>>
Anda sedang membaca ...
Catatan Dahlan Iskan, PLN

Suara Tak Terucap dari Kelok Seribu

Jum’at, 22 Oktober 2010

Masyarakat Ruteng-Maumere punya cara melewati “kelok seribu” tanpa mabuk. Yakni, naik “bus kayu”. Itulah kendaraan umum yang amat populer di jalur “kelok seribu”. Truk yang diberi atap. Bus biasa kurang laku di sana. Dengan naik bus kayu, penumpang bisa mendapat udara bebas, di samping bisa membawa barang dan ternak lebih banyak.

Pukul 21.00, barulah kami tiba di Ende. Ikan bakar yang disiapkan teman-teman PLN Ende sudah pada dingin. Tapi, seluruh karyawan masih menanti sambil bernyanyi-nyanyi. Tentu juga sambil menahan lapar. Karena itu, sebelum kepala cabang Ende, Audi, membuka acara dialog tengah malam, kami makan dulu ramai-ramai.

Kami pun sepakat, keesokannya pukul lima pagi kumpul lagi di kantor. Untuk bersama-sama olahraga jalan pagi. Yakni, dari kantor PLN ke rumah kenangan yang dulu ditempati Bung Karno ketika empat tahun dibuang ke Ende. Jarak tempuhnya 45 menit. Kurang lebih sama dengan jarak jalan kaki saya setiap pagi dari rumah saya di sebelah Pacific Place, Jakarta, ke Kantor PLN Pusat di Jalan Trunojoyo.

Pagi itu, kami tidak sempat sarapan. Setelah selesai olahraga, kami harus bergegas ke proyek PLTU Ende di pantai utara. Berarti, kami harus kembali menyusuri “kelok seribu” dengan perut kosong. Jarak tempuhnya hampir tiga jam. Untungnya, ada singkong rebus yang dimasukkan ke mobil bersama sambal.

Memang selalu saja ada makanan lokal yang istimewa. Di Kupang ada jagung rebus lokal. Manisnya seperti jagung manis dan pulennya seperti ketan. Di Ende, singkongnya bukan main nendangnya: lezat rasanya, pulen gigitannya, dan masir komposisinya. Apalagi dimakan dengan sambal khas Flores.

Sayangnya, “kelok seribu” telah membuat sambal itu tumpah di pangkuan dan minyaknya merembes sampai menembus celana dalam. Pedalaman saya terasa terganggu tapi malu merintih: minyak sambal tersebut rupanya merembes sampai ke bagian yang ada di balik celana dalam itu.

Tiba di lokasi PLTU, saya tercenung. Mengapa dibangun PLTU batu bara di sini” Kalau saja keputusan itu dibuat sekarang, saya akan memilih menggunakan dana tersebut untuk mempercepat penyelesaian proyek geothermal Ulumbu dan memperbesarnya.

Di PLTU Ende itu, kami sepakat memberikan kepercayaan kepada generasi muda PLN untuk mencari jalan keluar. Hanya anak-anak muda yang biasa nekat yang bisa membuat PLTU tersebut berfungsi baik nantinya. Saya lihat mereka lulusan ITB dan ITS yang andal, gigih, serta berani. Setidaknya berani mendebat saya. Kepada mereka saya titipkan nasib PLTU itu.

“Kelok seribu” sudah berlalu. Perjalanan selanjutnya memang masih akan tiga jam, tapi tinggal menyusuri pantai utara. Menuju Maumere. Kelokannya hanya ratusan mengikuti bukit-bukit yang tidak seberapa terjal. Kami melewati perkebunan kemiri yang rindang. Lalu, perkebunan mete yang berbuah lebat.

Tepat tengah hari, kami sudah tiba di kantor PLN Cabang Maumere. Meski hari Minggu, semua karyawan dan istri lengkap menunggu di kantor. Kami mendiskusikan kondisi listrik di Maumere. Mereka juga minta penjelasan mengenai banyak hal di PLN. Termasuk mengenai wacana larangan suami-istri kerja di PLN.

Ternyata, di situ ada karyawan muda asal Sidoarjo yang sudah mengincar seorang gadis yang kini sedang menjalani masa percobaan untuk menjadi karyawan PLN. Secara bergurau, saya sarankan agar cepat-cepat saja dilamar dan dikawin. Sebelum aturan baru berlaku. Aturan itu nanti tidak berlaku mundur.

Wacana tersebut sekarang memang lagi top di kalangan karyawan PLN. Sangat banyak pro dan kontra. Tapi, sebenarnya larangan seperti itu sudah umum berlaku di perusahaan-perusahaan besar di mana saja.

Saya memang prihatin di PLN ini. Saya lihat sangat banyak suami-istri yang harus hidup berjauhan bertahun-tahun. Bahkan mungkin sampai pensiun kelak. Untuk itu, saya minta izin untuk menyebut general manajer PLN NTT sebagai contoh. Istri Pak Janu itu dulunya juga karyawan PLN. Namun, mereka sepakat hanya suami yang meniti karir. Sedangkan sang istri mempersiapkan tiga anaknya agar tidak menjadi anak pembantu.

Hasilnya hebat: anak-anak Pak Janu hebat-hebat, pinter-pinter. Di Fakultas Elektro ITB dan Fakultas Elektro Undip. Pak Janu adalah tipe pemimpin yang tidak banyak bicara tapi nyata kerjanya.

Saya mencatat ada tiga jenis karyawan. Pertama yang bicaranya hebat tapi kerjanya juga hebat. Kedua yang bicaranya luar biasa, kalau diskusi paling pintar, kalau berteori paling canggih, namun tidak pernah bisa bekerja dengan baik. Dan yang ketiga adalah yang kalau rapat hanya sesekali bicara, yang kalau tidak ditanya tidak bunyi, tapi hasil kerjanya luar biasa.

Kami berpisah di Bandara Kupang. Hari sudah senja dan kami harus segera kembali ke Jakarta. Kami sudah berkeliling Kupang pada hari pertama kunjungan ini. Hari itu, pukul 05.00 subuh kami sudah berkeliling Kota Kupang untuk melihat sendiri lampu penerangan jalan raya yang menggunakan tenaga matahari.

Ternyata, lampu-lampu jalan tersebut masih menyala terang. Berfungsi dengan baik. Artinya, sampai pagi pun lampunya tetap menyala. Itu berarti tenaga matahari yang disimpan di aki/baterai tersebut cukup untuk menyalakan lampu besar semalam suntuk. Kalaupun ada beberapa lampu yang saya lihat tidak menyala, ternyata ada penyebab lainnya: aki/baterainya dicuri orang!

Pak Janu yang baru pulang dari Tiongkok itu sudah punya kiat mengatasi pencurian aki tersebut. Di Tiongkok, dia melihat sudah ada aki/baterai yang tidak bisa digunakan untuk start mobil/motor. Baterai jenis itulah yang kelak digunakan untuk memperluas suryanisasi lampu jalan raya.

Di Kupang, kami juga sempat melihat pabrik semen Kupang. Satu-satunya industri besar di Pulau Timor itu sangat berharap PLN bisa memberikan listrik yang cukup. Bahkan, kalau listrik di NTT memang bisa baik, akan ada dua pabrik lagi yang dibangun: pabrik pengolahan mangan yang memerlukan listrik masing-masing 4 MW. Alangkah vitalnya listrik ini untuk memajukan ekonomi daerah.

Dari kunjungan ke berbagai daerah di NTT itu, saya mendapat pelajaran manajemen yang sangat berharga. Pelajaran yang belum pernah saya peroleh dalam hidup saya. Ini datang dari ucapan tidak langsung seorang karyawan yang malam itu ikut menampilkan paduan suara. Paduan suara karyawan PLN NTT memang ciamik. Juara paduan suara BUMN! Setelah turun panggung, dia berbisik: “Pak, kunjungan Bapak ini membuat kami merasa dekat dengan pimpinan. Selama ini kami menyangka bahwa pimpinan itu hanya lebih dekat dengan rekanan.”

Makna bisikan tersebut sangat dalam. Citra pimpinan yang hanya dekat dengan rekanan ternyata menimbulkan dampak psikologis yang hebat di kalangan karyawan. Ternyata, karyawan sering segan menegur, marah, atau memberikan sanksi kepada rekanan karena suasana kebatinan yang tidak terkatakan itu. Mereka takut menegur rekanan karena melihat betapa akrabnya pimpinan dengan rekanan tersebut. Intinya, mereka takut menegur yang mereka kira temannya pimpinan.

Meski kedekatan pimpinan dengan rekanan tidak mesti karena adanya hubungan khusus, karyawan ternyata tidak mudah membedakannya. Karyawan tidak bisa tahu mana perkawanan yang profesional dan mana perkawanan yang kolutif.

Begitu melihat keakraban antara pimpinan dan rekanan (misalnya bisa masuk ruang kerja pimpinan tanpa prosedur atau sering sama-sama main golf atau sering sama-sama makan), karyawan langsung menduga hubungan itu sangat khusus. Karyawan akan hati-hati memperlakukan rekanan tersebut, “khawatir jangan-jangan mengganggu kepentingan khusus pimpinan”.

Bahwa ada perasaan karyawan seperti itu, sungguh baru kali ini saya mendengarnya. Maklum, baru kali ini saya bergaul dengan karyawan BUMN.

Alangkah pentingnya kita mendengar suara yang tidak terkatakan itu! (*)

Dahlan Iskan
CEO PLN

About these ads

Diskusi

9 pemikiran pada “Suara Tak Terucap dari Kelok Seribu

  1. Permodelan pemimpin dgn pedal gas dan pelal rem.. kalau boleh diupamakan dari catatan catatan Bapak mungkin Bapak tergolong pemimpin pedal gas pak.. Sesuai dgn pln yg sedang harus ‘ngebut’. Sesuai pula dgn Indonesia. Ayo a2014 Pak?. Kapan jalan jalan k kalimantan pak? Saya tertarik dgn wacana Bapak ‘lebih baik ekspor listrik dari pada ekspor batu bara’ dlm catatan sumatera. Mungkin nanti pln punyag kapal kapal besar pengekspor listrik. ha3….soal minxak sambal pak saya tertawa hinga menangis membacanya..

    Posted by adi iskandar | 22 Oktober 2010, 7:52 am
  2. Di berita ada yang mengusulkan pak Dahlan jadi menteri esdm, saya malah mengusulkan pak Dahlan jadi dirut Pertamina, karena pak Dahlan orang lapangan, tak cocok sebagai pengambil keputusan. Giman pak Dahlan, gan pei….

    Posted by nazirni | 22 Oktober 2010, 10:52 am
  3. sejak saya bekerja di radar banjarmasin (jawa pos grup), meskipun cuma setahun, saya cukup mengenal bapak dari cerita rekan-rekan senior dan tulisan-tulisan bapak di jawa pos. Terlebih lagi soal tulisan bapak yang akhirnya dibukukan dengan judul GANTI HATI. Salah satu dari belasan tulisan yang terbit tiap hari itu yang paling menggoda saya adalah masalah doa. “Kita tidak disuruh untuk banyak berdoa, tapi banyak berusaha karena ALLAH sudah memberi kita “motherboard” tercanggih didunia, yakni otak”. begitu kira-kira kesimpulan dari tulisan tersebut.
    Seketika itu saya teringat sebuah anekdot berikut. Di koran menyebutkan minuman alkolhol itu berbahaya, saya berhenti minum. Di koran disebutkan merokok itu merusak kesehatan, saya berhenti merokok. Di koran bilang “jangan sering meminta dengan Tuhan (berdoa), saya berhenti baca koran FAJAR -saat itu saya mengikuti tulisan bapak ketika melanjutkan kuliah di makassar.
    Hati saya berkata “gawat nih cara berpikir ini orang”. Tapi hari ini (setelah saya membaca tulisan bapak), saya sadari ternyata bapak tidak “Segawat” yg saya kira. Perjuangan bapak sebagai CEO PLN membuktikan bahwa kerja keras bapak ternyata disadari “HARUS” ada campur tangan tuhan tapi setelah bapak menunnjukkan usaha yang maksimal.
    Sedih juga sih rasanya membaca dan mendengar ejekan org kepada PLN, padahal belum tentu mereka tau hasil kerja keras tsb membuahkan hasil. Tapi ada juga sih org yg sudah tau tapi pura-pura tidak tahu hanya sekedar untuk membuat gaduh politik dalam negeri (baca: menggoyang kepemimpinan SBY). Tapi kami tetap mendukung perjuangan bapak.
    Perlu saya sampaikan, saat ini saya juga sedang “berjuang” mendukung kesuksesan PLN dalam program 75/100 “75 tahun PLN, 100 % indonesia teraliri listrik” (masih ada ga ya?). Ada satu pulau, namanya Pulau sebuku (satu kecamatan dengan delapan desa) di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan yang sampai saat ini baru satu desa yang dialiri listrik PLN. itu pun cuma dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi. Tujuh desa lainnya harus puas hidup dengan listrik dari jam 6 sore smpai jam 12 malam, itupun dengan daya dari genset pribadi. Saat ini mereka sudah punya satu mesin genset besar sumbangan dari perusahaan yang melakukan usaha di pulau tersebut. Nah, mesin inilah yang saya upayakan agar mau dikelola oleh PLN sehingga desa-desa yang masih “swadaya” listrik dapat menikmati indahnya listtik murah ala PLN. Semoga program ini mendapat dukungan dari manajemen PLN setempat. AMIN…….

    Posted by rezki | 24 Oktober 2010, 11:55 am
  4. Selamat Ulang Tahun PLN,,,, dan Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak Dahlan yg telah membuktikan komitmennya.
    Walaupun sebelumnya saya sempat pesimis dengan komitmen Bapak. Kapan kira2 Bapak bisa datang ke Balikpapan?
    Karna saya sangat berharap dengan kedatangan Bapak, bisa membawa perubahan terhadap kinerja para karyawan PLN yg terkadang mempersulit calon konsumen, namun malah mempermudah para calo.
    Saya rasa Indonesia masih banyak memiliki para tenaga2 muda yang cerdas dan loyal terhadap Pimpinan yg benar2 konsen dengan kemajuan Bangsa.
    Semoga PLN biasa bersih dari para karyawan nakal, dan semoga kinerja Bapak dapat ditiru oleh Pimpinan BUMN-BUMN lain. BRAVO!!!…

    Posted by retno widiastuti | 25 Oktober 2010, 11:09 am
  5. Selamat untuk semua karyawan PLN, anda semua punya CEO yg “down to earth”

    Posted by adi winardi | 26 Oktober 2010, 3:51 pm
  6. Negara yang hebat adalah negara yang mengimpor bahan baku, bukan pengexport bahan baku,bahan karena pasti negara itu akan berusaha untuk menekan se efisien mungkin pemakaian bahan baku agar tidak ngalami kesulitan disaat bahan bakunya mulai sulit didapat,makanya jangan heran kalo negara kita semakin ketinggalan dengan negara lain, wong kerjanya cuma mengexport bahan baku.
    Untuk apa sekolah mahal, kalo jadinya cuma menambah kemiskinan,harusnya sekolah ga mbayar, biar seluruh indonesia ga ada orang goblok,apa jadinya kalo semua orang indonesia SDM nya tinggi,mungkin kita akan export SDM dengan tingkat kompetisi tinggi,dan setiap orang akan membawa pundi2nya kembali ke Indonesia,trus multiplier efeknya bakal luar biasa, tahu sendirilah Pak Dahlan,Negara dengan Gemah ripah loh Jinawi,donyane sa’paran2,Negoro makmur, Rakyat ora kemrungsung.
    Makanya pak, bangun listrik yang banyak,murah,ora mbebani urip rakyat,wong seng gajian saja,harus menyisihkan uangnya untuk biaya listrik,belum lagi sekolah,biaya untuk ngisi perut,la terus kapan kita bisa menikmati kemakmuran dan kekayaan alam negeri kita, kalo hasil alamnya cuma bisa di export,…..
    Mana lulusan ITB;UGM;UI;ITS;dan Segudang perguruan tinggi di indonesia,buktika jati dirimu, jangan cuma jadi pesuruh, Kapan kau bangun untuk kemakmuran Negeri ini dengan tidak membebani rakyat.
    Sudah sekolah mahal2, eh begitu lulus cuma jadi pengangguran, ga bisa terserap untuk mencari nafkah di negeri sendiri,sedah gitu kekayaan alam cuma di export, dan ujung2nya kita import dari bahan yang kita export,itu yang saya sebut sebagai orang goblok, makanya, saya sangat mendukung pemimpin itu cukup orang seperti pak Dahlan saja.

    Posted by Muhammad Subhan | 31 Oktober 2010, 8:29 pm
  7. Dear Pak Dahlan
    saya punya banyak kawan2 idealis semasa kuliah dulu yg kerja di PLN. Mereka masih muda-muda. masih blm begitu terkontaminasi ‘sikut-sikutan’ jabatan.
    Mohon mereka di ‘selamatkan’ dg cara bapak bekerja dan memimpin.
    Doa saya buat kesehatan dan kebaikan bapak agar negeri ini bisa lebih baik.
    salam

    feri

    Posted by feriyonika | 19 November 2010, 1:26 pm
  8. Pretty great post. I simply stumbled upon your blog and wished to say that I’ve truly enjoyed surfing around your blog posts. After all I’ll be subscribing in your rss feed and I’m hoping you write once more very soon!

    Posted by Beton Iasi | 14 Juli 2013, 11:48 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: Ubah NTT Jadi Nusa Terang Terus « Catatan Dahlan Iskan - 22 Oktober 2010

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.177 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: