pramudyaputrautama

Arsip untuk Februari, 2009

Jeritan Listrik dari Kota di Sudut Negeri

In Catatan Dahlan Iskan on 23 Februari 2009 at 7:00 am

Senin, 23 Februari 2009
Jeritan Listrik dari Kota di Sudut Negeri

Saya ke Tarakan minggu lalu dan juga ke Nunukan. Yang tidak saya duga adalah ini: masyarakat lagi ribut (lagi) soal listrik yang mati terus. Di Tarakan ada pertanyaan besar, besar sekali, mengapa tidak mampu mengatasi krisis listrik. Pertanyaan itu besar sekali karena PLN di Tarakan sudah dibuat berbeda dengan PLN di daerah-daerah lain di Indonesia.

Status PLN di Tarakan (juga Batam) bukan lagi wilayah, atau cabang, atau pembantu cabang. PLN di Tarakan adalah PLN yang statusnya sudah mandiri. PLN-nya sudah berbentuk perusaan sendiri: PT PLN Tarakan. Di Tarakan PLN-nya sudah punya direktur sendiri, komisaris sendiri, dan organisasi sendiri.

Pertanyaan besarnya: mengapa direksinya tidak bisa membuat keputusan? Mengapa komisarisnya tidak menegur direksi yang tidak membuat keputusan? Atau, kalau direksinya sudah membuat keputusan, mengapa komisarisnya diam? Read the rest of this entry »

Jalan Cepat Kelas Dunia untuk Pertamina

In Catatan Dahlan Iskan on 13 Februari 2009 at 7:00 am

Jum’at, 13 Februari 2009

Dahlan Iskan – Peter F. Gontha : Jalan Cepat Kelas Dunia untuk Pertamina

Cita-cita direktur utama Pertamina yang baru dan cantik itu, Karen Agustiawan Galaila, antara lain ingin membuat Pertamina menjadi perusahaan kelas dunia.

Mungkinkah?

Semua orang akan mengatakan “mungkin saja” atau “sangat mungkin” atau bahkan “harus bisa”. Tapi, kalau ditanya apa dasarnya, paling hanya akan menyebutkan bahwa Indonesia ini negara besar yang sumber migasnya luar biasa. Atau, “Petronas Malaysia saja yang dulu belajar ke Pertamina kini sudah mengalahkan gurunya itu dan sudah menjadi perusahaan kelas dunia”. Bahkan, Singapore Petroleum yang negerinya hanya satu pulau kecil yang tidak punya sumur minyak, sudah mengalahkan Pertamina. Read the rest of this entry »

Wartawan Perjuangan yang Murni dalam Lima Tahun

In Catatan Dahlan Iskan, Catatan Hari Pers Nasional on 9 Februari 2009 at 7:00 am

Senin, 09 Februari 2009
Catatan Hari Pers Nasional
Wartawan Perjuangan yang Murni dalam Lima Tahun

Oleh : Dahlan Iskan

Pembaca koran naik drastis di Amerika Serikat, tapi pembeli koran turun drastis. Demikian juga ”pemirsa laptop” naik drastis dan pemirsa tv turun drastis. Untuk kali pertama dalam sejarah media, pelantikan Barack Obama sebagai presiden ke-44 AS pada 21 Januari lalu lebih banyak ditonton lewat laptop daripada lewat pesawat televisi.

Naiknya pembaca koran lewat internet dan meningkatnya pemirsa laptop untuk peristiwa besar telah menyusutkan pendapatan iklan kedua jenis media itu. Belum ada usul bagaimana mengatasi ancaman terhadap televisi itu, tapi mulai ada wacana agar perusahaan koran yang mengalami kesulitan keuangan akibat krisis global ini juga di-bailout oleh pemerintah AS. Apalagi, di AS amat terkenal kredo ”lebih baik tidak ada pemerintah daripada tidak ada koran”. Kalau perusahaan mobil saja di-bailout, mengapa pilar demokrasi ini tidak. Read the rest of this entry »

Mengapa Banyak Koran Baru

In Catatan Dahlan Iskan on 9 Februari 2009 at 7:00 am

Senin, 09 Februari 2009
Mengapa Banyak Koran Baru

Di zaman bikin surat kabar atau majalah tidak perlu izin apa pun seperti sekarang ini, apa sajakah motif seseorang menerbitkan surat kabar atau majalah? Coba kita inventarisasi kemungkinan-kemungkinan motif di baliknya:

  1. Idealisme (menegakkan keadilan, kebenaran, membela si lemah, menyuarakan kepentingan umum, menegakkan demokrasi, dan sebagainya).
  2. Bisnis (mengharapkan bisa menjadi lembaga bisnis, kecil maupun besar).
  3. Politik (sebagai alat membela dan memperjuangkan aliran politik).
  4. Agama (untuk menyiarkan ajaran agama).
  5. Kepentingan sesaat (ingin dekat penguasa atau ingin jadi penguasa, mulai bupati/wali kota, gubernur, dan seterusnya).
  6. Coba-coba.
  7. Digoda/”dihasut” orang lain (terutama oleh para mantan wartawan).
  8. Menyalurkan hobi.
  9. Belum ada pekerjaan lain (umumnya dilakukan oleh anak orang kaya yang baru pulang sekolah dari luar negeri).
  10. Ngobyek (untuk mencari penghidupan kecil-kecilan dengan asumsi akan ada saja orang yang takut kepada pers dan karena itu bisa diminta/diperas uangnya. Termasuk di kelompok ini adalah pers sebagai alat untuk mencari proyek). Read the rest of this entry »

Tionghoa Dewasa dalam 10 Tahun

In Catatan Dahlan Iskan on 8 Februari 2009 at 7:00 am

Minggu, 08 Februari 2009
Dahlan Iskan : Tionghoa Dewasa dalam 10 Tahun

Ada perkembangan yang sangat menarik dari banyaknya rombongan kesenian yang datang ke Indoensia setiap tahun (termasuk di sekitar Hari Raya Imlek sampai Cap Go Meh tahun ini). Ada perubahan pandangan yang sangat besar dari kalangan Tionghoa sendiri atas kedatangan mereka itu.

Pandangan apa yang berubah antara kedatangan mereka 10 tahun yang lalu dan sekarang ini?

Saya mencatat dengan teliti sudah terjadi perubahan persepsi yang luar biasa. Termasuk di kalangan masyarakat Tionghoa sendiri. Juga di mata yin ni pen di ren. Sampai 9-8-7 tahun yang lalu, kedatangan rombongan kesenian dari Tiongkok itu masih selalu dianggap hebat, bahkan setengah ajaib. Tariannya selalu dipuja sebagai liao bu qi. Kostum dan penarinya selalu dinilai hen piao liang! Dan akrobatnya hen lihai! Pujian di tahun-tahun pertama reformasi itu tidak salah, terutama barangkali karena sudah puluhan tahun tidak melihat kesenian yang demikian -lantaran dilarang selama lebih dari 30 tahun. Read the rest of this entry »