pramudyaputrautama

Arsip untuk Maret, 2009

Beli Kursi di Langit

In Catatan Dahlan Iskan on 31 Maret 2009 at 7:00 am

Selasa, 31 Maret 2009

Beli Kursi di Langit

Sejak Mandala dikenal cukup on time, banyak orang pindah ke penerbangan itu. Termasuk saya. Garuda sudah terasa terlalu mahal. Apalagi Mandala juga sudah menggunakan pesawat yang relatif baru: Airbus 319 atau Airbus 320.

Orang seperti saya, on time termasuk pertimbangan yang penting. Antara satu janji dan janji yang lain sering agak mepet. Karena itu, meski Garuda terkenal mahal, orang tetap memilih Garuda karena on time. Memang banyak orang memilih Garuda karena perasaan lebih safe. Tapi ketika kelebihan-kelebihan Garuda itu juga sudah bisa dipenuhi Mandala, orang lantas memilih yang lebih murah.

Memang di Mandala tidak memperoleh makanan/minuman. Tapi, untuk terbang jarak pendek seperti Surabaya-Jakarta, faktor makanan tidaklah penting. Tidak mungkin orang mati kelaparan dalam penerbangan satu jam. Apalagi orang seperti saya, begitu naik pesawat memilih segera tidur! Ketika masih sering naik Garuda dulu, meski di kelas eksekutif, saya sering berpesan agar kalau sedang tertidur jangan dibangunkan hanya untuk makan. Read the rest of this entry »

Gaya Obama Tangani Aset-Aset Warisan

In Catatan Dahlan Iskan on 25 Maret 2009 at 7:00 am

Rabu, 25 Maret 2009

Dahlan Iskan : Gaya Obama Tangani Aset-Aset Warisan

Tumben, pasar modal Amerika Serikat tiba-tiba bergairah. Itu terjadi karena Obama akhirnya membikin kebijakan yang bisa menyenangkan bursa saham. Dalam dua hari ini, indeks harga saham melejit mencapai 7.775. Naik mendadak hampir 7 persen. Pengaruhnya juga ke seluruh dunia. Termasuk ke pasar modal Jakarta.

Pemerintahan Obama akhirnya memang mengeluarkan rancangan rinci bagaimana harus mengatasi banyaknya aset beracun. Yakni, aset yang disita dari kredit macet yang sebenarnya kurang ada harganya itu. Dalam term pemerintahan Obama, istilah aset beracun atau agunan setengah bodong tidak dipakai lagi. Dalam pemerintahan Obama, sekarang aset-aset beracun itu secara resmi disebut ”aset warisan”.

Istilah itu bisa mengandung makna ganda. Kalau dinamakan aset beracun, kesannya menakutkan. Padahal, Obama kini punya program menjual cepat aset-aset itu. Kalau dikatakan beracun, siapa yang mau beli. Obama memilih istilah ”aset warisan” sekaligus untuk mengingatkan bahwa keruwetan itu tidak lain adalah warisan pemerintahan Partai Republik. Kesan memojokkan itu harus dibuat karena anggota DPR dari Partai Republik kini selalu menentang program Obama. Maka kelak, kalau aset warisan itu hanya laku dengan harga murah, jangan salahkan Obama. Salahkan yang mewariskan. Kira-kira begitu. Read the rest of this entry »

Komite Aksi Merebut Uang Inves Kembali

In Catatan Dahlan Iskan on 23 Maret 2009 at 7:03 am

Senin, 23 Maret 2009

Dahlan Iskan : Komite Aksi Merebut Uang Inves Kembali

Ketika ke Singapura kemarin, saya mencatat dua peristiwa menarik yang terkait dengan krisis ekonomi dunia sekarang ini. Yang pertama mengenai aksi para pembeli minibond. Yang kedua mengenai dikaitkannya gaji pegawai negeri dengan krisis ekonomi.

Mengenai minibond, aksi itulah yang bisa menjadi harapan baru bagi orang-orang Indonesia yang uangnya amblas di Singapura. Terutama, mereka yang menempatkan uangnya dalam bentuk minibond. “Kami berharap teman-teman dari Indonesia bergabung bersama kami untuk meminta uang itu kembali,” ujar Steve Yap kepada saya. “Uang keluarga saya sendiri lebih Rp 2 miliar terbelit di situ,” ujar Steve, yang dua tahun lalu pensiun dari perusahaan asing di Singapura.

Menurut Steve, 55, tercatat 8.000 orang yang menempatkan uangnya di minibond. Banyak juga yang dari Surabaya, Jakarta, dan kota-kota lain di Indonesia. Steve dan teman-teman Singapuranya sudah membentuk komite aksi untuk mengurus investasi mereka di perusahaan derivatif itu. “Asal kita kompak, harapan untuk meraih uang itu sangat besar. Di Hongkong sudah berhasil,” katanya. Read the rest of this entry »

RAPBN Krisis, Arena Perjudian Obama

In Catatan Dahlan Iskan on 21 Maret 2009 at 7:00 am

Sabtu, 21 Maret 2009

RAPBN Krisis, Arena Perjudian Obama

Presiden Barack Obama minggu-minggu mendatang ini seperti memasuki arena perjudian besar di Amerika Serikat. Bukan saja untuk dirinya, juga untuk negara adikuasa itu.

Akankah ”perubahan” yang dijanjikan selama kampanye bisa dia lakukan? Atau terganjal oleh DPR yang kini lagi membahasnya? Tantangan dari kalangan konservatif sangat kuat. Agenda perubahan yang dia ajukan memang luar biasa besarnya. Bisa dibilang seperti mengubah arah kendaraan yang sedang melaju ke utara menjadi harus mengarah ke selatan.

Dalam dua bulan ke depan ini, kita akan melihat situasi di AS mirip dengan suasana masa kampanye dulu. Obama akan banyak terjun ke lapangan, tampil di media, dan mengerahkan segala kemampuannya agar rencana anggaran tahunan (RAPBN) yang dia ajukan ke DPR tidak ditolak. Read the rest of this entry »

Bebaskan Sepak Bola dari Politik!

In Catatan Dahlan Iskan on 17 Maret 2009 at 7:00 am

Selasa, 17 Maret 2009

Dahlan Iskan : Bebaskan Sepak Bola dari Politik!

Sebagai orang yang kalau di luar negeri saya sangat membangga-banggakan demokrasi di Indonesia, saya agak kecewa dengan larangan sepak bola selama masa pemilu legislatif. Kesannya, larangan itu seperti membenarkan bahwa sebenarnya Indonesia ternyata belum siap dengan demokrasi.

Larangan sepak bola itu, menurut pendapat saya, menjadi salah satu cacat demokrasi kita. Seolah-olah kita tidak bisa melakukan pemilu kalau masih ada sepak bola. Artinya, pelaksanaan demokrasi di Indonesia masih ada catatannya. Demokrasi dengan catatan.

Saya yakin, penyebabnya adalah kurang gigihnya pengurus sepak bola dalam memperjuangkan dirinya. Pada masa lalu, ketika demokrasi belum sehebat dan sedewasa sekarang, sepak bola bisa berjalan lancar. Mengapa kian lama justru kian ada masalah? Read the rest of this entry »

Tuduh Liberal Turunkan Keunggulan Amerika

In Catatan Dahlan Iskan, Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh on 13 Maret 2009 at 7:00 am

Jum’at, 13 Maret 2009

Dahlan Iskan : Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (5-Habis)

Tuduh Liberal Turunkan Keunggulan Amerika

Penyebab kekalahan golongan konservatif atas golongan liberal di Amerika Serikat dalam pemilu lalu, menurut Rush Limbaugh, penyiar radio yang kalau ke mana-mana menggunakan pesawat pribadi itu, sederhana saja. “Kita telanjur mengira semua orang tahu konservatifisme itu apa. Ternyata tidak,” katanya. “Ternyata banyak orang yang salah mengerti mengenai konservatifisme. Konservatifisme dikira seperti yang dikesankan secara klise selama ini: antiras berwarna, fanatik, antiaborsi, anti perkawinan sejenis, dan seterusnya itu,” katanya dalam pidato satu jam di depan konferensi golongan konservatif pekan lalu (lihat seri tulisan ini kemarin).

“Ini karena media-media tertentu sengaja membuat citra begitu. Juga karena golongan liberal di Partai Demokrat selalu mengampanyekan hal-hal seperti itu,” katanya. Media-media yang dia golongkan pro-liberal tersebut misalnya New York Times, Washington Post, CNN, dan hampir semua koran besar di AS pada umumnya.

Lalu siapakah sebenarnya golongan konservatif itu? Read the rest of this entry »

Serang Presiden Sejam, 51 Kali Tepuk Tangan

In Catatan Dahlan Iskan, Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh on 12 Maret 2009 at 7:00 am
Kamis, 12 Maret 2009
Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (4)

Serang Presiden Sejam, 51 Kali Tepuk Tangan

Pidato nasional Presiden Barack Obama mengenai rencana pendapatan dan belanja negara yang baru (2010) minggu lalu membuat golongan konservatif semakin meneguhkan sikap bahwa Obama memang benar-benar sedang membawa Amerika Serikat menuju ke “kiri”. Ini membuat golongan “kanan” yang semula masih berharap bahwa setelah terpilih Obama bisa lebih ke “tengah” kehilangan harapan itu. Maka, golongan “kanan” pun kini semakin mengonsolidasikan diri.

Wujud konsolidasi yang terbaru dan terjelas adalah diadakannya konferensi golongan kanan yang disebut “konferensi aksi golongan konservatif” di Washington pekan lalu. Yang hadir 6.000 orang dan disiarkan langsung oleh jaringan TV Fox News ke seluruh negara. TV Fox News dicitrakan sebagai jaringan TV yang dekat dengan golongan “kanan”, yang berarti berseberangan dengan jaringan TV CNN yang dicitrakan dekat dengan golongan liberal.

Bintang pada konferensi itu adalah Rush Limbaugh, penyiar radio dengan gaji Rp 300 miliar setahun, yang kini menjadi lawan utama Presiden Obama di akar rumput. Keberaniannya melawan Obama secara terbuka bukan saja membuat pendengar siaran Limbaugh yang mencapai 30 juta orang itu naik terus, tapi juga membuat dia laris sebagai penceramah di mana-mana. Pada konferensi golongan konservatif pekan lalu itu dia mendapat alokasi pidato satu jam! Read the rest of this entry »

Penantang Lain Tuduh Presiden Perang Melawan Investor

In Catatan Dahlan Iskan, Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh on 11 Maret 2009 at 7:00 am

Rabu, 11 Maret 2009
Dahlan Iskan: Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (3)

Penantang Lain Tuduh Presiden Perang Melawan Investor

Penantang utama Presiden Barack Obama lainnya adalah penyiar televisi. Bukan sembarang penyiar, dia adalah pengasuh acara yang khusus mengomentari masalah ekonomi dan keuangan di TV nasional CNBC. Dia seorang doktor ekonomi terkemuka, wartawan senior, dan juga pengajar di beberapa universitas penting. Dia juga pernah menjabat kepala tim ekonomi perusahaan keuangan raksasa Bear Stearns yang kini sudah bangkrut itu.

Dulu dia pengikut Partai Demokrat. Namun, sejak Presiden Ronald Reagan (Republik) masuk Gedung Putih, dia menjadi pejabat tinggi di pemerintahan itu. Dialah yang waktu itu mengurusi manajemen dan anggaran pemerintah. Dia seorang Yahudi, namun dalam proses penyembuhan dirinya akibat ketagihan alkohol dan narkoba di pertengahan 1990 lalu masuk Katolik. Lalu jadi badan penasihat Ave Maria Mutual Fund.

Namanya: Larry Kudlow.

Acara yang diasuhnya adalah: The Kudlow Report. Read the rest of this entry »

Tantang Presiden Debat Tanpa Krepekan

In Catatan Dahlan Iskan, Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh on 10 Maret 2009 at 7:00 am

Selasa, 10 Maret 2009
Dahlan Iskan : Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (2)

Tantang Presiden Debat Tanpa Krepekan

Memang tidak fair menilai Presiden Barack Obama gagal. Dia baru dua bulan menjadi presiden dan mewarisi kekacauan ekonomi yang gawat. Tapi, orang seperti Rush Limbaugh tidak mau tahu. Apalagi, keadaan ekonomi tidak berhenti merosot. Harapan yang terlalu besar kepada Obama dalam pemilu lalu rupanya mulai menimbulkan putus harapan.

Orang akan memaklumi kalau Obama belum bisa membuat ekonomi lebih baik. Tapi bahwa ekonomi kenyataannya kian merosot drastis (sejak terpilih hingga sebulan setelah jadi presiden harga saham merosot 3.000 poin) sama sekali di luar harapan. Apalagi, Obama sudah gagal dalam dua hal. Pertama, mewujudkan keyakinannya bahwa dia bisa menjadi tokoh pemersatu bangsa. Kedua, kampanyenya untuk membeli produk dalam negeri juga gagal. Read the rest of this entry »

Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh

In Catatan Dahlan Iskan, Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh on 9 Maret 2009 at 7:00 am

Senin, 09 Maret 2009
Dahlan Iskan : Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (1)

Kini mulai muncul lawan-lawan yang membahayakan presiden Amerika Serikat yang baru, Barack Obama. Yang mengejutkan, musuh utamanya kini adalah seorang penyiar radio. Tentu kubu oposisi, Partai Republik, juga kian menunjukkan penentangannya, tapi tidak setelak penyiar radio itu. Maklum, Partai Republik sedang krisis kepemimpinan.

Begitu krisisnya sampai-sampai seorang pejabat Gedung Putih yang tentunya menjadi pendukung utama Obama melemparkan isu bahwa ketua umum Partai Republik yang sebenarnya saat ini adalah si penyiar radio itu. Karena Gedung Putih selalu menanggapi omongan penyiar radio tersebut, sang penyiar itu pun kian berkibar. Namanya bukan main ngetopnya seminggu terakhir ini: Rush Limbaugh. Read the rest of this entry »

Lewat APBN, Obama Melawan Status Quo

In Catatan Dahlan Iskan, Gaya Para Pemimpin Krisis on 5 Maret 2009 at 7:00 am

Kamis, 05 Maret 2009
Lewat APBN, Obama Melawan Status Quo

Gaya Para Pemimpin Krisis

Begitu Barack Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, November lalu, harga saham di Wall Street tetap turun. Sejak terpilih sampai pelantikannya harga saham merosot lagi sampai 1.500 poin. Ketika Obama mulai melakukan perubahan yang besar, harga saham anjlok lagi sebanyak 1.500 poin lagi. Selasa kemarin, indeks harga saham New York itu tinggal 6.700-an. Jauh dari puncak kejayaannya sebelum krisis yang pernah mencapai 14.000.

Penurunan yang terus menerus itu tidak saja mulai menggelisahkan, tetapi juga menurunkan rasa percaya diri masyarakat AS. Terutama ketika akibat krisis ini terasa semakin dalam. Padahal, seperti kata-kata Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao, “Percaya diri lebih berharga dari emas atau uang”. Read the rest of this entry »

Satu Kecamatan Pasok Sepertiga Alat Listrik Nasional

In Catatan Dahlan Iskan, Sistem Keuangan Bawah Tanah yang Khas Wenzhou on 4 Maret 2009 at 7:00 am

Rabu, 04 Maret 2009
Sistem Keuangan Bawah Tanah yang Khas Wenzhou (3-Habis)

Satu Kecamatan Pasok Sepertiga Alat Listrik Nasional

BERBEDA dengan di wilayah Dongguan (antara Guangzhou dan Shenzhen), di Wenzhou dan sekitarnya pertumbuhan usaha kecil dan menengah sangat khas: tiap kecamatan seperti punya jenis industri sendiri. Itu bukan karena ditentukan pemerintah, tapi terjadi secara mekanisme pasar oleh inisiatif lokal.

Industri apa pun yang menyangkut orang hidup di dunia ada di wilayah ini. Mulai peniti, karet gelang, bola bekel, hingga pemotong baja. Begitu rumit dan kompleksnya, sehingga para peneliti mengalami kesulitan mengklasifikasikannya. Misalnya, semua alat sepeda motor dan mobil dulu dimasukkan kategori industri metal. Kini banyak onderdil yang sudah terbuat dari plastik. Apa masih harus masuk kelas industri logam? Read the rest of this entry »

Banyak Bunuh Diri, Suku Bunga Makin Tinggi

In Catatan Dahlan Iskan, Sistem Keuangan Bawah Tanah yang Khas Wenzhou on 3 Maret 2009 at 8:13 am

Selasa, 03 Maret 2009
Dahlan Iskan : Sistem Keuangan Bawah Tanah yang Khas Wenzhou (2)

Banyak Bunuh Diri, Suku Bunga Makin Tinggi

Wenzhou dan sekitarnya memang sangat menarik bagi saya. Wilayah ini sering saya sebut sebagai contoh berkembangnya sistem ”paling kapitalis” dalam sebuah negara komunis. Saya selalu mengamati bagaimana musuh komunisme itu bisa hidup makmur di negara komunis.
Lebih menarik dari pengalaman saya dulu ke Samarkhan untuk melihat bagaimana masjid (dan makam Imam Bukhori) bisa hidup di negara komunis (Soviet saat itu) yang memusuhi agama. Berbeda dengan di Wenzhou, di Samarkhan waktu itu saya melihat pelestarian masjid tersebut hanya untuk ”lipstik” agar Soviet masih kelihatan bergincu. Tapi, kapitalisme di Wenzhou sangat murni, natural, dan berdiaspora. Read the rest of this entry »

Gaya Pemimpin Era Krisis

In Catatan Dahlan Iskan on 3 Maret 2009 at 7:00 am

Selasa, 03 Maret 2009
Gaya Para Pemimpin Krisis

Obama Cium Ibu, Wen Chatting dengan Rakyat

Di masa krisis berat seperti ini, para pemimpin dunia kelihatannya melakukan komunikasi langsung dengan rakyatnya melebihi dari yang sudah-sudah. Presiden Obama dan Perdana Menteri Wen Jiabao dua contoh yang amat menarik.

Ketika Senat Amerika Serikat memperdebatkan setuju atau tidak atas langkah-langkah presiden baru itu, Obama berdialog langsung dengan rakyat di beberapa kota yang paling terkena krisis. Kemarin lusa, pemimpin dari negara komunis yang biasanya sangat tertutup pun, chatting langsung dengan jutaan netter-nya selama dua jam lebih. Read the rest of this entry »

Rumah Gadai dan Rentenir Topang Usaha Kecil

In Catatan Dahlan Iskan, Sistem Keuangan Bawah Tanah yang Khas Wenzhou on 2 Maret 2009 at 7:00 am

Senin, 02 Maret 2009

Dahlan Iskan : Sistem Keuangan Bawah Tanah yang Khas Wenzhou (1)

Rumah Gadai dan Rentenir Topang Usaha Kecil

Bersama beberapa manajernya, Dahlan Iskan kini berada di Tiongkok dan melakukan perjalanan darat dari Shanghai-Qingdao-Qufu-Jinan-Tianjin. Berikut ini catatannya mengenai sistem keuangan bawah tanah di Wenzhou:

Di antara banyak cara mengatasi krisis yang sedang dilakukan, Tiongkok tahun ini menambah izin baru untuk mendirikan 240 rumah pegadaian swasta. Padahal, selama ini sudah ada 2.800 usaha sejenis. Di Tiongkok, swasta boleh mendirikan rumah pegadaian untuk mengatasi kebutuhan dana usaha kecil yang biasanya jarang bisa ditangani oleh sistem perbankan formal. Read the rest of this entry »