>>
Anda sedang membaca ...
Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Ingin Naikkan Albumin, Berburu Banyak Ikan Kutuk

September 16, 2007
Ingin Naikkan Albumin, Berburu Banyak Ikan Kutuk

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver (22)

Oleh:
Dahlan Iskan
iskan@jawapos.co.id

SETELAH hati mantap melakukan transplantasi, barulah saya menentukan langkah. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. Kehebatan dokter, kesediaan donor, dan ketepatan rumah sakitnya. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. Tiga faktor itu saya sebut sebagai “persyaratan mutlak”. Lalu masih ada sejumlah “persyaratan keinginan”. Misalnya, kedekatan dengan Indonesia, kedekatan budaya, dan kedekatan bahasa.

Saya sudah terbiasa, dalam setiap akan mengambil keputusan, menjalankan satu proses yang disebut problem solving. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. Lalu mengalikan bobot dan nilai. Hasil perkalian tertinggi, itulah pilihan terbaik. Saya pernah disekolahkan untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO.

Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’ atau ’Ten Commandments” yang saya tentukan. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik, tapi saya tidak peduli.

Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. Maka, tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia, Amerika, Jepang, Singapura, Belanda, dan Tiongkok. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. Kita pelajari track record-nya. Juga, terutama, umurnya. Saya ingin dokter yang berpengalaman, tapi masih muda. Tangan anak muda, menurut logika saya, akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. Saya memang sangat pro anak muda. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang.

Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. Penampilannya meyakinkan. Urat-uratnya kukuh, mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. Pengalamannya juga luar biasa. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. Bahkan, sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak, rekor transplantasi tanpa transfusi darah, rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun), transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang. Boleh dikata, dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver.

Tapi, masih ada satu yang meragukan. Padahal, yang saya ragukan ini masuk dalam ’persyaratan mutlak’. Artinya, mau tidak mau harus dipenuhi. Kalau hanya masuk ’persyaratan keinginan’, barangkali bisa diabaikan. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya?

Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. Yakni, di satu kota di belahan utara Tiongkok. Untuk Indonesia kota ini tidak populer, tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. Berkali-kali saya ke kota itu. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu.

Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. Khususnya tower yang baru. Sangat bersih dan terawat. Alat-alatnya juga amat modern. Dan, reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. Hati saya mantap sekali.

Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. Dan, dia selalu berhasil menjalankan misinya. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan transplantasi liver. Saya mengenal baik kotanya, mengenal baik budayanya, dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya.

Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin.

Memang, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab, bisa saja mempekerjakan juru bahasa. Namun, tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. Bahkan, karena hampir selalu berbahasa Mandarin, saya sering tidak dianggap orang asing. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. Bahwa kulit saya agak hitam, banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya.

Robert juga langsung memesan kamar terbaik, yang ada ruang tamunya, dapurnya, saluran internet-nya. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun, membeli mobil, mencari sopir, pembantu rumah tangga, dan juru masak. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor. Masa menunggu tidak bisa ditentukan.

Keluarga saya, dan juga Robert, tinggal di apartemen. Saya tinggal di rumah sakit. Istri saya tidur di ruang tamu. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. Dua kali sehari. Pagi 2 jam, sore 2 jam. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat.

Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. Yakni, ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan.

Kalau akhir pekan, saya pamit ke kota lain. Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan. Maksudnya, kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya, tiba-tiba ada donor), saya bisa kembali segera.

Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. Karena itu, saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan, sudah lebih siap.

Suatu saat saya ke Kota Dalian, satu jam penerbangan dari kota ini. Di salah satu plaza di sana, ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. Saya main squash cukup lama. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali.

Suatu malam saya tidak bisa tidur. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar saya berteriak-teriak sepanjang malam. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya?

Paginya dia berteriak-teriak lagi. Saya mencoba menengoknya. Tahulah saya bahwa dia masih diikat di ranjang. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. Ternyata dia berontak karena ada janji, pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas. Tapi, ternyata tidak. Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus diikat. Siangnya, saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. Ini saya ketahui setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab. Dia memang tidak bisa berbahasa Inggris. Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai.

Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya, tapi tidak diizinkan. Yang tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. Mungkin untuk menghemat pulsa, mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat dia.

Ketika penunggunya lagi pergi, dan melihat saya bisa bicara Arab, dia minta tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga. Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh penunggunya. Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi nomor telepon.

Tapi, angka-angka itu angka Arab. Dia mendiktekannya ke suster dengan bahasa Inggris yang amat tidak jelas. Tapi, setiap kali nomor itu dihubungi selalu gagal nyambung. Dia mulai kesal dan uring-uringan. Akhirnya saya rayu dia untuk memberikan cuilan kertas itu. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu digit. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. Suster tidak tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. Saya menyarankan agar menambah “nol” di pijitan terakhir. Titik, dalam huruf Arab, berarti nol. Ternyata nyambung. Luar biasa senangnya.

Sambil menunggu dan menunggu, saya terus menjaga kondisi. Badan saya harus sehat. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. Para suster bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit. “Saya memang tidak sakit. Saya hanya perlu transplantasi liver,” gurau saya kepada mereka.

Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. Karena flu saja bisa mengurangi potensi kesuksesan transplantasi. Saya juga harus menjaga agar protein di darah saya, terutama albumin, tidak terus merosot. Untuk menambah protein banyak sumbernya. Mulai daging, putih telur sampai ikan. Tapi, meningkatkan albumin luar biasa sulitnya.

Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menaikkan albumin. Tidak ketemu. Di Tiongkok, yang biasa menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin, juga tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. Satu-satunya sumber albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. Di Kalimantan disebut ikan gabus. Dalam bahasa Inggris dikatakan “ikan kepala ular”, karena bentuknya seperti ular yang amat pendek.

Saya menghubungi guru besar Unibraw, Malang, Prof Eddy Suprayitno. Satu-satunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. Setelah penjelasannya meyakinkan, mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap hari. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. Entah sudah berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk.

Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. Yang saya tahu kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana, sebagaimana umumnya guru besar di Indonesia.

Di Tiongkok, peneliti seperti itu jadi kaya raya. Satu orang yang meneliti satu jenis tanaman liar yang disebut ’tear drop’ (di desa saya dulu disebut manikan, sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. Sebab, buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. Seorang peneliti padi yang dulu hidup di desa selama 20 tahun, kini menjadi pemegang saham perusahaan pembibitan dengan aset triliunan rupiah.

Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. Jadi amat berharga. Tapi, karena saya akan tinggal lama di Tiongkok, tentu saya akan kesulitan membawa kutuk ke sana. Lalu muncul di pikiran, masak tidak ada kutuk di Tiongkok. Maka saya mencari kutuk di sana. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang, di Nanjing, di Wuhan, di Harbin, di Dalian, di Qingdao, dan seterusnya. Tapi, saya tidak menemukannya.

Di Nanchang, teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak ikan kutuk. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. Ketika saya ke Nanchang, dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan. Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. Bapak teman saya, dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti, menjelaskan panjang lebar bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu.

Saya berterima kasih padanya. Saya mengatakan “benar”, itulah ikan yang saya cari. Tapi, sebenarnya bukan. Bentuknya memang persis kutuk, tapi bukan kutuk. “Kutuk Tiongkok” ini lebih hitam. Karena itu, di sana disebut “hei yu” -“hei” artinya hitam, “yu” artinya, Anda bisa menduga sendiri. Kandungan daging “hei yu” tidak sama dengan kutuk di Jawa.

Di Kalimantan lebih lengkap. Kutuk, yang di sana disebut ikan gabus, sangat banyak. “Hei yu” juga banyak. “Hei yu”, yang kalau di Kalimantan disebut ikan tomang, juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. Tapi, dagingnya hambar. “Hei yu” di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan asin. Sedangkan ikan gabus yang manis, enak sekali dimasak bumbu bali, dimakan dengan nasi kuning.

Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. Padahal, mempertahankan albumin menjadi amat penting. Dalam keadaan normal, liver bisa memproduksi albumin. Tapi, karena liver saya rusak, sungguh sulit mengatasinya. Akhirnya, agar badan tetap sehat, saya memutuskan untuk selalu makan banyak. Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. Badan saya harus sehat menghadapi operasi besar. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk disembelih: Harus sehat dan gemuk. (bersambung)

About these ads

Diskusi

18 thoughts on “Ingin Naikkan Albumin, Berburu Banyak Ikan Kutuk

  1. P. Dahlan,
    Saya tertarik dengan tulisan bapak tentang khasiat ikan kutuk. Ibu saya punya luka cukup besar dikaki krn diabetes. Saat dicek albuminnya rendah 2,7. Sempat diopname dan diinfus dng berbotol2 ALBUTEIN, sdh harganya mahal 1,3 juta tp hasilnya gak sebanding. Saya ingin mencoba ikan kutuk itu, tp saya bingung dg cara pengolahannya. Ada yang bilang dikukus hidup2 dg wadah dibawahnya spy dapat tetesan sarinya, dibersihkan/disisik-i, dipotong2 trus ditim dg kunir&jahe dimakan sekalian ikannya, disop seperti cara bapak, ikan+air di-steam dlm 1 tempat. Mana yg bener sih pak?? Sebenarnya yang mengandung Albumin itu sari kutuknya ato kutuknya ya??. Kalo dicampur air apa khasiatnya gak hilang???. Mohon dibalas kebingungan saya ini ya pak?? Saya tanya ke bapak krn bpk yang sdh mengalaminya sendiri.. Kalo berkenan tolong balas di Email saya ya pa???…Please help me and my lovely mother…

    Posted by winda | 15 September 2008, 10:39 am
  2. Saya sedang mencari obat untuk vitiligo (kulit belang), apakah ikan kutuk ini bisa untuk menyembuhkan penyakit vitiligo? Mohon di jawab via email saya . Trima kasih banyak atas infonya

    Posted by Bambang | 23 Januari 2009, 5:45 am
  3. Bagaimana cara pengolahan ikan kutuk untuj menaikkan albumin pak? Saya sedang merawat ibu saya yg kakinya bengkak2. Jika berkenan mohon dibalas via email saya, trimakasih banyak atas bantuanya. Salam

    Posted by Retno | 3 Maret 2009, 1:51 pm
  4. bila ada yang membutuhkan ekstrak ikan kutuk saya siap mengirimkan ke seantero Indonesia guna cepat menaikkan kadar albumin dalam darah.

    Posted by Fl. Nurtitus | 23 April 2009, 9:17 pm
  5. selamat pagi
    saya mau tanya,dirumah saya banyak ikan kutuknya/ikangabus,trus gimana cara mengolahnya biar menjadi serbuk albumin yang dimaksud,rencananya kalau sudah tau saya mau buat keluarga yang luka terkena setrika
    terima kasih

    Posted by alfi lutfiyati | 19 Agustus 2009, 9:22 am
  6. mungkin pertanyaan saya sama denagan tmn2 yg lainnya yaitu bagaimana mengolah ikan gabus agar kandungan albuminnya dapat dimanfaatkan sebanyak2nya mohon petunjuk dr bapak.

    Posted by suryamandita | 7 November 2009, 11:13 pm
  7. untuk menaikkan albumin dlm tubuh boleh juga dengan mengkonsumsi telur ayam kampung yang di rebus, tetapi putihnya saja. kuningnya jangan di makan.

    Posted by kelber | 29 September 2010, 11:49 am
  8. Pujimin Kapsul Albumin solusinya… ekstrak ikan gabus (besar ikan minimal 1 kg) kunjungi blog saya, daruwijaya.wordpress.com atau call ke 021-99697771, 1 botol isi 30 kapsul. Penggunaan untuk albumin rendah 3 x 2 kapsul dalam 1 hari. Harga per botol Rp. 200 ribu. untuk pasien kurang mampu discount 10%. Albumin murah ini semoga bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa Indonesia. Jangan membeli Pujimin Kapsul dengan harga diatas 200 ribu rupiah. Kapsul ini untuk Indonesia, tidak untuk mencari untung dan menyengsarakan pasien. Tinggalkan albumin infus yg mahal itu! JAYALAH INDONESIA

    Posted by pujimin | 8 Oktober 2011, 1:40 am
    • pak, adik saya sakit kanker paru stadium 4, setelah khemo sekarang kadar albuminnya rendah n kakinya bengkak, lokasi tangerang, bisakah obatnya dikirim n harganya brp? krn utk infus mahal itu kami sdh tdk mampu, sdh habis utk biaya khemo, herbal dll, trmkash

      Posted by shinta | 13 Januari 2013, 12:14 am
  9. Pengalaman yang luar biasa, dan harus kita ambil pelajaran darinya. salam sehat dengan pro-kut extract ikan kutuk http://www.cbmcare.com sentra herbal

    Posted by cbmcare | 12 Desember 2011, 8:54 pm
  10. pak saya jual extract ikan gabus satu bungkus ada 2 sacchet dengan harga 75.000 belum ongkos kirim hubungi 08891563051 (hafiz)

    Posted by hafiz | 14 Juli 2012, 9:00 pm
  11. Bagi rekan-rekan yg sakit / saudaranya yg sakit “SIROSIS HATI” biasanya salah satunya ditandai dengan kadar albumin yg sangat-sangat rendah (hipoalbumin), Oleh karena itu membutuhkan supplemen tambahan albumin utk meningkatkan/menjaga kadar albuminnnya agar tetap normal. Kami menyediakan kapsul albumin ekstrak ikan gabus (Pujimin) Rp.170.000,-./kemasan botol isi 30. Jika berminat dapat menghubungi kami di
    wholestuffhere@gmail.com

    (*harga belum termasuk ongkos kirim / lokasi kami di jakarta).

    Posted by Evan | 13 Februari 2013, 12:34 pm
  12. Subhanallah. Setahu sy ikan kutuk, amis.

    Posted by Mei endang | 13 Februari 2013, 5:16 pm
  13. The New Future for BOOSTering your Albumin Levels.

    SUPLEMENTASI SUPPORTIF UNTUK MENINGKATKAN KADAR ALBUMIN PLASMA DAN RESPON PENYEMBUHAN.

    Ikan Gabus atau ikan kutuk (channa striata), merupakan sumber protein yang sangat tinggi dan juga sebagai sumber Albumin bagi penderita hipoalbumin (rendah albumin) dan luka, baik luka pasca operasi maupun luka bakar, pasca melahirkan, pasca sunat/ khitan, kecelakaan atau luka kronis lainnya.

    Alboost Ikan Gabus Ikan Kutuk
    Albumin mengandung bahan (proline) yang memicu berfungsinya sendi, dan mengandung Lysis yang berfungsi membantu penyerapan kalsium yang mempermudah pembentukan kolagen yang berguna untuk membungkus tulang rawan dan jaringan pembentuk tulang.

    Fungsi Alboost :

    Mengatur tekanan osmosis dan volume darah sehingga bisa mempertahankan volume darah (menurunkan resiko edema tungkai, sendi dan perut karena kekurangan albumin).
    Sebagai sarana pengangkut/ transportasi bahan-bahan yang kurang larut dalam air melewati plasma darah dan cairan sel untuk membantu metabolisme. Contohnya : asam lemak bebas, kalsium, obat-obat tertentu.
    Menyediakan protein untuk jaringan sel , sehingga bisa membatu pembentukan jaringan baru / pemulihan jaringan tubuh yang rusak , seperti luka dalam/terbelah, luka bekas operasi.

    Manfaat Alboost :

    Meningkatkan kadar albumin dan daya tahan tubuh.
    Mempercepat penyembuhan luka dalam/ luka luar (pasca melahirkan, pasca operasi, khitan, patah tulang, luka bakar, dan luka kronis lain).
    Memperkuat tulang dan sendi
    Menghilangkan edema (pembengkakan)
    Memperbaiki gizi buruk dan keadaan defisiensi albumin pada bayi, anak dan ibu hamil
    Membantu penyembuhan penyakit :Kekurangan Gizi, Hepatitis, Kanker hati, TBC/ Infeksi Paru, Jantung koroner, Asma, Gastritis, Lupus, Nephrotic Syndrome, Tonsilitis, Thypus, Diabetes, Stroke, Thalasemia Minor, Autis, Prostat, Khemo/radio terapi, Geriatic, Depresia.
    ALBOOST adalah produk yang dibuat dari ikan kutuk (channa striata) berbentuk powder yang dikemas dalam kapsul, sehingga praktis dan mudah dikonsumsi.

    Bahan Aktif Alboost diekstrak dari channa striata liar, ditepungkan dengan kadar air maksimal 3%, dengan kandungan albumin 57%. Seluruh prosesnya dikerjakan secara higienis .

    Ijin DEPKES POM SD 024.30 25/31

    Komposisi :

    Setiap kapsul ALBOOST 500mg mengandung extract chana striata 90% dan bahan extract lainnya sampai dengan 100%.

    Aturan Minum / dosis dan pemberian :

    Pada keadaan Hipoalbumin : 3 x 2 kapsul / hari, dilanjutkan 3 x 1 kapsul / hari
    Sebagai Suplemen : 1 x 1 kapsul / hari.
    Untuk aturan minum dan lainya, silahkan Konsultasi ke dokter (nama tertera dibawah).

    Konsultasi Produk :

    dr. OKI, SpA (dokter Spesialist Anak) , hp: 087836295290
    dr. RIA, SpKK (dokter Spesialist Kulit Kecantikan ), hp. 085647008555
    dr. Hermawan (dokter Praktisi Herbal) hp. 081513162673

    PENTING !!! Tidak Ada Efek Samping dan Cocok untuk semua umur.

    Dicari Agen Tunggal untuk seluruh wilayah Indonesia dapatkan harga khusus , silahkan hubungi kami di :

    Hp : 0857 3334 6354 ( call / SMS )

    Posted by ryan | 23 Maret 2013, 8:05 pm
  14. Tim kami punya kurang lebih 50 anggota, dan setiap hari memang berburu ikan kutuk dengan cara mancing, tentunya ikan yang didapat masih hidup dan segar. Kami bisa menyediakan albumin dari kutuk olahan kami sendiri, meskipun tidak punya merk terdaftar, tetapi kami jamin asli dari ikan kutuk hasil pancingan kami, kami kemas dalam cap plastik +/- 75 cc dan kami awetkan di dalam freezzer, biasa kami jual Rp.20.000,- / cap. Barangkali berminat, silahkan hubungi kami di 0857 3280 8765.

    Posted by Mancing Kutuk Gabus | 23 September 2013, 4:44 pm
  15. kini kehadiran albumin sudah mulai dikenal masyarakat. Albumin adalah bukan obat. ia adalah nutrisi atau gizi yang selain bisa mempercepat proses penyembuha LUKA, juga baik bagi mereka yang menderita DIABETES, dan lain-lain.
    Albumin adalah

    Posted by Albumin Ikan Gabus | 26 November 2013, 6:06 am

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.472 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: