SMS dari pembaca.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dahlaniskan.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dahlaniskan.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dahlaniskan.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dahlaniskan.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=36&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/26/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-32-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setelah Transplantasi, Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/25/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-31-2/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/25/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-31-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 00:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[September 25, 2007 Setelah Transplantasi, Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (31) Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id UMUR berapakah saya sekarang? Tepatnya saya tidak tahu. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini. Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. Ditulis dengan kapur &#8230; <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/25/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-31-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=37&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>September 25, 2007<br />
<strong>Setelah Transplantasi, Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya</strong></p>
<p><strong>Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (31)</strong></p>
<p>Oleh:<br />
Dahlan Iskan<br />
iskan@jawapos.co.id</p>
<p>UMUR berapakah saya sekarang?</p>
<blockquote><p>Tepatnya saya tidak tahu. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini.</p></blockquote>
<p>Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. Ditulis dengan kapur lunak, diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. Baju kami, sekeluarga, tidak lebih dari sepuluh. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas, piring seng untuk makan, cobek (mangkuk terbuat dari tanah), dan leper (tempat mengulek sambal, terbuat dari tanah), dan sebangsanya. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada.<br />
<span id="more-37"></span></p>
<p>Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. Tidak ada kursi atau meja makan. Kami makan sambil duduk di lantai. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya. Kalau mau makan, barulah dihamparkan tikar. Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo pantat saja yang di atas tikar. Di atas tikar itu juga kami tidur. Paginya, ketika tikar dilipat, sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. Jangan gusar. Bau kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. Inilah keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyak-banyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa merusak lingkungan. Dari segi ini, lantai tanah sangat ramah lingkungan -setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya. Kalau musim hujan, gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya.</p>
<p>Sejak masih ngompol, saya sudah harus bisa menyapu lantai. Tiap pagi, itulah tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. Karena lantai itu akan menimbulkan debu, sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. Saya sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. Juga menyenanginya -terutama saya punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol untuk mengamuflasekannya. Meski akan menghabiskan air lebih banyak, tapi bisa mengurangi rasa malu.</p>
<p>Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini), apa pun dijual. Sawah warisan yang hanya secuil, alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan, dan juga lemari satu-satunya itu. Maka, pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal lahir saya.</p>
<p>Di desa, orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. Yang selalu diingat hanya hari dan pasarannya. Karena itu, bapak ingat saya lahir Selasa Legi. Tapi, Selasa Legi yang tanggal berapa, bulan berapa, tidak ingat. Untuk apa diingat? Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun? Bahwa orang itu ternyata bisa diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. Yang biasa diulangtahuni adalah orang mati. Pakai selamatan dan tahlilan. Kami hafal semua kapan meninggalnya siapa. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena berarti akan ada selamatan.</p>
<p>Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari kelahirannya, itu dilakukan setiap 35 hari sekali. Misalnya, setiap Selasa Legi. Tapi, keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. Kami keluarga santri. Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai sekarang), salatnya pakai doa kunut, wiridannya pakai tahlil, nyekar ke kuburan, salat id tidak mau di lapangan. Namun, kami juga ikut Kejawen: Bersih desa, wayangan Murwad Kolo. Anehnya, aliran tarikat kami Syatariyah, bukan Naqsyabandiyah. Kalau bulan Syura, kami selamatan Rebo Wekasan, yang aslinya milik aliran Syiah. Pada selamatan ini, kiai kami menaruh gentong (tempat air yang besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. Ke dalamnya dimasukkan rajah -kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet, entah apa bunyinya. Setelah kenduri, kami antre minum airnya. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis. Itulah peringatan meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein, putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah, yang berarti cucu Rasulullah.</p>
<p>Lebih aneh lagi, aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi. Bahkan, saya ingat, gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai itu: Bulan bintang. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965, sepupu-sepupu saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser.</p>
<p>Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah. &#8220;Lihat dia dari keluarga Masyumi,&#8221; kata seorang tokoh. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan Muhammadiyah. &#8220;Dia tahlil,&#8221; kata yang lain. Saya sendiri tidak peduli, saya ini orang apa. Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. Lagi pula, kini, suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. Perbedaan dua golongan itu sudah kian cair.</p>
<p>Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. Yakni setelah Pangeran Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. Para panglima perangnya melarikan diri, antara lain ke timur, ke Banjarsari di selatan Ponorogo. Lalu beranak-pinak dan ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung: Takeran. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin.</p>
<p>Karena saya dari jalur wanita, ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. Ibu harus ikut bapak saya. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu, tapi kemudian kawin dengan ibu saya. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa, 6 km dari pusat keluarga itu. Jadi keluarga tani, kemudian jatuh ke buruh tani.</p>
<p>Sampai tamat SMA, saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tidak pernah bertanya ke bapak. Hidup di desa, waktu itu, tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. Ketika sudah amat dewasa dan saya bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan, jawabnya tegas: Selasa Legi. Tapi, bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? &#8220;Waktu itu,&#8221; kata bapak saya sambil berpikir keras, &#8220;ada hujan abu yang sangat hebat.&#8221; Maksudnya ketika Gunung Kelud meletus. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan.</p>
<p>Tentu, saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. Bagi saya, tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Saya putuskan sendiri saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. Itulah tanggal lahir yang secara resmi saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. Tanpa dukungan surat kenal lahir. Tapi sudah diakui di banyak negara. Buktinya, saya tidak dianggap memalsukannya.</p>
<p>Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan hanya itu. Bapak saya kemudian menyebut, ketika Gunung Kelud meletus, saya sudah mulai bisa merangkak!</p>
<p>Kini, setelah ganti liver, kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. Badan saya berumur 56 tahun, tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. Apakah harus dijumlah lalu dibagi dua? Atau masing-masing diberi bobot dan nilai? Lalu, bobot dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat memengaruhi saya kalau ambil keputusan?</p>
<p>Untuk apa juga saya pikirkan. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. Untunglah, saya belum pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. Ulang tahun saya adalah Selasa Legi. Titik.</p>
<p>Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan menjadi &#8220;keluarga besar Dahlan Iskan&#8221;. Dan, rasanya bisa. Sampai 1,5 bulan setelah ganti hati ini, kondisi saya terus saja membaik. Semua parameter darah normal. Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat.</p>
<p>Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat. Habis jalan jauh pun tidak berkeringat. Kini, begitu habis makan, langsung berkeringat. Juga setelah sedikit senam atau joging. Saya memang harus banyak senam, terutama yang bisa membuat dada saya mekar lagi. Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata dalam proses mengecil. Ini karena liver lama saya juga mengecil. Jadi tulang-tulang iga ikut bergerak ke dalam, berusaha menyesuaikan dengan ruang yang dilindunginya. Antara hati dan tulang iga, secara alamiah, memang tidak boleh ada ruang kosong. Ketika hati mengecil, tulang iga menyesuaikannya.</p>
<p>Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. Tahunya ketika anak wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan, &#8220;Hampir tidak ada kesulitan apa pun&#8221;. Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil. Akibatnya, ketika dokter mau &#8220;memasang&#8221; liver baru di ruang yang ditinggalkan liver lama, ruangnya agak terasa kesempitan. Sehingga menaruhnya jadi agak sulit. Sesak. Liver baru masih dalam ukuran normal, bukan? Itulah sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa &#8220;bernafas&#8221; dengan lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan saya. (bersambung)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dahlaniskan.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dahlaniskan.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dahlaniskan.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dahlaniskan.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=37&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/25/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-31-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Banyak Faktor Keberhasilan, tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/24/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-30/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/24/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-30/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 00:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[September 24, 2007 Banyak Faktor Keberhasilan, tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (30) Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya? Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. Mau yang religius atau yang ilmiah. Kalau mau pendek dan &#8230; <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/24/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-30/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=34&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>September 24, 2007<br />
<strong>Banyak Faktor Keberhasilan, tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat</strong></p>
<p><strong>Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (30)</strong></p>
<p>Oleh:<br />
Dahlan Iskan<br />
iskan@jawapos.co.id</p>
<p>MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya?</p>
<blockquote><p>Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. Mau yang religius atau yang ilmiah. Kalau mau pendek dan tampak religius, jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. Selesai. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. Mereka mengatakan semua ini karena Allah. Hanya satu-dua yang mengatakan, &#8220;Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya.&#8221;</p></blockquote>
<p><span id="more-34"></span><br />
Tapi, kalau jawabnya itu, saya tidak perlu lagi menulis. Tapi, saya ingin menulis. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan semangat karena tidak dipuji sama sekali. Saya ingin memujinya.</p>
<p>Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin mengundang makan malam seorang suci. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. Waktu mau makan, sang suami meminta sang suci membacakan doa. &#8220;Terima kasih, Tuhan, Engkau telah menyediakan makanan yang lezat-lezat ini.&#8221; Ucap sang suci mengakhiri doanya. Selama makan sang istri merengut saja. Setelah sang suci pulang, si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan makanan ini?</p>
<p>Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu.</p>
<p>Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya kunci sukses. Saya mencoba merincinya sebagai berikut:</p>
<ol>
<li> Keahlian dan pengalaman dokternya.</li>
<li> Kecanggihan peralatannya.</li>
<li> Kemajuan obat-obatannya.</li>
<li> Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya.</li>
<li> Keberadaan donor yang sangat prima.</li>
<li> Kondisi badan saya yang masih baik.</li>
</ol>
<p>Faktor mana yang terpenting, rasanya sulit menentukan. Tapi, kalau ada waktu membahasnya lebih dalam, pasti juga akan diketahui ranking-nya.</p>
<p>Soal keahlian dokter, di Indonesia pun tidak akan kalah. Saya pernah menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele. Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura. Tapi, kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. Baik karena langkanya donor maupun minimnya peralatan. Bagaimana bisa punya pengalaman transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa mendonorkan organnya?</p>
<p>Mengenai kecanggihan peralatan, rumah sakit ini tergolong yang terbaik di dunia. Bahkan, ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS, Korea, Jepang, dan di rumah sakit ini. Saya tidak diberi tahu alat yang mana. Tersedianya peralatan yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan keinginan pemimpinnya. Untuk Indonesia, dua-duanya belum bisa banyak dinanti. Begitulah nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain.</p>
<p>Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan obat baru bukan main cepatnya. Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti sekarang, mungkin juga banyak halangannya. Untuk kegagalan transplantasi liver karena rejection, sekarang jumlahnya hampir nol. Obat sinkronisasi liver baru dengan organ lain sudah amat sempurna.</p>
<p>Bahkan, obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat minim. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah. Sebab, obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek samping di dua sektor itu. Kebetulan, saya tidak memiliki bakat darah tinggi maupun gula darah.</p>
<p>Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya komplikasi juga akan menyulitkan. Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU. Tapi mulai lemas di hari-hari berikutnya. Ini karena jantungnya memburuk.</p>
<p>Itulah sebabnya, saya membuat keputusan justru harus melakukan transplantasi ketika saya masih sehat. Maksud saya ketika organ-organ lain saya masih baik. Kalau saja terlambat mengambil keputusan, akan lain hasilnya.</p>
<p>Mendapatkan donor yang prima pun, antara lain, juga ditentukan oleh kondisi pasien. Misalnya, kalau saja saya tidak sabar menunggu. Mungkin akan mendapat juga donor, tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan saya sekarang. Atau, kalau saya sabar, tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama, tentunya donor seperti apa pun akan diterima. Toh semua donor sudah diperiksa kualitasnya. Bahwa ada kualitas I atau II, itu tentu ada kelas-kelasnya.</p>
<p>Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan berhasil, antara lain, saya sudah menghitung semua faktor di atas. Tentu, semua itu tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. Hanya saya dan tim saya yang tahu.</p>
<p>Teman-teman, juga para pemegang saham, mungkin banyak yang pesimistis. Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah darah, sudah bengkak, dan wajah sudah menghitam. Mereka juga melihat tanda-tanda nonfisik yang saya lakukan. Misalnya, saya tiba-tiba mengundang teman-teman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi. Kadang saya sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak salah. Tapi kalau sudah telanjur marah, masak bisa diralat? Yah, saya sering juga kemudian minta maaf, tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka.</p>
<p>Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum), saya berikan uang. Ada yang cuma Rp 5 juta, ada yang sampai Rp 100 juta. Tergantung perasaan saya seberapa saya merasa bersalah. Rupanya, bagi-bagi uang ini terdengar juga oleh pensiunan karyawan yang lain. Lantas, dia menghubungi saya lewat SMS: saya menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. &#8220;Boleh nggak sekarang saja dimarahi. Asal kemudian ikut diundang,&#8221; katanya.</p>
<p>Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz (orang yang hafal Quran). Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga bulan sekali di rumah saya.</p>
<p>&#8220;Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah?&#8221; komentar seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya. Apalagi saya juga menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali.</p>
<p>Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. &#8220;Apakah yang Anda lakukan ini ada hubungannya dengan sakit Anda?&#8221; tanya seorang pemegang saham.</p>
<p>Sambil menunggu saatnya transplantasi pun, buku yang saya baca adalah buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi liver. Sampai-sampai tim saya bilang, &#8220;Mbok jangan baca buku yang begituan.&#8221; Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyarat-isyarat bahwa saya akan gagal dan meninggal.</p>
<p>Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. Terutama: mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin.</p>
<p>Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan terlambat ambil keputusan transplantasi. Ini menambah kuat tekad saya untuk melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat.</p>
<p>Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. Transplantasi pertama dilakukan di Beijing. Berhasil. Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai acara, termasuk talk show dan jumpa fans di kota-kota yang jauh. Padahal, dia melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. Kankernya sudah telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain.</p>
<p>Akhirnya, dia harus transplantasi lagi di kota ini. Juga berhasil. Tapi, kanker sudah lebih menyebar lagi. Akhirnya meninggal dunia.</p>
<p>Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu. Karena itu, sepulang dari Tiongkok nanti, saya akan mampir dulu di Singapura beberapa hari. Kebetulan, istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek Group, Madame Ho Ching, juga minta agar saya menjalani review di negaranya. Itu bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. Singapura memang punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. Bahkan, untuk transplantasi &#8220;separo hati&#8221;, Singapura sudah amat berpengalaman. &#8220;Saya yang akan atur,&#8221; tulis Madame Ho Ching dalam email-nya kepada saya. (Bersambung)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dahlaniskan.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dahlaniskan.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dahlaniskan.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dahlaniskan.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=34&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/24/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-30/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/23/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-29/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/23/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-29/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2007 00:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[September 23, 2007 Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (29) Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id DI masa menanti waktu pulang ini, saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Satu dari Jepang, satunya lagi dari Harbin, Tiongkok. Saya sering sekali mengunjungi &#8230; <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/23/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-29/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=33&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>September 23, 2007<br />
<strong>Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift</strong></p>
<p><strong>Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (29)</strong></p>
<p>Oleh:<br />
Dahlan Iskan<br />
iskan@jawapos.co.id</p>
<p>DI masa menanti waktu pulang ini, saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Satu dari Jepang, satunya lagi dari Harbin, Tiongkok. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. Terutama kalau istri saya pergi belanja. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis, sirosis, dan kanker hati. Kami biasa saling curhat.<br />
<span id="more-33"></span></p>
<p>Yang wanita Jepang amat modis. Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal. Rambutnya disasak tinggi. Sepatunya seperti Cinderella. Dia sendirian. Tidak satu pun keluarganya mendampingi. Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris.</p>
<p>Dua wanita itu juga amat mengesankan. Bicaranya, guraunya, dan intelektualnya bisa nyambung dengan saya. Dua-duanya juga amat cantik -terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu, saat keduanya masih kira-kira berumur 30 tahun.</p>
<p>&#8220;Saya nanti tidak sesukses kamu,&#8221; kata wanita yang dari Jepang itu suatu saat kepada saya. Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. Saya memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. &#8220;Umur saya sudah 72 tahun,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. Bukan saja mengenai umurnya, tapi juga kondisi badannya. &#8220;Perut saya sudah berisi air,&#8221; katanya. Kalau saja dia masih muda, tentu orang akan mengira dia hamil. &#8220;Umur saya juga sudah 69 tahun,&#8221; tambahnya. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula.</p>
<p>Saya memahami keadaannya. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. Tapi, saya tidak menceritakan bagian ini padanya. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga.</p>
<p>Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi. &#8220;Saya nanti pulangnya mungkin paling belakangan,&#8221; katanya. &#8220;Kalian sudah pulang semua, saya akan masih di sini. Sendirian,&#8221; katanya. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang. Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat. Saya cepat akrab dengan wanita Harbin ini, antara lain, karena saya pernah lama di sana: Belajar bahasa Mandarin dengan cara home stay. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya ke Harbin sesudah itu.</p>
<p>Benar saja, si Cinderella sangat berhasil operasinya. Pasti semakin modis dia nanti. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal pulang. &#8220;Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. Menjalani perawatan di sana,&#8221; katanya seperti minta pengertian. Tentu kami tetap menampakkan kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan transplantasinya.</p>
<p>Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. Juga sukses. &#8220;Perut saya yang mulai buncit dulu itu, sudah hilang,&#8221; katanya dengan meraba-raba perutnya. Benar, saya lihat perutnya &#8220;sudah hilang&#8221;. Meski memang lebih lambat mulai bisa turun dari tempat tidur, bicaranya sudah keras dan tegas. Juga sudah bisa tertawa, meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya.</p>
<p>Saya sendiri akhirnya mendapat gelar ’yuan lao’ di rumah sakit ini. Penghuni lama. Pasien yang kerasan di rumah sakit. Tidak buru-buru pulang. Karena ’yuan lao’, saya sangat hafal pada perawat, pegawai, dan dokter di rumah sakit ini. Mereka juga hafal pada saya.</p>
<p>Meski begitu hafal, saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. &#8220;Siapa ya wanita cantik ini,&#8221; sering saya bertanya dalam hati. Eh, baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya.</p>
<p>Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju. Begitu selesai bertugas, para perawat itu ganti pakaian seperti model. Bajunya, tatanan rambutnya, cara membawa tasnya, sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju perawat dengan topi putih. Dia sering menyapa, tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia.</p>
<p>Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. Setiap masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Demikian juga ketika pulang kerja. Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien.</p>
<p>Yang seperti itu tidak hanya perawat. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem ditto. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya, pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. Tapi, begitu pulang, sungguh membelalakkan mata. Bajunya you can see, celananya hot pants (maklum, musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai. Sebaliknya, meski berangkat kerja dengan amat modis, ketika kerja tidak ogah-ogahan.</p>
<p>Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia, harga dirinya lebih baik. Bukan saja jarang lihat pengemis, juga kalau bertemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Ini yang disebut social-capital -modal sosial. Bank Dunia menyebutkan social-capital ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial.</p>
<p>Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Yakni, satu moto: &#8220;Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat&#8221;. Saya dan Zainal, dan banyak lagi yang lain, akan bisa jadi model perjuangan itu. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. Dan, ketika sudah kaya (duille!) tidak sewenang-wenang.</p>
<p>Saya ingat, meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama, saya belum punya sepeda, apalagi sepeda motor. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya, Surabaya. Rumah separo tembok separo kayu. Yang kamar mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai.</p>
<p>Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo, saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25, lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. Selesai wawancara, saya diberi amplop. Saya tahu isinya pasti uang. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Meski Tandes-Kertajaya begitu jauhnya. Saya pulang dengan jalan kaki. Hampir dua jam. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya.</p>
<p>Waktu harus pulang ke Kaltim, tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket. Tapi, saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu, agar murah. Lalu naik kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. Belum ada bus waktu itu. Saya khawatir dengan istri saya. Maka, saya bilang kepada sopir agar boleh naik di kursi dekat sopir. &#8220;Istri saya hamil muda,&#8221; kata saya.</p>
<p>&#8220;Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat&#8221; akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. Atau, bangsa yang kalau melihat orang kaya yang muncul kecemburuannya. Bangsa yang mudah disogok dan dipermainkan. Yang juga mudah dibayar untuk, misalnya, sekadar berdemo.</p>
<p>Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini, saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat. Saya kepingin sekali meniru ini di Graha Pena. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. Kalau upaya meniru ini berhasil, penampilan Graha Pena juga akan lebih &#8220;keren&#8221;. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya.</p>
<p>Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. Untuk membuat kota-kota di Indonesia cantik, para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik. Betapapun bersihnya sebuah kota, kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuh-kumuh, nggak menarik jadinya. Maka, pemda yang menginginkan kotanya cantik dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barang-barang ini secara gratis: Baju, lipstik, eye shadow, sepatu, dan biaya ke salon.</p>
<p>Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. Kalaupun dilakukan, belum tentu lipstiknya digunakan. Bisa-bisa dijual. Sebab, filsafat &#8220;Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat&#8221; belum menjadi budaya.</p>
<p>Tentu semua biaya seperti itu, kalau di rumah sakit ini, ditanggung sendiri. Tapi, di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma kepada pegawai bagian cleaning service-nya. Tentu tidak harus sampai pada hot pants, tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis.</p>
<p>Salah satu kesimpulan saya, membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri. Mereka bisa membedakan ’rendah diri’ dan ’rendah hati’. Sedangkan kita, kalau tidak mau dibilang kurang ajar, sering terbelit filsafat ’unggah-ungguh’, ’sopan-santun’, ’tawaduk’, yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat ’rendah diri’.</p>
<p>Kembali ke dua wanita tadi (eh, kok ingat dia lagi sih?), ternyata ada baiknya juga dia pulang lebih dulu. Kalau tidak, tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat waktunya. (Bersambung)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dahlaniskan.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dahlaniskan.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dahlaniskan.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dahlaniskan.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=33&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/23/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-29/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B, Saingi Cucu</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/22/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-28/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/22/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-28/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Sep 2007 00:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[September 22, 2007 Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B, Saingi Cucu Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (28) Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id TEPAT sebulan setelah transplantasi, dokter sudah mengizinkan saya pulang. Jadi, 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Tapi, tim saya, terutama Robert Lai, minta saya lebih bersabar. Tim Surabaya juga demikian. &#8230; <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/22/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-28/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=32&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>September 22, 2007<br />
<strong>Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B, Saingi Cucu</strong></p>
<p><strong>Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (28)</strong></p>
<p>Oleh:<br />
Dahlan Iskan<br />
iskan@jawapos.co.id</p>
<p>TEPAT sebulan setelah transplantasi, dokter sudah mengizinkan saya pulang. Jadi, 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Tapi, tim saya, terutama Robert Lai, minta saya lebih bersabar. Tim Surabaya juga demikian. Bahkan, ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Dia tahu, kalau pulang, saya pasti langsung lupa diri. &#8220;Kalau selama ini sudah sabar enam bulan, mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?&#8221; tambah Ir Budiyanto, perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh, ketika menjenguk saya.<br />
<span id="more-32"></span></p>
<p>Dulu Budi itu, saya kira, seorang Kristen. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. Sebuah konotasi yang ternyata salah. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. &#8220;Apakah tidak ke gereja?&#8221; tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. &#8220;Saya bukan Kristen, Pak,&#8221; jawabnya. Oh, berarti dia Konghucu atau Buddha. Saya berpikir salah sekali lagi. &#8220;Saya penganut Sapto Dharmo,&#8221; jawabnya. Bahkan, kemudian, saya tahu dia salah satu tokohnya.</p>
<p>Makanya, ketika saya ajak omong Mandarin, dia tidak nyambung. Aneh. Dia Tionghoa, bicaranya kromo inggil. Saya yang Jawa bicara Mandarin. Sejak itu, saya selalu kromo inggil kepadanya. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. Sebab, di rumah saya menggunakan bahasa Banjar. Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi, filsafat ojo dumeh dan hukum &#8220;timba sing kudu nggoleki sumur&#8221;. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. Nah, apa kromo inggil untuk forward?</p>
<p>Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. Begitu seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-jalan), pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah, misteri kampung halaman. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata &#8220;rumah&#8221; (house) dan mana kata &#8220;rumah&#8221; (home).</p>
<p>Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji, biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. Semangat menjalani ibadah luar biasa. Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan berkali-kali -meski &#8220;tawaf&#8221; di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. Sudah tawaf siang hari, mencoba sore hari. Sudah pagi hari mencoba malam hari. Rasanya ingin terus dekat dengan Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad, sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone, seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?)</p>
<p>Karena itu, suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad. Mereka berebut menciumnya. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. Karena itu, meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah, saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik. Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. Maka, saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam. &#8220;Hati&#8221; dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. &#8220;Uda, Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas,&#8221; kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya. Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. Bahkan, Syayidina Umar pernah mengatakan, &#8220;Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya, saya tidak akan sudi menciumnya&#8221;. Tentu, suatu saat saya akan menciumnya. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu.</p>
<p>Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji. Tapi, begitu pulang dari Padang Arafah, apalagi begitu selesai salat Idul Adha, rasanya sudah amat berbeda. Antiklimaks yang tajam. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang, luar biasa tidak sabarnya.</p>
<p>Begitu juga pasien transplan liver. Begitu bisa jalan, pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. Maklum, sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini. Sudah antiklimaks.</p>
<p>Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. Mereka memang tidak perlu khawatir. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini. Sedang kalau saya pulang, kalau terjadi apa-apa, rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya?</p>
<p>Walhasil, saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini.</p>
<p>Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. Saya masih harus menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B. Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. &#8220;Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. Bersaing dengan Icha, cucu saya,&#8221; kata saya pada suster yang akan menyuntik. Suster tertawa. Saya kembali tersenyum. Kecut.<br />
Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu.<br />
Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. &#8220;Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar,&#8221; kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. &#8220;Saya kaget. Kok tumben. Oh, agak siang sedikit, saya baru tahu sebabnya. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos,&#8221; tambahnya. &#8220;Departemen Kesehatan harus membayar Anda. Kampanye yang berhasil,&#8221; tulisnya di SMS-nya.</p>
<p>Tentu, saya tidak mengharapkan bayaran itu. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. Bahkan, saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi. Saya akan membiayai kegiatan itu. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. Diam-diam, tekun, dan njlimet.</p>
<p>Karena teman-teman se-&#8221;angkatan&#8221; saya sudah pada pulang, tinggal saya sendiri yang dari Angkatan April 2007. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya kunjungi setiap hari. Saya harus mencari kawan baru. Berarti juga harus mau menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada mereka. Saya melakukannya dengan senang hati. Hati baru, tentunya. Saya ingin ikut memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. Saya pun merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum saya. Saya merasa mereka beri semangat. Giliran saya memberikan semangat. Toh, saya tidak harus membeli semangat.</p>
<p>Sebelum operasi, saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja menjalani operasi. Atau ke keluarga mereka. Jawaban-jawaban itu tidak terlalu memengaruhi psikologi saya. Tapi, begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di pinggangnya, saya tertegun. &#8220;Oh, begini ya orang habis transplantasi,&#8221; pikir saya. Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi. Jalannya thimik-thimik pelan. Lengannya dipegangi oleh suster. Mulutnya, juga mulut susternya, dipasangi masker.</p>
<p>Lalu, saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? &#8220;Tepat seminggu yang lalu,&#8221; jawabnya. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan, meski thimik-thimik. Meski badannya kelihatan lemah, wajahnya segar. Juga lebih merah. Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi. Seminggu sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu, Dahlan, hanya seminggu! Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari!</p>
<p>Dengan melihat contoh nyata itu, optimisme saya kian menyala-nyala. Saya kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. Saya lebih semangat makan, tanpa harus merasakan enak-tidaknya. Kalau badan saya lebih kuat, tentu lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. Dia saja, yang badannya memang sudah kurus dan umurnya sudah 62 tahun, seminggu sudah bisa jalan.<br />
Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari berikutnya. Kian hari kian cepat jalannya. Juga kian segar badannya. Pasien kedua yang saya lihat pun begitu. Pasien ketiga juga sama. Pasien keempat, kelima, dan seterusnya. Semua kurang lebih sama. Jadi, ajaib memang transplantasi ini. Bahkan, pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh, sudah tergeletak tidak bisa berjalan, napasnya sudah tersengal-sengal, seminggu setelah operasi juga sudah bisa jalan.</p>
<p>Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. Serombongan besar orang Korea memenuhi lantai 11. Ada pemandu wisatanya. Wisatawankah mereka? &#8220;Mereka adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini,&#8221; kata seorang perawat. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat. Untuk menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa.</p>
<p>Tiba-tiba saya penasaran, ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu sehatnya. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya. Bahkan, tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak masuk kamar saya. Agar bisa bicara lebih santai. Di kamar saya semangatnya menjadi-jadi. &#8220;Lihat ini,&#8221; katanya sambil menyingkap bajunya. Terlihatlah di kulit perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. Begitu jugalah saya nanti, pikir saya.</p>
<p>Selama empat bulan menunggu operasi, saya hanya sekali mendengar orang meninggal. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. Dia seorang wanita 60-an tahun dari Pakistan. Konon, seorang anggota parlemen. Transplantasinya sukses dan amat sehat. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. Mungkin memang politisi yang sibuk. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa sudah amat sehat.</p>
<p>Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di negerinya. Slang itu, berikut kantong plastik kecil, memang masih terus akan di situ selama tiga bulan. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat. Agar tidak jadi sumber infeksi. Bahkan, tiga bulan kemudian, waktu seharusnya dia kembali ke Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya dulu, dia tidak ke Tiongkok. Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga ahli. Beberapa saat setelah itu, dia bahkan pergi naik haji. Entah proses pengambilan benda asing itu yang salah atau karena kegiatannya yang berlebihan, dia terkena infeksi. Kian lama kian parah. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk menyelamatkannya.</p>
<p>Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi, namun menunggu kondisi badannya stabil. Yang ditunggu tidak segera tiba. Bahkan memburuk. Dan akhirnya meninggal.</p>
<p>Saya harus belajar dari pengalaman itu. Saya tidak harus buru-buru pulang. (Bersambung)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dahlaniskan.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dahlaniskan.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dahlaniskan.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dahlaniskan.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=32&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/22/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-28/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Liver Ganti, Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/21/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-27/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/21/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-27/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Sep 2007 00:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[September 21, 2007 Liver Ganti, Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (27) Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id KARENA yang diganti ini adalah hati, apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Gara-garanya, literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima &#8230; <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/21/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-27/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=31&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>September 21, 2007<br />
<strong>Liver Ganti, Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik</strong></p>
<p><strong>Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (27)</strong></p>
<p>Oleh:<br />
Dahlan Iskan<br />
iskan@jawapos.co.id</p>
<p>KARENA yang diganti ini adalah hati, apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Gara-garanya, literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan.<br />
<span id="more-31"></span></p>
<p>Tim saya juga mengatakan begitu. Ada yang menerima informasi bahwa kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. Liong Pangkiey, pemilik pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu, kirim SMS bahwa temannya ganti ginjal. Setahun kemudian, badannya menjadi berbulu. Ini karena donornya dari India.</p>
<p>Bahkan, keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya. Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. Karena masih keturunan Arab, tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. Operasi itu sukses sekali. Anaknya tumbuh dewasa, kemudian berumah tangga. Anehnya, setelah istrinya melahirkan, anaknya seperti Tionghoa. Kulitnya putih bersih.</p>
<p>Suatu saat, si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih kecil yang seperti anak Tionghoa itu. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya setelah lebih dari 10 tahun transplantasi. Ketika di rumah sakit, si kecil pergi ke taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab. Waktu senja sudah tiba, si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. Tapi, si kecil tidak mau. Bahkan sampai menangis. Saat menangis itulah, si paman memaksa menggendongnya pergi. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak.</p>
<p>Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu, polisi turun tangan. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak penduduk setempat. Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. Akhirnya, urusan selesai.</p>
<p>Saya sendiri, ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor, membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. Kali ini menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung di Kota Shenyang. Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan Shanghai-Shenyang. Turun pesawat, langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani transplantasi.</p>
<p>Wanita itu biasanya pemurung, tidak mau keluar rumah, penakut, dan introvert. Tapi, beberapa bulan setelah operasi, dia mulai menyenangi internet, mengendarai mobil, dan banyak omong. &#8220;Bahkan kalau naik mobil suka ngebut,&#8221; ujar suaminya seperti diberitakan China Daily. Yang lebih mengherankan lagi, wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal. Koran tersebut juga menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya. &#8220;Saya menjadi agak khawatir pada istri saya,&#8221; kata suaminya.</p>
<p>Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama. Kalau itu sampai terjadi, apakah yang paling saya takutkan?</p>
<p>Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. Karena itu, seminggu setelah operasi, saya sudah minta laptop. Saya memaksakan diri untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini. Sebagian agar tidak ada catatan di otak saya yang hilang, sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa menulis dengan baik.</p>
<p>Kini giliran saya bertanya kepada pembaca: Apakah ada perubahan dalam gaya penulisan saya? Memang, ada seorang teman yang setengah bertanya dan setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang. Secara terbuka, di koran lagi. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu, ketika masih jadi pemimpin redaksi Jawa Pos, sering menugasi wartawan agar mewawancarai tokoh-tokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. Tidak semua orang bisa menulis baik. Karena itu, harus wartawan yang menuliskan ceritanya. Karena itu, saya harus fair. Ketika saya sendiri mengalami itu, saya harus mau menuliskannya.</p>
<p>Tapi, mengapa tidak disertai foto-foto? &#8220;Bukankah Anda dulu mengajarkan setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita?&#8221; tanya Edy Aruman, mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa.</p>
<p>Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang disertakan dalam tulisan ini. Mengapa? Ada dua tujuan. Pertama, saya akan mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin deskripsi. Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele, tapi sebenarnya penting. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, begitu saya mengajarkan, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual.</p>
<p>Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Kalimat pendek, begitu saya mengajar, akan membuat tulisan menjadi lincah. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. Semakin pendek sebuah kalimat, semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Tapi, dengan selingan kutipan-kutipan pendek, tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita.</p>
<p>Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku. Foto-foto seputar operasi, termasuk foto-foto liver saya yang lama.</p>
<p>Sebenarnya, masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke dunia jurnalistik. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu, namun penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. Saya tidak puas dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin redaksi. Padahal, ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di alam kebebasan mutlak seperti sekarang. Dalam alam demokrasi seperti ini, tanggung jawab justru lebih besar. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih dipentingkan.</p>
<p>Misalnya mengenai cover both side, pemberitaan yang berimbang. Maka, saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software check-list. Setiap kali reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke redaktur untuk diedit. Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer itu, reporter harus menekan tombol &#8220;kirim&#8221;. Nah, saat menekan tombol &#8220;kirim&#8221; itulah, saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang harus diisi si reporter. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda? Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. Kalau &#8220;belum&#8221;, dia tidak akan bisa menekan tombol &#8220;kirim&#8221;. Lalu, pertanyaan sudah berimbangkah berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara? Dan seterusnya. Setiap pertanyaan disertai kolom isian. Kalau tidak mengisinya, si reporter tidak bisa menekan tombol &#8220;kirim&#8221;. Kalau kelak ada reporter yang menipu dengan cara mengisi kolom yang salah, tanggung jawabnya jelas.</p>
<p>Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat. Lalu, Jawa Pos-lah yang pertama menerapkannya. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke dunia jurnalistik berikutnya, tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. Maka, saya bisa menyumbangkan ilmu manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan &#8220;rukun iman&#8221; Jawa Pos. Lalu, menyumbangkan software untuk prinsip cover both side yang penting itu. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan sumbangan &#8220;ilmu tauhid&#8221; ke dalam bisnis dan manajemen. Sumbang-menyumbang dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain, apa salahnya dilakukan. Untuk kemajuan.</p>
<p>Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. Kalau tidak, berarti juga ada kemunduran dalam kemampuan saya menulis. Dan jangan-jangan, itu karena saya ganti liver.</p>
<p>Setiap membicarakan persiapan transplantasi, tim saya ternyata juga sering menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi. Tentu dengan nada penuh humor. Melinda Teja, bos Pakuwon Jati itu, misalnya.</p>
<p>&#8220;Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli seorang gay,&#8221; gurau Melinda. &#8220;Kalian yang laki-laki harus waspada,&#8221; tambahnya.</p>
<p>&#8220;Saya justru khawatir kalau itu liver Laura,&#8221; ujar yang lain. &#8220;Kita harus segera carikan pekerjaan yang cocok,&#8221; tambahnya. Laura yang dimaksud adalah &#8220;lanang ora, wedok ora&#8221; (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan).</p>
<p>Sampai hari ini, saya belum merasakan perubahan apa-apa. Tapi, diri sendiri kadang memang tidak bisa merasakan. Orang lainlah yang tahu. Kalau saja seperti itu, tentu saya berharap segera diberi tahu. Jangan hanya dijadikan bahan gosip semata.</p>
<p>Yang jelas sudah berubah adalah perut saya. Akibat sayatan pisau bedah yang panjang, kulit perut saya tidak mulus lagi. Ada sederet bekas jahitan yang kasar. &#8220;Rupanya, tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu,&#8221; ujar tim kami. Karena itu, saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Ada cara yang katanya cukup mujarab. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. Yakni silicon scar treatment. Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. Kalau saja usaha itu tidak berhasil, anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali berturut-turut. (Bersambung)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dahlaniskan.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dahlaniskan.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dahlaniskan.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dahlaniskan.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=31&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/21/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-27/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Transplantasi Berhasil, Istri Gembira karena Wajah Berubah</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/20/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-26/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/20/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-26/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 00:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[September 20, 2007 Transplantasi Berhasil, Istri Gembira karena Wajah Berubah Pengalaman Pribadi menjalani Transplantasi Liver (26) Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku), setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. Orang di desa saya akan langsung mengatakan, &#8220;Pasti ini karena disantet&#8221;. &#8230; <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/20/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-26/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=30&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>September 20, 2007<br />
<strong>Transplantasi Berhasil, Istri Gembira karena Wajah Berubah</strong></p>
<p><strong>Pengalaman Pribadi menjalani Transplantasi Liver (26)</strong></p>
<p>Oleh:<br />
Dahlan Iskan<br />
iskan@jawapos.co.id</p>
<p>KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku), setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. Orang di desa saya akan langsung mengatakan, &#8220;Pasti ini karena disantet&#8221;. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya. Juga terhadap kakak saya.<br />
<span id="more-30"></span></p>
<p>Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti ketika menyantet saya, si penyantet membeli hati sapi dulu. Lalu memanggangnya. Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Karena maraknya pandangan santet di masyarakat kita, maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan rasionalitasnya.</p>
<p>Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan sempit. Yang suka marah-marah, termasuk di mimbar Jumat. Kalangan ini, kalau melihat hati seperti itu, akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka padanya. Bahkan, bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ’sadat qulbuha’ (sudah keras hatinya), agar mirip dengan ayat Quran yang sangat terkenal, &#8220;… fasadat qulubuhum&#8221;.</p>
<p>Kalangan ini sudah kritis lagi, karena emosi lebih besar daripada rasio. Bahkan, lupa bahwa kata dalam bahasa Arab ’qalb’ (kalbu) artinya bukan hati -dalam pengertian liver. Liver bahasa Arabnya ’kabid’. Lupa bahwa ’qalb’ itu artinya jantung. Ini memang agak kacau. Direktur Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi (Udi), orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Group Jawa Pos, pernah saya Tanya arti ’qalb’. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab saya. Begitu saya tanya, Udi spontan menjawab: qalb artinya hati!</p>
<p>Lantas saya tanya lagi. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung? Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan, dalam bahasa Mandarin disebut xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya. &#8220;Saya tadi salah. Memang qalb itu artinya jantung. Sedang liver adalah……&#8221; kata Udi yang juga sastrawan itu. Bayangkan, Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius oleh sesuatu yang salah, tapi sudah memasyarakat.</p>
<p>Memang, kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu menerjemahkan kata ’liver’ (bahasa Inggris) menjadi ’hati’ dalam bahasa Indonesia? Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi ’hati’. Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. Kalau diubah, nanti bisa banyak sekali konsekuensinya. Misalnya kata ’patah hati’ harus diubah menjadi ’patah liver’. Atau ’patah jantung’ (broken heart).</p>
<p>Jadi, sebaiknya, urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan keyakinan keagamaan, apalagi ketakhayulan. Kalau toh dikaitkan, harus dalam rangka dzikir, bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa cerdasnya. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyak-banyaknya. Padahal, orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja otaknya. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. Kita tidak boleh memubazirkan rezeki dari-Nya itu. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke doktrin, kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu.</p>
<p>Maka, kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan transplantasi liver ini, antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. Dia tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan wajah menghitam.</p>
<p>Memang setelah 1,5 bulan transplantasi, wajah saya yang sudah dua tahun menghitam, kini kembali … hitam. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. Bukan hitam karena sirosis. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti hitamnya kereta api (duile!), meski hitam banyak yang antre. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh, untuk sedikit mengangkat derajat mereka.</p>
<p>Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. Meski begitu, saya masih sering memijit-mijitnya. Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir, setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa cepat kembali. Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat, bukan lagi dekoknya cepat kembali, bahkan tidak bisa dekok sama sekali. Dulu, setiap memijat kaki, selalu berharap ada mukjizat atau keajaiban. Tapi, setiap kali saya memijit kaki, setiap itu pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific ini.</p>
<p>Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya: jangan-jangan bengkak lagi. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. Tapi, pada keadaan ’tidak membenci kaus kaki’ itu, justru saya tidak terlalu memerlukannya. Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung.</p>
<p>Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. Masih tetap besar, tapi sudah mulai mengencang. Dokter bilang, lama-lama juga akan kembali normal. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja.</p>
<p>Limpa saya, yang meski sudah dipotong sepertiga, tapi masih dua kali lipat lebih besar dari limpa asli, lama-lama juga akan kembali normal. Demikian juga saluran pencernakan yang telanjur ’dilaminating’. Tidak perlu lagi dilaminating kedua atau ketiga.</p>
<p>Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya, seorang teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin, Sumsel, sana: &#8220;Apakah bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal?&#8221; tulisnya di SMS. &#8220;Untung, dulu tidak jadi minta dikembalikan. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya ke dekat payudara,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Saya makin sembuh, suasana pengajian di rumah juga lebih ceria. Berbeda dengan saat para karyawan berkumpul untuk berdoa di rumah menjelang saya operasi. Saat itu suasananya murung. Minggu lalu diadakan acara pengajian dan hafalan Alquran sehari penuh hingga tarawih. Para hafidz (penghafal) Alquran di Surabaya memang aktif berkumpul sebulan sekali di tempat berpindah-pindah. Tiap tiga bulan sekali di rumah saya</p>
<p>Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. Dulu, begitu tidak pastinya penyembuhan sakit saya, saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang. Bahkan, tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat. Kecuali yang amat penting.</p>
<p>Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang diucapkan Cak Nur. Yakni, ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana berislam yang baik dan enak. &#8220;Bekerjalah yang sungguh-sungguh,&#8221; kata Cak Nur. Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). Di akhir ayat yang mengisahkan soal ini, tertulis &#8220;Bekerjalah, wahai keluarga Daud, sebagai tanda syukur kepada-Ku&#8221;. Bersyukur dengan cara bekerja keras. Itulah juga yang akan saya tiru. Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan meneruskan kerja keras. Apalagi, seperti dikatakan Cak Nur, bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar (minta ampun).</p>
<p>Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. Juga sudah sering mengucapkan istighfar. Tinggal, begitu sembuh, kerja keras lagi. (Bersambung)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dahlaniskan.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dahlaniskan.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dahlaniskan.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dahlaniskan.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=30&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/20/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-26/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/19/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-25/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/19/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-25/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2007 00:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[September 19, 2007 Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya Pengalaman Pribadi menjalani Transplantasi Liver (25) Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id &#8220;SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,&#8221; kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif &#8230; <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/19/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-25/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=29&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>September 19, 2007<br />
<strong>Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya</strong></p>
<p><strong>Pengalaman Pribadi menjalani Transplantasi Liver (25)</strong></p>
<p>Oleh:<br />
Dahlan Iskan<br />
iskan@jawapos.co.id</p>
<p>&#8220;SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,&#8221; kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. &#8220;Saya nanti akan seperti Cak Nur,&#8221; tambah saya.<br />
<span id="more-29"></span></p>
<p>Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam.</p>
<p>Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu.</p>
<p>Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa &#8220;wajah hitam&#8221; Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja.</p>
<p>Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker.</p>
<p>Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan.</p>
<p>Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuning-kuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan.</p>
<p>Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain -misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-menerus.</p>
<p>Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun, bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya.</p>
<p>Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu a’lam.</p>
<p>Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis.</p>
<p>Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas?</p>
<p>Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun.</p>
<p>Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian.</p>
<p>Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat?</p>
<p>Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum.</p>
<p>Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran.</p>
<p>Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terus-menerus dikampanyekan.</p>
<p>Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba &#8220;abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?&#8221;. Kita pernah mengalami berturut-turut, &#8220;zaman batu&#8221;, &#8220;zaman besi&#8221;, &#8220;zaman cocok tanam&#8221;, &#8220;zaman industri&#8221;, &#8220;zaman teknologi&#8221;, dan &#8220;zaman informasi&#8221;. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah &#8220;zaman biologi&#8221;.</p>
<p>Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar.</p>
<p>Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terus-menerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran.</p>
<p>Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan.</p>
<p>Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. &#8220;Akan&#8221; di situ tidak lama lagi. Kata &#8220;akan&#8221; mungkin kurang tepat. Yang tepat &#8220;segera&#8221;.</p>
<p>Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya.</p>
<p>Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu.</p>
<p>Cerita itu sama melekatnya dengan istilah &#8220;memanjatkan doa&#8221; yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e-mail, dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik &#8220;memanjat&#8221;. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai.</p>
<p>Tentu kata &#8220;memanjat&#8221; hanya simboliasi atau penyastraan. Dan lagi, Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan, yang di-e-mail-kan, atau yang di-compress-kan seperti yang dilakukan golongan tasawuf Shatariyah. Tapi, penggunaan term &#8220;panjat&#8221; juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. Pak Nuh, mantan rektor ITS yang kini menteri informasi, bisa malu. (Bersambung)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dahlaniskan.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dahlaniskan.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dahlaniskan.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dahlaniskan.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=29&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/19/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam</title>
		<link>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/18/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-24/</link>
		<comments>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/18/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-24/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2007 00:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver]]></category>
		<category><![CDATA[Dahlan Iskan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dahlaniskan.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[September 18, 2007 Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (24) Oleh: Dahlan Iskan iskan@jawapos.co.id SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. Padahal, dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. Juga bengkak di badan. Menyembunyikan membesarnya payudara. Yang tak kalah penting, saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya. &#8220;Empat &#8230; <a href="http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/18/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-24/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=28&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>September 18, 2007<br />
<strong>Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam</strong></p>
<p><strong>Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (24)</strong></p>
<p><strong></p>
<p></strong></p>
<p>Oleh:<br />
Dahlan Iskan<br />
iskan@jawapos.co.id</p>
<p>SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. Padahal, dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. Juga bengkak di badan. Menyembunyikan membesarnya payudara. Yang tak kalah penting, saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya.<br />
<span id="more-28"></span></p>
<p>&#8220;Empat tahun saya bekerja dengan Anda. Sedikit pun saya tidak merasakan bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya,&#8221; ujar Hadi Ismoyo, manajer di perusahaan minyak milik Pemda Jatim. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga saya harus banyak belajar, diskusi, rapat, dan negosiasi.</p>
<p>&#8220;Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak kegiatan masyarakat,&#8221; tulis Lusye, pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. &#8220;Kalau tahu seperti ini, saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini,&#8221; ujar Gunawan, direktur di perusahaan minyak kami.</p>
<p>Ya, saya memang berhasil menyembunyikan semuanya. Tapi, saya sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. Kalau ada yang bertanya tentang penyakit saya, selalu saya jawab apa adanya. Cuma, memang tidak banyak yang bertanya. Kalau ada yang bertanya pun, seperti para manajer di Perusda PT PWU Jatim, jawaban saya jujur, tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan.</p>
<p>Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan, itulah kuncinya. Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU, saya jelaskan semua penyakit saya. Juga bahaya-bahayanya. Mereka memang ngeri mendengarnya, tapi juga tertawa-tawa. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti biasa. Yang harus dimarahi, ya dimarahi. Yang harus dipuji, ya dipuji. Tetap saja persoalan rumit-rumit, harus dipecahkan. Padahal, persoalan Perusda tidak hanya soal bisnis, tapi juga politis.</p>
<p>Tapi, sebenarnya, saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah. Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. Terutama di dahi dan sekitar mata. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. Saya akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. Tapi, bagaimana caranya? Atau pakai make up saja. Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan metroseksual?</p>
<p>Tak pelak lagi, banyak orang yang mulai rasan-rasan, menggosipkan wajah saya. Gosip yang tidak menyenangkan. Untunglah, saya sudah sering digosipkan sehingga sudah agak kebal. Tapi, ini gosip yang benar. Dan, memprihatinkan. Gosip itu bukan lagi masih menyangkut fisik, tapi sudah masuk ke tataran psikis. Terutama psikis istri saya. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang prinsip agama.</p>
<p>Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. Lalu memberikan komentar yang sudah sering saya dengar itu. Ada nada sedih ketika mengucapkan itu. Sedih bercampur perasaan malu. Karena itu, kadang dia hanya memperhatikan wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. Pandangannya penuh keprihatinan. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. Pertama, khawatir akan kesehatan saya. Kedua, merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam.</p>
<p>Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam, tandanya tidak diterima oleh Tuhan. Tuhan murka padanya. Kalau sampai itu terjadi pada saya, alangkah malunya istri saya. Apalagi dia aktif di kegiatan keagamaan. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai Tuhan. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. Dosa sebagai lelaki, dosa sebagai atasan yang kejam, dosa sebagai pribadi yang sombong, dosa sebagai suami yang amat sibuk, dosa orang kaya yang pelit, dan tentu masih banyak sekali sisi negatif yang bisa dihubung-hubungkan.</p>
<p>Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Ada yang menilai, itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai Tuhan. Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. Yakni, dosa karena dia telah menyekulerkan Islam. Yakni, ketika memelopori pembaharuan pemikiran dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. Sampai-sampai disebutkan Cak Nur lagi mendirikan neo-Islam. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad.</p>
<p>Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. Saya bukan intelektual. Bukan budayawan. Bukan sarjana. Bukan ahli agama. Saya memang pernah mau didapuk jadi kiai di pesantren saya, tapi saya menolak. Ini karena saya sadar bahwa saya turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu. Kebetulan yang dari jalur laki-laki masih kanak-kanak. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami kehilangan dua generasi sekaligus. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara, paman-paman ibu saya), dan anak-anak mereka yang sudah dewasa, dibunuh PKI dalam peristiwa Madiun, pada 1948. Tapi, saya harus tahu diri bahwa kalau dia sudah dewasa, dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu.</p>
<p>Saya lantas memilih ’uzlah’ -menyingkir, menjauh, dan merenungkan masa depan. Bukan karena ngambek, tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti yang dicontohkan bapak saya. Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu kelak, yang mungkin tidak kalah besarnya. Apalagi saya juga baru gagal dalam pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung, kalah dengan Yusuf Rahimi, tokoh dari Ambon.</p>
<p>Saya mengambil kesimpulan, tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi politisi. Karena itu, saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama sekali.</p>
<p>Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an. Ketika Pak Eric Samola, direktur utama Jawa Pos saat itu, jatuh sakit, saya tidak mau menggantikannya sebagai Dirut. Padahal, sakitnya beliau amat berat sehingga tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. Beliau terkena stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname bertahun-tahun.</p>
<p>Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama, tanpa menyandang jabatannya. Saya tetap direktur saja. Karena hal itu sudah berlangsung tiga tahun, lantas muncul kesulitan teknis. Banyak dokumen bank yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan. Tidak bisa hanya direktur seperti saya waktu itu. Tapi, saya tetap tidak mau jadi Dirut. Jangan sampai saya minta jadi Dirut. Apalagi, sampai harus dengan cara sikut sana-sini.</p>
<p>Bahwa ada kesulitan di bank, tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali tidak lazim. Inilah gunanya ilmu mantiq (logika), pikir saya. Saya ciptakan sendiri jabatan baru, meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). Agar saya bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur, tapi saya ini CEO. &#8220;CEO yang tidak ada SK dan legal formalnya. He he…&#8221; kata saya dalam hati. Tapi, bank percaya. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil keputusan. Maka lahirlah &#8220;jabatan CEO&#8221;.</p>
<p>Baru setelah lima tahun lebih, setelah beliau sendiri yang minta, saya mau jadi Dirut. Sebutan CEO telanjur melekat. Lalu keterusan sampai sekarang. Bahkan, saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan ’jabatan’) CEO lebih fleksibel lagi di grup yang saya pimpin. Bisa saja Dirut sebagai CEO, direktur sebagai CEO (Dirutnya bukan CEO), bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur bukan CEO). Lebh dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. Meski saya bukan direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi Wonoatmodjo), saya yang tetap jadi CEO. ’Chairman yang CEO’.</p>
<p>Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO. Banyak hal sudah harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. Apalagi Ratna Dewi juga amat mampu. Sama dengan saya. Setidaknya sama-sama hanya tamatan SMA. Dia SMA di kota Surabaya (Petra), saya SMA di Desa Takeran, Magetan (aliyah).</p>
<p>Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. Pernah ada tamu dari India yang ingin bertemu dengannya. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat direktur keuangan. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur keuangan keturunan India. Maklum namanya Ratna Dewi. &#8220;Kami tidak menyangka kalau dia seorang Tionghoa,&#8221; kata tamu itu sambil tertawa ngakak. Kami sendiri tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi, sehingga kalau ada tamu yang menanyakan, &#8220;Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi&#8221;, staf-staf kami sering bengong. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. Bukan &#8220;Bu Wenny&#8221;, tapi &#8220;Cik Wenny&#8221;.</p>
<p>Gosip bahwa &#8220;saya segera meninggal dengan wajah hitam&#8221; juga beredar di kalangan pesantren saya sendiri. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena kurang taat beragama. Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur. Terutama karena saya ’uzlah’, lari dari tanggung jawab menjadi kiai. Mereka tidak tahu kalau ’uzlah’ itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya.</p>
<p>Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. Padahal, saya dan Cak Nur jauh sekali derajatnya. Cak Nur seorang intelektual, doktor lulusan Chicago, ahli agama, bisa banyak bahasa, termasuk Prancis dan Parsi, Inggris, dan Arab. Saya hanya seperti itu tadi. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh.</p>
<p>Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah. (Bersambung)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dahlaniskan.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dahlaniskan.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dahlaniskan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dahlaniskan.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dahlaniskan.wordpress.com&#038;blog=3371341&#038;post=28&#038;subd=dahlaniskan&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dahlaniskan.wordpress.com/2007/09/18/pengalaman-pribadi-menjalani-transplantasi-liver-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/4c5555f55fac6c2b8de6537bafdabd50?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pramudyaputrautama</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
